24 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
November 2, 2025
in Cerpen
Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU berdiam diri di rumah ketika seluruh sanak saudara sibuk di Sanggah, menyiapkan banten dan perlengkapan upacara. Aku sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi tak seorang pun mengizinkan aku. Katanya, aku harus beristirahat saja. Mereka takut aku kelelahan. Tidak bisa bicara banyak, hanya menurut sebelum semuanya meninggikan suara. Meski dalam hati ada rasa ingin ikut menata janur dan menyiapkan sesajen seperti dulu.

Sudah dua setengah tahun, aku hanya bisa terbaring lemah di kamar. Darah keluar dari mulut, tubuhku dingin dengan aroma menyengat, dan pucat seperti aspal di bawah hujan. Dokter bilang aku mengidap kanker paru-paru. Kabar itu membuat semua orang di rumah terdiam lama, seolah kata “kanker” lebih mengerikan dari apa pun. Suamiku berusaha tabah, tapi aku tahu dari matanya ia takut kehilangan. Sementara iparku tidak pernah setuju ketika dokter menyarankan pengobatan intensif. Meskipun tak pernah mempelajari hal-hal medis, ia tahu betul jika operasi paru-paru akan menimbulkan beberapa resiko besar, antara hidup dengan keterbatasan atau perlahan meninggal. Bukan karena keterbatasan biaya, tapi ia percaya aku bisa sembuh dengan cara lain, cara yang lebih dekat dengan Tuhan.

…

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Perasaanku semakin tak terkendali. Hari itu tubuhku nyaris tak bisa digerakkan. Dengan sisa tenaga, aku berbisik padanya agar menjaga anak dan suamiku kalau aku tak kuat lagi. Ia tidak menjawab, hanya menggenggam tanganku erat, lalu berkata lirih bahwa aku harus ikut dengannya. Kami berangkat dengan mobil kol menuju tempat pengobatan di kecamatan, melewati jalan yang berkelok-kelok sebab rumah kami di daerah pegunungan. Kami menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan hati yang berdebar.

Sesampainya di sana, seorang pria berpakaian serba putih menyambut kami. Katanya, ia bukan dokter, tapi utusan Tuhan. Dengan lembut ia mengucap mantra, lalu memintaku membuka mulut. Aku menuruti tanpa banyak pikir. Beberapa menit kami menunggu, tapi tak kunjung ada sesuatu terjadi. Sampai pada mantra “Om Santih, Santih, Santih Om”,  aku menyadari mantranya telah selesai. Semua masih terdiam kaku, tetapi aku sibuk dengan tenggorokan yang begitu gatal. Pikirku dalam hening, apa darah akan menyembur wajah pemangku ini?

Beberapa detik kemudian, benar saja sesuatu keluar dari tenggorokanku: dua makhluk kecil bersayap dengan tubuh berbalut darah kental. Samar-samar aku melihat  bentuknya seperti yuyu kecil yang siap mencapit mangsanya.

“Ini yang membuatmu terus mengeluarkan darah,” ucapnya tenang. “Kalau tidak segera dikeluarkan, ia akan membesar.”

Aku tertegun. Bagaimana mungkin makhluk itu bisa masuk ke tubuhku? Dari makanan? Dari udara? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah menemukan jawaban. Yang kutahu, ada makhluk lain yang hidup di dalam tubuhku, selain diriku sendiri. Sekilas terdengar mustahil dan aku pun tak percaya. Kupikir aku telah berpindah ke alam lain, sembuh di sana, lalu kembali.

Nyatanya, hidup masih berjalan. Aku masih bisa menggenggam erat tangan Falguni (anakku), suamiku, dan saudara-saudaraku. Harapan yang dulu terasa lebur kini menjadi nyata, bahkan menjadi sesuatu yang bisa dideteksi dan diakui keberadaannya. Sebelum kami pulang, beliau berkata akan memelihara makhluk itu dan memintaku datang lagi ketika sudah mampu berjalan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Beliau meninggal sebelum aku sembuh sepenuhnya. Aku pun tak pernah melihat makhluk itu lagi.

Sejak hari itu, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk hidup.

…

Empat tahun berlalu. Waktu berjalan pelan dan tubuhku perlahan pulih. Lalu keajaiban lain datang, aku hamil anak kedua. Rasanya tak percaya, seolah kehidupan benar-benar ingin tinggal di tubuhku lagi. Ketakutan akan penyakitku yang lalu membuat semua orang menjagaku dengan penuh kasih, seperti tuan putri.

Tepat di hari Anggara Kasih Julungwangi, kandunganku memasuki usia delapan bulan dua minggu. Hari itu keluarga bersiap untuk piodalan besar di Sanggah Merajan. Aku ingin sekali ikut sembahyang, tapi iparku melarang.

“Diam saja di kamar, kalau ada apa-apa segera panggil aku,” katanya tegas.

Mertuaku menambahkan, “Ibu juga sebentar saja ke Sanggah, kamu istirahat, ya.”

Aku hanya mengangguk patuh, menahan keinginan untuk sekadar mencium harum dupa dan bunga di pelataran. Padahal aku merasa jauh lebih baik jika bisa bertemu dengan para saudara, daripada berbaring terus di kasur. Namun Ibu sudah mengingatkanku untuk tetap di rumah selama kandungan membesar.

Kata Ibu, ketika usia kandungan menginjak tujuh bulan, tubuh ibu hamil menjadi lebih rentan terhadap niat buruk orang yang tidak suka. Begitulah kepercayaan para tetua dulu, selalu meyakini hal-hal yang tak kasatmata. Mau tak mau, aku pun ikut percaya dan mematuhi, takut dianggap melawan.

