25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tak Habis Pikir, Kenapa Teman Saya ini Sibuk-sibuk Raih Doktor?

Made Adnyana Ole by Made Adnyana Ole
February 7, 2018
in Khas
Tak Habis Pikir, Kenapa Teman Saya ini Sibuk-sibuk Raih Doktor?

SAYA senang melihat teman saya, Gde Suardana, mantan wartawan yang kini jadi Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Buleleng, meraih gelar doktor. Itu saya ketahui setelah foto-fotonya tersebar di facebook usai dinyatakan lulus dalam ujian terbuka Program Studi Doktor Kajian Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Unud di Ruang Ir. Soekarno, kampus setempat, Rabu, 31 Januari 2018.

Gde Suardana berhasil mempertahankan disertasi berjudul “Analisis Komodifikasi Seni Pertunjukan Pariwisata Bali Agung – The Legend of Balinese Goddesses” setelah dikurung 8 penguji kelas kakap. Ia pun dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan.

Dr. Gde Suardana, begitulah sebutannya kini. Saya senang mendengarnya. Tapi tak habis pikir juga saya, kenapa teman saya itu mau sibuk-sibuk meraih gelar doktor? Apa untungnya bagi dia?

Jika dia jadi pegawai negeri di lembaga pemerintah, misalnya jadi dosen di perguruan tinggi, tentu tak perlu dipikir. Gelar doktornya mungkin bisa mendongkrak pangkat dan jabatan atau mengelembungkan isi kantong karena gaji plus tunjangan bisa nambah.

Seorang dosen misalnya, bisa dimaklumi kenapa sibuk pontang-panting urus ini-itu agar segera raih doktor atau professor, meski mungkin disertasi dan penelitiannya entah ke mana, entah berguna atau tidak, setelah lulus dan gelar di tangan. Karena dampak dari gelar itu sungguhlah menakjubkan, mungkin menakjubkan dalam hal “berpendapat” dan tentu juga dalam hal “pendapatan”.

Tapi ini, teman saya ini, adalah Ketua KPU. Tak ada syarat seorang Ketua KPU harus doktor. Dan kalau seorang komisioner tiba-tiba raih doktor, tak ada pengaruh apa-apa. Tunjangan material yang masuk kantong tetap akan segitu-segitu saja sebagaimana awal mulanya.

Saya pikir lagi, mungkin setelah pensiun dari kursi KPU, teman saya itu akan loncat cari kursi di gelangang politik, misalnya dengan jadi calon legislatif (caleg), sebagaimana banyak dilakukan mantan komisioner KPU di Indonesia. Tapi syarat seorang caleg tak harus doktor. Tamat SMA saja sudah cukup, meski izasahnya hanya “kejar paket”.

Dan tak ada jaminan seorang caleg yang doktor bisa mendapatkan suara lebih banyak dari caleg yang kejar paket. Dulu, saya tahu, bahkan ada seorang caleg terpilih dengan suara cukup besar, padahal sehari-hari masuk sekolah di arena tajen. Tapi ia punya “teman sekolah” yang sangat banyak. Teman-temannya itulah yang memilih dia.

Jika ia misalnya ingin loncat jadi dosen di perguruan tinggi, mungkin bisa saja. Tapi tampaknya cukup ribet karena pendidikan teman saya itu tak begitu linier. S1-nya matematika, tapi doktornya kajian budaya. Dia mau ngampu mata kuliah apa?

Bicara pendidikan, teman saya ini memang cukup kacau. Tamat S1 pendidikan matematika di Undiksha Singaraja ia justru jadi wartawan, berawal di Nusa Bali, berakhir di detik.com. Ia kemudian jadi pengusaha dengan membuka toko buah dan tempat ngejus yang kini sangat ngetrend di Singaraja. Di tengah kesibukan ngurus toko buah, ia melaju jadi Ketua KPU Buleleng, salah satu tugasnya mengurus orang-orang yang hobi jadi caleg.

Di tengah angin politik yang tak menentu, kadang adem kadang ngelinus, kadang diterpa demo massa, ia juga berkutat dengan penelitian disertasi. Eh, penelitiannya tak berkaitan dengan pekerjaannya sehari-hari. Ia meneliti sejarah, tradisi lisan, seni pertunjukan yang dikaitkan dengan pariwisata Bali. Semua itu dikaji dengan teori komodifikasi, semiotika, dan ideologi pariwisata budaya.

Tak habis pikir saya, betapa kacau hidup teman saya itu. Betapa bingung saraf dan otaknya saat sehari-hari ia bangun pagi.

Mencintai Pengetahuan

Senin malam, 5 Februari 2018, beberapa hari setelah namanya berisi Dr., saya ngobrol dengan Gde Suardana di Apple Mart, tempat ngejus miliknya. Ia ingin membukukan disertasinya dan saya (sesungguhnya tanpa diminta) bersedia jadi editornya. Biar pernah jadi editor seorang Doktor.

