3 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
November 3, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

KITA hidup di zaman ketika satu gerakan ibu jari bisa menentukan nasib perhatian kita. Scroll itu kelihatannya sepele, ringan, cepat, dan menghibur, tapi pelan-pelan bisa menggerus kemampuan paling berharga yaitu fokus. Saat “scroll” jadi tanpa batas, “fokus” lama-lama kandas. Lalu pertanyaannya: siapa yang seharusnya pegang kendali, kita atau layar di tangan kita? Di sinilah cerita ini dimulai. Bukan dari teori yang jauh, melainkan dari keseharian paling sederhana yang sering kita alami tanpa sadar.

Kadang semuanya terjadi begitu saja. Kita tahu ada kewajiban, kerjaan, dan tugas yang mungkin sudah direncanakan, namun fokus rasanya buyar. Tangan refleks buka ponsel, scroll tanpa arah, kemudian sadar waktu kebuang sia-sia.

Pelan-pelan saya mulai paham, ini soal brainrot. Brainrot atau “pembusukan otak” adalah penurunan fungsi otak yang meliputi kemampuan berpikir melemah, memori dan daya ingat berkurang, dan fungsi kognitif menurun. Kondisi yang cukup berbahaya karena sudah mulai mengganggu pusat inti dari kendali yang kita punya, yaitu otak.  Pemicu utamanya sederhana, salah satunya screen time berlebihan, terutama dari konten pendek yang receh, meme, atau hal-hal anomali.

Beberapa penelitian menyebutkan penggunaan layar yang berlebihan untuk hiburan dapat menurunkan fokus dan konsentrasi. Menurut Journal of American College Health, ada penelitian yang melibatkan 372 mahasiswa, ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara waktu yang dihabiskan di depan layar (“screen time“) dengan tingkat kecemasan, depresi, dan stres yang lebih tinggi. 

“Kalian ngerasa nggak?” Belakangan ini kita jadi suka scrolling terus. Bahkan di waktu-waktu yang cukup random. Misalnya saat lagi nonton Youtube atau TV pun kita bisa sambil scrolling, bahkan nongkrong pun bukannya ngobrol, malah sibuk dengan layar. Memang, kalau kita lihat dampak dari brain load ini sangat relate dengan generasi saat ini. Basis konten sekarang sudah jauh beda dari dulu. Ditambah, algoritma sekarang diatur sedemikian rupa yang bisa membuat kita jadi candu.

Tapi pertanyaannya “Kenapa sih screen time bisa sebegitu kuat memengaruhi otak kita?” Nah, untuk menjawab itu, kita harus paham dulu mekanisme kerja otak. Kita sudah tahu seberapa bahaya dampak brain load akibat penggunaan sosial media dan scrolling konten receh. Tapi kita belum tahu alasan kenapa semua efek itu bisa terjadi. Apa yang terjadi di dalam otak sehingga efek jangka panjang muncul? Kita bedah satu-satu di sini, supaya ketika kita bener-bener tahu alasan dan sebabnya dengan jelas, itu bisa memberi keinginan buat melakukan tindakan.

Pertama, otak punya reward system atau sistem hadiah. Ini sistem alami yang buat kita merasa senang dan termotivasi saat melakukan hal-hal bermanfaat seperti olahraga, belajar, ngobrol, atau baca buku. Semua itu mengaktifkan dopamine neurotransmitter yang membuat puas dan ingin melakukan aktivitas itu lagi. Nah, di era teknologi sekarang, sumber dopamine bisa diaktifkan mudah seperti scroll TikTok dan buka Instagram. Masalahnya, otak suka yang cepat dan efisien, tapi tidak mengetahui itu baik atau buruk. Otak bilang “Eh, ada cara gampang untuk dapat kesenangan tanpa harus belajar atau olahraga” yaitu scrolling yang mendistruksi motivasi alami. Kesenangan datang tanpa perjuangan, akhirya kita jadi malas melakukan hal-hal penting.

Kedua, sifat eskapism (pelarian). Otak kita punya mekanisme untuk kabur dari realita. Ini cara alami otak buat deal with stress, rasa cemas, atau emosi negatif. Proses meredakan emosi negatif itu adalah coping mechanism. Coping yang baik dan sehat contohnya olahraga, meditasi, jurnaling, atau curhat sama teman. Aktivitas ini bantu otak memproses emosi, bukan cuma menekan atau menghindar. Tapi kenyataannya, banyak orang tidak sadar dan memilih pelarian instan seperti scroll terus-terusan, dan binge watching tanpa kenal waktu. Ini membuat kita terjebak di lingkaran setan. Emosi tidak diolah, hanya ditekan sementara. Hal ini menjadi pola kebiasaan yaitu setiap cemas dan khawatir, larinya ke sosial media.

