14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhati-hati Dengan Rekayasa Genetika

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 25, 2026
in Esai
Berhati-hati Dengan Rekayasa Genetika

Tanggal 9 Januari 2026, merupakan pameren seni pertama yang saya kunjungi di tahun 2026. Pameran berlokasi di Dalam Seniman Coffe Renon. Lokasinya berada di Jl Tukad Musi, Denpasar. Tema pameran adalah Monkey Milenial: Pangan Lokal. Menampilkan art toys dan lukisan karya I Komang Adiartha. Pameran ini menghadirkan dua kolaborsi strategis yaitu SATUMONE yang berkecimpung di bidang urban farming dan J3SMOON di bidang seed bank.

Di ruang pameran saya melihat satu karya lukis I Komang Adiartha berjudul Rekayasa Genetika . Ketika saya berdialog dengan beliau mengenai lukisan tersebut,  dia membuat lukisan in untuk menggambarkan kasus dimana keragaman benih lokal terkikis dan ada petani yang diseret ke meja hijau karena mengembangkan bibit secara mandiri. Karya ini berkaitan dengan  kritik J3SMOON atas hilangnya askes terhadap bibit mandiri . Juga berhubungan dengan sorotan J3SMOON atas kriminalisasi inovasi bibit lokal.

Pada tahun 2019, terjadi kasus dimana seorang petani Aceh yang mendapat penghargaan berkat prestasinya mengembangkan benih padi IF8 dijadikan tersangka. Alasannya memperdagangkan benih padi hasil karyanya tanpa sertifikasi oleh dinas pertanian dan perkebunan Aceh. Padahal ia mengembangkan benih padi tersebut dari benih yang diberikan oleh pemerintah daerah Aceh kepada petani. Pasal yang digunakan adalah UU no 19 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman. Ini merupakan kontradiksi dalam menegakkan kedaulatan pangan karena birokrasi dan hukum jadi penghambat petani dalam mengembangkan benih. Benih adalah sumber utama kedaulatan pangan.1

Mempertanyakan Benih Hibrida

Benih hibrida yang beredar saat ini sebagian besar merupakan hasil rekayasa genetika. Sekitar sepuluh perusahaan agribisnis global menguasai 67% peredaran benih di seluruh dunia. Sejak revolusi hijau tahun 1970-an , ribuan varietas benih padi lokal punah. Pemerintah bahkan harus imbor benih hibrida. Yang berarti menambah beban negara.

Di sinilah pentingnya pusat benih yang disebut seed bank. Dimana petani dapat menyimpan, memelihara, mendistribusian dan memproduksi benih dari oleh dan untuk petani. Ini adalah salah satu infrastruktur kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan dimulai dari petani kecil. Bukan dari perusahaan agribisnis besar. Petani adalah pemulia tanaman. Jauh sebelum korporasi ada.2

Di Indonesia, perusahaan agribisnis besar memasok sekitar dua per lima dari total benih hibrida jagung yang beredar. Ini merupakan bentuk monopoli yang menyebabkan petani menanggung ongkos yang mahal untuk produksi jagung. Tidak mengherankan banyak orang enggan jadi petani. Karena selisih bersih pendapatan dan pengeluaran lebih kecil daripada UMR. .

Kasus menyedihkan juga terjadi sebelum tahun 2019. Pada tahun 2005 otoritas menyeret beberapa petani di Kediri dan Nganjuk  ke penjara karena berhasil memproduksi benih. Alasannya PT BISI mengklaim petani tersebut melanggar hak paten milik perusahaan tersebut yang diklaim PT. BISI sebagai pelanggaran terhadap paten yang dimilikinya. 

Inilah resiko sosial benih hibrida. Kasus yang mengejutkan adalah padi supertoys merugikan ratusan petani Purworejo. Padi supertoys gagal panen, rentan hama, biaya produksi tinggi dan harga benih mahal. Benih hibrida menambah resiko ekologi dan ekonomi. Karena benih hibrida seperti padi supertoys rakus pupuk kimia. Benih menentukan sekitar tiga per lima dari keberhasilan dan kegagalan hasil panen.3 

Di Balik Rekayasa Genetika

Teknologi rekayasa genetika yang dipromosikan oleh korporasi besar utamanya untuk laba dan panen  dengan sistem monokultur yang sering gunakan pupuk kimia dan pestisida dalam jumlah besar.

Saat ini hampir setengah dari total benih tanaman yang beredar adalah hasil rekayasa genetika. Benih tersebut antara lain: varietas tinggi panen yang disebut high yielding variety, benih hibrida dan organisme rekayasa genetik atau disebut transgenik.

