Bali adalah kisah yang tak pernah usai ditulis. Dari tradisi sampai modern, dari ujung puncak Gunung Agung sampai pantai Kuta, apa yang dikenal sebagai “Nyegara Gunung”. Di satu sisi, memang Bali tradisional masih bernapas di Pura, sawah, dan bale banjar—tempat doa, seni, tanah garapan dan adat istiadat berpaut erat dengan bumi dan langit, sekala dan niskala. Bunyi gamelan mengalun, asepan dan dupa mengepul, upacara mengikat manusia dengan Hyang Widi Wasa dan para leluhur serta seluruh aspek kehidupan manusia Bali.
Namun di sisi lain, Bali modern hadir dalam gemerlap lampu hotel, villa, kafe yang penuh turis, serta jalanan yang tak pernah sepi dan sekarang lebih sering macet ketimbang lengang. Ada arsitektur baru, musik asing yang berdansa dengan gamelan, dan generasi muda yang fasih berbahasa asing, menari antara tradisi dan dunia global, menata ulang tradisi ditengah kemajuan jaman.
Betul, keduanya memang tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Mengisi ruang kosong, melengkapi dengan kemampuan teknologi. Bali lama menjaga akar, menjadi pondasi yang kuat, Bali modern menumbuhkan cabang, ranting dan anak ranting. Seberapa generasi muda dibekali untuk memahami akar budayanya dengan baik, seberapa dalam mereka terlibat berpeluh ikut menjaga tradisi akan nampak ketika benturan peradaban terjadi atau clash of civilizations, dimana identitas budaya dan agama akan menjadi sumber konflik utama jika tidak disadari, jika tidak dikelola dengan baik. (lihat Samuel Huntington).
Dari pertemuan itu, Bali tetap hidup sebagai pulau yang merayakan masa lalu sekaligus menyongsong masa depan menuju Bali yang modern tapi harus tetap menjaga kultur budayanya yang tinggi. Apakah begitu narasi antara data dan fakta, dimana budaya semakin tergerus dengan berkurang dengan adanya gempuran budaya baru yang dibawa penduduk pendatang dan turis asing?
Kapan dan berapa lama budaya dan manusia Bali dapat menahan gempuran mordenitas tersebut?
Kita tak perlu terlalu jauh masuk kepada persoalan soal “berapa lama Bali bisa bertahan”, melainkan sejauh mana Bali mampu beradaptasi tanpa kehilangan inti nilai budaya, tidak kehilangan identitasnya. Selama manusia Bali, desa adat, pura, tanah dan natah serta kesadaran spiritual tetap dijaga, Bali punya peluang untuk bertahan menghadapi modernisasi dan perkembangan jaman itu.
Modernisme tentu sulit dibendung ataupun ditolak. Anak-anak muda Bali kini hidup di dua dunia: sebagai anak-anak banjar mereka masih ikut ngayah (gotong royong adat), menabuh, menari, kegiatan sekehe teruna teruni yang tak bisa di abaikan (baca: ini yang harus tetap terjaga dan dijaga oleh Banjar) tapi juga aktif di media sosial, industri kreatif, dan global culture. Ini menciptakan hibridisasi budaya: Bali tidak hilang, tapi berubah dalam bentuk isinya tetap kental.
Jadi, tradisional dan modernisme tidak selalu saling menghapus. Kemampuan beradaptasi, kemampuan ini tidaklah mudah tanpa akar budaya yag kuat. Justru, keduanya bisa melahirkan bentuk baru: Bali yang sakral sekaligus global. Apa selanjutnya, ketika kemajuan teknologi tidak saja memberi manfaat, kemudahan, kecepatan, efisiensi tetapi apa? Sumber Daya Manusia Bali, pendidikan generasi muda harus ditingkatkan, harus dikembangkan dan didayagunakan agar tidak mematikan dan agar Bali tidak tertinggal hanya sebagai musium dan obyek perkembangan teknologi dan globalisasi. Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi budaya masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.
