2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Refleksi Kultural dan Spiritualitas dalam Obrolan Ringan Petani Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

I Ketut Suar Adnyana by I Ketut Suar Adnyana
October 27, 2025
in Khas
Refleksi Kultural dan Spiritualitas dalam Obrolan Ringan Petani Kopi di Desa Pucaksari, Busungbiu, Buleleng

Penulis dan petani kopi di Pucaksari

KEHIDUPAN masyarakat perdesaan di Bali tidak hanya ditentukan oleh aktivitas ekonomi, tetapi juga oleh pola komunikasi dan interaksi sosial yang mengikat individu dalam sistem budaya bersama. Dalam konteks masyarakat agraris seperti di Desa Pucaksari, Kecamatan Busungbiu, Buleleng, obrolan ringan antarpetani menjadi fenomena menarik untuk dicermati karena mengandung dimensi sosial dan kultural yang kuat. Komunikasi yang terjalin di antara mereka tidak semata berfungsi sebagai sarana pertukaran informasi praktis, tetapi juga sebagai media internalisasi nilai-nilai seperti gotong royong, keterbukaan  dan saling menghargai.

Desa Pucaksari, yang terletak di wilayah dataran tinggi dengan hamparan kebun kopi, dikenal sebagai salah satu sentra penghasil kopi robusta di Bali bagian Utara. Kondisi geografis yang sejuk, curah hujan yang stabil, serta tanah  yang subur menjadikan desa ini memiliki potensi tinggi dalam produksi kopi berkualitas. Aktivitas bertani di desa ini tidak sekadar pekerjaan, tetapi juga representasi identitas dan kebanggaan kolektif masyarakatnya.

Di sela-sela pekerjaan di kebun, petani sering berkumpul di pondok untuk berbincang santai sambil menikmati kopi hasil panen mereka sendiri. Obrolan ini, meskipun tampak ringan, memiliki makna mendalam dalam membangun solidaritas sosial dan mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal. Topik pembicaraan biasanya berpusat pada pengalaman sehari-hari di kebun, kondisi iklim, hama tanaman, teknik pemangkasan, maupun harga kopi di pasaran. Melalui percakapan ini, pengetahuan tradisional tentang cara menanam, memanen, dan mengolah kopi diwariskan secara alami dari generasi ke generasi.

Obrolan Ringan sebagai Ruang Belajar Kolektif

Dalam konteks masyarakat agraris seperti di Desa Pucaksari, obrolan ringan tidak sekadar percakapan santai yang mengisi waktu istirahat di kebun, melainkan berfungsi sebagai ruang belajar kolektif yang mempertemukan pengetahuan tradisional dan pengetahuan modern. Di sinilah proses knowledge sharing terjadi secara alami tanpa struktur formal.

Percakapan yang terjadi sering kali dimulai dari hal-hal sederhana misalnya membahas cuaca, kondisi tanah, atau kualitas buah kopi namun perlahan berkembang menjadi diskusi yang sarat refleksi praktis dan sosial. Dalam obrolan tersebut, petani saling bertukar pengalaman mengenai pola tumpangsari, pemupukan organik, pengendalian hama alami, serta perawatan pascapanen yang menjaga kualitas biji kopi.

Fenomena ini menunjukkan bahwa pengetahuan lokal (local knowledge) tidak bersifat statis, tetapi terus bertransformasi melalui interaksi sosial. Petani tidak menolak teknologi modern, namun mengadaptasinya sesuai konteks ekologis dan budaya setempat. Dengan demikian, obrolan ringan menjadi jembatan epistemologis antara kearifan tradisional yang diwariskan turun-temurun dengan inovasi modern yang diperoleh dari pengalaman lapangan atau informasi digital.

Selain fungsi kognitif, obrolan ringan juga memiliki dimensi sosial yang penting. Melalui komunikasi informal, petani memperkuat rasa kebersamaan (menyama braya) dan kepercayaan sosial. Dalam kerangka ini, pengetahuan tidak dimiliki secara individual, melainkan dibangun dan dipelihara secara kolektif. Ruang-ruang percakapan seperti di pondok menjadi arena reproduksi nilai-nilai gotong royong dan etos kerja bersama, yang menjadi fondasi keberlanjutan pertanian di Desa Pucaksari.

Penerapan Sistem Tumpangsari dengan Tanaman Pelindung

Salah satu praktik penting yang dilakukan oleh petani kopi di Desa Pucaksari adalah penerapan sistem tumpangsari dengan menanam tanaman seperti pisang,  lamtoro, alpukat, durian, dan manggis di antara barisan pohon kopi. Sistem ini tidak hanya berfungsi untuk meningkatkan produktivitas lahan, tetapi juga memiliki nilai ekologis yang tinggi dalam menjaga keseimbangan lingkungan.

