25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bintang Itu Kekasihku

Jaswanto by Jaswanto
February 7, 2018
in Esai
Bintang Itu Kekasihku

MIMPI. Lima huruf yang tak aku mengerti. Mimpi. Dunia yang tak nyata, dimensi lain dari kehidupan. Tapi perasaan tetap berguna di dalamnya. Haus. Tiba-tiba saja aku haus. Tenggorokanku kering. Kenapa? Kenapa mimpi membikin haus? Padahal berkeringat saja tidak?

Di luar. Suara itu mengambang. Seperti suara-suara pagi yang lalu. Tetanggaku, seorang ibu paruh baya sudah begitu semangat menyapu halaman dan menyirami tanaman. Daun-daun kamboja kering bertebaran di halamannya adalah pernyataan untuk minta dibersihkan. Kemudian wajah ibu melintas. Ibuku di kampung. Sedang apa ibu sekarang?

Mengingat ibu berarti mengingat semua tentantangnya—termasuk juga apa yang ia katakan: hidup adalah tentang memburu kebahagiaan. Akan tetapi, bagiku, itu akan sulit. Kau tahu kenapa? Itu sebab kebahagiaan bagiku adalah bersamamu, gadis yang bagi ibuku: sederhana dalam bicara dan tingkah laku. Malu tapi sebenarnya mau. Sok bisa melakukan apa-apa sendiri tapi sebenarnya manja. Itu bagi ibuku.

Sedangkan bagiku, kamu adalah belut, licin dan gesit. Dan aku bagaikan nelayan yang datang dengan tangan kosong untuk menangkapmu. Kuharap kau tidak berubah menjadi duyung yang dalam sekejap sudah memiliki pangeran pendamping. Namun, taukah kau mengapa aku begitu gencar mencintaimu? Ya, karena kamu adalah semangkok Indomie yang datang dikala aku lapar dan pertama kali suapan, kuahnya nyiprat ke mata. Kamu adalah kopi yang kuteguk dikala hujan—yang kata orang hujan itu 1 % cairan dan 99 % kenangan—begitu menghangatkan tubuhku. Tanpamu aku merasa kelaparan dan kedinginan.

Pernah suatu hari, kau melihatku dan aku melihatmu. Mata kita satu jalur, bertatapan. Pedar cahaya itu menerpa pipimu, lalu mataku merekam momen itu, kemudian otakku merespon. Di saat itu, aku jatuh cinta kepadamu, wanita yang sederhana, kata ibuku. Tidak berhenti di situ, bayanganmu mengikutiku. Orang-orang heran, kenapa bisa aku mempunyai dua bayangan, dan itu berbeda. Mereka tidak tahu, itulah tanda-tanda orang jatuh cinta. Sepantasnya mereka tahu, agar mereka merasakannya juga.

***

Segelas air putih kuminum sekali teguk, tandas. Itu sebab aku kehausan. Bukan sebab aku habis olahraga. Perihal aku minun, sebab aku memutuskan berhenti untuk mengejarmu—seperti sebuah lagu, ‘semakin kukejar, semakin kau jauh. Tak pernah letih…’ tidak, aku benar-benar letih—ya, aku berhenti.

Dua laki-laki baik itu rupanya juga mendekatimu. Apalah aku jika bersaing dengan mereka. Tak bisa. Aku bakal kalah saing. Maka, dengan berat hati aku memutuskan, aku berhenti untuk mengagumimu. Dan aku mulai berharap, jika memang kau tulang rusukku, maka kau akan kembali pada tubuh ini. Nah, dalam berharap pun, bisa-bisanya aku masih mengutip lirik sebuah lagu. Aku memang tak pantas untuk bersamamu.

Kau tahu, tak ada yang lebih sakit daripada mengalah berjuang untuk mendapatkan gadis pujaannya. Dan aku, mengalah sebab kedua laki-laki itu temanku sendiri. Kau harus tahu itu. Sebenarnya, kalau aku boleh sombong, aku masih sanggup untuk bersaing dengan mereka. Tapi apa gunanya aku mendapatkanmu dengan cara menyakiti hati orang lain. Biar. Biar aku saja yang sakit, mereka jangan.

***

Ada malam-malam yang aku harus jalani sendiri. Seperti kebiasaanku, melihat bintang dan memberinya nama satu-satu. Itu, bintang yang paling terlihat besar dan paling terang bercahaya, kau tahu, aku memanggilnya percis ketika aku memanggilmu. Hadirnya bintang itu, menandakan bahwa sebenarnya dunia ini hanya sebuah kegelapan. Seperti lampu neon di kamar kontrakanku yang sudah mulai redup.

Entah. Aku pikir, lampu noen itu seperti manusia, punya kehidupan: ada kalanya semangat bersinar dan ada kalanya tidak semangat bersinar. Rak buku, lemari plastik warna biru, buku-buku, jendela yang menatap iba dan tak terbuka, pintu yang sendari tadi menolak untuk menutup, baju berserakan, adalah bukti kekalahanku.

