24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Dedy Ahmad Hermansyah by Dedy Ahmad Hermansyah
November 3, 2025
in Ulas Rupa
Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”

BERHADAPAN dengan 17 lukisan digital Whyper, kita diajak masuk ke dalam lanskap sureal dan tenggelam dalam warna-warna sekunder—merah jambu, ungu, hijau, dan oranye. Baru setelah itu kita akan menandai begitu banyak figur. Kemudian kita akan sadar, sebagian besar figur itu adalah perempuan yang menyimpan luka-luka, baik yang nampak atau yang berupa enigma, pada tubuh dan batinnya.

Itulah yang saya rasakan saat menghadiri dan menikmati lukisan-lukisan pada Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”. Pameran ini diiniiasi dan dihelat oleh Raw Draw (kolektif yang bergerak di bidang seni rupa di Mataram) dan bekerja sama dengan Segara Space. Pameran ini berlangsung sejak 19—27 Oktober di Segara Space, Kota Mataram, NTB.

Pameran ini digadang-gadang sebagai pameran seni rupa digital pertama di Kota Mataram. Bagi si perupa sendiri, ini juga pameran tunggal pertamanya di Lombok dengan mengambil bentuk seni rupa digital—sebelumnya sudah dua kali berpameran di luar Indonesia, satu di Sapporo Tenjinyama, Jepang, pada 2023, dengan tajuk, “Journey to the Unknown”; dan satunya di The Blank Gallery Tokyo, dengan judul “It is What It is” pada 2025.

Whyper sendiri adalah nama yang dibuat secara kreatif, akronim dari nama lengkap si perupa sendiri, Lalu Wahyu Permana.

Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”

Tajuk “Without Blue” adalah frase yang mengandung kontradiksi dalam konteks pameran ini. Secara literal, warna biru memang alpa dalam semua lukisan; namun justru hadir dengan begitu kuat secara simbolik—simbol kesedihan, kesepian, dan luka.

“Woman, Sweet, and Sour”, “We’ve All been Disguised as Little”, “We are the Slave”, dan “We and the Bad Fortune” adalah beberapa lukisan Whyper yang secara gamblang kita dapat menandai keberadaan figur perempuan dan luka-lukanya. Mengapa figur-figur perempuan dalam karya-karya Whyper bersedih dan terluka? Apa yang membuat mereka bersedih dan terluka?

****

Begini cara saya menikmati dan berdialog dengan karya-karya Whyper:

Pertama, saya membiarkan diri saya tersandera oleh karakter paling kuat dalam lukisan-lukisannya. Barangkali susah untuk tidak langsung tersandera oleh warna-warna sekunder yang khas dari lukisan-lukisan digital Whyper. Sebagai pemandang karya, kesan pertama (Firstness) saya melihat warna-warna ini bisa disebut sebagai Qualisign dalam Semiotika (Charles Sanders Peirce)—satu kualitas karya di dalam dirinya sendiri, yang berpotensi menjadi tanda untuk ditafsirkan.

Saya menyerahkan diri ke dalam karakter-karakter yang kuat tersebut, dan menolak untuk buru-buru mencari makna. Magnet lain yang menarik saya adalah titik-titik serupa pixel—ada ribuan atau barangkali malah jutaan pada seluruh lukisan—pada layar monitor yang turut memberi aksentuasi pada karya-karyanya. “Seperti karakter komik-komik lama,” jelas Whyper pada sesi diskusi.

Kedua, saya membiarkan diri saya menatap gamang begitu banyak figur (seperti telah dikatakan sebelumnya). Figur-figur itu nampak berlomba mencuri perhatian saya seakan tak mau kalah dengan obyek-obyek yang repetitif dan paralel, produk-produk teknologi modern (pemutar kaset dan cakram padat, televisi maupun monitor, kendaraan, dan sebagainya), lambang-lambang dalam dunia game.

Sesak, sesak, sesak! Kumpulan tanda ada di mana-mana!

