2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
October 8, 2025
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

Bali adalah kisah yang tak pernah usai ditulis. Dari tradisi sampai modern, dari ujung puncak Gunung Agung sampai pantai Kuta,  apa yang dikenal sebagai “Nyegara Gunung”.  Di satu sisi, memang Bali tradisional masih bernapas di Pura, sawah, dan bale banjar—tempat doa, seni, tanah garapan dan adat istiadat berpaut erat dengan bumi dan langit, sekala dan niskala.  Bunyi gamelan mengalun, asepan dan dupa mengepul,  upacara mengikat manusia dengan Hyang Widi Wasa dan para leluhur serta  seluruh aspek kehidupan manusia Bali.

Namun di sisi lain, Bali modern hadir dalam gemerlap lampu hotel, villa, kafe yang penuh turis, serta jalanan yang tak pernah sepi dan sekarang lebih sering macet ketimbang lengang. Ada arsitektur baru, musik asing yang berdansa dengan gamelan, dan generasi muda yang fasih berbahasa asing, menari antara tradisi dan dunia global, menata ulang tradisi ditengah kemajuan jaman.

Betul, keduanya  memang tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Mengisi ruang kosong, melengkapi dengan kemampuan teknologi. Bali lama menjaga akar, menjadi pondasi yang kuat, Bali modern menumbuhkan cabang, ranting dan anak ranting. Seberapa generasi muda dibekali untuk memahami akar budayanya dengan baik, seberapa dalam mereka terlibat berpeluh ikut menjaga tradisi akan nampak ketika benturan peradaban terjadi atau clash of civilizations, dimana identitas budaya dan agama akan menjadi sumber konflik utama jika tidak disadari, jika tidak dikelola dengan baik. (lihat Samuel Huntington).

Dari pertemuan itu, Bali tetap hidup sebagai pulau yang merayakan masa lalu sekaligus menyongsong masa depan menuju Bali yang modern tapi harus tetap menjaga kultur budayanya yang tinggi. Apakah begitu narasi antara data dan fakta, dimana budaya semakin tergerus dengan berkurang dengan adanya gempuran  budaya baru yang dibawa penduduk pendatang dan turis asing? 

Kapan dan berapa lama budaya dan manusia Bali dapat menahan gempuran  mordenitas tersebut?

Kita tak perlu terlalu jauh masuk kepada persoalan soal “berapa lama Bali bisa bertahan”, melainkan sejauh mana Bali mampu beradaptasi tanpa kehilangan inti nilai budaya, tidak kehilangan identitasnya. Selama manusia Bali, desa adat, pura, tanah dan natah serta  kesadaran spiritual tetap dijaga, Bali punya peluang untuk bertahan menghadapi modernisasi dan perkembangan jaman itu.

Modernisme tentu sulit dibendung ataupun ditolak. Anak-anak muda Bali kini hidup di dua dunia: sebagai anak-anak banjar mereka masih ikut ngayah (gotong royong adat), menabuh, menari, kegiatan sekehe teruna teruni yang tak bisa di abaikan (baca: ini yang harus tetap terjaga dan dijaga oleh Banjar)  tapi juga aktif di media sosial, industri kreatif, dan global culture. Ini menciptakan hibridisasi budaya: Bali tidak hilang, tapi berubah dalam bentuk isinya tetap kental.

Jadi, tradisional dan modernisme tidak selalu saling menghapus. Kemampuan beradaptasi, kemampuan ini tidaklah mudah tanpa akar budaya yag kuat. Justru, keduanya bisa melahirkan bentuk baru: Bali yang sakral sekaligus global. Apa selanjutnya, ketika kemajuan teknologi tidak saja memberi manfaat, kemudahan, kecepatan, efisiensi tetapi apa? Sumber Daya Manusia Bali,  pendidikan generasi muda harus ditingkatkan, harus dikembangkan dan didayagunakan agar tidak mematikan dan agar Bali tidak tertinggal hanya sebagai musium dan obyek perkembangan teknologi  dan globalisasi. Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi budaya masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.

Pertanyaannya, mampukah warga Bali menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.

Pertanyaannya, mampukah warga Bali  menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional Bali dengan perkembangan global—termasuk pariwisata, teknologi, komunikasi massa, arsitektur modern, pasar global tentunya merupakan jalinan kontak intens dengan Bali yang kaya tradisi. Kontak ini bukan hanya satu arah; bukan hanya hari ini, sudah berlangsung sejak beberapa dekade,  Bali bereaksi, memilih, menolak, dan mengadaptasi dengan elemen-elemen modern agar bisa selamat sebagai budaya yang hidup.

Para penentu kebijakan tak hanya menatap Bali yang indah yang banyak menghasilkan pundi-pundi PAD saja dari hasil potensi Bali sebagai destinasi budaya dunia. Pemerintah Daerah bersama masyarakat Bali juga harus menjadi penjaga nilai, benteng identitas, dan penopang akar budaya leluhur.

