6 March 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 4, 2025
in Tualang
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Kegembiraan masyarakat adat panen melimpah/ Foto Dok.Yoki Yusanto

HAMPIR setiap tahun sejak 2011 pertama kali berkenalan dengan masyarakat Kasepuhan Cisungsang, saya menyempatkan diri menghadiri ”Seren Taun” di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Tema Seren Taun 2025 ini, Ngawujudkeun Beubeungkeutan nu Sajati, Mewujudkan Ikatan yang Sejati. Menurut Henriana Hatra, Sekertaris Kasepuhan, tema Seren Taun biasanya merespons kondisi sosial masyarakat adat di Kasepuhan Cisungsang.

Tema tahun ini merespon tentang ikatan sosial dan spiritual. Ada kekhawatiran berkurang tentang ikatan-ikatan tersebut. Tema Seren Taun diimplementasikan dengan kegiatan yang lebih banyak melibatkan generasi muda incu putu kasepuhan Sisungsang. Intinya masyarakat Kasepuhan selalu ingin menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Perjalanan dari Kota Serang menuju perkampungan adat di lereng Gunung Halimun ini memakan waktu sekitar enam jam, perjalanan panjang yang selalu menghadirkan rasa rindu tersendiri. Jalannya berliku, melewati hamparan sawah, kebun, dan bukit-bukit hijau yang seolah menyambut siapa pun yang datang dengan hati terbuka.

Muspida menyerap aspirasi masyarakat adat/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Acara Puncak Seren Taun ini 28 September, berlangsung sejak 20 September 2025, dihadiri oleh Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan jajaran Muspida provinsi maupun kabupaten. Kehadiran para pejabat dalam Seren Taun, dalam catatan penulis tidak terbatas pada pejabat di lingkungan Provinsi Banten atau Kabupaten Lebak saja, ada kalanya dari pejabat eselon I kementerian negara juga pernah hadir, seperti Menteri Sosial, Pertanian, dan beberapa pejabat negara lainnya.

Makna Seren Taun

Tradisi Seren Taun merupakan warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat kasepuhan. Ia bukan sekadar pesta panen, melainkan ritual syukur dan pengingat akan siklus kehidupan. Dalam bahasa Sunda, “Seren” bermakna menyerahkan, dan “Taun” berarti tahun. Jadi, Seren Taun bermakna “menyerahkan hasil panen tahun ini kepada Sang Pencipta,” mensyukuri hasil ikhtiar dan kerja keras, sekaligus memohon berkah untuk tahun berikutnya. Di balik kemeriahannya, tersimpan nilai spiritual yang mendalam: tentang keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Seren Taun di Cisungsang berlangsung selama satu minggu penuh. Setiap harinya, ada ritual adat yang dijalankan secara bertahap, mulai dari penyucian diri, gotong royong membersihkan leuit (lumbung padi), hingga puncak acara ketika padi hasil panen diserahkan dan disimpan kembali sebagai simbol kesinambungan hidup. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa tergesa, seolah waktu di Cisungsang berjalan lebih lambat agar setiap detik bisa dirasakan maknanya.

Ritual ngadiuken pare ka leuit/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bagi masyarakat kasepuhan, padi bukan hanya bahan pangan, tetapi roh kehidupan. Dalam setiap butir padi tersimpan nilai kerja keras, ketulusan, dan doa. Maka tak heran bila selama Seren Taun, segala sesuatu yang tersaji, mulai dari kue, makanan, hingga hiasan, selalu berbahan dasar beras, baik beras biasa maupun ketan. Di Imah (Rumah) Gede, kediaman Abah Usep Suyatma, Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, berbagai hidangan tradisional disajikan untuk tamu yang datang dari berbagai penjuru.

Saya selalu terkesan setiap kali memasuki Rumah Gede saat acara berlangsung. Di sana, suasana terasa hangat, bersahaja, dan sakral sekaligus. Para tamu disambut dengan senyum tulus. Tak ada yang dikhususkan; siapa pun boleh duduk dan makan bersama. Abah Usep selalu berujar, “Rejeki kudu dibagi, supaya berkah.” Prinsip itu bukan sekadar ucapan, melainkan laku hidup yang nyata.

Di luar Rumah Gede, suasana begitu meriah. Lapangan luas di depan kasepuhan berubah menjadi ruang publik penuh kehidupan. Malam hari diisi dengan beragam hiburan rakyat: mulai dari wayang golek, ketuk tilu, jaipongan, dangdut, hingga pertunjukan musik pop, rock, dan blues. Semua berpadu tanpa sekat antara tradisi dan modernitas. Bagi saya, inilah yang membuat Seren Taun begitu menarik; ia hidup dan beradaptasi, tanpa kehilangan jati dirinya.

