SIAPA yang tidak kenal dengan Partinah? Pemilik tubuh aduhai dengan paras cantik bertabur wangi dunia. Kalau kalian bukan lelaki hidung belang atau penikmat kupu-kupu malam pasti asing dengannya.
Silir merupakan ladang pertempurannya. Di sinilah lokasi prostitusi terbesar ke dua di Jawa Tengah setelah Sunan Kuning Semarang.
Kemolekan tubuh Partinah sanggup merontokkan benteng keimanan seorang manager hotel terbesar dikota ini. Bukan itu saja, seorang pejabat tinggi tingkat provinsi menjadi goblok ketika merengek-rengek minta menyusui. Itu terjadi ketika era pejabat Orde Baru masih bisa berkacak pinggang dengan pangkat kedudukan.
Mencari Partinah dengan modal lugu hanya akan buang-buang waktu. Karena di kompleks Silir, tidak akan mudah mencari seseorang dengan nama asli. Di sini mengubah nama wajib dilakukan demi eksklusifisme. Anna Karenina panggilan barunya. Itu sungguh sesuai. Kuning langsat ciri kulitnya. Selain dua di atas, betis indahnya mampu memicu bayang-bayang setan.
Aku menemui Partinah di tahun ini dengan jilbab panjangnya. Umurnya menginjak 50 tahun. Sehari-hari perempuan itu berjualan nasi beserta segala lauk pauk di sebidang meja panjang.
Cerita mengenai Partinah seperti kita menonton sinetron. Aku bahkan berpikir, salah satu sinetron yang pernah tayang di layar televisi mengadopsi kisah tragis perempuan dari Sumberlawang, Sragen, itu.
Usianya masih sangat muda ketika ladang prostitusi ia masuki. Perkawinan dini yang dipelopori bapaknya menjadi pintu pembuka tragedi hidupnya. Perjodohan dengan blantik sapi dari Dusun Alas Kobong awal dari malapetaka. Hanya bertahan empat setengah tahun dia menjadi istri Gombloh. Cerai terjadi karena suaminya gemar judi hingga pilar ekonominya runtuh. Harta benda yang dimiliki ludes semua tinggal celana yang dipakai. Bahkan dirinya pernah dijadikan pembayar utang karena kalah jutaan rupiah. Tubuhnya digauli sampai merasakan kesakitan. Di sinilah, dendam membara menguar.
Akumulasi ketersiksaan memicu setan gundul meniupi pikirannya. Awalnya, Gunung Kemukus tempatnya mangkal. Kala itu kondisinya masih ngeri-ngeri sedap. Atas anjuran seseorang, Partinah disuruh pindah ke Solo.
“Tin, panggonmu ora neng kene. Rugi. Awakmu kuwi luwih pantes neng Silir Solo. Duit neng kono sak hohah!” (Tin, tempatmu bukan di sini. Dirimu lebih pantas di Silir Solo. Duit di sana tak terhingga)
Untuk menjadi penghuni baru, Partinah menjadi anak asuh seorang germo. Celakanya, ia digarap dulu oleh suami si germo itu. Bajingan!
Kedatangan Partinah membuat geger kawasan Silir. Persaingan tambah sengit. Agar tetap menarik para penikmat lendir, permainan klenik lumrah dilakukan. Dari pasang susuk sampai mencelakai kompetitor dengan ilmu hitam.
Tahun terus berlalu dan jaman mampu membawa perubahan. Komplek Silir akhirnya ditutup oleh Pemerintah Kota Solo. Peristiwa ini membuat penghuninya terbelah. Ada yang akhirnya tobat dan menuju shirothol mustaqiem, tapi ada juga yang melanjutkan profesinya menyebar ke sekitaran RRI atau Cinderejo-belakang terminal Tirtonadi-yang memang sudah mendapat cap kelam.
Partinah memilih shirothol mustaqiem. Dengan sedikit keahlian memasak ia mencoba meraup rupiah. Perubahan kawasan berdampak positif. Stigma kompleks pelacuran telah hilang dengan dibangunnya Islamic Center, RSUD, Rumah Susun juga pasar Klitikan Notoharjo.
Perkenalan saya dengan Partinah atau dipanggil Mbak Tin karena tugas dan pekerjaan kantor. Saya dan rekan sering makan di warungnya. Keakraban itu berlanjut karena saya juga relawan di Masjid dalam program belajar membaca Al-Quran. Mbak Tin salah satu dari puluhan perempuan yang ikut program itu.
Secara usia, Partinah telah memasuki usia senja. Tapi secara fisik, ia lebih muda dari usianya. Tutur katanya yang halus menjadi poin unggulan di samping lainnya. Kadang, beberapa mata masih terkunci oleh kecantikan perempuan berhijab. Partinah belum habis.
Ini memicu sedikit tensi. Status janda malah mengibarkan posisi perempuan baya itu pada bintang empat. Kedekatan saya menguak ragam cerita seputar dirinya.
Beberapa lelaki mencoba melamarnya. Dari driver ojol, pemilik kios pasar, pedagang rosok, bahkan lurah pasar hingga ustaz. Semua ditolak. Batinku bersorak.
“Kalau Mbak Tin saya lamar, bagaimana?”
“Dik Angga sukanya menggoda. Sudah, jangan diteruskan!”
“Saya serius!”
