The Ingredients of Easter:
Three nails,
Two pieces of wood,
a crown of thorns,
a fair share of lashing,
and an abundance of love.
Adalah salah satu puisi yang saya kutip dari Rivaldi Anjar Saputra dalam bukunya Descending as a Poem. Sebuah buku kumpulan puisi yang ditulis oleh seorang calon pendeta yang gemar menulis dan diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Jeddie Sophronius. Rivaldi sendiri adalah kawan dekat saya dan tidak sekali kami berbincang soal sastra, terutama puisi. Sebagai penyair, ia juga mengalami transformasi dalam kepenulisannya, dari tema-tema puisi yang bersifat pembebasan hingga tema-tema terkait spiritualitas. Pada periode ini mungkin merupakan periode Rivaldi sebagai seorang penyair reflektif-teologis dan spiritual. Hal ini bukan tanpa alasan karena ia sendiri sedang mengalami masa-masa perziarahannya sebagai seorang calon pendeta.
Sebuah kumpulan puisi yang dapat saya katakan sebagai puisi-puisi, yang secara tidak langsung, hermeneutis. Puisi-puisi ini mungkin merupakan upaya pembacaan terhadap teks-teks Alkitab yang coba Rivaldi fusi dengan horizon pengalaman spiritualnya. Rivaldi sendiri, secara tidak langsung, juga mengungkapkannya dalam pengantar yang ia tulis dalam buku ini. Di mana ia mengutip Joko Pinurbo yang mengatakan “Puisi itu konkretisasi, bukan abstraksi. Puisi mengungkapkan pengalaman jiwa yang abstrak melalui gambaran atau deskripsi yang konkret, yang dapat menyentuh dan merangsang indera”. Sehingga apa yang coba diupayakan oleh Rivaldi dalam buku ini adalah konkretisasi terhadap “yang abstrak”, dan bukan malah sebaliknya.
Peran Jeddie Sophronius dalam buku ini juga bukan sekadar sebagai editor dan penerjemah yang mengatur pembahasaan belaka. Karena saya melihat peran Jeddie disini bersifat substansial bagi puisi-puisi Rivaldi. Seperti penerjemahan ke bahasa Inggris bagi puisi-puisi Rivaldi dilakukan dengan penyesuaian konteks masyarakat sekuler Amerika. Pemilihan-pemilihan kata untuk terjemahannya merupakan kata-kata yang tidak terkesan terlalu Alkitabiah, tetapi kata-kata tersebut dapat menyampaikan pesan kehadiran Ilahi secara universal, dan tidak spesifik bagi umat Kristiani saja.
Puisi-puisi Rivaldi dalam buku ini pun tertata dengan sedemikian rupa dan tidak terkesan seperti puisi-puisi acak yang diambil dan dikumpulkan secara sembarangan. Ada kesan periodesasi pada puisi-puisi yang terkumpul dalam buku ini. Bagian I menggambarkan kesan penderitaan yang dekat dengan penyaliban Yesus, dan peristiwa paskah. Lalu pada bagian III sebagai bagian akhir menggambarkan kesan kehadiran dan kelahiran, yang tentu dekat dengan tema natal. Hal ini menjadi menarik karena buku ini memotret kematian dan kekosongan terlebih dahulu, lalu menutupnya dengan potret kehadiran dan kelahiran. Sehingga ketika membaca buku ini hingga habis kita akan diajak untuk “memikul salib” terlebih dahulu, lalu kita akan diberikan harapan akan eksistensi dan penyertaan Tuhan yang selalu hadir dalam berbagai wujudnya. Itulah yang mungkin tergambar dalam buku ini, menurut saya.
Buku ini sendiri dapat saya katakan sebagai bentuk modern sebagai “pewahyuan” melalui Rivaldi sebagai penulis yang melakukan konkretisasi terhadap yang abstrak. Seperti yang dipahami oleh para pemikir Kristen arus utama bahwa terdapat dua “teks” yang dapat kita baca sebagai bentuk pewahyuan Tuhan, yakni book of God dan book of nature. Keduanya dapat kita baca untuk mengalami kehadiran Tuhan. Di sini saya mungkin mencoba menambahkan satu “teks” lagi untuk dibaca guna memahami bentuk kehadiran Tuhan yang penuh misteri, yakni book of poem. Dan bukan terkesan memuji karya teman sendiri, tetapi saya bisa katakan puisi-puisi Rivaldi adalah salah satunya. Karena puisi-puisi Rivaldi berhasil menggambarkan konkretisasi dari jiwanya dengan segala perjumpaan yang penuh misteri dengan Yang Ilahi.
Dunia semakin rumit, kacau, dan entah seperti apa harus mendeskripsikan dunia itu sendiri. Semua kekacauan-kekacauan eksternal tersebut membuat manusia tidak dapat mendengar suara dari dalam dirinya sendiri. Hal inilah yang membuat manusia tidak dapat merasakan kehadiran “Tuhan” di dalam dirinya sendiri. Namun, yang perlu diketahui ialah banyak misteri yang tidak diketahui oleh manusia, termasuk Tuhan sebagai “mysterium et tremendum”.
Membaca puisi Rivaldi adalah salah satu pengalaman pembacaan terhadap mysterium et tremendum tersebut. Perlu saya akui bahwa Rivaldi berhasil untuk menunjukkan gambaran lain dari Tuhan yang biasa digambarkan oleh kaum tradisionalis sebagai sosok omnipotensi. Melalui puisi-puisinya Tuhan digambarkan sebagai berbagai kemungkinan. Ia mungkin rapuh, Ia mungkin menangis, bahkan Ia mungkin tidak dapat merangkul manusia. Melalui pembacaan ini, saya dapat menyimpulkan bahwa terkadang Tuhan tidak selalu maha kuasa karena terkadang Ia bisa menjadi apapun mengikuti bagaimana manusia memproyeksikannya.
Meskipun puisi-puisi Rivaldi menggambarkan Tuhan secara ironis, puisi-puisinya secara tidak langsung menggambarkan bahwa Tuhan tidak sejauh yang manusia kira. Mungkin secara tidak sadar, Tuhan sangat dekat dengan manusia dengan segala kerapuhannya dan selalu berusaha merengkuh manusia yang juga lekat dengan kerapuhannya.[T]






























