2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 3, 2026
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

DIKISAHKAN, konon di tanah Pasundan pada zaman dahulu kala, ada seorang adipati agung. Rakyat memberinya nama Sultan, yang menyimpan pelajaran penting mengenai bahaya kultur figur. Ia naik ke puncak bukan karena keturunan, melainkan kecakapan, prestasi, dan citra kesempurnaan. Namun justru dari sanalah kejatuhannya bermula: ketika kekaguman kolektif menggantikan kewaspadaan, dan kepercayaan publik berubah menjadi pembenaran tanpa syarat.

Kisah ini tidak ada relevansinya dengan seorang tokoh kontemporer, melainkan karena mekanisme kekuasaan yang bekerja di baliknya. Ia mengingatkan kita bahwa masalah utama dalam politik sering kali bukan semata korupsi atau skandal personal, melainkan cara publik membangun pengetahuan, menilai kebenaran, dan memposisikan figur pemimpin. Ketika kritik dibungkam oleh rasa kagum, maka kejatuhan tinggal menunggu waktu.

Sejarah sering kita bayangkan sebagai kisah masa lalu, padahal ia kerap hadir sebagai cermin yang sengaja kita abaikan. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang individu yang tergelincir, melainkan tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui simbol, bagaimana publik membangun pengetahuan secara tidak kritis, dan bagaimana kultur figur menciptakan ilusi kebenaran yang rapuh.

Dari Teknokrat ke Simbol Paripurna

Rangga Jayamurti, demikian sang Sultan disebut dalam kisah ini, memulai kariernya sebagai pejabat kadipaten pusat perniagaan. Ia dikenal sebagai teknokrat: rasional, terukur, berpendidikan padepokan ternama. Kadipaten yang dipimpinnya dibangun dengan logika, bukan sekadar estetika. Infrastruktur berdiri rapi, tata ruang tertata, dan kebijakan tampak berbasis nalar.

Ia adalah tipe pemimpin yang disukai publik modern: cakap, berparas, berprestasi. Maka ketika suatu waktu ia kemudian menjadi residen yang membawahi seluruh kadipaten, legitimasi tak lagi diperdebatkan. Publik seakan sepakat: orang seperti dia pasti benar. Di sinilah persoalan epistemologis mulai muncul.

Kebenaran tidak lagi diuji melalui dialog dan kritik, melainkan diasumsikan berdasarkan rekam jejak dan citra personal. Kita lupa bahwa prestasi masa lalu bukan jaminan kebajikan masa depan.

Kekuasaan sebagai Panggung Simbolik

Setelah berkuasa, Rangga Jayamurti memerintah bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat pertunjukan kekuasaan. Setiap program dibungkus seremoni. Setiap keputusan disertai narasi besar. Bangunan, prasasti, dan pidato menjadi alat produksi makna.

Di titik ini, kekuasaan berubah dari mekanisme administratif menjadi rezim simbolik.

Dalam budaya politik tradisional, dan ternyata juga modern,  pemimpin sering diperlakukan bukan sebagai subjek yang bisa salah, melainkan representasi tatanan.

Mengkritik pemimpin dianggap mengganggu harmoni. Maka publik belajar satu kebiasaan berbahaya: diam dianggap dewasa, patuh dianggap bijak. Inilah fondasi kultur figur. Ketika figur terlalu diagungkan, institusi melemah. Ketika simbol terlalu dominan, substansi menghilang.

Korupsi yang Tidak Selalu Kasar

Kejatuhan Sang Sultan tidak dimulai dari skandal besar, melainkan dari hal yang tampak sepele dan bahkan indah: seni dan kebudayaan. Seorang penari dan model istana, orang memanggilnya Larasati, hadir sebagai simbol estetika. Hubungan personal dibungkus diskursus budaya. Anggaran negara dialihkan atas nama apresiasi seni. Di sinilah muncul apa yang bisa disebut sebagai korupsi simbolik.

Uang negara tidak dicuri secara brutal, tetapi dialihkan maknanya. Penyalahgunaan kekuasaan disamarkan oleh bahasa luhur. Dana publik tidak hilang, tetapi disulap menjadi jamuan, hadiah, dan proyek yang sulit diverifikasi.

