24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

I Wayan Suardika by I Wayan Suardika
November 3, 2025
in Ulas Buku
Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

Buku "Kuda Putih di Bali"

ANGGA Wijaya—yang saya tahu—adalah seorang penulis produktif. Banyak bukunya telah diterbitkan. Sebagai sahabatnya, saya bangga. Dalam berbagai kesempatan, kami sering bercakap-cakap tentang sejumlah hal, kebanyakan bertopik sastra dan buku.

Suatu hari ia mengabarkan akan menerbitkan buku lagi. Ia kabarkan itu di Facebook. Saya membacanya. Hanya tak menyangka saja bahwa ia meminta saya memberi kata pengantar. Ia meminta itu lewat WhatsApp. Zonder beranjang kalam, saya menyanggupinya. Saya pun meminta naskah bukunya. Ia memberi judul calon buku barunya yang akan terbit itu Kuda Putih di Bali: Kumpulan Artikel Seni.

Buku Kuda Putih di Bali  ini tak begitu rumit untuk dibaca. Seni—apalagi dengan cap kontemporer—sering kali terasa “mengerikan” untuk didekati. Tetapi pada buku ini, Angga menawarkan pembacanya untuk “masuk ke dunia seni” dengan rileks. Itu karena Angga sendiri sudah begitu pandai menyederhanakan penyampaiannya tentang topik seni maupun tentang seniman yang ia kupas. Saya sering membaca artikelnya di Facebook. Dan saya menilai Angga sudah sanggup menyederhanakan hal-hal rumit menjadi begitu sahaja tanpa kehilangan substansinya.

Bali kaya akan seni. Sebutkan saja salah satu jenis seni, Bali akan memperlihatkannya. Karena Bali memiliki semuanya. Dari sejarah seni hingga perkembangan paling mutakhir, ada di Bali, terjadi di Bali. Inilah lautan bahan penulis seni jika hendak menulis tentang kesenian Bali. dan Angga “menjaringnya” seklumit dari “lautan luas” kesenian di Bali yang ia himpun dalam Kuda Putih di Bali.

Artikel-artikel dalam buku ini nampaknya ditulis dengan berkecenderungan teknik jurnalistik, istimewa dalam penulisan profil. Ini bisa dimengerti. Dasar lain dari kemampuan Angga adalah di bidang jurnalistik selain sebagai penulis puisi. Tulisan profil adalah hal lazim dalam jurnalistik. Dan Angga sangat mahir dalam perkara itu.

Tak mudah menulis artikel profil. Sering kali sang pewarta luput merumuskan dengan baik ungkapan-ungkapan profil yang diwawancara. Apalagi profil seniman yang tak jarang gagap merumuskan pemikirannya. Pewarta yang baik sangat peka menangkap yang dimaksud orang yang diwawancarainya. Ia mengerti apa yang dimaksud si profil dan membangunnya kembali dalam kalimat yang baik, tanpa menggeser substansi yang diucapkan seseorang yang diwawancarainya.

Buku “Kuda Putih di Bali”

Angga nampaknya cukup sanggup menangkap dan menyajikan ucapan lawan bicaranya, menyajikannya kemudian dalam artikel yang mudah dipahami pembaca. Memang tak bisa dihindari, pewarta yang mewawancarai seseorang yang memiliki keahlian tertentu, misalnya seniman, sebaiknya memang si pewarta juga memahami secukupnya tentang khasanah kesenian.

Dari cara penyajian penulisan profil seniman, kita tak meragukan kemampuan Angga dalam hal itu. Artikelnya tentang perupa Made Kaek, Dian Dewi, perkenalannya dengan Umbu Landu Paranggi dan sejumlah seniman yang lain meyakinkan kita betapa ia mahir menulis artikel profil. Ada beberapa analisis ringan juga yang ia lakukan, misalnya mengupas puisi Tan Lioe Ie, atau menutur tentang dirinya bertalian dengan Umbu, mengupas sebuah novel Wayan Udiana atau dikenal dengan nama Nanoq Da Kansas. 

