2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Sarah Monica by Sarah Monica
October 8, 2025
in Ulas Rupa
Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Pameran Sanggarbambu di Salihara

TELAH hidup selama 66 tahun, Sanggarbambu sebagai sebuah paguyuban seni yang didirikan pada 1 April 1959 di Yogyakarta telah menunjukkan ketahanan dan resiliensinya di tengah zaman. Muncul di periode pertarungan politik, ideologi, dan pencarian identitas kebangsaan, Sanggarbambu seolah menjadi alternatif sekaligus penyeimbang di antara bermacam komunitas seni dan perkumpulan seniman di berbagai daerah, seperti Seniman Indonesia Muda/SIM (1946), Sanggar Pelukis Rakyat (1947), Sanggar Seniman (1952) di Bandung, Sanggar Bumi Tarung (1961) yang underbow Lekra, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia/Lesbumi (1962), Sanggar Dewata Indonesia (1970), serta banyak lainnya.

Ketika sanggar-sanggar seusianya sudah raib dan terkubur oleh waktu, Sanggarbambu berhasil meski tertatih-tatih melewati setengah abad. Publik kini dapat menyaksikan sebagian jejak karya dan arsipnya di pameran bertajuk ‘Di Sini Aku Temukan Kau’ yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara dari tanggal 03 Oktober-07 Desember 2025. Mengingat rekam sejarah dan peran panjangnya dalam gerakan kesenian, penting kiranya bagi generasi sekarang untuk menengok Sanggarbambu sebagai bagian dari warisan kekayaan peradaban seni di Indonesia.

Pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan dan Suwarno Wisetrotomo itu menampilkan anak karya dari 13 seniman Sanggarbambu antara lain Soenarto Prawirohardjono atau lebih dikenal ‘Soenarto Pr.’, beserta adik-adiknya: Soeharto Pr. dan Supono Pr., bersama dengan Syahwil, Mulyadi W., Sudarmadji, Handogo Soekarno, Danarto, Irsam, Kuswandi, Suwartono, Muryoto Hartoyo, dan Titis Jabaruddin. Karya-karya tersebut sebagian besar merupakan koleksi pribadi, sedangkan sebagian lain disimpan di Galeri Nasional Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta.

Pameran Sanggarbambu di Salihara

Dari belasan tokoh seniman tersebut, Soenarto Pr. adalah figur kunci demi memahami mengapa dan bagaimana Sanggarbambu ini berdiri dan berorganisasi. Beliau merupakan pendiri, ketua paling abadi, sosok mpu yang paling mengayomi di balik eksistensi Sanggarbambu. Nasirun, perupa dan kolektor karya seniman-seniman Sanggarbambu pernah menyatakan dalam salah satu wawancara dengan penulis bahwa “Sanggarbambu tidak dipungkiri, memiliki kemelekatan dengan Soenarto Pr. Sanggarbambu adalah Soenarto Pr.; Soenarto Pr. adalah Sanggarbambu.” Dialah yang selama ini menghidupi komunitas, senantiasa berjuang mempertahankan fungsi organisasi, serta mendamaikan konflik antar anggota Sanggarbambu.

‘Puisi Rumah Bambu’ karya Kirdjomulyo dalam pameran Sanggarbambu di Salihara

Dengan kata lain, Soenarto Pr. adalah jiwa dari Sanggarbambu itu sendiri. Nama ‘Sanggarbambu’ diambil Soenarto Pr. dari inspirasi ‘Rumah Bambu’, hasil dekorasinya untuk pagelaran Teater Indonesia milik Kirdjomulyo tahun 1950an. Kirdjomulyo pula yang melontarkan celetukan “To, mau jadi pelukis kok tidak punya sanggar?”, sehingga membakar semangat Soenarto Pr. untuk mendirikan sebuah sanggar seni. Kalimat inilah bersamaan dengan potret diri Soenarto Pr. (1972) berlatar oranye yang menyambut segenap penonton di dinding sisi kiri pintu masuk ruang pameran. Seolah menegaskan kebermulaan Sanggarbambu berasal dari pertanyaan sederhana, namun mendasar tersebut.

