23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Lina PW by Lina PW
January 3, 2026
in Cerpen
Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Ilustrator: Lina PW

LANGKAH kaki kecil samar tapi sangat jelas di sunyi malam membangunkan Lastri dari tidur tak lelap. Ini malam keempat ia terbangun bahkan sebelum subuh tiba. Matanya nanar, mencoba melihat dalam gelap. 

Tap… tap… tap…krekkk…

Lastri memandang tegang berkeliling. Di mana bunyi-bunyi seperti meniru suara hantu itu? 

Duduk di tepi ranjang, ia menoleh ke pintu kamar. Lalu ke arah lemari, dan tumpukan baju di lantai. Sekilas ia juga menilik robekan karpet plastik penutup lantai semen kamar. Tiada sesuatupun bergerak. Ia lalu menghadap ke kepala dipan, tak juga ia temukan pembuat suara-suara itu. 

“Shhh… kenapa sih,” suaminya berbisik lirih sambil menggerakkan tangannya lemah, tanpa membuka mata, lalu mendengkur lagi. 

“Halah, nanya cuma sekedar saja,” sahut Lastri ketus. Hanya saat suaminya tak terbangun betul ia berani menjawab. 

Di siang hari Lastri tak berkutik di hadapan suami dan mertua. “Tak elok istri beradu mulut menyanggah suami, istri hanya perlu nurut dan ngangguk saja,” ujar mertuanya. Begitu selalu. 

Sejak menikah bulan lalu, Lastri selalu diam saat berkumpul dengan suami dan keluarga barunya. Ia hanya mengingat dan menyesali keputusannya menikah terlalu cepat. Itu juga karena keluarga Lastri mendesak ia untuk segera berumah tangga, keluar dari rumah gadisnya. 

Lastri masih memendam bara amarah pada ayah dan ibu, juga adik laki-laki yang jauh lebih disayang oleh orangtuanya. Padahal Lastri seorang pemanjat cengkih paling aktif di desanya. Tapi tetap saja mereka menginginkan Lastri segera pergi agar bapak dan ibunya dapat memusatkan perhatian pada sang adik, pewaris hektaran kebun mereka. 

Sejak awal ia meminta agar tidak buru-buru dinikahkan. Bukan dukungan atau permakluman yang ia dapat, malah orangtuanya mengancam akan mengusir. Diusir dari rumah sungguh aib bagi gadis di dusun. Mereka akan menjadi gunjingan, bahan omongan riuh saat panen cengkih. Maka banyak yang mendukung pernikahan secepat kilat oleh keluarga, meski belum tentu mereka akan bahagia. Lastri pun, tiada pilihan, akhirnya menyerah, ia bersedia dinikahi oleh kawan sekolah dasarnya dulu.

Tepat seminggu setelah menikah, di minggu pertama tahun baru, Lastri selalu terbangun lepas tengah malam karena bunyi sesosok mahluk yang tengah menelusuri pojok-pojok kamar, sepanjang kasur dan dipan yang ia tiduri bersama suami. Suara itu sungguh mengganggu, membuatnya gelisah dan muak. Saban malam suara-suara itu datang, namun yang terganggu sepertinya hanya Lastri.

“Ah khayalanmu saja itu, Dik,” jawab suaminya saat Lastri mengadukan keberadaan dan gangguan sosok bersuara menjijikkan itu. 

Lastri tak menyerah, ia bilang juga ke ibu mertua, berharap dapat penjelasan mengenai makhluk yang hidup bersama mereka di rumah kayu tua lapuk berderit. 

“Kami hidup di sini bertahun-tahun, Nak, tak pernah diganggu atau mendengar suara aneh apapun.” 

* * *

Beberapa malam terakhir Lastri makin pening setiap menjelang tidur. Kepalanya berdenyut-denyut, takut pada suara yang tak didengar oleh suami dan mertuanya.

Sesulit apapun ia tetap mencoba untuk tidur, demi bekerja dengan gesit di pagi hari. Dan malam itu ia terbangun bukan karena suara-suara ganjil, tapi karena merasakan gigitan kecil di ujung jari manis kaki kirinya. Ia langsung menarik kaki dan melihat setitik darah menetes dari bekas gigitan itu. Ia meringis, menekuk lutut, meraih telapak kaki dengan kedua tangan. Perih dirasa, keringat dingin membasahi tengkuk. Tubuhnya mematung, matanya membelalak ngeri melihat binatang yang menggigit jari kakinya. Tikus! Tikus nyaris sebesar teko air!

