13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Arief Rahzen by Arief Rahzen
November 3, 2025
in Esai
Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Lautan Bali-Lombok

PETA konvensional mengajarkan kita, bahwa daratan adalah panggung kehidupan, sementara lautan hanyalah bidang biru yang kosong. Lautan jadi batas. Bagi bangsa kepulauan, cara pandang ini kekeliruan fundamental. Sejarah nusantara tidak ditulis di atas tanah semata. Sejarah nusantara juga tergores di atas gelombang. Lautan bukanlah pemisah, melainkan halaman. Selat bukanlah penyekat, melainkan koridor yang sibuk. Gema “Jalesveva Jayamahe” dan visi “Poros Maritim Dunia” sejatinya bukanlah inovasi, melainkan sebuah restorasi identitas bahari yang nyaris terlupa.

Panggung yang tepat untuk menyaksikan drama maritim ini, yakni perairan antara Bali dan Lombok. Selat Lombok bukanlah garis ujung geografis bagi Bali atau gerbang awal bagi Lombok. Selat ini ialah sebuah panggung dinamis. Sebuah “arsip cair” tempat narasi bersama kedua pulau ditulis, ditentang, dan dirundingkan ulang selama berabad-abad. Ini medium yang sama, yang mengalirkan irama gamelan dan migrasi penduduk.

Nilai strategis Selat Lombok bersifat trans-historis. Geografinya adalah konstanta. Jauh sebelum era kapal tanker, selat ini sudah jadi urat nadi. Pelabuhan Ampenan di pesisir timur selat pernah menjadi jembatan niaga penting, tempat beras Lombok yang subur diekspor ke berbagai penjuru. Arus yang sama yang membawa para pedagang Muslim ke tanah Lombok.

Arus itu melayani siapa saja yang menguasai teknologi navigasi. Pada abad ke-17, Kerajaan Karangasem di Bali timur memanfaatkan koridor ini. Armada perang mereka menyeberang, mengubah peta politik dan demografi kedua pulau secara permanen. Laut yang membawa kemakmuran kini membawa pertarungan. Geografi Selat Lombok menjadi panggung di mana sejarah dimainkan: perdagangan, penyebaran agama, dan persaingan.

Interaksi Bali dan Lombok lahir dari sebuah paradoks fundamental: lahir dari target kemakmuran, kemudian pertarungan, namun dipertahankan melalui akulturasi. Kehadiran Karangasem bukanlah kedatangan tunggal, melainkan proses migrasi sistematis. Para pangeran, pendeta, prajurit, dan pengikut turut menetap. Dari rahim inilah benih-benih masyarakat hibrida yang unik mulai tumbuh.

Bukti fisik paling kuat dari perpaduan ini berdiri di Lingsar, Lombok Barat. Pura Lingsar bukanlah sekadar tempat ibadah. I Wayan Sumertha dalam Pura Lingsar dalam Pendekatan Teologi Hindu (2023) menjelaskan inilah monumen hidup, sebuah manifestasi arsitektural dari dialog filosofis yang telah berlangsung ratusan tahun.

Kompleks ini adalah metafora spasial dari hubungan kedua komunitas: “terpisah namun bersama”. Di bagian utara, Pura Gaduh menjadi tempat suci bagi umat Hindu Bali. Di bagian selatan, Kemaliq menjadi area keramat bagi pendukung Wetu Telu Sasak. Keduanya terpisah secara fungsional, namun dihubungkan oleh gerbang agung (Kori Agung) dan berbagi halaman luar (bencingah) yang sama.

Koeksistensi ini dimungkinkan secara teologis oleh Wetu Telu. Inilah sebuah penghayatan Islam yang sangat dipengaruhi tradisi lokal pra-Islam dan ajaran tasawuf. Filosofi intinya yang holistik dan komunal, yang menghargai tradisi leluhur, menciptakan “ruang izin” teologis. Ini memungkinkan komunitas Wetu Telu berpartisipasi dalam ritual bersama di ruang yang sama dengan umat Hindu.