Dari obrolan itu saya paham, teman saya itu ternyata punya ambisi besar dalam mengembangkan dunia pendidikan, terutama pendidikan di luar lembaga-lembaga formal.  Ia berminat pada tradisi lisan awalnya karena rasa cintanya pada cerita-cerita lisan, dan ia ingin menghidupkan tradisi itu sebagai bagian dari pendidikan untuk anak-anak.

Namun dalam disertasinya ia mengkaitkan tradisi lisan dengan komodifikasi pariwisata. Ini dilakukan karena ia juga ingin member sumbangan kepada pengembangan pariwisata budaya di Bali. Jadi, sungguh banyaklah keinginan dia, yang jika disimpulkan semua itu semata karena keinginan dia mengembangkan ilmu pengetahuan, tanpa penting dapat tunjangan atau tidak.

“Dengan disertasi ini, dan apa yang saya lakukan ini, saya ingin banyak orang mendapatkan inspirasi. Inspirasi untuk membangun tradisi lisan, inspirasi untuk mengelola pariwisata budaya, dan inspirasi untuk melanjutkan penelitian ini dengan lebih lengkap,” kata dia.

Gde Suardana meneliti tentang seni pertunjukan Bali Agung – The Legend of Balinese Goddesses yang dipentaskan secara reguler di Bali Safari and Marine Park, Gianyar, Bali. Itu adalah seni pertunjukan pariwisata. Lakon yang dikisahkan diambil dari mitos Raja Jayapangus dengan permaisuri putri Cina Kang Cing Wie.

Seni pertunjukan pariwisata itu mengandung banyak unsur yang selama ini dipelajari orang Bali dan akan terus dipelajari, misalnya tentang sejarah Kerajaan Bali dan Raja Jayapangus serta mitos yang berkembang dan mewarnai tradisi lisan di Bali.

Di situ juga bisa dipelajari tentang adanya akulturasi. Karena menurut Gde Suardana, seni pertunjukan yang dipentaskan di Bali Safari and Marine Park itu  adalah seni pertunjukan hybrid. campuran unsur kesenian Bali dan Cina. Unsur Cina tampak dari tata busana Kang Cing Wie dan tokoh cerita lain berlatar Cina serta tata warna dominan merah yang merupakan warna-warni identitas Cina. Unsur percampuran tidak saja dari seni Bali dan Cina tetapi juga unsur teater modern Barat seperti tampak dari tata lampu, tata musik, dan tentu saja tata panggung.

Prof. I Nyoman Darma Putra mengatakan disertasi Gde Suardana memberikan kontribusi dalam kajian atas seni pertunjukan pariwisata dalam konteks pariwisata budaya yang dilakukan peneliti sebelumnya seperti Miche Picard (1980-an).

Picard menyampaikan bahwa pariwisata budaya (cultural tourism) dan budaya pariwisata (touristik culture) bukan dua hal yang berbeda karena orang Bali melihat keduanya menyatu dalam pengembangan pariwisata dan pengembangan budaya. Sejak penelitian Picard, dan sejak hadirnya Bali Agung, kajian substantif pertunjukan turistik belum pernah dilaksanakan.

Setelah mendapat penjelasan dari Gde Suardana dan Prof. Darma Putra saya kini manggut-manggut. Tapi tetap tak habis pikir, kenapa justru Gde Suardana yang melakukan itu, kenapa bukan teman-teman saya yang lain, misalnya teman yang selama ini memang digaji untuk melakukan hal-hal seperti itu? Seperti itu, apa? Ah, sudahlah… (T)

Tags: BudayaPariwisataPendidikanPolitikseni pertunjukan
Share234TweetSendShareSend
Previous Post

Politik Patronase, Kegagalan Mencipta Pemilih Mandiri – Catatan Jelang Pilkada

Next Post

Festival Makan Duren di Buleleng: Promosi Buah Tempatan, Bolehlah Nyontek Upin-Ipin

Made Adnyana Ole

Made Adnyana Ole

Suka menonton, suka menulis, suka ngobrol. Tinggal di Singaraja

Related Posts

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
0
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

Read moreDetails

“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

by Ingga Adelia
October 18, 2026
0
“Satu Pemberhentian Lagi”: Film Pendek tentang Bus, Kemacetan, dan Pilihan Bertransportasi di Pekan Iklim Bali

Siang itu, Flow Workspace di kawasan Sanur, Denpasar, dipenuhi anak-anak muda, terutama pencinta film dan para aktor. Mereka berkumpul, bercakap-cakap,...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails
Next Post
Festival Makan Duren di Buleleng: Promosi Buah Tempatan, Bolehlah Nyontek Upin-Ipin

Festival Makan Duren di Buleleng: Promosi Buah Tempatan, Bolehlah Nyontek Upin-Ipin

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co