24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Arief Rahzen by Arief Rahzen
November 3, 2025
in Esai
Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Lautan Bali-Lombok

PETA konvensional mengajarkan kita, bahwa daratan adalah panggung kehidupan, sementara lautan hanyalah bidang biru yang kosong. Lautan jadi batas. Bagi bangsa kepulauan, cara pandang ini kekeliruan fundamental. Sejarah nusantara tidak ditulis di atas tanah semata. Sejarah nusantara juga tergores di atas gelombang. Lautan bukanlah pemisah, melainkan halaman. Selat bukanlah penyekat, melainkan koridor yang sibuk. Gema “Jalesveva Jayamahe” dan visi “Poros Maritim Dunia” sejatinya bukanlah inovasi, melainkan sebuah restorasi identitas bahari yang nyaris terlupa.

Panggung yang tepat untuk menyaksikan drama maritim ini, yakni perairan antara Bali dan Lombok. Selat Lombok bukanlah garis ujung geografis bagi Bali atau gerbang awal bagi Lombok. Selat ini ialah sebuah panggung dinamis. Sebuah “arsip cair” tempat narasi bersama kedua pulau ditulis, ditentang, dan dirundingkan ulang selama berabad-abad. Ini medium yang sama, yang mengalirkan irama gamelan dan migrasi penduduk.

Nilai strategis Selat Lombok bersifat trans-historis. Geografinya adalah konstanta. Jauh sebelum era kapal tanker, selat ini sudah jadi urat nadi. Pelabuhan Ampenan di pesisir timur selat pernah menjadi jembatan niaga penting, tempat beras Lombok yang subur diekspor ke berbagai penjuru. Arus yang sama yang membawa para pedagang Muslim ke tanah Lombok.

Arus itu melayani siapa saja yang menguasai teknologi navigasi. Pada abad ke-17, Kerajaan Karangasem di Bali timur memanfaatkan koridor ini. Armada perang mereka menyeberang, mengubah peta politik dan demografi kedua pulau secara permanen. Laut yang membawa kemakmuran kini membawa pertarungan. Geografi Selat Lombok menjadi panggung di mana sejarah dimainkan: perdagangan, penyebaran agama, dan persaingan.

Interaksi Bali dan Lombok lahir dari sebuah paradoks fundamental: lahir dari target kemakmuran, kemudian pertarungan, namun dipertahankan melalui akulturasi. Kehadiran Karangasem bukanlah kedatangan tunggal, melainkan proses migrasi sistematis. Para pangeran, pendeta, prajurit, dan pengikut turut menetap. Dari rahim inilah benih-benih masyarakat hibrida yang unik mulai tumbuh.

Bukti fisik paling kuat dari perpaduan ini berdiri di Lingsar, Lombok Barat. Pura Lingsar bukanlah sekadar tempat ibadah. I Wayan Sumertha dalam Pura Lingsar dalam Pendekatan Teologi Hindu (2023) menjelaskan inilah monumen hidup, sebuah manifestasi arsitektural dari dialog filosofis yang telah berlangsung ratusan tahun.

Kompleks ini adalah metafora spasial dari hubungan kedua komunitas: “terpisah namun bersama”. Di bagian utara, Pura Gaduh menjadi tempat suci bagi umat Hindu Bali. Di bagian selatan, Kemaliq menjadi area keramat bagi pendukung Wetu Telu Sasak. Keduanya terpisah secara fungsional, namun dihubungkan oleh gerbang agung (Kori Agung) dan berbagi halaman luar (bencingah) yang sama.

Koeksistensi ini dimungkinkan secara teologis oleh Wetu Telu. Inilah sebuah penghayatan Islam yang sangat dipengaruhi tradisi lokal pra-Islam dan ajaran tasawuf. Filosofi intinya yang holistik dan komunal, yang menghargai tradisi leluhur, menciptakan “ruang izin” teologis. Ini memungkinkan komunitas Wetu Telu berpartisipasi dalam ritual bersama di ruang yang sama dengan umat Hindu.

Puncaknya di tradisi tahunan Perang Topat. Setelah upacara pujawali, ribuan warga Hindu dan Sasak saling melempar ketupat dalam suka cita. Ini drama sosial yang melepaskan ketegangan, melambangkan rasa syukur, dan menegaskan kembali ikatan komunal. Di Lingsar, batu-batu ditata menjadi arsitektur perdamaian, dan ketupat dilempar sebagai simbol persatuan.