Tikus itu bertubuh gempal, kotoran kering menempel di bulu-bulu coklatnya, moncong tumpul berair bercericit kaget sebelum turun dari dipan. Lastri merasa dirinya akan muntah. Ekor abu-abu gundul si tikus panjang dan meliuk saat kabur lalu menghilang di kegelapan belakang lemari.

Bau sengak tikus culas itu menyergap hidung Lastri, sekejap namun melekat. Meninggalkan bau bangkai busuk bercampur got.

“Mustahil tidak ada penghuni rumah ini yang tak menyadari keberadaanya,” bisik Lastri tak percaya. 

Pelan, ia turun dari dipan, berjingkat bak kilat menelusuri pojok-pojok kamar bagai kesetanan, tanpa hasil. Lastri mencoba melihat ke mana tikus itu menghilang. Sia-sia. Tikus itu lenyap! Mungkin langsung lompat ke luar atau turun ke bawah rumah. Binatang pengerat itu jauh lebih cepat dari ketangkasan seorang pemanjat cengkih kampung.

Dengkur suami menyadarkan dia untuk kembali ke dipan, mencoba tidur sembari bertanya-tanya mungkinkah tikus tadi hanya halusinasi. 

Beberapa menit ia berbaring memandang langit-langit kamar dengan penerangan remang dari lampu lima watt di teras samping, masuk lewat kisi-kisi jendela berkaca nako. 

Yakin tikus itu bukan khayalannya semata, Lastri menajamkan pendengaran, mengarahkan telinga kanan ke suara-suara paling pelan sekalipun. 

Tap…tap…tap…krkeeeekk…

Kan! Suara itu kembali. Gelisik langkah kaki kecil itu seolah mengejek Lastri, menggerogoti jatah tidur malam-malam pertama seorang pengantin perempuan. Derap kecil yang berarti si pengerat akan datang menuntaskan gigitan di jari kaki Lastri. 

Ia tahu tikus bisa menggigit jari kaki dan tangan manusia hingga putus, seperti kelingking kanan kawan sekolahnya dulu, Fiyah. Luka itu infeksi, bonyok, sebulan lebih bolak-balik ke puskesmas baru kering. Dokter yang merawat menjelaskan ludah tikus itu dijejali bermacam bakteri. 

Bahkan Rahmi, teman pemetik cengkih dari kampung tetangga, daun telinganya robek digigit tikus. Lastri percaya kisah itu karena ia melihat sendiri telinga Rahmi hilang sepertiga digigit binatang pengerat. Lastri tak habis pikir, bagaimana seseorang tidak menyadari ada tikus mengoyak daging telinga. 

Tak kalah parah yang dialami Usman, paman Lastri yang bekerja di pengolahan ikan asin, kehilangan kelingking kaki kiri dan dua jari kaki kanan, buntung digasak tikus. Kejadiannya tiga kali dalam dua bulan. Ini membuat Lastri merinding, sering mual, teringat penderita diabetes yang kakinya diamputasi, atau persendian jari terlepas penderita lepra.

Bagi Lastri, tikus-tikus di kampungnya suatu ketika bisa menjadi bencana, menebar wabah. Ia tak ingin menjadi bagian dari malapetaka itu. Samar-samar ia ingat, air liur tikus membuat seseorang tidak merasa bagian tubuhnya digigit, layaknya dibius, seperti dialami Kakek Rajaf, yang bagian ujung betisnya digigit tikus, bernanah, sehingga sepekan ke kebun ia harus berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat. 

Pikiran Lastri penuh oleh bayangan gigitan, ia merutuki si tikus hingga tertidur, namun terbangun lagi saat tikus itu kembali. Ia merasa ada elusan dan usapan jilatan di jari yang sama, perlahan-lahan, halus sekali. Lastri dengan cepat menendangnya, langsung menghidupkan lampu. Tapi si tikus tak kalah gesit meloncat, mengalahkan kecepatan cahaya, entah menikung ke sudut mana, tak berjejak.

