14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Angga Wijaya by Angga Wijaya
November 2, 2025
in Persona
Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Menot Sukadana | Foto: Dok pribadi

SUDAH lewat tengah malam, tapi kami masih duduk di teras belakang kantor media di Denpasar Utara. Di bawah cahaya redup lampu sepuluh watt, dua cangkir kopi hitam perlahan mendingin. Suara jangkrik dari sela tembok lebih sering terdengar daripada tawa kami. Kadang-kadang hanya ada diam, dan di antara diam itulah kalimat-kalimat Bli Menot tiba, pendek tapi tajam, seperti anak panah yang dilepaskan tanpa banyak tenaga.

“Menulis itu bukan cuma soal cepat, tapi soal apa yang kita perjuangkan ketika orang lain sibuk berlari,” katanya suatu malam.

Ia tidak sedang berpetuah. Hanya melanjutkan obrolan yang sebelumnya mengalir tentang liputan hari itu, tentang berita yang batal tayang, tentang redaktur yang kelelahan, tentang kualitas berita yang buruk, walau telah lama menjadi wartawan.  Tapi dari cara ia menatap kopi dan menimbang kalimat, saya tahu ia tidak sedang bicara soal berita. Ia sedang bicara tentang hidup.

Bli Menot, I Nyoman Sukadana, bukan tipe atasan yang suka berteriak di ruang redaksi. Ia lebih sering duduk tenang di pojok, membaca pelan naskah yang baru masuk, menghapus satu dua kata, lalu menuliskan catatan kecil di tepi kertas “Tanya lagi narasumbernya.” atau “Jangan terburu memutuskan.” Kadang ia tak memberi catatan sama sekali, hanya menyerahkan naskah dengan tatapan yang membuat saya menimbang ulang isi kepala sendiri.

Saya mengenalnya pada 2015, ketika kembali ke dunia media setelah beberapa tahun menepi. Ia menjadi redaktur di harian Fajar Bali, dan saya wartawan yang baru belajar menata ritme setelah lama absen dari hiruk. Dalam kesibukan redaksi yang sempit dan gaduh, ia seperti ruang jeda, tenang tapi tegas, membiarkan kami belajar tanpa merasa diajari.

Dari ruang itu pula saya pertama kali mendengar istilah yang kemudian menjadi judul bukunya, JEDA. Sebuah kumpulan tulisan yang lahir dari sela-sela pekerjaan, dari keheningan yang dijaga di tengah gaduh media digital. Buku itu, katanya, bukan kumpulan opini, tapi “catatan kecil seseorang yang mencoba memahami dunia dan dirinya sendiri.”

Ruang redaksi PodiumNews.com

Bli Menot lahir pada 1977, tumbuh di keluarga sederhana di Denpasar. Ia menempuh pendidikan di Fakultas Hukum Universitas Udayana, aktif di gerakan mahasiswa ’98, pernah menjadi Ketua BPM FH Unud dan Wakil Presiden BEM Unud. “Saya belajar bersuara di masa itu,” tulisnya dalam salah satu esai di bukunya. “Bersama ribuan mahasiswa lain, bukan sebagai penonton sejarah, tapi bagian dari denyutnya.”

Dari kampus hukum, ia berbelok ke dunia yang lebih cair, jurnalisme. Ia memulai kariernya dari tabloid mingguan, lalu ke koran harian lokal. Selama dua dekade ia mengerjakan hampir semua posisi redaksi, reporter, redaktur politik, koordinator liputan, hingga redpel. Tapi barangkali, yang paling lama ia kerjakan adalah menimbang makna di antara kata-kata.

“Kadang saya merasa, dunia ini terlalu cepat untuk wartawan yang ingin mendengar,” tulisnya dalam Menulis di Tengah Klik (1). “Yang cepat jadi benar. Yang viral jadi patokan. Dalam laju yang gegas ini, saya rindu satu hal, waktu untuk menyimak.”

Kata “menyimak” tampaknya menjadi inti dari semua yang ia kerjakan. Ia percaya bahwa jurnalisme bukan sekadar menyampaikan informasi, melainkan mendengarkan kenyataan. Bahwa berita yang baik tidak lahir dari kecepatan, melainkan dari keberanian untuk melambat.

