3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 4, 2025
in Tualang
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Kegembiraan masyarakat adat panen melimpah/ Foto Dok.Yoki Yusanto

HAMPIR setiap tahun sejak 2011 pertama kali berkenalan dengan masyarakat Kasepuhan Cisungsang, saya menyempatkan diri menghadiri ”Seren Taun” di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Tema Seren Taun 2025 ini, Ngawujudkeun Beubeungkeutan nu Sajati, Mewujudkan Ikatan yang Sejati. Menurut Henriana Hatra, Sekertaris Kasepuhan, tema Seren Taun biasanya merespons kondisi sosial masyarakat adat di Kasepuhan Cisungsang.

Tema tahun ini merespon tentang ikatan sosial dan spiritual. Ada kekhawatiran berkurang tentang ikatan-ikatan tersebut. Tema Seren Taun diimplementasikan dengan kegiatan yang lebih banyak melibatkan generasi muda incu putu kasepuhan Sisungsang. Intinya masyarakat Kasepuhan selalu ingin menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Perjalanan dari Kota Serang menuju perkampungan adat di lereng Gunung Halimun ini memakan waktu sekitar enam jam, perjalanan panjang yang selalu menghadirkan rasa rindu tersendiri. Jalannya berliku, melewati hamparan sawah, kebun, dan bukit-bukit hijau yang seolah menyambut siapa pun yang datang dengan hati terbuka.

Muspida menyerap aspirasi masyarakat adat/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Acara Puncak Seren Taun ini 28 September, berlangsung sejak 20 September 2025, dihadiri oleh Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan jajaran Muspida provinsi maupun kabupaten. Kehadiran para pejabat dalam Seren Taun, dalam catatan penulis tidak terbatas pada pejabat di lingkungan Provinsi Banten atau Kabupaten Lebak saja, ada kalanya dari pejabat eselon I kementerian negara juga pernah hadir, seperti Menteri Sosial, Pertanian, dan beberapa pejabat negara lainnya.

Makna Seren Taun

Tradisi Seren Taun merupakan warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat kasepuhan. Ia bukan sekadar pesta panen, melainkan ritual syukur dan pengingat akan siklus kehidupan. Dalam bahasa Sunda, “Seren” bermakna menyerahkan, dan “Taun” berarti tahun. Jadi, Seren Taun bermakna “menyerahkan hasil panen tahun ini kepada Sang Pencipta,” mensyukuri hasil ikhtiar dan kerja keras, sekaligus memohon berkah untuk tahun berikutnya. Di balik kemeriahannya, tersimpan nilai spiritual yang mendalam: tentang keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Seren Taun di Cisungsang berlangsung selama satu minggu penuh. Setiap harinya, ada ritual adat yang dijalankan secara bertahap, mulai dari penyucian diri, gotong royong membersihkan leuit (lumbung padi), hingga puncak acara ketika padi hasil panen diserahkan dan disimpan kembali sebagai simbol kesinambungan hidup. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa tergesa, seolah waktu di Cisungsang berjalan lebih lambat agar setiap detik bisa dirasakan maknanya.

Ritual ngadiuken pare ka leuit/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bagi masyarakat kasepuhan, padi bukan hanya bahan pangan, tetapi roh kehidupan. Dalam setiap butir padi tersimpan nilai kerja keras, ketulusan, dan doa. Maka tak heran bila selama Seren Taun, segala sesuatu yang tersaji, mulai dari kue, makanan, hingga hiasan, selalu berbahan dasar beras, baik beras biasa maupun ketan. Di Imah (Rumah) Gede, kediaman Abah Usep Suyatma, Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, berbagai hidangan tradisional disajikan untuk tamu yang datang dari berbagai penjuru.

Saya selalu terkesan setiap kali memasuki Rumah Gede saat acara berlangsung. Di sana, suasana terasa hangat, bersahaja, dan sakral sekaligus. Para tamu disambut dengan senyum tulus. Tak ada yang dikhususkan; siapa pun boleh duduk dan makan bersama. Abah Usep selalu berujar, “Rejeki kudu dibagi, supaya berkah.” Prinsip itu bukan sekadar ucapan, melainkan laku hidup yang nyata.

Di luar Rumah Gede, suasana begitu meriah. Lapangan luas di depan kasepuhan berubah menjadi ruang publik penuh kehidupan. Malam hari diisi dengan beragam hiburan rakyat: mulai dari wayang golek, ketuk tilu, jaipongan, dangdut, hingga pertunjukan musik pop, rock, dan blues. Semua berpadu tanpa sekat antara tradisi dan modernitas. Bagi saya, inilah yang membuat Seren Taun begitu menarik; ia hidup dan beradaptasi, tanpa kehilangan jati dirinya.

Masyarakat adat menari dan membunyikan angklung/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bunyi kendang bersahutan dengan alunan gitar listrik; anak-anak berlari di antara kerumunan, sementara para sesepuh duduk menikmati pertunjukan dengan wajah tenang. Tidak ada hiruk-pikuk yang memecah keharmonisan, justru ada rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di kota. Masyarakat Cisungsang seakan mengajarkan bahwa kegembiraan dan spiritualitas tidak harus dipisahkan, karena keduanya dapat berjalan berdampingan dalam keseimbangan.