Aku masih mengelus perutku sambil mendengarkan sayup-sayup suara gong dari kejauhan. Suamiku dan Falguni, sudah sejak pagi berada di sanggah untuk menghaturkan banten atas permintaanku. Hanya aku dan anakku, yang masih hangat bersemayam di dalam rahimku tetap tinggal di rumah. Suara lembut iringan tari dan kidung membuatku hanyut dalam beberapa waktu. Aku mengikuti bait demi bait nya seperti berucap syukur kepada Tuhan atas keajaibannya. Belum selesai kidung itu aku lantunkan, rasa nyeri tiba-tiba menusuk perutku. Air ketuban mengalir di kakiku dan aku tahu waktunya telah tiba.

Dengan kesadaran penuh, aku berjalan keluar lewat pintu belakang agar keluargaku tidak heboh. Jalan menuju rumah bidan hanya satu kilometer, tapi terasa seperti menempuh jarak yang tak berujung. Setiap langkah disertai rasa sakit dan napas yang tertahan. Aku menggenggam perutku, berdoa agar bayi di dalamnya tetap kuat.

Ketika sampai di rumah bidan, semua orang menatapku kaget sebelum akhirnya bergegas menyiapkan alat. “Ibu mau saya panggilkan suami?” tanya bidan sambil membantuku ke ranjang. Aku hanya menggeleng pelan. Jika menunggu suamiku datang, mungkin tak sempat. Aku hanya ingin anakku segera lahir dengan selamat.

…

“Tarik napas panjang, Bu. Satu, dua, tiga… dorong.” Suara bidan terdengar menuntunku dalam ruang yang terasa asing. Setiap tarikan nafas adalah perjuangan, setiap dorongan adalah doa. Setelah tiga puluh menit, tangisan bayi memecah keheningan. Suara itu membuat dadaku sesak oleh haru. Bayi perempuan, sehat, mungil, dan suaranya kuat sekali.

Dalam keadaan lemas, aku berbisik, “Tolong panggil suamiku, dia pasti di Sanggah.”

Tak lama, keluarga berdatangan dengan wajah cemas dan mata sembab. “Kami pikir kamu menghilang! Untung bidan memberi kabar, mengapa tidak teriak?” Isak iparku. Suamiku mendekat, menatapku lama. “kamu kuat sekali,” katanya pelan sambil menggenggam tanganku. Aku hanya menatap mereka tanpa bisa bicara banyak, tubuhku masih lemas dan harus dirawat dalam beberapa hari. Nafasku juga masih terengah-engah karena persalinan dilakukan secara normal. Sebenarnya dokter tidak menyarankan tindakan itu, tapi semua itu atas permintaanku.

Kamar bidan itu penuh dengan sanak saudara yang bersyukur. Aku menatap bayiku lama-lama. Di dalam hati aku berjanji akan selalu menjaga hidupnya seperti Tuhan menjaga hidupku dulu. Ia lahir di hari Anggara Kasih Julungwangi, bersamaan dengan piodalan keluarga kami. Dalam perjalanan sepuluh menit itu, aku sempat berjanji pada Tuhan: jika anakku lahir tanpa kurang satu hal, aku akan menghaturkan seratus mentimun sebagai tanda terima kasih. Kini janjiku itu harus kutepati.

Sore itu, aku memandangi langit dari jendela rumah bidan. Matahari hampir tenggelam dan angin membawa harum bunga canang dari arah Sanggah. Aku tersenyum pelan. Dalam hatiku, aku menitipkan doa pada namanya, agar ia tumbuh menjadi anak yang penuh kedamaian, seperti hari kelahirannya yang suci — hari Anggara Kasih Julungwangi, saat hidup dan keajaiban bertemu dalam satu waktu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taman Mekar, Belajar Konservasi Air ala SDN 4 Munduk

Next Post

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails

Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

by Gede Aries Pidrawan
March 28, 2026
0
Tari Sunari | Cerpen Gede Aries Pidrawan

LUH Sunari merasa tubuhnya berat. Semua yang tampak di sekelilingnya hitam. Pekat. Saat itulah sebuah bayang mendekat. Bayangan itu begitu...

Read moreDetails

Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
March 27, 2026
0
Aku Tak Bisa Menulis Cerpen  |  Cerpen Dede Putra Wiguna

AKU menatap layar laptop yang kosong. Luas, sunyi, dan membuat kepala terasa berdenyut. Kursor berkedip di pojok kiri atas dokumen,...

Read moreDetails

Umpan | Cerpen Putri Harya

by Putri Harya
March 22, 2026
0
Umpan | Cerpen Putri Harya

Aku tidak merasa melanggar norma. Aku juga tidak sedang melakukan dosa. Aku hanya mengusahakan takdirku dengan meniru apa yang sering...

Read moreDetails

Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
March 21, 2026
0
Lebaran Tahun Ini | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

DI kepalaku masih terngiang-ngiang oleh frasa nomina sayur bening dan lele goreng yang keluar dari mulut Darmuji. Sepertinya, itu merupakan...

Read moreDetails

Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
March 15, 2026
0
Setahun Cinta di Kota Tua Karengan | Cerpen Ahmad Sihabudin

Di ujung timur Jawa, ada sebuah kota kecil bernama Karengan, tempat yang seperti berhenti pada usia tuanya. Jalanan sempit berlapis...

Read moreDetails
Next Post
Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co