24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Lina PW by Lina PW
January 3, 2026
in Cerpen
Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Ilustrator: Lina PW

LANGKAH kaki kecil samar tapi sangat jelas di sunyi malam membangunkan Lastri dari tidur tak lelap. Ini malam keempat ia terbangun bahkan sebelum subuh tiba. Matanya nanar, mencoba melihat dalam gelap. 

Tap… tap… tap…krekkk…

Lastri memandang tegang berkeliling. Di mana bunyi-bunyi seperti meniru suara hantu itu? 

Duduk di tepi ranjang, ia menoleh ke pintu kamar. Lalu ke arah lemari, dan tumpukan baju di lantai. Sekilas ia juga menilik robekan karpet plastik penutup lantai semen kamar. Tiada sesuatupun bergerak. Ia lalu menghadap ke kepala dipan, tak juga ia temukan pembuat suara-suara itu. 

“Shhh… kenapa sih,” suaminya berbisik lirih sambil menggerakkan tangannya lemah, tanpa membuka mata, lalu mendengkur lagi. 

“Halah, nanya cuma sekedar saja,” sahut Lastri ketus. Hanya saat suaminya tak terbangun betul ia berani menjawab. 

Di siang hari Lastri tak berkutik di hadapan suami dan mertua. “Tak elok istri beradu mulut menyanggah suami, istri hanya perlu nurut dan ngangguk saja,” ujar mertuanya. Begitu selalu. 

Sejak menikah bulan lalu, Lastri selalu diam saat berkumpul dengan suami dan keluarga barunya. Ia hanya mengingat dan menyesali keputusannya menikah terlalu cepat. Itu juga karena keluarga Lastri mendesak ia untuk segera berumah tangga, keluar dari rumah gadisnya. 

Lastri masih memendam bara amarah pada ayah dan ibu, juga adik laki-laki yang jauh lebih disayang oleh orangtuanya. Padahal Lastri seorang pemanjat cengkih paling aktif di desanya. Tapi tetap saja mereka menginginkan Lastri segera pergi agar bapak dan ibunya dapat memusatkan perhatian pada sang adik, pewaris hektaran kebun mereka. 

Sejak awal ia meminta agar tidak buru-buru dinikahkan. Bukan dukungan atau permakluman yang ia dapat, malah orangtuanya mengancam akan mengusir. Diusir dari rumah sungguh aib bagi gadis di dusun. Mereka akan menjadi gunjingan, bahan omongan riuh saat panen cengkih. Maka banyak yang mendukung pernikahan secepat kilat oleh keluarga, meski belum tentu mereka akan bahagia. Lastri pun, tiada pilihan, akhirnya menyerah, ia bersedia dinikahi oleh kawan sekolah dasarnya dulu.

Tepat seminggu setelah menikah, di minggu pertama tahun baru, Lastri selalu terbangun lepas tengah malam karena bunyi sesosok mahluk yang tengah menelusuri pojok-pojok kamar, sepanjang kasur dan dipan yang ia tiduri bersama suami. Suara itu sungguh mengganggu, membuatnya gelisah dan muak. Saban malam suara-suara itu datang, namun yang terganggu sepertinya hanya Lastri.

“Ah khayalanmu saja itu, Dik,” jawab suaminya saat Lastri mengadukan keberadaan dan gangguan sosok bersuara menjijikkan itu. 

Lastri tak menyerah, ia bilang juga ke ibu mertua, berharap dapat penjelasan mengenai makhluk yang hidup bersama mereka di rumah kayu tua lapuk berderit. 

“Kami hidup di sini bertahun-tahun, Nak, tak pernah diganggu atau mendengar suara aneh apapun.” 

* * *

Beberapa malam terakhir Lastri makin pening setiap menjelang tidur. Kepalanya berdenyut-denyut, takut pada suara yang tak didengar oleh suami dan mertuanya.

Sesulit apapun ia tetap mencoba untuk tidur, demi bekerja dengan gesit di pagi hari. Dan malam itu ia terbangun bukan karena suara-suara ganjil, tapi karena merasakan gigitan kecil di ujung jari manis kaki kirinya. Ia langsung menarik kaki dan melihat setitik darah menetes dari bekas gigitan itu. Ia meringis, menekuk lutut, meraih telapak kaki dengan kedua tangan. Perih dirasa, keringat dingin membasahi tengkuk. Tubuhnya mematung, matanya membelalak ngeri melihat binatang yang menggigit jari kakinya. Tikus! Tikus nyaris sebesar teko air!

Tikus itu bertubuh gempal, kotoran kering menempel di bulu-bulu coklatnya, moncong tumpul berair bercericit kaget sebelum turun dari dipan. Lastri merasa dirinya akan muntah. Ekor abu-abu gundul si tikus panjang dan meliuk saat kabur lalu menghilang di kegelapan belakang lemari.

Bau sengak tikus culas itu menyergap hidung Lastri, sekejap namun melekat. Meninggalkan bau bangkai busuk bercampur got.

