26 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi by Ni Kadek Putri Santiadi
November 2, 2025
in Cerpen
Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Ilustrasi tatkala.co | Dibuat dengan Canva

AKU berdiam diri di rumah ketika seluruh sanak saudara sibuk di Sanggah, menyiapkan banten dan perlengkapan upacara. Aku sudah menawarkan diri untuk membantu, tapi tak seorang pun mengizinkan aku. Katanya, aku harus beristirahat saja. Mereka takut aku kelelahan. Tidak bisa bicara banyak, hanya menurut sebelum semuanya meninggikan suara. Meski dalam hati ada rasa ingin ikut menata janur dan menyiapkan sesajen seperti dulu.

Sudah dua setengah tahun, aku hanya bisa terbaring lemah di kamar. Darah keluar dari mulut, tubuhku dingin dengan aroma menyengat, dan pucat seperti aspal di bawah hujan. Dokter bilang aku mengidap kanker paru-paru. Kabar itu membuat semua orang di rumah terdiam lama, seolah kata “kanker” lebih mengerikan dari apa pun. Suamiku berusaha tabah, tapi aku tahu dari matanya ia takut kehilangan. Sementara iparku tidak pernah setuju ketika dokter menyarankan pengobatan intensif. Meskipun tak pernah mempelajari hal-hal medis, ia tahu betul jika operasi paru-paru akan menimbulkan beberapa resiko besar, antara hidup dengan keterbatasan atau perlahan meninggal. Bukan karena keterbatasan biaya, tapi ia percaya aku bisa sembuh dengan cara lain, cara yang lebih dekat dengan Tuhan.

…

Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Perasaanku semakin tak terkendali. Hari itu tubuhku nyaris tak bisa digerakkan. Dengan sisa tenaga, aku berbisik padanya agar menjaga anak dan suamiku kalau aku tak kuat lagi. Ia tidak menjawab, hanya menggenggam tanganku erat, lalu berkata lirih bahwa aku harus ikut dengannya. Kami berangkat dengan mobil kol menuju tempat pengobatan di kecamatan, melewati jalan yang berkelok-kelok sebab rumah kami di daerah pegunungan. Kami menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan hati yang berdebar.

Sesampainya di sana, seorang pria berpakaian serba putih menyambut kami. Katanya, ia bukan dokter, tapi utusan Tuhan. Dengan lembut ia mengucap mantra, lalu memintaku membuka mulut. Aku menuruti tanpa banyak pikir. Beberapa menit kami menunggu, tapi tak kunjung ada sesuatu terjadi. Sampai pada mantra “Om Santih, Santih, Santih Om”,  aku menyadari mantranya telah selesai. Semua masih terdiam kaku, tetapi aku sibuk dengan tenggorokan yang begitu gatal. Pikirku dalam hening, apa darah akan menyembur wajah pemangku ini?

Beberapa detik kemudian, benar saja sesuatu keluar dari tenggorokanku: dua makhluk kecil bersayap dengan tubuh berbalut darah kental. Samar-samar aku melihat  bentuknya seperti yuyu kecil yang siap mencapit mangsanya.

“Ini yang membuatmu terus mengeluarkan darah,” ucapnya tenang. “Kalau tidak segera dikeluarkan, ia akan membesar.”

Aku tertegun. Bagaimana mungkin makhluk itu bisa masuk ke tubuhku? Dari makanan? Dari udara? Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah menemukan jawaban. Yang kutahu, ada makhluk lain yang hidup di dalam tubuhku, selain diriku sendiri. Sekilas terdengar mustahil dan aku pun tak percaya. Kupikir aku telah berpindah ke alam lain, sembuh di sana, lalu kembali.

Nyatanya, hidup masih berjalan. Aku masih bisa menggenggam erat tangan Falguni (anakku), suamiku, dan saudara-saudaraku. Harapan yang dulu terasa lebur kini menjadi nyata, bahkan menjadi sesuatu yang bisa dideteksi dan diakui keberadaannya. Sebelum kami pulang, beliau berkata akan memelihara makhluk itu dan memintaku datang lagi ketika sudah mampu berjalan. Namun, Tuhan berkehendak lain. Beliau meninggal sebelum aku sembuh sepenuhnya. Aku pun tak pernah melihat makhluk itu lagi.