Di saat banyak media lokal berusaha menyesuaikan diri dengan ritme algoritma, Menot justru menepi. Ia mendirikan PodiumNews.com, sebuah media daring kecil yang tidak mengejar sensasi. Dari ruang 140 meter persegi di kawasan Dalung, Badung, ia dan beberapa kawan membangun apa yang ia sebut sebagai “ekosistem kecil yang manusiawi.” Dari sana lahirlah kanal gaya hidup UrbanBali, unit pelatihan Podium Kreatif, dan rencananya, sebuah kedai kopi di pinggir kota yang diberi nama Redaksi.

“Media ini lahir bukan karena visi besar yang ditulis di proposal bisnis,” tulisnya dalam esai Catatan Redaksi di Ujung Tahun Kedelapan. “Kami memulainya karena tak ada pilihan lain. Satu orang pensiun, dua kehilangan pekerjaan. Lalu kami duduk, menatap halaman kosong, dan berkata, mari kita menulis.”

Mungkin karena lahir dari keterbatasan itulah Podium tumbuh seperti tanaman liar di pinggir jalan, pelan tapi tahan lama. Ia tidak dibangun dengan dana besar, melainkan dengan keyakinan kecil yang dirawat setiap hari. Menot menyebutnya “keberanian untuk pelan.”

Saya masih ingat percakapan kami suatu sore di ruang redaksi yang pengap. Di luar, hujan turun, dan aroma kopi bercampur dengan bau tinta printer. Ia baru selesai menyunting berita tentang proyek pemerintah daerah yang tak selesai, lalu berkata lirih, “Media lokal kini terlalu sering tergoda oleh yang dekat.”

Saya menatapnya bingung. “Dekat dengan kekuasaan,” lanjutnya. “Padahal tugas kita bukan dekat, tapi jernih.” Kalimat itu kelak muncul kembali dalam esainya Cerita yang Tak Punya Sponsor. Di sana ia menulis,

“Lima tahun ke depan, media online lokal akan berdiri di persimpangan jalan. Di satu sisi jalan berdebu dengan rambu anggaran Pemda. Di sisi lain jalan baru yang masih gelap, tapi menjanjikan kemandirian dan marwah yang lebih luhur.”

Menulis yang jujur baginya adalah perlawanan. Ia menyebutnya “menulis yang memihak, menyeruput yang jujur.” Dalam esai dengan judul itu, ia menulis,

“Kopi tak pernah bicara soal netralitas. Ia selalu punya rasa, pahit, asam, kadang getir. Mungkin seperti itulah menulis dan menjadi jurnalis, bukan perkara netral, tapi keberanian memilih dan bertanggung jawab atas rasa.”

Barangkali itu sebabnya ia begitu mencintai kopi. Dalam hampir semua tulisannya, kopi hadir sebagai kiasan, kadang sebagai teman, kadang sebagai perantara. Dalam pengantar bukunya, ia menulis, “Saya percaya, seperti halnya kopi yang paling baik dinikmati ketika tidak tergesa, hidup pun sebaiknya diseruput perlahan.”

Bagi Menot, kopi bukan hanya minuman, melainkan cara berpikir. Ia menjadi metafora bagi jurnalisme yang perlahan, reflektif, dan jujur pada rasa.

Di usia empat puluh delapan, ketika banyak wartawan seangkatannya memilih pensiun atau berpindah profesi, Bli Menot justru membangun sesuatu yang baru. Ia menyebutnya Podium Ecosystem, bukan kerajaan media, tapi “rumah yang dibangun dari kata.” Di dalamnya ada situs berita, kanal gaya hidup, unit kreatif, dan kedai kopi. “Saya tidak sedang membangun menara,” tulisnya dalam esai Merancang Rumah dari Kata. “Saya sedang membuat tempat tinggal. Tempat orang bisa menulis, menyeruput kopi, berbagi cerita, atau sekadar duduk diam.”