Secara ekologis, tanaman pelindung berperan menjaga kelembaban tanah dan menurunkan tingkat penguapan air pada musim kemarau. Tajuk pohon pisang dan lamtoro menciptakan naungan alami yang melindungi kopi dari paparan sinar matahari langsung, sehingga suhu mikro di sekitar tanaman menjadi lebih stabil. Kondisi ini sangat penting bagi tanaman kopi. Selain itu, guguran daun dari tanaman pelindung berfungsi sebagai bahan organik alami yang memperkaya kandungan hara tanah dan memperbaiki struktur tanah di lahan-lahan miring.

Dari sisi sosial, penerapan sistem tumpangsari juga mencerminkan strategi adaptif petani terhadap perubahan iklim dan fluktuasi ekonomi. Tanaman pisang yang ditanam bersama kopi dapat dipanen lebih cepat, sehingga memberikan tambahan pendapatan saat menunggu kopi berbuah. Sementara itu, tanaman lamtoro tidak hanya berfungsi sebagai pelindung, tetapi juga sebagai sumber nitrogen alami melalui proses fiksasi biologis yang mendukung pertumbuhan kopi tanpa ketergantungan pada pupuk kimia. Praktik ini menjadi bentuk konkret dari kemandirian ekologis dan ekonomi petani dalam mengelola sumber daya lokal secara berkelanjutan.

Pemanfaatan Pupuk Organik  untuk Menurunkan Biaya Produksi

Dalam praktik pertanian kopi di Desa Pucaksari, pemanfaatan pupuk organik hasil fermentasi telah menjadi bagian penting dari upaya petani dalam mewujudkan pertanian berkelanjutan. Kebiasaan ini muncul dari kesadaran kolektif bahwa ketergantungan pada pupuk kimia tidak hanya menimbulkan biaya tinggi, tetapi juga dapat merusak kesuburan tanah dalam jangka panjang. Melalui pengalaman empiris dan proses komunikasi sosial antar petani mulai beralih menggunakan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar untuk meningkatkan kualitas lahan tanpa mengorbankan ekosistem.Dari sudut pandang ekonomi, penggunaan pupuk organik merupakan strategi efisien yang mengurangi ketergantungan petani terhadap produk industri kimia.

Secara sosial dan kultural, penerapan pupuk organik di Desa Pucaksari juga merefleksikan keterikatan masyarakat terhadap prinsip keseimbangan alam yang diajarkan dalam filosofi Tri Hita Karana. Dalam pandangan petani, tanah (pertiwi) dianggap sebagai unsur hidup yang harus dijaga dan disucikan, bukan sekadar media produksi. Oleh karena itu, memberi “makan” tanah dengan bahan organik dipahami sebagai bentuk penghormatan terhadap bumi dan manifestasi rasa syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa. Kesadaran spiritual ini menempatkan praktik pertanian bukan hanya sebagai aktivitas ekonomi, melainkan juga sebagai tindakan etis yang menegaskan hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Pemeliharaan Kopi Berbasis Gotong Royong,

Pemeliharaan kopi berbasis gotong royong, yang dalam istilah lokal dikenal sebagai selisihan, merupakan bentuk solidaritas sosial yang masih kuat dipertahankan oleh masyarakat Desa Pucaksari. Sistem ini bukan sekadar bentuk kerja bersama, tetapi juga cerminan nilai kebersamaan dan tanggung jawab kolektif terhadap keberlangsungan pertanian kopi. Dalam praktiknya, para petani saling membantu dalam berbagai tahap pemeliharaan  mulai dari penyiangan gulma, pemangkasan cabang, pemupukan, hingga panen  tanpa mengharapkan imbalan finansial secara langsung.

Petani kopi Pucaksari

Setiap anggota kelompok memiliki jadwal bergilir untuk membantu di kebun milik anggota lain. Pola kerja ini menumbuhkan rasa saling percaya dan memperkuat hubungan sosial antarwarga. Selisihan juga menjadi wadah bagi petani untuk saling bertukar pengetahuan tentang teknik budidaya, berbagi pengalaman menghadapi hama, hingga berdiskusi tentang cara menjaga kualitas kopi. Dengan demikian, gotong royong bukan hanya efisien secara tenaga, tetapi juga menjadi sarana belajar kolektif yang memperkaya pengetahuan lokal.

Lebih jauh lagi, sistem selisihan mencerminkan penerapan prinsip Tri Hita Karana, terutama dalam aspek pawongan (hubungan harmonis antar manusia). Melalui semangat kebersamaan ini, para petani tidak hanya menumbuhkan produktivitas ekonomi, tetapi juga memperkuat ikatan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan yang menjadi fondasi kehidupan pedesaan Bali.