Kemanusiaan sebagai Prinsip

Bambu bagi komunitas Sanggarbambu mengandung filosofi mendalam mengenai persatuan, kelenturan, daya tahan, dan kebermanfaatan yang besar bagi umat manusia. Kirdjomulyo lalu menggubah ‘Puisi Rumah Bambu’ sebagai Himne Sanggarbambu. “Di sini aku temukan kau//Di sini aku temukan daku//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//Pandanglah aku/pandanglah aku//Aku di sana dengan hatiku//Dan taruh hati padamu//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//” Dalam puisi itu tergambarkan bahwa “kau” lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang “daku”, bahwa kebersamaan memupuk cinta, dan dari cinta itulah karya-karya tercipta.

Sanggarbambu dari awal terbentuk bukan semata sanggar pelukis, walaupun diiniasi oleh seorang pelukis, melainkan rumah bagi para seniman teater, tari, pematung, pemusik, penyair, bahkan kritikus seni. Mereka berkumpul, beraktivitas, dan berkarya di sana. Melebur tanpa ada sekat antar seni. Rasa kekeluargaan dan persaudaraan menjadi konsep sekaligus metode kerja dalam keorganisasian Sanggarbambu. Nilai-nilai itu yang terus ditanamkan oleh Soenarto Pr. di masa kepemimpinannya, dan berupaya dirawat oleh generasi-generasi sesudahnya.

Pameran Sanggarbambu di Salihara

Pada April 2018, tepat 3 bulan sebelum Soenarto Pr. wafat, penulis sempat melakukan wawancara dengan almarhum. Terduduk di kursi roda usai berjemur pagi, beliau masih dengan keteguhan seorang maestro menyatakan, “Sanggarbambu sejak diresmikan itu non politik, non afiliasi partai. Sikap itu individu sekaligus sebagai bangsa, bukan sebagai golongan-golongan.” Prinsip tersebut dijabarkan secara rinci dalam AD/ART organisasi yang disahkan pada 5 Agustus 1964. Bahwasanya asas dasar Sanggarbambu ialah Pancasila, serta terdiri dari Komisariat Jiwa (Yogyakarta), Komisariat Nafas (Jakarta), dan Komisariat Tubuh (Indonesia).

Secara bergotong-royong seniman Sanggarbambu melaksanakan pementasan dan pameran keliling di sepanjang kota-kota kecil Pulau Jawa hingga Madura. Sanggarbambu menjelma, sebagaimana Totok Buchari (mantan ketua Sanggarbambu) mengistilahkan, “jembatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian”. Kegiatan pameran keliling ini selain sebagai wujud dedikasi seni untuk semangat nasionalisme, juga sebagai strategi mengatasi perebutan hegemoni dan kooptasi lembaga-lembaga kesenian ideologis masa itu.

Setidaknya sampai hari ini Sanggarbambu, dan Soenarto Pr. secara khusus sudah meneladankan bahwa seni bukanlah sekadar gincu untuk mempercantik diri, namun mengemban tanggung jawab moral untuk membela kemanusiaan. Konsekuensi pilihan peran dan karakter komunalnya, Sanggarbambu tak pernah melenggang di gerakan kesenian arus utama, tapi senantiasa menyisir arus tepian, demi bertahan menggapai keabadian. [T]

Jakarta, 7 Oktober 2025

Penulis: Sarah Monica
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas SaliharaPameran Seni RupaSanggarbambuSeni RupaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Franz Kafka dan Boneka yang Hilang: Kisah Cinta, Kehilangan, dan Perubahan

Next Post

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails

Wajah I Made Galung Wiratmaja

by Hartanto
September 10, 2026
0
Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

Read moreDetails

“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

by Hartanto
September 3, 2026
0
“Nectar Waggle” KABUL : Lebah, Garis, dan Kehidupan Kolektif

PADA tanggal 29 Agustus hingga 29 September 2026 nanti, digelar pameran lukisan karya I Ketut Suasana ‘Kabul’. Pameran bertajuk  Nectar...

Read moreDetails

Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

by I Wayan Westa
September 3, 2026
0
Meditasi “Nectar Waggle” Ketut Suasana

DI tengah lingkungan yang rusak, belantara  Kalimantan terbakar, ribuan hektar tanah Subak di Bali   menyusut.  Sebab, dari 80.000 hektar di...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co