“Mustahil tidak ada penghuni rumah ini yang tak menyadari keberadaanya,” bisik Lastri tak percaya. 

Pelan, ia turun dari dipan, berjingkat bak kilat menelusuri pojok-pojok kamar bagai kesetanan, tanpa hasil. Lastri mencoba melihat ke mana tikus itu menghilang. Sia-sia. Tikus itu lenyap! Mungkin langsung lompat ke luar atau turun ke bawah rumah. Binatang pengerat itu jauh lebih cepat dari ketangkasan seorang pemanjat cengkih kampung.

Dengkur suami menyadarkan dia untuk kembali ke dipan, mencoba tidur sembari bertanya-tanya mungkinkah tikus tadi hanya halusinasi. 

Beberapa menit ia berbaring memandang langit-langit kamar dengan penerangan remang dari lampu lima watt di teras samping, masuk lewat kisi-kisi jendela berkaca nako. 

Yakin tikus itu bukan khayalannya semata, Lastri menajamkan pendengaran, mengarahkan telinga kanan ke suara-suara paling pelan sekalipun. 

Tap…tap…tap…krkeeeekk…

Kan! Suara itu kembali. Gelisik langkah kaki kecil itu seolah mengejek Lastri, menggerogoti jatah tidur malam-malam pertama seorang pengantin perempuan. Derap kecil yang berarti si pengerat akan datang menuntaskan gigitan di jari kaki Lastri. 

Ia tahu tikus bisa menggigit jari kaki dan tangan manusia hingga putus, seperti kelingking kanan kawan sekolahnya dulu, Fiyah. Luka itu infeksi, bonyok, sebulan lebih bolak-balik ke puskesmas baru kering. Dokter yang merawat menjelaskan ludah tikus itu dijejali bermacam bakteri. 

Bahkan Rahmi, teman pemetik cengkih dari kampung tetangga, daun telinganya robek digigit tikus. Lastri percaya kisah itu karena ia melihat sendiri telinga Rahmi hilang sepertiga digigit binatang pengerat. Lastri tak habis pikir, bagaimana seseorang tidak menyadari ada tikus mengoyak daging telinga. 

Tak kalah parah yang dialami Usman, paman Lastri yang bekerja di pengolahan ikan asin, kehilangan kelingking kaki kiri dan dua jari kaki kanan, buntung digasak tikus. Kejadiannya tiga kali dalam dua bulan. Ini membuat Lastri merinding, sering mual, teringat penderita diabetes yang kakinya diamputasi, atau persendian jari terlepas penderita lepra.

Bagi Lastri, tikus-tikus di kampungnya suatu ketika bisa menjadi bencana, menebar wabah. Ia tak ingin menjadi bagian dari malapetaka itu. Samar-samar ia ingat, air liur tikus membuat seseorang tidak merasa bagian tubuhnya digigit, layaknya dibius, seperti dialami Kakek Rajaf, yang bagian ujung betisnya digigit tikus, bernanah, sehingga sepekan ke kebun ia harus berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat. 

Pikiran Lastri penuh oleh bayangan gigitan, ia merutuki si tikus hingga tertidur, namun terbangun lagi saat tikus itu kembali. Ia merasa ada elusan dan usapan jilatan di jari yang sama, perlahan-lahan, halus sekali. Lastri dengan cepat menendangnya, langsung menghidupkan lampu. Tapi si tikus tak kalah gesit meloncat, mengalahkan kecepatan cahaya, entah menikung ke sudut mana, tak berjejak.

Suaminya terbangun, berkerjap melihat lampu yang menyala, lalu melirik Lastri. Hanya sejenak, ngorok lagi, seperti tak terjadi apa-apa.

Lastri mematikan lampu, lalu duduk di dipan, mengusap-usap ujung jarinya. Meski ada bekas cakar kecil, tidak ada luka baru. Sekuat-kuatnya ia memelekkan mata, berkerjap-kerjap, khawatir tertidur.

Sekarang ia hanya bisa berbaring, dibalut takut, cemas dan geram. Hal buruk apa yang telah ia lakukan selama ini hingga bernasib begini? Ibu-ayahnya berkata, menikah akan membuat hidup lebih baik. Hidup siapa? Yang pasti bukan hidup Lastri. 

Lama Lastri berbaring, mata terbuka, menahan isak penuh amarah. Tanpa ia tahu si tikus mengintip dari pojok kamar. Di gelap kamar, samar Lastri merasakan gerakan tikus dalam gelap, mendekat ke arahnya. Lastri langsung bangun dan berusaha mengejar. Namun, seperti mencium bahaya, tikus lebih gesit kabur, masuk kembali ke lubang ia datang. 

Lastri makin geram. Ia menilik sekitar dalam samar cahaya. Perlahan ia bangkit mengambil beberapa sobekan karpet penutup semen yang teronggok di pojok kamar. Ia juga menyiapkan tas plastik kresek putih besar yang biasa ia pakai menampung sampah di samping dipannya. Lalu ia pura-pura tidur, ia kini berharap binatang itu datang. Lastri siap menghadapi bajingan perampas tidur itu.

