14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 8, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

Pengantar

Pada tahun 2025, dunia kembali menyaksikan gemilangnya ajang Hadiah Nobel, di mana para ilmuwan dari Amerika Serikat dan Jepang berhasil menorehkan prestasi luar biasa di bidang kedokteran dan fisika. Penemuan mereka, yang membuka wawasan baru tentang sistem kekebalan tubuh dan fenomena kuantum, bukan hanya memberi dampak pada ilmu pengetahuan global, tetapi juga menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup jutaan orang.

Di sisi lain, Indonesia, yang sudah merayakan 80 tahun kemerdekaan, masih menanti momen serupa. Hingga saat ini, belum ada satu pun ilmuwan atau peneliti Indonesia yang berhasil menembus pengakuan dunia melalui Nobel.

Situasi ini bukan sekadar soal penghargaan yang belum diraih. Kondisi ini mengartikan kapasitas ilmiah, kualitas riset, dan inovasi yang masih perlu digarap secara serius. Menanti Nobel adalah cermin dari kemampuan bangsa untuk berpikir kritis, mendorong ilmu pengetahuan, dan menghasilkan inovasi yang mampu memberi manfaat bagi umat manusia secara global.

Latar Belakang Historis

Sejak pertama kali diberikan pada tahun 1901, Hadiah Nobel telah menjadi simbol prestise tertinggi dalam dunia ilmu pengetahuan, sastra, dan perdamaian.[1] Alfred Nobel, penemu dinamit dan deretan paten lainnya, mewariskan kekayaannya dengan visi yang jelas, bahwa mereka menghargai yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi kemanusiaan. Hadiah ini terbagi ke dalam enam kategori utama, mulai dari Fisika, Kimia, dan Kedokteran, hingga Sastra, Perdamaian, dan Ilmu Ekonomi, masing-masing merupakan bidang yang dianggap fundamental bagi kemajuan peradaban.

Pemberian penghargaan ilmiah dapat dianalisis melalui Teori Motivasi dan Insentif dalam Sains. Menurut Merton (1973) dalam The Sociology of Science, penghargaan ilmiah tidak hanya sebagai pengakuan prestasi, tetapi juga memotivasi peneliti untuk berkontribusi pada perkembangan pengetahuan yang bersifat kumulatif.[2] Teori ini menekankan pentingnya struktur institusional dan sistem penghargaan untuk mendorong inovasi. Dalam konteks ini, Hadiah Nobel berfungsi sebagai insentif eksternal yang memperkuat status ilmiah individu dan institusi, sekaligus menciptakan “efek teladan” bagi komunitas ilmiah global.

Sementara dunia terus mencatat prestasi ilmiah yang gemilang, Indonesia menapaki jalannya sendiri setelah meraih kemerdekaan pada 1945. Studi menunjukkan bahwa meski Indonesia memiliki jumlah peneliti yang meningkat secara signifikan dalam dua dekade terakhir, publikasi yang diakui secara internasional masih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.[3][4] Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kapasitas ilmiah dan pengakuan global.

Indonesia memiliki segala potensi untuk bersinar di ranah global, bahwa kekayaan sumber daya alam, budaya yang mendunia, serta keragaman intelektual yang bisa menjadi fondasi inovasi. Namun, penelitian oleh Serdyukov, P. (2017) menegaskan bahwa tanpa dukungan sistemik berupa pendidikan berkualitas, investasi riset, dan budaya ilmiah yang produktif, potensi ini tidak otomatis menghasilkan inovasi yang berdampak global.[5] Studi kasus negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa investasi konsisten dalam R&D, kolaborasi internasional, dan ekosistem penelitian yang terstruktur merupakan faktor kunci di balik keberhasilan mereka menembus ranah Nobel. Secara fakta bahwa Jepang telah meraih lebih dari 25 Hadiah Nobel di bidang sains sejak 1949, yang sebagian besar berakar dari kebijakan nasional dalam mendukung penelitian fundamental.

Kondisi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa potensi besar belum diimbangi dengan sistem penelitian dan inovasi yang kuat. Sehingga perjalanan 80 tahun merdeka bukan sekadar mempertahankan kemerdekaan politik, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini menempatkan dirinya di panggung inovasi global. Hadiah seperti Nobel menjadi cermin pengakuan atas kapasitas ilmiah dan kontribusi nyata bagi umat manusia, sekaligus menandai kesiapan sebuah negara dalam menghadirkan sains yang berdampak luas.

