23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Berhati-hati Dengan Rekayasa Genetika

Doni Sugiarto Wijaya by Doni Sugiarto Wijaya
January 25, 2026
in Esai
Berhati-hati Dengan Rekayasa Genetika

Tanggal 9 Januari 2026, merupakan pameren seni pertama yang saya kunjungi di tahun 2026. Pameran berlokasi di Dalam Seniman Coffe Renon. Lokasinya berada di Jl Tukad Musi, Denpasar. Tema pameran adalah Monkey Milenial: Pangan Lokal. Menampilkan art toys dan lukisan karya I Komang Adiartha. Pameran ini menghadirkan dua kolaborsi strategis yaitu SATUMONE yang berkecimpung di bidang urban farming dan J3SMOON di bidang seed bank.

Di ruang pameran saya melihat satu karya lukis I Komang Adiartha berjudul Rekayasa Genetika . Ketika saya berdialog dengan beliau mengenai lukisan tersebut,  dia membuat lukisan in untuk menggambarkan kasus dimana keragaman benih lokal terkikis dan ada petani yang diseret ke meja hijau karena mengembangkan bibit secara mandiri. Karya ini berkaitan dengan  kritik J3SMOON atas hilangnya askes terhadap bibit mandiri . Juga berhubungan dengan sorotan J3SMOON atas kriminalisasi inovasi bibit lokal.

Pada tahun 2019, terjadi kasus dimana seorang petani Aceh yang mendapat penghargaan berkat prestasinya mengembangkan benih padi IF8 dijadikan tersangka. Alasannya memperdagangkan benih padi hasil karyanya tanpa sertifikasi oleh dinas pertanian dan perkebunan Aceh. Padahal ia mengembangkan benih padi tersebut dari benih yang diberikan oleh pemerintah daerah Aceh kepada petani. Pasal yang digunakan adalah UU no 19 tahun 1992 tentang sistem budidaya tanaman. Ini merupakan kontradiksi dalam menegakkan kedaulatan pangan karena birokrasi dan hukum jadi penghambat petani dalam mengembangkan benih. Benih adalah sumber utama kedaulatan pangan.1

Mempertanyakan Benih Hibrida

Benih hibrida yang beredar saat ini sebagian besar merupakan hasil rekayasa genetika. Sekitar sepuluh perusahaan agribisnis global menguasai 67% peredaran benih di seluruh dunia. Sejak revolusi hijau tahun 1970-an , ribuan varietas benih padi lokal punah. Pemerintah bahkan harus imbor benih hibrida. Yang berarti menambah beban negara.

Di sinilah pentingnya pusat benih yang disebut seed bank. Dimana petani dapat menyimpan, memelihara, mendistribusian dan memproduksi benih dari oleh dan untuk petani. Ini adalah salah satu infrastruktur kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan dimulai dari petani kecil. Bukan dari perusahaan agribisnis besar. Petani adalah pemulia tanaman. Jauh sebelum korporasi ada.2

Di Indonesia, perusahaan agribisnis besar memasok sekitar dua per lima dari total benih hibrida jagung yang beredar. Ini merupakan bentuk monopoli yang menyebabkan petani menanggung ongkos yang mahal untuk produksi jagung. Tidak mengherankan banyak orang enggan jadi petani. Karena selisih bersih pendapatan dan pengeluaran lebih kecil daripada UMR. .

Kasus menyedihkan juga terjadi sebelum tahun 2019. Pada tahun 2005 otoritas menyeret beberapa petani di Kediri dan Nganjuk  ke penjara karena berhasil memproduksi benih. Alasannya PT BISI mengklaim petani tersebut melanggar hak paten milik perusahaan tersebut yang diklaim PT. BISI sebagai pelanggaran terhadap paten yang dimilikinya. 

Inilah resiko sosial benih hibrida. Kasus yang mengejutkan adalah padi supertoys merugikan ratusan petani Purworejo. Padi supertoys gagal panen, rentan hama, biaya produksi tinggi dan harga benih mahal. Benih hibrida menambah resiko ekologi dan ekonomi. Karena benih hibrida seperti padi supertoys rakus pupuk kimia. Benih menentukan sekitar tiga per lima dari keberhasilan dan kegagalan hasil panen.3 

Di Balik Rekayasa Genetika

Teknologi rekayasa genetika yang dipromosikan oleh korporasi besar utamanya untuk laba dan panen  dengan sistem monokultur yang sering gunakan pupuk kimia dan pestisida dalam jumlah besar.

Saat ini hampir setengah dari total benih tanaman yang beredar adalah hasil rekayasa genetika. Benih tersebut antara lain: varietas tinggi panen yang disebut high yielding variety, benih hibrida dan organisme rekayasa genetik atau disebut transgenik.

