24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 4, 2025
in Tualang
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Kegembiraan masyarakat adat panen melimpah/ Foto Dok.Yoki Yusanto

HAMPIR setiap tahun sejak 2011 pertama kali berkenalan dengan masyarakat Kasepuhan Cisungsang, saya menyempatkan diri menghadiri ”Seren Taun” di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Tema Seren Taun 2025 ini, Ngawujudkeun Beubeungkeutan nu Sajati, Mewujudkan Ikatan yang Sejati. Menurut Henriana Hatra, Sekertaris Kasepuhan, tema Seren Taun biasanya merespons kondisi sosial masyarakat adat di Kasepuhan Cisungsang.

Tema tahun ini merespon tentang ikatan sosial dan spiritual. Ada kekhawatiran berkurang tentang ikatan-ikatan tersebut. Tema Seren Taun diimplementasikan dengan kegiatan yang lebih banyak melibatkan generasi muda incu putu kasepuhan Sisungsang. Intinya masyarakat Kasepuhan selalu ingin menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Perjalanan dari Kota Serang menuju perkampungan adat di lereng Gunung Halimun ini memakan waktu sekitar enam jam, perjalanan panjang yang selalu menghadirkan rasa rindu tersendiri. Jalannya berliku, melewati hamparan sawah, kebun, dan bukit-bukit hijau yang seolah menyambut siapa pun yang datang dengan hati terbuka.

Muspida menyerap aspirasi masyarakat adat/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Acara Puncak Seren Taun ini 28 September, berlangsung sejak 20 September 2025, dihadiri oleh Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan jajaran Muspida provinsi maupun kabupaten. Kehadiran para pejabat dalam Seren Taun, dalam catatan penulis tidak terbatas pada pejabat di lingkungan Provinsi Banten atau Kabupaten Lebak saja, ada kalanya dari pejabat eselon I kementerian negara juga pernah hadir, seperti Menteri Sosial, Pertanian, dan beberapa pejabat negara lainnya.

Makna Seren Taun

Tradisi Seren Taun merupakan warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat kasepuhan. Ia bukan sekadar pesta panen, melainkan ritual syukur dan pengingat akan siklus kehidupan. Dalam bahasa Sunda, “Seren” bermakna menyerahkan, dan “Taun” berarti tahun. Jadi, Seren Taun bermakna “menyerahkan hasil panen tahun ini kepada Sang Pencipta,” mensyukuri hasil ikhtiar dan kerja keras, sekaligus memohon berkah untuk tahun berikutnya. Di balik kemeriahannya, tersimpan nilai spiritual yang mendalam: tentang keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Seren Taun di Cisungsang berlangsung selama satu minggu penuh. Setiap harinya, ada ritual adat yang dijalankan secara bertahap, mulai dari penyucian diri, gotong royong membersihkan leuit (lumbung padi), hingga puncak acara ketika padi hasil panen diserahkan dan disimpan kembali sebagai simbol kesinambungan hidup. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa tergesa, seolah waktu di Cisungsang berjalan lebih lambat agar setiap detik bisa dirasakan maknanya.

Ritual ngadiuken pare ka leuit/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bagi masyarakat kasepuhan, padi bukan hanya bahan pangan, tetapi roh kehidupan. Dalam setiap butir padi tersimpan nilai kerja keras, ketulusan, dan doa. Maka tak heran bila selama Seren Taun, segala sesuatu yang tersaji, mulai dari kue, makanan, hingga hiasan, selalu berbahan dasar beras, baik beras biasa maupun ketan. Di Imah (Rumah) Gede, kediaman Abah Usep Suyatma, Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, berbagai hidangan tradisional disajikan untuk tamu yang datang dari berbagai penjuru.

Saya selalu terkesan setiap kali memasuki Rumah Gede saat acara berlangsung. Di sana, suasana terasa hangat, bersahaja, dan sakral sekaligus. Para tamu disambut dengan senyum tulus. Tak ada yang dikhususkan; siapa pun boleh duduk dan makan bersama. Abah Usep selalu berujar, “Rejeki kudu dibagi, supaya berkah.” Prinsip itu bukan sekadar ucapan, melainkan laku hidup yang nyata.

