14 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
in Cerpen
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

Ilustrasi tatkala.co | Canva

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar.

“Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan nganggur, awas nanti disita negara loh,” kata Pak RT setiap kali lewat sambil membawa cangkul.

Aku, Bram Prayogi, hanya tersenyum tipis. Di kampung ini, menjadi diam adalah satu-satunya cara untuk menjaga rahasia tetap menjadi milik sendiri.

Semua orang berkata, bahwa tanah adalah investasi atau sekadar media tanam untuk komoditas yang harga pasarnya pas-pasan. Tapi bagiku, kebun itu adalah sebuah monumen. Sebuah pengingat paling nyata tentang bagaimana rasanya menunggu sesuatu yang sebenarnya sudah lama mati di kepala, tapi tetap tumbuh di dada.

Kebun itu tidak pernah ditanami, bukan karena aku malas, melainkan karena aku terlalu setia pada sebuah rencana lama dengan seseorang.

Sebelas tahun lalu, aku dan Elisa berdiri di sana. Aku adalah mahasiswa pertanian, sedangkan dia adalah mahasiswa ilmu komunikasi. Saat itu, kami sering berdiskusi panas di kantin tentang bagaimana komunikasi pemerintah kita yang banyak blunder.

Elisa membawa sebungkus benih melati yang katanya dia beli dari toko bunga paling mahal di pusat kota. Dia memegangnya seolah itu adalah varietas unggul paling berharga di dunia.

“Jangan ditanam sekarang, ya, Bram,” katanya sambil mengerucutkan bibir, gaya andalannya yang selalu membuatku menyerah pada permintaan apa pun tanpa syarat.

“Tunggu aku selesai magang di Bandung. Aku mau kita yang menyiapkan bedengannya bareng, kita yang melakukan transplanting ke tanah sama-sama. Biar melatinya tahu kalau dia punya insinyur pertanian yang bakal jaga nutrisinya sampai mekar.”

Aku tertawa, menganggapnya puitis yang agak berlebihan bagi seseorang yang biasanya berkutat dengan gaya komunikasi dan analisis kebijakan publik, tapi aku mengangguk mantap.

Aku berjanji, bagi seorang laki-laki bernama Bram Prayogi, yang tidak punya banyak hal untuk dibanggakan selain integritasnya, janji adalah satu-satunya harga diri yang aku miliki. Aku tidak tahu bahwa sore itu adalah terakhir kalinya aku melihat rona yang sama di matanya.

***

Bulan-bulan pertama, telepon kami adalah irama rindu yang konon terdengar candu. Tapi pelan-pelan, Bandung mengubah frekuensi suaranya. Elisa mulai bicara soal lembur di kantor yang tak ada hubungannya dengan jobdesknya.

Jarak itu bukan cuma soal kilometer, ternyata. Jarak adalah saat kita masih punya nomor telepon yang sama, tapi tidak punya alasan lagi untuk sekadar mengetik apa kabar.

Tahun kedua, aku masih rajin melakukan penyiangan, mencabuti rumput liar agar tidak terjadi kompetisi hara di kebun itu. Aku merasa kebun kosongku ini adalah satu dari sedikit benteng pertahanan yang tersisa, meski tak ada yang tumbuh di sana. Aku ingin saat Elisa pulang, lahan itu sudah siap.

Tapi tahun kelima, aku berhenti mencabuti rumput. Di media sosialnya, aku melihat Elisa berfoto di hamparan kebun yang penuh bunga matahari. Dia memakai syal tebal, menggandeng laki-laki yang kelihatannya tangannya bersih dari bau pupuk kendang.

Dia sudah menanam kehidupannya di tanah orang lain. Sementara aku di sini, masih memeluk bungkus benih melati yang sudah lama patah dormansi atau mungkin sudah mati sama sekali.

Anehnya, aku tetap tidak menanam apa pun di sana. Ibu pernah menyarankan supaya aku menanam pohon alpukat saja.

“Biar ada hasilnya, Bram. Lihat itu, harga pangan makin mahal, karena pemerintah cuma fokus pada food estate yang gagal itu. Pakailah tanahmu,” katanya suatu sore sambil membawakan wedang jahe.