Pertanyaannya, mampukah warga Bali menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.
Pertanyaannya, mampukah warga Bali menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional Bali dengan perkembangan global—termasuk pariwisata, teknologi, komunikasi massa, arsitektur modern, pasar global tentunya merupakan jalinan kontak intens dengan Bali yang kaya tradisi. Kontak ini bukan hanya satu arah; bukan hanya hari ini, sudah berlangsung sejak beberapa dekade, Bali bereaksi, memilih, menolak, dan mengadaptasi dengan elemen-elemen modern agar bisa selamat sebagai budaya yang hidup.
Para penentu kebijakan tak hanya menatap Bali yang indah yang banyak menghasilkan pundi-pundi PAD saja dari hasil potensi Bali sebagai destinasi budaya dunia. Pemerintah Daerah bersama masyarakat Bali juga harus menjadi penjaga nilai, benteng identitas, dan penopang akar budaya leluhur.
Aturan-aturan yang disusun mesti melindungi ruang sakral, Pura, subak, serta desa adat dari tekanan pembangunan yang serba cepat bukan aturan hanya diatas kertas seperti macan ompong saat mengahadapi pelanggaran pembangunan yang jelas-jels melanggar RTRW.
Modernisasi memang tak terelakkan, suatu keniscayaan untuk dihindari, tetapi tanpa regulasi yang berpihak pada masyarakat adat, melindungi budaya yang sudah diwarisi turun temurun, tidak mengalihkan tanah dan natahnya demi peningkatan ekonomi, demi kehidupan yang modern, harus dapat beradaptasi dengan kemajuan jaman, namun manusia Bali tidak mengingkari dari mana dia berasal. Jika tidak maka manusia Bali akan mudah tercerabut dari jati dirinya.
Membangun tanpa menjual tanah Bali
Merawat, mengelola dan memajukan tradisi tidak dapat dilakukan tanpa adanya tanah dan natah dimana manusia Bali dilahirkan. Bahwa apa yang dicanangkan dalam penegembagan pariwisata yang modern senantiasa dikaitkan dengan menjual kehidupan tradisi, kehidupan manusia Bali demi keuntungan ekonomi. Namun apakah sepenuhnya hasil pariwisata dinikmati dan mensejahterakn manusia Bali yang berkeadilan?
Dapat dibayangkan jika seluruh atau sebagian orang Bali kehilangan tanah dimana dia melangsungkan kehidupan spiritualnya, kehidupan sosialnya maka cepat atau lambat, tidak akan ada pariwisata yang menghasilkan gemerincing dollar di Bali, tidak ada jutaan wisatawan datang ke Bali. Banyak pemandangan alam yang lebih indah di daerah lain di Indonesia daripada Bali, tetapi kenapa kunjungan wisatawan tidak sebanyak Bali?
Tentu pariwisata di Bali ada karena budaya, upakara, kegiatan adat dan agama Hindu yang tumbuh dan menjadi seni bagian kehidupan manusia Bali sehari-hari menjadi daya tarik wisatawan baik domestik dan manca negara datang ke Bali. Juga laut, panyai yang indah , jurang, dan suasana alamnya yang menawab.
Oleh karenanya jika tanah dan natah orang Bali tidak dijaga, dialihkan begitu mudah kepada orang lain maka modernitas, kemajuan globalisasi, apapun nama yang kita sebut, tidak akan menghancurkan tradisi kehidupan manusia Bali, dia akan nadi simbiose yang memperkaya dan memajukan peradaban manusia Bali. Mari meneguhkan diri menjaga tanah Bali, membangun Bali tanpa menjual atau mengadaikan tanah Bali. [T]
Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole
- BACA artikel lain dari penulis I MADE PRIA DHARSANA






![Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam](https://tatkala.co/wp-content/uploads/2025/01/chusmeru.-cover-cerita-misteri-75x75.jpg)















