25 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

Agus Yulianto by Agus Yulianto
December 27, 2025
in Cerpen
Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

Ilustrasi tatkala.co | Canva

CERMIN itu retak di sisi kanan atas, seperti hatiku yang dulu. Tiap pagi aku menatap pantulanku, mencari bagian dari diriku yang bisa kusukai, tetapi yang kutemukan hanyalah mata sayu, kulit gelap, tubuh kurus, dan rambut keriting yang tumbuh tak teratur. Kata-kata dari masa lalu menggema di dalam kepalaku—”jelek”, “aneh”, “nggak laku”, “malu-maluin”.

“Aku ingin jadi seperti mereka,” bisikku setiap pagi. Mereka yang kulitnya cerah, rambutnya lurus, tubuhnya ideal, dan senyumnya seperti selebgram yang selalu tampak bahagia. Aku, sebaliknya, hidup dalam bayang ketidakcukupan. Sekolah bagai panggung siksaan: tatapan sinis, ejekan diam-diam, dan komentar yang menyayat dari teman sebaya. Bahkan diamku sering dianggap aneh.

Hari itu aku menemukan selembar kertas kusut di rak buku perpustakaan sekolah. Tulisan tangan itu tertulis miring dengan tinta biru:

Mereka hanya melihatmu dari luar. Tapi kau, hanya kau yang tahu bagaimana dunia di dalammu menyala.

Aku tidak tahu siapa penulisnya. Tapi entah kenapa, kalimat itu menancap di benakku. Rasanya seperti disiram air setelah terbakar bertahun-tahun.

Sejak hari itu, aku mulai menulis. Tentang kesedihanku. Tentang tubuhku. Tentang kulitku. Tentang bagaimana aku selalu merasa asing di dunia sendiri. Ternyata, kata-kata bisa memeluk. Setiap tulisan menjadi cahaya kecil yang menyala dalam gelapku.

–**–

Dua tahun kemudian, aku berdiri di depan cermin yang sama—yang kini retaknya kian menyebar, tapi aku tak ingin menggantinya. Cermin itu saksi. Cermin itu tahu semua luka dan air mata yang pernah kutumpahkan. Tapi cermin itu juga menyaksikan prosesku tumbuh.

 Kini, saat aku tersenyum, senyuman itu tidak dibuat-buat. Saat aku memakai baju sederhana, aku tidak lagi sibuk membandingkan diriku dengan siapa pun. Aku mulai menyukai warna kulitku, rambutku, bentuk tubuhku, dan cara bicaraku yang lambat tapi jujur.

 Aku bukan mereka. Dan ternyata… aku tidak perlu jadi mereka.

 Suatu hari, aku bertemu seorang anak kelas 7 yang duduk sendiri di taman sekolah. Rambutnya keriting seperti punyaku dulu. Kulitnya gelap. Tatapannya penuh cemas.

 “Kamu cantik,” kataku padanya. Ia menoleh dengan ragu. “Cantik itu bukan tentang putih atau langsing, tapi tentang berani menerima diri sendiri.”

  Matanya mulai berkaca-kaca. Aku mengangguk dan tersenyum.

  Mungkin… mungkin aku telah menyembuhkan luka lama, bukan hanya untuk diriku, tapi untuk orang lain juga.

   “Luka tidak selalu harus hilang. Kadang ia hanya perlu diterima. Karena dari sanalah cahaya bisa menyusup masuk.”

  Cermin yang retak itu kini bukan hanya saksi, tapi guru yang membimbingku memahami bahwa setiap rendahan, setiap retakan, adalah bagian dari diriku yang utuh. Setiap pagi aku tetap berdiri di depannya—namun kali ini bukan untuk menyiksa diri, melainkan untuk menyemangati.

 Suatu siang di ruang kelas, guru Bahasa Indonesia membacakan puisi tentang keberanian. Selesai mendengarkan, hatiku bergetar. Mengapa aku harus selalu bersembunyi? Aku angkat tangan, suara di dada bergetar saat kuhamburkan:

 “Aku ingin menjadi pembaca puisi hari ini.”