Aku tidak bisa menjelaskan pada Ibu bahwa menanam pohon alpukat berarti aku menghkianati Elisa. Selama tanah itu kosong, selama itu pula aku bisa berbohong pada diriku sendiri bahwa musim tanamnya hanya sedang tertunda.

Manusia memang lucu, kita lebih suka memelihara lahan bera yang gersang daripada membangun kebun baru, hanya karena kenangan lama terasa lebih akrab di kulit. Terdengar bodoh sekali.

***

Sore ini, aku duduk di teras, menatap kebun yang sekarang sudah jadi hutan kecil ilalang. Pohon kamboja di pojok kiri yang dulu hanya setinggi pinggang, sekarang sudah besar dan rimbun. Ia tumbuh liar, tak ada yang pernah melakukan pemangkasan, tapi tetap bertahan.

Aku masuk ke dalam, mengambil kotak kayu di atas meja penuh buku. Di dalamnya ada bungkusan benih melati itu. Benih ini pasti sudah kehilangan daya kecambahnya. Tidak mungkin ada kehidupan yang bisa bertahan setelah bertahun-tahun terjebak dalam plastik dan kegelapan, menunggu sebuah kepulangan yang fana.

Aku berjalan ke tengah kebun. Aku berjongkok di titik yang dulu kami tunjuk sebagai inti kebun. Tanah di bawahku keras dan kering. Aku tidak membawa sekop. Aku hanya menggunakan jari-jariku sendiri untuk mengorek tanah, membiarkan kuku-kukuku kotor dan perih. Aku membuat lubang tanam kecil, lalu merobek bungkus benih itu dengan gigi.

“Elisa,” bisikku pada angin sore yang dingin.

“Aku sudah menepati janji, sudah melakukan penanaman ini.”

Aku menaburkan benih-benih kering itu ke dalam lubang, lalu menutupnya kembali dengan tanah yang kasar. Aku tidak berharap besok akan ada tunas yang muncul. Aku menanamnya bukan untuk melihatnya mekar, tapi untuk membiarkannya kembali menyatu pada bumi.

Tahun silih berganti, aku akhirnya sadar bahwa kebun ini memang tidak pernah dimaksudkan untuk menanam melati. Kebun ini adalah laboratorium pribadiku untuk melatih kesabaran, tempat untuk memahami bahwa ada beberapa hal yang lebih indah saat dibiarkan menjadi rencana di atas kertas daripada dipaksa tumbuh di atas realita yang keras.

Aku berdiri, menepuk-nepuk debu di celanaku. Besok, aku akan memanggil tukang kebun atau menyewa traktor tangan. Aku akan menyuruhnya membabat semua ilalang ini. Berharap tanah ini kembali produktif, tidak lagi menjadi tempat penyimpanan limbah masa lalu.

Sore itu, hujan turun tipis-tipis, memberikan irigasi alami pada tanah yang baru saja kubongkar. Di bawah sana, benih-benih kering itu akhirnya bersentuhan dengan air setelah tahunan menanti.

Apakah mereka akan tumbuh? Mungkin tidak. Tapi itu bukan lagi urusanku. Tugasku untuk setia sudah lunas.

Ternyata, bagian paling melegakan dari sebuah penantian bukanlah saat yang ditunggu datang membawa hasil panen, melainkan saat kita sadar bahwa kita sudah tidak perlu menunggu musim tanam yang itu lagi.

Dunia memang tidak pernah menjanjikan keabadian pada kelopak yang layu sebelum sempat menyapa matahari. Namun, di balik tanah yang nampak sunyi itu, ada sebuah kuburan masa lalu.

Langkah kaki kini terasa lebih ringan, meninggalkan jejak-jejak usang yang mulai tertutup debu waktu. Tidak ada lagi ruang untuk mengenang tentang keindahan yang tertunda, yang ada hanyalah tekad untuk menyirami realitas dengan keringat dan kerja keras. [T]

Penulis: Dodik Suprayogi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Putu Intan Juliantika | Lintang Perahu Pegat

Next Post

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Dodik Suprayogi

Dodik Suprayogi

Mahasiswa Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta. Ig @dodiksuprayogi_

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Wisatawan Eropa Masih Menjadi Andalan Indonesia

