23 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
January 3, 2026
in Esai
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Ahmad Sihabudin

DIKISAHKAN, konon di tanah Pasundan pada zaman dahulu kala, ada seorang adipati agung. Rakyat memberinya nama Sultan, yang menyimpan pelajaran penting mengenai bahaya kultur figur. Ia naik ke puncak bukan karena keturunan, melainkan kecakapan, prestasi, dan citra kesempurnaan. Namun justru dari sanalah kejatuhannya bermula: ketika kekaguman kolektif menggantikan kewaspadaan, dan kepercayaan publik berubah menjadi pembenaran tanpa syarat.

Kisah ini tidak ada relevansinya dengan seorang tokoh kontemporer, melainkan karena mekanisme kekuasaan yang bekerja di baliknya. Ia mengingatkan kita bahwa masalah utama dalam politik sering kali bukan semata korupsi atau skandal personal, melainkan cara publik membangun pengetahuan, menilai kebenaran, dan memposisikan figur pemimpin. Ketika kritik dibungkam oleh rasa kagum, maka kejatuhan tinggal menunggu waktu.

Sejarah sering kita bayangkan sebagai kisah masa lalu, padahal ia kerap hadir sebagai cermin yang sengaja kita abaikan. Kisah ini bukan sekadar cerita tentang individu yang tergelincir, melainkan tentang bagaimana kekuasaan bekerja melalui simbol, bagaimana publik membangun pengetahuan secara tidak kritis, dan bagaimana kultur figur menciptakan ilusi kebenaran yang rapuh.

Dari Teknokrat ke Simbol Paripurna

Rangga Jayamurti, demikian sang Sultan disebut dalam kisah ini, memulai kariernya sebagai pejabat kadipaten pusat perniagaan. Ia dikenal sebagai teknokrat: rasional, terukur, berpendidikan padepokan ternama. Kadipaten yang dipimpinnya dibangun dengan logika, bukan sekadar estetika. Infrastruktur berdiri rapi, tata ruang tertata, dan kebijakan tampak berbasis nalar.

Ia adalah tipe pemimpin yang disukai publik modern: cakap, berparas, berprestasi. Maka ketika suatu waktu ia kemudian menjadi residen yang membawahi seluruh kadipaten, legitimasi tak lagi diperdebatkan. Publik seakan sepakat: orang seperti dia pasti benar. Di sinilah persoalan epistemologis mulai muncul.

Kebenaran tidak lagi diuji melalui dialog dan kritik, melainkan diasumsikan berdasarkan rekam jejak dan citra personal. Kita lupa bahwa prestasi masa lalu bukan jaminan kebajikan masa depan.

Kekuasaan sebagai Panggung Simbolik

Setelah berkuasa, Rangga Jayamurti memerintah bukan hanya lewat kebijakan, tetapi lewat pertunjukan kekuasaan. Setiap program dibungkus seremoni. Setiap keputusan disertai narasi besar. Bangunan, prasasti, dan pidato menjadi alat produksi makna.

Di titik ini, kekuasaan berubah dari mekanisme administratif menjadi rezim simbolik.

Dalam budaya politik tradisional, dan ternyata juga modern,  pemimpin sering diperlakukan bukan sebagai subjek yang bisa salah, melainkan representasi tatanan.

Mengkritik pemimpin dianggap mengganggu harmoni. Maka publik belajar satu kebiasaan berbahaya: diam dianggap dewasa, patuh dianggap bijak. Inilah fondasi kultur figur. Ketika figur terlalu diagungkan, institusi melemah. Ketika simbol terlalu dominan, substansi menghilang.

Korupsi yang Tidak Selalu Kasar

Kejatuhan Sang Sultan tidak dimulai dari skandal besar, melainkan dari hal yang tampak sepele dan bahkan indah: seni dan kebudayaan. Seorang penari dan model istana, orang memanggilnya Larasati, hadir sebagai simbol estetika. Hubungan personal dibungkus diskursus budaya. Anggaran negara dialihkan atas nama apresiasi seni. Di sinilah muncul apa yang bisa disebut sebagai korupsi simbolik.

Uang negara tidak dicuri secara brutal, tetapi dialihkan maknanya. Penyalahgunaan kekuasaan disamarkan oleh bahasa luhur. Dana publik tidak hilang, tetapi disulap menjadi jamuan, hadiah, dan proyek yang sulit diverifikasi.

