KALI ini aku nekat jalan-jalan sekaligus menemani Ibu bersama rombongan para pedagang pasar. Perjalananku kali ini bisa dibilang cukup jauh, tepatnya menuju Kota Malang. Ada beberapa destinasi wisata yang akan kami kunjungi. Perjalanan menuju Malang memakan waktu hampir sembilan jam, berangkat dari Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perjalanan menuju tempat wisata menghabiskan biaya kurang lebih Rp. 650.000,- itu sudah termasuk makan dan kunjungan ke tempat wisata.

Perjalanan dengan menaiki bus pariwisata terasa sangat mengesankan hingga membuatku sulit tidur. Sepanjang jalan aku tidak bisa memejamkan mata karena dudukku tepat di atas roda bus, sehingga setiap guncangan terasa sangat jelas.
Minggu, 21 September 2025
Pagi pun tiba. Kami sudah sampai di Pelabuhan Ketapang. Untuk menuju destinasi wisata Pulau Gili Ketapang, kami harus menyeberang menggunakan kapal khusus wisatawan. Lama perjalanan sekitar dua jam. Sambil menikmati suasana laut di atas kapal, aku mencoba menenangkan diri meski hati terasa dag-dig-dug. Air laut begitu tenang, sesekali percikannya mengenai wajahku.
Sepanjang perjalanan, mataku dimanjakan pemandangan kapal-kapal pengangkut pasir, batu bara, dan beberapa kapal nelayan yang lalu lalang. Perut terasa seperti dikocok-kocok karena ombak kecil menggoyang kapal. Dari kejauhan, tempak sebuah pulau kecil yang terlihat tenang dan tersembunyi, seolah menyimpan keindahan alam yang belum banyak terjamah.
Akhirnya kami sampai tujuan. Kapal menepi, tali dilemparkan ke tepi pantai untuk menahan posisi kapal. Satu per satu penumpang turun dengan panduan para pemandu wisata. Aku pun akhirnya menapakkan kaki di Pulau Gili Ketapang, pulau kecil yang katanya jauh dari hiruk pikuk kota. Namun, pemandangannya sungguh memukau.
Kami disambut dengan hidangan khas laut yang menggugah selera, terutama olahan ikan segar. Usai makan, kami berkumpul di bibir pantai. Hamparan pasir putih, deburan ombak, dan air laut yang begitu jernih hingga terlihat jelas terumbu karangnya. Meski matahari terik, panasnya tak begitu terasa karena dihembus angin laut yang sejuk.

Para pengunjung bisa menikmati berbagai kegiatan seperti snorkeling, naik banana boat, atau sekadar berswafoto di tepi pantai. Suasananya tenang dan hangat-sangat tepat untuk melepas penat dari rutinitas. Berlibur di Pulau Gili Ketapang terasa berbeda dibanding pantai-pantai lain yang kukunjungi.
Penduduk di sana ramah dengan logat khas daerah Probolinggo. Mereka berbicara dengan intonasi cepat sehingga kadang sulit kupahami. Pulau kecil ini menyimpan kekayaan alam yang indah di sepanjang pantainya. Aku juga sempat mencicipi bakso khas Gili Ketapang. Baru kali ini aku menemukan bakso dengan campuran sayur-sayuran seperti kubis, kecambah, hingga lontong. Ada pula tambahan bakwan yang dipotong kecil-kecil dan tahu kempong yang gurih.
Ternyata, ketika aku nekat melakukan perjalanan ini, tak ada yang sia-sia. Banyak hal yang kudapatkan-bukan hanya pengalaman berwisata, tetapi juga pelajaran tentang kehidupan sosial masyarakat di pulau kecil nan indah itu.
***
Setelah puas menikmati Gili Ketapang, perjalanan The Nekad Traveller pun berlanjut menuju Baloga, kawasan wisata daerah Batu, Malang. Di tempat peristirahatan untuk makan siang, cuacanya terasa sangat panas. Usai makan dan salat, aku segera bergegas naik ke bus. Duduk sambil berusaha memejamkan mata, aku mencoba melawan kantuk yang rasanya sudah tak tertahankan.


Bus kembali melaju menuju tujuan berikutnya. Sepanjang perjalanan, mata ini disuguhi pemandangan jalanan yang tidak terlalu ramai, hanya sesekali tampak kendaraan besar dan rombongan wisatawan lain yang juga menikmati liburannya.
Ketika bus memasuki jalan tol, aku tiba-tiba dibangunkan oleh Ibu. Ia memberitahuku bahwa di luar sedang turun hujan deras disertai kabut tebal. Aku lihat dari balik kaca jendela bus. Malang yang semula panas kini berubah sejuk, diselimuti hujan deras-seperti derasnya menahan rindu, batinku. Para pengendara tampak berhati-hati, melajukan kendaraan mereka dengan perlahan. Aku mencoba menikmati suasana itu sambil melanjutkan tidur, meski tetap sulit terlelap karena guncangan bus.
Setelah keluar dari tol, hujan masih mengguyur deras. Jalan menuju destinasi berikutnya naik turun khas daerah pegunungan. Beberapa saat kemudian, hujan pun reda. Udara menjadi segar, dan akhirnya kami sampai di tempat wisata yang dituju: Baloga.
Jujur, ini adalah kali pertama aku berkunjung ke baloga. Sekilas, wahana wisatanya mirip dengan beberapa tempat wisata edukasi yang pernah aku datangi di Jawa Tengah. Baloga sendiri merupakan singkatan dari Batu Love Garden. Awalnya aku sempat berpikir, apakah tempat ini berkaitan dengan batu-batu? Ternyata tidak. “Batu” adalah nama daerah pegunungan di Malang, tempat Baloga berada.
Baloga merupakan wisata Agriculture Edutainment berbasis pendidikan, sangat cocok bagi anak-anal maupun pelajar yang ingin belajar tentang dunia perkebunan dan pertanian.
Begitu memasuki pintu utama, mata langsung dimanjakan oleh pemandangan bunga-bunga warna-warni yang indah dan eksotik-sangat pas untuk berfoto. Area pertama tampak seperti taman bunga yang di desain modern dan menawan. Selain taman, ada juga Learning Center, tempat pengunjung dapat belajar membuat es krim, mengolah cokelat, hingga mengenal tanaman atsiri di Omah Atsiri.

Tak hanya itu, Baloga juga menyediakan berbagai wahana seru seperti Flying Dragon Coaster, Arena Lebah Terbang, Walang Green House, dan masih banyak lagi yang menarik untuk dijelajahi. Sebagai penutup, terdapat pula pertunjukan Parade Show dan Welcome Dance yang meriah, menambah kesan hangat dan menyenangkan selama berkunjung ke Baloga.
Perjalanan panjang hari itu benar-benar melelahkan, tetapi juga sangat berkesan. Aku belajar bahwa setiap perjalanan selalu membawa cerita dan pengalaman baru. Dari Gili Ketapang yang tenang dan eksotis hingga Baloga yang penuh warna dan pengetahuan, semuanya meninggalkan jejak indah di hati.
Menjadi The Nekad Traveller ternyata bukan hanya tentang berani melangkah ke tempat baru, tetapi juga berani menikmati setiap detik perjalanan-dengan segala kejutan, kelelahan, dan kebahagiaannya. [T]
Penulis: Agus Yulianto
Editor:Adnyana Ole



























