23 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Tradisional versus Modernitas: Pembangunan Jangan Menghancurkan Bali

I Made Pria Dharsana by I Made Pria Dharsana
October 8, 2025
in Opini
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Made Pria Dharsana

Bali adalah kisah yang tak pernah usai ditulis. Dari tradisi sampai modern, dari ujung puncak Gunung Agung sampai pantai Kuta,  apa yang dikenal sebagai “Nyegara Gunung”.  Di satu sisi, memang Bali tradisional masih bernapas di Pura, sawah, dan bale banjar—tempat doa, seni, tanah garapan dan adat istiadat berpaut erat dengan bumi dan langit, sekala dan niskala.  Bunyi gamelan mengalun, asepan dan dupa mengepul,  upacara mengikat manusia dengan Hyang Widi Wasa dan para leluhur serta  seluruh aspek kehidupan manusia Bali.

Namun di sisi lain, Bali modern hadir dalam gemerlap lampu hotel, villa, kafe yang penuh turis, serta jalanan yang tak pernah sepi dan sekarang lebih sering macet ketimbang lengang. Ada arsitektur baru, musik asing yang berdansa dengan gamelan, dan generasi muda yang fasih berbahasa asing, menari antara tradisi dan dunia global, menata ulang tradisi ditengah kemajuan jaman.

Betul, keduanya  memang tidak saling meniadakan, melainkan saling melengkapi. Mengisi ruang kosong, melengkapi dengan kemampuan teknologi. Bali lama menjaga akar, menjadi pondasi yang kuat, Bali modern menumbuhkan cabang, ranting dan anak ranting. Seberapa generasi muda dibekali untuk memahami akar budayanya dengan baik, seberapa dalam mereka terlibat berpeluh ikut menjaga tradisi akan nampak ketika benturan peradaban terjadi atau clash of civilizations, dimana identitas budaya dan agama akan menjadi sumber konflik utama jika tidak disadari, jika tidak dikelola dengan baik. (lihat Samuel Huntington).

Dari pertemuan itu, Bali tetap hidup sebagai pulau yang merayakan masa lalu sekaligus menyongsong masa depan menuju Bali yang modern tapi harus tetap menjaga kultur budayanya yang tinggi. Apakah begitu narasi antara data dan fakta, dimana budaya semakin tergerus dengan berkurang dengan adanya gempuran  budaya baru yang dibawa penduduk pendatang dan turis asing? 

Kapan dan berapa lama budaya dan manusia Bali dapat menahan gempuran  mordenitas tersebut?

Kita tak perlu terlalu jauh masuk kepada persoalan soal “berapa lama Bali bisa bertahan”, melainkan sejauh mana Bali mampu beradaptasi tanpa kehilangan inti nilai budaya, tidak kehilangan identitasnya. Selama manusia Bali, desa adat, pura, tanah dan natah serta  kesadaran spiritual tetap dijaga, Bali punya peluang untuk bertahan menghadapi modernisasi dan perkembangan jaman itu.

Modernisme tentu sulit dibendung ataupun ditolak. Anak-anak muda Bali kini hidup di dua dunia: sebagai anak-anak banjar mereka masih ikut ngayah (gotong royong adat), menabuh, menari, kegiatan sekehe teruna teruni yang tak bisa di abaikan (baca: ini yang harus tetap terjaga dan dijaga oleh Banjar)  tapi juga aktif di media sosial, industri kreatif, dan global culture. Ini menciptakan hibridisasi budaya: Bali tidak hilang, tapi berubah dalam bentuk isinya tetap kental.

Jadi, tradisional dan modernisme tidak selalu saling menghapus. Kemampuan beradaptasi, kemampuan ini tidaklah mudah tanpa akar budaya yag kuat. Justru, keduanya bisa melahirkan bentuk baru: Bali yang sakral sekaligus global. Apa selanjutnya, ketika kemajuan teknologi tidak saja memberi manfaat, kemudahan, kecepatan, efisiensi tetapi apa? Sumber Daya Manusia Bali,  pendidikan generasi muda harus ditingkatkan, harus dikembangkan dan didayagunakan agar tidak mematikan dan agar Bali tidak tertinggal hanya sebagai musium dan obyek perkembangan teknologi  dan globalisasi. Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi budaya masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.

Pertanyaannya, mampukah warga Bali menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional menjaga akar identitas dan makna filosofi masyarakatnya dan modernisme juga membawa tantangan sekaligus peluang.

Pertanyaannya, mampukah warga Bali  menjaga itu dalam tempo yang cukup panjang? Why not? Pertemuan tradisional Bali dengan perkembangan global—termasuk pariwisata, teknologi, komunikasi massa, arsitektur modern, pasar global tentunya merupakan jalinan kontak intens dengan Bali yang kaya tradisi. Kontak ini bukan hanya satu arah; bukan hanya hari ini, sudah berlangsung sejak beberapa dekade,  Bali bereaksi, memilih, menolak, dan mengadaptasi dengan elemen-elemen modern agar bisa selamat sebagai budaya yang hidup.

Para penentu kebijakan tak hanya menatap Bali yang indah yang banyak menghasilkan pundi-pundi PAD saja dari hasil potensi Bali sebagai destinasi budaya dunia. Pemerintah Daerah bersama masyarakat Bali juga harus menjadi penjaga nilai, benteng identitas, dan penopang akar budaya leluhur.