Hambatan Indonesia

Indonesia, meskipun telah merdeka selama delapan dekade, masih menghadapi tantangan serius dalam membangun ekosistem penelitian yang kompetitif di kancah global. Salah satu hambatan paling mendasar adalah rendahnya investasi dalam riset dan pengembangan (R&D). Adapun alokasi anggaran yang hanya di bawah 0,3% dari Produk Domestik Bruto, Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju, bahkan di kawasan Asia Tenggara sekalipun.[6][7] Minimnya pendanaan ini bukan sekadar angka, ini berimplikasi pada kemampuan para ilmuwan untuk melakukan penelitian mutakhir, membeli peralatan laboratorium modern, atau menjalankan proyek jangka panjang yang dapat menghasilkan inovasi dunia.

Kualitas pendidikan dan penelitian masih menjadi persoalan serius. Infrastruktur laboratorium yang terbatas, fasilitas penelitian yang kurang memadai, dan akses ke jurnal serta publikasi internasional yang terbatas membuat banyak peneliti berbakat merasa frustrasi. Tidak jarang, para ilmuwan muda yang memiliki potensi justru memilih “melarikan diri” ke luar negeri, mencari lingkungan akademik yang lebih mendukung dan penghargaan yang lebih pantas. Fenomena ini, yang dikenal sebagai brain drain, mengurangi kapasitas Indonesia untuk mencetak inovasi yang bisa diakui secara global.[8]

Kurangnya kolaborasi internasional menjadi penghalang signifikan lainnya. Sejarah menunjukkan bahwa banyak penghargaan Nobel lahir dari kolaborasi global yang intens, di mana para ilmuwan dari berbagai negara bertukar ide, data, dan metode penelitian.[9] Sayangnya, jaringan penelitian internasional Indonesia masih terbatas, sehingga peluang untuk terlibat dalam proyek besar yang berpotensi menghasilkan penemuan revolusioner menjadi kecil.

Tidak kalah penting adalah budaya ilmiah yang belum matang. Sistem penghargaan internal di lembaga penelitian dan universitas masih minim, insentif untuk publikasi bereputasi tinggi terbatas, dan motivasi peneliti muda belum sepenuhnya terbangun. Akibatnya, inovasi yang potensial seringkali berhenti di tahap awal, tanpa mampu menembus panggung global. Tanpa reformasi menyeluruh yang menyasar pendanaan, pendidikan, kolaborasi, dan budaya ilmiah, Indonesia akan terus menghadapi kesulitan dalam menghasilkan prestasi ilmiah yang sejajar dengan negara-negara yang sudah rutin mencetak pemenang Nobel.

Tantangan BRIN untuk mencetak Peneliti Sekelas pemenang Nobel

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah dibentuk sebagai payung tunggal riset di tanah air, dengan berbagai layanan mulai dari manajemen talenta, repositori ilmiah, pelatihan institusional, hingga pengelolaan koleksi kebun raya dan laboratorium teknologi nuklir. Secara administratif, struktur BRIN tampak lengkap, modern, dan sangat terdokumentasi dengan baik melalui layanan publik, portal daring, serta sistem e-layanan yang beragam.

Namun, di balik sistem yang rapi ini, realitas yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan BRIN untuk mendorong Indonesia meraih Nobel masih terbatas. Banyak program dan layanan yang ada cenderung bersifat administratif dan formalistis misalnya sistem manajemen talenta atau sertifikasi profesi tanpa secara nyata menjawab kebutuhan mendasar penelitian mutakhir yang bersifat inovatif dan kompetitif secara internasional. Ketersediaan fasilitas seperti laboratorium nuklir, repositori ilmiah, atau database mikroorganisme memang penting, tetapi tanpa dukungan dana riset yang signifikan, integrasi penelitian lintas disiplin, dan kolaborasi internasional yang strategis, potensi ini sulit diterjemahkan menjadi penemuan yang diakui dunia.

Yang lebih mengkhawatirkan, sistem yang ada saat ini cenderung menjaring orang berdasarkan ijazah dan sertifikasi formal, sementara banyak individu berbakat yang belajar dan bekerja secara otodidak sering terlewatkan. Ada banyak peneliti, ilmuwan, dan inovator yang memiliki kompetensi luar biasa, tetapi karena tidak sesuai dengan mekanisme sertifikasi atau jalur formal, kontribusi mereka tidak diakui dan potensi mereka terbuang. Fenomena ini menunjukkan adanya disparitas antara kemampuan nyata dan pengakuan formal, yang akhirnya mempersempit basis talenta yang bisa dikembangkan menuju prestasi global.

