14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
November 2, 2025
in Cerpen
Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU berdiam diri di rumah ketika seluruh sanak saudara sibuk di Sanggah, menyiapkan banten dan perlengkapan upacara. Aku sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi tak seorang pun mengizinkan aku. Katanya, aku harus beristirahat saja. Mereka takut aku kelelahan. Tidak bisa bicara banyak, hanya menurut sebelum semuanya meninggikan suara. Meski dalam hati ada rasa ingin ikut menata janur dan menyiapkan sesajen seperti dulu.

Sudah dua setengah tahun, aku hanya bisa terbaring lemah di kamar. Darah keluar dari mulut, tubuhku dingin dengan aroma menyengat, dan pucat seperti aspal di bawah hujan. Dokter bilang aku mengidap kanker paru-paru. Kabar itu membuat semua orang di rumah terdiam lama, seolah kata “kanker” lebih mengerikan dari apa pun. Suamiku berusaha tabah, tapi aku tahu dari matanya ia takut kehilangan. Sementara iparku tidak pernah setuju ketika dokter menyarankan pengobatan intensif. Meskipun tak pernah mempelajari hal-hal medis, ia tahu betul jika operasi paru-paru akan menimbulkan beberapa resiko besar, antara hidup dengan keterbatasan atau perlahan meninggal. Bukan karena keterbatasan biaya, tapi ia percaya aku bisa sembuh dengan cara lain, cara yang lebih dekat dengan Tuhan.

…

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Perasaanku semakin tak terkendali. Hari itu tubuhku nyaris tak bisa digerakkan. Dengan sisa tenaga, aku berbisik padanya agar menjaga anak dan suamiku kalau aku tak kuat lagi. Ia tidak menjawab, hanya menggenggam tanganku erat, lalu berkata lirih bahwa aku harus ikut dengannya. Kami berangkat dengan mobil kol menuju tempat pengobatan di kecamatan, melewati jalan yang berkelok-kelok sebab rumah kami di daerah pegunungan. Kami menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan hati yang berdebar.

Sesampainya di sana, seorang pria berpakaian serba putih menyambut kami. Katanya, ia bukan dokter, tapi utusan Tuhan. Dengan lembut ia mengucap mantra, lalu memintaku membuka mulut. Aku menuruti tanpa banyak pikir. Beberapa menit kami menunggu, tapi tak kunjung ada sesuatu terjadi. Sampai pada mantra “Om Santih, Santih, Santih Om”,  aku menyadari mantranya telah selesai. Semua masih terdiam kaku, tetapi aku sibuk dengan tenggorokan yang begitu gatal. Pikirku dalam hening, apa darah akan menyembur wajah pemangku ini?

Beberapa detik kemudian, benar saja sesuatu keluar dari tenggorokanku: dua makhluk kecil bersayap dengan tubuh berbalut darah kental. Samar-samar aku melihat  bentuknya seperti yuyu kecil yang siap mencapit mangsanya.

“Ini yang membuatmu terus mengeluarkan darah,” ucapnya tenang. “Kalau tidak segera dikeluarkan, ia akan membesar.”

Aku tertegun. Bagaimana mungkin makhluk itu bisa masuk ke tubuhku? Dari makanan? Dari udara? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah menemukan jawaban. Yang kutahu, ada makhluk lain yang hidup di dalam tubuhku, selain diriku sendiri. Sekilas terdengar mustahil dan aku pun tak percaya. Kupikir aku telah berpindah ke alam lain, sembuh di sana, lalu kembali.

Nyatanya, hidup masih berjalan. Aku masih bisa menggenggam erat tangan Falguni (anakku), suamiku, dan saudara-saudaraku. Harapan yang dulu terasa lebur kini menjadi nyata, bahkan menjadi sesuatu yang bisa dideteksi dan diakui keberadaannya. Sebelum kami pulang, beliau berkata akan memelihara makhluk itu dan memintaku datang lagi ketika sudah mampu berjalan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Beliau meninggal sebelum aku sembuh sepenuhnya. Aku pun tak pernah melihat makhluk itu lagi.