Puncaknya di tradisi tahunan Perang Topat. Setelah upacara pujawali, ribuan warga Hindu dan Sasak saling melempar ketupat dalam suka cita. Ini drama sosial yang melepaskan ketegangan, melambangkan rasa syukur, dan menegaskan kembali ikatan komunal. Di Lingsar, batu-batu ditata menjadi arsitektur perdamaian, dan ketupat dilempar sebagai simbol persatuan.

Jika Lingsar jadi jiwa akulturasi, seni pertunjukan ialah tubuhnya. Kesenian menjadi laboratorium hibriditas (Susilo Edi Purwanto dan I Wayang Sutama, Akulturasi Genealogis Budaya Bali dan Sasak di Pulau Lombok, 2021).Tari Gandrung adalah contoh utama. Tarian ini menyeberang selat dari Jawa melalui Bali. Gandrung tiba di Lombok dengan membawa pakem (prinsip dasar) koreografi Bali. Namun, masyarakat Sasak mengadaptasinya. Gandrung di Lombok berevolusi dari tarian ritual kesuburan menjadi tarian pergaulan sosial yang hidup. Tari ini telah “didomestikasi”, diberi makna baru yang sesuai dengan pandangan dunia lokal.

Gema yang sama terdengar dalam musik. Ansambel Gendang Beleq Sasak secara eksplisit menggunakan instrumen yang jamak dalam gamelan Bali: gong, kempul, saron, dan reong (Erwin Prasetya, Kesenian Gendang Beleq, 2023). Namun, lagi-lagi, ini bukan peniruan. Masyarakat Sasak menempatkan sepasang gendang berukuran raksasa (beleq) sebagai pemimpin ansambel. Fokusnya bergeser dari jalinan melodi rumit Bali ke ritme yang menghentak dan bertenaga, mencerminkan fungsi historisnya sebagai musik penyemangat prajurit. Ini cerminan estetika lokal: semaiq (kesederhanaan) dan paut (kepantasan).

Arus Baru, Takdir yang Sama

Kini, laut terus menghubungkan Bali dan Lombok. Namun, arusnya telah bergeser. Kini, laut menghantarkan gelombang wisatawan global. Hubungan kontemporer ini jadi negosiasi yang kompleks antara warisan ketidakseimbangan kuasa di masa lalu dan takdir ekonomi bersama di masa kini.

Warisan persaingan terkadang masih menyisakan potensi ketegangan. Namun, kesadaran akan sejarah bersama juga mendorong upaya rekonsiliasi. Pertunjukan seni kolaboratif, di mana musisi Sasak dan Bali bermain bersama, menjadi medium kuat untuk mengubah modal budaya menjadi modal sosial. Dalam harmoni nada, perbedaan etnis melebur.

Secara historis, ekonomi dan pariwisata Lombok berkait dengan Bali. Krisis pariwisata di Bali, terasa di Lombok. Namun, keterkaitan ini juga membawa berkah. Tenaga kerja dan produk dari Lombok hadir di Bali. Sebaliknya, pengusaha dari Bali hadir di Lombok. Saling terkait. Keduanya terus bernegosiasi dengan identitas mereka dalam lanskap yang terus berubah ini.

Perjalanan melintasi Selat Lombok ialah perjalanan melintasi waktu. Selat ini terbukti agen sejarah yang aktif. Lautan memori. Di dalam arusnya tersimpan ingatan akan kapal-kapal, doa bersama dalam dua keyakinan, dan tawa suka cita Perang Topat. Setiap gelombang yang memecah di pantai kedua pulau adalah bisikan dari masa lalu yang kompleks, terjalin dari benang konflik dan harmoni.

Pada saat yang sama, lautan ini memegang harapan. Arus baru pariwisata dan dialog budaya terus membentuk identitas kedua pulau yang selamanya terikat oleh air. Kisah Bali dan Lombok adalah pengingat abadi: di negeri kepulauan, laut bukanlah batas. Inilah warisan, tantangan, dan, pada akhirnya, takdir bersama. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: akulturasi budayabaliLombokSasak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

Next Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co