Jika Lingsar jadi jiwa akulturasi, seni pertunjukan ialah tubuhnya. Kesenian menjadi laboratorium hibriditas (Susilo Edi Purwanto dan I Wayang Sutama, Akulturasi Genealogis Budaya Bali dan Sasak di Pulau Lombok, 2021).Tari Gandrung adalah contoh utama. Tarian ini menyeberang selat dari Jawa melalui Bali. Gandrung tiba di Lombok dengan membawa pakem (prinsip dasar) koreografi Bali. Namun, masyarakat Sasak mengadaptasinya. Gandrung di Lombok berevolusi dari tarian ritual kesuburan menjadi tarian pergaulan sosial yang hidup. Tari ini telah “didomestikasi”, diberi makna baru yang sesuai dengan pandangan dunia lokal.

Gema yang sama terdengar dalam musik. Ansambel Gendang Beleq Sasak secara eksplisit menggunakan instrumen yang jamak dalam gamelan Bali: gong, kempul, saron, dan reong (Erwin Prasetya, Kesenian Gendang Beleq, 2023). Namun, lagi-lagi, ini bukan peniruan. Masyarakat Sasak menempatkan sepasang gendang berukuran raksasa (beleq) sebagai pemimpin ansambel. Fokusnya bergeser dari jalinan melodi rumit Bali ke ritme yang menghentak dan bertenaga, mencerminkan fungsi historisnya sebagai musik penyemangat prajurit. Ini cerminan estetika lokal: semaiq (kesederhanaan) dan paut (kepantasan).

Arus Baru, Takdir yang Sama

Kini, laut terus menghubungkan Bali dan Lombok. Namun, arusnya telah bergeser. Kini, laut menghantarkan gelombang wisatawan global. Hubungan kontemporer ini jadi negosiasi yang kompleks antara warisan ketidakseimbangan kuasa di masa lalu dan takdir ekonomi bersama di masa kini.

Warisan persaingan terkadang masih menyisakan potensi ketegangan. Namun, kesadaran akan sejarah bersama juga mendorong upaya rekonsiliasi. Pertunjukan seni kolaboratif, di mana musisi Sasak dan Bali bermain bersama, menjadi medium kuat untuk mengubah modal budaya menjadi modal sosial. Dalam harmoni nada, perbedaan etnis melebur.

Secara historis, ekonomi dan pariwisata Lombok berkait dengan Bali. Krisis pariwisata di Bali, terasa di Lombok. Namun, keterkaitan ini juga membawa berkah. Tenaga kerja dan produk dari Lombok hadir di Bali. Sebaliknya, pengusaha dari Bali hadir di Lombok. Saling terkait. Keduanya terus bernegosiasi dengan identitas mereka dalam lanskap yang terus berubah ini.

Perjalanan melintasi Selat Lombok ialah perjalanan melintasi waktu. Selat ini terbukti agen sejarah yang aktif. Lautan memori. Di dalam arusnya tersimpan ingatan akan kapal-kapal, doa bersama dalam dua keyakinan, dan tawa suka cita Perang Topat. Setiap gelombang yang memecah di pantai kedua pulau adalah bisikan dari masa lalu yang kompleks, terjalin dari benang konflik dan harmoni.

Pada saat yang sama, lautan ini memegang harapan. Arus baru pariwisata dan dialog budaya terus membentuk identitas kedua pulau yang selamanya terikat oleh air. Kisah Bali dan Lombok adalah pengingat abadi: di negeri kepulauan, laut bukanlah batas. Inilah warisan, tantangan, dan, pada akhirnya, takdir bersama. [T]

Penulis: Arief Rahzen
Editor: Adnyana Ole

Tags: akulturasi budayabaliLombokSasak
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Mereka Membuka Akal dan Hati — Kata Pengantar Buku ‘Kuda Putih di Bali’

Next Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Arief Rahzen

Arief Rahzen

Pekerja budaya yang senang berpetualang. Ia juga peminat kajian seni budaya dan perubahan masyarakat di era digital. Sesekali menulis esai, belajar bercerita, dan kurasi aktivitas budaya.. Saat ini bolakbalik di Gianyar, Mataram, dan Jakarta.

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co