Aturan-aturan yang disusun mesti melindungi ruang sakral, Pura, subak, serta desa adat dari tekanan pembangunan yang serba cepat bukan aturan hanya diatas kertas  seperti macan ompong saat mengahadapi pelanggaran pembangunan yang jelas-jels melanggar RTRW.

Modernisasi memang tak terelakkan,  suatu keniscayaan untuk dihindari,  tetapi tanpa regulasi yang berpihak pada masyarakat adat, melindungi budaya yang sudah diwarisi turun temurun, tidak mengalihkan tanah dan natahnya demi peningkatan ekonomi, demi kehidupan yang modern, harus dapat beradaptasi dengan kemajuan jaman, namun manusia Bali tidak mengingkari dari mana dia berasal. Jika tidak maka manusia Bali akan mudah tercerabut dari jati dirinya.

Membangun tanpa menjual tanah Bali

Merawat, mengelola dan memajukan tradisi tidak dapat dilakukan tanpa adanya tanah dan natah dimana manusia Bali dilahirkan. Bahwa apa yang  dicanangkan dalam penegembagan pariwisata yang modern senantiasa dikaitkan dengan menjual kehidupan tradisi, kehidupan manusia Bali demi keuntungan ekonomi. Namun apakah sepenuhnya hasil pariwisata dinikmati dan mensejahterakn manusia Bali yang berkeadilan?

Dapat dibayangkan jika seluruh atau sebagian orang Bali kehilangan tanah dimana dia melangsungkan kehidupan spiritualnya, kehidupan sosialnya maka cepat atau lambat, tidak akan ada pariwisata yang menghasilkan gemerincing dollar di Bali, tidak ada jutaan wisatawan datang ke Bali. Banyak pemandangan alam yang lebih indah di daerah lain di Indonesia daripada Bali, tetapi kenapa kunjungan wisatawan tidak sebanyak Bali?

Tentu pariwisata di Bali ada karena budaya, upakara, kegiatan adat dan agama Hindu yang tumbuh dan menjadi seni bagian kehidupan manusia Bali sehari-hari menjadi daya tarik wisatawan baik domestik dan manca negara datang ke Bali. Juga  laut, panyai yang indah , jurang, dan suasana alamnya yang menawab.

Oleh karenanya jika tanah dan natah orang Bali tidak dijaga,  dialihkan begitu mudah kepada orang lain maka modernitas, kemajuan globalisasi, apapun nama yang kita sebut, tidak akan menghancurkan tradisi kehidupan manusia Bali, dia akan nadi simbiose yang memperkaya dan memajukan peradaban manusia Bali. Mari meneguhkan diri menjaga tanah Bali, membangun Bali tanpa menjual atau mengadaikan tanah Bali. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I MADE PRIA DHARSANA
Kaji Ulang Tata Ruang Bali — Tata Ruang, Bukan Tata Uang
Tags: baliKolom Tanah AirPariwisatapariwisata baliTanahtanah airtanah bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [35]: Berita Lelayu dari Pesan “Gateway”

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails

Catatan di Tepi Tanah yang Tersisa  —66 Tahun UUPA Bukan Sekadar Angka

by I Made Pria Dharsana
September 10, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH selalu tampak diam. Ia tidak pernah mengeluh ketika batasnya digeser. Tidak berteriak ketika sawah berubah menjadi kawasan perumahan. Tidak...

Read moreDetails

Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

by I Ketut Suar Adnyana
September 5, 2026
0
Menimbang Kata Sebelum Berbicara: Bercermin dari Ucapan Gubernur Bali ’’Diam Kamu’’

DI ruang publik, sebuah pernyataan dapat menjadi lebih berbahaya daripada sebuah kebijakan yang keliru. Kebijakan yang keliru masih mungkin diperbaiki...

Read moreDetails

Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

by Made Bryan Mahararta
September 4, 2026
0
Mengubah Paradigma Penanggulangan Bencana

INDONESIA merupakan salah satu negara yang memiliki tingkat kerentanan bencana yang tinggi. Letak geografis, kondisi geologis, karakter kepulauan, perubahan iklim,...

Read moreDetails

“Anti-Dilution Protection” dalam Perseroan Terbatas:  Menjaga Kepastian Hukum dan Nilai Investasi Pemegang Saham

by I Made Pria Dharsana
September 2, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM praktik bisnis modern, kebutuhan perseroan untuk memperoleh tambahan modal sering kali diwujudkan melalui penerbitan saham baru. Langkah tersebut lazim...

Read moreDetails

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

Read moreDetails

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
0
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [35]: Berita Lelayu dari Pesan “Gateway”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co