Banyak layanan BRIN masih fokus pada pengelolaan data, prosedur sertifikasi, dan pelatihan institusional, yang lebih menekankan kepatuhan dan pengelolaan administratif daripada mendorong budaya ilmiah yang produktif dan kreatif. Padahal, Nobel diberikan kepada penemuan yang bersifat transformatif dan berdampak luas bagi umat manusia, bukan sekadar produktivitas administratif atau kepatuhan regulasi. Tanpa insentif yang jelas bagi peneliti untuk mempublikasikan karya mereka di jurnal internasional bereputasi, mengamankan paten, dan mengakses laboratorium kelas dunia, peluang Indonesia mencetak ilmuwan berbasis Nobel tetap tipis.

Solusi dan Rekomendasi

Mendorong Indonesia untuk meraih prestasi ilmiah setara standar dunia, termasuk peluang meraih Nobel, bukanlah tugas yang bisa dilakukan setengah hati. Salah satu langkah yang paling krusial adalah meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) secara signifikan, idealnya mencapai 1–2% dari PDB. Tanpa dukungan finansial yang memadai, para peneliti akan terus terbatas pada eksperimen berskala kecil, sulit bersaing di tingkat internasional, dan inovasi bernilai tinggi akan tetap tertahan di laboratorium lokal. Kondisi ini secara implisit menahan laju kemajuan ilmiah bangsa, sekaligus membatasi potensi untuk menembus pengakuan global seperti Hadiah Nobel.

Reformasi pendidikan sains dan teknologi harus dilakukan dari akar. Upaya ini tidak cukup dengan menambah jumlah mata pelajaran sains, melainkan harus membangun budaya berpikir kritis, keterampilan eksperimen, dan kemampuan analitis sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Generasi muda perlu dibiasakan dengan metode ilmiah, pemecahan masalah kompleks, dan keterbukaan terhadap ide baru agar lahir ilmuwan yang benar-benar kompetitif di panggung dunia. Tanpa dasar pendidikan yang kuat, upaya inovasi akan kehilangan fondasi, sementara talenta potensial dapat tersia-siakan karena sistem pendidikan tidak mampu mengenali atau memfasilitasinya secara optimal.

Kehadiran kolaborasi internasional juga menjadi kunci. Ilmuwan dunia yang meraih Nobel jarang bekerja sendirian, bahwa mereka terlibat dalam jaringan global, mengakses laboratorium mutakhir, dan berbagi pengetahuan lintas negara. Indonesia harus membuka pintu bagi peneliti lokal untuk bergabung dalam proyek-proyek global, memperluas wawasan, meningkatkan kualitas publikasi, dan menempatkan penelitian Indonesia di peta sains dunia. Tanpa akses ini, inovasi terbaik sekalipun akan tetap berada di bawah radar pengakuan internasional.

Namun semua upaya tersebut akan sia-sia jika ekosistem penelitian domestik masih lemah. Saat ini, banyak layanan yang ada, seperti sertifikasi dan manajemen talenta, lebih menekankan aspek administratif dan formalitas daripada inovasi kreatif. Sistem yang terlalu terpaku pada ijazah dan sertifikat formal seringkali mengabaikan individu berbakat yang belajar mandiri atau berprestasi di luar jalur resmi. Fenomena ini menimbulkan paradoks, bahwa orang-orang dengan kompetensi nyata terpinggirkan, sementara jalur resmi menjadi penentu pengakuan dan akses terhadap sumber daya. Tanpa fleksibilitas untuk mengenali talenta otodidak, potensi ilmiah bangsa akan terus terkekang.

BRIN, sebagai lembaga pengelola riset nasional, perlu bertransformasi dari institusi administratif menjadi ekosistem inovasi yang produktif, di mana peneliti diberi kebebasan, fasilitas memadai, akses dana, dan jaringan kolaborasi internasional. Apresiasi dan penghargaan nyata terhadap ilmuwan lokal juga sangat penting, tidak sekadar medali atau sertifikat, tetapi pengakuan konkret atas kontribusi ilmiah mereka yang meliputi dana riset, penghargaan publik, dan peluang karier yang menarik. Tanpa langkah-langkah ini, Indonesia akan terus tertahan dalam formalitas administratif, gagal memaksimalkan talenta, dan menunda peluang meraih Nobel pertama yang telah lama dinanti.

