12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 28, 2025
in Cerpen
Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di kota kecil itu selalu datang dengan langkah lembut. Kabut tipis menari di antara sawah yang baru disiram embun. Suara ayam dan desir angin dari arah perbukitan seperti lagu lama yang tak pernah selesai dinyanyikan.

Di ujung jalan kampung, seorang pemuda melangkah pelan sambil menenteng buku sketsa dan tas kain berisi cat air. Namanya Dimas; seorang seniman sederhana yang hidup dari kelas menggambar anak-anak dan pesanan kecil dari kios-kios di pasar. Ia bukan seniman besar, tapi di setiap coretannya ada kesetiaan pada kehidupan, pada kenangan, dan pada seseorang yang diam-diam masih ia cintai.

Pagi itu, seperti biasa, ia menuju pasar kecamatan, bukan untuk berbelanja, tapi untuk menangkap denyut kehidupan. Pasar itu bukan sekadar tempat bertukar barang, tapi juga tempat bertukar cerita. Para ibu menawar harga cabai, anak-anak menatap warna kembang gula, dan suara tukang becak bersahutan dengan musik dangdut dari warung kopi.

Dimas membuka buku sketsanya di pojok warung, menatap wajah-wajah yang lelah tapi tulus. Ia menulis di bawah salah satu gambar pedagang sayur: “Di wajah mereka, aku belajar tentang bertahan. Dalam tawa mereka, aku belajar tentang syukur.”

Sore itu, angin membawa kabar lama: Rara pulang. Ia sahabat masa kecil Dimas, teman berlari di pinggir sawah, teman menulis nama di pasir sungai, teman yang diam-diam ia cintai tapi tak pernah ia miliki.

Rara kini bekerja di Jakarta sebagai penata acara. Pulangnya kali ini, katanya, untuk membantu pertunjukan seni desa. Ketika Rara datang ke sanggar sore itu, cahaya sore seperti menunduk.

Dimas terpaku, waktu seperti mundur, dan aroma tanah basah kembali membawa wajah masa kecil.

“Masih menggambar awan?” tanya Rara sambil menyentuh kuas di meja.
“Masih,” jawab Dimas pelan. “Tapi sekarang awannya lebih banyak hujan.”

Rara tersenyum. “Hujan itu kan juga bentuk cinta, Dim. Hanya saja ia tak menetap.”

Beberapa hari berikutnya, mereka sering berjalan bersama. Rara ingin melihat kehidupan desa dengan mata yang dulu sempat ia tinggalkan.

Suatu pagi mereka ke pasar kecamatan. Rara menenteng kamera kecil, sementara Dimas membawa buku sketsa.

“Kau tahu,” kata Rara sambil mengabadikan suasana, “dulu aku selalu berpikir kota adalah tempat orang sukses. Tapi lihat ini… kehidupan sederhana pun punya cahaya.”

Dimas tersenyum. “Kau baru menyadarinya sekarang? Di sini, orang tak banyak bicara tentang sukses. Mereka bicara tentang cukup, dan hati yang tenang.”

Mereka berhenti di warung kopi. Seorang pedagang tua menawari tempe goreng dan teh panas. Dimas memesan dua gelas.

“Mas Dimas ini sering menggambar di pasar,” kata si pedagang ramah. “Tiap kali lihat saya, dia selalu bilang, wajah bapak ini penuh cerita.”

Rara tertawa.

“Masih suka menggoda orang dengan kata-kata, ya?”
Dimas menjawab ringan, “Bukan menggoda, Ra. Cuma mencoba menulis hidup dengan cara yang tidak membuatnya kehilangan makna.”

Menjelang sore, mereka menuju balai desa. Malam nanti akan ada pertunjukan wayang kertas, tradisi lama yang nyaris punah, dimainkan anak-anak sanggar Dimas. Rara diminta membantu menata lampu dan musik.

