6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 28, 2025
in Cerpen
Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di kota kecil itu selalu datang dengan langkah lembut. Kabut tipis menari di antara sawah yang baru disiram embun. Suara ayam dan desir angin dari arah perbukitan seperti lagu lama yang tak pernah selesai dinyanyikan.

Di ujung jalan kampung, seorang pemuda melangkah pelan sambil menenteng buku sketsa dan tas kain berisi cat air. Namanya Dimas; seorang seniman sederhana yang hidup dari kelas menggambar anak-anak dan pesanan kecil dari kios-kios di pasar. Ia bukan seniman besar, tapi di setiap coretannya ada kesetiaan pada kehidupan, pada kenangan, dan pada seseorang yang diam-diam masih ia cintai.

Pagi itu, seperti biasa, ia menuju pasar kecamatan, bukan untuk berbelanja, tapi untuk menangkap denyut kehidupan. Pasar itu bukan sekadar tempat bertukar barang, tapi juga tempat bertukar cerita. Para ibu menawar harga cabai, anak-anak menatap warna kembang gula, dan suara tukang becak bersahutan dengan musik dangdut dari warung kopi.

Dimas membuka buku sketsanya di pojok warung, menatap wajah-wajah yang lelah tapi tulus. Ia menulis di bawah salah satu gambar pedagang sayur: “Di wajah mereka, aku belajar tentang bertahan. Dalam tawa mereka, aku belajar tentang syukur.”

Sore itu, angin membawa kabar lama: Rara pulang. Ia sahabat masa kecil Dimas, teman berlari di pinggir sawah, teman menulis nama di pasir sungai, teman yang diam-diam ia cintai tapi tak pernah ia miliki.

Rara kini bekerja di Jakarta sebagai penata acara. Pulangnya kali ini, katanya, untuk membantu pertunjukan seni desa. Ketika Rara datang ke sanggar sore itu, cahaya sore seperti menunduk.

Dimas terpaku, waktu seperti mundur, dan aroma tanah basah kembali membawa wajah masa kecil.

“Masih menggambar awan?” tanya Rara sambil menyentuh kuas di meja.
“Masih,” jawab Dimas pelan. “Tapi sekarang awannya lebih banyak hujan.”

Rara tersenyum. “Hujan itu kan juga bentuk cinta, Dim. Hanya saja ia tak menetap.”

Beberapa hari berikutnya, mereka sering berjalan bersama. Rara ingin melihat kehidupan desa dengan mata yang dulu sempat ia tinggalkan.

Suatu pagi mereka ke pasar kecamatan. Rara menenteng kamera kecil, sementara Dimas membawa buku sketsa.

“Kau tahu,” kata Rara sambil mengabadikan suasana, “dulu aku selalu berpikir kota adalah tempat orang sukses. Tapi lihat ini… kehidupan sederhana pun punya cahaya.”

Dimas tersenyum. “Kau baru menyadarinya sekarang? Di sini, orang tak banyak bicara tentang sukses. Mereka bicara tentang cukup, dan hati yang tenang.”

Mereka berhenti di warung kopi. Seorang pedagang tua menawari tempe goreng dan teh panas. Dimas memesan dua gelas.

“Mas Dimas ini sering menggambar di pasar,” kata si pedagang ramah. “Tiap kali lihat saya, dia selalu bilang, wajah bapak ini penuh cerita.”

Rara tertawa.

“Masih suka menggoda orang dengan kata-kata, ya?”
Dimas menjawab ringan, “Bukan menggoda, Ra. Cuma mencoba menulis hidup dengan cara yang tidak membuatnya kehilangan makna.”

Menjelang sore, mereka menuju balai desa. Malam nanti akan ada pertunjukan wayang kertas, tradisi lama yang nyaris punah, dimainkan anak-anak sanggar Dimas. Rara diminta membantu menata lampu dan musik.

Di panggung sederhana, anak-anak sibuk mempersiapkan layar putih dari kain bekas dan potongan kardus bergambar tokoh pewayangan. Rara mengamati mereka dengan mata yang berbinar.

“Indah sekali, Dim. Mereka percaya bahwa imajinasi bisa menyala, bahkan tanpa listrik yang sempurna.”

“Ya,” jawab Dimas. “Di sini, yang penting bukan hasilnya, tapi semangatnya. Hidup juga begitu.”

Malam pun turun. Lampu petromaks menyala, menebar cahaya kuning lembut. Warga desa datang membawa tikar dan anak-anak kecil. Musik gamelan sederhana mulai mengalun, dan bayangan tokoh wayang kertas menari di layar putih.

Di tengah pertunjukan, Rara memandang Dimas yang duduk di antara anak-anak. Wajahnya diterangi cahaya obor. Ada ketenangan di sana, ketenangan yang tak pernah ia temui di kota. Dalam hati ia berkata pelan: “Tuhan, mungkin aku yang dulu terlalu cepat berlari, meninggalkan tempat yang sebenarnya memelihara jiwa.”

Usai pertunjukan, mereka berjalan pulang melewati jalan desa yang sunyi. Bulan menggantung di atas pohon jati.

“Terima kasih, Dim. Aku seperti menemukan lagi bagian diriku yang hilang,” kata Rara. “Bagian yang mana?” “Yang bisa bahagia hanya dengan duduk, tanpa harus membuktikan apa-apa.”

Dimas menatapnya, lalu berkata pelan, “Rara, kadang kita memang harus kehilangan arah dulu, baru tahu ke mana seharusnya pulang.”

