3 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

I Wayan Suardika by I Wayan Suardika
November 3, 2025
in Ulas Buku
Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

Buku "Kuda Putih di Bali"

ANGGA Wijaya—yang saya tahu—adalah seorang penulis produktif. Banyak bukunya telah diterbitkan. Sebagai sahabatnya, saya bangga. Dalam berbagai kesempatan, kami sering bercakap-cakap tentang sejumlah hal, kebanyakan bertopik sastra dan buku.

Suatu hari ia mengabarkan akan menerbitkan buku lagi. Ia kabarkan itu di Facebook. Saya membacanya. Hanya tak menyangka saja bahwa ia meminta saya memberi kata pengantar. Ia meminta itu lewat WhatsApp. Zonder beranjang kalam, saya menyanggupinya. Saya pun meminta naskah bukunya. Ia memberi judul calon buku barunya yang akan terbit itu Kuda Putih di Bali: Kumpulan Artikel Seni.

Buku Kuda Putih di Bali  ini tak begitu rumit untuk dibaca. Seni—apalagi dengan cap kontemporer—sering kali terasa “mengerikan” untuk didekati. Tetapi pada buku ini, Angga menawarkan pembacanya untuk “masuk ke dunia seni” dengan rileks. Itu karena Angga sendiri sudah begitu pandai menyederhanakan penyampaiannya tentang topik seni maupun tentang seniman yang ia kupas. Saya sering membaca artikelnya di Facebook. Dan saya menilai Angga sudah sanggup menyederhanakan hal-hal rumit menjadi begitu sahaja tanpa kehilangan substansinya.

Bali kaya akan seni. Sebutkan saja salah satu jenis seni, Bali akan memperlihatkannya. Karena Bali memiliki semuanya. Dari sejarah seni hingga perkembangan paling mutakhir, ada di Bali, terjadi di Bali. Inilah lautan bahan penulis seni jika hendak menulis tentang kesenian Bali. dan Angga “menjaringnya” seklumit dari “lautan luas” kesenian di Bali yang ia himpun dalam Kuda Putih di Bali.

Artikel-artikel dalam buku ini nampaknya ditulis dengan berkecenderungan teknik jurnalistik, istimewa dalam penulisan profil. Ini bisa dimengerti. Dasar lain dari kemampuan Angga adalah di bidang jurnalistik selain sebagai penulis puisi. Tulisan profil adalah hal lazim dalam jurnalistik. Dan Angga sangat mahir dalam perkara itu.

Tak mudah menulis artikel profil. Sering kali sang pewarta luput merumuskan dengan baik ungkapan-ungkapan profil yang diwawancara. Apalagi profil seniman yang tak jarang gagap merumuskan pemikirannya. Pewarta yang baik sangat peka menangkap yang dimaksud orang yang diwawancarainya. Ia mengerti apa yang dimaksud si profil dan membangunnya kembali dalam kalimat yang baik, tanpa menggeser substansi yang diucapkan seseorang yang diwawancarainya.

Buku “Kuda Putih di Bali”

Angga nampaknya cukup sanggup menangkap dan menyajikan ucapan lawan bicaranya, menyajikannya kemudian dalam artikel yang mudah dipahami pembaca. Memang tak bisa dihindari, pewarta yang mewawancarai seseorang yang memiliki keahlian tertentu, misalnya seniman, sebaiknya memang si pewarta juga memahami secukupnya tentang khasanah kesenian.

Dari cara penyajian penulisan profil seniman, kita tak meragukan kemampuan Angga dalam hal itu. Artikelnya tentang perupa Made Kaek, Dian Dewi, perkenalannya dengan Umbu Landu Paranggi dan sejumlah seniman yang lain meyakinkan kita betapa ia mahir menulis artikel profil. Ada beberapa analisis ringan juga yang ia lakukan, misalnya mengupas puisi Tan Lioe Ie, atau menutur tentang dirinya bertalian dengan Umbu, mengupas sebuah novel Wayan Udiana atau dikenal dengan nama Nanoq Da Kansas. 

Apapun itu, kita para pembaca “berutang informasi” kepada Angga. Betapa tidak! Melalui bukunya ini, kita akhirnya memahami isi “akal dan hati” para seniman di Bali . Dengan piawai Angga merangkum dan menuturkan kembali segala pandang dan sentimental rohani para seniman yang bertalian dengan kehidupan dan kesenian para seniman di Bali.

Mereka—para seniman yang diwawancarai Angga—dengan jelas, tegas dan bernas berungkap tentang dirinya, tentang hidupnya, tentang kerja kreatifnya, tentang kesetiaannya kepada bakat dan pilihan keseniannya. Dalam buku ini, mereka semua telah membuka dirinya, membuka akal dan hatinya. 

Bagi saya, seni itu akal dan hati. Seni menjangkau akal ketika ia berada di ranah wacana; seni merasuk ke hati ketika ia berada pada tingkat resepsi, suatu dialog estetik antara karya dan khalayak. Resepsi audiens—dalam konteks sastra—ini pernah diangkat dalam suatu kajian ilmiah di bidang sastra oleh Umar Junus yang kemudian hasilnya dibukukan berjudul Resepsi Sastra. 