Suaminya terbangun, berkerjap melihat lampu yang menyala, lalu melirik Lastri. Hanya sejenak, ngorok lagi, seperti tak terjadi apa-apa.

Lastri mematikan lampu, lalu duduk di dipan, mengusap-usap ujung jarinya. Meski ada bekas cakar kecil, tidak ada luka baru. Sekuat-kuatnya ia memelekkan mata, berkerjap-kerjap, khawatir tertidur.

Sekarang ia hanya bisa berbaring, dibalut takut, cemas dan geram. Hal buruk apa yang telah ia lakukan selama ini hingga bernasib begini? Ibu-ayahnya berkata, menikah akan membuat hidup lebih baik. Hidup siapa? Yang pasti bukan hidup Lastri. 

Lama Lastri berbaring, mata terbuka, menahan isak penuh amarah. Tanpa ia tahu si tikus mengintip dari pojok kamar. Di gelap kamar, samar Lastri merasakan gerakan tikus dalam gelap, mendekat ke arahnya. Lastri langsung bangun dan berusaha mengejar. Namun, seperti mencium bahaya, tikus lebih gesit kabur, masuk kembali ke lubang ia datang. 

Lastri makin geram. Ia menilik sekitar dalam samar cahaya. Perlahan ia bangkit mengambil beberapa sobekan karpet penutup semen yang teronggok di pojok kamar. Ia juga menyiapkan tas plastik kresek putih besar yang biasa ia pakai menampung sampah di samping dipannya. Lalu ia pura-pura tidur, ia kini berharap binatang itu datang. Lastri siap menghadapi bajingan perampas tidur itu.

Tap… tap… tap… krrrkkkk…

Aha. Si tikus datang. Lastri tetap diam, mencoba telentang sekaku mungkin. Nafasnya mulai cepat. Si tikus mendekat. Lastri bergeming, sepenuhnya memusatkan pikiran dan raga untuk menunggu, seperti pemburu menilik mangsa. 

Lastri merasakan bulu binatang pengerat itu mengelus jemari kakinya. Ia menunggu sampai si tikus mengolesi jemari kaki Lastri dengan liur untuk membuat kulit dan daging kebas. Saat tikus asyik menjilat, Lastri, secepat ia sanggup, menerkam dengan tangan kanannya. 

Perhitungannya jitu, ia mencengkeram tikus dengan robekan karpet di tangan, membuat lapisan layaknya perisai, tak mau mengotori tangannya menyentuh langsung tubuh si penggerogot kedamaian itu.

Si tikus tak menyerah begitu saja, ia meronta dan bercericit tertahan, mungkin kaget dengan gerak dan tenaga manusia yang sudah muak. Lastri merasakan perlawanan si tikus, kakinya yang bercakar kecil menendang-nendang dari dalam buntelan yang dibuat dari sobekan karpet. Tambah geram, Lastri mencengkeram semakin kuat. Sang tikus tetap mencoba loncat dari kurungan karpet. Ekornya yang ramping, abu, panjang, dengan beberapa helai rambut, bergerak cepat, meronta, berusaha melepaskan diri, namun tak kuasa. 

Menahan muntah, Lastri mengerang pelan. Ia menambah sobekan karpet dengan tangan kiri yang bebas, membuat bundel makin besar mengunci tikus di dalamnya. Jemari kanan Lastri masih mencengkeram badan si tikus, berusaha mencekik semakin kuat. 

Suaminya tetap mendengkur tak terganggu oleh jerit tikus dan kegaduhan cericit binatang yang bergulat untuk melepaskan diri. Mimpi apa gerangan laki-laki itu, ketika Lastri sedang bertempur untuk merebut kemenangan melawan seekor pengerat?

Gerakan tikus melemah. Lastri memasukkan bundelan ke dalam kresek putih yang sudah ia siapkan. Mengikat kresek dengan kuat, memastikan tikus itu sudah tak bergerak, ia lalu berjinjit ke arah pintu. Sambil berjongkok, ia mengambil batu bata penyangga pintu, menaruh bata di atas buntalan tikus dalam plastik, memposisikan paha kiri di atas bata, menumpukan seluruh tenaganya, lalu menggencet si tikus sekuat-kuatnya. Bunyi kresek tertahan dan kriuk patah tulang tikus tertindas bata tak menghentikan Latri. Ia menekan makin kencang.

