24 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Sarah Monica by Sarah Monica
October 8, 2025
in Ulas Rupa
Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Pameran Sanggarbambu di Salihara

TELAH hidup selama 66 tahun, Sanggarbambu sebagai sebuah paguyuban seni yang didirikan pada 1 April 1959 di Yogyakarta telah menunjukkan ketahanan dan resiliensinya di tengah zaman. Muncul di periode pertarungan politik, ideologi, dan pencarian identitas kebangsaan, Sanggarbambu seolah menjadi alternatif sekaligus penyeimbang di antara bermacam komunitas seni dan perkumpulan seniman di berbagai daerah, seperti Seniman Indonesia Muda/SIM (1946), Sanggar Pelukis Rakyat (1947), Sanggar Seniman (1952) di Bandung, Sanggar Bumi Tarung (1961) yang underbow Lekra, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia/Lesbumi (1962), Sanggar Dewata Indonesia (1970), serta banyak lainnya.

Ketika sanggar-sanggar seusianya sudah raib dan terkubur oleh waktu, Sanggarbambu berhasil meski tertatih-tatih melewati setengah abad. Publik kini dapat menyaksikan sebagian jejak karya dan arsipnya di pameran bertajuk ‘Di Sini Aku Temukan Kau’ yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara dari tanggal 03 Oktober-07 Desember 2025. Mengingat rekam sejarah dan peran panjangnya dalam gerakan kesenian, penting kiranya bagi generasi sekarang untuk menengok Sanggarbambu sebagai bagian dari warisan kekayaan peradaban seni di Indonesia.

Pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan dan Suwarno Wisetrotomo itu menampilkan anak karya dari 13 seniman Sanggarbambu antara lain Soenarto Prawirohardjono atau lebih dikenal ‘Soenarto Pr.’, beserta adik-adiknya: Soeharto Pr. dan Supono Pr., bersama dengan Syahwil, Mulyadi W., Sudarmadji, Handogo Soekarno, Danarto, Irsam, Kuswandi, Suwartono, Muryoto Hartoyo, dan Titis Jabaruddin. Karya-karya tersebut sebagian besar merupakan koleksi pribadi, sedangkan sebagian lain disimpan di Galeri Nasional Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta.

Pameran Sanggarbambu di Salihara

Dari belasan tokoh seniman tersebut, Soenarto Pr. adalah figur kunci demi memahami mengapa dan bagaimana Sanggarbambu ini berdiri dan berorganisasi. Beliau merupakan pendiri, ketua paling abadi, sosok mpu yang paling mengayomi di balik eksistensi Sanggarbambu. Nasirun, perupa dan kolektor karya seniman-seniman Sanggarbambu pernah menyatakan dalam salah satu wawancara dengan penulis bahwa “Sanggarbambu tidak dipungkiri, memiliki kemelekatan dengan Soenarto Pr. Sanggarbambu adalah Soenarto Pr.; Soenarto Pr. adalah Sanggarbambu.” Dialah yang selama ini menghidupi komunitas, senantiasa berjuang mempertahankan fungsi organisasi, serta mendamaikan konflik antar anggota Sanggarbambu.

‘Puisi Rumah Bambu’ karya Kirdjomulyo dalam pameran Sanggarbambu di Salihara

Dengan kata lain, Soenarto Pr. adalah jiwa dari Sanggarbambu itu sendiri. Nama ‘Sanggarbambu’ diambil Soenarto Pr. dari inspirasi ‘Rumah Bambu’, hasil dekorasinya untuk pagelaran Teater Indonesia milik Kirdjomulyo tahun 1950an. Kirdjomulyo pula yang melontarkan celetukan “To, mau jadi pelukis kok tidak punya sanggar?”, sehingga membakar semangat Soenarto Pr. untuk mendirikan sebuah sanggar seni. Kalimat inilah bersamaan dengan potret diri Soenarto Pr. (1972) berlatar oranye yang menyambut segenap penonton di dinding sisi kiri pintu masuk ruang pameran. Seolah menegaskan kebermulaan Sanggarbambu berasal dari pertanyaan sederhana, namun mendasar tersebut.

Kemanusiaan sebagai Prinsip

Bambu bagi komunitas Sanggarbambu mengandung filosofi mendalam mengenai persatuan, kelenturan, daya tahan, dan kebermanfaatan yang besar bagi umat manusia. Kirdjomulyo lalu menggubah ‘Puisi Rumah Bambu’ sebagai Himne Sanggarbambu. “Di sini aku temukan kau//Di sini aku temukan daku//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//Pandanglah aku/pandanglah aku//Aku di sana dengan hatiku//Dan taruh hati padamu//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//” Dalam puisi itu tergambarkan bahwa “kau” lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang “daku”, bahwa kebersamaan memupuk cinta, dan dari cinta itulah karya-karya tercipta.

Sanggarbambu dari awal terbentuk bukan semata sanggar pelukis, walaupun diiniasi oleh seorang pelukis, melainkan rumah bagi para seniman teater, tari, pematung, pemusik, penyair, bahkan kritikus seni. Mereka berkumpul, beraktivitas, dan berkarya di sana. Melebur tanpa ada sekat antar seni. Rasa kekeluargaan dan persaudaraan menjadi konsep sekaligus metode kerja dalam keorganisasian Sanggarbambu. Nilai-nilai itu yang terus ditanamkan oleh Soenarto Pr. di masa kepemimpinannya, dan berupaya dirawat oleh generasi-generasi sesudahnya.

