12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
November 3, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

KITA hidup di zaman ketika satu gerakan ibu jari bisa menentukan nasib perhatian kita. Scroll itu kelihatannya sepele, ringan, cepat, dan menghibur, tapi pelan-pelan bisa menggerus kemampuan paling berharga yaitu fokus. Saat “scroll” jadi tanpa batas, “fokus” lama-lama kandas. Lalu pertanyaannya: siapa yang seharusnya pegang kendali, kita atau layar di tangan kita? Di sinilah cerita ini dimulai. Bukan dari teori yang jauh, melainkan dari keseharian paling sederhana yang sering kita alami tanpa sadar.

Kadang semuanya terjadi begitu saja. Kita tahu ada kewajiban, kerjaan, dan tugas yang mungkin sudah direncanakan, namun fokus rasanya buyar. Tangan refleks buka ponsel, scroll tanpa arah, kemudian sadar waktu kebuang sia-sia.

Pelan-pelan saya mulai paham, ini soal brainrot. Brainrot atau “pembusukan otak” adalah penurunan fungsi otak yang meliputi kemampuan berpikir melemah, memori dan daya ingat berkurang, dan fungsi kognitif menurun. Kondisi yang cukup berbahaya karena sudah mulai mengganggu pusat inti dari kendali yang kita punya, yaitu otak.  Pemicu utamanya sederhana, salah satunya screen time berlebihan, terutama dari konten pendek yang receh, meme, atau hal-hal anomali.

Beberapa penelitian menyebutkan penggunaan layar yang berlebihan untuk hiburan dapat menurunkan fokus dan konsentrasi. Menurut Journal of American College Health, ada penelitian yang melibatkan 372 mahasiswa, ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara waktu yang dihabiskan di depan layar (“screen time“) dengan tingkat kecemasan, depresi, dan stres yang lebih tinggi. 

“Kalian ngerasa nggak?” Belakangan ini kita jadi suka scrolling terus. Bahkan di waktu-waktu yang cukup random. Misalnya saat lagi nonton Youtube atau TV pun kita bisa sambil scrolling, bahkan nongkrong pun bukannya ngobrol, malah sibuk dengan layar. Memang, kalau kita lihat dampak dari brain load ini sangat relate dengan generasi saat ini. Basis konten sekarang sudah jauh beda dari dulu. Ditambah, algoritma sekarang diatur sedemikian rupa yang bisa membuat kita jadi candu.

Tapi pertanyaannya “Kenapa sih screen time bisa sebegitu kuat memengaruhi otak kita?” Nah, untuk menjawab itu, kita harus paham dulu mekanisme kerja otak. Kita sudah tahu seberapa bahaya dampak brain load akibat penggunaan sosial media dan scrolling konten receh. Tapi kita belum tahu alasan kenapa semua efek itu bisa terjadi. Apa yang terjadi di dalam otak sehingga efek jangka panjang muncul? Kita bedah satu-satu di sini, supaya ketika kita bener-bener tahu alasan dan sebabnya dengan jelas, itu bisa memberi keinginan buat melakukan tindakan.

Pertama, otak punya reward system atau sistem hadiah. Ini sistem alami yang buat kita merasa senang dan termotivasi saat melakukan hal-hal bermanfaat seperti olahraga, belajar, ngobrol, atau baca buku. Semua itu mengaktifkan dopamine neurotransmitter yang membuat puas dan ingin melakukan aktivitas itu lagi. Nah, di era teknologi sekarang, sumber dopamine bisa diaktifkan mudah seperti scroll TikTok dan buka Instagram. Masalahnya, otak suka yang cepat dan efisien, tapi tidak mengetahui itu baik atau buruk. Otak bilang “Eh, ada cara gampang untuk dapat kesenangan tanpa harus belajar atau olahraga” yaitu scrolling yang mendistruksi motivasi alami. Kesenangan datang tanpa perjuangan, akhirya kita jadi malas melakukan hal-hal penting.

