3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Lina PW by Lina PW
January 3, 2026
in Cerpen
Gigitan Menjelang Subuh | Cerpen Lina PW

Ilustrator: Lina PW

LANGKAH kaki kecil samar tapi sangat jelas di sunyi malam membangunkan Lastri dari tidur tak lelap. Ini malam keempat ia terbangun bahkan sebelum subuh tiba. Matanya nanar, mencoba melihat dalam gelap. 

Tap… tap… tap…krekkk…

Lastri memandang tegang berkeliling. Di mana bunyi-bunyi seperti meniru suara hantu itu? 

Duduk di tepi ranjang, ia menoleh ke pintu kamar. Lalu ke arah lemari, dan tumpukan baju di lantai. Sekilas ia juga menilik robekan karpet plastik penutup lantai semen kamar. Tiada sesuatupun bergerak. Ia lalu menghadap ke kepala dipan, tak juga ia temukan pembuat suara-suara itu. 

“Shhh… kenapa sih,” suaminya berbisik lirih sambil menggerakkan tangannya lemah, tanpa membuka mata, lalu mendengkur lagi. 

“Halah, nanya cuma sekedar saja,” sahut Lastri ketus. Hanya saat suaminya tak terbangun betul ia berani menjawab. 

Di siang hari Lastri tak berkutik di hadapan suami dan mertua. “Tak elok istri beradu mulut menyanggah suami, istri hanya perlu nurut dan ngangguk saja,” ujar mertuanya. Begitu selalu. 

Sejak menikah bulan lalu, Lastri selalu diam saat berkumpul dengan suami dan keluarga barunya. Ia hanya mengingat dan menyesali keputusannya menikah terlalu cepat. Itu juga karena keluarga Lastri mendesak ia untuk segera berumah tangga, keluar dari rumah gadisnya. 

Lastri masih memendam bara amarah pada ayah dan ibu, juga adik laki-laki yang jauh lebih disayang oleh orangtuanya. Padahal Lastri seorang pemanjat cengkih paling aktif di desanya. Tapi tetap saja mereka menginginkan Lastri segera pergi agar bapak dan ibunya dapat memusatkan perhatian pada sang adik, pewaris hektaran kebun mereka. 

Sejak awal ia meminta agar tidak buru-buru dinikahkan. Bukan dukungan atau permakluman yang ia dapat, malah orangtuanya mengancam akan mengusir. Diusir dari rumah sungguh aib bagi gadis di dusun. Mereka akan menjadi gunjingan, bahan omongan riuh saat panen cengkih. Maka banyak yang mendukung pernikahan secepat kilat oleh keluarga, meski belum tentu mereka akan bahagia. Lastri pun, tiada pilihan, akhirnya menyerah, ia bersedia dinikahi oleh kawan sekolah dasarnya dulu.

Tepat seminggu setelah menikah, di minggu pertama tahun baru, Lastri selalu terbangun lepas tengah malam karena bunyi sesosok mahluk yang tengah menelusuri pojok-pojok kamar, sepanjang kasur dan dipan yang ia tiduri bersama suami. Suara itu sungguh mengganggu, membuatnya gelisah dan muak. Saban malam suara-suara itu datang, namun yang terganggu sepertinya hanya Lastri.

“Ah khayalanmu saja itu, Dik,” jawab suaminya saat Lastri mengadukan keberadaan dan gangguan sosok bersuara menjijikkan itu. 

Lastri tak menyerah, ia bilang juga ke ibu mertua, berharap dapat penjelasan mengenai makhluk yang hidup bersama mereka di rumah kayu tua lapuk berderit. 

“Kami hidup di sini bertahun-tahun, Nak, tak pernah diganggu atau mendengar suara aneh apapun.” 

* * *

Beberapa malam terakhir Lastri makin pening setiap menjelang tidur. Kepalanya berdenyut-denyut, takut pada suara yang tak didengar oleh suami dan mertuanya.

