24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kaya

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 16, 2018
in Esai
Kaya

KOPLAK menggaruk kepalanya yang tidak gatal.  Juga lehernya. Segelas kopi hitam dihirupnya pelan-pelan.

Sambil membaca koran pagi, isinya begini: Badan Pusat Statisk (BPS) mencatat sampai dengan minggu ke-2 Januari tahun ini, kenaikan harga beras di pasar sudah naik sekitar 3 persen. Peningkatan tersebut dianggap BPS sudah dalam kategori mengkhawatirkan atau mencemaskan. Kepala BPS, Suhariyanto atau yang akrab disapa Kecuk mengatakan, pemerintah harus mengendalikan inflasi pada 2018 yang ditargetkan 3,5 persen. Target tersebut dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

Presiden Joko Widodo mengatakan, kebijakan impor 500.000 ton beras dilaksanakan demi memperkuat cadangan beras nasional. “Itu (impor beras) untuk memperkuat cadangan beras kita agar tidak terjadi gejolak harga di daerah-daerah,” ujar Jokowi.

Selain itu, posisi cadangan beras pangan Indonesia menipis.Ketentuan soal cadangan beras di Indonesia itu mematok pada FAO. Organisasi sayap PBB yang mengurusi soal pangan itu merekomendasikan cadangan beras untuk negara seperti Indonesia.

Di sisi lain, panen beras di Indonesia baru dimulai pertengahan Februari 2018 dan berakhir pada Maret 2018 (panen raya). Total konsumsi beras per tahun di Indonesia 37.700.000 ton. Artinya, konsumsi beras per bulan mencapai sekitar 3,1 juta ton. Hitung-hitungan pemerintah pun, 500.000 ton beras hasil impor itu akan menjadi cadangan  sekitar satu hingga dua pekan saja.

“Jadi aslinya negara kita itu sangat kaya ya, Koplak?” tanya Pan Gadung sambil menggambil sepotong singkong rebus.

“Kaya?”

“Iya, buktinya mau impor beras 500.000 ton.”

“Kok bisa berpikir seperti itu?”

“Sejak kapan Koplak tidak cerdas?” Pan Gadung, lelaki seumuran dirinya, yang sering membeli hasil bumi di desa Koplak menatap mata Koplak tajam, sambil menurunkan letak kacamatanya. Koplak menatap mata lelaki di depannya serius.

“Belum juga paham maksud tiang?”

“Belum. Dan tidak mengerti.” Koplak  menjawab jujur. Sambil mengambil satu buah pisang rebus.

“Berita pagi yang Koplak baca menunjukkan negara kita ini sudah kaya?” Suara Pan Gadung terdengar sedikit mengejek. Koplak merengut.

“Bagaimana kaya? Masak beras saja impor? Sebentar, ada yang ingin tiang tunjukkan.” Koplak tidak jadi mengupas pisang rebus tetapi beranjak ke ruang tamu.

“ Jangan repot-repot, tiang cukup dengan pisang rebus dan singkong rebus. Kolesterol tiang sedang naik , jangan dipesankan be genyol dan be guling,”

Koplak terdiam. Lalu berkata serius. “Setelah memutuskan impor beras, pemerintah kembali membuka keran impor garam industri sebanyak 3,7 juta ton pada 2018. Jumlah tersebut keluar setelah ada perbedaan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang hanya merekomendasikan 2,1 juta ton per tahun. Kau tahu, para petinggi negeri kita itu pada ribut kok. Antar pejabat tidak sama idenya. Satu menteri dan menteri lain konon bersitegang. Kau lihat urusan beras belum beres, muncul lagi urusan garam. Negeri kita konon  dikelilingi laut. Bukannya garam itu berasal dari laut? Bukannya beras itu berasal dari sawah? Sawah yang jadi kebanggaan negeri ini. Bahkan di Bali sawah jadi objek wisata. Kenapa kita bisa impor beras? Impor garam? Kabar seperti ini kau bilang negeri kita kaya? Semua barang serba impor? Kata anak perempuanku harga beras sudah membuat migren teman-temannya yang sudah menikah. “

Pan Gadung tersenyum, “Kupikir kau akan membelikan aku be guling.”

Koplak kembali duduk di kursinya.

“Apa maksudmu mengatakan negara kita makin kaya?”

“Coba duduklah yang tenang, jangan bersungut-sungut seperti itu. Orang yang berpikir tenang, akan bijak mengambil keputusan.”

“Gayamu, seperti pejabat saja.”

“Aku memang ada rencana ingin bermain di ranah politik, tetapi nanti setelah berlatih dan punya modal. Kau tidak tertarik bermain politik?”

