13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Lina PW by Lina PW
January 3, 2026
in Cerpen
Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Ilustrator: Lina PW

LANGKAH kaki kecil samar tapi sangat jelas di sunyi malam membangunkan Lastri dari tidur tak lelap. Ini malam keempat ia terbangun bahkan sebelum subuh tiba. Matanya nanar, mencoba melihat dalam gelap. 

Tap… tap… tap…krekkk…

Lastri memandang tegang berkeliling. Di mana bunyi-bunyi seperti meniru suara hantu itu? 

Duduk di tepi ranjang, ia menoleh ke pintu kamar. Lalu ke arah lemari, dan tumpukan baju di lantai. Sekilas ia juga menilik robekan karpet plastik penutup lantai semen kamar. Tiada sesuatupun bergerak. Ia lalu menghadap ke kepala dipan, tak juga ia temukan pembuat suara-suara itu. 

“Shhh… kenapa sih,” suaminya berbisik lirih sambil menggerakkan tangannya lemah, tanpa membuka mata, lalu mendengkur lagi. 

“Halah, nanya cuma sekedar saja,” sahut Lastri ketus. Hanya saat suaminya tak terbangun betul ia berani menjawab. 

Di siang hari Lastri tak berkutik di hadapan suami dan mertua. “Tak elok istri beradu mulut menyanggah suami, istri hanya perlu nurut dan ngangguk saja,” ujar mertuanya. Begitu selalu. 

Sejak menikah bulan lalu, Lastri selalu diam saat berkumpul dengan suami dan keluarga barunya. Ia hanya mengingat dan menyesali keputusannya menikah terlalu cepat. Itu juga karena keluarga Lastri mendesak ia untuk segera berumah tangga, keluar dari rumah gadisnya. 

Lastri masih memendam bara amarah pada ayah dan ibu, juga adik laki-laki yang jauh lebih disayang oleh orangtuanya. Padahal Lastri seorang pemanjat cengkih paling aktif di desanya. Tapi tetap saja mereka menginginkan Lastri segera pergi agar bapak dan ibunya dapat memusatkan perhatian pada sang adik, pewaris hektaran kebun mereka. 

Sejak awal ia meminta agar tidak buru-buru dinikahkan. Bukan dukungan atau permakluman yang ia dapat, malah orangtuanya mengancam akan mengusir. Diusir dari rumah sungguh aib bagi gadis di dusun. Mereka akan menjadi gunjingan, bahan omongan riuh saat panen cengkih. Maka banyak yang mendukung pernikahan secepat kilat oleh keluarga, meski belum tentu mereka akan bahagia. Lastri pun, tiada pilihan, akhirnya menyerah, ia bersedia dinikahi oleh kawan sekolah dasarnya dulu.

Tepat seminggu setelah menikah, di minggu pertama tahun baru, Lastri selalu terbangun lepas tengah malam karena bunyi sesosok mahluk yang tengah menelusuri pojok-pojok kamar, sepanjang kasur dan dipan yang ia tiduri bersama suami. Suara itu sungguh mengganggu, membuatnya gelisah dan muak. Saban malam suara-suara itu datang, namun yang terganggu sepertinya hanya Lastri.

“Ah khayalanmu saja itu, Dik,” jawab suaminya saat Lastri mengadukan keberadaan dan gangguan sosok bersuara menjijikkan itu. 

Lastri tak menyerah, ia bilang juga ke ibu mertua, berharap dapat penjelasan mengenai makhluk yang hidup bersama mereka di rumah kayu tua lapuk berderit. 

“Kami hidup di sini bertahun-tahun, Nak, tak pernah diganggu atau mendengar suara aneh apapun.” 

* * *

Beberapa malam terakhir Lastri makin pening setiap menjelang tidur. Kepalanya berdenyut-denyut, takut pada suara yang tak didengar oleh suami dan mertuanya.

Sesulit apapun ia tetap mencoba untuk tidur, demi bekerja dengan gesit di pagi hari. Dan malam itu ia terbangun bukan karena suara-suara ganjil, tapi karena merasakan gigitan kecil di ujung jari manis kaki kirinya. Ia langsung menarik kaki dan melihat setitik darah menetes dari bekas gigitan itu. Ia meringis, menekuk lutut, meraih telapak kaki dengan kedua tangan. Perih dirasa, keringat dingin membasahi tengkuk. Tubuhnya mematung, matanya membelalak ngeri melihat binatang yang menggigit jari kakinya. Tikus! Tikus nyaris sebesar teko air!

Tikus itu bertubuh gempal, kotoran kering menempel di bulu-bulu coklatnya, moncong tumpul berair bercericit kaget sebelum turun dari dipan. Lastri merasa dirinya akan muntah. Ekor abu-abu gundul si tikus panjang dan meliuk saat kabur lalu menghilang di kegelapan belakang lemari.

Bau sengak tikus culas itu menyergap hidung Lastri, sekejap namun melekat. Meninggalkan bau bangkai busuk bercampur got.