Kedua, sifat eskapism (pelarian). Otak kita punya mekanisme untuk kabur dari realita. Ini cara alami otak buat deal with stress, rasa cemas, atau emosi negatif. Proses meredakan emosi negatif itu adalah coping mechanism. Coping yang baik dan sehat contohnya olahraga, meditasi, jurnaling, atau curhat sama teman. Aktivitas ini bantu otak memproses emosi, bukan cuma menekan atau menghindar. Tapi kenyataannya, banyak orang tidak sadar dan memilih pelarian instan seperti scroll terus-terusan, dan binge watching tanpa kenal waktu. Ini membuat kita terjebak di lingkaran setan. Emosi tidak diolah, hanya ditekan sementara. Hal ini menjadi pola kebiasaan yaitu setiap cemas dan khawatir, larinya ke sosial media.

Ketiga, otak punya dua sistem berpikir yaitu sistem cepat dan instan, serta sistem lambat tapi mendalam. Saat kita terlalu sering konsumsi konten cepat seperti video singkat dan hiburan receh, yang sering dilatih di otak hanya sistem cepat. Sedangkan sistem lambat yang penting untuk kita berpikir kritis dan mendalam, jadi semakin lemah karena jarang dipakai. Hasilnya, kita sulit berpikir kritis, sulit fokus, dan mudah terdistraksi. Ketika coba fokus agak lama, kita tidak tahan, dan terganggu karena otak terbiasa ingin informasi yang cepat dan instan saja.

Keempat, otak kita punya sifat sosial yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai Social Comparison Theory. Dulu, perbandingan sosial berguna seperti belajar dari yang lebih sukses, terdorong jadi rajin dan produktif dalam lingkup kecil yang setara. Tapi di era sosial media, perbandingan yang terjadi tidak lagi setara, melainkan ke versi terkurasi dari kehidupan orang lain. Kita membandingkan highlight orang lain dengan behind the scene kita. Sekarang kita membandingkan diri dengan ribuan, jutaan orang yang menampilkan versi terbaiknya, bahkan orang yang tidak kita kenal. Ini menimbulkan fenomena seperti “standar TikTok,” membuat standar kita bias dan tidak realistis.

Itulah mekanisme otak saat kita terbiasa mengonsumsi konten sosial media secara berlebihan, yang akhirnya bisa menimbulkan efek jangka panjang yaitu brain rot. Kalau ditanya apakah dampaknya permanen? Jawabannya bukan, karena otak kita punya kekuatan neuroplasticity (kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pengalaman serta kebiasaan baru yang kita lakukan secara konsisten).

Otak kita plastis, fleksibel, dan ini memengaruhi empat mekanisme kerja otak tadi. Sederhananya, cara kerja otak bisa dibentuk ulang. Kalau selama ini kita membiasakan otak mengkonsumsi konten pendek, receh, instan, maka otak terbentuk untuk selalu mencari hal cepat dan mudah. Tapi kalau kita melatih otak dengan kegiatan menantang yang butuh fokus seperti baca buku, riset, mempelajari hal baru, atau menekuni hobi baru, maka otak membangun jalur-jalur yang lebih sehat. Otak jadi terbiasa melakukan hal produktif lain yaitu fokus, berpikir mendalam, dan berpikir kritis.

Pada akhirnya, otak kita adalah cerita yang kita tulis berulang ulang. “Brainrot” hanyalah bab yang bisa ditutup, sedangkan neuroplastisitas memberi kita pena untuk menulis ulang. Pilih satu kebiasaan kecil hari ini, misalnya menunda scroll, membaca sampai tuntas, atau duduk hening lima menit, lalu ulangi besok. Perubahan besar lahir dari langkah sederhana yang setia. Hidup kembali diarahkan oleh kita, bukan oleh layar. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: brain rotkesehatan mentalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Next Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co