2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Dedy Ahmad Hermansyah by Dedy Ahmad Hermansyah
November 3, 2025
in Ulas Rupa
Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”

BERHADAPAN dengan 17 lukisan digital Whyper, kita diajak masuk ke dalam lanskap sureal dan tenggelam dalam warna-warna sekunder—merah jambu, ungu, hijau, dan oranye. Baru setelah itu kita akan menandai begitu banyak figur. Kemudian kita akan sadar, sebagian besar figur itu adalah perempuan yang menyimpan luka-luka, baik yang nampak atau yang berupa enigma, pada tubuh dan batinnya.

Itulah yang saya rasakan saat menghadiri dan menikmati lukisan-lukisan pada Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”. Pameran ini diiniiasi dan dihelat oleh Raw Draw (kolektif yang bergerak di bidang seni rupa di Mataram) dan bekerja sama dengan Segara Space. Pameran ini berlangsung sejak 19—27 Oktober di Segara Space, Kota Mataram, NTB.

Pameran ini digadang-gadang sebagai pameran seni rupa digital pertama di Kota Mataram. Bagi si perupa sendiri, ini juga pameran tunggal pertamanya di Lombok dengan mengambil bentuk seni rupa digital—sebelumnya sudah dua kali berpameran di luar Indonesia, satu di Sapporo Tenjinyama, Jepang, pada 2023, dengan tajuk, “Journey to the Unknown”; dan satunya di The Blank Gallery Tokyo, dengan judul “It is What It is” pada 2025.

Whyper sendiri adalah nama yang dibuat secara kreatif, akronim dari nama lengkap si perupa sendiri, Lalu Wahyu Permana.

Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”

Tajuk “Without Blue” adalah frase yang mengandung kontradiksi dalam konteks pameran ini. Secara literal, warna biru memang alpa dalam semua lukisan; namun justru hadir dengan begitu kuat secara simbolik—simbol kesedihan, kesepian, dan luka.

“Woman, Sweet, and Sour”, “We’ve All been Disguised as Little”, “We are the Slave”, dan “We and the Bad Fortune” adalah beberapa lukisan Whyper yang secara gamblang kita dapat menandai keberadaan figur perempuan dan luka-lukanya. Mengapa figur-figur perempuan dalam karya-karya Whyper bersedih dan terluka? Apa yang membuat mereka bersedih dan terluka?

****

Begini cara saya menikmati dan berdialog dengan karya-karya Whyper:

Pertama, saya membiarkan diri saya tersandera oleh karakter paling kuat dalam lukisan-lukisannya. Barangkali susah untuk tidak langsung tersandera oleh warna-warna sekunder yang khas dari lukisan-lukisan digital Whyper. Sebagai pemandang karya, kesan pertama (Firstness) saya melihat warna-warna ini bisa disebut sebagai Qualisign dalam Semiotika (Charles Sanders Peirce)—satu kualitas karya di dalam dirinya sendiri, yang berpotensi menjadi tanda untuk ditafsirkan.

Saya menyerahkan diri ke dalam karakter-karakter yang kuat tersebut, dan menolak untuk buru-buru mencari makna. Magnet lain yang menarik saya adalah titik-titik serupa pixel—ada ribuan atau barangkali malah jutaan pada seluruh lukisan—pada layar monitor yang turut memberi aksentuasi pada karya-karyanya. “Seperti karakter komik-komik lama,” jelas Whyper pada sesi diskusi.

Kedua, saya membiarkan diri saya menatap gamang begitu banyak figur (seperti telah dikatakan sebelumnya). Figur-figur itu nampak berlomba mencuri perhatian saya seakan tak mau kalah dengan obyek-obyek yang repetitif dan paralel, produk-produk teknologi modern (pemutar kaset dan cakram padat, televisi maupun monitor, kendaraan, dan sebagainya), lambang-lambang dalam dunia game.

Sesak, sesak, sesak! Kumpulan tanda ada di mana-mana!

Ketiga, satu lagi yang menarik perhatian yang ‘melengkapi’ kesesakan ini adalah adanya ikon produk budaya tontonan dunia komersial seperti Ultraman, piring terbang atau UFO (Unidentifyed Flying Object) di beberapa lukisan, yang tentu saja memberi nuansa kinesis melayang-layang dalam lukisan. Kesesakan ini sebetulnya dapat menjadi arena analisis bagai pemandang kritis, apakah ini suatu bentuk pemborosan atau malah sebaliknya, pengayaan tafsir.

Karena begitu banyaknya tanda, kerja menarik relasi antar tanda menjadi cukup melelahkan (atau malah menyenangkan?). Itu pun belum seluruh hal yang terlihat dalam lukisan tersebutkan. Ada ikon serupa piramida mesir, bangunan altar persembahan seperti milik suku Aztec, pistol, dinosaurus, dan lain-lain.

Jadi yang saya lakukan pertama kali adalah menikmati Qualisign yang menarik pandangan saya, lalu mulai membongkar struktur-struktur yang menyusun lukisannya. Saya rasa akan menyita waktu dan pikiran kita hanya untuk berdialog dengan satu saja lukisan Whyper. Terlalu banyak tanda, terlalu banyak figur. Ruangan pameran yang kecil—kurang lebih 3×6 meter atau muat sepuluh orang dewasa—menjadi terasa sangat luas untuk ditelusuri.

Penelusuran yang melelahkan, tapi sangat menyenangkan!

****

Kita kembali pada pertanyaan di ujung babak pertama tulisan ini: mengapa perempuan bersedih dan terluka dalam lukisan-lukisan Whyper?