Yang menarik, ia tidak menulis tentang keberhasilan, melainkan tentang kesabaran. Tentang proses kecil yang sering diabaikan oleh dunia digital yang terburu. “Saya tahu, saya sedang membangun akar,” katanya. “Akar yang kuat tak tumbuh dalam semalam.”

Kata-kata itu mengingatkan saya pada banyak malam di ruang redaksi, saat listrik mati dan kami tetap menulis dengan cahaya ponsel, atau ketika berita batal tayang karena tak ada iklan yang masuk. Tapi di tengah semua itu, ia tetap tenang. Ia mengajarkan kami bahwa jurnalisme bukan soal bertahan hidup, tapi soal tetap hidup dengan cara yang benar.

“Jangan takut pelan,” katanya suatu kali. “Yang penting, jangan berhenti mendengar.”

Buku JEDA menandai perjalanannya sebagai penulis dan jurnalis yang memilih berjalan di antara batas. Tidak terlalu cepat untuk disebut modern, tidak terlalu lambat untuk disebut usang. Ia menulis dari ruang yang tak banyak dibicarakan, ruang sunyi di antara tugas, ruang permenungan selepas subuh, atau obrolan yang menggantung di warung kopi kampung.

Membaca tulisannya seperti menatap permukaan air yang tenang. Tapi di bawah ketenangan itu, banyak arus mengalir, kegelisahan atas media yang kehilangan arah, kekecewaan pada politik yang berubah jadi panggung badut, juga rasa iba pada masyarakat yang kehilangan ruang dengar. Dalam esainya Saat Kata Tak Lagi Didengar, ia menulis,

“Kita hidup dalam banjir kata. Berita datang silih berganti. Tapi semakin banyak yang bicara, semakin sedikit yang mendengar. Dalam dunia yang dibanjiri suara, tulisan yang jujur adalah yang tetap bertahan.”

Ia tidak menulis untuk viral. Ia menulis agar kata-kata tetap punya tempat.

Beberapa bulan lalu, saya kembali bertemu dengannya di sebuah warung kopi di pinggir sawah, tempat yang kelak akan menjadi Kedai Kopi Redaksi. Kami duduk di bawah pohon mangga yang masih muda, membicarakan rencana memindahkan kantor ke tempat yang lebih sepi. Ia bercerita pelan tentang lahan enam belas are yang sedang ia tanami pohon, agar lima tahun lagi rimbun dan teduh.

“Media juga butuh tempat teduh,” katanya. “Biar orang bisa menulis tanpa tergesa.” Saya hanya mengangguk. Dalam kepala saya, kalimat itu terdengar seperti doa.

Kini, ketika saya membaca ulang naskah-naskah di JEDA, saya merasa seperti kembali ke malam-malam di teras belakang kantor, lampu 10 watt, aroma kopi, dan suara yang tidak pernah meninggi. Ia menulis tentang banyak hal; media, sosial, diri sendiri, tapi semua berangkat dari satu sumber yang sama, kesadaran untuk pelan.

Kantor PodiumNews.com

Dalam salah satu esainya yang paling pribadi, Selembar yang Tertunda, ia menulis tentang pertemuan kami, tentang dua nasi bungkus di pagi hari, tentang percakapan di warung kecil, tentang rencana menerbitkan buku yang sempat tertunda. “Kadang,” tulisnya, “menunda justru bentuk paling jujur dari kesadaran. Bahwa hidup punya musimnya sendiri. Seperti kopi yang baik, beberapa niat memang perlu dibiarkan mengendap.”

Membaca kalimat itu, saya teringat wajahnya pagi itu, tenang, sedikit lelah, tapi penuh cahaya. Mungkin memang begitu cara Bli Menot menjalani hidup; tidak tergesa, tidak mengejar, tapi tetap setia pada yang diyakini.

Di dunia media yang serba cepat, ia memilih menjadi jurnalis yang pelan. Tapi dari pelan itu ia justru menemukan kedalaman. Ia menulis bukan untuk menjadi yang pertama, melainkan agar kata-katanya bertahan paling lama.

