14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 4, 2025
in Tualang
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Kegembiraan masyarakat adat panen melimpah/ Foto Dok.Yoki Yusanto

HAMPIR setiap tahun sejak 2011 pertama kali berkenalan dengan masyarakat Kasepuhan Cisungsang, saya menyempatkan diri menghadiri ”Seren Taun” di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Tema Seren Taun 2025 ini, Ngawujudkeun Beubeungkeutan nu Sajati, Mewujudkan Ikatan yang Sejati. Menurut Henriana Hatra, Sekertaris Kasepuhan, tema Seren Taun biasanya merespons kondisi sosial masyarakat adat di Kasepuhan Cisungsang.

Tema tahun ini merespon tentang ikatan sosial dan spiritual. Ada kekhawatiran berkurang tentang ikatan-ikatan tersebut. Tema Seren Taun diimplementasikan dengan kegiatan yang lebih banyak melibatkan generasi muda incu putu kasepuhan Sisungsang. Intinya masyarakat Kasepuhan selalu ingin menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Perjalanan dari Kota Serang menuju perkampungan adat di lereng Gunung Halimun ini memakan waktu sekitar enam jam, perjalanan panjang yang selalu menghadirkan rasa rindu tersendiri. Jalannya berliku, melewati hamparan sawah, kebun, dan bukit-bukit hijau yang seolah menyambut siapa pun yang datang dengan hati terbuka.

Muspida menyerap aspirasi masyarakat adat/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Acara Puncak Seren Taun ini 28 September, berlangsung sejak 20 September 2025, dihadiri oleh Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan jajaran Muspida provinsi maupun kabupaten. Kehadiran para pejabat dalam Seren Taun, dalam catatan penulis tidak terbatas pada pejabat di lingkungan Provinsi Banten atau Kabupaten Lebak saja, ada kalanya dari pejabat eselon I kementerian negara juga pernah hadir, seperti Menteri Sosial, Pertanian, dan beberapa pejabat negara lainnya.

Makna Seren Taun

Tradisi Seren Taun merupakan warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat kasepuhan. Ia bukan sekadar pesta panen, melainkan ritual syukur dan pengingat akan siklus kehidupan. Dalam bahasa Sunda, “Seren” bermakna menyerahkan, dan “Taun” berarti tahun. Jadi, Seren Taun bermakna “menyerahkan hasil panen tahun ini kepada Sang Pencipta,” mensyukuri hasil ikhtiar dan kerja keras, sekaligus memohon berkah untuk tahun berikutnya. Di balik kemeriahannya, tersimpan nilai spiritual yang mendalam: tentang keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Seren Taun di Cisungsang berlangsung selama satu minggu penuh. Setiap harinya, ada ritual adat yang dijalankan secara bertahap, mulai dari penyucian diri, gotong royong membersihkan leuit (lumbung padi), hingga puncak acara ketika padi hasil panen diserahkan dan disimpan kembali sebagai simbol kesinambungan hidup. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa tergesa, seolah waktu di Cisungsang berjalan lebih lambat agar setiap detik bisa dirasakan maknanya.

Ritual ngadiuken pare ka leuit/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bagi masyarakat kasepuhan, padi bukan hanya bahan pangan, tetapi roh kehidupan. Dalam setiap butir padi tersimpan nilai kerja keras, ketulusan, dan doa. Maka tak heran bila selama Seren Taun, segala sesuatu yang tersaji, mulai dari kue, makanan, hingga hiasan, selalu berbahan dasar beras, baik beras biasa maupun ketan. Di Imah (Rumah) Gede, kediaman Abah Usep Suyatma, Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, berbagai hidangan tradisional disajikan untuk tamu yang datang dari berbagai penjuru.

Saya selalu terkesan setiap kali memasuki Rumah Gede saat acara berlangsung. Di sana, suasana terasa hangat, bersahaja, dan sakral sekaligus. Para tamu disambut dengan senyum tulus. Tak ada yang dikhususkan; siapa pun boleh duduk dan makan bersama. Abah Usep selalu berujar, “Rejeki kudu dibagi, supaya berkah.” Prinsip itu bukan sekadar ucapan, melainkan laku hidup yang nyata.

Di luar Rumah Gede, suasana begitu meriah. Lapangan luas di depan kasepuhan berubah menjadi ruang publik penuh kehidupan. Malam hari diisi dengan beragam hiburan rakyat: mulai dari wayang golek, ketuk tilu, jaipongan, dangdut, hingga pertunjukan musik pop, rock, dan blues. Semua berpadu tanpa sekat antara tradisi dan modernitas. Bagi saya, inilah yang membuat Seren Taun begitu menarik; ia hidup dan beradaptasi, tanpa kehilangan jati dirinya.

Masyarakat adat menari dan membunyikan angklung/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bunyi kendang bersahutan dengan alunan gitar listrik; anak-anak berlari di antara kerumunan, sementara para sesepuh duduk menikmati pertunjukan dengan wajah tenang. Tidak ada hiruk-pikuk yang memecah keharmonisan, justru ada rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di kota. Masyarakat Cisungsang seakan mengajarkan bahwa kegembiraan dan spiritualitas tidak harus dipisahkan, karena keduanya dapat berjalan berdampingan dalam keseimbangan.

Bukan Sekadar Upacara

Yang paling mengesankan dari setiap kunjungan saya adalah keramahtamahan dan kebijaksanaan para tetua adat. Kasepuhan bukan hanya tempat menjaga tradisi, tetapi juga tempat belajar tentang nilai kehidupan. Di sana, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani hidup dengan ritme yang alami, bekerja seperlunya, bersyukur sepenuhnya. Mereka percaya bahwa alam harus dihormati, bukan dieksploitasi; bahwa manusia harus hidup selaras, bukan saling mendominasi.