Sesulit apapun ia tetap mencoba untuk tidur, demi bekerja dengan gesit di pagi hari. Dan malam itu ia terbangun bukan karena suara-suara ganjil, tapi karena merasakan gigitan kecil di ujung jari manis kaki kirinya. Ia langsung menarik kaki dan melihat setitik darah menetes dari bekas gigitan itu. Ia meringis, menekuk lutut, meraih telapak kaki dengan kedua tangan. Perih dirasa, keringat dingin membasahi tengkuk. Tubuhnya mematung, matanya membelalak ngeri melihat binatang yang menggigit jari kakinya. Tikus! Tikus nyaris sebesar teko air!

Tikus itu bertubuh gempal, kotoran kering menempel di bulu-bulu coklatnya, moncong tumpul berair bercericit kaget sebelum turun dari dipan. Lastri merasa dirinya akan muntah. Ekor abu-abu gundul si tikus panjang dan meliuk saat kabur lalu menghilang di kegelapan belakang lemari.

Bau sengak tikus culas itu menyergap hidung Lastri, sekejap namun melekat. Meninggalkan bau bangkai busuk bercampur got.

“Mustahil tidak ada penghuni rumah ini yang tak menyadari keberadaanya,” bisik Lastri tak percaya. 

Pelan, ia turun dari dipan, berjingkat bak kilat menelusuri pojok-pojok kamar bagai kesetanan, tanpa hasil. Lastri mencoba melihat ke mana tikus itu menghilang. Sia-sia. Tikus itu lenyap! Mungkin langsung lompat ke luar atau turun ke bawah rumah. Binatang pengerat itu jauh lebih cepat dari ketangkasan seorang pemanjat cengkih kampung.

Dengkur suami menyadarkan dia untuk kembali ke dipan, mencoba tidur sembari bertanya-tanya mungkinkah tikus tadi hanya halusinasi. 

Beberapa menit ia berbaring memandang langit-langit kamar dengan penerangan remang dari lampu lima watt di teras samping, masuk lewat kisi-kisi jendela berkaca nako. 

Yakin tikus itu bukan khayalannya semata, Lastri menajamkan pendengaran, mengarahkan telinga kanan ke suara-suara paling pelan sekalipun. 

Tap…tap…tap…krkeeeekk…

Kan! Suara itu kembali. Gelisik langkah kaki kecil itu seolah mengejek Lastri, menggerogoti jatah tidur malam-malam pertama seorang pengantin perempuan. Derap kecil yang berarti si pengerat akan datang menuntaskan gigitan di jari kaki Lastri. 

Ia tahu tikus bisa menggigit jari kaki dan tangan manusia hingga putus, seperti kelingking kanan kawan sekolahnya dulu, Fiyah. Luka itu infeksi, bonyok, sebulan lebih bolak-balik ke puskesmas baru kering. Dokter yang merawat menjelaskan ludah tikus itu dijejali bermacam bakteri. 

Bahkan Rahmi, teman pemetik cengkih dari kampung tetangga, daun telinganya robek digigit tikus. Lastri percaya kisah itu karena ia melihat sendiri telinga Rahmi hilang sepertiga digigit binatang pengerat. Lastri tak habis pikir, bagaimana seseorang tidak menyadari ada tikus mengoyak daging telinga. 

Tak kalah parah yang dialami Usman, paman Lastri yang bekerja di pengolahan ikan asin, kehilangan kelingking kaki kiri dan dua jari kaki kanan, buntung digasak tikus. Kejadiannya tiga kali dalam dua bulan. Ini membuat Lastri merinding, sering mual, teringat penderita diabetes yang kakinya diamputasi, atau persendian jari terlepas penderita lepra.

Bagi Lastri, tikus-tikus di kampungnya suatu ketika bisa menjadi bencana, menebar wabah. Ia tak ingin menjadi bagian dari malapetaka itu. Samar-samar ia ingat, air liur tikus membuat seseorang tidak merasa bagian tubuhnya digigit, layaknya dibius, seperti dialami Kakek Rajaf, yang bagian ujung betisnya digigit tikus, bernanah, sehingga sepekan ke kebun ia harus berjalan tertatih-tatih menggunakan tongkat. 

