25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 28, 2025
in Cerpen
Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di kota kecil itu selalu datang dengan langkah lembut. Kabut tipis menari di antara sawah yang baru disiram embun. Suara ayam dan desir angin dari arah perbukitan seperti lagu lama yang tak pernah selesai dinyanyikan.

Di ujung jalan kampung, seorang pemuda melangkah pelan sambil menenteng buku sketsa dan tas kain berisi cat air. Namanya Dimas; seorang seniman sederhana yang hidup dari kelas menggambar anak-anak dan pesanan kecil dari kios-kios di pasar. Ia bukan seniman besar, tapi di setiap coretannya ada kesetiaan pada kehidupan, pada kenangan, dan pada seseorang yang diam-diam masih ia cintai.

Pagi itu, seperti biasa, ia menuju pasar kecamatan, bukan untuk berbelanja, tapi untuk menangkap denyut kehidupan. Pasar itu bukan sekadar tempat bertukar barang, tapi juga tempat bertukar cerita. Para ibu menawar harga cabai, anak-anak menatap warna kembang gula, dan suara tukang becak bersahutan dengan musik dangdut dari warung kopi.

Dimas membuka buku sketsanya di pojok warung, menatap wajah-wajah yang lelah tapi tulus. Ia menulis di bawah salah satu gambar pedagang sayur: “Di wajah mereka, aku belajar tentang bertahan. Dalam tawa mereka, aku belajar tentang syukur.”

Sore itu, angin membawa kabar lama: Rara pulang. Ia sahabat masa kecil Dimas, teman berlari di pinggir sawah, teman menulis nama di pasir sungai, teman yang diam-diam ia cintai tapi tak pernah ia miliki.

Rara kini bekerja di Jakarta sebagai penata acara. Pulangnya kali ini, katanya, untuk membantu pertunjukan seni desa. Ketika Rara datang ke sanggar sore itu, cahaya sore seperti menunduk.

Dimas terpaku, waktu seperti mundur, dan aroma tanah basah kembali membawa wajah masa kecil.

“Masih menggambar awan?” tanya Rara sambil menyentuh kuas di meja.
“Masih,” jawab Dimas pelan. “Tapi sekarang awannya lebih banyak hujan.”

Rara tersenyum. “Hujan itu kan juga bentuk cinta, Dim. Hanya saja ia tak menetap.”

Beberapa hari berikutnya, mereka sering berjalan bersama. Rara ingin melihat kehidupan desa dengan mata yang dulu sempat ia tinggalkan.

Suatu pagi mereka ke pasar kecamatan. Rara menenteng kamera kecil, sementara Dimas membawa buku sketsa.

“Kau tahu,” kata Rara sambil mengabadikan suasana, “dulu aku selalu berpikir kota adalah tempat orang sukses. Tapi lihat ini… kehidupan sederhana pun punya cahaya.”

Dimas tersenyum. “Kau baru menyadarinya sekarang? Di sini, orang tak banyak bicara tentang sukses. Mereka bicara tentang cukup, dan hati yang tenang.”

Mereka berhenti di warung kopi. Seorang pedagang tua menawari tempe goreng dan teh panas. Dimas memesan dua gelas.

“Mas Dimas ini sering menggambar di pasar,” kata si pedagang ramah. “Tiap kali lihat saya, dia selalu bilang, wajah bapak ini penuh cerita.”

Rara tertawa.

“Masih suka menggoda orang dengan kata-kata, ya?”
Dimas menjawab ringan, “Bukan menggoda, Ra. Cuma mencoba menulis hidup dengan cara yang tidak membuatnya kehilangan makna.”

Menjelang sore, mereka menuju balai desa. Malam nanti akan ada pertunjukan wayang kertas, tradisi lama yang nyaris punah, dimainkan anak-anak sanggar Dimas. Rara diminta membantu menata lampu dan musik.