Kearifan lokal ini tercermin dalam setiap aspek kehidupan mereka: dari cara menanam padi tanpa pupuk kimia, cara mengatur pembagian air sawah, hingga tata cara bermusyawarah yang penuh kesopanan. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, nilai-nilai seperti ini terasa seperti oase, tempat kita kembali belajar tentang makna keseimbangan dan penghormatan terhadap kehidupan.

Seren Taun di Cisungsang bagi saya bukan hanya perayaan adat, tetapi juga cermin kebudayaan bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat bersanding harmonis, tanpa saling meniadakan. Masyarakat adat seperti di Cisungsang menjadi penjaga moral dan ekologis yang seringkali luput dari perhatian arus utama pembangunan.

Ketika kita berbicara tentang kemajuan, seringkali yang kita bayangkan adalah infrastruktur dan teknologi. Namun, di Cisungsang, saya menyadari bahwa kemajuan sejati justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akar budaya. Tradisi seperti Seren Taun mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang terus berubah, rasa syukur, gotong royong, dan hormat pada alam adalah nilai yang tak boleh hilang.

Penulis (kedua dari kiri) menyerahkan buku kepada Ketua Adat/ Foto Dok.Penulis

Setiap kali meninggalkan Cisungsang setelah Seren Taun usai, saya selalu membawa pulang perasaan damai yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu dari suasana itu, mungkin aroma dupa, tawa anak-anak, atau doa yang melayang dari Rumah Gede, yang membuat hati terasa hangat. Cisungsang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kesederhanaan yang dijalani dengan tulus.

Seren Taun bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah pengingat abadi bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta besar yang penuh rahmat. Dan di tengah dunia yang semakin tergesa, tradisi seperti inilah yang menuntun kita untuk berhenti sejenak, menunduk, dan bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: CisungsangKabupaten LebakpertanianProvinsi Bantenseren taunTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Next Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

by Chusmeru
April 30, 2026
0
Mengenal Banyumas, Wisata Alam dan Kuliner yang Autentik

NAMA Kabupaten Banyumas selalu identik dengan bahasa “Ngapak” yang sering dijadikan lelucon dalam film dan komedi. Banyumas lantas seolah mendapat...

Read moreDetails

Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

by I Nyoman Tingkat
April 19, 2026
0
Pantai Mertasari Sanur, Ruang Kelas Bagi Toska   

JUMAT, 17 April 2026, sebanyak 67 siswa,  guru, dan tenaga kependidikan SMA Negeri 2 Kuta Selatan (Toska) melaksanakan pembelajaran di...

Read moreDetails

Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

by Laurensia Junita Della
April 19, 2026
0
Ketika Nembang Macapat menjadi Bagian Hidup Warga Dusun Tengger di Gunung Kidul

“Tanpa seni, dunia jadi hambar.” Saya tidak yakin dari mana saya mendapatkan kata-kata ini, tapi saya setuju. Sebagai orang yang...

Read moreDetails

Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
April 14, 2026
0
Di Atas Awan, di Puncak Merbabu, Kami Menemukan Diri

HARI itu adalah hari yang telah lama saya nantikan. Hari ketika akhirnya saya bisa menyaksikan dunia dari ketinggian 3.145 mdpl,...

Read moreDetails

Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

by Jaswanto
March 29, 2026
0
Berwisata ke Park Shanghai Surabaya

APA ada Surabaya di Shanghai? Saya kira tidak. Tapi ada Shanghai di Surabaya—meski hanya Shanghai-Shanghaian. Maksudnya, bukan Shanghai betulan. Hanya...

Read moreDetails

Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

by Dede Putra Wiguna
March 24, 2026
0
Menelusuri Jejak Gunung Api di Museum Geopark Batur, Kintamani

KABUT tipis masih menggantung saat saya tiba di dataran tinggi Kintamani, Bangli, Bali. Udara dingin menempel di kulit, sementara di...

Read moreDetails

Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

by Ahmad Sihabudin
March 8, 2026
0
Desember yang Tak Pernah Usai —Catatan Harian 1982

DESEMBER 1982, kami baru naik kelas dua SMA. Umur masih belasan, dada penuh angin, kepala penuh peta yang belum tentu...

Read moreDetails

Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

by Kadek Surya Jayadi
February 28, 2026
0
Menyusuri Heritage Kota, Memeluk Kaum Terpinggir —Kado Kecil Keluarga Sejarah Universitas Udayana untuk HUT ke-238 Kota Denpasar

ADA banyak cara merayakan hari jadi suatu kota. Tak selamanya meski meriah, sebab yang sederhana pun kadang terasa semarak. Sebagaimana...

Read moreDetails

Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

by Nyoman Nadiana
February 26, 2026
0
Berkunjung dan Belajar ke Desa Wisata Krebet, Bantul, Yogyakarta

TANGGAL 4-8 Februari 2026 lalu, saya kembali menapaki Jakarta. Saya berkesempatan terlibat di pameran INACRAFT 2026, pameran craft dan textile...

Read moreDetails

Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

by Kadek Surya Jayadi
February 21, 2026
0
Hujan Februari di Istana Maskerdam: Ziarah Romantis KEMAS UNUD di Situs Puri Agung Karangasem

RINTIK hujan mengiringi perjalanan kami Keluarga Mahasiswa Sejarah (KEMAS) Universitas Udayana, menuju Puri Agung Karangasem, Jumat 20 Februari 2026. Percuma...

Read moreDetails
Next Post
Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Memperingati Cetakan ke-100 'Laut Bercerita' di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co