Sejak hari itu, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk hidup.

…

Empat tahun berlalu. Waktu berjalan pelan dan tubuhku perlahan pulih. Lalu keajaiban lain datang, aku hamil anak kedua. Rasanya tak percaya, seolah kehidupan benar-benar ingin tinggal di tubuhku lagi. Ketakutan akan penyakitku yang lalu membuat semua orang menjagaku dengan penuh kasih, seperti tuan putri.

Tepat di hari Anggara Kasih Julungwangi, kandunganku memasuki usia delapan bulan dua minggu. Hari itu keluarga bersiap untuk piodalan besar di Sanggah Merajan. Aku ingin sekali ikut sembahyang, tapi iparku melarang.

“Diam saja di kamar, kalau ada apa-apa segera panggil aku,” katanya tegas.

Mertuaku menambahkan, “Ibu juga sebentar saja ke Sanggah, kamu istirahat, ya.”

Aku hanya mengangguk patuh, menahan keinginan untuk sekadar mencium harum dupa dan bunga di pelataran. Padahal aku merasa jauh lebih baik jika bisa bertemu dengan para saudara, daripada berbaring terus di kasur. Namun Ibu sudah mengingatkanku untuk tetap di rumah selama kandungan membesar.

Kata Ibu, ketika usia kandungan menginjak tujuh bulan, tubuh ibu hamil menjadi lebih rentan terhadap niat buruk orang yang tidak suka. Begitulah kepercayaan para tetua dulu, selalu meyakini hal-hal yang tak kasatmata. Mau tak mau, aku pun ikut percaya dan mematuhi, takut dianggap melawan.

Aku masih mengelus perutku sambil mendengarkan sayup-sayup suara gong dari kejauhan. Suamiku dan Falguni, sudah sejak pagi berada di sanggah untuk menghaturkan banten atas permintaanku. Hanya aku dan anakku, yang masih hangat bersemayam di dalam rahimku tetap tinggal di rumah. Suara lembut iringan tari dan kidung membuatku hanyut dalam beberapa waktu. Aku mengikuti bait demi bait nya seperti berucap syukur kepada Tuhan atas keajaibannya. Belum selesai kidung itu aku lantunkan, rasa nyeri tiba-tiba menusuk perutku. Air ketuban mengalir di kakiku dan aku tahu waktunya telah tiba.

Dengan kesadaran penuh, aku berjalan keluar lewat pintu belakang agar keluargaku tidak heboh. Jalan menuju rumah bidan hanya satu kilometer, tapi terasa seperti menempuh jarak yang tak berujung. Setiap langkah disertai rasa sakit dan napas yang tertahan. Aku menggenggam perutku, berdoa agar bayi di dalamnya tetap kuat.

Ketika sampai di rumah bidan, semua orang menatapku kaget sebelum akhirnya bergegas menyiapkan alat. “Ibu mau saya panggilkan suami?” tanya bidan sambil membantuku ke ranjang. Aku hanya menggeleng pelan. Jika menunggu suamiku datang, mungkin tak sempat. Aku hanya ingin anakku segera lahir dengan selamat.

…

“Tarik napas panjang, Bu. Satu, dua, tiga… dorong.” Suara bidan terdengar menuntunku dalam ruang yang terasa asing. Setiap tarikan nafas adalah perjuangan, setiap dorongan adalah doa. Setelah tiga puluh menit, tangisan bayi memecah keheningan. Suara itu membuat dadaku sesak oleh haru. Bayi perempuan, sehat, mungil, dan suaranya kuat sekali.

Dalam keadaan lemas, aku berbisik, “Tolong panggil suamiku, dia pasti di Sanggah.”

Tak lama, keluarga berdatangan dengan wajah cemas dan mata sembab. “Kami pikir kamu menghilang! Untung bidan memberi kabar, mengapa tidak teriak?” Isak iparku. Suamiku mendekat, menatapku lama. “kamu kuat sekali,” katanya pelan sambil menggenggam tanganku. Aku hanya menatap mereka tanpa bisa bicara banyak, tubuhku masih lemas dan harus dirawat dalam beberapa hari. Nafasku juga masih terengah-engah karena persalinan dilakukan secara normal. Sebenarnya dokter tidak menyarankan tindakan itu, tapi semua itu atas permintaanku.

