2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 8, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

Pengantar

Pada tahun 2025, dunia kembali menyaksikan gemilangnya ajang Hadiah Nobel, di mana para ilmuwan dari Amerika Serikat dan Jepang berhasil menorehkan prestasi luar biasa di bidang kedokteran dan fisika. Penemuan mereka, yang membuka wawasan baru tentang sistem kekebalan tubuh dan fenomena kuantum, bukan hanya memberi dampak pada ilmu pengetahuan global, tetapi juga menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup jutaan orang.

Di sisi lain, Indonesia, yang sudah merayakan 80 tahun kemerdekaan, masih menanti momen serupa. Hingga saat ini, belum ada satu pun ilmuwan atau peneliti Indonesia yang berhasil menembus pengakuan dunia melalui Nobel.

Situasi ini bukan sekadar soal penghargaan yang belum diraih. Kondisi ini mengartikan kapasitas ilmiah, kualitas riset, dan inovasi yang masih perlu digarap secara serius. Menanti Nobel adalah cermin dari kemampuan bangsa untuk berpikir kritis, mendorong ilmu pengetahuan, dan menghasilkan inovasi yang mampu memberi manfaat bagi umat manusia secara global.

Latar Belakang Historis

Sejak pertama kali diberikan pada tahun 1901, Hadiah Nobel telah menjadi simbol prestise tertinggi dalam dunia ilmu pengetahuan, sastra, dan perdamaian.[1] Alfred Nobel, penemu dinamit dan deretan paten lainnya, mewariskan kekayaannya dengan visi yang jelas, bahwa mereka menghargai yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi kemanusiaan. Hadiah ini terbagi ke dalam enam kategori utama, mulai dari Fisika, Kimia, dan Kedokteran, hingga Sastra, Perdamaian, dan Ilmu Ekonomi, masing-masing merupakan bidang yang dianggap fundamental bagi kemajuan peradaban.

Pemberian penghargaan ilmiah dapat dianalisis melalui Teori Motivasi dan Insentif dalam Sains. Menurut Merton (1973) dalam The Sociology of Science, penghargaan ilmiah tidak hanya sebagai pengakuan prestasi, tetapi juga memotivasi peneliti untuk berkontribusi pada perkembangan pengetahuan yang bersifat kumulatif.[2] Teori ini menekankan pentingnya struktur institusional dan sistem penghargaan untuk mendorong inovasi. Dalam konteks ini, Hadiah Nobel berfungsi sebagai insentif eksternal yang memperkuat status ilmiah individu dan institusi, sekaligus menciptakan “efek teladan” bagi komunitas ilmiah global.

Sementara dunia terus mencatat prestasi ilmiah yang gemilang, Indonesia menapaki jalannya sendiri setelah meraih kemerdekaan pada 1945. Studi menunjukkan bahwa meski Indonesia memiliki jumlah peneliti yang meningkat secara signifikan dalam dua dekade terakhir, publikasi yang diakui secara internasional masih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.[3][4] Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kapasitas ilmiah dan pengakuan global.

Indonesia memiliki segala potensi untuk bersinar di ranah global, bahwa kekayaan sumber daya alam, budaya yang mendunia, serta keragaman intelektual yang bisa menjadi fondasi inovasi. Namun, penelitian oleh Serdyukov, P. (2017) menegaskan bahwa tanpa dukungan sistemik berupa pendidikan berkualitas, investasi riset, dan budaya ilmiah yang produktif, potensi ini tidak otomatis menghasilkan inovasi yang berdampak global.[5] Studi kasus negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa investasi konsisten dalam R&D, kolaborasi internasional, dan ekosistem penelitian yang terstruktur merupakan faktor kunci di balik keberhasilan mereka menembus ranah Nobel. Secara fakta bahwa Jepang telah meraih lebih dari 25 Hadiah Nobel di bidang sains sejak 1949, yang sebagian besar berakar dari kebijakan nasional dalam mendukung penelitian fundamental.

