14 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Ahmad Sihabudin by Ahmad Sihabudin
November 4, 2025
in Tualang
Seren Taun Kasepuhan Cisungsang: Harmoni Tradisi, Alam, dan Kemanusiaan

Kegembiraan masyarakat adat panen melimpah/ Foto Dok.Yoki Yusanto

HAMPIR setiap tahun sejak 2011 pertama kali berkenalan dengan masyarakat Kasepuhan Cisungsang, saya menyempatkan diri menghadiri ”Seren Taun” di Kasepuhan Cisungsang, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, Banten. Tema Seren Taun 2025 ini, Ngawujudkeun Beubeungkeutan nu Sajati, Mewujudkan Ikatan yang Sejati. Menurut Henriana Hatra, Sekertaris Kasepuhan, tema Seren Taun biasanya merespons kondisi sosial masyarakat adat di Kasepuhan Cisungsang.

Tema tahun ini merespon tentang ikatan sosial dan spiritual. Ada kekhawatiran berkurang tentang ikatan-ikatan tersebut. Tema Seren Taun diimplementasikan dengan kegiatan yang lebih banyak melibatkan generasi muda incu putu kasepuhan Sisungsang. Intinya masyarakat Kasepuhan selalu ingin menjaga persatuan dan kesatuan bangsa ini.

Perjalanan dari Kota Serang menuju perkampungan adat di lereng Gunung Halimun ini memakan waktu sekitar enam jam, perjalanan panjang yang selalu menghadirkan rasa rindu tersendiri. Jalannya berliku, melewati hamparan sawah, kebun, dan bukit-bukit hijau yang seolah menyambut siapa pun yang datang dengan hati terbuka.

Muspida menyerap aspirasi masyarakat adat/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Acara Puncak Seren Taun ini 28 September, berlangsung sejak 20 September 2025, dihadiri oleh Gubernur Banten, Bupati Lebak, dan jajaran Muspida provinsi maupun kabupaten. Kehadiran para pejabat dalam Seren Taun, dalam catatan penulis tidak terbatas pada pejabat di lingkungan Provinsi Banten atau Kabupaten Lebak saja, ada kalanya dari pejabat eselon I kementerian negara juga pernah hadir, seperti Menteri Sosial, Pertanian, dan beberapa pejabat negara lainnya.

Makna Seren Taun

Tradisi Seren Taun merupakan warisan leluhur yang telah dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat kasepuhan. Ia bukan sekadar pesta panen, melainkan ritual syukur dan pengingat akan siklus kehidupan. Dalam bahasa Sunda, “Seren” bermakna menyerahkan, dan “Taun” berarti tahun. Jadi, Seren Taun bermakna “menyerahkan hasil panen tahun ini kepada Sang Pencipta,” mensyukuri hasil ikhtiar dan kerja keras, sekaligus memohon berkah untuk tahun berikutnya. Di balik kemeriahannya, tersimpan nilai spiritual yang mendalam: tentang keselarasan antara manusia, alam, dan Tuhan.

Seren Taun di Cisungsang berlangsung selama satu minggu penuh. Setiap harinya, ada ritual adat yang dijalankan secara bertahap, mulai dari penyucian diri, gotong royong membersihkan leuit (lumbung padi), hingga puncak acara ketika padi hasil panen diserahkan dan disimpan kembali sebagai simbol kesinambungan hidup. Semua dilakukan dengan penuh kesadaran, tanpa tergesa, seolah waktu di Cisungsang berjalan lebih lambat agar setiap detik bisa dirasakan maknanya.

Ritual ngadiuken pare ka leuit/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bagi masyarakat kasepuhan, padi bukan hanya bahan pangan, tetapi roh kehidupan. Dalam setiap butir padi tersimpan nilai kerja keras, ketulusan, dan doa. Maka tak heran bila selama Seren Taun, segala sesuatu yang tersaji, mulai dari kue, makanan, hingga hiasan, selalu berbahan dasar beras, baik beras biasa maupun ketan. Di Imah (Rumah) Gede, kediaman Abah Usep Suyatma, Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang, berbagai hidangan tradisional disajikan untuk tamu yang datang dari berbagai penjuru.

Saya selalu terkesan setiap kali memasuki Rumah Gede saat acara berlangsung. Di sana, suasana terasa hangat, bersahaja, dan sakral sekaligus. Para tamu disambut dengan senyum tulus. Tak ada yang dikhususkan; siapa pun boleh duduk dan makan bersama. Abah Usep selalu berujar, “Rejeki kudu dibagi, supaya berkah.” Prinsip itu bukan sekadar ucapan, melainkan laku hidup yang nyata.

