17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Sarah Monica by Sarah Monica
October 8, 2025
in Ulas Rupa
Sanggarbambu: Menolak Lekang oleh Waktu

Pameran Sanggarbambu di Salihara

TELAH hidup selama 66 tahun, Sanggarbambu sebagai sebuah paguyuban seni yang didirikan pada 1 April 1959 di Yogyakarta telah menunjukkan ketahanan dan resiliensinya di tengah zaman. Muncul di periode pertarungan politik, ideologi, dan pencarian identitas kebangsaan, Sanggarbambu seolah menjadi alternatif sekaligus penyeimbang di antara bermacam komunitas seni dan perkumpulan seniman di berbagai daerah, seperti Seniman Indonesia Muda/SIM (1946), Sanggar Pelukis Rakyat (1947), Sanggar Seniman (1952) di Bandung, Sanggar Bumi Tarung (1961) yang underbow Lekra, Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia/Lesbumi (1962), Sanggar Dewata Indonesia (1970), serta banyak lainnya.

Ketika sanggar-sanggar seusianya sudah raib dan terkubur oleh waktu, Sanggarbambu berhasil meski tertatih-tatih melewati setengah abad. Publik kini dapat menyaksikan sebagian jejak karya dan arsipnya di pameran bertajuk ‘Di Sini Aku Temukan Kau’ yang diselenggarakan oleh Komunitas Salihara dari tanggal 03 Oktober-07 Desember 2025. Mengingat rekam sejarah dan peran panjangnya dalam gerakan kesenian, penting kiranya bagi generasi sekarang untuk menengok Sanggarbambu sebagai bagian dari warisan kekayaan peradaban seni di Indonesia.

Pameran yang dikuratori oleh Asikin Hasan dan Suwarno Wisetrotomo itu menampilkan anak karya dari 13 seniman Sanggarbambu antara lain Soenarto Prawirohardjono atau lebih dikenal ‘Soenarto Pr.’, beserta adik-adiknya: Soeharto Pr. dan Supono Pr., bersama dengan Syahwil, Mulyadi W., Sudarmadji, Handogo Soekarno, Danarto, Irsam, Kuswandi, Suwartono, Muryoto Hartoyo, dan Titis Jabaruddin. Karya-karya tersebut sebagian besar merupakan koleksi pribadi, sedangkan sebagian lain disimpan di Galeri Nasional Indonesia dan Dewan Kesenian Jakarta.

Pameran Sanggarbambu di Salihara

Dari belasan tokoh seniman tersebut, Soenarto Pr. adalah figur kunci demi memahami mengapa dan bagaimana Sanggarbambu ini berdiri dan berorganisasi. Beliau merupakan pendiri, ketua paling abadi, sosok mpu yang paling mengayomi di balik eksistensi Sanggarbambu. Nasirun, perupa dan kolektor karya seniman-seniman Sanggarbambu pernah menyatakan dalam salah satu wawancara dengan penulis bahwa “Sanggarbambu tidak dipungkiri, memiliki kemelekatan dengan Soenarto Pr. Sanggarbambu adalah Soenarto Pr.; Soenarto Pr. adalah Sanggarbambu.” Dialah yang selama ini menghidupi komunitas, senantiasa berjuang mempertahankan fungsi organisasi, serta mendamaikan konflik antar anggota Sanggarbambu.

‘Puisi Rumah Bambu’ karya Kirdjomulyo dalam pameran Sanggarbambu di Salihara

Dengan kata lain, Soenarto Pr. adalah jiwa dari Sanggarbambu itu sendiri. Nama ‘Sanggarbambu’ diambil Soenarto Pr. dari inspirasi ‘Rumah Bambu’, hasil dekorasinya untuk pagelaran Teater Indonesia milik Kirdjomulyo tahun 1950an. Kirdjomulyo pula yang melontarkan celetukan “To, mau jadi pelukis kok tidak punya sanggar?”, sehingga membakar semangat Soenarto Pr. untuk mendirikan sebuah sanggar seni. Kalimat inilah bersamaan dengan potret diri Soenarto Pr. (1972) berlatar oranye yang menyambut segenap penonton di dinding sisi kiri pintu masuk ruang pameran. Seolah menegaskan kebermulaan Sanggarbambu berasal dari pertanyaan sederhana, namun mendasar tersebut.

