2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kaya

Oka Rusmini by Oka Rusmini
February 16, 2018
in Esai
Kaya

KOPLAK menggaruk kepalanya yang tidak gatal.  Juga lehernya. Segelas kopi hitam dihirupnya pelan-pelan.

Sambil membaca koran pagi, isinya begini: Badan Pusat Statisk (BPS) mencatat sampai dengan minggu ke-2 Januari tahun ini, kenaikan harga beras di pasar sudah naik sekitar 3 persen. Peningkatan tersebut dianggap BPS sudah dalam kategori mengkhawatirkan atau mencemaskan. Kepala BPS, Suhariyanto atau yang akrab disapa Kecuk mengatakan, pemerintah harus mengendalikan inflasi pada 2018 yang ditargetkan 3,5 persen. Target tersebut dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018.

Presiden Joko Widodo mengatakan, kebijakan impor 500.000 ton beras dilaksanakan demi memperkuat cadangan beras nasional. “Itu (impor beras) untuk memperkuat cadangan beras kita agar tidak terjadi gejolak harga di daerah-daerah,” ujar Jokowi.

Selain itu, posisi cadangan beras pangan Indonesia menipis.Ketentuan soal cadangan beras di Indonesia itu mematok pada FAO. Organisasi sayap PBB yang mengurusi soal pangan itu merekomendasikan cadangan beras untuk negara seperti Indonesia.

Di sisi lain, panen beras di Indonesia baru dimulai pertengahan Februari 2018 dan berakhir pada Maret 2018 (panen raya). Total konsumsi beras per tahun di Indonesia 37.700.000 ton. Artinya, konsumsi beras per bulan mencapai sekitar 3,1 juta ton. Hitung-hitungan pemerintah pun, 500.000 ton beras hasil impor itu akan menjadi cadangan  sekitar satu hingga dua pekan saja.

“Jadi aslinya negara kita itu sangat kaya ya, Koplak?” tanya Pan Gadung sambil menggambil sepotong singkong rebus.

“Kaya?”

“Iya, buktinya mau impor beras 500.000 ton.”

“Kok bisa berpikir seperti itu?”

“Sejak kapan Koplak tidak cerdas?” Pan Gadung, lelaki seumuran dirinya, yang sering membeli hasil bumi di desa Koplak menatap mata Koplak tajam, sambil menurunkan letak kacamatanya. Koplak menatap mata lelaki di depannya serius.

“Belum juga paham maksud tiang?”

“Belum. Dan tidak mengerti.” Koplak  menjawab jujur. Sambil mengambil satu buah pisang rebus.

“Berita pagi yang Koplak baca menunjukkan negara kita ini sudah kaya?” Suara Pan Gadung terdengar sedikit mengejek. Koplak merengut.

“Bagaimana kaya? Masak beras saja impor? Sebentar, ada yang ingin tiang tunjukkan.” Koplak tidak jadi mengupas pisang rebus tetapi beranjak ke ruang tamu.

“ Jangan repot-repot, tiang cukup dengan pisang rebus dan singkong rebus. Kolesterol tiang sedang naik , jangan dipesankan be genyol dan be guling,”

Koplak terdiam. Lalu berkata serius. “Setelah memutuskan impor beras, pemerintah kembali membuka keran impor garam industri sebanyak 3,7 juta ton pada 2018. Jumlah tersebut keluar setelah ada perbedaan data dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang hanya merekomendasikan 2,1 juta ton per tahun. Kau tahu, para petinggi negeri kita itu pada ribut kok. Antar pejabat tidak sama idenya. Satu menteri dan menteri lain konon bersitegang. Kau lihat urusan beras belum beres, muncul lagi urusan garam. Negeri kita konon  dikelilingi laut. Bukannya garam itu berasal dari laut? Bukannya beras itu berasal dari sawah? Sawah yang jadi kebanggaan negeri ini. Bahkan di Bali sawah jadi objek wisata. Kenapa kita bisa impor beras? Impor garam? Kabar seperti ini kau bilang negeri kita kaya? Semua barang serba impor? Kata anak perempuanku harga beras sudah membuat migren teman-temannya yang sudah menikah. “

Pan Gadung tersenyum, “Kupikir kau akan membelikan aku be guling.”

Koplak kembali duduk di kursinya.

“Apa maksudmu mengatakan negara kita makin kaya?”

“Coba duduklah yang tenang, jangan bersungut-sungut seperti itu. Orang yang berpikir tenang, akan bijak mengambil keputusan.”

“Gayamu, seperti pejabat saja.”

“Aku memang ada rencana ingin bermain di ranah politik, tetapi nanti setelah berlatih dan punya modal. Kau tidak tertarik bermain politik?”

