3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Devy Gita by Devy Gita
February 6, 2018
in Khas
Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Anak-anak pengungsi Gunung Agung di Rendang Karangasem saat workshop menulis puisi

KEPALA sudah rebah lelah di atas bantal sementara guling telah dalam dekapan saat tiba-tiba teringat harus mengabadikan pengalaman hari ini dalam tulisan. Jika tidak, peristiwa-peristiwa tersebut akan menguap bersamaan dengan terbitnya matahari esok pagi.

Menulis membuat kita ada. Merekam ingatan-ingatan yang kemudian bisa dibuka kembali, dibaca, dikenang lalu dibagikan kepada orang lain. Itulah pesan yang saya, Wulan Dewi Saraswati dan Putri Adityarini titipkan pada anak-anak yang mengikuti workshop menulis puisi yang merupakan program dari Ubud Writers and Readers Festival (UWRF) di Posko Pengungsian Gunung Agung di Menanga, Rendang, Karangasem, Minggu 4 Februari 2018.

Sebenarnya, Wulan-lah yang diundang untuk mengisi workshop menulis puisi ini. Tidak heran, karena Wulan sudah menerbitkan satu buah buku kumpulan puisi berjudul Seribu Pagi Secangkir Cinta yang diterbitkan oleh Mahima Institute.

Kemudian Wulan mengajak Putri Adityarini yang juga pernah menjadi pembicara untuk Bali Emerging Writers (bagian program UWRF). Wulan juga mengajak saya yang hanya milu-milu tuwung alias hanya ikut-ikutan untuk meramaikan suasana. Saya juga penulis, ya, penulis status sok puitis di Instagram story dan facebook.

Bagi tim hore-hore seperti saya, ini adalah kesempatan langka yang tidak boleh dilewatkan. Mengisi workshop menulis puisi untuk anak-anak, tertawa dan berbagi ilmu sekaligus belajar lebih banyak dari teman-teman yang sudah terlebih dahulu berkarya. Tanpa diminta dua kali, saya langsung menyanggupi ajakan Wulan.

Di perjalanan menuju Karangasem, kami bertiga berdiskusi dan mengira-ngira bagaimana karakter anak-anak Sekolah Menengah Pertama yang akan mengikuti kelas menulis puisi nanti.  Kami mulai membanding-bandingkan bagaimana anak-anak seumuran mereka yang bersekolah di Denpasar dan sebagian besar sudah terkontaminasi gadget.

Anak-anak itu memiliki respect yang kurang terhadap apa yang disampaikan orang lain. Kami mulai khawatir. Mulai menerka-nerka apakah materi yang kami  berikan akan didengarkan dan dapat dipahami dengan mudah. Akhirnya kami pasrah.

Workshop menulis puisi diikuti oleh 10 orang anak kelas 7 dan 8 yang memang tinggal di posko pengungsian. Sebagian dari mereka berasal dari Desa Besakih. Anak-anak itu ternyata sangat antusias mengikuti kegiatan yang kami berikan. Lega rasanya. Mulai dari menyanyikan lagu Curik-curik sambil membuat lingkaran, memiilih kelompok dan saat mengikuti workshop.

Mereka adalah anak-anak yang ceria dan imajinatif terbukti dari nama kelompok-nama kelompok yang mereka pilih. Kelompok Singa Mengaum, Kupu-Kupu Terbang, terakhir dan yang paling unik adalah Kelompok Rajawali Kena Tembak. Luar biasa bukan? Sepanjang sesi perkenalan mereka tertawa ceria bersama kami atau mungkin mereka merasa tidak enak untuk tidak tertawa melihat tingkah kami. Pastinya kami mulai optimis.

Workshop kami mulai dengan berbagi pentingnya menulis untuk menyimpan ingatan akan perasaan dan peristiwa yang mereka alami. Apalagi sekarang ini mereka tinggal di pengungsian yang jauh dari desa asal mereka. Dengan menulis, mereka akan selalu mengingat pengalaman-pengalaman tersebut sehingga kelak bisa diceritakan kepada anak dan cucu mereka. Antusiasme makin memancar dari mata polos anak-anak itu. Tugas ini akan semakin menyenangkan, pikir saya.

