13 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Otak yang “Rusak”? Brainrot vs Neuroplasticity

Andika Pradnyana by Andika Pradnyana
November 3, 2025
in Esai
“Ulah Pati” Karena “Bully” dan Patah Hati?

Andika Pradnyana

KITA hidup di zaman ketika satu gerakan ibu jari bisa menentukan nasib perhatian kita. Scroll itu kelihatannya sepele, ringan, cepat, dan menghibur, tapi pelan-pelan bisa menggerus kemampuan paling berharga yaitu fokus. Saat “scroll” jadi tanpa batas, “fokus” lama-lama kandas. Lalu pertanyaannya: siapa yang seharusnya pegang kendali, kita atau layar di tangan kita? Di sinilah cerita ini dimulai. Bukan dari teori yang jauh, melainkan dari keseharian paling sederhana yang sering kita alami tanpa sadar.

Kadang semuanya terjadi begitu saja. Kita tahu ada kewajiban, kerjaan, dan tugas yang mungkin sudah direncanakan, namun fokus rasanya buyar. Tangan refleks buka ponsel, scroll tanpa arah, kemudian sadar waktu kebuang sia-sia.

Pelan-pelan saya mulai paham, ini soal brainrot. Brainrot atau “pembusukan otak” adalah penurunan fungsi otak yang meliputi kemampuan berpikir melemah, memori dan daya ingat berkurang, dan fungsi kognitif menurun. Kondisi yang cukup berbahaya karena sudah mulai mengganggu pusat inti dari kendali yang kita punya, yaitu otak.  Pemicu utamanya sederhana, salah satunya screen time berlebihan, terutama dari konten pendek yang receh, meme, atau hal-hal anomali.

Beberapa penelitian menyebutkan penggunaan layar yang berlebihan untuk hiburan dapat menurunkan fokus dan konsentrasi. Menurut Journal of American College Health, ada penelitian yang melibatkan 372 mahasiswa, ditemukan bahwa ada hubungan signifikan antara waktu yang dihabiskan di depan layar (“screen time“) dengan tingkat kecemasan, depresi, dan stres yang lebih tinggi. 

“Kalian ngerasa nggak?” Belakangan ini kita jadi suka scrolling terus. Bahkan di waktu-waktu yang cukup random. Misalnya saat lagi nonton Youtube atau TV pun kita bisa sambil scrolling, bahkan nongkrong pun bukannya ngobrol, malah sibuk dengan layar. Memang, kalau kita lihat dampak dari brain load ini sangat relate dengan generasi saat ini. Basis konten sekarang sudah jauh beda dari dulu. Ditambah, algoritma sekarang diatur sedemikian rupa yang bisa membuat kita jadi candu.

Tapi pertanyaannya “Kenapa sih screen time bisa sebegitu kuat memengaruhi otak kita?” Nah, untuk menjawab itu, kita harus paham dulu mekanisme kerja otak. Kita sudah tahu seberapa bahaya dampak brain load akibat penggunaan sosial media dan scrolling konten receh. Tapi kita belum tahu alasan kenapa semua efek itu bisa terjadi. Apa yang terjadi di dalam otak sehingga efek jangka panjang muncul? Kita bedah satu-satu di sini, supaya ketika kita bener-bener tahu alasan dan sebabnya dengan jelas, itu bisa memberi keinginan buat melakukan tindakan.

Pertama, otak punya reward system atau sistem hadiah. Ini sistem alami yang buat kita merasa senang dan termotivasi saat melakukan hal-hal bermanfaat seperti olahraga, belajar, ngobrol, atau baca buku. Semua itu mengaktifkan dopamine neurotransmitter yang membuat puas dan ingin melakukan aktivitas itu lagi. Nah, di era teknologi sekarang, sumber dopamine bisa diaktifkan mudah seperti scroll TikTok dan buka Instagram. Masalahnya, otak suka yang cepat dan efisien, tapi tidak mengetahui itu baik atau buruk. Otak bilang “Eh, ada cara gampang untuk dapat kesenangan tanpa harus belajar atau olahraga” yaitu scrolling yang mendistruksi motivasi alami. Kesenangan datang tanpa perjuangan, akhirya kita jadi malas melakukan hal-hal penting.

Kedua, sifat eskapism (pelarian). Otak kita punya mekanisme untuk kabur dari realita. Ini cara alami otak buat deal with stress, rasa cemas, atau emosi negatif. Proses meredakan emosi negatif itu adalah coping mechanism. Coping yang baik dan sehat contohnya olahraga, meditasi, jurnaling, atau curhat sama teman. Aktivitas ini bantu otak memproses emosi, bukan cuma menekan atau menghindar. Tapi kenyataannya, banyak orang tidak sadar dan memilih pelarian instan seperti scroll terus-terusan, dan binge watching tanpa kenal waktu. Ini membuat kita terjebak di lingkaran setan. Emosi tidak diolah, hanya ditekan sementara. Hal ini menjadi pola kebiasaan yaitu setiap cemas dan khawatir, larinya ke sosial media.