Ketiga, otak punya dua sistem berpikir yaitu sistem cepat dan instan, serta sistem lambat tapi mendalam. Saat kita terlalu sering konsumsi konten cepat seperti video singkat dan hiburan receh, yang sering dilatih di otak hanya sistem cepat. Sedangkan sistem lambat yang penting untuk kita berpikir kritis dan mendalam, jadi semakin lemah karena jarang dipakai. Hasilnya, kita sulit berpikir kritis, sulit fokus, dan mudah terdistraksi. Ketika coba fokus agak lama, kita tidak tahan, dan terganggu karena otak terbiasa ingin informasi yang cepat dan instan saja.

Keempat, otak kita punya sifat sosial yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai Social Comparison Theory. Dulu, perbandingan sosial berguna seperti belajar dari yang lebih sukses, terdorong jadi rajin dan produktif dalam lingkup kecil yang setara. Tapi di era sosial media, perbandingan yang terjadi tidak lagi setara, melainkan ke versi terkurasi dari kehidupan orang lain. Kita membandingkan highlight orang lain dengan behind the scene kita. Sekarang kita membandingkan diri dengan ribuan, jutaan orang yang menampilkan versi terbaiknya, bahkan orang yang tidak kita kenal. Ini menimbulkan fenomena seperti “standar TikTok,” membuat standar kita bias dan tidak realistis.

Itulah mekanisme otak saat kita terbiasa mengonsumsi konten sosial media secara berlebihan, yang akhirnya bisa menimbulkan efek jangka panjang yaitu brain rot. Kalau ditanya apakah dampaknya permanen? Jawabannya bukan, karena otak kita punya kekuatan neuroplasticity (kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pengalaman serta kebiasaan baru yang kita lakukan secara konsisten).

Otak kita plastis, fleksibel, dan ini memengaruhi empat mekanisme kerja otak tadi. Sederhananya, cara kerja otak bisa dibentuk ulang. Kalau selama ini kita membiasakan otak mengkonsumsi konten pendek, receh, instan, maka otak terbentuk untuk selalu mencari hal cepat dan mudah. Tapi kalau kita melatih otak dengan kegiatan menantang yang butuh fokus seperti baca buku, riset, mempelajari hal baru, atau menekuni hobi baru, maka otak membangun jalur-jalur yang lebih sehat. Otak jadi terbiasa melakukan hal produktif lain yaitu fokus, berpikir mendalam, dan berpikir kritis.

Pada akhirnya, otak kita adalah cerita yang kita tulis berulang ulang. “Brainrot” hanyalah bab yang bisa ditutup, sedangkan neuroplastisitas memberi kita pena untuk menulis ulang. Pilih satu kebiasaan kecil hari ini, misalnya menunda scroll, membaca sampai tuntas, atau duduk hening lima menit, lalu ulangi besok. Perubahan besar lahir dari langkah sederhana yang setia. Hidup kembali diarahkan oleh kita, bukan oleh layar. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: brain rotkesehatan mentalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Next Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

by Eril Paizi
June 2, 2026
0
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

Read moreDetails

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

by Early NHS
June 2, 2026
0
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

Read moreDetails

(Tidak Ada) Literasi Digital

by I Wayan Artika
June 2, 2026
0
(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

Read moreDetails

Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

by Rsi Suwardana
June 1, 2026
0
Bali Sané Mangkin: Pembiasaan Laku Malalaksana?

PEMBIASAAn terhadap cara pandang ataupun perbuatan yang tidak sepantasnya (mala-laksana/malalaksana) adalah benalu. Pembiasaan ini mengaburkan batas antara yang patut dan...

Read moreDetails

Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

by Agung Sudarsa
June 1, 2026
0
Perayaan Hari Lahir Pancasila Zaman Now, Dari Seremoni Menuju Kesadaran Kolektif

Hari Lahir Pancasila: Merayakan Gagasan Besar Bangsa Setiap tanggal 1 Juni bangsa Indonesia memperingati Hari Lahir Pancasila. Pada hari itu,...

Read moreDetails

Awas Ada Pocong!

by Dede Putra Wiguna
May 31, 2026
0
Awas Ada Pocong!

BELAKANGAN ini, masyarakat di berbagai daerah di Indonesia dihebohkan oleh kemunculan ‘pocong jadi-jadian’. Sosok yang biasanya ada dalam cerita horor...

Read moreDetails

Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

by Ahmad Fatoni
May 31, 2026
0
Membaca Kembali W.S. Rendra di Tengah Wacana Penutupan Prodi

……………..Aku bertanya:Apakah gunanya pendidikanbila hanya akan membuat seseorang menjadi asingdi tengah kenyataan persoalannya?Apakah gunanya pendidikanbila hanya mendorong seseorangmenjadi layang-layang di...

Read moreDetails

Wisata Bahari di Negeri Maritim

by Chusmeru
May 31, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

BERUNTUNG Indonesia memiliki alam yang penuh pesona. Laut menjadi salah satu kekayaan alam yang membanggakan. Luas wilayah laut Indonesia mencapai...