Varietas tinggi panen merupakan varietas yang berisfat membutuhkan banyak input external yaitu pupuk dan pestisida kimia. Juga rentan dengan penyakit dan hama. Tak jarang petani harus sering membeli benih. Benih hibrida adalah generasi pertama yang diproduksi dari menyilangkan spesies asal yang berbeda genetik. Turunan dari hasil persilangan tersebut seringkali menghasilkan panen yang lebih rendah. Menyebabkan  petani harus membeli benih lagi. Menyebabkan ketergantungan pada produsen benih hibrida tiap musim. Benih hibrida merupakan dasar dari mempatentan benih.

Benih transgenic atau disebut genetic modified organism merupakan benih yang dibuat menggunakan teknik menyambung gen atau recombinasi DNA untuk memasukkan gen dari spesies yang berbeda ke dalam suatu sel tanaman. Teknik bernama gen gun yaitu menembakkan gen  atau memasukkan agrobacterium ke dalam sel tanaman.  Sering kali teknik menambahkan gen resistensi anti biotik digunakan untuk memisahkan sel yang menyerap gen asing dari sel yang menolak gen asing. Tiap organisme transgenic memiliki empat ciri yaitu: gen yang bukan bagian dari tanaman,  gen penyebab kanker tanaman,  gen untuk resistensi anti biotic dan gen virus atau bakteri yang bertindak sebagai promoter.

Tujuan utama memperkenalkan organisme transgenic adalah mempatenkan benih dan mahluk hidup. Ini menjadi sumber control dan  sumber profit melalui pembayaran royalty kepada perusahaan produsen organisme transgenic. Semua ini dimulai dari revolusi hijau dengan asumsi bahwa benih yang petani kecil gunakan selama bergenerasi-generasi dianggap kosong. Padahal benih rekayasa genetika yaitu varietas tinggi panen, hibrida dan transgenic menggunakan banyak input eksternal , hasilnya diragukan dan taka jarang membebani petani kecil.4

Sejak dulu petani telah mengembangkan benih untuk ketahanan, nutrisi, kesehatan dan adaptasi terhadap ekosistem pertanian. Jika memang ingin mengembangan tanaman pangan yang butuh sedikit air , tahan kekeringan dan air asin, mungkin rekayasa genetika dapat dibenarkan. Tapi bukankah Indonesia kaya dengan keragaman tanaman pangan? Mengapa harus berobsesi mengembangkan benih hibrida dan benih transgenic? Mengapa tidak memaksimalkan potensi keragaman tanamana pangan yang sudah berevolusi dengan bentang lahan Indonesia ?

Kedaulatan pangan tak pernah berpisah dari keragaman pangan. Tiap tanaman sudah beradaptasi dengan iklim dan keadaan tanah yang ada. Tanaman gandum dan oat, betapapun canggihnya rekayasa genetika, tidak akan bisa tumbuh di Indonesia. Karena iklimnya yang tidak sesuai. Sedangan padi , umbi-umbian, kentang, jagung, sorghum, dan sagu dapat hidup di Indonesia karena sudah sesuai dengan iklim dan ketinggian wilayah dari permukaan laut. Rekayasa genetika tidak begitu diperlukan untuk tanaman ini.

Sumber:

  1. ABC News. Kades di Aceh Dipolisikan Karena Kembangkan Benih Padi Unggul. ABC News, 30 Juli 2019. https://www.abc.net.au/indonesian/2019-07-30/kades-aceh-dipolisikan-karena-kembangkan-benih-padi-unggul/11364336. Diakses tanggal 23 Januari 2026
  2. Admit Serikat Petani Indonesia. Petani Kecil Harus Merebut Kembali Kedaulatan atas Benih. Serikat Petani Indonesia,  17 Desember 2010. https://spi.or.id/petani-kecil-harus-merebut-kembali-kedaulatan-atas-benih. Diakses tanggal 23 Januari 2026
  3. Admit Serikat Petani Indonesia. Stop Komersialisasi dan Hak Paten atas Benih. Serikat Petani Indonesia, 24 September 2008. https://spi.or.id/stop-komersialisasi-dan-hak-paten-atas-benih. Diakses tanggal 23 Januari 2026
  4. Shiva, Vandana. “Seed Freedom Feed the World, Not Seed Dictatorship.” In book titled Who Really Feed the World ? The Failure of Agribusiness and the Promise of Agroecology, Chapter 6. Berkeley: North Atlantic Books, 2016.

 

Tags: genetikaPameran Seni Ruparekayasa genetikaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Primadona itu Bernama Partinah | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

Next Post

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Doni Sugiarto Wijaya

Doni Sugiarto Wijaya

Lulus Kuliah tahun 2017 dari Universitas Pendidikan Nasional jurusan ekonomi manajemen dengan IPK 3,54. Mendapat penghargaan Paramitha Satya Nugraha sebagai mahasiswa yang menulis skripsi dengan bahasa Inggris. Sejak tahun 2019 pertengahan bulan Oktober, Doni mulai belajar menulis di blog secara otodidak. Doni menulis untuk bersuara kepada publik mengenai isu isu lingkungan hidup, sosial dan satwa liar.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

“Wianta & Legacy”: Perayaan Warisan Kosmik Made Wianta di The Apurva Kempinski Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co