Di panggung sederhana, anak-anak sibuk mempersiapkan layar putih dari kain bekas dan potongan kardus bergambar tokoh pewayangan. Rara mengamati mereka dengan mata yang berbinar.

“Indah sekali, Dim. Mereka percaya bahwa imajinasi bisa menyala, bahkan tanpa listrik yang sempurna.”

“Ya,” jawab Dimas. “Di sini, yang penting bukan hasilnya, tapi semangatnya. Hidup juga begitu.”

Malam pun turun. Lampu petromaks menyala, menebar cahaya kuning lembut. Warga desa datang membawa tikar dan anak-anak kecil. Musik gamelan sederhana mulai mengalun, dan bayangan tokoh wayang kertas menari di layar putih.

Di tengah pertunjukan, Rara memandang Dimas yang duduk di antara anak-anak. Wajahnya diterangi cahaya obor. Ada ketenangan di sana, ketenangan yang tak pernah ia temui di kota. Dalam hati ia berkata pelan: “Tuhan, mungkin aku yang dulu terlalu cepat berlari, meninggalkan tempat yang sebenarnya memelihara jiwa.”

Usai pertunjukan, mereka berjalan pulang melewati jalan desa yang sunyi. Bulan menggantung di atas pohon jati.

“Terima kasih, Dim. Aku seperti menemukan lagi bagian diriku yang hilang,” kata Rara. “Bagian yang mana?” “Yang bisa bahagia hanya dengan duduk, tanpa harus membuktikan apa-apa.”

Dimas menatapnya, lalu berkata pelan, “Rara, kadang kita memang harus kehilangan arah dulu, baru tahu ke mana seharusnya pulang.”

Rara tersenyum. “Kau selalu punya cara membuat kalimat jadi doa.” “Karena hidupku sendiri adalah doa yang tak selesai.”

Mereka berhenti di tepi sawah. Angin malam membawa suara jangkrik. Dimas memandang langit, lalu berkata dalam hati: “Rara, mungkin aku bukan rumah tempat kau pulang. Tapi biarlah aku jadi jendela, tempat kau melihat dunia dengan tenang, meski sebentar.”

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Pertunjukan desa usai, Rara bersiap kembali ke Jakarta. Pagi sebelum ia berangkat, ia datang lagi ke sanggar. Di meja, terbuka buku sketsa Dimas. Di halaman terakhir, ada gambar dua orang berdiri di bawah pohon jati, tidak berpegangan, tapi berdampingan.

Di bawahnya tertulis: Ku ingin kau tahu, aku masih di sini. Bukan menunggu, tapi menjaga sesuatu yang dulu pernah indah.

Rara menatap tulisan itu lama.

“Dim, kau tahu… aku iri. Kau bisa setia bahkan pada sesuatu yang tak lagi ada.”

Dimas tersenyum samar. “Setia bukan soal waktu, Ra. Tapi tentang kesediaan hati untuk tidak membenci apa yang telah pergi.”

Ketika Rara melangkah pergi, Dimas menatap punggungnya hingga hilang di tikungan jalan yang basah oleh embun. Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Aku tidak menyesal pernah mencintainya. Cinta ini mungkin tak sampai, tapi ia membuatku lebih mengerti arti memiliki tanpa menggenggam.”

Malam itu, di sanggar yang senyap, Dimas menulis kalimat terakhir di buku hariannya:

Jika suatu hari kau merasa sendiri di tengah kota, lihatlah ke langit senja, mungkin di sana, warna jingganya masih menyimpan namamu.

Dan di bawah cahaya lampu minyak, Dimas menutup matanya. Tak ada tangis, tak ada sesal. Hanya senyum kecil dari seorang yang akhirnya memahami bahwa
cinta sejati tak perlu tahu akhir, cukup tahu bahwa ia pernah benar-benar ada. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banjar Peninjoan Batuan dalam Lomba Baleganjur Ngarap di Desa Batuan: Bangun Regenerasi, Harmonisasi Pawongan

Next Post

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co