BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang menyimak. Malam pertama Juni 2026, itulah kesempatan kedua saya nangkil ke Pura Parerepan Samuan Tiga, Denpasar Selatan. Namun ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan ritus Lambuk Baa. Ritus pingit ini hanya digelar ketika upacara piodalan di tersebut.
Saya tiba di pura ketika langit sudah benar-benar gelap. Motor saya parkirkan di depan sebuah teras, bersebelahan dengan plang penunjuk nama Gang Ciung Wanara. Dingin menyelinap di sela-sela jaket saya. Suhu Bali belakangan ini rasanya memang agak dingin, lebih-lebih bagi saya yang memang sedang tidak enak badan. Tetapi, begitu kaki melangkahi mandala pura, perasaan dingin itu hilang seketika. Bukan karena api, belum.
Menginjak anak tangga menuju mandala utama pura, alunan Kakawin Arjunawiwaha dapat saya kenali sekilas dengar. Para warga yang datang bersamaan dengan saya mempersembahkan banten yang mereka bawa, dipimpin pemangku di pura itu. Setelahnya, dilanjutkan dengan melakukan persembahyangan secara mandiri.
Tentang Nglambuk Baa
Lambuk. Kata inidalam keseharian orang Bali sering dipakai. Kurang lebih artinya yakni ‘menerobos’. Istilah ini dipakai juga ketika menembang kakawin, namun tidak mengikuti aturan terhadap guru-lagu. Orang akan menyebutnya menembang dengan nglambuk. Berbeda dengan alunan kakawin di pura malam itu. Merdu dan aturan penembangannya diikuti dengan setia oleh seorang pria yang saya tidak tahu namanya itu.
Nglambuk Baa, kalau bisa saya terjemahkan, berarti menerobos baa. Baa di sini adalah ‘bara’. Bara yang dihasilkan dari proses pembakaran batok kelapa kering. Kegiatan ‘menerobos bara’ ini bukan atraksi belaka. Bukan konsumsi untuk kamera. Kegiatan ini sakral, dan menjadi tonggak untuk menyatakan upacara piodalan di Pura Parerepan Samuan Tiga telah diselesaikan dengan lengkap.
Orang yang menerobos bara, tidak kepanasan. Tidak kesakitan. Mereka sangat semangat, seolah sedang bertemu dengan seseorang yang sudah lama tidak dijumpai. Mereka yang nglambuk baa berada dalam kondisi trans. Sarana utama yang dibawa ketika nglambuk baa adalah kuda-kudaan. Kuda-kudaan ini berbeda dengan sang hyang jaran yang dimiliki sejumlah desa lain, yang dihias sedemikian rupa dan memiliki bentuk solid. Kuda-kudaan yang digunakan di sini, dibuat dari pelepah pinang dan sifatnya temporer. Warnanya hijau polos, hanya diberi torehan sederhana di bagian yang menandai kepalanya. Sangat sederhana, sangat ekologis.
Apabila ritus ini disamakan dengan sang hyang jaran, maka ada sejumlah perbedaannya juga. Tidak ada Kukus Arum, atau Kembang Jenar yang merupakan gending-gending umum untuk mengiringi pementasan sang hyang jaran. Kendati demikian, kesunyian dipecah oleh alunan gamelan yang memainkan irama bernuansa jaran-jaranan.
Saya berdiri agak jauh di sebelah timur gundukan bara, tetapi panasnya tetap sampai ke wajah. “Bagaimana yang menerobos?” pikir saya.

Anak-anak menepuk tangan dengan nada yang harmonis, dibarengi komando seseorang yang menyuruh orang-orang di sekitar masuryak ‘bersorak’. Dua orang yang mundut atau membawa jaran-jaranan dari pelepah pinang itu lalu menerjunkan diri ke tengah bara, diikuti seorang pemangku dan seorang perempuan yang juga trans. Sangat cepat, bara berserak ke berbagai penjuru. Setelahnya, mereka semua kembali ke mandala utama pura. Kesadaran orang-orang yang trans dikembalikan dengan sarana berupa tirta atau air suci.
Tidak ada pakem berapa kali mereka terjun ke bara. Tahun lalu, kata seorang ibu yang berdiri di sebelah saya, ada dua kali ronde nglambuk baa. Kiranya itu penyebab bara kembali dikumpulkan dan tidak dimatikan setelah orang-orang kembali ke mandala utama pura. Tidak ada salahnya berjaga-jaga. Setelah sekian lama, penjaga bara menyakini jika para pemangku yang trans di mandala utama sudah ngluur. Sebuah selang pun memadamkan bara yang masih menyala. Kaki seorang yang tidak trans jika menginjaknya, minimal pasti akan kembung.
***
Ada cerita tua yang tidak tertulis di lontar. Hanya hidup di ujung lidah orang-orang yang masih percaya pada ingatan kolektif leluhurnya.
Konon, di Pura Samuan Tiga, Bedulu, Gianyar pada zaman dahulu ada sejumlah ritus yang saling bergandengan. Nampiog, ngombak, siat sampian, maplengkungan, dan nglambuk baa. Mereka seperti saudara sekandung yang tidak bisa dipisahkan. Perubahan adalah keniscayaan, karena di hari ini ritus nglambuk baa tidak ada lagi di Samuan Tiga Gianyar. Tradisi ini pun punya cara sendiri untuk melawan punah, yakni dengan diwariskan di Pura Parerepan Samuan Tiga, Desa Sidakarya.
Nama yang serupa, menjadi pengingat jika pura ini seolah cabang dari sebuah pokok, bukan pohon baru. Generasi sekarang juga masih mewarisi ingatan kolektif tentang leluhur mereka yang aslinya adalah pengabdi setia Pura Samuan Tiga di Gianyar. Leluhur mereka berasal dari Gianyar, yakni Tengkulak Dulu. Piodalan di sini berselisih satu purnama lebih belakang dari Pura Samuan Tiga di Gianyar pada Purnama Jyesta lalu. Sejarah pura ini juga tidak dapat dipisahkan dari kisah leluhur yang memperoleh anugerah berupa karas di pesisir. Karas ini yang diyakini sebagai due Samuan Tiga.
Sebelum dimulai, ritus ini diawali dengan sederet ritus seperti persembahan banten piodalan yang dipimpin seorang pedanda. Dilanjutkan dengan panglokacara, seperti pamendak, purwadaksina, pamendetan, hingga pangrarauhan/padatengan. Ketika proses padatengan, para pemangku mulai trans. Beberapa di antaranya menyebut gelar dari sungsungan yang diyakini masyarakat setempat. Samar-samar saya mendengar gelar beliau masih punya relasi dengan api.
Sekarang, Lambuk Baa sedang diinventarisasi. Dinas Kebudayaan Kota Denpasar ingin mengusulkannya sebagai Warisan Budaya Takbenda. Tentu itu penting. Tentu itu membuat saya dan teman-teman mengamini. Ritus ini layak dan wajib dilindungi. Ritus ini kami yakini memiliki nilai-nilai spiritual, psikologis dan sosiologis yang kuat dan mantap. Kajian terhadap nilai-nilai tersebut menjadi pekerjaan rumah setelah pulang.
***
Saya tidak ikut menembus bara. Jelas karena saya bukan orang pilihan. Tetapi saat ritus usai, dan ketika masyarakat mulai membubarkan diri, saya merasakan sesuatu yang hangat di telapak tangan. Padahal saya hanya berdiri, tanpa menyentuh apa pun. [T]
Penulis: Abdi Jaya Prawira
Editor: Adnyana Ole





