Kemanusiaan sebagai Prinsip

Bambu bagi komunitas Sanggarbambu mengandung filosofi mendalam mengenai persatuan, kelenturan, daya tahan, dan kebermanfaatan yang besar bagi umat manusia. Kirdjomulyo lalu menggubah ‘Puisi Rumah Bambu’ sebagai Himne Sanggarbambu. “Di sini aku temukan kau//Di sini aku temukan daku//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//Pandanglah aku/pandanglah aku//Aku di sana dengan hatiku//Dan taruh hati padamu//Di sini aku temukan hati//Terasa tiada sendiri//” Dalam puisi itu tergambarkan bahwa “kau” lebih didahulukan dan diutamakan ketimbang “daku”, bahwa kebersamaan memupuk cinta, dan dari cinta itulah karya-karya tercipta.

Sanggarbambu dari awal terbentuk bukan semata sanggar pelukis, walaupun diiniasi oleh seorang pelukis, melainkan rumah bagi para seniman teater, tari, pematung, pemusik, penyair, bahkan kritikus seni. Mereka berkumpul, beraktivitas, dan berkarya di sana. Melebur tanpa ada sekat antar seni. Rasa kekeluargaan dan persaudaraan menjadi konsep sekaligus metode kerja dalam keorganisasian Sanggarbambu. Nilai-nilai itu yang terus ditanamkan oleh Soenarto Pr. di masa kepemimpinannya, dan berupaya dirawat oleh generasi-generasi sesudahnya.

Pameran Sanggarbambu di Salihara

Pada April 2018, tepat 3 bulan sebelum Soenarto Pr. wafat, penulis sempat melakukan wawancara dengan almarhum. Terduduk di kursi roda usai berjemur pagi, beliau masih dengan keteguhan seorang maestro menyatakan, “Sanggarbambu sejak diresmikan itu non politik, non afiliasi partai. Sikap itu individu sekaligus sebagai bangsa, bukan sebagai golongan-golongan.” Prinsip tersebut dijabarkan secara rinci dalam AD/ART organisasi yang disahkan pada 5 Agustus 1964. Bahwasanya asas dasar Sanggarbambu ialah Pancasila, serta terdiri dari Komisariat Jiwa (Yogyakarta), Komisariat Nafas (Jakarta), dan Komisariat Tubuh (Indonesia).

Secara bergotong-royong seniman Sanggarbambu melaksanakan pementasan dan pameran keliling di sepanjang kota-kota kecil Pulau Jawa hingga Madura. Sanggarbambu menjelma, sebagaimana Totok Buchari (mantan ketua Sanggarbambu) mengistilahkan, “jembatan apresiasi masyarakat terhadap kesenian”. Kegiatan pameran keliling ini selain sebagai wujud dedikasi seni untuk semangat nasionalisme, juga sebagai strategi mengatasi perebutan hegemoni dan kooptasi lembaga-lembaga kesenian ideologis masa itu.

Setidaknya sampai hari ini Sanggarbambu, dan Soenarto Pr. secara khusus sudah meneladankan bahwa seni bukanlah sekadar gincu untuk mempercantik diri, namun mengemban tanggung jawab moral untuk membela kemanusiaan. Konsekuensi pilihan peran dan karakter komunalnya, Sanggarbambu tak pernah melenggang di gerakan kesenian arus utama, tapi senantiasa menyisir arus tepian, demi bertahan menggapai keabadian. [T]

Jakarta, 7 Oktober 2025

Penulis: Sarah Monica
Editor: Adnyana Ole

Tags: Komunitas SaliharaPameran Seni RupaSanggarbambuSeni RupaYogyakarta
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Franz Kafka dan Boneka yang Hilang: Kisah Cinta, Kehilangan, dan Perubahan

Next Post

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Sarah Monica

Sarah Monica

Penulis dan peneliti. Buku antologi puisinya “Bangkitnya Kemurungan” (Yogyakarta, 2023) memperoleh penghargaan Anugerah Kawistara 2024 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Barat.