Memulai menulis memang sedikit menjadi tantangan bagi anak-anak. Anak-anak yang tinggal di kota dengan segala kemudahan mendapatkan referensi pun masih kesulitan untuk menulis apalagi mereka yang tinggal jauh dari kota. Untuk itu, kami memulai dengan memberikan anak-anak itu masing-masing sebuah gambar tanpa teks agar mereka lebih mudah menggali ide.

Dari gambar tersebut mereka diminta untuk memikirkan satu kata yang terlintas dalam pikiran mereka. Kemudian, mereka harus menambahkan satu kata lagi yang cocok untuk dipadankan dengan kata pertama. Beberapa dari mereka masih kebingungan dalam mencari kata-kata dan menuliskannya. Kami harus lebih sabar menggiring mereka untuk bisa mencari dan menemukan kata yang pas dan membentuk kalimat-kalimat setelahnya.

Senangnya, mereka tidak cepat putus asa. Mereka bertanya dan bertanya lalu mulai menulis dengan lancar. Anak-anak itu menikmati prosesnya, mereka saling bertukar ide dengan anggota kelompoknya juga mengoreksi kesalahan eja yang dibuat temannya. Memang itulah yang kami harapkan. Pada akhirnya puisi-puisi sederhana mereka pun tuntas.

Mereka bangga dengan hasil karyanya, kami lebih bangga lagi. apalagi setelah itu beberapa dari mereka diminta membacakan puisinya di depan anak-anak lain dan keluarga mereka di pengungsian. Tanpa canggung mereka membacakan hasil karyanya. Sederhana memang, tapi bagi mereka itu adalah hal yang luar biasa.

Menulis puisi adalah hal baru yang mereka pelajari dari kami. Kamipun, terutama saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Besar harapan kami anak-anak itu menikmati proses menulis puisi dan tidak berhenti menulis setelah sesi itu berakhir.

Sepertinya tidak berlebihan jika saya berharap akan ada salah satu dari mereka bisa menjadi penyair muda seperti Wulan Dewi Saraswati, Frischa Aswarini, atau Saras Dewi berikutnya.  Atau bahkan menorehkan prestasi yang lebih membanggakan.

Semoga mereka tetap menjadi anak-anak dengan pribadi menyenangkan yang pantang menyerah walaupun dalam keadaan sulit seperti sekarang. Keterbatasan fasilitas dan referensi akibat bencana bukan halangan untuk tetap belajar dan berprestasi. Pengalaman adalah ilmu yang tidak bisa dibeli. Lewat tulisan, ilmu itu akan menyebar dan diserap oleh orang lain. (T)

Denpasar, 4 Februari 2018

Tags: anak-anakGunung AgungpengungsiPuisi
Share24TweetSendShareSend
Previous Post

Kaya

Next Post

Bintang Itu Kekasihku

Devy Gita

Devy Gita

Mantan guru yang kini nyasar jadi HR di sekolah internasional. Pernah main teater, gemar menulis, mudah berteman, dan secara misterius penikmat horror garis keras. Kombinasi yang kadang membuat hidupnya sendiri terasa seperti genre campuran. instagram: @devygita

Related Posts

Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

by Nyoman Budarsana
August 1, 2026
0
Merawat Api Pesta Kesenian Bali: 11 Rekomendasi Strategis dari KAWIYA dan PWI Bali

DI ruang rapat kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, sebuah dokumen setebal puluhan halaman berpindah tangan pada Kamis, 30 Juli 2026....

Read moreDetails

Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Setelah Lebih dari Lima Dekade Terdiam, Gambang Kapal Kembali Berbunyi

Revitalisasi Gending Gambang Plugon menjadi upaya menghidupkan kembali repertoar, regenerasi penabuh, dan ingatan budaya masyarakat Desa Adat Kapal SUARA bilah-bilah...