“Mustahil tidak ada penghuni rumah ini yang tak menyadari keberadaanya,” bisik Lastri tak percaya. 

Pelan, ia turun dari dipan, berjingkat bak kilat menelusuri pojok-pojok kamar bagai kesetanan, tanpa hasil. Lastri mencoba melihat ke mana tikus itu menghilang. Sia-sia. Tikus itu lenyap! Mungkin langsung lompat ke luar atau turun ke bawah rumah. Binatang pengerat itu jauh lebih cepat dari ketangkasan seorang pemanjat cengkih kampung.

Dengkur suami menyadarkan dia untuk kembali ke dipan, mencoba tidur sembari bertanya-tanya mungkinkah tikus tadi hanya halusinasi. 

Beberapa menit ia berbaring memandang langit-langit kamar dengan penerangan remang dari lampu lima watt di teras samping, masuk lewat kisi-kisi jendela berkaca nako. 

Yakin tikus itu bukan khayalannya semata, Lastri menajamkan pendengaran, mengarahkan telinga kanan ke suara-suara paling pelan sekalipun. 

Tap…tap…tap…krkeeeekk…

Kan! Suara itu kembali. Gelisik langkah kaki kecil itu seolah mengejek Lastri, menggerogoti jatah tidur malam-malam pertama seorang pengantin perempuan. Derap kecil yang berarti si pengerat akan datang menuntaskan gigitan di jari kaki Lastri. 

Ia tahu tikus bisa menggigit jari kaki dan tangan manusia hingga putus, seperti kelingking kanan kawan sekolahnya dulu, Fiyah. Luka itu infeksi, bonyok, sebulan lebih bolak-balik ke puskesmas baru kering. Dokter yang merawat menjelaskan ludah tikus itu dijejali bermacam bakteri. 

Bahkan Rahmi, teman pemetik cengkih dari kampung tetangga, daun telinganya robek digigit tikus. Lastri percaya kisah itu karena ia melihat sendiri telinga Rahmi hilang sepertiga digigit binatang pengerat. Lastri tak habis pikir, bagaimana seseorang tidak menyadari ada tikus mengoyak daging telinga. 

Tak kalah parah yang dialami Usman, paman Lastri yang bekerja di pengolahan ikan asin, kehilangan kelingking kaki kiri dan dua jari kaki kanan, buntung digasak tikus. Kejadiannya tiga kali dalam dua bulan. Ini membuat Lastri merinding, sering mual, teringat penderita diabetes yang kakinya diamputasi, atau persendian jari terlepas penderita lepra.

Bagi Lastri, tikus-tikus di kampungnya suatu ketika bisa menjadi bencana, menebar wabah. Ia tak ingin menjadi bagian dari malapetaka itu. Samar-samar ia ingat, air liur tikus membuat seseorang tidak merasa bagian tubuhnya digigit, layaknya dibius, seperti dialami Kakek Rajaf, yang bagian ujung betisnya digigit tikus, bernanah, sehingga sepekan ke kebun ia harus berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat. 

Pikiran Lastri penuh oleh bayangan gigitan, ia merutuki si tikus hingga tertidur, namun terbangun lagi saat tikus itu kembali. Ia merasa ada elusan dan usapan jilatan di jari yang sama, perlahan-lahan, halus sekali. Lastri dengan cepat menendangnya, langsung menghidupkan lampu. Tapi si tikus tak kalah gesit meloncat, mengalahkan kecepatan cahaya, entah menikung ke sudut mana, tak berjejak.

Suaminya terbangun, berkerjap melihat lampu yang menyala, lalu melirik Lastri. Hanya sejenak, ngorok lagi, seperti tak terjadi apa-apa.

Lastri mematikan lampu, lalu duduk di dipan, mengusap-usap ujung jarinya. Meski ada bekas cakar kecil, tidak ada luka baru. Sekuat-kuatnya ia memelekkan mata, berkerjap-kerjap, khawatir tertidur.

Sekarang ia hanya bisa berbaring, dibalut takut, cemas dan geram. Hal buruk apa yang telah ia lakukan selama ini hingga bernasib begini? Ibu-ayahnya berkata, menikah akan membuat hidup lebih baik. Hidup siapa? Yang pasti bukan hidup Lastri. 

Lama Lastri berbaring, mata terbuka, menahan isak penuh amarah. Tanpa ia tahu si tikus mengintip dari pojok kamar. Di gelap kamar, samar Lastri merasakan gerakan tikus dalam gelap, mendekat ke arahnya. Lastri langsung bangun dan berusaha mengejar. Namun, seperti mencium bahaya, tikus lebih gesit kabur, masuk kembali ke lubang ia datang. 

Lastri makin geram. Ia menilik sekitar dalam samar cahaya. Perlahan ia bangkit mengambil beberapa sobekan karpet penutup semen yang teronggok di pojok kamar. Ia juga menyiapkan tas plastik kresek putih besar yang biasa ia pakai menampung sampah di samping dipannya. Lalu ia pura-pura tidur, ia kini berharap binatang itu datang. Lastri siap menghadapi bajingan perampas tidur itu.

