2 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 3, 2026
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

DIKISAHKAN, konon di tanah Pasundan pada zaman dahulu kala, ada seorang adipati agung. Rakyat memberinya nama Sultan, yang menyimpan pelajaran penting mengenai bahaya kultur figur. Ia naik ke puncak bukan karena keturunan, melainkan kecakapan, prestasi, dan citra kesempurnaan. Namun justru dari sanalah kejatuhannya bermula: ketika kekaguman kolektif menggantikan kewaspadaan, dan kepercayaan publik berubah menjadi pembenaran tanpa syarat.

Kisah ini tidak ada relevansinya dengan seorang tokoh kontemporer, melainkan karena mekanisme kekuasaan yang bekerja di baliknya. Ia mengingatkan kita bahwa masalah utama dalam politik sering kali bukan semata korupsi atau skandal personal, melainkan cara publik membangun pengetahuan, menilai kebenaran, dan memposisikan figur pemimpin. Ketika kritik dibungkam oleh rasa kagum, maka kejatuhan tinggal menunggu waktu.

Sejarah sering kita bayangkan sebagai kisah masa lalu, padahal ia kerap hadir sebagai cermin yang sengaja kita abaikan. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang individu yang tergelincir, melainkan tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui simbol, bagaimana publik membangun pengetahuan secara tidak kritis, dan bagaimana kultur figur menciptakan ilusi kebenaran yang rapuh.

Dari Teknokrat ke Simbol Paripurna

Rangga Jayamurti, demikian sang Sultan disebut dalam kisah ini, memulai kariernya sebagai pejabat kadipaten pusat perniagaan. Ia dikenal sebagai teknokrat: rasional, terukur, berpendidikan padepokan ternama. Kadipaten yang dipimpinnya dibangun dengan logika, bukan sekadar estetika. Infrastruktur berdiri rapi, tata ruang tertata, dan kebijakan tampak berbasis nalar.

Ia adalah tipe pemimpin yang disukai publik modern: cakap, berparas, berprestasi. Maka ketika suatu waktu ia kemudian menjadi residen yang membawahi seluruh kadipaten, legitimasi tak lagi diperdebatkan. Publik seakan sepakat: orang seperti dia pasti benar. Di sinilah persoalan epistemologis mulai muncul.

Kebenaran tidak lagi diuji melalui dialog dan kritik, melainkan diasumsikan berdasarkan rekam jejak dan citra personal. Kita lupa bahwa prestasi masa lalu bukan jaminan kebajikan masa depan.

Kekuasaan sebagai Panggung Simbolik

Setelah berkuasa, Rangga Jayamurti memerintah bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat pertunjukan kekuasaan. Setiap program dibungkus seremoni. Setiap keputusan disertai narasi besar. Bangunan, prasasti, dan pidato menjadi alat produksi makna.

Di titik ini, kekuasaan berubah dari mekanisme administratif menjadi rezim simbolik.

Dalam budaya politik tradisional, dan ternyata juga modern,  pemimpin sering diperlakukan bukan sebagai subjek yang bisa salah, melainkan representasi tatanan.

Mengkritik pemimpin dianggap mengganggu harmoni. Maka publik belajar satu kebiasaan berbahaya: diam dianggap dewasa, patuh dianggap bijak. Inilah fondasi kultur figur. Ketika figur terlalu diagungkan, institusi melemah. Ketika simbol terlalu dominan, substansi menghilang.

Korupsi yang Tidak Selalu Kasar

Kejatuhan Sang Sultan tidak dimulai dari skandal besar, melainkan dari hal yang tampak sepele dan bahkan indah: seni dan kebudayaan. Seorang penari dan model istana, orang memanggilnya Larasati, hadir sebagai simbol estetika. Hubungan personal dibungkus diskursus budaya. Anggaran negara dialihkan atas nama apresiasi seni. Di sinilah muncul apa yang bisa disebut sebagai korupsi simbolik.

Uang negara tidak dicuri secara brutal, tetapi dialihkan maknanya. Penyalahgunaan kekuasaan disamarkan oleh bahasa luhur. Dana publik tidak hilang, tetapi disulap menjadi jamuan, hadiah, dan proyek yang sulit diverifikasi.