Rara tersenyum. “Kau selalu punya cara membuat kalimat jadi doa.” “Karena hidupku sendiri adalah doa yang tak selesai.”

Mereka berhenti di tepi sawah. Angin malam membawa suara jangkrik. Dimas memandang langit, lalu berkata dalam hati: “Rara, mungkin aku bukan rumah tempat kau pulang. Tapi biarlah aku jadi jendela, tempat kau melihat dunia dengan tenang, meski sebentar.”

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Pertunjukan desa usai, Rara bersiap kembali ke Jakarta. Pagi sebelum ia berangkat, ia datang lagi ke sanggar. Di meja, terbuka buku sketsa Dimas. Di halaman terakhir, ada gambar dua orang berdiri di bawah pohon jati, tidak berpegangan, tapi berdampingan.

Di bawahnya tertulis: Ku ingin kau tahu, aku masih di sini. Bukan menunggu, tapi menjaga sesuatu yang dulu pernah indah.

Rara menatap tulisan itu lama.

“Dim, kau tahu… aku iri. Kau bisa setia bahkan pada sesuatu yang tak lagi ada.”

Dimas tersenyum samar. “Setia bukan soal waktu, Ra. Tapi tentang kesediaan hati untuk tidak membenci apa yang telah pergi.”

Ketika Rara melangkah pergi, Dimas menatap punggungnya hingga hilang di tikungan jalan yang basah oleh embun. Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Aku tidak menyesal pernah mencintainya. Cinta ini mungkin tak sampai, tapi ia membuatku lebih mengerti arti memiliki tanpa menggenggam.”

Malam itu, di sanggar yang senyap, Dimas menulis kalimat terakhir di buku hariannya:

Jika suatu hari kau merasa sendiri di tengah kota, lihatlah ke langit senja, mungkin di sana, warna jingganya masih menyimpan namamu.

Dan di bawah cahaya lampu minyak, Dimas menutup matanya. Tak ada tangis, tak ada sesal. Hanya senyum kecil dari seorang yang akhirnya memahami bahwa
cinta sejati tak perlu tahu akhir, cukup tahu bahwa ia pernah benar-benar ada. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banjar Peninjoan Batuan dalam Lomba Baleganjur Ngarap di Desa Batuan: Bangun Regenerasi, Harmonisasi Pawongan

Next Post

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

by Muhammad Khairu Rahman
March 1, 2026
0
Kakek yang Inkompeten |  Cerpen Muhammad Khairu Rahman

DI sebuah kota yang tumbuh setengah hati—antara ambisi menjadi metropolitan dan kebiasaan menjadi desa besar—tinggallah seorang pejabat tua bernama samaran...

Read moreDetails

Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 28, 2026
0
Rumah Wartawan | Cerpen Angga Wijaya

WARTAWAN itu menghela napas dalam-dalam. Ia merasa gundah. Rumah yang ia tempati belasan tahun terakhir hanyalah kamar sempit. Bersama istri...

Read moreDetails

Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
February 27, 2026
0
Berisik Seharian | Cerpen Kadek Windari

“Sudah matang, Bu?”  teriaknya. Itu pertanyaan pukul 05.30 pagi. Aku tahu persis jamnya karena sejak pindah ke kompleks perumahan ini,...

Read moreDetails

Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
February 22, 2026
0
Idup, Idup! | Cerpen Putri Harya

SESEORANG sedang menyalakan dupa ketika lantainya terasa bergerak sedikit ke kiri lalu ke kanan. Kayu-kayu usuk rumah ikut berderit. Mata...

Read moreDetails

Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
February 21, 2026
0
Pejabat Kampus yang Sok Ilmiah | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di Universitas Bumi Langit, tempat matahari sering kalah terang dari ego para dosennya, terletak sebuah fakultas yang namanya saja sudah...

Read moreDetails

Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
February 20, 2026
0
Penghapus di Kepala Ayah | Cerpen Aksara Caramellia

SETIAP pagi, sebelum matahari benar-benar mengusir sisa gelap dari halaman rumah, Ayah sudah duduk di meja makan dengan buku catatan...

Read moreDetails

Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

by Safir Ahyanuddin
February 15, 2026
0
Menggali Kubur yang Telah Subur | Cerpen Safir Ahyanuddin

AKU pertama kali menggali kubur itu ketika usiaku sembilan tahun. Pagi itu tanah masih menyimpan dingin dari hujan semalam. Kakiku...

Read moreDetails

Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

by Angga Wijaya
February 14, 2026
0
Wartawan Gagal | Cerpen Angga Wijaya

DUL percaya satu hal, bahwa seks adalah tanda kehidupan. Selama masih bisa, berarti ia belum selesai. Itulah sebabnya, pukul 04.10...

Read moreDetails

Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
February 13, 2026
0
Made Jadi Hakim | Cerpen I Made Sugianto

Kakek tua itu duduk melamun seusai menyabit rumput. Menyandarkan tubuh ringkihnya di batang pohon asem nan rimbun. Keranjangnya sudah penuh...

Read moreDetails

Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

by Galuh F Putra
February 8, 2026
0
Melankolia di Akhir Kanda | Cerpen Galuh F Putra

SITA menyandarkan pipinya pada telapak tangan, membiarkan jari-jarinya bergerak lembut menyentuh kulit wajahnya yang masih hangat dari sentuhan sore hari....

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co