Lebih berbahaya lagi, publik tidak protes. Mengapa? Karena simbol masih bekerja. Karena wajah pemimpin masih dipercaya. Karena masa lalu masih dijadikan pembelaan.

Korupsi semacam ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi merusak cara publik memahami kebenaran.

Ketika lembaga pengawas mulai mempertanyakan kejanggalan anggaran, respons istana bukan klarifikasi berbasis data, melainkan pengulangan narasi lama: jasa, prestasi, dan kepribadian pemimpin. Di sinilah epistemologi publik runtuh sepenuhnya.

Pengetahuan tidak lagi dibangun dari bukti, melainkan dari ingatan kolektif yang diseleksi. Kritik dicap sebagai niat buruk. Pertanyaan dianggap ancaman. Publik berhenti berpikir, dan mulai percaya karena ingin percaya. Kita menyaksikan bagaimana kebenaran berubah menjadi persoalan siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan.

Runtuh dari Dalam

Simbol terakhir yang runtuh adalah rumah tangga. Ketika istri sang Sultan mengajukan pisah adat, publik terkejut. Bukan semata karena perceraian, melainkan karena mitos kesempurnaan pecah dari dalam.

Kultur figur bekerja secara kejam: ia mengangkat terlalu tinggi, lalu menjatuhkan tanpa ampun. Sosok yang dahulu dielu-elukan, kini dijauhi. Tidak ada lagi pembelaan. Tidak ada lagi kesabaran.

Sang Sultan akhirnya kehilangan jabatan bukan karena pemberontakan, melainkan karena akumulasi keheningan diamnya kritik, diamnya publik, dan diamnya nurani.

Pelajaran bagi Zaman Kini

Kisah di bumi Sangkuriang tersebut mencatat kejatuhan Rangga Jayamurti bukan sebagai kisah moral individual semata, melainkan peringatan struktural. Bahwa kekuasaan paling berbahaya bukan yang kasar, melainkan yang tampil rasional, estetik, dan intelektual. Bahwa korupsi paling merusak bukan yang mencuri uang, melainkan yang mencuri kemampuan publik untuk berpikir kritis.

Dan bahwa demokrasi atau bentuk kekuasaan apa pun, akan rapuh jika publik mengganti nalar dengan kekaguman. Tuhan, kata pepatah Sunda, tidak selalu menjatuhkan dengan petir. Kadang Ia cukup membiarkan manusia tersandung oleh bayang-bayangnya sendiri. “Lamun Gusti parantos ngersakeun ragrag, moal aya tangkal pikeun nyanggakeun.”(Jika Tuhan telah berkehendak menjatuhkan, tak ada pohon tempat bergantung.)

Pada akhirnya, runtuhnya seorang pemimpin jarang disebabkan oleh satu kesalahan besar. Ia lebih sering lahir dari rangkaian kekeliruan kecil yang dibiarkan, dimaklumi, bahkan dirayakan karena dibungkus prestasi dan citra. Kekaguman yang tak diimbangi jarak kritis membuat kekuasaan tumbuh tanpa koreksi, hingga lupa membedakan antara amanah dan panggung, antara pelayanan dan pemujaan.

Kisah tentang sang Sultan mengajarkan bahwa bahaya terbesar dalam politik bukan semata figur yang tergoda, melainkan publik yang berhenti bertanya. Ketika kepercayaan berubah menjadi pembenaran, dan kekaguman menggantikan penilaian rasional, maka kejatuhan bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan. Di titik itu, yang runtuh bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga kemampuan bersama untuk menjaga akal sehat dalam kehidupan bernegara.

Maka pelajaran terpenting dari kisah ini bukanlah ajakan untuk membenci kekuasaan, melainkan untuk tidak mencintainya secara berlebihan. Sebab demokrasi, dan bentuk kekuasaan apa pun hanya dapat bertahan jika pemimpinnya bersedia diawasi, dan publiknya berani menjaga jarak dari pesona. Kekuasaan yang sehat lahir bukan dari kekaguman tanpa syarat, melainkan dari nalar yang terus bekerja, bahkan ketika berhadapan dengan sosok yang paling kita kagumi.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Jaswanto

Tags: kisahPasundanRangga Jayamurti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Next Post

Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”—Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails
Next Post
Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”—Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”---Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co