25 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran ‘Jele Melah Gumi Gelah’

I Komang Sucita by I Komang Sucita
November 2, 2025
in Ulas Rupa
Ekspresi Lokal dalam Komik Beluluk: Menilik Pameran ‘Jele Melah Gumi Gelah’

Bagian panel visual komik “Beluluk” | Dok.Penulis, TAT artspace 2025

KETIKA membayangkan karya visual komik yang identik dengan Bali, nama “Beluluk” selalu terlintas dalam pikiran saya.  “Beluluk” bukan sekadar sebuah karakter komik biasa; ia adalah refleksi dari dinamika sosial dan budaya Bali yang dikemas dalam bentuk yang menghibur sekaligus sarat makna. Karya ini lahir dari tangan kreatif Putu Dian Ujiana, seorang komikus asal Buleleng yang berhasil mengangkat komik lokal menjadi medium kritik sosial yang mudah diterima oleh berbagai kalangan.

Awal mula nama Beluluk sendiri adalah plesetan dari Celuluk, sosok mitologi Bali yang memiliki citra menakutkan. Namun, Putu Dian mengubahnya menjadi tokoh yang lucu dan menggemaskan, yang mampu menyuarakan keresahan masyarakat tanpa harus menimbulkan ketegangan. Melalui gambar dan narasi yang ringan, Beluluk menyampaikan pesan-pesan sosial yang penting dengan cara yang cermat dan mengena. Komik ini menggunakan bahasa lokal Bali yang kuat, sehingga terasa dekat dan otentik.

Beluluk; “Jele Melah Gumi Gelah” | Foto: Dok.Penulis,2025

Ketika saya berkesempatan hadir dalam riuh acara pameran “Beluluk” pada Sabtu, 01 November 2025, yang bertempat di TAT artspace Denpasar, saya langsung merasakan sebuah pengalaman unik dalam menikmati karya seni komik. Pameran ini menyuguhkan visual komik dalam bentuk panel cetak grafis berukuran persegi panjang yang terpampang rapi di dinding galeri, setiap karya menyajikan narasi reflektif yang mencerminkan dinamika sosial yang tengah melanda Bali saat kini.

Riuh suasana pameran “Beluluk” | Foto: Dok.Penulis, TAT artspace 2025

Tema pameran yang diusung, “jele melah gumi gelah,” secara harfiah bermakna “jelek bagusnya bumi, masih milik kita.” Menurut penuturan Putu Dian, sang komikus, gagasan tema ini muncul ketika ia melihat sebuah gapura di desanya, Desa Banyuning, Buleleng, yang memuat kalimat serupa. Rasa ingin tahunya mendorongnya menanyakan makna kalimat itu kepada ayahnya, namun sayangnya ia tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ketidakjelasan makna tersebut justru menjadi ruang terbuka untuk interpretasi dan refleksi yang dituangkan dalam karya-karyanya.

Karya visual komik “Beluluk” | Foto: Dok.Penulis, TAT artspace 2025

Sebagai pengunjung, saya merasakan bagaimana karya-karya ini mengajak untuk merenungi keadaan sosial dan budaya Bali dengan cara yang lugas namun penuh kekuatan visual dan narasi. Setiap panel dalam gambar pameran ini mengisahkan cerita yang relatable, mengundang saya untuk berpikir tentang keadaan manusia dan bumi khusunya Bali yang kita tinggali penuh keindahan namun juga penuh tantangan dan ketidaksempurnaan.

Karya Komik Beluluk dengan bentuk Cetak Grafis | Foto: Dok.Penulis,TAT artspace 2025

Menariknya, tidak hanya visual karya yang menyita perhatian saya dalam pameran “Beluluk”. Acara ini menghadirkan sesuatu yang berbeda dengan menggandeng komika lokal, Satria Wibawa, untuk mengisi opening act melalui sesi stand up comedy. Bagi saya, sesi ini menjadi momen paling menarik dan menghidupkan suasana pameran.

Satria Wibawa selaku komedian dengan piawai merespon setiap panel visual yang terpajang dalam karya komik Beluluk. Pada sesi ini juga menjadi komunikasi interaktif yang penuh canda tawa antara komedian Satria Wibawa dengan Komikus Beluluk Putu Dian. Komedinya yang mengundang tawa tidak hanya rileks dan menghibur, tetapi sarat dengan satire yang mengajak para pengunjung untuk menelaah isu-isu sosial secara jenaka namun ringan untuk dipahami.

Sesi Stand Up Comedy oleh Satria Wibawa | Foto: Dok.Penulis, TAT Artspace 2025

Sebagai salah satu penikmat dari rangkaian acara pameran karya visual komik “Beluluk” ini banyak hal yang bisa saya kantongi ketika akan bergegas pulang. Rasa terkesan dengan cara karya visual disajikan secara kompleks, namun tetap dibalut dengan narasi yang jenaka. Selain itu, ruang galeri yang saya singgahi itu manawarkan interaksi hangat antara visual karya dan pengunjung yang hadir di ruang pameran.