Sosok Mbak Tin berhasil memaksaku bertekuk lutut. Dari mengajarinya Iqra’ hingga mampu membaca Al-Quran membuahkan kedekatan. Sebuah cubitan di lengan, awal aku memikirkan keberadaannya.
Cubitan membekas hingga daya gempurnya menusuk hati.
Di sinilah iblis berhasil mengomporiku. Mbak Tin simbol syahwat bagi pemuda 30 tahun. Sebuah lubang menjadi akses buat melampiaskan kebusukan melihat kesempurnaan perempuan itu.
Lubang di pintu kamar mandi yang seareal dengan warung menjadi lubang iblis. Diameter 0,5 inci menyulut api neraka berderak-derak.
Beberapa kali kesempatan aku ambil. Setan senang mendapat sekutu baru. Hingga akhirnya lubang itu sanggup mematukku. Cairan pedas menusuk mata keluar darinya. Aku gelagapan. Panik. Jemari mengucek pelupuk mata. Aku berlari sempoyongan mirip tentara kalah perang, menjauh dari arena tragedi. Memalukan! Laku busukmu ketahuan, anak muda.
Kejadian itu memaksaku menghilang beberapa hari. Tidak berani kembali ke warung. Tidak berani menatap wajah siapa pun di Masjid. Setiap azan terdengar seperti tuduhan. Setiap ayat yang kubaca kembali menusuk mataku. Bukan karena pedih, tapi karena malu.
Aku dibuat tepekur. Aku telah jatuh sejauh-jauhnya. Dan seperti orang jatuh, aku menyalahkan segalanya: iblis, nafsu, lubang sialan itu. Kecuali satu hal, diriku sendiri.
Hingga hujan gerimis di suatu sore menuntunku kembali ke Silir. Bukan untuk makan, tapi untuk memastikan sesuatu. Warung itu masih buka. Meja panjang, nasi mengepul, sayur dan lauk pauknya tertata rapi. Harumnya menjajah lubang hidung. Dan Partinah duduk seperti biasa, jilbabnya mengunci wajah teduhnya.
Ia melihatku. Tidak kaget. Jauh dari marah. Bahkan tidak heran.
“Matamu kenapa, Dik?” tanyanya pelan.
Aku tercekat. Pertanyaan itu seperti sebuah pukulan balik yang belum selesai dilancarkan, menohok. Aku menunduk, lidahku lumpuh. Dan tanpa rencana, air mataku jatuh.
“Maafkan aku, Mbak. Pikiranku kotor.”
Ia terdiam. Dalam kondisi begini seseorang bisa mengolah pikiran lebih masak. Kalimat apa yang akan dihidangkan selanjutnya.
“Kamu tahu,” katanya akhirnya, “Aku dulu masuk ke lembah hitam bukan karena ingin jadi pelacur. Aku masuk karena tidak tahu ke mana harus pulang.”
Ia menatapku.
“Aku mengembara bertahun-tahun,” lanjutnya. “Dari laki-laki ke laki-laki. Dari kamar ke kamar. Dari mantra ke susuk. Aku kira Tuhan bisa dibeli, dipikat, atau dipaksa datang. Ternyata tidak.”
Ia menatapku. Untuk pertama kalinya, aku merasa bukan sedang diadili, tapi dibaca.
“Kamu tidak kotor karena melihatku. Tapi kamu kotor karena mengira dirimu lebih suci dariku!”
Kalimat itu menghantamku. Aku terkapar.
Dunia berhenti sebentar. Hening. Aku dipaksa belajar cepat tentang apa yang selama ini telah hilang dalam diriku. Tuhan yang sesungguhnya. Selama ini aku hanya pandai tentang kitab suci, tapi hanya sebatas di tenggorokan. Kedalamannya belum.
Sejak sore itu, aku memutuskan tidak lagi mengajar iqra’. Aku mundur. Mengembara dengan caraku sendiri. Dari Masjid ke Masjid. Dari kajian ke kajian. Dari doa ke doa. Tapi aku merasa Tuhan belum dekat, malah makin jauh, seperti bayangan yang selalu selangkah di depan.
Sampai suatu pagi, kabar itu datang.
Mbak Tin meninggal.
Bukan sakit atau tertimpa kecelakaan. Ia ditemukan wafat di dapurnya, dalam posisi sujud. Kata orang-orang, wajahnya bercahaya, teduh nan tenang. Seperti orang yang akhirnya sampai pada titik tujuannya: hikmah.
Di pemakamannya, aku berdiri jauh. Tidak berani mendekat. Sampai seorang ustaz membacakan wasiatnya.
“Bu Partinah berpesan,” kata ustaz itu, “Jika di sini ada seseorang bernama Angga, ia di minta agar mengambil kitab kecil di laci warungnya.”
Wasiat itu mirip penyadaran diri. Aku memenuhinya. Tanganku gemetar saat membukanya.
Isinya hanya sebaris kalimat, ditulis dengan tulisan tangan yang rapi:
Tuhan tidak kau temukan dengan lari dari dosa, Dik.
Tapi dengan berani berhenti berdusta.
Aku terduduk lunglai di kursi panjang. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang mencari Tuhan.
Kini aku sadar dan paham, ternyata selama ini, Tuhan memilih singgah lewat seorang perempuan yang pernah dianggap paling najis untuk membetulkan keimananku.
Sejak hari itu, aku tidak lagi berjalan jauh.
Aku pulang. Ke diriku sendiri.[T]
Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Adnyana Ole



