Related Posts

Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Kitab yang Ditulis Alam —Membaca “The Sacred Text of Padma” karya Sumino dan Sarah Kasuhardi

TIDAK semua pengetahuan lahir dari buku. Jauh sebelum manusia mengenal aksara, alam telah lebih dahulu menjadi ruang belajar. Pohon mengajarkan...

Read moreDetails

Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

by Angga Wijaya
July 8, 2026
0
Suardina dan Bahasa Tanah yang Tak Pernah Habis

DI Bale Daja Agung Rai Museum of Art (ARMA), Ubud, aroma tanah bakar seperti masih tertinggal di antara puluhan karya...

Read moreDetails

BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

by Dewa Purwita Sukahet
July 7, 2026
0
BARIK: Catatan Mengunjungi Pameran Sparsa Rupa

“Ring wwang haywa nirāśrayeka gawayen tekeng mahānaśraya” – Niti Sastra SENI rupa kontemporer tidak lagi menekankan pada aspek pemaknaan sebuah...

Read moreDetails

Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

by Mahesa Putra
July 6, 2026
0
Membongkar Praktik Artistik Pada Puisi Sebatang Kara: Dalam Pameran “Dialog Ferdi dan Opus Sastra”

SEPERTI sajian pada menu makan bergizi, yang ditimbang, ditakar, hingga diukur kepada siapa porsi makan ini layak dihidangkan. Kepada tubuh...

Read moreDetails

Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

by Hartanto
July 4, 2026
0
Unconditional Love: Cinta Tanpa Syarat

PADA 3 Juli 2026 digelar pameran senirupa yang cukup menarik, pameran senirupa ini, menurut saya, lahir dari keyakinan bahwa seni...

Read moreDetails

Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

by Mahesa Putra
June 30, 2026
0
Dari Plaju ke Hawkins: Membaca Puisi Dahlia Rasyad Melalui Pendekatan Serial Televisi “Stranger Things” pada Pameran Ferdi

PEMBACA tak perlu mengukur jarak antara Plaju dan Hawkins, apalagi harus repot-repot mencari tahu apa yang hendak dihidangkan di sana,...

Read moreDetails

‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

by Hartanto
June 29, 2026
0
‘Intermedialitas Dialektis’ —Karya Rupa Putu Fajar Arcana & Cerpen Cindy Wijaya

PADA tahun 1999 sampai 2005 saya sempat membantu Bre Redana, mengkurasi karya-karya seni rupa yang berdialog dengan cerpen. Waktu itu,...

Read moreDetails

Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

by Mahesa Putra
June 18, 2026
0
Fragmen Peristiwa pada Pameran ‘Dialog Ferdi dan Opus Sastra’ Minggu Pertama di Palembang

SEJAK pagi langit mendung, angin membuat barisan pohon kelapa di halaman Roemah Tumbuh Kembang menari. Padahal sudah satu minggu ini...

Read moreDetails

Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

by Oka Rusmini
June 15, 2026
0
Menakar Isi Piring, Meruntuhkan Dinding Sakral  —Narasi Domestik Sebagai Episentrum Perlawanan Politis Perupa Perempuan Bali

SEBUAH pertanyaan tidak pernah lahir dari ruang hampa. Di balik kalimat pendek, “What’s for Dinner?” atau “Mau makan malam apa?”,...

Read moreDetails

Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

by Mas Ruscitadewi
June 13, 2026
0
Karya Rupa Saka Rosanta, Dari Reinkarnasi, Pohon Kasih sampai Avatar Word

Ida Kade Saka Rosanta, yang kerap dipanggil Gus Moyo memamerkan karya rupanya di Rumah Berdaya, jalan Raya Sesetan 280 Denpasar....

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026
Panggung

Ketika Kata Menjelma Jiwa: Pesona Lomba Baca Puisi di Festival Seni Bali Jani 2026

SUASANA Citta Kelangen Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, Jumat, 17 Juli 2026, terasa berbeda. Tak terdengar dentuman gamelan atau hingar-bingar...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co