Lebih berbahaya lagi, publik tidak protes. Mengapa? Karena simbol masih bekerja. Karena wajah pemimpin masih dipercaya. Karena masa lalu masih dijadikan pembelaan.

Korupsi semacam ini tidak hanya merugikan keuangan negara, tetapi merusak cara publik memahami kebenaran.

Ketika lembaga pengawas mulai mempertanyakan kejanggalan anggaran, respons istana bukan klarifikasi berbasis data, melainkan pengulangan narasi lama: jasa, prestasi, dan kepribadian pemimpin. Di sinilah epistemologi publik runtuh sepenuhnya.

Pengetahuan tidak lagi dibangun dari bukti, melainkan dari ingatan kolektif yang diseleksi. Kritik dicap sebagai niat buruk. Pertanyaan dianggap ancaman. Publik berhenti berpikir, dan mulai percaya karena ingin percaya. Kita menyaksikan bagaimana kebenaran berubah menjadi persoalan siapa yang mengatakan, bukan apa yang dikatakan.

Runtuh dari Dalam

Simbol terakhir yang runtuh adalah rumah tangga. Ketika istri sang Sultan mengajukan pisah adat, publik terkejut. Bukan semata karena perceraian, melainkan karena mitos kesempurnaan pecah dari dalam.

Kultur figur bekerja secara kejam: ia mengangkat terlalu tinggi, lalu menjatuhkan tanpa ampun. Sosok yang dahulu dielu-elukan, kini dijauhi. Tidak ada lagi pembelaan. Tidak ada lagi kesabaran.

Sang Sultan akhirnya kehilangan jabatan bukan karena pemberontakan, melainkan karena akumulasi keheningan diamnya kritik, diamnya publik, dan diamnya nurani.

Pelajaran bagi Zaman Kini

Kisah di bumi Sangkuriang tersebut mencatat kejatuhan Rangga Jayamurti bukan sebagai kisah moral individual semata, melainkan peringatan struktural. Bahwa kekuasaan paling berbahaya bukan yang kasar, melainkan yang tampil rasional, estetik, dan intelektual. Bahwa korupsi paling merusak bukan yang mencuri uang, melainkan yang mencuri kemampuan publik untuk berpikir kritis.

Dan bahwa demokrasi atau bentuk kekuasaan apa pun, akan rapuh jika publik mengganti nalar dengan kekaguman. Tuhan, kata pepatah Sunda, tidak selalu menjatuhkan dengan petir. Kadang Ia cukup membiarkan manusia tersandung oleh bayang-bayangnya sendiri. “Lamun Gusti parantos ngersakeun ragrag, moal aya tangkal pikeun nyanggakeun.”(Jika Tuhan telah berkehendak menjatuhkan, tak ada pohon tempat bergantung.)

Pada akhirnya, runtuhnya seorang pemimpin jarang disebabkan oleh satu kesalahan besar. Ia lebih sering lahir dari rangkaian kekeliruan kecil yang dibiarkan, dimaklumi, bahkan dirayakan karena dibungkus prestasi dan citra. Kekaguman yang tak diimbangi jarak kritis membuat kekuasaan tumbuh tanpa koreksi, hingga lupa membedakan antara amanah dan panggung, antara pelayanan dan pemujaan.

Kisah tentang sang Sultan mengajarkan bahwa bahaya terbesar dalam politik bukan semata figur yang tergoda, melainkan publik yang berhenti bertanya. Ketika kepercayaan berubah menjadi pembenaran, dan kekaguman menggantikan penilaian rasional, maka kejatuhan bukan lagi kemungkinan, melainkan keniscayaan. Di titik itu, yang runtuh bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga kemampuan bersama untuk menjaga akal sehat dalam kehidupan bernegara.

