MENDENGAR nama Kota Solo atau Surakarta, Jawa Tengah, orang pasti mengaitkan dengan sosok Joko Widodo atau Jokowi, Mantan Presiden Republik Indonesia, dan Gibran Rakabuming Raka, Wakil Presiden saat ini. Mereka berdua berasal dari Kota Solo dan sama-sama pernah menjabat Walikota Solo. Penyanyi dan pencipta lagu campursari Didi Kempot pun berasal dari Kota Solo.
Kota yang berhawa panas ini memiliki dua perguruan tinggi besar yang banyak diminati mahasiswa. Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo termasuk salah satu perguruang tinggi pelat merah yang ada di Jawa Tengah. Sedangkan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merupakan perguruan tinggi swasta yang ramai diburu mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia.
Suhu di Kota Solo berkisar antara 30 derajat hingga 32 derajat Celcius setiap harinya. Kota ini menjadi salah satu kota yang berhawa panas di Indonesia. Meski demikian, banyak wisatawan yang datang ke Solo untuk berlibur. Motivasi wisatawan berkunjung untuk menyaksikan warisan sejarah dan budaya serta kuliner khas Solo.

Surakarta atau Solo juga dikenal sebagai kota yang menjunjung tinggi toleransi dan akulturasi budaya. Salah satu hasil akulturasi budaya yang hingga kini masih bertahan adalah Grebeg Sudiro. Tradisi ini digelar untuk menyambut Tahun Baru Imlek. Disebut Grebeg Sudiro, karena tradisi ini dilaksanakan di wilayah Kelurahan Sudiroprajan, Solo.
Nuansa akulturasi tampak pada rangkaian acara Grebeg Sudiro yang selalu menyedot animo masyarakat dan wisatawan. Acara diwarnai dengan kirab budaya dan gunungan. Kirab budaya menampilkan karnaval dengan berbagai kesenian, seperti barongsai dan kesenian tradisional Jawa. Gunungan berisi hasil bumi, kue keranjang, dan makanan lainnya yang dibawa dalam kirab, kemudian diperebutkan warga.
Pemasangan ribuan lampion menghiasi jalan-jalan di sekitar lokasi acara, terutama di Jalan Jenderal Sudirman, Solo. Pesta kembang api biasanya menjadi penutup rangkaian acara. Grebeg Sudiro merupakan wujud harmonisasi keberagaman, toleransi, dan kebanggaan terhadap kearifan lokal di Kota Solo. Tradisi ini juga menjadi wujud nyata toleransi dan harmoni antara etnis Tionghoa dan Jawa yang hidup berdampingan di Sudiroprajan.
Pasar Gede
Tak lengkap bila ke Solo tidak mengunjungi Pasar Gede Hardjonagoro. Pasar ini merupakan yang terbesar di Kota Surakarta. Pasar Gede pertama berdiri pada tahun 1930 masa kolonial Belanda. Dirancang oleh arsitek Belanda Thomas Karsten, pasar ini memiliki atap yang besar, sehingga diberi nama Pasar Gede atau Pasar Besar.

Saya bersama keluarga mengunjungi Pasar Gede di tengah teriknya matahari Kota Solo. Tujuan utamanya tentu berburu kuliner dan oleh-oleh khas Solo. Deretan kios menjual aneka makanan dan minuman, oleh-oleh camilan, dan batik Solo. Pengunjung tampak memadati pasar legendaris ini.
Menikmati semangkok es dawet telasih pastinya pilihan tepat di saat suhu udara Kota Solo begitu panas menyengat. Berbeda dengan es dawet daerah lain, es dawet telasih terdiri dari ketan hitam, jenang sumsum, tape ketan, biji telasih, gula cair, santan, dan es batu. Rasanya manis menyegarkan. Harganya relatif murah, 10.000 rupiah per mangkok.
“Saya sudah lebih dari 30 tahun jualan es dawet telasih. Setiap hari selalu banyak pembeli. Apalagi Sabtu dan Minggu,” kata Bu Wiji, penjual es dawet telasih di Pasar Gede Solo.
Bagi yang menyukai jajanan tradisional Solo, terdapat kios yang menawarkan lenjongan. Jajanan tradisional khas Solo ini terdiri dari berbagai macam kue-kue pasar seperti tiwul, cenil, getuk, klepon, ketan hitam, ketan putih, dan lainnya, yang kemudian disajikan dengan taburan kelapa parut dan siraman gula merah cair. Rasanya tentu campur-campur, antara manis, asin, dan gurih.
Setelah puas menikmati berbagai kuliner di Pasar Gede, pengunjung dapat berburu aneka macam oleh-oleh khas Solo. Abon Solo termasuk salah satu makanan yang kerap dijadikan buah tangan wisatawan. Ada banyak pilihan variasi abon, seperti abon daging sapi maupun daging ayam.
Untuk minuman penghangat tubuh, tersedia oleh-oleh racikan minuman rempah. Kemasannya dalam bungkusan kertas atau plastik. Racikan yang siap seduh itu antara lain wedang uwuh, wedang jahe, wedang kelor, wedang rosella, dan racikan jahe jeruk.

