2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Abdi Jaya Prawira by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
in Khas
‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

Menerjang bara -- Lambuk Baa Pura Parerepan Samuan Tiga, Denpasar Selatan

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itulah kesempatan kedua saya nangkil ke Pura Parerepan Samuan Tiga, Denpasar Selatan. Namun ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan ritus Lambuk Baa. Ritus pingit ini hanya digelar ketika upacara piodalan di tersebut.

Saya tiba di pura ketika langit sudah benar-benar gelap. Motor saya parkirkan di depan sebuah teras, bersebelahan dengan plang penunjuk nama Gang Ciung Wanara. Dingin menyelinap di sela-sela jaket saya. Suhu Bali belakangan ini rasanya memang agak dingin, lebih-lebih bagi saya yang memang sedang tidak enak badan. Tetapi, begitu kaki melangkahi mandala pura, perasaan dingin itu hilang seketika. Bukan karena api, belum.

Menginjak anak tangga menuju mandala utama pura, alunan Kakawin Arjunawiwaha dapat saya kenali sekilas dengar. Para warga yang datang bersamaan dengan saya mempersembahkan banten yang mereka bawa, dipimpin pemangku di pura itu. Setelahnya, dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan secara mandiri.

Tentang Nglambuk Baa

Lambuk. Kata inidalam keseharian orang Bali sering dipakai. Kurang lebih artinya yakni ‘menerobos’. Istilah ini dipakai juga ketika menembang kakawin, namun tidak mengikuti aturan terhadap guru-lagu. Orang akan menyebutnya menembang dengan nglambuk. Berbeda dengan alunan kakawin di pura malam itu. Merdu dan aturan penembangannya diikuti dengan setia oleh seorang pria yang saya tidak tahu namanya itu.

Nglambuk Baa, kalau bisa saya terjemahkan, berarti menerobos baa. Baa di sini adalah ‘bara’. Bara yang dihasilkan dari proses pembakaran batok kelapa kering. Kegiatan ‘menerobos bara’ ini bukan atraksi belaka. Bukan konsumsi untuk kamera. Kegiatan ini sakral, dan menjadi tonggak untuk menyatakan upacara piodalan di Pura Parerepan Samuan Tiga telah diselesaikan dengan lengkap.

Orang yang menerobos bara, tidak kepanasan. Tidak kesakitan. Mereka sangat semangat, seolah sedang bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak dijumpai. Mereka yang nglambuk baa berada dalam kondisi trans. Sarana utama yang dibawa ketika nglambuk baa adalah kuda-kudaan. Kuda-kudaan ini berbeda dengan sang hyang jaran yang dimiliki sejumlah desa lain, yang dihias sedemikian rupa dan memiliki bentuk solid. Kuda-kudaan yang digunakan di sini, dibuat dari pelepah pinang dan sifatnya temporer. Warnanya hijau polos, hanya diberi torehan sederhana di bagian yang menandai kepalanya. Sangat sederhana, sangat ekologis.

Apabila ritus ini disamakan dengan sang hyang jaran, maka ada sejumlah perbedaannya juga. Tidak ada Kukus Arum, atau Kembang Jenar yang merupakan gending-gending umum untuk mengiringi pementasan sang hyang jaran. Kendati demikian, kesunyian dipecah oleh alunan gamelan yang memainkan irama bernuansa jaran-jaranan.

Saya berdiri agak jauh di sebelah timur gundukan bara, tetapi panasnya tetap sampai ke wajah. “Bagaimana yang menerobos?” pikir saya.

Ritus padatengan yang digelar di mandala utama sebelum nglambuk baa. | Dok. pribadi

Anak-anak menepuk tangan dengan nada yang harmonis, dibarengi komando seseorang yang menyuruh orang-orang di sekitar masuryak ‘bersorak’. Dua orang yang mundut atau membawa jaran-jaranan dari pelepah pinang itu lalu menerjunkan diri ke tengah bara, diikuti seorang pemangku dan seorang perempuan yang juga trans. Sangat cepat, bara berserak ke berbagai penjuru. Setelahnya, mereka semua kembali ke mandala utama pura. Kesadaran orang-orang yang trans dikembalikan dengan sarana berupa tirta atau air suci.