Maka pelajaran terpenting dari kisah ini bukanlah ajakan untuk membenci kekuasaan, melainkan untuk tidak mencintainya secara berlebihan. Sebab demokrasi, dan bentuk kekuasaan apa pun hanya dapat bertahan jika pemimpinnya bersedia diawasi, dan publiknya berani menjaga jarak dari pesona. Kekuasaan yang sehat lahir bukan dari kekaguman tanpa syarat, melainkan dari nalar yang terus bekerja, bahkan ketika berhadapan dengan sosok yang paling kita kagumi.[T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Jaswanto

Tags: kisahPasundanRangga Jayamurti
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Next Post

Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”—Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

by Angga Wijaya
June 23, 2026
0
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

Read moreDetails

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
0
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

Read moreDetails

Titik Nol, Titik Awal Singaraja —Membangun Kota, Memuliakan Ingatan

by Dewa Rhadea
June 21, 2026
0
Tawuran SD dan Gagalnya Pendidikan Holistik: Cermin Retak Indonesia Emas 2045

"Selama ini kita membangun sekolah di dalam kota. Sudah saatnya kita membangun kota sebagai sekolah." Kalimat itu mungkin terdengar sederhana....

Read moreDetails

Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

by Made Chandra
June 21, 2026
0
Kritik Seni yang Sependek Feed Instagram dan Kolom Komentar

10 tahun lalu, rubrik perihal kritik seni masih tersusun padat, dengan desain layout yang sebisa mungkin berpihak pada kelengkapan informasi...

Read moreDetails

Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

by I Nyoman Tingkat
June 21, 2026
0
Membaca Pesta Kesenian Bali Menjelang 50 Tahun   

PESTA Kesenian Bali (PKB)ke-48 pada 2026 telah dibuka pada Sabtu, 13 Juni 2026 oleh Gubernur Bali Wayan Koster. Pembukaan tanpa...

Read moreDetails

Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

by Angga Wijaya
June 21, 2026
0
Menitipkan Jembrana kepada Kreator Digital

MAMED Wedanta adalah salah satu pemuda paling jenaka yang pernah lahir di Jembrana. Melihat wajahnya saja orang sudah ingin tertawa....

Read moreDetails

KLAKSON

by Hartanto
June 20, 2026
0
KLAKSON

SETENGAH abad yang lalu, saya paling benci mendengar suara klakson (dulu disebut tuter), mobil atau motor. Pasalnya, manakala itu saya...

Read moreDetails

Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

by Agung Sudarsa
June 20, 2026
0
Political Awareness: Jalan Kesadaran yang Holistik

Spiritualitas Bukan Pelarian dari Kehidupan Salah satu kesalahpahaman terbesar tentang spiritualitas adalah anggapan bahwa orang spiritual harus menjauh dari urusan...

Read moreDetails

Integritas Itu Soal Salah Hitung Angka atau Salah Hitung Dosa?

by Petrus Imam Prawoto Jati
June 20, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin pagi saya mampir ke pom bensin, dititipi istri saya buat isi motornya yang hampir kosong...

Read moreDetails

Kalau Marx dan Marcuse Ikut Nonton Aksi Demo Mahasiswa “Indonesia Bangkrut”

by Afgan Fadilla
June 18, 2026
0
(Bukan) Demokrasi Kita

DI tengah demonstrasi mahasiswa yang memprotes pemborosan anggaran, kenaikan biaya hidup, dan berbagai proyek pemerintah yang dianggap tidak berpihak kepada...

Read moreDetails
Next Post
Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”—Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Buku Terbaru Angga Wijaya, “Di Beranda Kos Gosip Kedengaran Lagi”---Catatan Esai tentang Ingatan, Bali, dan Manusia Modern

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa”  —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Ketika Sastra Menyatukan Dua Saudara dalam “Putra Cahyaning Kulawandu Wandawa” —Taman Penasar Duta Kabupaten Klungkung di Pesta Kesenian Bali 2026

KEMATIAN Bapa Gunung seharusnya menjadi saat bagi keluarganya untuk bersatu. Namun yang terjadi malah sebaliknya. Di tengah persiapan ngaben, I...

by Dede Putra Wiguna
June 22, 2026
Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery
Pameran

Mahendra Mangku Pameran Sekaligus Mengurai Kenangan di Komaneka Fine Art Gallery

SORE hari, Sabtu 20 Juni 2026 orang-orang pecinta seni, khususnya seni lukis tampak bergerak ke arah timur tepatnya ke Komaneka...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026
Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Sanggar Gamelan Suling Gita Semara, Duta Palegongan Klasik Gianyar, Siapkan Rekonstruksi Kesenian Era 1970-an di Pesta Kesenian Bali 2026

KETIKA memasuki salah satu rumah warga di Jalan Serongga No. 31, Banjar Tengah Kanginan, Desa Peliatan, Ubud, Gianyar, mata dan...

by Nyoman Budarsana
June 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co