Seusai membongkar struktur lukisan-lukisannya, dan membuat relasi pada masing-masing tanda, nampaknya, yang membuat perempuan bersedih dan terluka dalam lukisan-lukisan Whyper adalah modernitas dan alienasi. Dua hal ini nampak kuat pada beberapa lukisan, tapi sumir pada lukisan yang lain—hadir dalam intensitas berbeda. Ada yang terang, ada yang samar. 

Salah satu lukisan yang bisa dikatakan kuat dan nyaris telanjang menghadirkan soal modernitas dan alienasi adalah lukisan “We Are the Slave” (ukuran 50×50 cm). Pada subjudul tertulis, “Mereka seperti kolibri. Penghisap yang rakus. Oh, industri, ajari aku menjadi manusia.” Tanda linguistik ini menjadi semacam penuntun bahwa ini kisah tentang manusia yang telah tercerabut sisi kemanusiaannya oleh aktifitas industri.

Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”

Pada tengah lukisan “We Are the Slave”, ada figur seorang perempuan yang hanya mengenakan beha, terikat tali dan diapit oleh dua orang (laki-laki?) berkepala burung kolibri. Banyak ikon di lukisan ini yang dieksekusi dalam bentuk deformasi transformatif—kepala manusia bertransformasi menjadi kepala burung, monitor berantena bertransformasi jadi tabung kipas angin, batok atas kepala si perempuan bertransformasi jadi tumbuhan bunga.

Modernisme adalah seperangkat cara berpikir yang di antaranya mengagungkan rasionalitas, kemajuan, dan perubahan tiada henti. Proyek modernisme abad 19 barangkali membawa kemajuan pada berbagai aspek kehidupan manusia hingga saat ini, namun dalam lukisan-lukisan Whyper—khususnya “We Are the Slave” ini—kemajuan itu juga digambarkan memberikan ekses buruk pada psikologi dan batin manusia. Industri, sebagai simbol kemajuan dalam modernisme, sangat berwatak mesin, merenggut sisi kemanusiaan. Sebab itulah, alienasi adalah anak kandung dari modernisme. Sebab itu pula, sosok itu berkata, “…industri, ajari aku menjadi manusia.”

Namun, berbeda dalam “Woman, Sweet, and Sour”. Lukisan berukuran 40×56 cm ini tidak memberikan kita petunjuk mengapa perempuan harus bersedih dan terluka. “Untuk semua perempuan yang hidup, menelan kesakitan, dan mati di hari tua. Kalian sungguhlah kurang beruntung.” Begitu Whyper memberi sub judul. Figur-figur perempuan yang diapit alat-alat elektronik, seekor ular, tayangan superhero di televisi, kucing, paprika ini digambarkan dengan raut wajah tanpa segurat senyum pun. Malah, satu sosok yang secara komposisi paling besar mengambil ruang, tengah mendongak dengan memegang sebuah silet pada salah satu tangan. Apakah ia akan menelan silet tersebut?

Ada dua lukisan yang nyaris tidak menampilkan modernitas atau produk-produk dunia modern: “Paradoxia Dimensiona” dan “We’ve All been Disguised as Little”. Namun perasaan alienasi kuat hadir dalam dua lukisan ini.

“Paradoxia Dimensiona” seakan menyitir evolusi manusia dengan gambar yang ikonik pada sudut atas dan bawah. Barangkali Whyper hendak mengatakan, bahwa memang benar kita telah meninggalkan ‘kekeraan’ kita, tapi kita belum lah benar-benar menjadi manusia.”Bahkan di dimensi manapun, keadaan tidak menjadi lebih baik.” Begitu sub judul yang ditulis Whyper. Bagian tengah lukisan ini diisi dengan kepala-kepala perempuan yang disusun paralel dengan limas serupa piramida dan bulatan serupa bola yang masing-masing memiliki tangga untuk masuk ke dalamnya, dan melayang-layang di ruang hampa.

Sementara itu, “We’ve All been Disguised as Little” mengisi lanskapnya dengan figur-figur berlatar padang purba di mana tumbuh bunga matahari, batu-batu besar (atau telur-telur dinosaurus?), dinosaurus terbang. Munculnya dua benda terbang sejenis UFO di latar belakang menjadi jangkar visual bahwa sulit bagi kita untuk tak merelasikan makna lukisan ini dengan alien(asi). “apa iya aku pernah ada dalam sebuah tabung kehidupan yang kecil itu? Oh terima kasih ibu, tetapi aku sungguh benci dunia ini.” Begitu sub judulnya tertulis, sebuah pernyataan penyangkalan pada realitas dan ingin menjadi realitas yang lain atau alien.

Begitulah, bagaimana lukisan-lukisan digital Whyper menghadirkan dirinya: kesedihan, penyangkalan pada realitas, alienasi (dari diri dan lingkungan), dan segenap perasaan yang melulu biru.

*****

Sebetulnya, dari 17 lukisan digital yang dipamerkan, ada lima lukisan yang bertemakan The Beatles. Namun saya tidak menguliknya dalam tulisan ini, meskipun kelima-limanya menarik untuk dinikmati dan ditafsirkan. Saya benar-benar terserap oleh atmosfir figur-figur perempuan lengkap dengan atribut nasib buruk dan kesedihan mereka, yang membuat mereka teralineasi atau terasingkan.

Walaupun demikian, lukisan-lukisan Whyper bukanlah sejenis karya yang dapat diterangkan dengan hitam putih. Selalu ada nuansa di sana, yang seakan mengatakan kepada kita, “nikmati keindahannya, jangan melulu mencari maknanya.”

Dan saya rasa telah mendapatkan keduanya: kenikmatan estetikanya dan makna lukisannya. [T]

Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah
Editor: Adnyana Ole

Tags: LombokMataramPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Next Post

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Dedy Ahmad Hermansyah

Dedy Ahmad Hermansyah

Lahir di Sumbawa. Pendiri dan pengelola (perpustakaan) Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co