2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
November 3, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

KITA hidup di zaman ketika satu gerakan ibu jari bisa menentukan nasib perhatian kita. Scroll itu kelihatannya sepele, ringan, cepat, dan menghibur, tapi pelan-pelan bisa menggerus kemampuan paling berharga yaitu fokus. Saat “scroll” jadi tanpa batas, “fokus” lama-lama kandas. Lalu pertanyaannya: siapa yang seharusnya pegang kendali, kita atau layar di tangan kita? Di sinilah cerita ini dimulai. Bukan dari teori yang jauh, melainkan dari keseharian paling sederhana yang sering kita alami tanpa sadar.

Kadang semuanya terjadi begitu saja. Kita tahu ada kewajiban, kerjaan, dan tugas yang mungkin sudah direncanakan, namun fokus rasanya buyar. Tangan refleks buka ponsel, scroll tanpa arah, kemudian sadar waktu kebuang sia-sia.

Pelan-pelan saya mulai paham, ini soal brainrot. Brainrot atau “pembusukan otak” adalah penurunan fungsi otak yang meliputi kemampuan berpikir melemah, memori dan daya ingat berkurang, dan fungsi kognitif menurun. Kondisi yang cukup berbahaya karena sudah mulai mengganggu pusat inti dari kendali yang kita punya, yaitu otak.  Pemicu utamanya sederhana, salah satunya screen time berlebihan, terutama dari konten pendek yang receh, meme, atau hal-hal anomali.

Beberapa penelitian menyebutkan penggunaan layar yang berlebihan untuk hiburan dapat menurunkan fokus dan konsentrasi. Menurut Journal of American College Health, ada penelitian yang melibatkan 372 mahasiswa, ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara waktu yang dihabiskan di depan layar (“screen time“) dengan tingkat kecemasan, depresi, dan stres yang lebih tinggi. 

“Kalian ngerasa nggak?” Belakangan ini kita jadi suka scrolling terus. Bahkan di waktu-waktu yang cukup random. Misalnya saat lagi nonton Youtube atau TV pun kita bisa sambil scrolling, bahkan nongkrong pun bukannya ngobrol, malah sibuk dengan layar. Memang, kalau kita lihat dampak dari brain load ini sangat relate dengan generasi saat ini. Basis konten sekarang sudah jauh beda dari dulu. Ditambah, algoritma sekarang diatur sedemikian rupa yang bisa membuat kita jadi candu.

Tapi pertanyaannya “Kenapa sih screen time bisa sebegitu kuat memengaruhi otak kita?” Nah, untuk menjawab itu, kita harus paham dulu mekanisme kerja otak. Kita sudah tahu seberapa bahaya dampak brain load akibat penggunaan sosial media dan scrolling konten receh. Tapi kita belum tahu alasan kenapa semua efek itu bisa terjadi. Apa yang terjadi di dalam otak sehingga efek jangka panjang muncul? Kita bedah satu-satu di sini, supaya ketika kita bener-bener tahu alasan dan sebabnya dengan jelas, itu bisa memberi keinginan buat melakukan tindakan.

Pertama, otak punya reward system atau sistem hadiah. Ini sistem alami yang buat kita merasa senang dan termotivasi saat melakukan hal-hal bermanfaat seperti olahraga, belajar, ngobrol, atau baca buku. Semua itu mengaktifkan dopamine neurotransmitter yang membuat puas dan ingin melakukan aktivitas itu lagi. Nah, di era teknologi sekarang, sumber dopamine bisa diaktifkan mudah seperti scroll TikTok dan buka Instagram. Masalahnya, otak suka yang cepat dan efisien, tapi tidak mengetahui itu baik atau buruk. Otak bilang “Eh, ada cara gampang untuk dapat kesenangan tanpa harus belajar atau olahraga” yaitu scrolling yang mendistruksi motivasi alami. Kesenangan datang tanpa perjuangan, akhirya kita jadi malas melakukan hal-hal penting.