Pikiran Lastri penuh oleh bayangan gigitan, ia merutuki si tikus hingga tertidur, namun terbangun lagi saat tikus itu kembali. Ia merasa ada elusan dan usapan jilatan di jari yang sama, perlahan-lahan, halus sekali. Lastri dengan cepat menendangnya, langsung menghidupkan lampu. Tapi si tikus tak kalah gesit meloncat, mengalahkan kecepatan cahaya, entah menikung ke sudut mana, tak berjejak.

Suaminya terbangun, berkerjap melihat lampu yang menyala, lalu melirik Lastri. Hanya sejenak, ngorok lagi, seperti tak terjadi apa-apa.

Lastri mematikan lampu, lalu duduk di dipan, mengusap-usap ujung jarinya. Meski ada bekas cakar kecil, tidak ada luka baru. Sekuat-kuatnya ia memelekkan mata, berkerjap-kerjap, khawatir tertidur.

Sekarang ia hanya bisa berbaring, dibalut takut, cemas dan geram. Hal buruk apa yang telah ia lakukan selama ini hingga bernasib begini? Ibu-ayahnya berkata, menikah akan membuat hidup lebih baik. Hidup siapa? Yang pasti bukan hidup Lastri. 

Lama Lastri berbaring, mata terbuka, menahan isak penuh amarah. Tanpa ia tahu si tikus mengintip dari pojok kamar. Di gelap kamar, samar Lastri merasakan gerakan tikus dalam gelap, mendekat ke arahnya. Lastri langsung bangun dan berusaha mengejar. Namun, seperti mencium bahaya, tikus lebih gesit kabur, masuk kembali ke lubang ia datang. 

Lastri makin geram. Ia menilik sekitar dalam samar cahaya. Perlahan ia bangkit mengambil beberapa sobekan karpet penutup semen yang teronggok di pojok kamar. Ia juga menyiapkan tas plastik kresek putih besar yang biasa ia pakai menampung sampah di samping dipannya. Lalu ia pura-pura tidur, ia kini berharap binatang itu datang. Lastri siap menghadapi bajingan perampas tidur itu.

Tap… tap… tap… krrrkkkk…

Aha. Si tikus datang. Lastri tetap diam, mencoba telentang sekaku mungkin. Nafasnya mulai cepat. Si tikus mendekat. Lastri bergeming, sepenuhnya memusatkan pikiran dan raga untuk menunggu, seperti pemburu menilik mangsa. 

Lastri merasakan bulu binatang pengerat itu mengelus jemari kakinya. Ia menunggu sampai si tikus mengolesi jemari kaki Lastri dengan liur untuk membuat kulit dan daging kebas. Saat tikus asyik menjilat, Lastri, secepat ia sanggup, menerkam dengan tangan kanannya. 

Perhitungannya jitu, ia mencengkeram tikus dengan robekan karpet di tangan, membuat lapisan layaknya perisai, tak mau mengotori tangannya menyentuh langsung tubuh si penggerogot kedamaian itu.

Si tikus tak menyerah begitu saja, ia meronta dan bercericit tertahan, mungkin kaget dengan gerak dan tenaga manusia yang sudah muak. Lastri merasakan perlawanan si tikus, kakinya yang bercakar kecil menendang-nendang dari dalam buntelan yang dibuat dari sobekan karpet. Tambah geram, Lastri mencengkeram semakin kuat. Sang tikus tetap mencoba loncat dari kurungan karpet. Ekornya yang ramping, abu, panjang, dengan beberapa helai rambut, bergerak cepat, meronta, berusaha melepaskan diri, namun tak kuasa. 

Menahan muntah, Lastri mengerang pelan. Ia menambah sobekan karpet dengan tangan kiri yang bebas, membuat bundel makin besar mengunci tikus di dalamnya. Jemari kanan Lastri masih mencengkeram badan si tikus, berusaha mencekik semakin kuat. 