Kondisi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa potensi besar belum diimbangi dengan sistem penelitian dan inovasi yang kuat. Sehingga perjalanan 80 tahun merdeka bukan sekadar mempertahankan kemerdekaan politik, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini menempatkan dirinya di panggung inovasi global. Hadiah seperti Nobel menjadi cermin pengakuan atas kapasitas ilmiah dan kontribusi nyata bagi umat manusia, sekaligus menandai kesiapan sebuah negara dalam menghadirkan sains yang berdampak luas.

Hambatan Indonesia

Indonesia, meskipun telah merdeka selama delapan dekade, masih menghadapi tantangan serius dalam membangun ekosistem penelitian yang kompetitif di kancah global. Salah satu hambatan paling mendasar adalah rendahnya investasi dalam riset dan pengembangan (R&D). Adapun alokasi anggaran yang hanya di bawah 0,3% dari Produk Domestik Bruto, Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju, bahkan di kawasan Asia Tenggara sekalipun.[6][7] Minimnya pendanaan ini bukan sekadar angka, ini berimplikasi pada kemampuan para ilmuwan untuk melakukan penelitian mutakhir, membeli peralatan laboratorium modern, atau menjalankan proyek jangka panjang yang dapat menghasilkan inovasi dunia.

Kualitas pendidikan dan penelitian masih menjadi persoalan serius. Infrastruktur laboratorium yang terbatas, fasilitas penelitian yang kurang memadai, dan akses ke jurnal serta publikasi internasional yang terbatas membuat banyak peneliti berbakat merasa frustrasi. Tidak jarang, para ilmuwan muda yang memiliki potensi justru memilih “melarikan diri” ke luar negeri, mencari lingkungan akademik yang lebih mendukung dan penghargaan yang lebih pantas. Fenomena ini, yang dikenal sebagai brain drain, mengurangi kapasitas Indonesia untuk mencetak inovasi yang bisa diakui secara global.[8]

Kurangnya kolaborasi internasional menjadi penghalang signifikan lainnya. Sejarah menunjukkan bahwa banyak penghargaan Nobel lahir dari kolaborasi global yang intens, di mana para ilmuwan dari berbagai negara bertukar ide, data, dan metode penelitian.[9] Sayangnya, jaringan penelitian internasional Indonesia masih terbatas, sehingga peluang untuk terlibat dalam proyek besar yang berpotensi menghasilkan penemuan revolusioner menjadi kecil.

Tidak kalah penting adalah budaya ilmiah yang belum matang. Sistem penghargaan internal di lembaga penelitian dan universitas masih minim, insentif untuk publikasi bereputasi tinggi terbatas, dan motivasi peneliti muda belum sepenuhnya terbangun. Akibatnya, inovasi yang potensial seringkali berhenti di tahap awal, tanpa mampu menembus panggung global. Tanpa reformasi menyeluruh yang menyasar pendanaan, pendidikan, kolaborasi, dan budaya ilmiah, Indonesia akan terus menghadapi kesulitan dalam menghasilkan prestasi ilmiah yang sejajar dengan negara-negara yang sudah rutin mencetak pemenang Nobel.

Tantangan BRIN untuk mencetak Peneliti Sekelas pemenang Nobel

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah dibentuk sebagai payung tunggal riset di tanah air, dengan berbagai layanan mulai dari manajemen talenta, repositori ilmiah, pelatihan institusional, hingga pengelolaan koleksi kebun raya dan laboratorium teknologi nuklir. Secara administratif, struktur BRIN tampak lengkap, modern, dan sangat terdokumentasi dengan baik melalui layanan publik, portal daring, serta sistem e-layanan yang beragam.

Namun, di balik sistem yang rapi ini, realitas yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan BRIN untuk mendorong Indonesia meraih Nobel masih terbatas. Banyak program dan layanan yang ada cenderung bersifat administratif dan formalistis misalnya sistem manajemen talenta atau sertifikasi profesi tanpa secara nyata menjawab kebutuhan mendasar penelitian mutakhir yang bersifat inovatif dan kompetitif secara internasional. Ketersediaan fasilitas seperti laboratorium nuklir, repositori ilmiah, atau database mikroorganisme memang penting, tetapi tanpa dukungan dana riset yang signifikan, integrasi penelitian lintas disiplin, dan kolaborasi internasional yang strategis, potensi ini sulit diterjemahkan menjadi penemuan yang diakui dunia.

