23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
October 8, 2025
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

Bali adalah kisah yang tak pernah usai ditulis. Dari tradisi sampai modern, dari ujung puncak Gunung Agung sampai pantai Kuta,  apa yang dikenal sebagai “Nyegara Gunung”.  Di satu sisi, memang Bali tradisional masih bernapas di Pura, sawah, dan bale banjar—tempat doa, seni, tanah garapan dan adat istiadat berpaut erat dengan bumi dan langit, sekala dan niskala.  Bunyi gamelan mengalun, asepan dan dupa mengepul,  upacara mengikat manusia dengan Hyang Widi Wasa dan para leluhur serta  seluruh aspek kehidupan manusia Bali.

Namun di sisi lain, Bali modern hadir dalam gemerlap lampu hotel, villa, kafe yang penuh turis, serta jalanan yang tak pernah sepi dan sekarang lebih sering macet ketimbang lengang. Ada arsitektur baru, musik asing yang berdansa dengan gamelan, dan generasi muda yang fasih berbahasa asing, menari antara tradisi dan dunia global, menata ulang tradisi ditengah kemajuan jaman.

Betul, keduanya  memang tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Mengisi ruang kosong, melengkapi dengan kemampuan teknologi. Bali lama menjaga akar, menjadi pondasi yang kuat, Bali modern menumbuhkan cabang, ranting dan anak ranting. Seberapa generasi muda dibekali untuk memahami akar budayanya dengan baik, seberapa dalam mereka terlibat berpeluh ikut menjaga tradisi akan nampak ketika benturan peradaban terjadi atau clash of civilizations, dimana identitas budaya dan agama akan menjadi sumber konflik utama jika tidak disadari, jika tidak dikelola dengan baik. (lihat Samuel Huntington).

Dari pertemuan itu, Bali tetap hidup sebagai pulau yang merayakan masa lalu sekaligus menyongsong masa depan menuju Bali yang modern tapi harus tetap menjaga kultur budayanya yang tinggi. Apakah begitu narasi antara data dan fakta, dimana budaya semakin tergerus dengan berkurang dengan adanya gempuran  budaya baru yang dibawa penduduk pendatang dan turis asing? 

Kapan dan berapa lama budaya dan manusia Bali dapat menahan gempuran  mordenitas tersebut?

Kita tak perlu terlalu jauh masuk kepada persoalan soal “berapa lama Bali bisa bertahan”, melainkan sejauh mana Bali mampu beradaptasi tanpa kehilangan inti nilai budaya, tidak kehilangan identitasnya. Selama manusia Bali, desa adat, pura, tanah dan natah serta  kesadaran spiritual tetap dijaga, Bali punya peluang untuk bertahan menghadapi modernisasi dan perkembangan jaman itu.

Modernisme tentu sulit dibendung ataupun ditolak. Anak-anak muda Bali kini hidup di dua dunia: sebagai anak-anak banjar mereka masih ikut ngayah (gotong royong adat), menabuh, menari, kegiatan sekehe teruna teruni yang tak bisa di abaikan (baca: ini yang harus tetap terjaga dan dijaga oleh Banjar)  tapi juga aktif di media sosial, industri kreatif, dan global culture. Ini menciptakan hibridisasi budaya: Bali tidak hilang, tapi berubah dalam bentuk isinya tetap kental.

Jadi, tradisional dan modernisme tidak selalu saling menghapus. Kemampuan beradaptasi, kemampuan ini tidaklah mudah tanpa akar budaya yag kuat. Justru, keduanya bisa melahirkan bentuk baru: Bali yang sakral sekaligus global. Apa selanjutnya, ketika kemajuan teknologi tidak saja memberi manfaat, kemudahan, kecepatan, efisiensi tetapi apa? Sumber Daya Manusia Bali,  pendidikan generasi muda harus ditingkatkan, harus dikembangkan dan didayagunakan agar tidak mematikan dan agar Bali tidak tertinggal hanya sebagai musium dan obyek perkembangan teknologi  dan globalisasi. Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi budaya masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.

Pertanyaannya, mampukah warga Bali menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.

Pertanyaannya, mampukah warga Bali  menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional Bali dengan perkembangan global—termasuk pariwisata, teknologi, komunikasi massa, arsitektur modern, pasar global tentunya merupakan jalinan kontak intens dengan Bali yang kaya tradisi. Kontak ini bukan hanya satu arah; bukan hanya hari ini, sudah berlangsung sejak beberapa dekade,  Bali bereaksi, memilih, menolak, dan mengadaptasi dengan elemen-elemen modern agar bisa selamat sebagai budaya yang hidup.

Para penentu kebijakan tak hanya menatap Bali yang indah yang banyak menghasilkan pundi-pundi PAD saja dari hasil potensi Bali sebagai destinasi budaya dunia. Pemerintah Daerah bersama masyarakat Bali juga harus menjadi penjaga nilai, benteng identitas, dan penopang akar budaya leluhur.

Aturan-aturan yang disusun mesti melindungi ruang sakral, Pura, subak, serta desa adat dari tekanan pembangunan yang serba cepat bukan aturan hanya diatas kertas  seperti macan ompong saat mengahadapi pelanggaran pembangunan yang jelas-jels melanggar RTRW.