Ketiga, otak punya dua sistem berpikir yaitu sistem cepat dan instan, serta sistem lambat tapi mendalam. Saat kita terlalu sering konsumsi konten cepat seperti video singkat dan hiburan receh, yang sering dilatih di otak hanya sistem cepat. Sedangkan sistem lambat yang penting untuk kita berpikir kritis dan mendalam, jadi semakin lemah karena jarang dipakai. Hasilnya, kita sulit berpikir kritis, sulit fokus, dan mudah terdistraksi. Ketika coba fokus agak lama, kita tidak tahan, dan terganggu karena otak terbiasa ingin informasi yang cepat dan instan saja.

Keempat, otak kita punya sifat sosial yaitu kecenderungan membandingkan diri dengan orang lain. Ini dikenal sebagai Social Comparison Theory. Dulu, perbandingan sosial berguna seperti belajar dari yang lebih sukses, terdorong jadi rajin dan produktif dalam lingkup kecil yang setara. Tapi di era sosial media, perbandingan yang terjadi tidak lagi setara, melainkan ke versi terkurasi dari kehidupan orang lain. Kita membandingkan highlight orang lain dengan behind the scene kita. Sekarang kita membandingkan diri dengan ribuan, jutaan orang yang menampilkan versi terbaiknya, bahkan orang yang tidak kita kenal. Ini menimbulkan fenomena seperti “standar TikTok,” membuat standar kita bias dan tidak realistis.

Itulah mekanisme otak saat kita terbiasa mengonsumsi konten sosial media secara berlebihan, yang akhirnya bisa menimbulkan efek jangka panjang yaitu brain rot. Kalau ditanya apakah dampaknya permanen? Jawabannya bukan, karena otak kita punya kekuatan neuroplasticity (kemampuan otak untuk berubah, beradaptasi, membentuk ulang jalur-jalur saraf berdasarkan pengalaman serta kebiasaan baru yang kita lakukan secara konsisten).

Otak kita plastis, fleksibel, dan ini memengaruhi empat mekanisme kerja otak tadi. Sederhananya, cara kerja otak bisa dibentuk ulang. Kalau selama ini kita membiasakan otak mengkonsumsi konten pendek, receh, instan, maka otak terbentuk untuk selalu mencari hal cepat dan mudah. Tapi kalau kita melatih otak dengan kegiatan menantang yang butuh fokus seperti baca buku, riset, mempelajari hal baru, atau menekuni hobi baru, maka otak membangun jalur-jalur yang lebih sehat. Otak jadi terbiasa melakukan hal produktif lain yaitu fokus, berpikir mendalam, dan berpikir kritis.

Pada akhirnya, otak kita adalah cerita yang kita tulis berulang ulang. “Brainrot” hanyalah bab yang bisa ditutup, sedangkan neuroplastisitas memberi kita pena untuk menulis ulang. Pilih satu kebiasaan kecil hari ini, misalnya menunda scroll, membaca sampai tuntas, atau duduk hening lima menit, lalu ulangi besok. Perubahan besar lahir dari langkah sederhana yang setia. Hidup kembali diarahkan oleh kita, bukan oleh layar. [T]

Penulis: Andika Pradnyana
Editor: Adnyana Ole

Tags: brain rotkesehatan mentalmedia sosial
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Alienasi dan Luka Perempuan dalam Warna-Warna Sekunder —Catatan Pameran Tunggal Seni Rupa Digital, “Without Blue”, oleh Whyper

Next Post

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Andika Pradnyana

Andika Pradnyana

I Ketut Andika Pradnyana, S.Pd.,M.Pd. Asal Nusa Penida. Tinggal di Singaraja. Instagram : @pradnyanaandika

Related Posts

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

by I Wayan Artika
July 12, 2026
0
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

Read moreDetails

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

by Agung Bawantara
July 12, 2026
0
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

Read moreDetails

Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

by Wayan Gde Yudane
July 11, 2026
0
Yang Tidak Pernah Selesai: Requiem untuk Made Budhiana

ADA perpisahan yang datang dengan perlahan, seolah memberi kita waktu untuk bersiap. Ada pula yang, meskipun telah lama kita nantikan...

Read moreDetails

Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

by I Gede Made Surya Darma
July 10, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

DUNIA seni rupa Indonesia kembali berduka. Maestro seni rupa kontemporer Indonesia, Made Budhiana, berpulang pada Jumat, 10 Juli 2026, pukul...

Read moreDetails

Fenomena Desa Wisata: Viral Lalu Mati

by Chusmeru
July 10, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

Seiring dengan isu keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata yang jadi orientasi wisatawan generasi Z dan milenial, desa wisata berkembang menjadi...