Ketiga, satu lagi yang menarik perhatian yang ‘melengkapi’ kesesakan ini adalah adanya ikon produk budaya tontonan dunia komersial seperti Ultraman, piring terbang atau UFO (Unidentifyed Flying Object) di beberapa lukisan, yang tentu saja memberi nuansa kinesis melayang-layang dalam lukisan. Kesesakan ini sebetulnya dapat menjadi arena analisis bagai pemandang kritis, apakah ini suatu bentuk pemborosan atau malah sebaliknya, pengayaan tafsir.

Karena begitu banyaknya tanda, kerja menarik relasi antar tanda menjadi cukup melelahkan (atau malah menyenangkan?). Itu pun belum seluruh hal yang terlihat dalam lukisan tersebutkan. Ada ikon serupa piramida mesir, bangunan altar persembahan seperti milik suku Aztec, pistol, dinosaurus, dan lain-lain.

Jadi yang saya lakukan pertama kali adalah menikmati Qualisign yang menarik pandangan saya, lalu mulai membongkar struktur-struktur yang menyusun lukisannya. Saya rasa akan menyita waktu dan pikiran kita hanya untuk berdialog dengan satu saja lukisan Whyper. Terlalu banyak tanda, terlalu banyak figur. Ruangan pameran yang kecil—kurang lebih 3×6 meter atau muat sepuluh orang dewasa—menjadi terasa sangat luas untuk ditelusuri.

Penelusuran yang melelahkan, tapi sangat menyenangkan!

****

Kita kembali pada pertanyaan di ujung babak pertama tulisan ini: mengapa perempuan bersedih dan terluka dalam lukisan-lukisan Whyper?

Seusai membongkar struktur lukisan-lukisannya, dan membuat relasi pada masing-masing tanda, nampaknya, yang membuat perempuan bersedih dan terluka dalam lukisan-lukisan Whyper adalah modernitas dan alienasi. Dua hal ini nampak kuat pada beberapa lukisan, tapi sumir pada lukisan yang lain—hadir dalam intensitas berbeda. Ada yang terang, ada yang samar. 

Salah satu lukisan yang bisa dikatakan kuat dan nyaris telanjang menghadirkan soal modernitas dan alienasi adalah lukisan “We Are the Slave” (ukuran 50×50 cm). Pada subjudul tertulis, “Mereka seperti kolibri. Penghisap yang rakus. Oh, industri, ajari aku menjadi manusia.” Tanda linguistik ini menjadi semacam penuntun bahwa ini kisah tentang manusia yang telah tercerabut sisi kemanusiaannya oleh aktifitas industri.

Pameran Tunggal Seni Rupa digital, “Without Blue”

Pada tengah lukisan “We Are the Slave”, ada figur seorang perempuan yang hanya mengenakan beha, terikat tali dan diapit oleh dua orang (laki-laki?) berkepala burung kolibri. Banyak ikon di lukisan ini yang dieksekusi dalam bentuk deformasi transformatif—kepala manusia bertransformasi menjadi kepala burung, monitor berantena bertransformasi jadi tabung kipas angin, batok atas kepala si perempuan bertransformasi jadi tumbuhan bunga.

Modernisme adalah seperangkat cara berpikir yang di antaranya mengagungkan rasionalitas, kemajuan, dan perubahan tiada henti. Proyek modernisme abad 19 barangkali membawa kemajuan pada berbagai aspek kehidupan manusia hingga saat ini, namun dalam lukisan-lukisan Whyper—khususnya “We Are the Slave” ini—kemajuan itu juga digambarkan memberikan ekses buruk pada psikologi dan batin manusia. Industri, sebagai simbol kemajuan dalam modernisme, sangat berwatak mesin, merenggut sisi kemanusiaan. Sebab itulah, alienasi adalah anak kandung dari modernisme. Sebab itu pula, sosok itu berkata, “…industri, ajari aku menjadi manusia.”

