13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Bintang Itu Kekasihku

Jaswanto by Jaswanto
February 7, 2018
in Esai
Bintang Itu Kekasihku

MIMPI. Lima huruf yang tak aku mengerti. Mimpi. Dunia yang tak nyata, dimensi lain dari kehidupan. Tapi perasaan tetap berguna di dalamnya. Haus. Tiba-tiba saja aku haus. Tenggorokanku kering. Kenapa? Kenapa mimpi membikin haus? Padahal berkeringat saja tidak?

Di luar. Suara itu mengambang. Seperti suara-suara pagi yang lalu. Tetanggaku, seorang ibu paruh baya sudah begitu semangat menyapu halaman dan menyirami tanaman. Daun-daun kamboja kering bertebaran di halamannya adalah pernyataan untuk minta dibersihkan. Kemudian wajah ibu melintas. Ibuku di kampung. Sedang apa ibu sekarang?

Mengingat ibu berarti mengingat semua tentantangnya—termasuk juga apa yang ia katakan: hidup adalah tentang memburu kebahagiaan. Akan tetapi, bagiku, itu akan sulit. Kau tahu kenapa? Itu sebab kebahagiaan bagiku adalah bersamamu, gadis yang bagi ibuku: sederhana dalam bicara dan tingkah laku. Malu tapi sebenarnya mau. Sok bisa melakukan apa-apa sendiri tapi sebenarnya manja. Itu bagi ibuku.

Sedangkan bagiku, kamu adalah belut, licin dan gesit. Dan aku bagaikan nelayan yang datang dengan tangan kosong untuk menangkapmu. Kuharap kau tidak berubah menjadi duyung yang dalam sekejap sudah memiliki pangeran pendamping. Namun, taukah kau mengapa aku begitu gencar mencintaimu? Ya, karena kamu adalah semangkok Indomie yang datang dikala aku lapar dan pertama kali suapan, kuahnya nyiprat ke mata. Kamu adalah kopi yang kuteguk dikala hujan—yang kata orang hujan itu 1 % cairan dan 99 % kenangan—begitu menghangatkan tubuhku. Tanpamu aku merasa kelaparan dan kedinginan.

Pernah suatu hari, kau melihatku dan aku melihatmu. Mata kita satu jalur, bertatapan. Pedar cahaya itu menerpa pipimu, lalu mataku merekam momen itu, kemudian otakku merespon. Di saat itu, aku jatuh cinta kepadamu, wanita yang sederhana, kata ibuku. Tidak berhenti di situ, bayanganmu mengikutiku. Orang-orang heran, kenapa bisa aku mempunyai dua bayangan, dan itu berbeda. Mereka tidak tahu, itulah tanda-tanda orang jatuh cinta. Sepantasnya mereka tahu, agar mereka merasakannya juga.

***

Segelas air putih kuminum sekali teguk, tandas. Itu sebab aku kehausan. Bukan sebab aku habis olahraga. Perihal aku minun, sebab aku memutuskan berhenti untuk mengejarmu—seperti sebuah lagu, ‘semakin kukejar, semakin kau jauh. Tak pernah letih…’ tidak, aku benar-benar letih—ya, aku berhenti.

Dua laki-laki baik itu rupanya juga mendekatimu. Apalah aku jika bersaing dengan mereka. Tak bisa. Aku bakal kalah saing. Maka, dengan berat hati aku memutuskan, aku berhenti untuk mengagumimu. Dan aku mulai berharap, jika memang kau tulang rusukku, maka kau akan kembali pada tubuh ini. Nah, dalam berharap pun, bisa-bisanya aku masih mengutip lirik sebuah lagu. Aku memang tak pantas untuk bersamamu.

Kau tahu, tak ada yang lebih sakit daripada mengalah berjuang untuk mendapatkan gadis pujaannya. Dan aku, mengalah sebab kedua laki-laki itu temanku sendiri. Kau harus tahu itu. Sebenarnya, kalau aku boleh sombong, aku masih sanggup untuk bersaing dengan mereka. Tapi apa gunanya aku mendapatkanmu dengan cara menyakiti hati orang lain. Biar. Biar aku saja yang sakit, mereka jangan.

***

Ada malam-malam yang aku harus jalani sendiri. Seperti kebiasaanku, melihat bintang dan memberinya nama satu-satu. Itu, bintang yang paling terlihat besar dan paling terang bercahaya, kau tahu, aku memanggilnya percis ketika aku memanggilmu. Hadirnya bintang itu, menandakan bahwa sebenarnya dunia ini hanya sebuah kegelapan. Seperti lampu neon di kamar kontrakanku yang sudah mulai redup.

Entah. Aku pikir, lampu noen itu seperti manusia, punya kehidupan: ada kalanya semangat bersinar dan ada kalanya tidak semangat bersinar. Rak buku, lemari plastik warna biru, buku-buku, jendela yang menatap iba dan tak terbuka, pintu yang sendari tadi menolak untuk menutup, baju berserakan, adalah bukti kekalahanku.

Tentang kamu dan gagalnya dua lelaki yang mendekatimu. Bodoh, sial. Rupanya dua lelaki itu kandas sebelum memilikimu. Penyesalan memang datang belakangan. Kenapa aku tidak menolak tatkala sebelum aku memutuskan untuk berhenti. Bajingan betul perasaanku waktu itu.