Ruangan hening. Semua mata menatapku—beberapa dengan penasaran, yang lain dengan keheranan. Suaraku gemetar saat kubaca puisi tentang luka lama yang berubah menjadi cahaya:

“Kulitku gelap, tapi hatiku terang.

 Keriting rambutku bukanlah jerat dari penjara penilaian, melainkan mahkota ukir alami yang layak dipuja.”

 Usai baca, tepuk tangan mengalir. Kupandangi kawan di depanku—ia yang dulu menyipitkan mata padaku—matanya kini berkaca, dan ia tersenyum. “Kamu hebat,” bisiknya.

 Malam itu aku termenung di kamarku. Kubuka lembaran-lembaran puisi yang kusiapkan malam demi malam sejak temuan kertas biru di perpustakaan. Aku lihat semuanya. Aku lihat diriku waktu itu—rapuh, kesepian, penuh keraguan. Tapi juga aku lihat keberanian yang muncul, sedikit demi sedikit, hari ke hari.

 Aku tuliskan biodata singkatku di halaman belakang:

 Dia adalah seseorang yang pernah kebal terhadap bayang-bayang kebencian diri.

Kini dia belajar menerima, menyembuhkan, dan menyinari.

Aku menyisipkannya di ujung cerpen, seperti selembar bunga kecil di antara halaman-halaman luka.

–**–

Beberapa pekan kemudian, sekolah mengadakan perlombaan literasi. Tanpa ragu—kali ini dengan penuh percaya diri—aku mendaftar. Di hari H, di atas panggung kecil dengan mikrofon di tangan, aku berkisah bukan hanya dengan kata, tetapi dengan hatiku. Tentang perjalanan cinta pada diri sendiri. Tentang suara cermin retak dan anak keriting yang takut menatap dunia.

Di akhir sesi, seorang guru pendamping menghampiriku. “Ayu, puisi dan ceritamu luar biasa. Kami ingin kamu jadi duta literasi sekolah.” Aku menahan air mata haru. Cermin retak di kamarku terasa ikut bahagia.

Hari demi hari, aku berjalan semakin tegak. Aku sadar, mencintai diri sendiri bukan sekadar mengatakan “aku hebat.” Tapi merangkul setiap bagian—gelap, terang, rapuh, dan kuat—dan berjalan maju dengan batin yang tenang.

Kini aku berdiri bukan hanya untuk diriku, tapi juga untuk orang-orang yang pernah merasa kecil, asing, tidak layak. Setiap kata “kamu cantik” yang kuucap tulus dari jiwaku, bukan hanya sekadar frasa, tetapi jembatan menuju keberanian. [T]

Penulis: Agus Yulianto
Editor:Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Made Bryan Mahararta | Bencana Ekologis

Next Post

Kabul dan Lebah

Agus Yulianto

Agus Yulianto

Suka menulis cerpen, cernak, puisi dan esai. Seorang guru swasta di SMK Wikarya Karanganyar, lahir di Karanganyar, 27 Juli 1987. Debutnya dalam kancah sastra dimulai pada tahun 2009. Ia mulai secara serius menekuni dunia kepenulisan dengan aktif di beberapa komunitas maupun organisasi kepenulisan. S

Related Posts

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails

Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

by Bella Paring Gusti
June 13, 2026
0
Metode Khusus bagi Ann yang Cantik | Cerpen Bella Paring Gusti

“Cause there’ll be no sunlight if I lose you, baby … there’ll be no clear skies if I lose you,...

Read moreDetails

Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

by Krisogonus Kusman
June 7, 2026
0
Mbak Erna | Cerpen Krisogonus Kusman

DALAM keluarganya, Mbak Erna adalah anak pertama dari empat bersaudara. Ketiga adiknya laki-laki; adik kedua kelas XII yang hampir lulus,...

Read moreDetails

Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
June 6, 2026
0
Di Dada Penjaga, Aku Pernah Dicintai | Cerpen Ahmad Sihabudin

KABUT turun seperti tirai sutra yang disobek dari langit. Pagi itu, udara di kaki Gunung Cikurai tidak sekadar dingin; ia...