Namun, berbeda dalam “Woman, Sweet, and Sour”. Lukisan berukuran 40×56 cm ini tidak memberikan kita petunjuk mengapa perempuan harus bersedih dan terluka. “Untuk semua perempuan yang hidup, menelan kesakitan, dan mati di hari tua. Kalian sungguhlah kurang beruntung.” Begitu Whyper memberi sub judul. Figur-figur perempuan yang diapit alat-alat elektronik, seekor ular, tayangan superhero di televisi, kucing, paprika ini digambarkan dengan raut wajah tanpa segurat senyum pun. Malah, satu sosok yang secara komposisi paling besar mengambil ruang, tengah mendongak dengan memegang sebuah silet pada salah satu tangan. Apakah ia akan menelan silet tersebut?

Ada dua lukisan yang nyaris tidak menampilkan modernitas atau produk-produk dunia modern: “Paradoxia Dimensiona” dan “We’ve All been Disguised as Little”. Namun perasaan alienasi kuat hadir dalam dua lukisan ini.

“Paradoxia Dimensiona” seakan menyitir evolusi manusia dengan gambar yang ikonik pada sudut atas dan bawah. Barangkali Whyper hendak mengatakan, bahwa memang benar kita telah meninggalkan ‘kekeraan’ kita, tapi kita belum lah benar-benar menjadi manusia.”Bahkan di dimensi manapun, keadaan tidak menjadi lebih baik.” Begitu sub judul yang ditulis Whyper. Bagian tengah lukisan ini diisi dengan kepala-kepala perempuan yang disusun paralel dengan limas serupa piramida dan bulatan serupa bola yang masing-masing memiliki tangga untuk masuk ke dalamnya, dan melayang-layang di ruang hampa.

Sementara itu, “We’ve All been Disguised as Little” mengisi lanskapnya dengan figur-figur berlatar padang purba di mana tumbuh bunga matahari, batu-batu besar (atau telur-telur dinosaurus?), dinosaurus terbang. Munculnya dua benda terbang sejenis UFO di latar belakang menjadi jangkar visual bahwa sulit bagi kita untuk tak merelasikan makna lukisan ini dengan alien(asi). “apa iya aku pernah ada dalam sebuah tabung kehidupan yang kecil itu? Oh terima kasih ibu, tetapi aku sungguh benci dunia ini.” Begitu sub judulnya tertulis, sebuah pernyataan penyangkalan pada realitas dan ingin menjadi realitas yang lain atau alien.

Begitulah, bagaimana lukisan-lukisan digital Whyper menghadirkan dirinya: kesedihan, penyangkalan pada realitas, alienasi (dari diri dan lingkungan), dan segenap perasaan yang melulu biru.

*****

Sebetulnya, dari 17 lukisan digital yang dipamerkan, ada lima lukisan yang bertemakan The Beatles. Namun saya tidak menguliknya dalam tulisan ini, meskipun kelima-limanya menarik untuk dinikmati dan ditafsirkan. Saya benar-benar terserap oleh atmosfir figur-figur perempuan lengkap dengan atribut nasib buruk dan kesedihan mereka, yang membuat mereka teralineasi atau terasingkan.

Walaupun demikian, lukisan-lukisan Whyper bukanlah sejenis karya yang dapat diterangkan dengan hitam putih. Selalu ada nuansa di sana, yang seakan mengatakan kepada kita, “nikmati keindahannya, jangan melulu mencari maknanya.”

Dan saya rasa telah mendapatkan keduanya: kenikmatan estetikanya dan makna lukisannya. [T]

Penulis: Dedy Ahmad Hermansyah
Editor: Adnyana Ole

Tags: LombokMataramPameran Seni RupaSeni Rupa
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Arus Budaya di Selat Lombok: Jejak Akulturasi Bali dan Sasak

Next Post

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Dedy Ahmad Hermansyah

Dedy Ahmad Hermansyah

Lahir di Sumbawa. Pendiri dan pengelola (perpustakaan) Komunitas Teman Baca, Kota Mataram, NTB.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co