Tap… tap… tap… krrrkkkk…

Aha. Si tikus datang. Lastri tetap diam, mencoba telentang sekaku mungkin. Nafasnya mulai cepat. Si tikus mendekat. Lastri bergeming, sepenuhnya memusatkan pikiran dan raga untuk menunggu, seperti pemburu menilik mangsa. 

Lastri merasakan bulu binatang pengerat itu mengelus jemari kakinya. Ia menunggu sampai si tikus mengolesi jemari kaki Lastri dengan liur untuk membuat kulit dan daging kebas. Saat tikus asyik menjilat, Lastri, secepat ia sanggup, menerkam dengan tangan kanannya. 

Perhitungannya jitu, ia mencengkeram tikus dengan robekan karpet di tangan, membuat lapisan layaknya perisai, tak mau mengotori tangannya menyentuh langsung tubuh si penggerogot kedamaian itu.

Si tikus tak menyerah begitu saja, ia meronta dan bercericit tertahan, mungkin kaget dengan gerak dan tenaga manusia yang sudah muak. Lastri merasakan perlawanan si tikus, kakinya yang bercakar kecil menendang-nendang dari dalam buntelan yang dibuat dari sobekan karpet. Tambah geram, Lastri mencengkeram semakin kuat. Sang tikus tetap mencoba loncat dari kurungan karpet. Ekornya yang ramping, abu, panjang, dengan beberapa helai rambut, bergerak cepat, meronta, berusaha melepaskan diri, namun tak kuasa. 

Menahan muntah, Lastri mengerang pelan. Ia menambah sobekan karpet dengan tangan kiri yang bebas, membuat bundel makin besar mengunci tikus di dalamnya. Jemari kanan Lastri masih mencengkeram badan si tikus, berusaha mencekik semakin kuat. 

Suaminya tetap mendengkur tak terganggu oleh jerit tikus dan kegaduhan cericit binatang yang bergulat untuk melepaskan diri. Mimpi apa gerangan laki-laki itu, ketika Lastri sedang bertempur untuk merebut kemenangan melawan seekor pengerat?

Gerakan tikus melemah. Lastri memasukkan bundelan ke dalam kresek putih yang sudah ia siapkan. Mengikat kresek dengan kuat, memastikan tikus itu sudah tak bergerak, ia lalu berjinjit ke arah pintu. Sambil berjongkok, ia mengambil batu bata penyangga pintu, menaruh bata di atas buntalan tikus dalam plastik, memposisikan paha kiri di atas bata, menumpukan seluruh tenaganya, lalu menggencet si tikus sekuat-kuatnya. Bunyi kresek tertahan dan kriuk patah tulang tikus tertindas bata tak menghentikan Latri. Ia menekan makin kencang.

Tikus itu ia rasa seperti tuntutan ibu ayahnya untuk cepat-cepat menikah, suaminya yang selalu menyuruh-nyuruh, mengecilkan keberadaan Lastri sebagai manusia, dan mertuanya yang mencibiri apapun yang ia lakukan. 

Ia berulang kali menekan-gencet tikus dalam plastik itu, bertubi-tubi, sehabis-habisnya, hingga tas menjadi gelap oleh darah.

Lastri tersenyum puas, emosinya meleleh. Ia melenggang ke tempat tidur, lega, merasa bebas, beban pikirannya lenyap sudah. 

Tak sampai enam langkah Lastri beringsut kembali ke pelukan kasur, tap… tap… tap… krrrkkk…

Suara itu terdengar lagi. Lastri menoleh ke kresek putih di pojok kamar dekat pintu. Kresek itu masih tergumpal di tempatnya. Belum juga ia sampai di dipan, suarakaki-kaki kecil itu kembali, melangkah dalam gelap. Suara-suara itu lagi-lagi mengitari kamarnya.

Lastri mendekap mukanya dengan kedua tangan. Ia berbisik dengan tangis pecah, lebih ke dirinya sendiri, “Oh, Tuhan, berapa banyak binatang busuk berkeliaran di rumah ini? Bagaimana mungkin hamba membesarkan anak-anak dengan baik di sebuah rumah yang dikuasai pengerat-pengerat dari kegelapan? Yang menggerayangi seisi kamar dan menggerogoti tubuh kami?”

Ia melirik suami, pendamping, pengemong kehidupan yang sepantasnya diajak bertanggung jawab membasmi tikus, tempat ia seharusnya menggantungkan perlindungan. Namun laki-laki itu tetap pulas mendengkur. [T]

Penulis: Lina PW
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Next Post

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Lina PW

Lina PW

Menulis cerpen, esai, serta menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2017, 2019, dan 2021 serta antologi Singa Raja Berkisah (Mahima, 2023). Ia juga mendirikan Nawang English, sebuah wadah belajar bahasa dan literasi di Denpasar.

Related Posts

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co