Suaminya tetap mendengkur tak terganggu oleh jerit tikus dan kegaduhan cericit binatang yang bergulat untuk melepaskan diri. Mimpi apa gerangan laki-laki itu, ketika Lastri sedang bertempur untuk merebut kemenangan melawan seekor pengerat?

Gerakan tikus melemah. Lastri memasukkan bundelan ke dalam kresek putih yang sudah ia siapkan. Mengikat kresek dengan kuat, memastikan tikus itu sudah tak bergerak, ia lalu berjinjit ke arah pintu. Sambil berjongkok, ia mengambil batu bata penyangga pintu, menaruh bata di atas buntalan tikus dalam plastik, memposisikan paha kiri di atas bata, menumpukan seluruh tenaganya, lalu menggencet si tikus sekuat-kuatnya. Bunyi kresek tertahan dan kriuk patah tulang tikus tertindas bata tak menghentikan Latri. Ia menekan makin kencang.

Tikus itu ia rasa seperti tuntutan ibu ayahnya untuk cepat-cepat menikah, suaminya yang selalu menyuruh-nyuruh, mengecilkan keberadaan Lastri sebagai manusia, dan mertuanya yang mencibiri apapun yang ia lakukan. 

Ia berulang kali menekan-gencet tikus dalam plastik itu, bertubi-tubi, sehabis-habisnya, hingga tas menjadi gelap oleh darah.

Lastri tersenyum puas, emosinya meleleh. Ia melenggang ke tempat tidur, lega, merasa bebas, beban pikirannya lenyap sudah. 

Tak sampai enam langkah Lastri beringsut kembali ke pelukan kasur, tap… tap… tap… krrrkkk…

Suara itu terdengar lagi. Lastri menoleh ke kresek putih di pojok kamar dekat pintu. Kresek itu masih tergumpal di tempatnya. Belum juga ia sampai di dipan, suarakaki-kaki kecil itu kembali, melangkah dalam gelap. Suara-suara itu lagi-lagi mengitari kamarnya.

Lastri mendekap mukanya dengan kedua tangan. Ia berbisik dengan tangis pecah, lebih ke dirinya sendiri, “Oh, Tuhan, berapa banyak binatang busuk berkeliaran di rumah ini? Bagaimana mungkin hamba membesarkan anak-anak dengan baik di sebuah rumah yang dikuasai pengerat-pengerat dari kegelapan? Yang menggerayangi seisi kamar dan menggerogoti tubuh kami?”

Ia melirik suami, pendamping, pengemong kehidupan yang sepantasnya diajak bertanggung jawab membasmi tikus, tempat ia seharusnya menggantungkan perlindungan. Namun laki-laki itu tetap pulas mendengkur. [T]

Penulis: Lina PW
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Sinduputra | Waktunya untuk Mencintai

Next Post

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Lina PW

Lina PW

Menulis cerpen, esai, serta menerjemahkan karya sastra Indonesia ke dalam bahasa Inggris. Cerpen-cerpennya terhimpun dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas 2017, 2019, dan 2021 serta antologi Singa Raja Berkisah (Mahima, 2023). Ia juga mendirikan Nawang English, sebuah wadah belajar bahasa dan literasi di Denpasar.

Related Posts

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
0
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

Read moreDetails

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
0
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

Read moreDetails

Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

by Dody Widianto
May 22, 2026
0
Di Pasar Cublak, Setelah Pinus-Pinus Berbisik | Cerpen Dody Widianto

RASA-RASANYA kau tak akan kuat memendam sendiri masalahmu ini. Kau yang semata wayang, kau yang ditinggal ayahmu saat umurmu angka...

Read moreDetails

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails
Next Post
Jangan Retak Perahu Negeriku, Jatuh ke Penguasa Tidak Amanah

Korupsi Simbolik dan Runtuhnya Seorang Sultan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co