Read moreDetails

FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

by Agung Sudarsa
May 31, 2026
0
FOR HATI BALI: Ketika Cinta pada Bali Menjadi Tindakan

Dari Kegelisahan Menuju Gerakan Moral BALI sedang berada pada persimpangan zaman. Di satu sisi, pulau ini menikmati pertumbuhan ekonomi yang...

Read moreDetails

Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

by IGP Weda Adi Wangsa
May 30, 2026
0
Dari Candi Pustaka hingga Monumen Puja: Jejak Spiritualitas Ida Sri Pandita Buddha Raksitha

CANDI Pustaka merupakan istilah yang sering dipakai oleh seorang rakawi (penyair sastra Jawa Kuno) untuk menyebut karya sastranya sebagai medium...

Read moreDetails
Next Post
Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar
Khas

‘Lambuk Baa’ di Pura Parerepan Samuan Tiga: Ritus Api di Tengah Kota Denpasar

BULAN Purnama Asaddha yang baru lewat sehari masih bulat sempurna, menggantung sedikit miring di atas langit Desa Sidakarya, seperti sedang...

by Abdi Jaya Prawira
June 3, 2026
‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng
Esai

‘Nyama Kelod-Nyama Kaje’: Menakar Kerukunan Tradisional Menjadi Mesin Baru Pariwisata Inklusif Buleleng

JIKA ada wilayah di Bali yang paling fasih merawat keberagaman jauh sebelum kosakata "moderasi" riuh diperdebatkan di ruang-ruang seminar, tempat...

by Eril Paizi
June 2, 2026
Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026
Persona

Ketika Veni Calista dan Jesselyn Lauwreen Mengulek Sambal di Ubud Food Festival 2026

SORE itu, aroma cabai, terasi, dan rempah-rempah perlahan memenuhi Teater Kuliner Ubud Food Festival 2026. Di atas panggung, tak ada...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
Ke Pacet Mereka Kembali
Tualang

Ke Pacet Mereka Kembali

DI pertigaan Krian arah Mojosari, kendaraan berplat L dan W beriring-iringan menyesaki jalan menuju ke titik yang sama. Mobil-motor dari...

by Jaswanto
June 2, 2026
(Semoga) Tak Ada Revolusi Hari Ini!
Esai

‘Teror Pocong’ dan Hantu-Hantu di Singgasana Kekuasaan

BELAKANGAN ini, pocong sedang ramai dibicarakan. Berbagai video pendek yang menampilkan sosok berkain kafan beredar luas di media sosial, pesan...

by Early NHS
June 2, 2026
Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa  —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026
Panggung

Menjaga Tradisi, Menemukan Rasa —Pelajaran dari Jepang dan Thailand di Ubud Food Festival 2026

PADA hari terakhir Ubud Food Festival 2026, Minggu, 31 Mei 2026, Rumah Kayu, Taman Kuliner Ubud dipenuhi pengunjung yang datang...

by Dede Putra Wiguna
June 2, 2026
(Tidak Ada) Literasi Digital
Esai

(Tidak Ada) Literasi Digital

LITERASI digital berkaitan dengan proses kognitif terhadap apa yang dilihat seseorang pada layar komputer ketika menggunakan media yang terhubung melalui...

by I Wayan Artika
June 2, 2026
Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan
Ulas Rupa

Everything is Doing Something: Material yang Membawa Ingatan

Persepsi apa yang tertinggal pada sebuah kayu yang telah menjadikannya arang? Kerapuhan? Ketidakutuhan? Atau justru kesan hitam yang solid? Begitu...

by Made Chandra
June 2, 2026
PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur
Ekonomi

PT Garuda Mas Anugerah Resmikan Kantor di Bali: Beri Awarding Bagi Para Afiliator, Perluas Jangkauan Pelayanan di Kawasan Indonesia Timur

Ketika namanya disebut, Ni Ketut Sari langsung berteriak kegirangan. Teriakannya, langsung disambut seluruh peserta yang hadir memenuhi ruangan, seperti para...

by Nyoman Budarsana
June 1, 2026
’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan
Ulas Musik

’Africa’ dan Kerinduan Universal: Lagu Pop sebagai Doa Sekuler Kemanusiaan

LAGU ”Africa” karya Toto sering dibaca secara dangkal sebagai romansa eksotis atau nostalgia pop era 1980-an. Namun jika ditempatkan dalam...

by Ahmad Sihabudin
June 1, 2026
Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik
Khas

Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

Di bawah langit Mei yang teduh, halaman SMPN 2 Banjar kembali dipenuhi cahaya kebanggaan. Bulan yang identik dengan harum tanah...

by Putu Agus Eka Pradnyana
June 1, 2026
Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita
Ulas Film

Ki Ai Nirnur —Ketika Ogoh-Ogoh Bertanya tentang Kita

SORE itu, 31 Mei 2026, Cinepolis di Plaza Renon, Denpasar, terasa berbeda. Tidak ramai seperti biasanya. Tidak ada antrean panjang...

by Satria Aditya
June 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co