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈
Pameran

𝐌𝐄𝐍𝐓𝐄𝐑𝐈 𝐋𝐔𝐀𝐑 𝐍𝐄𝐆𝐄𝐑𝐈 𝐈𝐍𝐃𝐈𝐀 𝐁𝐔𝐊𝐀 𝐏𝐀𝐌𝐄𝐑𝐀𝐍 𝐋𝐎𝐍𝐓𝐀𝐑 𝐁𝐀𝐋𝐈

Menteri Luar Negeri India, 𝐃𝐫. 𝐒. 𝐉𝐚𝐢𝐬𝐡𝐚𝐧𝐤𝐚𝐫, 12 Oktober 2026, membuka pameran 𝑁𝑖𝑟ā𝑚𝑎𝑦ā𝑡𝑎: 𝐻𝑒𝑎𝑙𝑖𝑛𝑔 𝑎𝑛𝑑 𝑊𝑒𝑙𝑙𝑏𝑒𝑖𝑛𝑔 𝑖𝑛 𝑆𝑜𝑢𝑡ℎ 𝐴𝑠𝑖𝑎𝑛 𝑇𝑒𝑥𝑡𝑠...

by tatkala
October 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari
Ulas Buku

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi
Esai

Bali Ketergantungan Kendaraan Pribadi

Pagi ini, Selasa, 13 Oktober 2026, saya ikut mengantre bensin. Bukan di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), melainkan di...

by Angga Wijaya
October 13, 2026
Arsip Visual Ada, Arsip Pemikiran Tiada
Esai

Panggung Megah, Akar Goyah — Ketika Festival Seni Tidak Cukup Hanya Menjadi Tontonan, Tetapi Harus Meninggalkan Ingatan, Identitas, dan Pertanyaan Tentang Masa Depan Kebudayaan

SAYA merindukan sebuah festival seni dan budaya. Bukan semata-mata karena kemeriahannya, kerinduan saya justru tertuju pada sesuatu yang mungkin semakin...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan
Esai

Jangan Jadikan Tinggal Kelas sebagai Hukuman —Menguji Keseriusan Negara Memperbaiki Kualitas Pendidikan

ADA satu pertanyaan mendasar yang seharusnya diajukan sebelum pemerintah memutuskan bahwa mulai 2027 siswa tidak lagi otomatis naik kelas: ketika...

by I Ketut Suar Adnyana
October 12, 2026
“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran
Pameran

“Garbha Wedana: A Story Before It Begins”, Menelusuri Ruang Penciptaan Sebelum Kelahiran

"GARBHA Wedana: A Story Before It Begins" menjadi pameran perdana Dyurupa, komunitas seniman rupa berbasis di Bali. Pameran yang melibatkan...

by Nyoman Budarsana
October 12, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Dalang di Antara Dirinya dan Tokohnya: Sebuah Pembacaan Teatrikal Atas Dialog dengan Sanghyang Kala

ADA sebuah momentum dalam kisah Sapuh Leger yang bagi saya selalu terasa ganjil, menegangkan, sekaligus sangat teatrikal yaitu ketika sang...

by I Gusti Made Darma Putra
October 12, 2026
Wartawan Kehabisan Bensin
Esai

Wartawan Kehabisan Bensin

ADA cerita tentang wartawan yang kehabisan bensin di tengah perjalanan meliput berita. Sepeda motornya berhenti di pinggir jalan. Ia memeriksa...

by Angga Wijaya
October 12, 2026
Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia
Tualang

Tiga Kali ke Ambon, Tiga Cara Membaca Indonesia

SUDAH cukup lama saya ingin menuliskan kembali tiga kali perjalanan saya ke Ambon, Maluku. Setiap perjalanan memiliki tujuan yang berbeda....

by Ahmad Sihabudin
October 12, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Esai

Menara Gading Yogyakarta yang (Tidak Boleh) Lupa Rumahnya Sendiri

YOGYAKARTA tak pernah sekadar menjadi nama di peta. Ia adalah sebuah janji. Sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Perguruan Taman Siswa...

by S. Bekti Istiyanto
October 12, 2026
Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin
Esai

Sapta Timira dan Godaan Seorang Pemimpin

KEPEMIMPINAN sejati bukan sekadar kemampuan memerintah, melainkan kesanggupan mengendalikan diri. Sebab, tantangan terbesar seorang pemimpin sering kali bukan datang dari...

by Raka Prama Putra
October 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co