23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Ruben Cornelius Siagian by Ruben Cornelius Siagian
October 8, 2025
in Opini
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Ruben Cornelius Siagian

Pengantar

Pada tahun 2025, dunia kembali menyaksikan gemilangnya ajang Hadiah Nobel, di mana para ilmuwan dari Amerika Serikat dan Jepang berhasil menorehkan prestasi luar biasa di bidang kedokteran dan fisika. Penemuan mereka, yang membuka wawasan baru tentang sistem kekebalan tubuh dan fenomena kuantum, bukan hanya memberi dampak pada ilmu pengetahuan global, tetapi juga menyelamatkan dan meningkatkan kualitas hidup jutaan orang.

Di sisi lain, Indonesia, yang sudah merayakan 80 tahun kemerdekaan, masih menanti momen serupa. Hingga saat ini, belum ada satu pun ilmuwan atau peneliti Indonesia yang berhasil menembus pengakuan dunia melalui Nobel.

Situasi ini bukan sekadar soal penghargaan yang belum diraih. Kondisi ini mengartikan kapasitas ilmiah, kualitas riset, dan inovasi yang masih perlu digarap secara serius. Menanti Nobel adalah cermin dari kemampuan bangsa untuk berpikir kritis, mendorong ilmu pengetahuan, dan menghasilkan inovasi yang mampu memberi manfaat bagi umat manusia secara global.

Latar Belakang Historis

Sejak pertama kali diberikan pada tahun 1901, Hadiah Nobel telah menjadi simbol prestise tertinggi dalam dunia ilmu pengetahuan, sastra, dan perdamaian.[1] Alfred Nobel, penemu dinamit dan deretan paten lainnya, mewariskan kekayaannya dengan visi yang jelas, bahwa mereka menghargai yang mampu memberikan kontribusi signifikan bagi kemanusiaan. Hadiah ini terbagi ke dalam enam kategori utama, mulai dari Fisika, Kimia, dan Kedokteran, hingga Sastra, Perdamaian, dan Ilmu Ekonomi, masing-masing merupakan bidang yang dianggap fundamental bagi kemajuan peradaban.

Pemberian penghargaan ilmiah dapat dianalisis melalui Teori Motivasi dan Insentif dalam Sains. Menurut Merton (1973) dalam The Sociology of Science, penghargaan ilmiah tidak hanya sebagai pengakuan prestasi, tetapi juga memotivasi peneliti untuk berkontribusi pada perkembangan pengetahuan yang bersifat kumulatif.[2] Teori ini menekankan pentingnya struktur institusional dan sistem penghargaan untuk mendorong inovasi. Dalam konteks ini, Hadiah Nobel berfungsi sebagai insentif eksternal yang memperkuat status ilmiah individu dan institusi, sekaligus menciptakan “efek teladan” bagi komunitas ilmiah global.

Sementara dunia terus mencatat prestasi ilmiah yang gemilang, Indonesia menapaki jalannya sendiri setelah meraih kemerdekaan pada 1945. Studi menunjukkan bahwa meski Indonesia memiliki jumlah peneliti yang meningkat secara signifikan dalam dua dekade terakhir, publikasi yang diakui secara internasional masih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.[3][4] Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kapasitas ilmiah dan pengakuan global.

Indonesia memiliki segala potensi untuk bersinar di ranah global, bahwa kekayaan sumber daya alam, budaya yang mendunia, serta keragaman intelektual yang bisa menjadi fondasi inovasi. Namun, penelitian oleh Serdyukov, P. (2017) menegaskan bahwa tanpa dukungan sistemik berupa pendidikan berkualitas, investasi riset, dan budaya ilmiah yang produktif, potensi ini tidak otomatis menghasilkan inovasi yang berdampak global.[5] Studi kasus negara-negara seperti Jepang dan Korea Selatan menunjukkan bahwa investasi konsisten dalam R&D, kolaborasi internasional, dan ekosistem penelitian yang terstruktur merupakan faktor kunci di balik keberhasilan mereka menembus ranah Nobel. Secara fakta bahwa Jepang telah meraih lebih dari 25 Hadiah Nobel di bidang sains sejak 1949, yang sebagian besar berakar dari kebijakan nasional dalam mendukung penelitian fundamental.