Namun, di balik kehangatan itu, sebagai generasi muda yang resah saya tak bisa menutup mata terhadap pertanyaan mendasar yang menyangkut di bagian otak kiri saya tentang: bagaimana nasib lingkungan dan kondisi sosial Bali ke depan? Apakah karya seni seperti ini cukup untuk membuka mata orang orang yang kepalanya batu itu? Ataukah dunia akan terus berjalan seperti biasa, sementara kritik dan pesan dalam komik hanya menjadi hiasan yang nikmat disimak tapi jarang diresapi hingga menjadi tindakan?

Di sebelah ranjang tidur, beranjak menutup tulisan ini. Saya berharap komik-komik seperti “Beluluk” mampu menjadi pemantik kesadaran yang lebih luas, bukan sekadar hiburan semata, agar kita semua punya keberanian untuk menjaga dan memperbaiki lingkungan ruang kita hidup sebelum semuanya terlambat. Memulai resolusi dari diri sendiri, tidak perlu tergesa, perlahan namun pasti, agar tidak hanya menjadi basa basi. [T]

Penulis: I Komang Sucita
Editor: Adnyana Ole

Tags: komikKomik BelulukSeni Rupaseni rupa BaliTAT Art Space
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Jurnalisme Pelan ala Menot Sukadana

Next Post

B-PART 2025: Merayakan Bali Sebagai Ruang Pertemuan Seni Pertunjukan Kontemporer

I Komang Sucita

I Komang Sucita

Akrab disapa rompis, kaula muda kelahiran 12 February 2002, Sibetan, Karangasem, Bali. Seseorang yang menuangkan kemanusiawiannya dengan melukis, serta menggugat dengan menulis dan menganyam puisi.

Related Posts

Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

by I Gede Made Surya Darma
May 7, 2026
0
Pameran ‘Roots & Routes’: Refleksi Tentang Identitas, Ingatan dan Perjalanan Hidup

DI tengah geliat seni rupa kontemporer yang semakin cair dan lintas disiplin, pameran “Roots & Routes” yang berlangsung di Biji...

Read moreDetails

Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

by Made Chandra
May 4, 2026
0
Refracted — Perspektif yang Menolak Keutuhan

Artikel ini adalah catatan kuratorial pameran seni rupa “Refracted” pada 2 Mei 2026 di Ruang Arta Derau, Tegallalang. Tak pernah...

Read moreDetails

Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

by Made Chandra
April 14, 2026
0
Kenapa sih Harus Solo Exhibition?

HARI itu rasanya begitu spesial, hari dimana buku-buku tersusun bertumpuk untuk dirayakan kehadirannya. Semerebak wangi dupa menyeruak sampai menyentil dalam-dalam...

Read moreDetails

Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan? —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

by I Wayan Sujana Suklu
March 27, 2026
0
Apa yang ‘Ada’ dalam Sebuah Lukisan?  —Membaca ‘Aurora Blue’ dan ‘Red Blossom’ Karya Wayan Kun Adnyana

Membaca Aurora Blue dan Red Blossom karya Wayan Kun Adnyana, pameran Parama Paraga Retrospective of Biographical Metaphoric Figure to New...

Read moreDetails

SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

by I Wayan Sujana Suklu
March 24, 2026
0
SAPA WARANG: Tubuh yang Terbakar di Batas Liminal

Liminalitas sebagai Ambang Kosmologis LIMINALITAS, dalam pengertian paling mendasar, bukan sekadar fase peralihan, melainkan kondisi ontologis di mana batas-batas eksistensi...

Read moreDetails

Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

by Agung Bawantara
March 23, 2026
0
Retakan, Api, dan Cara Melihat Diri Sendiri — Membaca Ogoh-ogoh ‘Sapa Warang’ Karya Marmar Herayukti

Di tengah hiruk-pikuk malam pengerupukan, sehari menjelang Hari Raya Nyepi Tahun Baru Çaka 1948, ketika ogoh-ogoh diarak dalam gegap gempita, sosok...

Read moreDetails

Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

by Agung Bawantara
March 17, 2026
0
Maestro Tjokot, Gus Tilem, dan Gus Nyana Pulang ke Tugu Mayang Ubud

Karya ogoh-ogoh berjudul “Tugu Mayang” dari ST. Pandawa Banjar Tarukan, Desa Adat Mas, Ubud, Gianyar, menguatkan sebuah kecenderungan estetika yang...

Read moreDetails

Gerabah dan Manusia yang Berubah

by Mas Ruscitadewi
March 7, 2026
0
Gerabah dan Manusia yang Berubah

Dalam pameran Bali Bhuwana Rupa oleh ISI Denpasar di ARMA Museum Ubud, yang bertajuk ' Adhi Jnana Astam (Mastery-Mind-Marvel), banyak...

Read moreDetails

SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

by Hartanto
February 24, 2026
0
SENI EKOLOGIS —Dari Orasi Ilmiah I Wayan Setem

BENCANA banjir bandang di Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan beberapa daerah di Indonesia – menurut saya, bukanlah sekedar bencana...

