3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Primadona itu Bernama Partinah | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
January 25, 2026
in Cerpen
Primadona itu Bernama Partinah | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Ilustrasi tatkala.co | Canva

SIAPA yang tidak kenal dengan Partinah? Pemilik tubuh aduhai dengan paras cantik bertabur wangi dunia. Kalau kalian bukan lelaki hidung belang atau penikmat kupu-kupu malam pasti asing dengannya.

Silir merupakan ladang pertempurannya. Di sinilah lokasi prostitusi terbesar ke dua di Jawa Tengah setelah Sunan Kuning Semarang.

Kemolekan tubuh Partinah sanggup merontokkan benteng keimanan seorang manager hotel terbesar dikota ini. Bukan itu saja, seorang pejabat tinggi tingkat provinsi menjadi goblok ketika merengek-rengek minta menyusui. Itu terjadi ketika era pejabat Orde Baru masih bisa berkacak pinggang dengan pangkat kedudukan.

Mencari Partinah dengan modal lugu hanya akan buang-buang waktu. Karena di kompleks Silir, tidak akan mudah mencari seseorang dengan nama asli. Di sini mengubah nama wajib dilakukan demi eksklusifisme. Anna Karenina panggilan barunya. Itu sungguh sesuai. Kuning langsat ciri kulitnya. Selain dua di atas, betis indahnya mampu memicu bayang-bayang setan.

Aku menemui Partinah di tahun ini dengan jilbab panjangnya. Umurnya menginjak 50 tahun. Sehari-hari perempuan itu berjualan nasi beserta segala lauk pauk di sebidang meja panjang.    

Cerita mengenai Partinah seperti kita menonton sinetron. Aku bahkan berpikir, salah satu sinetron yang pernah tayang di layar televisi mengadopsi kisah tragis perempuan dari Sumberlawang, Sragen, itu.

Usianya masih sangat muda ketika ladang prostitusi ia masuki. Perkawinan dini yang dipelopori bapaknya menjadi pintu pembuka tragedi hidupnya. Perjodohan dengan blantik sapi dari Dusun Alas Kobong awal dari malapetaka. Hanya bertahan empat setengah tahun dia menjadi istri Gombloh. Cerai terjadi karena suaminya gemar judi hingga pilar ekonominya runtuh. Harta benda yang dimiliki ludes semua tinggal celana yang dipakai. Bahkan dirinya pernah dijadikan pembayar utang karena kalah jutaan rupiah. Tubuhnya digauli sampai merasakan kesakitan. Di sinilah, dendam membara menguar.

Akumulasi ketersiksaan memicu setan gundul meniupi pikirannya. Awalnya, Gunung Kemukus tempatnya mangkal. Kala itu kondisinya masih ngeri-ngeri sedap. Atas anjuran seseorang, Partinah disuruh pindah ke Solo.

“Tin, panggonmu ora neng kene. Rugi. Awakmu kuwi luwih pantes neng Silir Solo. Duit neng kono sak hohah!” (Tin, tempatmu bukan di sini. Dirimu lebih pantas di Silir Solo. Duit di sana tak terhingga)

Untuk menjadi penghuni baru, Partinah menjadi anak asuh seorang germo. Celakanya, ia digarap dulu oleh suami si germo itu. Bajingan!

Kedatangan Partinah membuat geger kawasan Silir. Persaingan tambah sengit. Agar tetap menarik para penikmat lendir, permainan klenik lumrah dilakukan. Dari pasang susuk sampai mencelakai kompetitor dengan ilmu hitam.

Tahun terus berlalu dan jaman mampu membawa perubahan. Komplek Silir akhirnya ditutup oleh Pemerintah Kota Solo. Peristiwa ini membuat penghuninya terbelah. Ada yang akhirnya tobat dan menuju shirothol mustaqiem, tapi ada juga yang melanjutkan profesinya menyebar ke sekitaran RRI atau Cinderejo-belakang terminal Tirtonadi-yang memang sudah mendapat cap kelam.

Partinah memilih shirothol mustaqiem. Dengan sedikit keahlian memasak ia mencoba meraup rupiah. Perubahan kawasan berdampak positif. Stigma kompleks pelacuran telah hilang dengan dibangunnya Islamic Center, RSUD, Rumah Susun juga pasar Klitikan Notoharjo.

Perkenalan saya dengan Partinah atau dipanggil Mbak Tin karena tugas dan pekerjaan kantor. Saya dan rekan sering makan di warungnya. Keakraban itu berlanjut karena saya juga relawan di Masjid dalam program belajar membaca Al-Quran. Mbak Tin salah satu dari puluhan perempuan yang ikut program itu.

Secara usia, Partinah telah memasuki usia senja. Tapi secara fisik, ia lebih muda dari usianya. Tutur katanya yang halus menjadi poin unggulan di samping lainnya. Kadang, beberapa mata masih terkunci oleh kecantikan perempuan berhijab. Partinah belum habis.

Ini memicu sedikit tensi. Status janda malah mengibarkan posisi perempuan baya itu pada bintang empat. Kedekatan saya menguak ragam cerita seputar dirinya.

Beberapa lelaki mencoba melamarnya. Dari driver ojol, pemilik kios pasar, pedagang rosok, bahkan lurah pasar hingga ustaz. Semua ditolak. Batinku bersorak.

“Kalau Mbak Tin saya lamar, bagaimana?”

“Dik Angga sukanya menggoda. Sudah, jangan diteruskan!”

“Saya serius!”

Sosok Mbak Tin berhasil memaksaku bertekuk lutut. Dari mengajarinya Iqra’ hingga mampu membaca Al-Quran membuahkan kedekatan. Sebuah cubitan di lengan, awal aku memikirkan keberadaannya.

Cubitan membekas hingga daya gempurnya menusuk hati.