Sejak hari itu, aku merasa Tuhan memberiku kesempatan kedua untuk hidup.

…

Empat tahun berlalu. Waktu berjalan pelan dan tubuhku perlahan pulih. Lalu keajaiban lain datang, aku hamil anak kedua. Rasanya tak percaya, seolah kehidupan benar-benar ingin tinggal di tubuhku lagi. Ketakutan akan penyakitku yang lalu membuat semua orang menjagaku dengan penuh kasih, seperti tuan putri.

Tepat di hari Anggara Kasih Julungwangi, kandunganku memasuki usia delapan bulan dua minggu. Hari itu keluarga bersiap untuk piodalan besar di Sanggah Merajan. Aku ingin sekali ikut sembahyang, tapi iparku melarang.

“Diam saja di kamar, kalau ada apa-apa segera panggil aku,” katanya tegas.

Mertuaku menambahkan, “Ibu juga sebentar saja ke Sanggah, kamu istirahat, ya.”

Aku hanya mengangguk patuh, menahan keinginan untuk sekadar mencium harum dupa dan bunga di pelataran. Padahal aku merasa jauh lebih baik jika bisa bertemu dengan para saudara, daripada berbaring terus di kasur. Namun Ibu sudah mengingatkanku untuk tetap di rumah selama kandungan membesar.

Kata Ibu, ketika usia kandungan menginjak tujuh bulan, tubuh ibu hamil menjadi lebih rentan terhadap niat buruk orang yang tidak suka. Begitulah kepercayaan para tetua dulu, selalu meyakini hal-hal yang tak kasatmata. Mau tak mau, aku pun ikut percaya dan mematuhi, takut dianggap melawan.

Aku masih mengelus perutku sambil mendengarkan sayup-sayup suara gong dari kejauhan. Suamiku dan Falguni, sudah sejak pagi berada di sanggah untuk menghaturkan banten atas permintaanku. Hanya aku dan anakku, yang masih hangat bersemayam di dalam rahimku tetap tinggal di rumah. Suara lembut iringan tari dan kidung membuatku hanyut dalam beberapa waktu. Aku mengikuti bait demi bait nya seperti berucap syukur kepada Tuhan atas keajaibannya. Belum selesai kidung itu aku lantunkan, rasa nyeri tiba-tiba menusuk perutku. Air ketuban mengalir di kakiku dan aku tahu waktunya telah tiba.

Dengan kesadaran penuh, aku berjalan keluar lewat pintu belakang agar keluargaku tidak heboh. Jalan menuju rumah bidan hanya satu kilometer, tapi terasa seperti menempuh jarak yang tak berujung. Setiap langkah disertai rasa sakit dan napas yang tertahan. Aku menggenggam perutku, berdoa agar bayi di dalamnya tetap kuat.

Ketika sampai di rumah bidan, semua orang menatapku kaget sebelum akhirnya bergegas menyiapkan alat. “Ibu mau saya panggilkan suami?” tanya bidan sambil membantuku ke ranjang. Aku hanya menggeleng pelan. Jika menunggu suamiku datang, mungkin tak sempat. Aku hanya ingin anakku segera lahir dengan selamat.

…

“Tarik napas panjang, Bu. Satu, dua, tiga… dorong.” Suara bidan terdengar menuntunku dalam ruang yang terasa asing. Setiap tarikan nafas adalah perjuangan, setiap dorongan adalah doa. Setelah tiga puluh menit, tangisan bayi memecah keheningan. Suara itu membuat dadaku sesak oleh haru. Bayi perempuan, sehat, mungil, dan suaranya kuat sekali.

Dalam keadaan lemas, aku berbisik, “Tolong panggil suamiku, dia pasti di Sanggah.”