Hanya melalui kombinasi strategi finansial, reformasi pendidikan, kolaborasi global, infrastruktur riset yang kuat, dan apresiasi talenta secara nyata, Indonesia dapat membangun kapasitas ilmiah yang tangguh. Sehingga bangsa ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan risetnya, tetapi juga menyiapkan diri untuk suatu hari mendapatkan pengakuan global yang sejajar dengan standar dunia, termasuk peluang meraih Hadiah Nobel pertama bagi tanah air.

Referensi

Aswicahyono, Haryo H, dan Hal Hill. Is Indonesia Trapped in the Middle? Discussion Paper Series, 2015.

Djalante, Riyanti. “A systematic literature review of research trends and authorships on natural hazards, disasters, risk reduction and climate change in Indonesia.” Natural Hazards and Earth System Sciences 18, no. 6 (2018): 1785–810.

Dodani, Sunita, dan Ronald E LaPorte. “Brain drain from developing countries: how can brain drain be converted into wisdom gain?” Journal of the Royal society of Medicine 98, no. 11 (2005): 487–91.

Dong, Yuxiao, Hao Ma, Zhihong Shen, dan Kuansan Wang. “A century of science: Globalization of scientific collaborations, citations, and innovations.” 2017, 1437–46.

Morton, Robert K. “The sociology of science.” Chicago: The University of, 1973.

Putera, Prakoso Bhairawa, Suryanto Suryanto, Sinta Ningrum, Ida Widianingsih, dan Yan Rianto. “Increased number of Scopus articles from Indonesia from 1945 to 2020, an analysis of international collaboration, and a comparison with other ASEAN countries from 2016 to 2020.” Science Editing 9, no. 1 (2022): 62–68.

Serdyukov, Peter. “Innovation in education: what works, what doesn’t, and what to do about it?” Journal of research in innovative teaching & learning 10, no. 1 (2017): 4–33.

Sneis, Jørgen, dan Carlos Spoerhase. “The Nobel Roll of honor: Comparing literatures and compiling lists of Nobel laureates in the early twentieth century.” Orbis Litterarum 78, no. 3 (2023): 147–66.

Tabor, Steven R. Constraints to Indonesia’s economic growth. Asian Development Bank, 2015.


[1] Sneis dan Spoerhase, “The Nobel Roll of honor: Comparing literatures and compiling lists of Nobel laureates in the early twentieth century.”

[2] Morton, “The sociology of science.”

[3] Putera dkk., “Increased number of Scopus articles from Indonesia from 1945 to 2020, an analysis of international collaboration, and a comparison with other ASEAN countries from 2016 to 2020.”

[4] Djalante, “A systematic literature review of research trends and authorships on natural hazards, disasters, risk reduction and climate change in Indonesia.”

[5] Serdyukov, “Innovation in education: what works, what doesn’t, and what to do about it?”

[6] Aswicahyono dan Hill, Is Indonesia Trapped in the Middle?

[7] Tabor, Constraints to Indonesia’s economic growth.

[8] Dodani dan LaPorte, “Brain drain from developing countries: how can brain drain be converted into wisdom gain?”

[9] Dong dkk., “A century of science: Globalization of scientific collaborations, citations, and innovations.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: IndonesiaNobel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Next Post

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

MKN Bukan Tameng Impunitas: Notaris Berintegritas, Penegak Hukum  Taati Prosedur

by I Made Pria Dharsana
May 9, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MAHKAMAH Konstitusi melalui Putusan Nomor 65/PUU-XXIV/2026 menegaskan bahwa persetujuan Majelis Kehormatan Notaris (MKN) sebagaimana diatur dalam Pasal 66 Undang-Undang Nomor...

Read moreDetails

Menguji Batas Tanggung Jawab Terbatas:  ‘Piercing the Corporate Veil’ dalam Sengketa Kepemilikan dan Pengalihan Saham

by I Made Pria Dharsana
May 7, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM rezim hukum Perseroan Terbatas sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas, prinsip tanggung jawab terbatas...

Read moreDetails

Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

by KH Ketut Imaduddin Jamal
May 2, 2026
0
Kapan Pejabat BGN Meresmikan MBG Khusus Pesantren di Bali?

ADA satu penyakit lama dalam kebijakan publik kita: negara sering merasa telah bekerja hanya karena program sudah diumumkan, anggaran sudah...

Read moreDetails

Problem Keadilan dalam Pembagian Harta Bersama: Dari Norma ke Uji Konstitusi

by I Made Pria Dharsana
April 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Dia luka yang tidak pernah benar-benar terlihat dalam putusan pengadilan berkaitan dengan pembagian harta gono gini dalam perpisah/pecahnya perkawinan  karena...

Read moreDetails

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co