Di luar Rumah Gede, suasana begitu meriah. Lapangan luas di depan kasepuhan berubah menjadi ruang publik penuh kehidupan. Malam hari diisi dengan beragam hiburan rakyat: mulai dari wayang golek, ketuk tilu, jaipongan, dangdut, hingga pertunjukan musik pop, rock, dan blues. Semua berpadu tanpa sekat antara tradisi dan modernitas. Bagi saya, inilah yang membuat Seren Taun begitu menarik; ia hidup dan beradaptasi, tanpa kehilangan jati dirinya.

Masyarakat adat menari dan membunyikan angklung/ Foto Dok.Yoki Yusanto

Bunyi kendang bersahutan dengan alunan gitar listrik; anak-anak berlari di antara kerumunan, sementara para sesepuh duduk menikmati pertunjukan dengan wajah tenang. Tidak ada hiruk-pikuk yang memecah keharmonisan, justru ada rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di kota. Masyarakat Cisungsang seakan mengajarkan bahwa kegembiraan dan spiritualitas tidak harus dipisahkan, karena keduanya dapat berjalan berdampingan dalam keseimbangan.

Bukan Sekadar Upacara

Yang paling mengesankan dari setiap kunjungan saya adalah keramahtamahan dan kebijaksanaan para tetua adat. Kasepuhan bukan hanya tempat menjaga tradisi, tetapi juga tempat belajar tentang nilai kehidupan. Di sana, saya melihat bagaimana masyarakat menjalani hidup dengan ritme yang alami, bekerja seperlunya, bersyukur sepenuhnya. Mereka percaya bahwa alam harus dihormati, bukan dieksploitasi; bahwa manusia harus hidup selaras, bukan saling mendominasi.

Kearifan lokal ini tercermin dalam setiap aspek kehidupan mereka: dari cara menanam padi tanpa pupuk kimia, cara mengatur pembagian air sawah, hingga tata cara bermusyawarah yang penuh kesopanan. Di tengah dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, nilai-nilai seperti ini terasa seperti oase, tempat kita kembali belajar tentang makna keseimbangan dan penghormatan terhadap kehidupan.

Seren Taun di Cisungsang bagi saya bukan hanya perayaan adat, tetapi juga cermin kebudayaan bangsa Indonesia. Ia menunjukkan bagaimana tradisi dan modernitas dapat bersanding harmonis, tanpa saling meniadakan. Masyarakat adat seperti di Cisungsang menjadi penjaga moral dan ekologis yang seringkali luput dari perhatian arus utama pembangunan.

Ketika kita berbicara tentang kemajuan, seringkali yang kita bayangkan adalah infrastruktur dan teknologi. Namun, di Cisungsang, saya menyadari bahwa kemajuan sejati justru terletak pada kemampuan menjaga keseimbangan antara kemajuan dan akar budaya. Tradisi seperti Seren Taun mengingatkan kita bahwa di tengah dunia yang terus berubah, rasa syukur, gotong royong, dan hormat pada alam adalah nilai yang tak boleh hilang.

Penulis (kedua dari kiri) menyerahkan buku kepada Ketua Adat/ Foto Dok.Penulis

Setiap kali meninggalkan Cisungsang setelah Seren Taun usai, saya selalu membawa pulang perasaan damai yang sulit dijelaskan. Ada sesuatu dari suasana itu, mungkin aroma dupa, tawa anak-anak, atau doa yang melayang dari Rumah Gede, yang membuat hati terasa hangat. Cisungsang mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak selalu datang dari hal besar, melainkan dari kesederhanaan yang dijalani dengan tulus.

Seren Taun bukan sekadar upacara tahunan. Ia adalah pengingat abadi bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari semesta besar yang penuh rahmat. Dan di tengah dunia yang semakin tergesa, tradisi seperti inilah yang menuntun kita untuk berhenti sejenak, menunduk, dan bersyukur. [T]

Penulis: Ahmad Sihabudin
Editor: Adnyana Ole

Tags: CisungsangKabupaten LebakpertanianProvinsi Bantenseren taunTradisi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Next Post

Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Ahmad Sihabudin

Ahmad Sihabudin

Dosen Komunikasi Lintas Budaya, Fisip, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta), Banten

Related Posts

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

by Chusmeru
July 13, 2026
0
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

Read moreDetails

Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

by Made Wirya
June 21, 2026
0
Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

Saya sangat jarang bergaul dengan alumni apa pun. Dari sekian puluh undangan reuni sekolah, kedatangan saya bisa dihitung dengan jari....