Pemerintah Sama Sekali Tidak Berperan

Menariknya, berbagai upaya peningkatan produksi dan inovasi pertanian di Desa Pucaksari tidak lahir dari instruksi formal pemerintah atau lembaga penyuluh, melainkan tumbuh secara organik dari hasil musyawarah dan interaksi sehari-hari dalam ruang-ruang informal. Proses komunikasi sosial yang berlangsung di bale bengong, pondok, atau warung kopi menjadi medium penting dalam membangun kesadaran kolektif petani terhadap pentingnya inovasi pertanian yang berkelanjutan.

Di ruang-ruang informal itulah petani berdialog tentang perubahan iklim, peningkatan hasil panen, strategi menjaga kelembapan tanah, atau eksperimen dengan pupuk organik. Topik-topik tersebut tidak diatur dalam forum resmi, melainkan mengalir secara alami dari pengalaman empiris di ladang. Melalui percakapan rutin, ide-ide baru diuji, diperdebatkan, dan akhirnya diterima secara bersama sebagai bentuk pengetahuan bersama (shared knowledge). Dalam konteks ini, komunikasi sosial berfungsi sebagai mekanisme transmisi pengetahuan agraris yang bersifat partisipatif dan kontekstual, berbeda dari pendekatan top-down yang sering gagal menjangkau realitas petani di lapangan.

Kesadaran kolektif yang tumbuh dari komunikasi sosial tersebut memperlihatkan adanya mekanisme sosial yang otonom di tingkat lokal. Petani menyadari bahwa inovasi bukan hanya soal teknik, tetapi juga cara berpikir dan bertindak bersama untuk menghadapi tantangan agraria. Misalnya, keputusan untuk menerapkan sistem tumpangsari atau beralih ke pupuk organik tidak diambil karena adanya regulasi formal, melainkan karena hasil dialog yang mempertimbangkan keseimbangan ekologis, efisiensi tenaga kerja, dan keberlanjutan lahan. Dengan demikian, komunikasi sosial di Desa Pucaksari menjadi wadah pengambilan keputusan kolektif berbasis nilai lokal dan pengalaman nyata.

Lebih jauh, proses ini mencerminkan prinsip kemandirian komunitas (community self-reliance) yang berakar kuat dalam budaya Bali, khususnya dalam nilai menyama braya konsep kebersamaan dan persaudaraan yang menekankan solidaritas antarwarga. Melalui interaksi sosial yang hangat dan egaliter, petani membangun kepercayaan timbal balik (reciprocal trust) yang memperkuat modal sosial (social capital) desa. Di sinilah terlihat bahwa inovasi pertanian di Desa Pucaksari bukan sekadar transformasi teknologis, tetapi juga transformasi kultural, yang nilai-nilai tradisional menjadi dasar moral bagi adaptasi terhadap tantangan modern.

Refleksi Kultural dan Spiritualitas dalam Obrolan Petani Kopi

Selain membahas persoalan teknis pertanian, obrolan ringan para petani di Desa Pucaksari juga menjadi wadah refleksi kultural dan spiritual. Dalam percakapan sehari-hari, topik mengenai cuaca, hasil panen, atau kondisi tanah sering kali dihubungkan dengan nilai-nilai religius dan keseimbangan kosmos. Para petani memandang kegiatan bertani bukan sekadar usaha ekonomi, tetapi juga bentuk pengabdian kepada alam dan manifestasi rasa syukur kepada Sang Pencipta. Ungkapan seperti “ngemargiang karahayuan ring pertiwi” (menjaga keselarasan bumi) sering muncul sebagai pengingat bahwa kehidupan manusia sangat bergantung pada keharmonisan dengan alam.

Makna dari ungkapan tersebut menggambarkan pandangan dunia  masyarakat Bali yang holistik: manusia, alam, dan Tuhan bukan entitas terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling menopang. Prinsip ini sejalan dengan falsafah Tri Hita Karana—tiga penyebab kebahagiaan dan kesejahteraan yang menekankan pentingnya menjaga harmoni antara manusia dengan Tuhan (parhyangan), sesama manusia (pawongan), dan lingkungan alam (palemahan). Dalam konteks pertanian kopi, filosofi ini menjadi kerangka moral yang membimbing cara berpikir dan bertindak para petani dalam mengelola lahan.

Kesadaran spiritual tersebut tercermin dalam praktik pertanian berkelanjutan yang dijalankan secara konsisten. Kegiatan menanam sering didahului dengan upacara sederhana, memohon restu kepada Jero Sedan Abian agar hasil panen diberkahi dan bumi tetap sejahtera. Praktik-praktik ini memperlihatkan keterpaduan antara ekologi dan teologi lokal, yang menjadikan pertanian sebagai aktivitas spiritual sekaligus ekologis.

