“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you, baby ….”
Ponsel Garu masih mengalunkan musik tersebut berulang-ulang di tengah hujan yang menderu. Pria itu bahkan lupa sudah berapa kali sehari ia memutarnya. Indranya sudah kebal. Lagu itu hanya meliuk-liuk hampa di udara untuk kemudian menubruk gendang telinganya, memantul-mantul kecil, lantas terlempar kembali ke luar kepalanya.
Mata pria itu masih menatap nanar tempias hujan tepat di atas genangan air yang berada di aspal, sementara asap nikotin menguar dari bibirnya yang pasrah. Ia menyandarkan kepalanya yang terasa pening di sana entah sudah berapa jam. Bokongnya seolah telah menebal, barangkali kapalan saking lamanya.
Tak pelak semua ini ia lakukan demi Ann, kekasihnya, yang baru dua hari lalu memberi ultimatum mengenai keputusannya untuk menyudahi hubungan dengan Garu.
Lagi-lagi Garu menyesap batang rokok itu dalam-dalam, lalu mengepulkan asapnya dengan wajah kuyu dan tatapan kosong. Seharusnya barang favoritnya itu bakal berhasil melipur segala kegundahan hatinya, namun kali ini gagal total. Efek menyenangkan nikotin itu tak pernah berhasil menyingkirkan pikirannya mengenai Ann yang cantik―sudah―tidak menjadi―pacarnya lagi.
Garu menggaruk rambut gondrongnya dengan gelisah. Ia masih tak terima jika gadis cantik, pujaan hatinya, primadonanya, dewinya, memutuskan hubungan dengannya. Padahal sudah banyak pengorbanan yang ia lakukan demi menyenangkan hati perempuan dambaan hatinya itu. Tetapi, rupanya hal tersebut masih saja kurang di mata Ann.
Motor yang lewat kemudian membuat genangan air di depan Garu menyembur ke pakaiannya yang telah kuyup. Garu bergumam kesal, memaki-maki, dan merutuki pengendara motor itu sekalian melampiaskan seluruh emosinya sebab sudah selama dua hari ia duduk di depan teras rumah Ann, namun tak ada seorangpun yang mengacuhkannya. Apalagi sekadar mempersilakannya masuk rumah agar dapat bertemu dengan Ann. Oh, seandainya ia bisa berjumpa dengan perempuan itu, ia berjanji akan memeluknya erat dan tak akan melepasnya. Ia sungguh tak sanggup kehilangan Ann sampai berpikir demikian membuatnya hampir gila seperti sekarang.
Hari pertama, Garu datang sambil membawa seikat bunga mawar crimson kesukaan Ann. Ia berdiri tepat di depan pintu rumah Ann dari pagi sampai sore; dari kepanasan sampai menggigil. Tapi, tak ada satu pun orang rumah yang menyambutnya, lebih-lebih Ann yang melihatnya saja tidak sudi. Pesannya yang mengatakan permintaan maaf secara tulus sekaligus permohonan untuk balikan tidak digubris sama sekali oleh gadis itu.
Jika kamu meninggalkanku, Sayang, tolong tinggalkan morfin di depan pintuku. Karena untuk melupakanmu akan membutuhkan banyak obat. Untuk menyadari apa yang dulu kumiliki, tetapi sekarang tidak, aku perlu memeluk zat adiktif lagi.
Hari kedua, mawar itu telah layu. Sebagai gantinya, ia membawakan sekotak cokelat mahal yang merupakan selera Ann yang juga mahal agar permintaan maafnya diterima. Garu bahkan tak peduli jika ia harus mengemis kepada temannya untuk meminjam uang, padahal utangnya yang kemarin-kemarin masih bejibun dan belum terlunaskan. Namun, Ann tetap tak menanggapinya. Menyaksikan sosoknya yang melongok demi melihatnya saja tidak. Balkon terbuka di lantai tiga tampak sunyi secara misterius; balkon kamar Ann masih saja kosong secara sia-sia tanpa kemunculan sosok cantik itu.
Aku tidak akan pernah menjadi favorit ibumu. Ayahmu bahkan tidak bisa menatap mataku. Tapi, jika aku jadi mereka, aku akan melakukan hal yang sama; melarang anakku berpacaran dengan pria merepotkan sepertiku.
Beberapa orang yang lewat sebenarnya sudah memperingatkannya, bahwa keluarga Nugroho―keluarga Ann yang sangat mulia―tak akan mungkin merespons atau mengindahkan tindakan negosiasinya. Garu pun sejujurnya tengah mempertimbangkan nasihat tersebut mengingat siapa dirinya dan siapa keluarga Nugroho. Mengingat jarak mereka sudah seperti langit dan bumi.
Namun, sekali lagi, jika harus mengorbankan apa pun, ia akan melakukannya. Demi Ann yang sangat ia cintai.