Read moreDetails

Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

by Nyoman Mariyana
July 31, 2026
0
Workshop Baleganjur “Gejer Mengwi”: Melestarikan Tradisi, Menguatkan Generasi

Evoria Baleganjur semakin menggeliat, “di sana tumbuh di sini tumbuh”. Baleganjur tidak saja sebagai musik prosesi, namun makin berkembang menjadi...

Read moreDetails

Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

by Dede Putra Wiguna
July 28, 2026
0
Di Balik Kalangan Ayodya, Ada Beranda Pustaka yang Menghidupkan Pustaka

DI sudut utara Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre) Denpasar, berdiri sebuah bangunan yang acap luput dari perhatian. Letaknya...

Read moreDetails

HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

by Nyoman Budarsana
July 28, 2026
0
HUT ke-30 Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata Badung, Momentum Perjuangkan Kesejahteraan Pekerja Pariwisata

WAJAH-wajah para pekerja pariwisata yang tergabung dalam Pengurus Cabang Federasi Serikat Pekerja Pariwisata di bawah Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (PC...

Read moreDetails

Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

by Angga Wijaya
July 27, 2026
0
Menjadi Kriya: Ketika Tradisi Tidak Lagi Takut pada Masa Depan

---Catatan dari International Craft Discussion "Prakriti–Pustaka–Padma" di Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud ADA masa ketika seni kriya dipandang...

Read moreDetails

Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Perjalanan Panjang di Balik Lahirnya Sebuah Buku—Mengenal Dunia Editorial bersama Andi Tarigan

KALA itu, saya berkesempatan memandu salah satu diskusi di Kalangan Ayodya, Taman Werdhi Budaya (Art Centre), Denpasar. Selasa sore, 21...

Read moreDetails

Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

by Dede Putra Wiguna
July 26, 2026
0
Aaron’s English Bangun Kepercayaan Diri Murid Kesbam Berkomunikasi dalam Bahasa Inggris

TAWA dan percakapan dalam bahasa Inggris silih berganti memenuhi Ruang Pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam), Jumat, 24 Juli...

Read moreDetails

Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

by Nyoman Budarsana
July 25, 2026
0
Membaca Perjalanan Industri Musik Pop Bali dalam “Kéné Kéto”

PERJALANAN panjang musik pop Bali menjadi sorotan dalam bedah buku Kéné Kéto: Musik Pop Bali karya I Made Adnyana pada...

Read moreDetails

7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

by Nyoman Budarsana
July 24, 2026
0
7.AM 7.PM Hadir di Sanur, Tawarkan Pengalaman Menikmati Kopi dengan Sentuhan Tropis

KAWASAN Sanur yang tenang, bersih, dan ramah keluarga menjadi latar yang sempurna untuk menikmati secangkir kopi berkualitas. Perpaduan aroma biji...

Read moreDetails
Next Post
Bintang Itu Kekasihku

Bintang Itu Kekasihku

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam
Kritik Seni

Menimbun Sunyi dengan Polusi Suara: Mengapa Teater Modern Bali Takut Diam

SALAH satu paradoks teater modern Bali hari ini adalah ketidakmampuannya mempercayai keheningan. Hampir setiap pertunjukan merasa perlu memenuhi panggung dengan...

by Wayan Gde Yudane
August 3, 2026
‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer
Ulas Musik

‘Another Brick in the Wall’ dan Krisis Hormat dalam Pendidikan Kontemporer

Pada tahun 1979, band rock progresif Inggris Pink Floyd merilis lagu “Another Brick in the Wall” (Part 2) dalam album...

by Ahmad Sihabudin
August 3, 2026
“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran
Pameran

“Sinergi Air”, Ketika Cinta dan Seni Mengalir dalam Satu Pameran

DI sebuah galeri mungil yang tenang di kawasan Seminyak, langkah pengunjung melambat begitu memasuki ruang pamer. Dinding-dinding putih dipenuhi lukisan...

by Nyoman Budarsana
August 3, 2026
Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co