Tap… tap… tap… krrrkkkk…

Aha. Si tikus datang. Lastri tetap diam, mencoba telentang sekaku mungkin. Nafasnya mulai cepat. Si tikus mendekat. Lastri bergeming, sepenuhnya memusatkan pikiran dan raga untuk menunggu, seperti pemburu menilik mangsa. 

Lastri merasakan bulu binatang pengerat itu mengelus jemari kakinya. Ia menunggu sampai si tikus mengolesi jemari kaki Lastri dengan liur untuk membuat kulit dan daging kebas. Saat tikus asyik menjilat, Lastri, secepat ia sanggup, menerkam dengan tangan kanannya. 

Perhitungannya jitu, ia mencengkeram tikus dengan robekan karpet di tangan, membuat lapisan layaknya perisai, tak mau mengotori tangannya menyentuh langsung tubuh si penggerogot kedamaian itu.

Si tikus tak menyerah begitu saja, ia meronta dan bercericit tertahan, mungkin kaget dengan gerak dan tenaga manusia yang sudah muak. Lastri merasakan perlawanan si tikus, kakinya yang bercakar kecil menendang-nendang dari dalam buntelan yang dibuat dari sobekan karpet. Tambah geram, Lastri mencengkeram semakin kuat. Sang tikus tetap mencoba loncat dari kurungan karpet. Ekornya yang ramping, abu, panjang, dengan beberapa helai rambut, bergerak cepat, meronta, berusaha melepaskan diri, namun tak kuasa. 

Menahan muntah, Lastri mengerang pelan. Ia menambah sobekan karpet dengan tangan kiri yang bebas, membuat bundel makin besar mengunci tikus di dalamnya. Jemari kanan Lastri masih mencengkeram badan si tikus, berusaha mencekik semakin kuat. 

Suaminya tetap mendengkur tak terganggu oleh jerit tikus dan kegaduhan cericit binatang yang bergulat untuk melepaskan diri. Mimpi apa gerangan laki-laki itu, ketika Lastri sedang bertempur untuk merebut kemenangan melawan seekor pengerat?

Gerakan tikus melemah. Lastri memasukkan bundelan ke dalam kresek putih yang sudah ia siapkan. Mengikat kresek dengan kuat, memastikan tikus itu sudah tak bergerak, ia lalu berjinjit ke arah pintu. Sambil berjongkok, ia mengambil batu bata penyangga pintu, menaruh bata di atas buntalan tikus dalam plastik, memposisikan paha kiri di atas bata, menumpukan seluruh tenaganya, lalu menggencet si tikus sekuat-kuatnya. Bunyi kresek tertahan dan kriuk patah tulang tikus tertindas bata tak menghentikan Latri. Ia menekan makin kencang.

Tikus itu ia rasa seperti tuntutan ibu ayahnya untuk cepat-cepat menikah, suaminya yang selalu menyuruh-nyuruh, mengecilkan keberadaan Lastri sebagai manusia, dan mertuanya yang mencibiri apapun yang ia lakukan. 

Ia berulang kali menekan-gencet tikus dalam plastik itu, bertubi-tubi, sehabis-habisnya, hingga tas menjadi gelap oleh darah.

Lastri tersenyum puas, emosinya meleleh. Ia melenggang ke tempat tidur, lega, merasa bebas, beban pikirannya lenyap sudah. 

Tak sampai enam langkah Lastri beringsut kembali ke pelukan kasur, tap… tap… tap… krrrkkk…

Suara itu terdengar lagi. Lastri menoleh ke kresek putih di pojok kamar dekat pintu. Kresek itu masih tergumpal di tempatnya. Belum juga ia sampai di dipan, suarakaki-kaki kecil itu kembali, melangkah dalam gelap. Suara-suara itu lagi-lagi mengitari kamarnya.

Lastri mendekap mukanya dengan kedua tangan. Ia berbisik dengan tangis pecah, lebih ke dirinya sendiri, “Oh, Tuhan, berapa banyak binatang busuk berkeliaran di rumah ini? Bagaimana mungkin hamba membesarkan anak-anak dengan baik di sebuah rumah yang dikuasai pengerat-pengerat dari kegelapan? Yang menggerayangi seisi kamar dan menggerogoti tubuh kami?”

Ia melirik suami, pendamping, pengemong kehidupan yang sepantasnya diajak bertanggung jawab membasmi tikus, tempat ia seharusnya menggantungkan perlindungan. Namun laki-laki itu tetap pulas mendengkur. [T]

Penulis: Lina PW
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Next Post

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Lina PW

Lina PW

Menulis cerpen, esai, serta menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2017, 2019, dan 2021 serta antologi Singa Raja Berkisah (Mahima, 2023). Ia juga mendirikan Nawang English, sebuah wadah belajar bahasa dan literasi di Denpasar.

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co