Masalahnya tak mudah menambat hati perempuan cantik itu. Segala hal sudah ia lampaui demi menarik perhatian Ann, mulai dari mengikuti kelas yang sama, organisasi yang sama, hingga peminatan yang sama meski harga yang dibayar cukup mahal. Dan, walau sudah berhasil menjadi pacarnya, Ann sesekali menunjukkan bahwa dirinya tak begitu cinta pada Garu. Hal itu membuat Garu resah setiap hari sampai tak bisa tidur nyenyak. Ia ketakutan jika suatu hari harus kelepasan Ann di dalam hidupnya.
Bagi Garu, Ann lebih dari kata cantik dan seksi. Ann adalah perempuan tercantik dalam lingkungan sosial yang sebenarnya tak mampu ia raih. Ann merupakan prestise, suatu wujud kemewahan di tengah pergaulannya, kebanggaannya yang sudah setara dengan apa pun kemewahan dunia yang tak dapat dibelinya. Atau, barangkali, segala hal luhur yang tak dapat ia gapai.
Garu mengusap peluhnya yang telah bercampur air hujan. Sebagai lelaki, ia menyukai guyuran hujan deras yang sanggup menyembunyikan air matanya ini. Ia sedang menimbang-nimbang, apa lagi yang akan ia lakukan demi mempertahankan Ann-nya. Garu menguras otak sampai mengerahkan setiap selnya hanya demi mendapatkan Ann kembali.
Masih terasa mimpi bahwa ia dapat bertemu dengan Ann pada suatu hari, lalu lanjut tergila-gila hingga detik ini. Bahkan nyaris mendekati obsesi. Kini pria itu memandangi jalan di depannya seraya mengabsen seluruh usahanya untuk Ann selama mereka bersama. Garu si yatim piatu yang hidupnya sehari-hari bagai elang yang mengangkasa; bebas, liar, dan hanya bergairah untuk memangsa tak habis pikir memiliki kesempatan untuk mendapatkan Ann, satu-satunya kesempatan terhormat yang hanya datang sekali seumur hidup. Tentu saja Garu tak menyia-nyiakannya.
Garu mulai berdesas-desus ke teman pengkolannya saat memutuskan untuk mengincar Ann, dan temannya itu mulai memberi petuah hal-hal yang lantas Garu lakukan. Dari datang langsung dan mendaftar kelas kursus yang diikuti oleh Ann menggunakan uang utang hasil curian temannya, giat merayu Ann dengan caranya sendiri yang membuat gadis cantik itu mengernyit geli lalu memutuskan untuk keluar kursus, hingga membawa masalahnya ini kepada dukun tersohor di sudut kampungnya. Tak hanya itu, sewaktu Ann berhasil menjadi kekasihnya, Garu berusaha mengklaim “kepemilikan tetap” dengan menjebak Ann di sebuah hotel murahan dan memaksanya melakukan persetubuhan. Alhasil, Garu mendapatkan keperawanan Ann yang amat berharga sekaligus menjadikan hubungannya kandas pula.
Ann mengumumkan kekecewaannya berikut keputusannya sehari setelah kejadian itu. Tubuh Garu langsung lingsut tanpa daya, padahal segala hal sudah ia lakukan demi Ann. Ia telah berhasil merangkak jauh lebih tinggi dari tempatnya sekarang, berhasil mendapatkan Ann dalam versi seutuhnya, dan kini ia malah meratapi nasibnya yang mengemis pengampunan dari Ann dan seluruh keluarga Nugroho.
Jadi, ingatlah semua pengorbanan yang aku lakukan untuk membuatmu tetap di sisiku dan mencegahmu keluar dari pintu.
Hari telah lingsir menuju bakda magrib, namun intensitas hujan tak turun juga. Hujan justru kian lebat menerjang tubuh ringkih Garu seperti amarah Ann yang ia rasakan. Sebuah raungan sirene ambulans yang mendekat kemudian membangkitkan kesadaran Garu. Ia melongok ke jalan dan mendapati sejumlah mobil polisi pun mengepungnya.
Garu lekas berdiri dan mengangkat kedua tangan tanda menyerahkan diri. Apa gunanya ia melanjutkan hidup apabila Ann tak lagi jatuh dalam pelukannya?
Tetapi alih-alih menangkap Garu, beberapa polisi itu malah menggeruduk kediaman keluarga Nugroho dan mulai membentangkan garis kuning di area tersebut. Pintu rumah akhirnya terbuka lebar, namun bukan untuk menoleransi kelakuan Garu. Dari dalam, Garu dapat menangkap ibu Ann tergugu histeris tatkala menyambut sejumlah orang turun dari ambulans dan menyurukkan brankar urgensi beroda. Hingga sosok yang berada di balik kain putih itu dibawa jeritan ambulans, hingga massa meriung di sekitarnya, Garu masih menatap nanar terlampau kosong. Ia memeras otaknya sekali lagi; bagaimana caranya mengembalikan Ann yang cantik dalam hidupnya? [T]
Penulis: Bella Paring Gusti
Editor: Adnyana Ole





