Tentang kamu dan gagalnya dua lelaki yang mendekatimu. Bodoh, sial. Rupanya dua lelaki itu kandas sebelum memilikimu. Penyesalan memang datang belakangan. Kenapa aku tidak menolak tatkala sebelum aku memutuskan untuk berhenti. Bajingan betul perasaanku waktu itu.

Perihal aku saat ini: kalah untuk kedua kalinya. Dua lelaki itu sirna. Seorang lelaki datang lagi padamu disaat aku mulai merancang, mereka-reka dan mencipta untuk kembali mengagumimu lagi. Sialan betul. Padahal, aku sudah mulai kembali meneruskan sketsa wajahmu yang sempat terbengkalai dalam otakku di kala respon pertama kali tatapan kita satu jurusan.

Di himpunan, ada kenangan yang mengambang. Tepat di samping ruangan di mana aku menyimpan nama kedua orangtuaku. Namamu. Tertulis dan tersimpan rapi di sana. Ada air mengalir di sana, airnya bagus. Bagiku sendiri, itu adalah air yang paling menyegarkan di dunia ini. Ya, itulah yang orang sebut: kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu adalah kamu.

Perkah kau mencoba melihatku di sini waktu itu? pertanyaan yang aku tanyakan kepada diriku sendiri. Mulutku seperti terkunci ketika aku sudah berada di depanmu. Aku ingin mengumpat. Menyumpah serapahi diriku sendiri. Aku betul-betul hina. Bagaimana mungkin aku kembali mengatakan, aku berhenti untuk mengagumimu. Yang kedua kalinya. Cukup. Entahlah. Seseorang yang mendekatimu saat ini juga temanku juga. Seperti yang sudah tertulis, sebenarnya, kalau aku boleh sombong, aku masih sanggup untuk bersaing dengan mereka.

Tapi apa gunanya aku mendapatkanmu dengan cara menyakiti hati orang lain. Biar. Biar aku saja yang sakit, mereka jangan. Dan aku kembali berharap, jika memang kau tulang rusukku, maka kau akan kembali pada tubuh ini. Nah, dalam berharap pun, bisa-bisanya aku masih mengutip lirik sebuah lagu. Aku memang tak pantas untuk bersamamu.

***

Tetanggaku, ibu paruh baya itu, masih menyapu halamannya. Suara sabu lidinya masih mengambang. Bayangan ibu masih terlihat di sana. Tapat. Seperti merasuki ibu paruh baya itu. Dan di sana, bayanganmu pula terlihat jua. Kau, gadis sederhana, kata ibuku. Saat ini tak capek aku untuk mengejarmu. Sebab, kau sudah ada di pelukanku. Tinggal aku dan kamu membangun konsisten. Mau sampai mana dan mau dibawa kemana hubungan kita—maaf, Om Armada, aku kutip bentar, demi kekasihku.

Sekarang, bintang yang paling besar dan paling bersinar terang itu benar-benar kupanggil namamu. Dengan lantang. Jujur. Bangga. Sebab, kau memang memilihku dari sekian banyak yang mendekatimu. Entah karena apa. Cinta tak butuh alasan, cinta lebih butuh balasan, katamu.

Apakah kau tahu, mengapa ikan-ikan di lautan tidak merasa kedinginan bahkan tanpa sehelai benang pun yang menutupi kulitnya? Ya, mereka kuat bertahan seperti itu karena semuanya di dasari yang namanya keyakinan. Rambutmu meyakinkan, alismu, matamu, pipimu, bibirmu, semua tentangmu telah meyakinkanku, membawaku ke alam lamunan dan mengurungku di sana. Kamu adalah perpaduan wanita-wanita tercantik di dunia. Di satu sisi aku menyebutmu Cleopatra, bukan. Sebab, di sisi lain, ternyata kau lebih mirip Drupadi, ah… tidak. Sepertinya kau lebih pantas aku panggil Srikandi. Sial, tidak juga. Ah… benar, kau memang perpaduan antara mereka.

Kau, kekasihku. Yang aku dapatkan dengan sungguh-sungguh. Kaulah satu-satunya. Dari beribu bintang yang bersinar, tapi hanya kaulah yang paling terang. Namun sayang, cintaku padamu tidak membutuhkan suatu sebab—mau bersinar atau tidak—ia terjadi begitu saja.

Mendapatkanmu bukan hanya perihal bahagia saja ternyata, ketakutan juga hadir bersamanya. Aku menggigil, gemetar, dan dihadapkan pada ketakutan luar biasa: kehilanganmu. Ya, membiarkanmu hilang adalah suatu kebodohan yang nyata. Mungkin, jika tidak ada keinginan melihatmu esok hari, aku mati sekarang juga. kekasihku, tetaplah bersinar, walau mentari telah mengalahkanmu. Sebab, bintang itulah kekasihku. (T)

Tags: alamcintakeindahan
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Next Post

Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co