Tak lama, keluarga berdatangan dengan wajah cemas dan mata sembab. “Kami pikir kamu menghilang! Untung bidan memberi kabar, mengapa tidak teriak?” Isak iparku. Suamiku mendekat, menatapku lama. “kamu kuat sekali,” katanya pelan sambil menggenggam tanganku. Aku hanya menatap mereka tanpa bisa bicara banyak, tubuhku masih lemas dan harus dirawat dalam beberapa hari. Nafasku juga masih terengah-engah karena persalinan dilakukan secara normal. Sebenarnya dokter tidak menyarankan tindakan itu, tapi semua itu atas permintaanku.

Kamar bidan itu penuh dengan sanak saudara yang bersyukur. Aku menatap bayiku lama-lama. Di dalam hati aku berjanji akan selalu menjaga hidupnya seperti Tuhan menjaga hidupku dulu. Ia lahir di hari Anggara Kasih Julungwangi, bersamaan dengan piodalan keluarga kami. Dalam perjalanan sepuluh menit itu, aku sempat berjanji pada Tuhan: jika anakku lahir tanpa kurang satu hal, aku akan menghaturkan seratus mentimun sebagai tanda terima kasih. Kini janjiku itu harus kutepati.

Sore itu, aku memandangi langit dari jendela rumah bidan. Matahari hampir tenggelam dan angin membawa harum bunga canang dari arah Sanggah. Aku tersenyum pelan. Dalam hatiku, aku menitipkan doa pada namanya, agar ia tumbuh menjadi anak yang penuh kedamaian, seperti hari kelahirannya yang suci — hari Anggara Kasih Julungwangi, saat hidup dan keajaiban bertemu dalam satu waktu. [T]

Penulis: Putri Santiadi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Taman Mekar, Belajar Konservasi Air ala SDN 4 Munduk

Next Post

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Ni Kadek Putri Santiadi

Ni Kadek Putri Santiadi

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja

Related Posts

Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

by Sigit Susanto
October 18, 2026
0
Sang Penunggang Botol Bensin | Cerpen Sigit Susanto

“Bensin, bensin, cukup tiga puluh ribu satu botol,” seru suara Made Budija dari atas. Seorang anak muda berseragam cokelat sedang...

Read moreDetails

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails
Next Post
Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Restrukturisasi Politik Tata Kelola Karhutla

DALAM perspektif ilmu politik dan studi kebijakan publik, krisis kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia bukan sekadar fenomena meteorologis...

by Jerry Indrawan
October 26, 2026
Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026
Olahraga

Deru Mesin di Pesisir Tabanan: Keseruan Swank Rally Tutup Rangkaian Slidetober Fest 2026

SUASANA siang di kawasan dekat Pantai Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Bali, mendadak bergemuruh pada Minggu 25 Oktober 2026....

by Nyoman Budarsana
October 26, 2026
Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan
Esai

Budaya Viral dan Sunyinya Empati: Ketika Manusia Menjadi Tontonan

Di tengah perlombaan mencari perhatian, kita perlu bertanya: ketika penderitaan seseorang menjadi konsumsi publik, apakah kita sedang menunjukkan kepedulian atau...

by Hairunnisa Br. Sagala
October 26, 2026
Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026
Khas

Semakin Personal Sebuah Cerita, Semakin Universal Ia Dibaca–Catatan Diskusi “The Global Lens: Why Local Stories Matter” di UWRF 2026

SEPERTI apa kekuatan penuturan kisah lokal dalam karya sastra? Bagaimana seorang penulis memanfaatkan lanskap, identitas, dan pengalaman lokal untuk menciptakan...

by Rusdy Ulu
October 26, 2026
Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi
Khas

Ngusaba Segara lan Ngusaba Nini Desa Adat Kusamba: Generasi Muda Jangan Malu Lestarikan Tradisi

RATUSAN krama Desa Adat Kusamba berjalan beriringan dari Pura Puseh menuju Pura Segara, Minggu (25/10/2026). Mereka mengikuti tradisi mapeed, mengiringi...

by Wahyu Mahaputra
October 25, 2026
Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co