Lebih berbahaya lagi, publik tidak protes. Mengapa? Karena simbol masih bekerja. Karena wajah pemimpin masih dipercaya. Karena masa lalu masih dijadikan pembelaan.

Korupsi semacam ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi merusak cara publik memahami kebenaran.

Ketika lembaga pengawas mulai mempertanyakan kejanggalan anggaran, respons istana bukan klarifikasi berbasis data, melainkan pengulangan narasi lama: jasa, prestasi, dan kepribadian pemimpin. Di sinilah epistemologi publik runtuh sepenuhnya.

Pengetahuan tidak lagi dibangun dari bukti, melainkan dari ingatan kolektif yang diseleksi. Kritik dicap sebagai niat buruk. Pertanyaan dianggap ancaman. Publik berhenti berpikir, dan mulai percaya karena ingin percaya. Kita menyaksikan bagaimana kebenaran berubah menjadi persoalan siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan.

Runtuh dari Dalam

Simbol terakhir yang runtuh adalah rumah tangga. Ketika istri sang Sultan mengajukan pisah adat, publik terkejut. Bukan semata karena perceraian, melainkan karena mitos kesempurnaan pecah dari dalam.

Kultur figur bekerja secara kejam: ia mengangkat terlalu tinggi, lalu menjatuhkan tanpa ampun. Sosok yang dahulu dielu-elukan, kini dijauhi. Tidak ada lagi pembelaan. Tidak ada lagi kesabaran.

Sang Sultan akhirnya kehilangan jabatan bukan karena pemberontakan, melainkan karena akumulasi keheningan diamnya kritik, diamnya publik, dan diamnya nurani.

Pelajaran bagi Zaman Kini

Kisah di bumi Sangkuriang tersebut mencatat kejatuhan Rangga Jayamurti bukan sebagai kisah moral individual semata, melainkan peringatan struktural. Bahwa kekuasaan paling berbahaya bukan yang kasar, melainkan yang tampil rasional, estetik, dan intelektual. Bahwa korupsi paling merusak bukan yang mencuri uang, melainkan yang mencuri kemampuan publik untuk berpikir kritis.

Dan bahwa demokrasi atau bentuk kekuasaan apa pun, akan rapuh jika publik mengganti nalar dengan kekaguman. Tuhan, kata pepatah Sunda, tidak selalu menjatuhkan dengan petir. Kadang Ia cukup membiarkan manusia tersandung oleh bayang-bayangnya sendiri. “Lamun Gusti parantos ngersakeun ragrag, moal aya tangkal pikeun nyanggakeun.”(Jika Tuhan telah berkehendak menjatuhkan, tak ada pohon tempat bergantung.)

Pada akhirnya, runtuhnya seorang pemimpin jarang disebabkan oleh satu kesalahan besar. Ia lebih sering lahir dari rangkaian kekeliruan kecil yang dibiarkan, dimaklumi, bahkan dirayakan karena dibungkus prestasi dan citra. Kekaguman yang tak diimbangi jarak kritis membuat kekuasaan tumbuh tanpa koreksi, hingga lupa membedakan antara amanah dan panggung, antara pelayanan dan pemujaan.

Kisah tentang sang Sultan mengajarkan bahwa bahaya terbesar dalam politik bukan semata figur yang tergoda, melainkan publik yang berhenti bertanya. Ketika kepercayaan berubah menjadi pembenaran, dan kekaguman menggantikan penilaian rasional, maka kejatuhan bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan. Di titik itu, yang runtuh bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga kemampuan bersama untuk menjaga akal sehat dalam kehidupan bernegara.

Maka pelajaran terpenting dari kisah ini bukanlah ajakan untuk membenci kekuasaan, melainkan untuk tidak mencintainya secara berlebihan. Sebab demokrasi, dan bentuk kekuasaan apa pun hanya dapat bertahan jika pemimpinnya bersedia diawasi, dan publiknya berani menjaga jarak dari pesona. Kekuasaan yang sehat lahir bukan dari kekaguman tanpa syarat, melainkan dari nalar yang terus bekerja, bahkan ketika berhadapan dengan sosok yang paling kita kagumi.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Jaswanto

Tags: kisahPasundanRangga Jayamurti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Next Post

Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”—Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”—Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”---Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co