Dengan demikian, obrolan ringan antarpetani bukan hanya ruang komunikasi sosial, tetapi juga arena reproduksi nilai-nilai kearifan lokal yang memperkuat kesadaran ekologis dan spiritual masyarakat. Di dalamnya, pengetahuan teknis berpadu dengan pandangan hidup yang sarat makna religius dan etis. Hal ini menunjukkan bahwa bagi petani di Desa Pucaksari, keberhasilan panen tidak hanya diukur dari banyaknya hasil, tetapi juga dari sejauh mana kegiatan pertanian mereka mampu menjaga harmoni dengan alam dan sesama petani. [T]

Penulis: Ketut Suar Adnyana
Editor: Jaswanto

Tags: bulelengBusungbiuDesa Pucaksarikopikopi bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Pasar Gede Hardjonagoro Solo: Pusat Kuliner dan Oleh-Oleh

Next Post

“Lengut” Bahasa Remaja Putri dalam Lomba Dharmawacana Berbahasa Bali Utsawa Dharma Gita 2025

I Ketut Suar Adnyana

I Ketut Suar Adnyana

Dr. I Ketut Suar Adnyana, M.Hum. adalah Wakil Rektor I Universitas Dwijendra, Denpasar

Related Posts

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
0
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

Read moreDetails

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
0
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

Read moreDetails

 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

by Rusdy Ulu
September 29, 2026
0
 “Tur Mencari Kebebasan: Jakarta—Bogor—Tangerang” —Berkenalan ke Publik yang Lebih Luas

TIGA tahun telah terlewat, dua buku telah dirilis oleh Beatriff Collective. Buku pertama bertajuk “(Se-)Putar Musik” (2025), kemudian “Memahami Musik,...

Read moreDetails

Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

by Nyoman Budarsana
September 28, 2026
0
Menari di Langit Batu Tampih, Ribuan Rare Angon Hidupkan Tradisi Layang-Layang

SEMARAK dan meriah. Begitulah suasana yang terlihat di kawasan Pantai Batu Tampih, Desa Pangkung Tibah, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan, Minggu...

Read moreDetails

Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

by Nyoman Budarsana
September 27, 2026
0
Usaha Merawat Rasa di Tengah Bisingnya Informasi

BERITA tentang bencana, perang, pengungsian, sampah, persoalan air, dan menyusutnya ruang hidup datang hampir tanpa jeda. Sebagian muncul sebagai notifikasi...

Read moreDetails

Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

by Jaswanto
September 24, 2026
0
Kondisi Situs Cagar Budaya Bale Kulkul Puri Pemecutan, Tak Terawat, Ditumbuhi Rumput dan Semak Belukar

“YA, kondisinya memang tak terawat―mungkin nggak peduli,” jawab Dewa Purwita Sukahet kepada tatkala.co saat dihubungi melalui direct message Instagram, Rabu...

Read moreDetails

Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

by Dede Putra Wiguna
September 21, 2026
0
Pesta Demokrasi di SMKS Kesehatan Bali Medika: Dihari Purnama dan Hanin Azzahra Siap Pimpin OSIS Kesbam

SUASANA aula SMKS Kesehatan Bali Medika Denpasar pada Kamis, 17 September 2026, berbeda dari biasanya. Ratusan siswa duduk menghadap panggung....

Read moreDetails

“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
“Batubelah Art Space”: Membawa Sujana Suklu, Nyoman Sartini, dan Nyoman Darmadi ke Art & Bali 2026

Batubelah Art Space, dikomandoi Wayan Sabath Sukma Miarna ketika hadir dalam Art & Bali 2026 di Nuanu Creative City, Tabanan,...

Read moreDetails

Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

by Rusdy Ulu
September 18, 2026
0
Di Lapangan Undiksha, Puluhan Mahasiswa Membicarakan HAM dan Kebebasan Berpendapat—Konsolidasi September Hitam oleh BEM REMA Undiksha

PULUHAN mahasiswa berpakain hitam berkumpul di Lapangan Upacara Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Kamis malam, 17 September 2026. Mereka mengikuti Konsolidasi...

Read moreDetails

Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

by Hasby Alfin Shidiq
September 16, 2026
0
Kemah Bintang SLB Negeri 1 Buleleng, Ajang Murid Bekebutuhan Khusus Bersinar

Pagi itu, suasana SLB Negeri Buleleng lebih riuh dari biasanya. Rombongan mobil isuzu berbondong datang memenuhi lapangan asrama. Di depan...

Read moreDetails
Next Post
“Lengut” Bahasa Remaja Putri dalam Lomba Dharmawacana Berbahasa Bali Utsawa Dharma Gita 2025

"Lengut" Bahasa Remaja Putri dalam Lomba Dharmawacana Berbahasa Bali Utsawa Dharma Gita 2025

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co