Kondisi Indonesia saat ini menunjukkan bahwa potensi besar belum diimbangi dengan sistem penelitian dan inovasi yang kuat. Sehingga perjalanan 80 tahun merdeka bukan sekadar mempertahankan kemerdekaan politik, tetapi juga tentang bagaimana bangsa ini menempatkan dirinya di panggung inovasi global. Hadiah seperti Nobel menjadi cermin pengakuan atas kapasitas ilmiah dan kontribusi nyata bagi umat manusia, sekaligus menandai kesiapan sebuah negara dalam menghadirkan sains yang berdampak luas.

Hambatan Indonesia

Indonesia, meskipun telah merdeka selama delapan dekade, masih menghadapi tantangan serius dalam membangun ekosistem penelitian yang kompetitif di kancah global. Salah satu hambatan paling mendasar adalah rendahnya investasi dalam riset dan pengembangan (R&D). Adapun alokasi anggaran yang hanya di bawah 0,3% dari Produk Domestik Bruto, Indonesia tertinggal jauh dibandingkan negara-negara maju, bahkan di kawasan Asia Tenggara sekalipun.[6][7] Minimnya pendanaan ini bukan sekadar angka, ini berimplikasi pada kemampuan para ilmuwan untuk melakukan penelitian mutakhir, membeli peralatan laboratorium modern, atau menjalankan proyek jangka panjang yang dapat menghasilkan inovasi dunia.

Kualitas pendidikan dan penelitian masih menjadi persoalan serius. Infrastruktur laboratorium yang terbatas, fasilitas penelitian yang kurang memadai, dan akses ke jurnal serta publikasi internasional yang terbatas membuat banyak peneliti berbakat merasa frustrasi. Tidak jarang, para ilmuwan muda yang memiliki potensi justru memilih “melarikan diri” ke luar negeri, mencari lingkungan akademik yang lebih mendukung dan penghargaan yang lebih pantas. Fenomena ini, yang dikenal sebagai brain drain, mengurangi kapasitas Indonesia untuk mencetak inovasi yang bisa diakui secara global.[8]

Kurangnya kolaborasi internasional menjadi penghalang signifikan lainnya. Sejarah menunjukkan bahwa banyak penghargaan Nobel lahir dari kolaborasi global yang intens, di mana para ilmuwan dari berbagai negara bertukar ide, data, dan metode penelitian.[9] Sayangnya, jaringan penelitian internasional Indonesia masih terbatas, sehingga peluang untuk terlibat dalam proyek besar yang berpotensi menghasilkan penemuan revolusioner menjadi kecil.

Tidak kalah penting adalah budaya ilmiah yang belum matang. Sistem penghargaan internal di lembaga penelitian dan universitas masih minim, insentif untuk publikasi bereputasi tinggi terbatas, dan motivasi peneliti muda belum sepenuhnya terbangun. Akibatnya, inovasi yang potensial seringkali berhenti di tahap awal, tanpa mampu menembus panggung global. Tanpa reformasi menyeluruh yang menyasar pendanaan, pendidikan, kolaborasi, dan budaya ilmiah, Indonesia akan terus menghadapi kesulitan dalam menghasilkan prestasi ilmiah yang sejajar dengan negara-negara yang sudah rutin mencetak pemenang Nobel.

Tantangan BRIN untuk mencetak Peneliti Sekelas pemenang Nobel

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) telah dibentuk sebagai payung tunggal riset di tanah air, dengan berbagai layanan mulai dari manajemen talenta, repositori ilmiah, pelatihan institusional, hingga pengelolaan koleksi kebun raya dan laboratorium teknologi nuklir. Secara administratif, struktur BRIN tampak lengkap, modern, dan sangat terdokumentasi dengan baik melalui layanan publik, portal daring, serta sistem e-layanan yang beragam.

Namun, di balik sistem yang rapi ini, realitas yang terjadi di lapangan menunjukkan bahwa kemampuan BRIN untuk mendorong Indonesia meraih Nobel masih terbatas. Banyak program dan layanan yang ada cenderung bersifat administratif dan formalistis misalnya sistem manajemen talenta atau sertifikasi profesi tanpa secara nyata menjawab kebutuhan mendasar penelitian mutakhir yang bersifat inovatif dan kompetitif secara internasional. Ketersediaan fasilitas seperti laboratorium nuklir, repositori ilmiah, atau database mikroorganisme memang penting, tetapi tanpa dukungan dana riset yang signifikan, integrasi penelitian lintas disiplin, dan kolaborasi internasional yang strategis, potensi ini sulit diterjemahkan menjadi penemuan yang diakui dunia.