Tak bisa lain, seni terwujud dari pergumulan akal dan hati. Barangkali awalnya seni hanyalah “wujud keisengan di waktu luang” sebagaimana sejarah purba seni bermula. Namun dalam “wujud keisengan di waktu luang” itu tetap saja keseluruhan eksistensi manusia terjaga, yang mana seluruh energi (eksistensi) itu menyublim kepada apa yang mau diwujudkan.

Seni yang semula berada pada ranah hati (sebagaimana keindahan adalah urusan hati), lambat-laun makin memberi tempat pada akal, terutama ketika seni kontemporer makin menjadi-jadi memberi keluasan  ruang kepada  “seni laboratorium”, suatu ekspresi yang begitu berani melakukan ketakterdugaan, tak lagi cemas pada perangai try and error. Eksperimental, keberanian untuk melakukan eksplorasi tiada batas, pada akhirnya memang mengedepankan akal.

Namun seluas akal diberi ruang, ia tak bisa lepas dari rasa, dari hati, dari watak purba seni; ialah keindahan! Sedahsyat apapun pencapaian seni (terutama pada seni rupa, musik, teater untuk menyebut beberapa), ia tetap akan berujung pada keindahan. Karena seni kontemporer bukanlah seni akal-akalan; seni kontemporer ialah keagungan estetik mutakhir yang bisa dicapai oleh senimannya.

Selama ini, barangkali segelintir publik penikmat seni belum bisa “masuk” ke dalam artistik para seniman mungkin karena, misalnya, lukisan abstrak seorang pelukis abstrak demkian “pekat” dan padat oleh tumpukan cat warna-warni denga garis besar (brush stroke); barangkali juga belum bisa sepenuhnya mengapresiasi puisi Umbu Landu Paranggi; atau mulai memahami mengapa profesi kurasi belum begitu “kental” di Bali.

Dalam buku ini, Angga “mengantar” kita kepada akal dan hati para seniman melalui artikelnya yang lebih banyak berjenis tulisan profil. Sebetulnya dengan jenis tulisan semacam ini memudahkan pembaca memahami sedikit banyaknya tentang si seniman dan barangkali hal itu menjadi semacam “pintu masuk” bagi awam yang mulai mencoba memahami kesenian sang seniman.

Karena pada artikel-artikel berupa tulisan profil dalam buku ini, Angga memberi ruang luas kepada si seniman untuk berungkap lebih banyak, baik tentang kerja kreatifnya, pengalamannya, cara pandang si seniman tentang sesuatu yang bertalian dengan hidup dan keseniannya. Dengan begitu, setidaknya pembaca mendapat sedikit banyaknya tentang “kejujuran” seniman dan itu baik buat pembaca untuk memulai mengapresiasi atau memasuki dunia kreatif sang seniman.

Nampak ada kebebasan cara Angga menulis artikel. Kita tak akan menjumpai artikel-artikel  dalam buku ini seserius tulisan opini di koran-koran arus utama. Di tengah artikel yang ia tulis bisa nyelonong catatan wawancara “tanya-jawab”dengan narasumber, misalnya. Pembaca tak perlu mengernyit dahi untuk menikmati setiap artikel dalam buku ini.

Jika Angga berkecenderungan menulis profil-profil seniman di Bali, maka barangkali ia akan kewalahan menulis profil karena bahan untuk itu tersedia amat banyak Di Bali. Tak kurang pula seniman-seniman Bali yang hebat yang sangat pantas dikulik kesenian dan kesenimannya.

BUKU Kuda Putih di Bali adalah sekelumit buku tentang seniman di Bali yang pernah diwawancarai Angga. Ini cukup memadai untuk sekadar memahami sejumlah seniman yang berkiprah selama ini. Lebih banyak memuat tulisan profil adalah baik karena seperti yang saya ungkapkan tadi.

Andai buku ini sedikit lebih bersabar untuk diterbitkan sementara Angga terus menulis tentang dunia kesenian di Bali; menulis juga semacam “laporan pandangan mata” tentang suatu peristiwa kesenian; menginvestigasi potensi-potensi kesenian suatu daerah; kemudian lebih banyak menulis profil-profil seniman hebat Bali; maka saya membayangkan betapa tebalnya buku ini dan betapa lebih punya arti sebagai suatu catatan penting perjalanan kesenian di Bali.

Tapi apapun, saya sangat mengapresiasi kegigihan seorang Angga dalam menerbitkan catatan-catatan opini dan reportasenya tentang berbagai ikhwal ke dalam buku cetak, mendistribusikannya kepada sejumlah sahabatnya atau kepada mereka yang berminat kepada bukunya.

Akhir kata, saya menutup kupasan sahaja ini dengan mengutip pepatah Latin scripta manent “yang tertulis akan tetap ada”. Tetapi jangan lupa pepatah Latin yang lain, Habent sua fata lebelli “buku-buku memiliki nasibnya sendiri”. Begitulah, buku-buku—dalam perjalanannya—bisa  abadi, bisa mati sendiri! [T]

Penulis: I Wayan Suardika
Editor: Adnyana Ole

Tags: Angga WijayaBukukesenian bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Belajar, Berkaca, Membaca dan Memahami Samudra

Next Post

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

I Wayan Suardika

I Wayan Suardika

Novelis dan cerpenis, pengelola Pustaka Bali Seni. Tinggal di Denpasar

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co