Di sinilah iblis berhasil mengomporiku. Mbak Tin simbol syahwat bagi pemuda 30 tahun. Sebuah lubang menjadi akses buat melampiaskan kebusukan melihat kesempurnaan perempuan itu.

Lubang di pintu kamar mandi yang seareal dengan warung menjadi lubang iblis. Diameter 0,5 inci menyulut api neraka berderak-derak.

Beberapa kali kesempatan aku ambil. Setan senang mendapat sekutu baru. Hingga akhirnya lubang itu sanggup mematukku. Cairan pedas menusuk mata keluar darinya. Aku gelagapan. Panik. Jemari mengucek pelupuk mata. Aku berlari sempoyongan mirip tentara kalah perang, menjauh dari arena tragedi. Memalukan! Laku busukmu ketahuan, anak muda. 

Kejadian itu memaksaku menghilang beberapa hari. Tidak berani kembali ke warung. Tidak berani menatap wajah siapa pun di Masjid. Setiap azan terdengar seperti tuduhan. Setiap ayat yang kubaca kembali menusuk mataku. Bukan karena pedih, tapi karena malu.

Aku dibuat tepekur. Aku telah jatuh sejauh-jauhnya. Dan seperti orang jatuh, aku menyalahkan segalanya: iblis, nafsu, lubang sialan itu. Kecuali satu hal, diriku sendiri.

Hingga hujan gerimis di suatu sore menuntunku kembali ke Silir. Bukan untuk makan, tapi untuk memastikan sesuatu. Warung itu masih buka. Meja panjang, nasi mengepul, sayur dan lauk pauknya tertata rapi. Harumnya menjajah lubang hidung. Dan Partinah duduk seperti biasa, jilbabnya mengunci wajah teduhnya.

Ia melihatku. Tidak kaget. Jauh dari marah. Bahkan tidak heran.

“Matamu kenapa, Dik?” tanyanya pelan.

Aku tercekat. Pertanyaan itu seperti sebuah pukulan balik yang belum selesai dilancarkan, menohok. Aku menunduk, lidahku lumpuh. Dan tanpa rencana, air mataku jatuh.

“Maafkan aku, Mbak. Pikiranku kotor.”

Ia terdiam. Dalam kondisi begini seseorang bisa mengolah pikiran lebih masak. Kalimat apa yang akan dihidangkan selanjutnya.

“Kamu tahu,” katanya akhirnya, “Aku dulu masuk ke lembah hitam bukan karena ingin jadi pelacur. Aku masuk karena tidak tahu ke mana harus pulang.”

Ia menatapku.

“Aku mengembara bertahun-tahun,” lanjutnya. “Dari laki-laki ke laki-laki. Dari kamar ke kamar. Dari mantra ke susuk. Aku kira Tuhan bisa dibeli, dipikat, atau dipaksa datang. Ternyata tidak.”

Ia menatapku. Untuk pertama kalinya, aku merasa bukan sedang diadili, tapi dibaca.

“Kamu tidak kotor karena melihatku. Tapi kamu kotor karena mengira dirimu lebih suci dariku!”

Kalimat itu menghantamku. Aku terkapar.

Dunia berhenti sebentar. Hening. Aku dipaksa belajar cepat tentang apa yang selama ini telah hilang dalam diriku. Tuhan yang sesungguhnya. Selama ini aku hanya pandai tentang kitab suci, tapi hanya sebatas di tenggorokan. Kedalamannya belum.

Sejak sore itu, aku memutuskan tidak lagi mengajar iqra’. Aku mundur. Mengembara dengan caraku sendiri. Dari Masjid ke Masjid. Dari kajian ke kajian. Dari doa ke doa. Tapi aku merasa Tuhan belum dekat, malah makin jauh, seperti bayangan yang selalu selangkah di depan.

Sampai suatu pagi, kabar itu datang.

Mbak Tin meninggal.

Bukan sakit atau tertimpa kecelakaan. Ia ditemukan wafat di dapurnya, dalam posisi sujud. Kata orang-orang, wajahnya bercahaya, teduh nan tenang. Seperti orang yang akhirnya sampai pada titik tujuannya: hikmah.

Di pemakamannya, aku berdiri jauh. Tidak berani mendekat. Sampai seorang ustaz membacakan wasiatnya.

“Bu Partinah berpesan,” kata ustaz itu, “Jika di sini ada seseorang bernama Angga, ia di minta agar mengambil kitab kecil di laci warungnya.”

Wasiat itu mirip penyadaran diri. Aku memenuhinya. Tanganku gemetar saat membukanya.

Isinya hanya sebaris kalimat, ditulis dengan tulisan tangan yang rapi:

Tuhan tidak kau temukan dengan lari dari dosa, Dik.

Tapi dengan berani berhenti berdusta.

Aku terduduk lunglai di kursi panjang. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak merasa sedang mencari Tuhan.

Kini aku sadar dan paham, ternyata selama ini, Tuhan memilih singgah lewat seorang perempuan yang pernah dianggap paling najis untuk membetulkan keimananku.

Sejak hari itu, aku tidak lagi berjalan jauh.

Aku pulang. Ke diriku sendiri.[T]

Penulis: Sri Romdhoni Warta Kuncoro
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Kadek Wisnu Oktaditya | Kapan Terakhir Kali Ayah Berkunjung?

Next Post

Berhati-hati Dengan Rekayasa Genetika

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Beberapa artikel, puisi, cerpen yang ditulis pernah dimuat di beberapa media cetak dan online. Cerpennya berjudul 'Seterika Jago' masuk dalam antologi 'Berita Kehilangan'(2021)-KontraS

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Berhati-hati Dengan Rekayasa Genetika

Berhati-hati Dengan Rekayasa Genetika

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co