Tikus itu ia rasa seperti tuntutan ibu ayahnya untuk cepat-cepat menikah, suaminya yang selalu menyuruh-nyuruh, mengecilkan keberadaan Lastri sebagai manusia, dan mertuanya yang mencibiri apapun yang ia lakukan. 

Ia berulang kali menekan-gencet tikus dalam plastik itu, bertubi-tubi, sehabis-habisnya, hingga tas menjadi gelap oleh darah.

Lastri tersenyum puas, emosinya meleleh. Ia melenggang ke tempat tidur, lega, merasa bebas, beban pikirannya lenyap sudah. 

Tak sampai enam langkah Lastri beringsut kembali ke pelukan kasur, tap… tap… tap… krrrkkk…

Suara itu terdengar lagi. Lastri menoleh ke kresek putih di pojok kamar dekat pintu. Kresek itu masih tergumpal di tempatnya. Belum juga ia sampai di dipan, suarakaki-kaki kecil itu kembali, melangkah dalam gelap. Suara-suara itu lagi-lagi mengitari kamarnya.

Lastri mendekap mukanya dengan kedua tangan. Ia berbisik dengan tangis pecah, lebih ke dirinya sendiri, “Oh, Tuhan, berapa banyak binatang busuk berkeliaran di rumah ini? Bagaimana mungkin hamba membesarkan anak-anak dengan baik di sebuah rumah yang dikuasai pengerat-pengerat dari kegelapan? Yang menggerayangi seisi kamar dan menggerogoti tubuh kami?”

Ia melirik suami, pendamping, pengemong kehidupan yang sepantasnya diajak bertanggung jawab membasmi tikus, tempat ia seharusnya menggantungkan perlindungan. Namun laki-laki itu tetap pulas mendengkur. [T]

Penulis: Lina PW
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Next Post

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Lina PW

Lina PW

Menulis cerpen, esai, serta menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2017, 2019, dan 2021 serta antologi Singa Raja Berkisah (Mahima, 2023). Ia juga mendirikan Nawang English, sebuah wadah belajar bahasa dan literasi di Denpasar.

Related Posts

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang
Esai

Membaca Persoalan, Menggerakkan Transformasi Pendidikan Bali: Sekilas Catatan dari Kombel Pengawas Sekolah Disdikpora Provinsi Bali di SMKN 1 Petang

ADA kalanya sebuah sekolah menjadi tempat berlangsungnya sebuah kegiatan. Tetapi ada kalanya pula, sekolah justru menjadi bagian dari pesan yang...

by I Wayan Yudana
August 21, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Lomba Tujuhbelasan dan Pertanyaan tentang Kemerdekaan yang Kita Rayakan

---Kemerdekaan bukan hanya sesuatu yang diproklamasikan dan diperingati, tetapi sesuatu yang seharusnya dapat dialami manusia dalam kehidupan sehari-hari. PADA suatu...

by Tri Nugroho Adi
August 21, 2026
JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?
Esai

JIA Curated dan Potensi Memprovinsikan Desain, Mungkinkah?

SAAT tulisan ini dibuat, JIA Curated mungkin sedang melaksanakan acara penutupan. Pamerannya sendiri berlangsung sejak tanggal 13 Agustus sampai 17...

by I Nyoman Gede Maha Putra
August 21, 2026
Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal
Ekonomi

Buleleng Punya Kekayaan Sumber Daya Pangan Melimpah sebagai Modal Utama Melakukan Inovasi Pangan Lokal

BULELENG | TATKALA – Kabupaten Buleleng memiliki kekayaan sumber daya pangan yang melimpah. Mulai dari umbi-umbian, buah-buahan, hasil pertanian, peternakan,...

by tatkala
August 20, 2026
Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026
Khas

Sugi Lanus Bedah Akar “Brain Drain” dan Masa Depan Talenta Bali Utara di Buleleng Festival 2026

Masa depan sumber daya manusia di Bali Utara menjadi salah satu isu yang mengemuka dalam rangkaian agenda budaya tahunan Buleleng...

by Komang Puja Savitri
August 20, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co