Yang lebih mengkhawatirkan, sistem yang ada saat ini cenderung menjaring orang berdasarkan ijazah dan sertifikasi formal, sementara banyak individu berbakat yang belajar dan bekerja secara otodidak sering terlewatkan. Ada banyak peneliti, ilmuwan, dan inovator yang memiliki kompetensi luar biasa, tetapi karena tidak sesuai dengan mekanisme sertifikasi atau jalur formal, kontribusi mereka tidak diakui dan potensi mereka terbuang. Fenomena ini menunjukkan adanya disparitas antara kemampuan nyata dan pengakuan formal, yang akhirnya mempersempit basis talenta yang bisa dikembangkan menuju prestasi global.

Banyak layanan BRIN masih fokus pada pengelolaan data, prosedur sertifikasi, dan pelatihan institusional, yang lebih menekankan kepatuhan dan pengelolaan administratif daripada mendorong budaya ilmiah yang produktif dan kreatif. Padahal, Nobel diberikan kepada penemuan yang bersifat transformatif dan berdampak luas bagi umat manusia, bukan sekadar produktivitas administratif atau kepatuhan regulasi. Tanpa insentif yang jelas bagi peneliti untuk mempublikasikan karya mereka di jurnal internasional bereputasi, mengamankan paten, dan mengakses laboratorium kelas dunia, peluang Indonesia mencetak ilmuwan berbasis Nobel tetap tipis.

Solusi dan Rekomendasi

Mendorong Indonesia untuk meraih prestasi ilmiah setara standar dunia, termasuk peluang meraih Nobel, bukanlah tugas yang bisa dilakukan setengah hati. Salah satu langkah yang paling krusial adalah meningkatkan anggaran penelitian dan pengembangan (R&D) secara signifikan, idealnya mencapai 1–2% dari PDB. Tanpa dukungan finansial yang memadai, para peneliti akan terus terbatas pada eksperimen berskala kecil, sulit bersaing di tingkat internasional, dan inovasi bernilai tinggi akan tetap tertahan di laboratorium lokal. Kondisi ini secara implisit menahan laju kemajuan ilmiah bangsa, sekaligus membatasi potensi untuk menembus pengakuan global seperti Hadiah Nobel.

Reformasi pendidikan sains dan teknologi harus dilakukan dari akar. Upaya ini tidak cukup dengan menambah jumlah mata pelajaran sains, melainkan harus membangun budaya berpikir kritis, keterampilan eksperimen, dan kemampuan analitis sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Generasi muda perlu dibiasakan dengan metode ilmiah, pemecahan masalah kompleks, dan keterbukaan terhadap ide baru agar lahir ilmuwan yang benar-benar kompetitif di panggung dunia. Tanpa dasar pendidikan yang kuat, upaya inovasi akan kehilangan fondasi, sementara talenta potensial dapat tersia-siakan karena sistem pendidikan tidak mampu mengenali atau memfasilitasinya secara optimal.

Kehadiran kolaborasi internasional juga menjadi kunci. Ilmuwan dunia yang meraih Nobel jarang bekerja sendirian, bahwa mereka terlibat dalam jaringan global, mengakses laboratorium mutakhir, dan berbagi pengetahuan lintas negara. Indonesia harus membuka pintu bagi peneliti lokal untuk bergabung dalam proyek-proyek global, memperluas wawasan, meningkatkan kualitas publikasi, dan menempatkan penelitian Indonesia di peta sains dunia. Tanpa akses ini, inovasi terbaik sekalipun akan tetap berada di bawah radar pengakuan internasional.

Namun semua upaya tersebut akan sia-sia jika ekosistem penelitian domestik masih lemah. Saat ini, banyak layanan yang ada, seperti sertifikasi dan manajemen talenta, lebih menekankan aspek administratif dan formalitas daripada inovasi kreatif. Sistem yang terlalu terpaku pada ijazah dan sertifikat formal seringkali mengabaikan individu berbakat yang belajar mandiri atau berprestasi di luar jalur resmi. Fenomena ini menimbulkan paradoks, bahwa orang-orang dengan kompetensi nyata terpinggirkan, sementara jalur resmi menjadi penentu pengakuan dan akses terhadap sumber daya. Tanpa fleksibilitas untuk mengenali talenta otodidak, potensi ilmiah bangsa akan terus terkekang.