Apapun itu, kita para pembaca “berutang informasi” kepada Angga. Betapa tidak! Melalui bukunya ini, kita akhirnya memahami isi “akal dan hati” para seniman di Bali . Dengan piawai Angga merangkum dan menuturkan kembali segala pandang dan sentimental rohani para seniman yang bertalian dengan kehidupan dan kesenian para seniman di Bali.

Mereka—para seniman yang diwawancarai Angga—dengan jelas, tegas dan bernas berungkap tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang kerja kreatifnya, tentang kesetiaannya kepada bakat dan pilihan keseniannya. Dalam buku ini, mereka semua telah membuka dirinya, membuka akal dan hatinya. 

Bagi saya, seni itu akal dan hati. Seni menjangkau akal ketika ia berada di ranah wacana; seni merasuk ke hati ketika ia berada pada tingkat resepsi, suatu dialog estetik antara karya dan khalayak. Resepsi audiens—dalam konteks sastra—ini pernah diangkat dalam suatu kajian ilmiah di bidang sastra oleh Umar Junus yang kemudian hasilnya dibukukan berjudul Resepsi Sastra. 

Tak bisa lain, seni terwujud dari pergumulan akal dan hati. Barangkali awalnya seni hanyalah “wujud keisengan di waktu luang” sebagaimana sejarah purba seni bermula. Namun dalam “wujud keisengan di waktu luang” itu tetap saja keseluruhan eksistensi manusia terjaga, yang mana seluruh energi (eksistensi) itu menyublim kepada apa yang mau diwujudkan.

Seni yang semula berada pada ranah hati (sebagaimana keindahan adalah urusan hati), lambat-laun makin memberi tempat pada akal, terutama ketika seni kontemporer makin menjadi-jadi memberi keluasan  ruang kepada  “seni laboratorium”, suatu ekspresi yang begitu berani melakukan ketakterdugaan, tak lagi cemas pada perangai try and error. Eksperimental, keberanian untuk melakukan eksplorasi tiada batas, pada akhirnya memang mengedepankan akal.

Namun seluas akal diberi ruang, ia tak bisa lepas dari rasa, dari hati, dari watak purba seni; ialah keindahan! Sedahsyat apapun pencapaian seni (terutama pada seni rupa, musik, teater untuk menyebut beberapa), ia tetap akan berujung pada keindahan. Karena seni kontemporer bukanlah seni akal-akalan; seni kontemporer ialah keagungan estetik mutakhir yang bisa dicapai oleh senimannya.

Selama ini, barangkali segelintir publik penikmat seni belum bisa “masuk” ke dalam artistik para seniman mungkin karena, misalnya, lukisan abstrak seorang pelukis abstrak demkian “pekat” dan padat oleh tumpukan cat warna-warni denga garis besar (brush stroke); barangkali juga belum bisa sepenuhnya mengapresiasi puisi Umbu Landu Paranggi; atau mulai memahami mengapa profesi kurasi belum begitu “kental” di Bali.

Dalam buku ini, Angga “mengantar” kita kepada akal dan hati para seniman melalui artikelnya yang lebih banyak berjenis tulisan profil. Sebetulnya dengan jenis tulisan semacam ini memudahkan pembaca memahami sedikit banyaknya tentang si seniman dan barangkali hal itu menjadi semacam “pintu masuk” bagi awam yang mulai mencoba memahami kesenian sang seniman.

Karena pada artikel-artikel berupa tulisan profil dalam buku ini, Angga memberi ruang luas kepada si seniman untuk berungkap lebih banyak, baik tentang kerja kreatifnya, pengalamannya, cara pandang si seniman tentang sesuatu yang bertalian dengan hidup dan keseniannya. Dengan begitu, setidaknya pembaca mendapat sedikit banyaknya tentang “kejujuran” seniman dan itu baik buat pembaca untuk memulai mengapresiasi atau memasuki dunia kreatif sang seniman.