Varietas tinggi panen merupakan varietas yang berisfat membutuhkan banyak input external yaitu pupuk dan pestisida kimia. Juga rentan dengan penyakit dan hama. Tak jarang petani harus sering membeli benih. Benih hibrida adalah generasi pertama yang diproduksi dari menyilangkan spesies asal yang berbeda genetik. Turunan dari hasil persilangan tersebut seringkali menghasilkan panen yang lebih rendah. Menyebabkan  petani harus membeli benih lagi. Menyebabkan ketergantungan pada produsen benih hibrida tiap musim. Benih hibrida merupakan dasar dari mempatentan benih.

Benih transgenic atau disebut genetic modified organism merupakan benih yang dibuat menggunakan teknik menyambung gen atau recombinasi DNA untuk memasukkan gen dari spesies yang berbeda ke dalam suatu sel tanaman. Teknik bernama gen gun yaitu menembakkan gen  atau memasukkan agrobacterium ke dalam sel tanaman.  Sering kali teknik menambahkan gen resistensi anti biotik digunakan untuk memisahkan sel yang menyerap gen asing dari sel yang menolak gen asing. Tiap organisme transgenic memiliki empat ciri yaitu: gen yang bukan bagian dari tanaman,  gen penyebab kanker tanaman,  gen untuk resistensi anti biotic dan gen virus atau bakteri yang bertindak sebagai promoter.

Tujuan utama memperkenalkan organisme transgenic adalah mempatenkan benih dan mahluk hidup. Ini menjadi sumber control dan  sumber profit melalui pembayaran royalty kepada perusahaan produsen organisme transgenic. Semua ini dimulai dari revolusi hijau dengan asumsi bahwa benih yang petani kecil gunakan selama bergenerasi-generasi dianggap kosong. Padahal benih rekayasa genetika yaitu varietas tinggi panen, hibrida dan transgenic menggunakan banyak input eksternal , hasilnya diragukan dan taka jarang membebani petani kecil.4

Sejak dulu petani telah mengembangkan benih untuk ketahanan, nutrisi, kesehatan dan adaptasi terhadap ekosistem pertanian. Jika memang ingin mengembangan tanaman pangan yang butuh sedikit air , tahan kekeringan dan air asin, mungkin rekayasa genetika dapat dibenarkan. Tapi bukankah Indonesia kaya dengan keragaman tanaman pangan? Mengapa harus berobsesi mengembangkan benih hibrida dan benih transgenic? Mengapa tidak memaksimalkan potensi keragaman tanamana pangan yang sudah berevolusi dengan bentang lahan Indonesia ?

Kedaulatan pangan tak pernah berpisah dari keragaman pangan. Tiap tanaman sudah beradaptasi dengan iklim dan keadaan tanah yang ada. Tanaman gandum dan oat, betapapun canggihnya rekayasa genetika, tidak akan bisa tumbuh di Indonesia. Karena iklimnya yang tidak sesuai. Sedangan padi , umbi-umbian, kentang, jagung, sorghum, dan sagu dapat hidup di Indonesia karena sudah sesuai dengan iklim dan ketinggian wilayah dari permukaan laut. Rekayasa genetika tidak begitu diperlukan untuk tanaman ini.

Sumber:

  1. ABC News. Kades di Aceh Dipolisikan Karena Kembangkan Benih Padi Unggul. ABC News, 30 Juli 2019. https://www.abc.net.au/indonesian/2019-07-30/kades-aceh-dipolisikan-karena-kembangkan-benih-padi-unggul/11364336. Diakses tanggal 23 Januari 2026
  2. Admit Serikat Petani Indonesia. Petani Kecil Harus Merebut Kembali Kedaulatan atas Benih. Serikat Petani Indonesia,  17 Desember 2010. https://spi.or.id/petani-kecil-harus-merebut-kembali-kedaulatan-atas-benih. Diakses tanggal 23 Januari 2026
  3. Admit Serikat Petani Indonesia. Stop Komersialisasi dan Hak Paten atas Benih. Serikat Petani Indonesia, 24 September 2008. https://spi.or.id/stop-komersialisasi-dan-hak-paten-atas-benih. Diakses tanggal 23 Januari 2026
  4. Shiva, Vandana. “Seed Freedom Feed the World, Not Seed Dictatorship.” In book titled Who Really Feed the World ? The Failure of Agribusiness and the Promise of Agroecology, Chapter 6. Berkeley: North Atlantic Books, 2016.

 

Tags: genetikaPameran Seni Ruparekayasa genetikaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Primadona itu Bernama Partinah | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Next Post

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co