Pameran Sanggarbambu di Salihara

Pada April 2018, tepat 3 bulan sebelum Soenarto Pr. wafat, penulis sempat melakukan wawancara dengan almarhum. Terduduk di kursi roda usai berjemur pagi, beliau masih dengan keteguhan seorang maestro menyatakan, “Sanggarbambu sejak diresmikan itu non politik, non afiliasi partai. Sikap itu individu sekaligus sebagai bangsa, bukan sebagai golongan-golongan.” Prinsip tersebut dijabarkan secara rinci dalam AD/ART organisasi yang disahkan pada 5 Agustus 1964. Bahwasanya asas dasar Sanggarbambu ialah Pancasila, serta terdiri dari Komisariat Jiwa (Yogyakarta), Komisariat Nafas (Jakarta), dan Komisariat Tubuh (Indonesia).

Secara bergotong-royong seniman Sanggarbambu melaksanakan pementasan dan pameran keliling di sepanjang kota-kota kecil Pulau Jawa hingga Madura. Sanggarbambu menjelma, sebagaimana Totok Buchari (mantan ketua Sanggarbambu) mengistilahkan, “jembatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian”. Kegiatan pameran keliling ini selain sebagai wujud dedikasi seni untuk semangat nasionalisme, juga sebagai strategi mengatasi perebutan hegemoni dan kooptasi lembaga-lembaga kesenian ideologis masa itu.

Setidaknya sampai hari ini Sanggarbambu, dan Soenarto Pr. secara khusus sudah meneladankan bahwa seni bukanlah sekadar gincu untuk mempercantik diri, namun mengemban tanggung jawab moral untuk membela kemanusiaan. Konsekuensi pilihan peran dan karakter komunalnya, Sanggarbambu tak pernah melenggang di gerakan kesenian arus utama, tapi senantiasa menyisir arus tepian, demi bertahan menggapai keabadian. [T]

Jakarta, 7 Oktober 2025

Penulis: Sarah Monica
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas SaliharaPameran Seni RupaSanggarbambuSeni RupaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Franz Kafka dan Boneka yang Hilang: Kisah Cinta, Kehilangan, dan Perubahan

Next Post

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

by Emi Suy
October 19, 2026
0
Membaca Jejak, Merawat Ingatan: Jelajah Tiga Pulau dalam Foto dan Puisi di Museum Bahari Jakarta

DI Museum Bahari Jakarta, foto dan puisi mempertemukan kita dengan jejak sejarah Pulau Onrust, Cipir, dan Kelor. Melalui Pameran Foto...

Read moreDetails

Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

by Wayan Jengki Sunarta
October 18, 2026
0
Tubuh, Lanskap, dan yang Tak Terucapkan

DALAM karya-karya I Nyoman Darmawan, akrab disapa Kuek, tubuh manusia tidak selalu hadir sebagai sosok utuh dengan batas-batas jelas. Tubuh...

Read moreDetails

Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

by Made Chandra
October 10, 2026
0
Pameran Kolektif, Masih Pentingkah?

KITA yang terlampau serius atau memang ongkos sebuah industri adalah kekakuan kreatifitas. Barangkali unek-unek semacam ini yang berputar-putar di kepalaku...

Read moreDetails

Mengurai Gnosis Perupa Payangan

by I Wayan Westa
September 27, 2026
0
Mengurai Gnosis Perupa Payangan

Dr. Jean Couteau, budayawan asal Prancis pernah berseloroh soal kondisi terkini psiko-budaya generasi Bali. Dalam sejumlah pernyataan lisan maupun tertulis,...

Read moreDetails

Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

by Jaswanto
September 26, 2026
0
Menangkap Pesona Kekuatan Cahaya: Titik Balik Spiritual dan Sikap Politik Susilo Bambang Yudhoyono

PADA siang yang membakar, saya berebut jalanan Surabaya menuju Voza Tower di Jalan Mayjen HR. Muhammad, Putat Gede, Sukomanunggal. Di...

Read moreDetails

Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

by Emi Suy
September 23, 2026
0
Sari Pati yang Tinggal di Kanvas, Ketika Perempuan Membawa Semesta di Dalam Dirinya —Membaca Dunia Imajinasi, Alam, Ingatan, dan Spiritualitas dalam Lukisan Surealisme Dekoratif

Datang Setelah Riuh Saya datang ketika riuh telah selesai. Pameran telah usai dibuka, sebagian pengunjung mulai beranjak, percakapan telah menemukan...

Read moreDetails

Guci Nasib di Titik Nol Kota

by I Wayan Westa
September 22, 2026
0
Guci Nasib di Titik Nol Kota

”….dalam labirin, aku mencari guci nasibku, yang tersimpan dalam kabut kebuntuan, membentur dalam setiap sudut dinding, tak tahu jalan pulang,...

Read moreDetails

Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

by I Wayan Sujana Suklu
September 20, 2026
0
Ketika Tatahan Menembus Kanvas —Membaca Teknik Tembus Tatahan Wayang Dalam Karya I Gede Susilayasa pada Udhar Banda Karma

Menelisik foto karya yang tampak pada pameran, bidang kanvas dipenuhi figur-figur wayang, makhluk mitologis, ornamen, tetumbuhan, dan jaringan garis yang...

Read moreDetails

Membaca Naga Agus Kama Loedin

by I Wayan Westa
September 16, 2026
0
Membaca Naga Agus Kama Loedin

---Venue Art, Batu & Studio, Batubulan, Gianyar, Bali | 12 September 2026 * Pameran "Jaga Raga Bara Jiwa" dibuka  Rektor...

Read moreDetails

Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

by Angga Wijaya
September 16, 2026
0
Pohon Hayat dan Enam Puluh Kuda yang Menjaga Ingatan

Di Agung Rai Museum of Art atau ARMA, Ubud, Bali, pada Juli 2026, sebuah pohon penuh kuda hadir di antara...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co