Read moreDetails

Niat Baik vs Nepotisme: Pelajaran Tata Negara dari Era Utsman

by Nur Inayah Yushar
July 9, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

SALAH satu jebakan terbesar dalam psikologi politik masyarakat Indonesia adalah kecenderungan memilih atau memercayai pemimpin hanya berdasarkan citra kesalehan, keluhuran...

Read moreDetails

Bali, Surga yang Sudah Overload

by Agung Sudarsa
July 9, 2026
0
Bali, Surga yang Sudah Overload

Ketika Surga Kehilangan Napas SELAMA puluhan tahun, Bali dipuja sebagai Pulau Dewata,The Last Paradise, surga tropis yang menghadirkan harmoni antara...

Read moreDetails

Bunglon di Republik Kita

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 8, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

DI taman kebun belakang rumah saya ada 2 ekor bunglon yang hidup sehari-hari di situ. Tadinya tidak ada, tahu-tahu ada...

Read moreDetails

KEPEMIMPINAN ‘BALANG TAMAK’: BELILAH PUJIAN KETIKA RAKYAT MEMBENCIMU

by Sugi Lanus
July 7, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Catatan Harian Sugi Lanus, 7 Juli 2026 Alkisah Balang Tamak, tokoh cerdik sekaligus satir dalam cerita rakyat Bali, pernah berpesan...

Read moreDetails
Next Post
Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Pertunjukan Lintas Seni di Penutupan Ubud Writers & Readers Festival 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan
Panggung

Indonesia Flair Tandem 2026: Saat Bartender Menyulap Atraksi Menjadi Seni Pertunjukan

DENTING botol beradu dengan irama musik. Shaker melayang di udara, berputar beberapa kali sebelum kembali mendarat tepat di tangan sang...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani
Panggung

Rockestrasi, Ketika Rock dan Orkestra Bersatu di Festival Seni Bali Jani

DENTUMAN drum, raungan gitar listrik, dan koor ratusan penonton menggema di Panggung Madya Mandala, Taman Budaya Bali, Minggu (12/7/2026) malam....

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan
Panggung

“Sumpah Drupadi”, Panggung Refleksi tentang Martabat dan Keadilan

PERTUNJUKAN drama klasik persembahan Sanggar Teater Mini pada pembukaan Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun 2026 membangkitkan nostalgia penonton,...

by Nyoman Budarsana
July 13, 2026
Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali
Panggung

Festival Seni Bali Jani 2026 Resmi Bergulir, Ruang Kreativitas Baru Seni Modern dan Kontemporer Bali

Usai menutup rangkaian Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026, Pemerintah Provinsi Bali langsung membuka lembaran baru perjalanan kesenian melalui...

by Nyoman Budarsana
July 12, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

by Sugi Lanus
July 12, 2026
Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh
Khas

Pra-Ignite Fest Kesbam, Membangun Keakraban Sebelum Mengenal Lebih Jauh

PAGI itu, matahari belum membumbung tinggi. Namun halaman SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) sudah dipenuhi ratusan wajah baru penuh...

by Dede Putra Wiguna
July 12, 2026
Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum
Esai

Mengajar Sastra dengan Pendekatan Literasi: Implementasi Sastra Masuk Kurikulum

Materi ini akan disampaikan dalam Festival Seni Bali Jani VIII, Denpasar 20 Juli 2026 MENJADI dosen sastra bagi saya bukan...

by I Wayan Artika
July 12, 2026
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno
Ulas Buku

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

by IRZI
July 12, 2026
Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana
Esai

Tak Ada Goresan yang Salah —Mengenang Made Budhiana

Hal pertama yang saya ingat dari Made Budhiana bukanlah lukisan. Melainkan suara The Doors yang diputar keras-keras di studionya. Kadang...

by Agung Bawantara
July 12, 2026
Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud
Panggung

Keserakahan yang Menghancurkan Persaudaraan: Drama-Tari “Pemurtian Sunda Upasunda” Hidupkan Kembali Pesan Adiparwa di Piodalan Pura Dalem Desa Adat Ubud

SERANGKAIAN dengan Upacara Piodalan Pedudusan Alit di Pura Dalem Desa Adat Ubud pada Rahina Anggara Kasih Medangsia, hari Selasa (7/7/2026),...

by Agus Eka Cahyadi
July 11, 2026
Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa
Ulas Pentas

Tubuh-Properti-Panggung “Gita Sarayu” Desa Selat, Karangasem: Catatan Ringkas dari Perspektif (Seni) Rupa

BERDAMAI dengan panggung terbuka Ardha Candra di Taman Budaya Bali, Art Centre di Denpasar tidaklah mudah, sebab siapa pun yang...

by Dewa Purwita Sukahet
July 11, 2026
Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar
Khas

Belajar, Mencoba, Lalu Menemukan—Dari Workshop Pembelajaran Mendalam Berbasis STEM di SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar

SUASANA ruang pertemuan SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar hari itu terasa berbeda. Para guru berdiri mengelilingi meja, saling berdiskusi, tertawa,...

by Dede Putra Wiguna
July 11, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co