Kamar bidan itu penuh dengan sanak saudara yang bersyukur. Aku menatap bayiku lama-lama. Di dalam hati aku berjanji akan selalu menjaga hidupnya seperti Tuhan menjaga hidupku dulu. Ia lahir di hari Anggara Kasih Julungwangi, bersamaan dengan piodalan keluarga kami. Dalam perjalanan sepuluh menit itu, aku sempat berjanji pada Tuhan: jika anakku lahir tanpa kurang satu hal, aku akan menghaturkan seratus mentimun sebagai tanda terima kasih. Kini janjiku itu harus kutepati.

Sore itu, aku memandangi langit dari jendela rumah bidan. Matahari hampir tenggelam dan angin membawa harum bunga canang dari arah Sanggah. Aku tersenyum pelan. Dalam hatiku, aku menitipkan doa pada namanya, agar ia tumbuh menjadi anak yang penuh kedamaian, seperti hari kelahirannya yang suci — hari Anggara Kasih Julungwangi, saat hidup dan keajaiban bertemu dalam satu waktu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taman Mekar, Belajar Konservasi Air ala SDN 4 Munduk

Next Post

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
0
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

Read moreDetails

Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
May 10, 2026
0
Di Bawah Matahari yang Tak Pernah Menuntut | Cerpen Ahmad Sihabudin

PAGI di Desa Batu Pangeran selalu datang dengan langkah pelan, seolah ia tahu bahwa tempat itu tidak suka tergesa-gesa. Langit...

Read moreDetails

Puting Beliung | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
May 9, 2026
0
Puting Beliung | Cerpen Supartika

Sial! Neraka dilanda puting beliung. Porak-poranda. Api neraka yang berkobar-kobar ikut tersapu puting beliung yang hebat itu. Angin membuat api...

Read moreDetails

Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

by Kadek Windari
May 4, 2026
0
Aku Kembali | Cerpen Kadek Windari

“Risa, aku sudah melihat hasil pengumuman itu,” ucap Bagus lirih, nyaris tenggelam dalam gemuruh angin senja. Aku menoleh, menatap wajahnya...

Read moreDetails

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

by Depri Ajopan
April 25, 2026
0
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

Read moreDetails

Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

by Made Sugianto
April 12, 2026
0
Guru Abdi | Cerpen I Made Sugianto

PAGI baru menjelang, cahaya lembutnya merayap di balik pepohonan. Kadek Arya siap-siap berangkat mengajar ke sekolah. Tamat di Fakultas Sastra...

Read moreDetails

Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

by Polanco S. Achri
April 11, 2026
0
Jarum Jam yang Mekar seperti Biru Mawar: Dua Adegan | Cerpen Polanco S. Achri

buat A.Hayya, Pak Saeful, dan Teater AwalGarut, juga seorang perempuan I. Ibu memandang jauh; sepasang matanya menggambarkan suatu yang tak...

Read moreDetails

Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

by I Putu Supartika
April 10, 2026
0
Dia Hidup Lagi | Cerpen Supartika

- Katakan dia akan hidup lagi! - Dia sudah mati! - Dia akan hidup! Bangunkan dia. - Jangan, jangan, dia...

Read moreDetails

Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

by I Nyoman Sutarjana
April 5, 2026
0
Manusia Plastik | Cerpen I Nyoman Sutarjana

ASTRA menarik tangan ibunya, yang sedang jongkok. Sampah plastik yang dikumpulkan ibunya ia sisihkan. Ibu melepas cengkraman tangan Astra berusaha...

Read moreDetails

Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
April 4, 2026
0
Kampung Halaman Tidak Pernah Lupa, Termasuk Aib Kita | Cerpen Ahmad Sihabudin

SETIAP tahun, orang-orang kota mendadak berubah menjadi makhluk spiritual. Mereka yang biasanya mengeluh soal panas, debu, tetangga berisik, dan harga...

Read moreDetails
Next Post
Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co