Yang lebih mengkhawatirkan, sistem yang ada saat ini cenderung menjaring orang berdasarkan ijazah dan sertifikasi formal, sementara banyak individu berbakat yang belajar dan bekerja secara otodidak sering terlewatkan. Ada banyak peneliti, ilmuwan, dan inovator yang memiliki kompetensi luar biasa, tetapi karena tidak sesuai dengan mekanisme sertifikasi atau jalur formal, kontribusi mereka tidak diakui dan potensi mereka terbuang. Fenomena ini menunjukkan adanya disparitas antara kemampuan nyata dan pengakuan formal, yang akhirnya mempersempit basis talenta yang bisa dikembangkan menuju prestasi global.

Banyak layanan BRIN masih fokus pada pengelolaan data, prosedur sertifikasi, dan pelatihan institusional, yang lebih menekankan kepatuhan dan pengelolaan administratif daripada mendorong budaya ilmiah yang produktif dan kreatif. Padahal, Nobel diberikan kepada penemuan yang bersifat transformatif dan berdampak luas bagi umat manusia, bukan sekadar produktivitas administratif atau kepatuhan regulasi. Tanpa insentif yang jelas bagi peneliti untuk mempublikasikan karya mereka di jurnal internasional bereputasi, mengamankan paten, dan mengakses laboratorium kelas dunia, peluang Indonesia mencetak ilmuwan berbasis Nobel tetap tipis.

Solusi dan Rekomendasi

Mendorong Indonesia untuk meraih prestasi ilmiah setara standar dunia, termasuk peluang meraih Nobel, bukanlah tugas yang bisa dilakukan setengah hati. Salah satu langkah yang paling krusial adalah meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) secara signifikan, idealnya mencapai 1–2% dari PDB. Tanpa dukungan finansial yang memadai, para peneliti akan terus terbatas pada eksperimen berskala kecil, sulit bersaing di tingkat internasional, dan inovasi bernilai tinggi akan tetap tertahan di laboratorium lokal. Kondisi ini secara implisit menahan laju kemajuan ilmiah bangsa, sekaligus membatasi potensi untuk menembus pengakuan global seperti Hadiah Nobel.

Reformasi pendidikan sains dan teknologi harus dilakukan dari akar. Upaya ini tidak cukup dengan menambah jumlah mata pelajaran sains, melainkan harus membangun budaya berpikir kritis, keterampilan eksperimen, dan kemampuan analitis sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Generasi muda perlu dibiasakan dengan metode ilmiah, pemecahan masalah kompleks, dan keterbukaan terhadap ide baru agar lahir ilmuwan yang benar-benar kompetitif di panggung dunia. Tanpa dasar pendidikan yang kuat, upaya inovasi akan kehilangan fondasi, sementara talenta potensial dapat tersia-siakan karena sistem pendidikan tidak mampu mengenali atau memfasilitasinya secara optimal.

Kehadiran kolaborasi internasional juga menjadi kunci. Ilmuwan dunia yang meraih Nobel jarang bekerja sendirian, bahwa mereka terlibat dalam jaringan global, mengakses laboratorium mutakhir, dan berbagi pengetahuan lintas negara. Indonesia harus membuka pintu bagi peneliti lokal untuk bergabung dalam proyek-proyek global, memperluas wawasan, meningkatkan kualitas publikasi, dan menempatkan penelitian Indonesia di peta sains dunia. Tanpa akses ini, inovasi terbaik sekalipun akan tetap berada di bawah radar pengakuan internasional.

Namun semua upaya tersebut akan sia-sia jika ekosistem penelitian domestik masih lemah. Saat ini, banyak layanan yang ada, seperti sertifikasi dan manajemen talenta, lebih menekankan aspek administratif dan formalitas daripada inovasi kreatif. Sistem yang terlalu terpaku pada ijazah dan sertifikat formal seringkali mengabaikan individu berbakat yang belajar mandiri atau berprestasi di luar jalur resmi. Fenomena ini menimbulkan paradoks, bahwa orang-orang dengan kompetensi nyata terpinggirkan, sementara jalur resmi menjadi penentu pengakuan dan akses terhadap sumber daya. Tanpa fleksibilitas untuk mengenali talenta otodidak, potensi ilmiah bangsa akan terus terkekang.