Tidak ada pakem berapa kali mereka terjun ke bara. Tahun lalu, kata seorang ibu yang berdiri di sebelah saya, ada dua kali ronde nglambuk baa. Kiranya itu penyebab bara kembali dikumpulkan dan tidak dimatikan setelah orang-orang kembali ke mandala utama pura. Tidak ada salahnya berjaga-jaga. Setelah sekian lama, penjaga bara menyakini jika para pemangku yang trans di mandala utama sudah ngluur. Sebuah selang pun memadamkan bara yang masih menyala. Kaki seorang yang tidak trans jika menginjaknya, minimal pasti akan kembung.

***

Ada cerita tua yang tidak tertulis di lontar. Hanya hidup di ujung lidah orang-orang yang masih percaya pada ingatan kolektif leluhurnya.

Konon, di Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar pada zaman dahulu ada sejumlah ritus yang saling bergandengan. Nampiog, ngombak, siat sampian, maplengkungan, dan nglambuk baa. Mereka seperti saudara sekandung yang tidak bisa dipisahkan. Perubahan adalah keniscayaan, karena di hari ini ritus nglambuk baa tidak ada lagi di Samuan Tiga Gianyar. Tradisi ini pun punya cara sendiri untuk melawan punah, yakni dengan diwariskan di Pura Parerepan Samuan Tiga, Desa Sidakarya.

Nama yang serupa, menjadi pengingat jika pura ini seolah cabang dari sebuah pokok, bukan pohon baru. Generasi sekarang juga masih mewarisi ingatan kolektif tentang leluhur mereka yang aslinya adalah pengabdi setia Pura Samuan Tiga di Gianyar. Leluhur mereka berasal dari Gianyar, yakni Tengkulak Dulu. Piodalan di sini berselisih satu purnama lebih belakang dari Pura Samuan Tiga di Gianyar pada Purnama Jyesta lalu. Sejarah pura ini juga tidak dapat dipisahkan dari kisah leluhur yang memperoleh anugerah berupa karas di pesisir. Karas ini yang diyakini sebagai due Samuan Tiga. 

Sebelum dimulai, ritus ini diawali dengan sederet ritus seperti persembahan banten piodalan yang dipimpin seorang pedanda. Dilanjutkan dengan panglokacara, seperti pamendak, purwadaksina, pamendetan, hingga pangrarauhan/padatengan. Ketika proses padatengan, para pemangku mulai trans. Beberapa di antaranya menyebut gelar dari sungsungan yang diyakini masyarakat setempat. Samar-samar saya mendengar gelar beliau masih punya relasi dengan api.

Sekarang, Lambuk Baa sedang diinventarisasi. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar ingin mengusulkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Tentu itu penting. Tentu itu membuat saya dan teman-teman mengamini. Ritus ini layak dan wajib dilindungi. Ritus ini kami yakini memiliki nilai-nilai spiritual, psikologis dan sosiologis yang kuat dan mantap. Kajian terhadap nilai-nilai tersebut menjadi pekerjaan rumah setelah pulang.

***

Saya tidak ikut menembus bara. Jelas karena saya bukan orang pilihan. Tetapi saat ritus usai, dan ketika masyarakat mulai membubarkan diri, saya merasakan sesuatu yang hangat di telapak tangan. Padahal saya hanya berdiri, tanpa menyentuh apa pun. [T]

Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole

Tags: denpasarHindu Baliritualritus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

Next Post

Pertemuan William James dan Vivekananda

Abdi Jaya Prawira

Abdi Jaya Prawira

Pande Putu Abdi Jaya Prawira, tinggal di Tulikup, Gianyar. Alumnus Sastra Jawa Kuno Udayana.

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
Pertemuan William James dan Vivekananda

Pertemuan William James dan Vivekananda

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co