Bukan Sekadar Upacara

Yang paling mengesankan dari setiap kunjungan saya adalah keramahtamahan dan kebijaksanaan para tetua adat. Kasepuhan bukan hanya tempat menjaga tradisi, tetapi juga tempat belajar tentang nilai kehidupan. Di sana, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani hidup dengan ritme yang alami, bekerja seperlunya, bersyukur sepenuhnya. Mereka percaya bahwa alam harus dihormati, bukan dieksploitasi; bahwa manusia harus hidup selaras, bukan saling mendominasi.

Kearifan lokal ini tercermin dalam setiap aspek kehidupan mereka: dari cara menanam padi tanpa pupuk kimia, cara mengatur pembagian air sawah, hingga tata cara bermusyawarah yang penuh kesopanan. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, nilai-nilai seperti ini terasa seperti oase, tempat kita kembali belajar tentang makna keseimbangan dan penghormatan terhadap kehidupan.

Seren Taun di Cisungsang bagi saya bukan hanya perayaan adat, tetapi juga cermin kebudayaan bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat bersanding harmonis, tanpa saling meniadakan. Masyarakat adat seperti di Cisungsang menjadi penjaga moral dan ekologis yang seringkali luput dari perhatian arus utama pembangunan.

Ketika kita berbicara tentang kemajuan, seringkali yang kita bayangkan adalah infrastruktur dan teknologi. Namun, di Cisungsang, saya menyadari bahwa kemajuan sejati justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akar budaya. Tradisi seperti Seren Taun mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang terus berubah, rasa syukur, gotong royong, dan hormat pada alam adalah nilai yang tak boleh hilang.

Penulis (kedua dari kiri) menyerahkan buku kepada Ketua Adat/ Foto Dok.Penulis

Setiap kali meninggalkan Cisungsang setelah Seren Taun usai, saya selalu membawa pulang perasaan damai yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu dari suasana itu, mungkin aroma dupa, tawa anak-anak, atau doa yang melayang dari Rumah Gede, yang membuat hati terasa hangat. Cisungsang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kesederhanaan yang dijalani dengan tulus.

Seren Taun bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah pengingat abadi bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta besar yang penuh rahmat. Dan di tengah dunia yang semakin tergesa, tradisi seperti inilah yang menuntun kita untuk berhenti sejenak, menunduk, dan bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: CisungsangKabupaten LebakpertanianProvinsi Bantenseren taunTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Next Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

by I Putu Ardiyasa
September 30, 2026
0
Ketika Sebuah Kota Menjadi Panggung Pertunjukkan: Catatan Kecil dari Toyooka Theater Festival

SAYA datang ke Toyooka dengan niat yang sederhana: mengikuti Intersecting Peripheries dan melihat bagaimana sebuah festival teater bekerja di sebuah...

Read moreDetails

Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

by Ahmad Sihabudin
September 28, 2026
0
Jalan Sore di Lintas Royal Baroe

SUDAH cukup lama sebenarnya kami ingin berjalan-jalan di kawasan Royal Baroe, Kota Serang, Provinsi Banten. Bukan untuk mencari sesuatu yang...

Read moreDetails

Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

by Ahmad Sihabudin
September 7, 2026
0
Wisata Sehat, Ramah di Kantong: Menikmati Pagi di KP3 Banten

ADA tempat yang awalnya kita kenal hanya sebagai pusat pemerintahan, tetapi ternyata memiliki wajah lain yang lebih dekat dengan kehidupan...

Read moreDetails

Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

by Dewa Ayu Windu
August 31, 2026
0
Candi  Tebing Gunung Kawi: Kolaborasi Epik Jejak Budaya Masa Lalu dengan Lanskap Menawan DAS Pakerisan

GEMERICIK air Sungai Pakerisan terdengar bak nada alam yang konstan, membelah kesunyian lembah di Desa Adat Penaka, Tampaksiring, Gianyar, Bali....

Read moreDetails

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
0
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

Read moreDetails

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026
0
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

Read moreDetails

“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

by Luh Putu Sendratari
August 18, 2026
0
“Healing” ke Desa “Deaf Mute”, Bengkala: Perlawatan Tentang Mengada dan Menjadi

SABTU, 15 Agustus 2026 tanpa direncanakan sebelumnya saya ada di Desa Bengkala. Bersama teman2 dari Universitas Pancasila (Dr Kunthi Tridewiyanti,...

Read moreDetails

Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

by I Nyoman Tingkat
August 16, 2026
0
Dari Malioboro ke Makam Ki Hadjar Dewantara

PEMILIHAN Duta SMA Tingkat Nasional Tahun 2026 dipusatkan di Kota Yogyakarta tepatnya di Indoluxe Hotel sebagai tempat belajar di kelas....

Read moreDetails

Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

by Laurensia Junita Della
August 15, 2026
0
Kembali Bertamu di Air Terjun Parang Ijo pada Tahun 2026

Ada kalanya rutinitas yang padat membuat kita ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kehidupan. Di tengah kesibukan yang seolah tidak ada...

Read moreDetails

Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

by Ahmad Sihabudin
August 10, 2026
0
Situ Cipondoh: Danau yang Menyimpan Air, Waktu, dan Kenangan

"Tempat-tempat tertentu tidak pernah benar-benar kita tinggalkan. Yang pergi sesungguhnya hanyalah usia kita." KEMARIN saya kembali mengunjungi Situ Cipondoh. Niatnya...

Read moreDetails
Next Post
Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Memperingati Cetakan ke-100 'Laut Bercerita' di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co