Modernisasi memang tak terelakkan,  suatu keniscayaan untuk dihindari,  tetapi tanpa regulasi yang berpihak pada masyarakat adat, melindungi budaya yang sudah diwarisi turun temurun, tidak mengalihkan tanah dan natahnya demi peningkatan ekonomi, demi kehidupan yang modern, harus dapat beradaptasi dengan kemajuan jaman, namun manusia Bali tidak mengingkari dari mana dia berasal. Jika tidak maka manusia Bali akan mudah tercerabut dari jati dirinya.

Membangun tanpa menjual tanah Bali

Merawat, mengelola dan memajukan tradisi tidak dapat dilakukan tanpa adanya tanah dan natah dimana manusia Bali dilahirkan. Bahwa apa yang  dicanangkan dalam penegembagan pariwisata yang modern senantiasa dikaitkan dengan menjual kehidupan tradisi, kehidupan manusia Bali demi keuntungan ekonomi. Namun apakah sepenuhnya hasil pariwisata dinikmati dan mensejahterakn manusia Bali yang berkeadilan?

Dapat dibayangkan jika seluruh atau sebagian orang Bali kehilangan tanah dimana dia melangsungkan kehidupan spiritualnya, kehidupan sosialnya maka cepat atau lambat, tidak akan ada pariwisata yang menghasilkan gemerincing dollar di Bali, tidak ada jutaan wisatawan datang ke Bali. Banyak pemandangan alam yang lebih indah di daerah lain di Indonesia daripada Bali, tetapi kenapa kunjungan wisatawan tidak sebanyak Bali?

Tentu pariwisata di Bali ada karena budaya, upakara, kegiatan adat dan agama Hindu yang tumbuh dan menjadi seni bagian kehidupan manusia Bali sehari-hari menjadi daya tarik wisatawan baik domestik dan manca negara datang ke Bali. Juga  laut, panyai yang indah , jurang, dan suasana alamnya yang menawab.

Oleh karenanya jika tanah dan natah orang Bali tidak dijaga,  dialihkan begitu mudah kepada orang lain maka modernitas, kemajuan globalisasi, apapun nama yang kita sebut, tidak akan menghancurkan tradisi kehidupan manusia Bali, dia akan nadi simbiose yang memperkaya dan memajukan peradaban manusia Bali. Mari meneguhkan diri menjaga tanah Bali, membangun Bali tanpa menjual atau mengadaikan tanah Bali. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I MADE PRIA DHARSANA
Kaji Ulang Tata Ruang Bali — Tata Ruang, Bukan Tata Uang
Tags: baliKolom Tanah AirPariwisatapariwisata baliTanahtanah airtanah bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [35]: Berita Lelayu dari Pesan “Gateway”

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

Read moreDetails

Perjanjian Kawin Campuran dan Hak Mewaris: Ketika Pisah Harta Berhadapan dengan Hak Pasangan yang Ditinggalkan

by I Made Pria Dharsana
October 14, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PERJANJIAN perkawinan dibuat untuk memberikan kepastian hukum atas harta suami dan istri. Namun, bagaimana jika kesepakatan pisah harta yang semula...

Read moreDetails

Transformasi Kontrak Digital dan Masa Depan Notaris Indonesia…

by I Made Pria Dharsana
October 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

SEMUA orang bicara kontrak/perjanjian digital. Apakah ini hanya tren teknologi, atau sudah menjadi realitas hukum? Perkembangan teknologi digitalisasi begitu pesatnya,...

Read moreDetails

Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

by I Ketut Suar Adnyana
October 7, 2026
0
Ketika Keramahan Bali Diuji: Antara Pelayanan dan Kesantunan Berbahasa

BALI dikenal dunia bukan hanya karena keindahan alam, kekayaan budaya, dan keunikan tradisinya. Ada satu kekuatan lain yang selama puluhan...

Read moreDetails

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
0
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

Read moreDetails

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
0
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

Read moreDetails

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026
0
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

Read moreDetails

66 Tahun UUPA —Di Tengah 81 Tahun Kemerdekaan, Antara Cita-Cita dan Realitas Agraria Menakar Konsistensi Negara dalam Mewujudkan Keadilan, Kepastian Hukum, dan Kesejahteraan Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 24, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Enam puluh enam tahun Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) dan 81 tahun Indonesia merdeka merupakan momentum penting untuk kembali bertanya: sejauh...

Read moreDetails

Mengantisipasi Mafia Tanah di Indonesia

by I Made Pria Dharsana
September 23, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

 Land and investment. Nowadays, it not only has a social function, but has become an economic and political commodity. Mendengar...

Read moreDetails

BANK TANAH DAN KITA —Antara Reforma Agraria, Kepentingan Investasi, dan Masa Depan Ruang Hidup Rakyat

by I Made Pria Dharsana
September 16, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH yang dikuasai negara bukan sekadar benda tidak bergerak yang dapat dipindahkan dari satu tangan ke tangan lain. Di atasnya...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [35]: Berita Lelayu dari Pesan “Gateway”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co