Di panggung sederhana, anak-anak sibuk mempersiapkan layar putih dari kain bekas dan potongan kardus bergambar tokoh pewayangan. Rara mengamati mereka dengan mata yang berbinar.

“Indah sekali, Dim. Mereka percaya bahwa imajinasi bisa menyala, bahkan tanpa listrik yang sempurna.”

“Ya,” jawab Dimas. “Di sini, yang penting bukan hasilnya, tapi semangatnya. Hidup juga begitu.”

Malam pun turun. Lampu petromaks menyala, menebar cahaya kuning lembut. Warga desa datang membawa tikar dan anak-anak kecil. Musik gamelan sederhana mulai mengalun, dan bayangan tokoh wayang kertas menari di layar putih.

Di tengah pertunjukan, Rara memandang Dimas yang duduk di antara anak-anak. Wajahnya diterangi cahaya obor. Ada ketenangan di sana, ketenangan yang tak pernah ia temui di kota. Dalam hati ia berkata pelan: “Tuhan, mungkin aku yang dulu terlalu cepat berlari, meninggalkan tempat yang sebenarnya memelihara jiwa.”

Usai pertunjukan, mereka berjalan pulang melewati jalan desa yang sunyi. Bulan menggantung di atas pohon jati.

“Terima kasih, Dim. Aku seperti menemukan lagi bagian diriku yang hilang,” kata Rara. “Bagian yang mana?” “Yang bisa bahagia hanya dengan duduk, tanpa harus membuktikan apa-apa.”

Dimas menatapnya, lalu berkata pelan, “Rara, kadang kita memang harus kehilangan arah dulu, baru tahu ke mana seharusnya pulang.”

Rara tersenyum. “Kau selalu punya cara membuat kalimat jadi doa.” “Karena hidupku sendiri adalah doa yang tak selesai.”

Mereka berhenti di tepi sawah. Angin malam membawa suara jangkrik. Dimas memandang langit, lalu berkata dalam hati: “Rara, mungkin aku bukan rumah tempat kau pulang. Tapi biarlah aku jadi jendela, tempat kau melihat dunia dengan tenang, meski sebentar.”

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Pertunjukan desa usai, Rara bersiap kembali ke Jakarta. Pagi sebelum ia berangkat, ia datang lagi ke sanggar. Di meja, terbuka buku sketsa Dimas. Di halaman terakhir, ada gambar dua orang berdiri di bawah pohon jati, tidak berpegangan, tapi berdampingan.

Di bawahnya tertulis: Ku ingin kau tahu, aku masih di sini. Bukan menunggu, tapi menjaga sesuatu yang dulu pernah indah.

Rara menatap tulisan itu lama.

“Dim, kau tahu… aku iri. Kau bisa setia bahkan pada sesuatu yang tak lagi ada.”

Dimas tersenyum samar. “Setia bukan soal waktu, Ra. Tapi tentang kesediaan hati untuk tidak membenci apa yang telah pergi.”

Ketika Rara melangkah pergi, Dimas menatap punggungnya hingga hilang di tikungan jalan yang basah oleh embun. Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Aku tidak menyesal pernah mencintainya. Cinta ini mungkin tak sampai, tapi ia membuatku lebih mengerti arti memiliki tanpa menggenggam.”

Malam itu, di sanggar yang senyap, Dimas menulis kalimat terakhir di buku hariannya:

Jika suatu hari kau merasa sendiri di tengah kota, lihatlah ke langit senja, mungkin di sana, warna jingganya masih menyimpan namamu.

Dan di bawah cahaya lampu minyak, Dimas menutup matanya. Tak ada tangis, tak ada sesal. Hanya senyum kecil dari seorang yang akhirnya memahami bahwa
cinta sejati tak perlu tahu akhir, cukup tahu bahwa ia pernah benar-benar ada. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banjar Peninjoan Batuan dalam Lomba Baleganjur Ngarap di Desa Batuan: Bangun Regenerasi, Harmonisasi Pawongan

Next Post

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co