“Politik? Jadi Kades saja sudah senang. Tiang bisa mengurusi warga desa. Pan Gadung bisa lihat sendiri, warga di desa tiang tidak ada yang ribut. Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada juga yang ribut jika kebutuhan pokok terus meranjak naik. Semuanya karena warga di desa ini sesungguhnya warga yang kreatif. Tanah mereka bisa difungsikan sebagai hasil bumi, minimal mereka bisa menggunakan untuk kebutuhan hidup. Menanam cabe, bawang, dan apa saja untuk hidup. Kau pikir tiang mau bermain politik seperti orang-orang di TV? Waktu kampanye tiang tidak berjanji muluk-muluk. Yang penting kerja. Apa yang sudah baik kita lanjutkan. Tiang ini cuma tamatan sarjana ekonomi, tahulah sedikit-sedikit menghitung untung rugi. Warga desa memilih tiang jadi Kades, karena warga desa ingin penggunaan dana desa dari pemerintah benar-benar bermanfaat untuk warga desa.”

“Iya, kau memang harus berlaku seperti itu. Jangan sampai dana desa tidak berfungsi, malu sama rakyat. Tiang juga geli sendiri, lihat saja pemilihan gubernur yang heboh dan bikin ribut sampai hari ini. Tiang pikir kerjanya juga akan heboh seperti kampanyenya, masak mengambil kebijakan mengganti nama jalan, kayak tidak ada hal yang lebih penting saja yang harus diurus.  Menghidupkan becak. Jalanan sudah krodit . Prioritasnya makin tidak jelas. Kau jangan seperti itu.”

“Kau suruh aku berpolitik!”

“Iya, biar kau punya kekuasaan, Koplak?”

“Kau sajalah yang berkuasa. Semoga kau bisa membangun desa ini lebih maju lagi.” Koplak berkata serius. Terjun ke dunia politik? Memangnya berapa Koplak punya uang? Rasanya hidup di desa ini sudah menyenangkan. Orang ribut beras Koplak dan warga desa tidak bingung, tidak juga linglung, karena di desanya sudah terbiasa warga desa mencampur nasi dengan umbi-umbian. Yang sengaja di tanam di halaman rumah. Sarapan juga biasa dengan ubi rebus, jagung rebus, pisang rebus, dan singkong rebus. Memang terlihat kampungan. Kalau kondisi seperti saat ini, bagaimana? Harga beras makin tinggi. Harga di koran berbeda dengan harga di pasar.

Aneh juga komentar Pan Gadung, negara kita kok dibilang kaya?

“Jelas kaya dong. Bayangkan negara kita selalu impor. Itu menunjukkan negara kita kaya, Koplak. Bayangkan saja negara ini dirimu, kamu pakai barang impor. Ini kan artinya kamu kaya?” Pan Gadung tertawa nyelekit.

Koplak terdiam. Giginya terasa ngilu. Negara kaya? Iya sih, konon sebatang kayu pun bisa mudah tumbuh jadi pohon jika ditanam. Tapi faktanya? Negara ini makin tidak jelas, buktinya tidak ada anak muda yang mau jadi petani, karena kebiasaan  mengambil solusi selalu dengan cara pintas, impor. Barang-barang KW juga laku keras, semua demi gengsi dan status. Kenapa tidak ada kebanggaan dengan hasil negeri sendiri?

“Kita akan makin sering impor, karena kayanya. Tidak ada lagi petani di negeri ini, Koplak. Orang sudah malu jadi petani. Mungkin mereka lebih tertarik jadi koruptor. Bisa jadi artis di TV.” Pan Gadung tertawa keras.

Koplak terdiam, kopi tanpa gula yang diseduhnya terasa makin aneh di tenggorokannya. Negara kaya? Kaya dengan impor? Kira-kira apa lagi yang akan diimpor negeri ini setelah beras dan garam?

Menjadi seorang pemimpin sesungguhnya harus memiliki bekal etika moral. Etika moral yang dibangun di dalam diri sebelum membangun orang lain. Kalau begini terus negeri ini, bagaimana anak muda bisa bangga dengan sawah mereka,

Persawahan di Jatiluwih sudah dinyatakan sebagai salah satu Word Heritage kekayaan alam khususnya di bidang pengaturan dan perawatan sistem pengairan tradisional Bali, yang dikenal dengan sebutan Subak pada 26 Juli 2012 setelah melalui proses panjang pengajuan/pengusulan kepada Unesco di tahun 2003.  Area yang diakui sebagai World Heritage ini meliputi 14 buah subak yang menaungi 11 Desa, luas hamparan sawah (padi fields) sebesar 2.372 ha, taman seluas 3.545 ha, hutan seluas 9.316 ha, rumah sebanyak 317 unit, dan semak-semak liar seluas 475 ha.

Apa kita masih bangga, jika kekurangan beras? Apa kita masih bangga disebut orang pelaut, dengan impor garam? Apakah kita ini kaya, atau lebay? (T)

Denpasar, 4/2/2018

 

Tags: JokowilautPan Koplakpertanian
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

“Sang Kala” Monez & Ninus, dan Gairah Pulang pada Takut yang Jujur

Next Post

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co