Kedua, sifat eskapism (pelarian). Otak kita punya mekanisme untuk kabur dari realita. Ini cara alami otak buat deal with stress, rasa cemas, atau emosi negatif. Proses meredakan emosi negatif itu adalah coping mechanism. Coping yang baik dan sehat contohnya olahraga, meditasi, jurnaling, atau curhat sama teman. Aktivitas ini bantu otak memproses emosi, bukan cuma menekan atau menghindar. Tapi kenyataannya, banyak orang tidak sadar dan memilih pelarian instan seperti scroll terus-terusan, dan binge watching tanpa kenal waktu. Ini membuat kita terjebak di lingkaran setan. Emosi tidak diolah, hanya ditekan sementara. Hal ini menjadi pola kebiasaan yaitu setiap cemas dan khawatir, larinya ke sosial media.

Ketiga, otak punya dua sistem berpikir yaitu sistem cepat dan instan, serta sistem lambat tapi mendalam. Saat kita terlalu sering konsumsi konten cepat seperti video singkat dan hiburan receh, yang sering dilatih di otak hanya sistem cepat. Sedangkan sistem lambat yang penting untuk kita berpikir kritis dan mendalam, jadi semakin lemah karena jarang dipakai. Hasilnya, kita sulit berpikir kritis, sulit fokus, dan mudah terdistraksi. Ketika coba fokus agak lama, kita tidak tahan, dan terganggu karena otak terbiasa ingin informasi yang cepat dan instan saja.

Keempat, otak kita punya sifat sosial yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai Social Comparison Theory. Dulu, perbandingan sosial berguna seperti belajar dari yang lebih sukses, terdorong jadi rajin dan produktif dalam lingkup kecil yang setara. Tapi di era sosial media, perbandingan yang terjadi tidak lagi setara, melainkan ke versi terkurasi dari kehidupan orang lain. Kita membandingkan highlight orang lain dengan behind the scene kita. Sekarang kita membandingkan diri dengan ribuan, jutaan orang yang menampilkan versi terbaiknya, bahkan orang yang tidak kita kenal. Ini menimbulkan fenomena seperti “standar TikTok,” membuat standar kita bias dan tidak realistis.

Itulah mekanisme otak saat kita terbiasa mengonsumsi konten sosial media secara berlebihan, yang akhirnya bisa menimbulkan efek jangka panjang yaitu brain rot. Kalau ditanya apakah dampaknya permanen? Jawabannya bukan, karena otak kita punya kekuatan neuroplasticity (kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pengalaman serta kebiasaan baru yang kita lakukan secara konsisten).

Otak kita plastis, fleksibel, dan ini memengaruhi empat mekanisme kerja otak tadi. Sederhananya, cara kerja otak bisa dibentuk ulang. Kalau selama ini kita membiasakan otak mengkonsumsi konten pendek, receh, instan, maka otak terbentuk untuk selalu mencari hal cepat dan mudah. Tapi kalau kita melatih otak dengan kegiatan menantang yang butuh fokus seperti baca buku, riset, mempelajari hal baru, atau menekuni hobi baru, maka otak membangun jalur-jalur yang lebih sehat. Otak jadi terbiasa melakukan hal produktif lain yaitu fokus, berpikir mendalam, dan berpikir kritis.

Pada akhirnya, otak kita adalah cerita yang kita tulis berulang ulang. “Brainrot” hanyalah bab yang bisa ditutup, sedangkan neuroplastisitas memberi kita pena untuk menulis ulang. Pilih satu kebiasaan kecil hari ini, misalnya menunda scroll, membaca sampai tuntas, atau duduk hening lima menit, lalu ulangi besok. Perubahan besar lahir dari langkah sederhana yang setia. Hidup kembali diarahkan oleh kita, bukan oleh layar. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: brain rotkesehatan mentalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Next Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co