Read moreDetails

Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

by Wayan Gde Yudane
June 6, 2026
0
Dunia Tidak Berutang Bentuk pada Harapanmu | Cerpen Wayan Gde Yudane

JANU datang ke Bali dengan koper besar, tiga buku filsafat yang belum selesai dibaca, dan keyakinan yang jauh lebih besar...

Read moreDetails

Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

by Ayu Ugie Pratiwi
May 31, 2026
0
Si Cantik dan TV | Cerpen  Ayu Ugie Pratiwi

DULU ketika aku masih kecil, aku mendengar kisah tentang cinta pertama Ayah. Aku tidak tahu apa aku boleh mendengar kisah...

Read moreDetails

Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

by Hidayatul Ulum
May 30, 2026
0
Pria-Pria yang Kau Semayamkan di Awan Kita

PRIA-PRIA yang kau semayamkan di awan kita, tak satu pun Mas kenal—awalnya. Setelah Mas membaca jejak hatimu yang kau tinggalkan...

Read moreDetails

Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
May 29, 2026
0
Koran Minggu dan Sebungkus Nasi | Cerpen Aksara Caramellia

JAM menunjukkan pukul 05.15 pagi ketika kaki renta Pak Syukur mulai menyusuri gang sempit menuju pinggir jalan raya. Embun belum...

Read moreDetails
Next Post
Kabul dan Lebah

Kabul dan Lebah

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska
Khas

Kolaborasi Osaka Gakugei High School Jepang dengan Toska

SEBANYAK 48 siswa Osaka Gakugei High School Jepang mengunjungi SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska)  pada Selasa, 23 Juni 2026...

by I Nyoman Tingkat
June 24, 2026
Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil
Persona

Aubrey Nova dan Muhammad Ardiansyah: Sang Montir Mobil Kerdil

GARA-GARA video di TikTok 2023 silam, Aubrey Nova kini jadi salah seorang seniman―atau sebut saja montir―muda yang lihai dalam memodifikasi...

by Jaswanto
June 24, 2026
Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring
Esai

Banalitas Dialog dan Demokrasi Cuci Piring

SUDAH sejak lama demokrasi kita direduksi semata-mata dialog, dan ia berhenti tepat di tingkatan yang oleh generasi hari ini sebut...

by Azhari M. Latief
June 24, 2026
‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Pentas

‘Menapaki Jejak-jejak Bukit Daha, Demulih, Bangli’ —Catatan Proses Pengkaryaan Sekaa Gong Anak-Anak Santika Murti di Pesta Kesenian Bali 2026

RIUH penonton memadati pelantaran kursi beton panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali. Kala itu, 15 Juni 2026, di...

by Yudi Laksana
June 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Topeng Politik dan Ujian Demokrasi Indonesia

SITUASI politik akhir-akhir ini Kembali menghangat dengan turun nya beberapa komponen mahasiswa (BEM) mempersoalkan kondisi penurunan ekonomi, gugatan terhadap pelaksanaan...

by I Made Pria Dharsana
June 24, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Membaca Demokrasi Abu-Abu Indonesia

LAPORAN V-Dem (Varieties of Democracy) 2025 menarik untuk disimak. Lembaga riset politik paling besar di dunia soal demokrasi yang berbasis...

by Chusmeru
June 24, 2026
Duri Akar dan “Sungga”
Bahasa

Duri Akar dan “Sungga”

SAYA bukan tukang panen umbi yang cakap. Memanen umbi gembili, dua kali ujung linggis yang saya ayunkan justru menghunjam dan...

by Komang Berata
June 24, 2026
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi
Opini

Penangguhan Tahanan dan Ujian Kesetaraan Hukum

PENANGGUHAN penahanan terhadap tersangka dalam perkara dugaan pencemaran nama baik, fitnah, dan penyebaran informasi elektronik kembali membuka perdebatan lama dalam...

by Ruben Cornelius Siagian
June 24, 2026
Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja
Pemerintahan

Kawasan Titik Nol Sudah Menyala —Sentuhan Bupati Percantik Wajah Malam Kota Singaraja

SINGARAJA – TATKALA.CO | Wajah baru kawasan Titik Nol Kota Singaraja mulai terlihat. Bupati Buleleng, I Nyoman Sutjidra, didampingi Wakil...

by tatkala
June 24, 2026
Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co