Kini, setiap kali saya menulis berita atau esai, saya selalu teringat suaranya yang lembut tapi tegas,

“Menulis bukan soal dikenang. Tapi tentang meninggalkan sesuatu yang diam-diam bisa menyala di hati orang lain,” ujarnya. Barangkali di situlah letak makna jurnalisme pelan, bukan tentang siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling jujur dalam mendengarkan. Dan Bli Menot, dengan secangkir kopi dan jeda yang panjang, sudah lebih dulu memberi teladan itu. [T]

Denpasar, Akhir Oktober 2025

Penulis: Angga Wijaya
Editor: Adnyana Ole

Tags: jurnalisjurnalismemedia massamedia online
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Anggara Kasih Julungwangi | Cerpen Putri Santiadi

Next Post

Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran ‘Jele Melah Gumi Gelah’

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

by Dede Putra Wiguna
May 4, 2026
0
Bagus Dedy Permata Putra: Semangat Belajar dan Berkarya dari Tapel Ogoh-ogoh

DI antara deretan tapel ogoh-ogoh yang dipajang rapi di ruang lomba UPMI Bali, sosok Bagus Dedy Permata Putra (13) tampak...

Read moreDetails

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
0
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

Read moreDetails

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026
0
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

Read moreDetails

I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

by Made Susanta Dwitanaya
March 26, 2026
0
I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

NYALUK Sandi Kala (memasuki peralihan dari siang ke malam) di hari Pangrupukan di Desa  Tampaksiring, yang semakin tahun  semakin dikenal...

Read moreDetails

Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

by Dede Putra Wiguna
March 13, 2026
0
Tak Sekadar Bertanding, Gus Joni Rayakan Kreativitas di Kasanga Festival 2026

DI dalam stan pameran Kasanga Festival 2026 di Lapangan Puputan Badung, Denpasar, deretan ogoh-ogoh mini berdiri rapi menunggu penilaian. Suasana...

Read moreDetails

Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Penghargaan ‘Bali Kerti Bhuana Mahottama’ untuk I Wayan Turun yang Telah Menulis Lebih dari 100 Karya Sastra

RASA senang dan bangga tampak dalam wajahnya. Ketika namanya disebut untuk menerima penghargaan Bali Kerthi Nugraha Mahottama, kakinya melangkah dengan...

Read moreDetails

Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

by Made Adnyana Ole
February 28, 2026
0
Wahyu Ardi Putra dan Bulan Bahasa Bali: Dari Drama Bali Modern ke Cerpen Bali Modern

SUDAH sejak lama Wahyu Ardi dikenal sebagai sutradara dan penulis naskah drama modern, baik berbahasa Bali maupun bahasa Indonesia. Lalu,...

Read moreDetails

Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
Ni Komang Pradnyawati, Lewat Konten Media Sosial “Elek” Raih Juara 1 di Bulan Bahasa Bali 2026

ANA seorang siswi yang tidak disebutkan secara jelas sekolahanya tidak menyukai bahasa Bali, bahkan tidak pernah memakai Bahasa itu dalam...

Read moreDetails

I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

by Nyoman Budarsana
February 28, 2026
0
I Made Sunaryana Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali di Bulan Bahasa Bali 2026: Kesantunan Berbahasa Adalah Jalan Sunyi Menuju Penyempurnaan Jiwa

I Made Sunaryana terpilih sebagai Juara 1 Lomba Opini Berbahasa Bali dalam ajang Bulan Bahasa Bali VIII. Itu artinya, karya...

Read moreDetails

Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

by Made Adnyana Ole
February 27, 2026
0
Cerpen ‘Mangmung Langit Bukarés’ Karya Aries Pidrawan Lahir dari Riset Sejarah —-Juara Satu Lomba Cerpen Bulan Bahasa Bali 2026

Sakewala, ada ané makleteg di tangkahné. “Bagus Sutedja sané nuwé panjak akéh, tur sugih, prasida  kamatiang, apa buin kulawargan tiangé, rumasuk Ngurah, pasti sing...

Read moreDetails
Next Post
Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran ‘Jele Melah Gumi Gelah’

Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran 'Jele Melah Gumi Gelah'

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co