2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
December 28, 2025
in Cerpen
Rara dan Bagian Diri yang Hilang | Cerpen Ahmad Sihabudin

Ilustrasi tatkala.co | Canva

PAGI di kota kecil itu selalu datang dengan langkah lembut. Kabut tipis menari di antara sawah yang baru disiram embun. Suara ayam dan desir angin dari arah perbukitan seperti lagu lama yang tak pernah selesai dinyanyikan.

Di ujung jalan kampung, seorang pemuda melangkah pelan sambil menenteng buku sketsa dan tas kain berisi cat air. Namanya Dimas; seorang seniman sederhana yang hidup dari kelas menggambar anak-anak dan pesanan kecil dari kios-kios di pasar. Ia bukan seniman besar, tapi di setiap coretannya ada kesetiaan pada kehidupan, pada kenangan, dan pada seseorang yang diam-diam masih ia cintai.

Pagi itu, seperti biasa, ia menuju pasar kecamatan, bukan untuk berbelanja, tapi untuk menangkap denyut kehidupan. Pasar itu bukan sekadar tempat bertukar barang, tapi juga tempat bertukar cerita. Para ibu menawar harga cabai, anak-anak menatap warna kembang gula, dan suara tukang becak bersahutan dengan musik dangdut dari warung kopi.

Dimas membuka buku sketsanya di pojok warung, menatap wajah-wajah yang lelah tapi tulus. Ia menulis di bawah salah satu gambar pedagang sayur: “Di wajah mereka, aku belajar tentang bertahan. Dalam tawa mereka, aku belajar tentang syukur.”

Sore itu, angin membawa kabar lama: Rara pulang. Ia sahabat masa kecil Dimas, teman berlari di pinggir sawah, teman menulis nama di pasir sungai, teman yang diam-diam ia cintai tapi tak pernah ia miliki.

Rara kini bekerja di Jakarta sebagai penata acara. Pulangnya kali ini, katanya, untuk membantu pertunjukan seni desa. Ketika Rara datang ke sanggar sore itu, cahaya sore seperti menunduk.

Dimas terpaku, waktu seperti mundur, dan aroma tanah basah kembali membawa wajah masa kecil.

“Masih menggambar awan?” tanya Rara sambil menyentuh kuas di meja.
“Masih,” jawab Dimas pelan. “Tapi sekarang awannya lebih banyak hujan.”

Rara tersenyum. “Hujan itu kan juga bentuk cinta, Dim. Hanya saja ia tak menetap.”

Beberapa hari berikutnya, mereka sering berjalan bersama. Rara ingin melihat kehidupan desa dengan mata yang dulu sempat ia tinggalkan.

Suatu pagi mereka ke pasar kecamatan. Rara menenteng kamera kecil, sementara Dimas membawa buku sketsa.

“Kau tahu,” kata Rara sambil mengabadikan suasana, “dulu aku selalu berpikir kota adalah tempat orang sukses. Tapi lihat ini… kehidupan sederhana pun punya cahaya.”

Dimas tersenyum. “Kau baru menyadarinya sekarang? Di sini, orang tak banyak bicara tentang sukses. Mereka bicara tentang cukup, dan hati yang tenang.”

Mereka berhenti di warung kopi. Seorang pedagang tua menawari tempe goreng dan teh panas. Dimas memesan dua gelas.

“Mas Dimas ini sering menggambar di pasar,” kata si pedagang ramah. “Tiap kali lihat saya, dia selalu bilang, wajah bapak ini penuh cerita.”

Rara tertawa.

“Masih suka menggoda orang dengan kata-kata, ya?”
Dimas menjawab ringan, “Bukan menggoda, Ra. Cuma mencoba menulis hidup dengan cara yang tidak membuatnya kehilangan makna.”

Menjelang sore, mereka menuju balai desa. Malam nanti akan ada pertunjukan wayang kertas, tradisi lama yang nyaris punah, dimainkan anak-anak sanggar Dimas. Rara diminta membantu menata lampu dan musik.