BRIN, sebagai lembaga pengelola riset nasional, perlu bertransformasi dari institusi administratif menjadi ekosistem inovasi yang produktif, di mana peneliti diberi kebebasan, fasilitas memadai, akses dana, dan jaringan kolaborasi internasional. Apresiasi dan penghargaan nyata terhadap ilmuwan lokal juga sangat penting, tidak sekadar medali atau sertifikat, tetapi pengakuan konkret atas kontribusi ilmiah mereka yang meliputi dana riset, penghargaan publik, dan peluang karier yang menarik. Tanpa langkah-langkah ini, Indonesia akan terus tertahan dalam formalitas administratif, gagal memaksimalkan talenta, dan menunda peluang meraih Nobel pertama yang telah lama dinanti.

Hanya melalui kombinasi strategi finansial, reformasi pendidikan, kolaborasi global, infrastruktur riset yang kuat, dan apresiasi talenta secara nyata, Indonesia dapat membangun kapasitas ilmiah yang tangguh. Sehingga bangsa ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan risetnya, tetapi juga menyiapkan diri untuk suatu hari mendapatkan pengakuan global yang sejajar dengan standar dunia, termasuk peluang meraih Hadiah Nobel pertama bagi tanah air.

Referensi

Aswicahyono, Haryo H, dan Hal Hill. Is Indonesia Trapped in the Middle? Discussion Paper Series, 2015.

Djalante, Riyanti. “A systematic literature review of research trends and authorships on natural hazards, disasters, risk reduction and climate change in Indonesia.” Natural Hazards and Earth System Sciences 18, no. 6 (2018): 1785–810.

Dodani, Sunita, dan Ronald E LaPorte. “Brain drain from developing countries: how can brain drain be converted into wisdom gain?” Journal of the Royal society of Medicine 98, no. 11 (2005): 487–91.

Dong, Yuxiao, Hao Ma, Zhihong Shen, dan Kuansan Wang. “A century of science: Globalization of scientific collaborations, citations, and innovations.” 2017, 1437–46.

Morton, Robert K. “The sociology of science.” Chicago: The University of, 1973.

Putera, Prakoso Bhairawa, Suryanto Suryanto, Sinta Ningrum, Ida Widianingsih, dan Yan Rianto. “Increased number of Scopus articles from Indonesia from 1945 to 2020, an analysis of international collaboration, and a comparison with other ASEAN countries from 2016 to 2020.” Science Editing 9, no. 1 (2022): 62–68.

Serdyukov, Peter. “Innovation in education: what works, what doesn’t, and what to do about it?” Journal of research in innovative teaching & learning 10, no. 1 (2017): 4–33.

Sneis, Jørgen, dan Carlos Spoerhase. “The Nobel Roll of honor: Comparing literatures and compiling lists of Nobel laureates in the early twentieth century.” Orbis Litterarum 78, no. 3 (2023): 147–66.

Tabor, Steven R. Constraints to Indonesia’s economic growth. Asian Development Bank, 2015.


[1] Sneis dan Spoerhase, “The Nobel Roll of honor: Comparing literatures and compiling lists of Nobel laureates in the early twentieth century.”

[2] Morton, “The sociology of science.”

[3] Putera dkk., “Increased number of Scopus articles from Indonesia from 1945 to 2020, an analysis of international collaboration, and a comparison with other ASEAN countries from 2016 to 2020.”

[4] Djalante, “A systematic literature review of research trends and authorships on natural hazards, disasters, risk reduction and climate change in Indonesia.”

[5] Serdyukov, “Innovation in education: what works, what doesn’t, and what to do about it?”

[6] Aswicahyono dan Hill, Is Indonesia Trapped in the Middle?

[7] Tabor, Constraints to Indonesia’s economic growth.

[8] Dodani dan LaPorte, “Brain drain from developing countries: how can brain drain be converted into wisdom gain?”

[9] Dong dkk., “A century of science: Globalization of scientific collaborations, citations, and innovations.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: IndonesiaNobel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Next Post

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co