Banyak pula camilan berupa keripik maupun kerupuk. Keripik ceker ayam dan keripik belut banyak digemari wisatawan. Rasanya asin dan gurih. Kemasan tidak terlalu besar dan ringan, sehingga mudah untuk dibawa dalam perjalanan. Harganya pun murah, berkisar antara 25 hingga 30 ribu rupiah.
Oleh-oleh lain yang sangat khas Solo adalah intip goreng. Makanan ringan tradisional khas Solo ini terbuat dari kerak nasi yang telah dikeringkan lalu digoreng hingga renyah. Makanan ini memiliki cita rasa gurih, manis, dan asin dan sering dinikmati dengan teh atau kopi sebagai camilan di waktu santai. Intip goreng kerap dijadikan buah tangan wisatawan yang berkunjung ke Solo.
Kota Murah
Kota Solo bukan hanya dikenal dengan keberadaan Keraton Mangkunegaran dan kulinernya saja. Solo juga dikenal sebagai kota dengan biaya hidup yang murah, sehingga Solo sering dijuluki Kota Murah. Tidak seperti Jakarta, biaya hidup di Solo tergolong murah. Harga kebutuhan pokok, baik sayuran maupun makanan sangat murah dibandingkan kota besar lain di Indonesia.
Mencari menu untuk sarapan, makan siang, maupun makan malam dengan harga yang murah namun tak mengurangi kelezatan sangat mudah ditemui di Kota Solo. Pagi hari banyak ditemui pedagang nasi untuk sarapan dengan harga murah, mulai dari nasi bakar , nasi liwet, maupun susu sapi segar murni yang berjualan di pinggir jalan.
“Saya mulai buka jualan nasi liwet pukul 05.30 pagi,” tutur bu Fatimah, penjual nasi liwet di depan kampus UMS Solo.

Menu siang hari banyak pilihan kuliner. Salah satu yang sering dicari wisatawan adalah selat Solo, makanan khas Solo yang merupakan perpaduan antara masakan Eropa dan Jawa. Hidangan ini mirip dengan salad yang terdiri dari bistik daging sapi yang disajikan dengan kuah manis encer, aneka sayuran, kentang goreng, telur rebus, dan keripik kentang. Memiliki cita rasa manis, asam, dan gurih dengan aroma rempah yang khas.
Bertualang malam hari di Kota Solo tak perlu khawatir untuk menggoyang lidah dan mengisi perut. Banyak kuliner khas yang buka di malam hari. Makanan legenderis Kota Solo di malam hari adalah nasi liwet Bu Wongso Lemu. Satu porsi nasi liwet Solo disajikan bersama sayur labu siam, ayam suwir, telur pindang, dan dituangkan areh ke atas nasi. Keunikan makan nasi liwet adalah wadah yang terbuat dari daun pisang, menambah aroma sedap dan nikmat.
Menyebut Kota Solo memang bukan hanya tentang Jokowi dan Gibran. Banyak sisi menarik yang melekat dengan Solo. Akulturasi budayanya, biaya hidup yang murah, dan kuliner yang nikmat. Seolah wisatawan ingin datang dan kembali datang ke Solo hanya untuk mengobati rindu lidah mereka akan berbagai olahan makanan dan minuman yang nikmat dan lezat. [T]
Penulis: Chusmeru
Editor: Adnyana Ole



