BRIN, sebagai lembaga pengelola riset nasional, perlu bertransformasi dari institusi administratif menjadi ekosistem inovasi yang produktif, di mana peneliti diberi kebebasan, fasilitas memadai, akses dana, dan jaringan kolaborasi internasional. Apresiasi dan penghargaan nyata terhadap ilmuwan lokal juga sangat penting, tidak sekadar medali atau sertifikat, tetapi pengakuan konkret atas kontribusi ilmiah mereka yang meliputi dana riset, penghargaan publik, dan peluang karier yang menarik. Tanpa langkah-langkah ini, Indonesia akan terus tertahan dalam formalitas administratif, gagal memaksimalkan talenta, dan menunda peluang meraih Nobel pertama yang telah lama dinanti.

Hanya melalui kombinasi strategi finansial, reformasi pendidikan, kolaborasi global, infrastruktur riset yang kuat, dan apresiasi talenta secara nyata, Indonesia dapat membangun kapasitas ilmiah yang tangguh. Sehingga bangsa ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan risetnya, tetapi juga menyiapkan diri untuk suatu hari mendapatkan pengakuan global yang sejajar dengan standar dunia, termasuk peluang meraih Hadiah Nobel pertama bagi tanah air.

Referensi

Aswicahyono, Haryo H, dan Hal Hill. Is Indonesia Trapped in the Middle? Discussion Paper Series, 2015.

Djalante, Riyanti. “A systematic literature review of research trends and authorships on natural hazards, disasters, risk reduction and climate change in Indonesia.” Natural Hazards and Earth System Sciences 18, no. 6 (2018): 1785–810.

Dodani, Sunita, dan Ronald E LaPorte. “Brain drain from developing countries: how can brain drain be converted into wisdom gain?” Journal of the Royal society of Medicine 98, no. 11 (2005): 487–91.

Dong, Yuxiao, Hao Ma, Zhihong Shen, dan Kuansan Wang. “A century of science: Globalization of scientific collaborations, citations, and innovations.” 2017, 1437–46.

Morton, Robert K. “The sociology of science.” Chicago: The University of, 1973.

Putera, Prakoso Bhairawa, Suryanto Suryanto, Sinta Ningrum, Ida Widianingsih, dan Yan Rianto. “Increased number of Scopus articles from Indonesia from 1945 to 2020, an analysis of international collaboration, and a comparison with other ASEAN countries from 2016 to 2020.” Science Editing 9, no. 1 (2022): 62–68.

Serdyukov, Peter. “Innovation in education: what works, what doesn’t, and what to do about it?” Journal of research in innovative teaching & learning 10, no. 1 (2017): 4–33.

Sneis, Jørgen, dan Carlos Spoerhase. “The Nobel Roll of honor: Comparing literatures and compiling lists of Nobel laureates in the early twentieth century.” Orbis Litterarum 78, no. 3 (2023): 147–66.

Tabor, Steven R. Constraints to Indonesia’s economic growth. Asian Development Bank, 2015.


[1] Sneis dan Spoerhase, “The Nobel Roll of honor: Comparing literatures and compiling lists of Nobel laureates in the early twentieth century.”

[2] Morton, “The sociology of science.”

[3] Putera dkk., “Increased number of Scopus articles from Indonesia from 1945 to 2020, an analysis of international collaboration, and a comparison with other ASEAN countries from 2016 to 2020.”

[4] Djalante, “A systematic literature review of research trends and authorships on natural hazards, disasters, risk reduction and climate change in Indonesia.”

[5] Serdyukov, “Innovation in education: what works, what doesn’t, and what to do about it?”

[6] Aswicahyono dan Hill, Is Indonesia Trapped in the Middle?

[7] Tabor, Constraints to Indonesia’s economic growth.

[8] Dodani dan LaPorte, “Brain drain from developing countries: how can brain drain be converted into wisdom gain?”

[9] Dong dkk., “A century of science: Globalization of scientific collaborations, citations, and innovations.”

Penulis: Ruben Cornelius Siagian
Editor: Adnyana Ole

Tags: IndonesiaNobel
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Next Post

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

Ruben Cornelius Siagian

Ruben Cornelius Siagian

Peneliti Independen & Pengamat Kebijakan Publik

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co