Di luar Rumah Gede, suasana begitu meriah. Lapangan luas di depan kasepuhan berubah menjadi ruang publik penuh kehidupan. Malam hari diisi dengan beragam hiburan rakyat: mulai dari wayang golek, ketuk tilu, jaipongan, dangdut, hingga pertunjukan musik pop, rock, dan blues. Semua berpadu tanpa sekat antara tradisi dan modernitas. Bagi saya, inilah yang membuat Seren Taun begitu menarik; ia hidup dan beradaptasi, tanpa kehilangan jati dirinya.

Masyarakat adat menari dan membunyikan angklung/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bunyi kendang bersahutan dengan alunan gitar listrik; anak-anak berlari di antara kerumunan, sementara para sesepuh duduk menikmati pertunjukan dengan wajah tenang. Tidak ada hiruk-pikuk yang memecah keharmonisan, justru ada rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di kota. Masyarakat Cisungsang seakan mengajarkan bahwa kegembiraan dan spiritualitas tidak harus dipisahkan, karena keduanya dapat berjalan berdampingan dalam keseimbangan.

Bukan Sekadar Upacara

Yang paling mengesankan dari setiap kunjungan saya adalah keramahtamahan dan kebijaksanaan para tetua adat. Kasepuhan bukan hanya tempat menjaga tradisi, tetapi juga tempat belajar tentang nilai kehidupan. Di sana, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani hidup dengan ritme yang alami, bekerja seperlunya, bersyukur sepenuhnya. Mereka percaya bahwa alam harus dihormati, bukan dieksploitasi; bahwa manusia harus hidup selaras, bukan saling mendominasi.

Kearifan lokal ini tercermin dalam setiap aspek kehidupan mereka: dari cara menanam padi tanpa pupuk kimia, cara mengatur pembagian air sawah, hingga tata cara bermusyawarah yang penuh kesopanan. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, nilai-nilai seperti ini terasa seperti oase, tempat kita kembali belajar tentang makna keseimbangan dan penghormatan terhadap kehidupan.

Seren Taun di Cisungsang bagi saya bukan hanya perayaan adat, tetapi juga cermin kebudayaan bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat bersanding harmonis, tanpa saling meniadakan. Masyarakat adat seperti di Cisungsang menjadi penjaga moral dan ekologis yang seringkali luput dari perhatian arus utama pembangunan.

Ketika kita berbicara tentang kemajuan, seringkali yang kita bayangkan adalah infrastruktur dan teknologi. Namun, di Cisungsang, saya menyadari bahwa kemajuan sejati justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akar budaya. Tradisi seperti Seren Taun mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang terus berubah, rasa syukur, gotong royong, dan hormat pada alam adalah nilai yang tak boleh hilang.

Penulis (kedua dari kiri) menyerahkan buku kepada Ketua Adat/ Foto Dok.Penulis

Setiap kali meninggalkan Cisungsang setelah Seren Taun usai, saya selalu membawa pulang perasaan damai yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu dari suasana itu, mungkin aroma dupa, tawa anak-anak, atau doa yang melayang dari Rumah Gede, yang membuat hati terasa hangat. Cisungsang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kesederhanaan yang dijalani dengan tulus.

Seren Taun bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah pengingat abadi bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta besar yang penuh rahmat. Dan di tengah dunia yang semakin tergesa, tradisi seperti inilah yang menuntun kita untuk berhenti sejenak, menunduk, dan bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: CisungsangKabupaten LebakpertanianProvinsi Bantenseren taunTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Next Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails

Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

by Kadek Surya Jayadi
February 18, 2026
0
Catatan Perjalanan Bodhakeling: Dialog Lintas Iman dan Upaya Membaca Situs Sejarah Baru

SINAR mentari pagi menyambut dengan hangat, menghiasi perjalanan Keluarga Besar Prodi Sejarah Universitas Udayana menuju Desa Bodhakeling. Bus Universitas Udayana...

Read moreDetails
Next Post
Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Memperingati Cetakan ke-100 'Laut Bercerita' di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co