Perihal aku saat ini: kalah untuk kedua kalinya. Dua lelaki itu sirna. Seorang lelaki datang lagi padamu disaat aku mulai merancang, mereka-reka dan mencipta untuk kembali mengagumimu lagi. Sialan betul. Padahal, aku sudah mulai kembali meneruskan sketsa wajahmu yang sempat terbengkalai dalam otakku di kala respon pertama kali tatapan kita satu jurusan.

Di himpunan, ada kenangan yang mengambang. Tepat di samping ruangan di mana aku menyimpan nama kedua orangtuaku. Namamu. Tertulis dan tersimpan rapi di sana. Ada air mengalir di sana, airnya bagus. Bagiku sendiri, itu adalah air yang paling menyegarkan di dunia ini. Ya, itulah yang orang sebut: kebahagiaan. Dan kebahagiaan itu adalah kamu.

Perkah kau mencoba melihatku di sini waktu itu? pertanyaan yang aku tanyakan kepada diriku sendiri. Mulutku seperti terkunci ketika aku sudah berada di depanmu. Aku ingin mengumpat. Menyumpah serapahi diriku sendiri. Aku betul-betul hina. Bagaimana mungkin aku kembali mengatakan, aku berhenti untuk mengagumimu. Yang kedua kalinya. Cukup. Entahlah. Seseorang yang mendekatimu saat ini juga temanku juga. Seperti yang sudah tertulis, sebenarnya, kalau aku boleh sombong, aku masih sanggup untuk bersaing dengan mereka.

Tapi apa gunanya aku mendapatkanmu dengan cara menyakiti hati orang lain. Biar. Biar aku saja yang sakit, mereka jangan. Dan aku kembali berharap, jika memang kau tulang rusukku, maka kau akan kembali pada tubuh ini. Nah, dalam berharap pun, bisa-bisanya aku masih mengutip lirik sebuah lagu. Aku memang tak pantas untuk bersamamu.

***

Tetanggaku, ibu paruh baya itu, masih menyapu halamannya. Suara sabu lidinya masih mengambang. Bayangan ibu masih terlihat di sana. Tapat. Seperti merasuki ibu paruh baya itu. Dan di sana, bayanganmu pula terlihat jua. Kau, gadis sederhana, kata ibuku. Saat ini tak capek aku untuk mengejarmu. Sebab, kau sudah ada di pelukanku. Tinggal aku dan kamu membangun konsisten. Mau sampai mana dan mau dibawa kemana hubungan kita—maaf, Om Armada, aku kutip bentar, demi kekasihku.

Sekarang, bintang yang paling besar dan paling bersinar terang itu benar-benar kupanggil namamu. Dengan lantang. Jujur. Bangga. Sebab, kau memang memilihku dari sekian banyak yang mendekatimu. Entah karena apa. Cinta tak butuh alasan, cinta lebih butuh balasan, katamu.

Apakah kau tahu, mengapa ikan-ikan di lautan tidak merasa kedinginan bahkan tanpa sehelai benang pun yang menutupi kulitnya? Ya, mereka kuat bertahan seperti itu karena semuanya di dasari yang namanya keyakinan. Rambutmu meyakinkan, alismu, matamu, pipimu, bibirmu, semua tentangmu telah meyakinkanku, membawaku ke alam lamunan dan mengurungku di sana. Kamu adalah perpaduan wanita-wanita tercantik di dunia. Di satu sisi aku menyebutmu Cleopatra, bukan. Sebab, di sisi lain, ternyata kau lebih mirip Drupadi, ah… tidak. Sepertinya kau lebih pantas aku panggil Srikandi. Sial, tidak juga. Ah… benar, kau memang perpaduan antara mereka.

Kau, kekasihku. Yang aku dapatkan dengan sungguh-sungguh. Kaulah satu-satunya. Dari beribu bintang yang bersinar, tapi hanya kaulah yang paling terang. Namun sayang, cintaku padamu tidak membutuhkan suatu sebab—mau bersinar atau tidak—ia terjadi begitu saja.

Mendapatkanmu bukan hanya perihal bahagia saja ternyata, ketakutan juga hadir bersamanya. Aku menggigil, gemetar, dan dihadapkan pada ketakutan luar biasa: kehilanganmu. Ya, membiarkanmu hilang adalah suatu kebodohan yang nyata. Mungkin, jika tidak ada keinginan melihatmu esok hari, aku mati sekarang juga. kekasihku, tetaplah bersinar, walau mentari telah mengalahkanmu. Sebab, bintang itulah kekasihku. (T)

Tags: alamcintakeindahan
Share55TweetSendShareSend
Previous Post

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Next Post

Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

Jaswanto

Jaswanto

Editor/Wartawan tatkala.co

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026
Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual
Pameran

Made Wiradana Hadirkan Kacatri, Menandai Transformasi Seni yang Berakar pada Laku Spiritual

PERUPA Bali Made Wiradana kembali menegaskan perjalanan artistiknya melalui pameran tunggal bertajuk Kacatri yang digelar di Santrian Art Gallery, Sanur....

by I Gede Made Surya Darma
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co