Read moreDetails

Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

by Agung Bawantara
February 22, 2026
0
Kendali, Kekerasan, dan Siklus Waktu —Ulasan Ogoh-ogoh Kalabendu Karya ST Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu

OGOH-OGOH Kalabendu karya Sekaa Teruna (ST) Bakti Dharma, Banjar Adat Kangin Pecatu, Kuta Selatan, menempatkan figur bhutakala bertangan enam sebagai pusat komposisi....

Read moreDetails
Next Post
B-PART 2025: Merayakan Bali Sebagai Ruang Pertemuan Seni Pertunjukan Kontemporer

B-PART 2025: Merayakan Bali Sebagai Ruang Pertemuan Seni Pertunjukan Kontemporer

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pandemi, Hukum Rta, dan Keimanan Saya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kota Tua Tak Pernah Mati
Tualang

Kota Tua Tak Pernah Mati

PROGRAM Study Tiru selama tiga hari bersama Panglingsir/Bandesa Adat se- Badung dengan tujuan utama ke Baduy Luar pada Jumat Paing...

by I Nyoman Tingkat
May 24, 2026
Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat
Puisi

Puisi-puisi Salman Alade | Menggambar dengan Kalimat

Menggambar dengan Kalimat aku menulis satu garisia menyebut dirinya alisaku tambah satu kataia mengaku sebagai mata pelan-pelanhalaman itu mulai merasa...

by Salman Alade
May 24, 2026
Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito
Cerpen

Mengikat Tali Sepatu | Cerpen Pitrus Puspito

Alfie percaya bahwa dunia dapat diringkas menjadi kolom-kolom rapi: pemasukan, pengeluaran, untung, rugi. Di layar ponselnya, angka-angka berpendar seperti doa...

by Pitrus Puspito
May 24, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Koperasi Merah Putih: Mengulang Jejak KUD, Menabrak BUMDes, atau Membangun Jalan Baru?

Di tengah semangat membangun kemandirian ekonomi nasional, gagasan Koperasi Merah Putih kembali diangkat sebagai simbol kebangkitan ekonomi rakyat. Ia bukan...

by I Made Pria Dharsana
May 24, 2026
Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya
Khas

Cekrek Sunyi Mata Kamera Widnyana Sudibya

SEJAK tahun 2018, saya tidak pernah lagi bertemu dan mengobrol lama sambil menikmati kopi dan kacang dalam satu lingkup kerja...

by Kardanis Mudawi Jaya
May 24, 2026
Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba
Cerpen

Kidung yang Tenggelam | Cerpen Luh Aninditha Wiralaba

PAGI di desa Bugbeg selalu dimulai dengan cara yang sama. Bau dupa yang menyeruak, ayam-ayam berkokok ria, dan dentingan gamelan...

by Luh Aninditha Wiralaba
May 23, 2026
Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa
Puisi

Puisi-puisi Vito Prasetyo | Di Kampung Rawa

Di Kampung Rawa di pagi yang memagut embun selatanjejak-jejak kaki tua terbenam pelanantara pasir lembut dan bisikan anginkutemukan nyanyian yang...

by Vito Prasetyo
May 23, 2026
Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta
Pariwisata

Tradisi Mebat dalam Nuansa Modern yang Hidup di Four Points by Sheraton Bali, Kuta

Sore itu, suasana di Four Points by Sheraton Bali tak seperti biasanya. Ketika para pekerja melakoni kegiatan budaya, yakni “ngebat”,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh
Pariwisata

The Sanur Lepas Tukik dengan Prosesi Budaya, Memperingati World Turtle Day Bali di Hari Tumpek Bubuh

Ini bukan upacara melukat atau kegiatan membersihkan diri dan alam semesta, tetapi acara melepas tukik. Pagi, Sabtu 23 Mei 2026,...

by Nyoman Budarsana
May 23, 2026
Pulau Serangan dalam Serangan Zaman
Esai

Pulau Serangan dalam Serangan Zaman

Pulau Kecil yang Pernah Sunyi DAHULU, Pulau Serangan adalah pulau kecil yang sunyi di selatan Bali. Laut mengelilinginya dengan tenang,...

by Agung Sudarsa
May 23, 2026
Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0
Esai

Sastra Digital dan Masa Depan Pembelajaran Sastra di Era Society 5.0

DI tengah derasnya perkembangan teknologi, kehidupan manusia berubah dengan sangat cepat. Hampir seluruh aktivitas kini bersentuhan dengan dunia digital, mulai...

by Dede Putra Wiguna
May 23, 2026
Catatan Perjalanan Janger Beringkit
Panggung

Catatan Perjalanan Janger Beringkit

JIKA menuju Tabanan dari arah Denpasar tentu akan melewati Desa Adat Beringkit di Kawasan Kecamatan Mengwi, Badung. Ketika mendengar Beringkit,...

by IGP Weda Adi Wangsa
May 23, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co