Nampak ada kebebasan cara Angga menulis artikel. Kita tak akan menjumpai artikel-artikel  dalam buku ini seserius tulisan opini di koran-koran arus utama. Di tengah artikel yang ia tulis bisa nyelonong catatan wawancara “tanya-jawab”dengan narasumber, misalnya. Pembaca tak perlu mengernyit dahi untuk menikmati setiap artikel dalam buku ini.

Jika Angga berkecenderungan menulis profil-profil seniman di Bali, maka barangkali ia akan kewalahan menulis profil karena bahan untuk itu tersedia amat banyak Di Bali. Tak kurang pula seniman-seniman Bali yang hebat yang sangat pantas dikulik kesenian dan kesenimannya.

BUKU Kuda Putih di Bali adalah sekelumit buku tentang seniman di Bali yang pernah diwawancarai Angga. Ini cukup memadai untuk sekadar memahami sejumlah seniman yang berkiprah selama ini. Lebih banyak memuat tulisan profil adalah baik karena seperti yang saya ungkapkan tadi.

Andai buku ini sedikit lebih bersabar untuk diterbitkan sementara Angga terus menulis tentang dunia kesenian di Bali; menulis juga semacam “laporan pandangan mata” tentang suatu peristiwa kesenian; menginvestigasi potensi-potensi kesenian suatu daerah; kemudian lebih banyak menulis profil-profil seniman hebat Bali; maka saya membayangkan betapa tebalnya buku ini dan betapa lebih punya arti sebagai suatu catatan penting perjalanan kesenian di Bali.

Tapi apapun, saya sangat mengapresiasi kegigihan seorang Angga dalam menerbitkan catatan-catatan opini dan reportasenya tentang berbagai ikhwal ke dalam buku cetak, mendistribusikannya kepada sejumlah sahabatnya atau kepada mereka yang berminat kepada bukunya.

Akhir kata, saya menutup kupasan sahaja ini dengan mengutip pepatah Latin scripta manent “yang tertulis akan tetap ada”. Tetapi jangan lupa pepatah Latin yang lain, Habent sua fata lebelli “buku-buku memiliki nasibnya sendiri”. Begitulah, buku-buku—dalam perjalanannya—bisa  abadi, bisa mati sendiri! [T]

Penulis: I Wayan Suardika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Angga WijayaBukukesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Next Post

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

I Wayan Suardika

I Wayan Suardika

Novelis dan cerpenis, pengelola Pustaka Bali Seni. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

by Hartanto
October 21, 2026
0
Sepetik Buku IB Putra Adnyana : “Karya Visual Dengan Multi Sensorik”.

SUNGGUH beruntung, saya mendapatkan buku Karya Visual dengan Multi Sensorik karya IB Putra Adnyana ini. Meski baru sampai bab III...

Read moreDetails

Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

by Ahmad Hirzan Anwari
October 13, 2026
0
Merayakan 10 Tahun Cak Dlahom, Sosok Sufi yang Aneh dalam Buku Rusdi Mathari

BUKU Rusdi Mathari berjudul Merasa Pintar, Bodoh Saja Tak Punya, genap berusia 10 tahuan. Buku Mojok, sebagai penerbit, merayakan ulang...

Read moreDetails

Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

by Emi Suy
October 8, 2026
0
Jalan yang Mengubah Momen Menjadi Monumen: Menyusuri Perjalanan Batin dalam “Traveling With Soul” karya Meilani Dhamayanti

KITA sering berangkat dengan tujuan yang telah ditentukan, seolah jalan hanya perlu mengantar tubuh sampai ke sebuah tempat. Padahal, perjalanan...

Read moreDetails

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails
Next Post
Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co