“Politik? Jadi Kades saja sudah senang. Tiang bisa mengurusi warga desa. Pan Gadung bisa lihat sendiri, warga di desa tiang tidak ada yang ribut. Tidak ada yang mengeluh. Tidak ada yang kelaparan. Tidak ada juga yang ribut jika kebutuhan pokok terus meranjak naik. Semuanya karena warga di desa ini sesungguhnya warga yang kreatif. Tanah mereka bisa difungsikan sebagai hasil bumi, minimal mereka bisa menggunakan untuk kebutuhan hidup. Menanam cabe, bawang, dan apa saja untuk hidup. Kau pikir tiang mau bermain politik seperti orang-orang di TV? Waktu kampanye tiang tidak berjanji muluk-muluk. Yang penting kerja. Apa yang sudah baik kita lanjutkan. Tiang ini cuma tamatan sarjana ekonomi, tahulah sedikit-sedikit menghitung untung rugi. Warga desa memilih tiang jadi Kades, karena warga desa ingin penggunaan dana desa dari pemerintah benar-benar bermanfaat untuk warga desa.”

“Iya, kau memang harus berlaku seperti itu. Jangan sampai dana desa tidak berfungsi, malu sama rakyat. Tiang juga geli sendiri, lihat saja pemilihan gubernur yang heboh dan bikin ribut sampai hari ini. Tiang pikir kerjanya juga akan heboh seperti kampanyenya, masak mengambil kebijakan mengganti nama jalan, kayak tidak ada hal yang lebih penting saja yang harus diurus.  Menghidupkan becak. Jalanan sudah krodit . Prioritasnya makin tidak jelas. Kau jangan seperti itu.”

“Kau suruh aku berpolitik!”

“Iya, biar kau punya kekuasaan, Koplak?”

“Kau sajalah yang berkuasa. Semoga kau bisa membangun desa ini lebih maju lagi.” Koplak berkata serius. Terjun ke dunia politik? Memangnya berapa Koplak punya uang? Rasanya hidup di desa ini sudah menyenangkan. Orang ribut beras Koplak dan warga desa tidak bingung, tidak juga linglung, karena di desanya sudah terbiasa warga desa mencampur nasi dengan umbi-umbian. Yang sengaja di tanam di halaman rumah. Sarapan juga biasa dengan ubi rebus, jagung rebus, pisang rebus, dan singkong rebus. Memang terlihat kampungan. Kalau kondisi seperti saat ini, bagaimana? Harga beras makin tinggi. Harga di koran berbeda dengan harga di pasar.

Aneh juga komentar Pan Gadung, negara kita kok dibilang kaya?

“Jelas kaya dong. Bayangkan negara kita selalu impor. Itu menunjukkan negara kita kaya, Koplak. Bayangkan saja negara ini dirimu, kamu pakai barang impor. Ini kan artinya kamu kaya?” Pan Gadung tertawa nyelekit.

Koplak terdiam. Giginya terasa ngilu. Negara kaya? Iya sih, konon sebatang kayu pun bisa mudah tumbuh jadi pohon jika ditanam. Tapi faktanya? Negara ini makin tidak jelas, buktinya tidak ada anak muda yang mau jadi petani, karena kebiasaan  mengambil solusi selalu dengan cara pintas, impor. Barang-barang KW juga laku keras, semua demi gengsi dan status. Kenapa tidak ada kebanggaan dengan hasil negeri sendiri?

“Kita akan makin sering impor, karena kayanya. Tidak ada lagi petani di negeri ini, Koplak. Orang sudah malu jadi petani. Mungkin mereka lebih tertarik jadi koruptor. Bisa jadi artis di TV.” Pan Gadung tertawa keras.

Koplak terdiam, kopi tanpa gula yang diseduhnya terasa makin aneh di tenggorokannya. Negara kaya? Kaya dengan impor? Kira-kira apa lagi yang akan diimpor negeri ini setelah beras dan garam?

Menjadi seorang pemimpin sesungguhnya harus memiliki bekal etika moral. Etika moral yang dibangun di dalam diri sebelum membangun orang lain. Kalau begini terus negeri ini, bagaimana anak muda bisa bangga dengan sawah mereka,

Persawahan di Jatiluwih sudah dinyatakan sebagai salah satu Word Heritage kekayaan alam khususnya di bidang pengaturan dan perawatan sistem pengairan tradisional Bali, yang dikenal dengan sebutan Subak pada 26 Juli 2012 setelah melalui proses panjang pengajuan/pengusulan kepada Unesco di tahun 2003.  Area yang diakui sebagai World Heritage ini meliputi 14 buah subak yang menaungi 11 Desa, luas hamparan sawah (padi fields) sebesar 2.372 ha, taman seluas 3.545 ha, hutan seluas 9.316 ha, rumah sebanyak 317 unit, dan semak-semak liar seluas 475 ha.

Apa kita masih bangga, jika kekurangan beras? Apa kita masih bangga disebut orang pelaut, dengan impor garam? Apakah kita ini kaya, atau lebay? (T)

Denpasar, 4/2/2018

 

Tags: JokowilautPan Koplakpertanian
Share57TweetSendShareSend
Previous Post

“Sang Kala” Monez & Ninus, dan Gairah Pulang pada Takut yang Jujur

Next Post

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Oka Rusmini

Oka Rusmini

Sastrawan & Jurnalis

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Anak-anak, Puisi, dan Pengungsi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co