Masyarakat adat menari dan membunyikan angklung/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bunyi kendang bersahutan dengan alunan gitar listrik; anak-anak berlari di antara kerumunan, sementara para sesepuh duduk menikmati pertunjukan dengan wajah tenang. Tidak ada hiruk-pikuk yang memecah keharmonisan, justru ada rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di kota. Masyarakat Cisungsang seakan mengajarkan bahwa kegembiraan dan spiritualitas tidak harus dipisahkan, karena keduanya dapat berjalan berdampingan dalam keseimbangan.

Bukan Sekadar Upacara

Yang paling mengesankan dari setiap kunjungan saya adalah keramahtamahan dan kebijaksanaan para tetua adat. Kasepuhan bukan hanya tempat menjaga tradisi, tetapi juga tempat belajar tentang nilai kehidupan. Di sana, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani hidup dengan ritme yang alami, bekerja seperlunya, bersyukur sepenuhnya. Mereka percaya bahwa alam harus dihormati, bukan dieksploitasi; bahwa manusia harus hidup selaras, bukan saling mendominasi.

Kearifan lokal ini tercermin dalam setiap aspek kehidupan mereka: dari cara menanam padi tanpa pupuk kimia, cara mengatur pembagian air sawah, hingga tata cara bermusyawarah yang penuh kesopanan. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, nilai-nilai seperti ini terasa seperti oase, tempat kita kembali belajar tentang makna keseimbangan dan penghormatan terhadap kehidupan.

Seren Taun di Cisungsang bagi saya bukan hanya perayaan adat, tetapi juga cermin kebudayaan bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat bersanding harmonis, tanpa saling meniadakan. Masyarakat adat seperti di Cisungsang menjadi penjaga moral dan ekologis yang seringkali luput dari perhatian arus utama pembangunan.

Ketika kita berbicara tentang kemajuan, seringkali yang kita bayangkan adalah infrastruktur dan teknologi. Namun, di Cisungsang, saya menyadari bahwa kemajuan sejati justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akar budaya. Tradisi seperti Seren Taun mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang terus berubah, rasa syukur, gotong royong, dan hormat pada alam adalah nilai yang tak boleh hilang.

Penulis (kedua dari kiri) menyerahkan buku kepada Ketua Adat/ Foto Dok.Penulis

Setiap kali meninggalkan Cisungsang setelah Seren Taun usai, saya selalu membawa pulang perasaan damai yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu dari suasana itu, mungkin aroma dupa, tawa anak-anak, atau doa yang melayang dari Rumah Gede, yang membuat hati terasa hangat. Cisungsang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kesederhanaan yang dijalani dengan tulus.

Seren Taun bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah pengingat abadi bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta besar yang penuh rahmat. Dan di tengah dunia yang semakin tergesa, tradisi seperti inilah yang menuntun kita untuk berhenti sejenak, menunduk, dan bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: CisungsangKabupaten LebakpertanianProvinsi Bantenseren taunTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Next Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails

Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

by Chusmeru
February 1, 2026
0
Benteng Van der Wijck, Gombong: Jejak Silam Kolonial Belanda

GOMBONG merupakan satu kecamatan yang terdapat di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah. Kecamatan ini memiliki lokasi yang strategis, karena dilewati oleh...

Read moreDetails

Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 27, 2026
0
Kilas Balik Sejarah Kelam di Kamp Konsentrasi Auschwitz

KATOWICE, kota tempat saya menjalankan exchange di Polandia, menawarkan kesibukan layaknya kota modern pada umumnya. Namun, hanya satu jam dari...

Read moreDetails

Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

by Nadia Pranasiwi Justie Dewantari
January 22, 2026
0
Lebih dari Sekadar ‘Exchange’: Pengalaman Berharga di Polandia

Dzień dobry! Nama saya Nadia Pranasiwi Justie Dewantari, mahasiswi kedokteran Universitas Gadjah Mada, Indonesia. Pada bulan Agustus 2025, saya mengikuti...

Read moreDetails

Jejak Sunyi di Negeri Sakura

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
January 8, 2026
0
Jejak Sunyi di Negeri Sakura

JEPANG kerap dijuluki sebagai negeri Sakura yang disinari matahari terang, sebuah citra yang terpatri kuat melalui benderanya: lingkaran merah di...

Read moreDetails

Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

by Doni Sugiarto Wijaya
January 6, 2026
0
Mengamati Wolfdog di Alpha Wolf Lodge Nuanu

DI kabupaten Tabanan, tepatnya tak jauh dari lokasi Pantai Nyanyi, Desa  Beraban, ada tempat wisata bernama Nuanu. Nuanu dikenal sebagai...