Read moreDetails

Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

by Wahyu Mahaputra
June 11, 2026
0
Dua Malam di Banyuwangi dan Ingatan Sepintas Lalu —Catatan Perjalanan Studi Komparasi Dinas Kominfosanti Buleleng

DARI balik kaca bus berkapasitas empat puluh lima kursi saya melihat malam hari di Banyuwangi, Jawa Timur, cukup gemerlap. Lampu-lampu...

Read moreDetails

Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

by I Nyoman Tingkat
June 3, 2026
0
Baduy Luar,  Etalase Pariwisata Banten

SEHARI di Baduy Luarbersama Bandesa/Panglingsir Desa Adat di Badung pada Jumat Paing Gumbreg, 15 Mei 2026, selain merasakan suasana alami...

Read moreDetails

Ke Pacet Mereka Kembali

by Jaswanto
June 2, 2026
0
Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

Read moreDetails

Mereka Menunggu di Setia Darma 

by Dede Putra Wiguna
May 29, 2026
0
Mereka Menunggu di Setia Darma 

LANGIT mendung siang itu terasa menenangkan. Sepasang turis asing berjalan pelan menyusuri jalan kecil yang dikelilingi semak dan rimbun pohon....

Read moreDetails

Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

by I Nyoman Tingkat
May 27, 2026
0
Refleksi Study Tiru ke Baduy Luar 

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se-Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Kamis Umanis Gumbreg,...

Read moreDetails

Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

by Chusmeru
May 25, 2026
0
Menilik Petilasan Gajah Mada di Kebumen: Upaya Literasi Sejarah

MENYIMPAN jejak sejarah panjang, Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah mungkin tak setenar kota-kota besar di Indonesia. Namun keberadaan Kebumen tak bisa...

Read moreDetails

Kota Tua Tak Pernah Mati

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
0
Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

Read moreDetails

Oleh-Oleh dari Baduy Luar

by I Nyoman Tingkat
May 23, 2026
0
Oleh-Oleh dari Baduy Luar

MENGIKUTI rombongan Desa Adat se-Kabupaten Badung melakukan Study Tiru ke Baduy Luar, Provinsi Banten, Jumat Paing Gumbreg 15 Mei 2026,...

Read moreDetails
Next Post
Memperingati Cetakan ke-100 ‘Laut Bercerita’ di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Memperingati Cetakan ke-100 'Laut Bercerita' di Ubud Writers & Readers Festival 2025, Mengapa Begitu Fenomenal?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif
Khas

Beranda Pustaka Hidupkan Festival Seni Bali Jani VIII, Hadirkan Ruang Literasi yang Hangat dan Inklusif

DI tengah semarak pertunjukan seni yang mewarnai Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII, hadir sebuah ruang yang menawarkan pengalaman berbeda....

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”
Panggung

Wayang Ental dan Ruang yang Tersisa Sebelum “Nanti Dulu”

BAYANGAN adalah jiwa dari wayang kulit. Di tangan seorang dalang, lembar-lembar kulit hidup melalui permainan cahaya. Namun, Wayang Ental memilih...

by Nyoman Budarsana
July 14, 2026
Ketika Waktu Berpindah Tangan
Ulas Musik

Ketika Waktu Berpindah Tangan

Ada lagu yang tidak sekadar didengar, melainkan mengetuk zaman. The Times They Are a-Changin’ karya Bob Dylan adalah salah satunya....

by Ahmad Sihabudin
July 13, 2026
Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka
Tualang

Menguak Pesanggrahan Prabu Siliwangi di ‘Kota Angin’ Majalengka

MENYUSURI jalanan di Kabupaten Majalengka mengingatkan berbagai julukan yang melekat pada daerah di bagian timur Provinsi Jawa Barat ini. Pertama...

by Chusmeru
July 13, 2026
Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026
Khas

Membincangkan Posisi dan Potensi Sastra Indonesia di Singaraja Literary Festival 2026

 “Generasi yang selalu difitnah inilah yang sebetulnya menghidupkan sastra masa kini.” Pernyataan JS Khairen itu menjadi salah satu penanda arah...

by Dede Putra Wiguna
July 13, 2026
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’
Esai

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co