Di panggung sederhana, anak-anak sibuk mempersiapkan layar putih dari kain bekas dan potongan kardus bergambar tokoh pewayangan. Rara mengamati mereka dengan mata yang berbinar.

“Indah sekali, Dim. Mereka percaya bahwa imajinasi bisa menyala, bahkan tanpa listrik yang sempurna.”

“Ya,” jawab Dimas. “Di sini, yang penting bukan hasilnya, tapi semangatnya. Hidup juga begitu.”

Malam pun turun. Lampu petromaks menyala, menebar cahaya kuning lembut. Warga desa datang membawa tikar dan anak-anak kecil. Musik gamelan sederhana mulai mengalun, dan bayangan tokoh wayang kertas menari di layar putih.

Di tengah pertunjukan, Rara memandang Dimas yang duduk di antara anak-anak. Wajahnya diterangi cahaya obor. Ada ketenangan di sana, ketenangan yang tak pernah ia temui di kota. Dalam hati ia berkata pelan: “Tuhan, mungkin aku yang dulu terlalu cepat berlari, meninggalkan tempat yang sebenarnya memelihara jiwa.”

Usai pertunjukan, mereka berjalan pulang melewati jalan desa yang sunyi. Bulan menggantung di atas pohon jati.

“Terima kasih, Dim. Aku seperti menemukan lagi bagian diriku yang hilang,” kata Rara. “Bagian yang mana?” “Yang bisa bahagia hanya dengan duduk, tanpa harus membuktikan apa-apa.”

Dimas menatapnya, lalu berkata pelan, “Rara, kadang kita memang harus kehilangan arah dulu, baru tahu ke mana seharusnya pulang.”

Rara tersenyum. “Kau selalu punya cara membuat kalimat jadi doa.” “Karena hidupku sendiri adalah doa yang tak selesai.”

Mereka berhenti di tepi sawah. Angin malam membawa suara jangkrik. Dimas memandang langit, lalu berkata dalam hati: “Rara, mungkin aku bukan rumah tempat kau pulang. Tapi biarlah aku jadi jendela, tempat kau melihat dunia dengan tenang, meski sebentar.”

Hari-hari berikutnya berjalan cepat. Pertunjukan desa usai, Rara bersiap kembali ke Jakarta. Pagi sebelum ia berangkat, ia datang lagi ke sanggar. Di meja, terbuka buku sketsa Dimas. Di halaman terakhir, ada gambar dua orang berdiri di bawah pohon jati, tidak berpegangan, tapi berdampingan.

Di bawahnya tertulis: Ku ingin kau tahu, aku masih di sini. Bukan menunggu, tapi menjaga sesuatu yang dulu pernah indah.

Rara menatap tulisan itu lama.

“Dim, kau tahu… aku iri. Kau bisa setia bahkan pada sesuatu yang tak lagi ada.”

Dimas tersenyum samar. “Setia bukan soal waktu, Ra. Tapi tentang kesediaan hati untuk tidak membenci apa yang telah pergi.”

Ketika Rara melangkah pergi, Dimas menatap punggungnya hingga hilang di tikungan jalan yang basah oleh embun. Lalu ia berbisik pada dirinya sendiri:

“Aku tidak menyesal pernah mencintainya. Cinta ini mungkin tak sampai, tapi ia membuatku lebih mengerti arti memiliki tanpa menggenggam.”

Malam itu, di sanggar yang senyap, Dimas menulis kalimat terakhir di buku hariannya:

Jika suatu hari kau merasa sendiri di tengah kota, lihatlah ke langit senja, mungkin di sana, warna jingganya masih menyimpan namamu.

Dan di bawah cahaya lampu minyak, Dimas menutup matanya. Tak ada tangis, tak ada sesal. Hanya senyum kecil dari seorang yang akhirnya memahami bahwa
cinta sejati tak perlu tahu akhir, cukup tahu bahwa ia pernah benar-benar ada. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Banjar Peninjoan Batuan dalam Lomba Baleganjur Ngarap di Desa Batuan: Bangun Regenerasi, Harmonisasi Pawongan

Next Post

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Puisi-puisi Khairul A. El Maliky untuk Para Korban Banjir Sumatera

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co