Read moreDetails

Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

by Nyoman Nadiana
December 30, 2025
0
Mengagumi Branding Negeri Perak, Ipoh, Malaysia

PERJALANAN di penghujung tahun 2025 kemarin, saya menaruh Ipoh di Negeri Perak Malaysia sebagai destinasi setelah Singapura. Mengambil jalur darat...

Read moreDetails
Next Post
Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Memperingati Cetakan ke-100 'Laut Bercerita' di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    Penyuluh Bahasa Bali Temukan Lontar Tua Tahun 1615 Saka di Geria Kutuh Kawanan Klungkung

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Film ‘Sore: Istri dari Masa Depan’: Ketika Cinta Datang untuk Mengubah Takdir

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Aku dan Cermin Retak | Cerpen Agus Yulianto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran
Esai

Nyepi: Sunyi sebagai Gerbang Kesadaran

NYEPI di Bali bukan sekadar hari raya agama. Ia bukan hanya ritual tahunan dengan aturan tidak menyalakan api, tidak bepergian,...

by Agung Sudarsa
March 5, 2026
Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik
Budaya

Kasanga Festival 2026, Hadir dengan Format Peed Aya dan Tanpa Konser Musik

DI Kota Denpasar, semangat menyambut Hari Raya Nyepi kembali berdenyut melalui gelaran Kasanga Festival 2026. Pemerintah Kota Denpasar memastikan perhelatan...

by Dede Putra Wiguna
March 5, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

‘Takjil War’: Ketika Antrean Menjadi Ruang Komunikasi Baru

SETIAP Ramadan beberapa tahun belakangan, sebuah fenomena hadir dan ramai diperbincangkan “takjil war”. Istilah yang terdengar seperti judul film laga...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 5, 2026
Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’
Esai

Berat Badan Naik, Risiko Ikut Melonjak: Kita Sedang Tidak Baik-Baik Saja —Refleksi ‘World Obesity Day’

SAAT ini kita sering disajikan pemandangan tentang seorang anak berangkat sekolah dengan uang saku cukup untuk membeli minuman manis berukuran...

by I Putu Suiraoka
March 4, 2026
Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas
Pemerintahan

Data Kemiskinan di Buleleng Harus Riil, Bukan Hanya Sekadar Catatan di Atas Kertas

KETUA DPRD Buleleng Ketut Ngurah Arya memberikan catatan kritis terkait dengan anomali data kemiskinan di Kabupaten Buleleng pada saat rapat...

by tatkala
March 4, 2026
‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo
Hiburan

‘The Story of White Piano’ Album Jazz dari Dodot Atmodjo

Pianis jazz senior Dodot Soemantri Atmodjo resmi merilis album debut bertajuk The Story of White Piano . Album jazz ini...

by tatkala
March 4, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Korve, Bersihkan Sampah Republik!

PRESIDEN Prabowo Subianto dalam Rakornas pemerintah pusat–daerah menyerukan agar bupati, wali kota, TNI-Polri, bahkan menteri jika perlu ikut “korve” membersihkan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
March 4, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Istri, Waris, dan Perwalian Anak dalam Perkawinan Hindu di Bali: Menempatkan Hukum Adat dalam Bingkai Konstitusi dan Keadilan Substantif

PERSOALAN kedudukan istri sebagai ahli waris atas harta bersama dan penetapan wali anak dalam perkawinan Hindu di Bali bukan semata-mata...

by I Made Pria Dharsana
March 3, 2026
Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia
Esai

Penutupan Selat Hormuz dan Ancaman bagi Mobilitas Disabilitas Indonesia

DUNIA tengah menyaksikan eskalasi konflik berbahaya di Timur Tengah. Serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari...

by I Made Prasetya Wiguna Mahayasa
March 3, 2026
Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua
Esai

Perang, Kekuasaan dan Pelajaran untuk Kita Semua

Dunia yang Selalu Berulang SEJARAH manusia adalah sejarah tentang konflik. Dari peperangan kuno antar kerajaan hingga ketegangan geopolitik modern, pola...

by Agung Sudarsa
March 3, 2026
’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer
Ulas Musik

’Dear Mr.Fantasy’: Kepemimpinan, Imajinasi, dan Kerapuhan Publik di Indonesia Kontemporer

Esai ini membaca lagu “Dear Mr. Fantasy” karya dari Traffic, sebagai cermin kebudayaan politik dan sosial Indonesia hari ini, sebuah...

by Ahmad Sihabudin
March 3, 2026
Benarkah Laki-Laki Tidak Perlu Bercerita?
Esai

Kentongan yang Tidak Lagi Berbunyi: Sahur Keliling dan Sunyi yang Kita Pilih Sendiri

DUA belas hari sudah kita menjalani puasa Ramadan. Saya masih ingat betul suara itu. Sekitar pukul tiga dini hari, dari...

by Ashlikhatul Fuaddah
March 2, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co