Aturan-aturan yang disusun mesti melindungi ruang sakral, Pura, subak, serta desa adat dari tekanan pembangunan yang serba cepat bukan aturan hanya diatas kertas  seperti macan ompong saat mengahadapi pelanggaran pembangunan yang jelas-jels melanggar RTRW.

Modernisasi memang tak terelakkan,  suatu keniscayaan untuk dihindari,  tetapi tanpa regulasi yang berpihak pada masyarakat adat, melindungi budaya yang sudah diwarisi turun temurun, tidak mengalihkan tanah dan natahnya demi peningkatan ekonomi, demi kehidupan yang modern, harus dapat beradaptasi dengan kemajuan jaman, namun manusia Bali tidak mengingkari dari mana dia berasal. Jika tidak maka manusia Bali akan mudah tercerabut dari jati dirinya.

Membangun tanpa menjual tanah Bali

Merawat, mengelola dan memajukan tradisi tidak dapat dilakukan tanpa adanya tanah dan natah dimana manusia Bali dilahirkan. Bahwa apa yang  dicanangkan dalam penegembagan pariwisata yang modern senantiasa dikaitkan dengan menjual kehidupan tradisi, kehidupan manusia Bali demi keuntungan ekonomi. Namun apakah sepenuhnya hasil pariwisata dinikmati dan mensejahterakn manusia Bali yang berkeadilan?

Dapat dibayangkan jika seluruh atau sebagian orang Bali kehilangan tanah dimana dia melangsungkan kehidupan spiritualnya, kehidupan sosialnya maka cepat atau lambat, tidak akan ada pariwisata yang menghasilkan gemerincing dollar di Bali, tidak ada jutaan wisatawan datang ke Bali. Banyak pemandangan alam yang lebih indah di daerah lain di Indonesia daripada Bali, tetapi kenapa kunjungan wisatawan tidak sebanyak Bali?

Tentu pariwisata di Bali ada karena budaya, upakara, kegiatan adat dan agama Hindu yang tumbuh dan menjadi seni bagian kehidupan manusia Bali sehari-hari menjadi daya tarik wisatawan baik domestik dan manca negara datang ke Bali. Juga  laut, panyai yang indah , jurang, dan suasana alamnya yang menawab.

Oleh karenanya jika tanah dan natah orang Bali tidak dijaga,  dialihkan begitu mudah kepada orang lain maka modernitas, kemajuan globalisasi, apapun nama yang kita sebut, tidak akan menghancurkan tradisi kehidupan manusia Bali, dia akan nadi simbiose yang memperkaya dan memajukan peradaban manusia Bali. Mari meneguhkan diri menjaga tanah Bali, membangun Bali tanpa menjual atau mengadaikan tanah Bali. [T]

Penulis: I Made Pria Dharsana
Editor: Adnyana Ole

  • BACA artikel lain dari penulis I MADE PRIA DHARSANA
Kaji Ulang Tata Ruang Bali — Tata Ruang, Bukan Tata Uang
Tags: baliKolom Tanah AirPariwisatapariwisata baliTanahtanah airtanah bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

80 Tahun Merdeka, Mengapa Nobel Masih Jauh Dari Jangkauan?

Next Post

Kampusku Sarang Hantu [35]: Berita Lelayu dari Pesan “Gateway”

I Made Pria Dharsana

I Made Pria Dharsana

Praktisi, akademisi dan penggiat Prabu Capung Mas

Related Posts

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

Read moreDetails

Tanah Dijual, Adat Ditinggal —Alarm Krisis Tanah Bali di Tengah Arus Investasi

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

MASYARAKAT Bali sejatinya tidak kekurangan aturan untuk menjaga tanahnya yang kerap diuji , justru adalah keteguhan untuk mempertahankannya. Di tengah...

Read moreDetails

BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

by I Gede Joni Suhartawan
April 13, 2026
0
BALI: ANAK EMAS ATAU ANAK TIRI? —Sepotong Paradoks Bali di Pusat Kekuasaan Republik

BEGINILAH sebuah paradoks yang dilakoni Bali ketika berada di jagat politik anggaran Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta: Bali adalah si...

Read moreDetails

BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

by I Gede Joni Suhartawan
April 12, 2026
0
BALI DALAM JEPITAN —Membaca Skenario di Balik Tekanan Terhadap Koster

BELAKANGAN ini, wajah politik di Bali tampak tidak sedang baik-baik saja. Jika kita jeli membaca arah angin dari Jakarta, ada...

Read moreDetails

Singkong dan Dosa Orde Baru

by Jaswanto
April 9, 2026
0
Singkong dan Dosa Orde Baru

RASANYA gurih, meski hanya dibubuhi garam. Teksturnya lembut sekaligus sedikit lengket di lidah. Tampilannya sederhana saja, mencerminkan masyarakat yang mengolah...

Read moreDetails

Rekonstruksi Status Tanah ‘Ex Eigendom Verponding’: Antara Legalitas Formal dan Penguasaan Fisik dalam Perspektif Keadilan Agraria

by I Made Pria Dharsana
April 8, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TANAH bekas hak barat berupa eigendom verponding menyisakan persoalan hukum yang tidak pernah sepenuhnya selesai sejak berlakunya Undang-Undang Pokok Agraria....

Read moreDetails

Notaris di Ujung Integritas: Ketika Etika Gagal Menyelamatkan Moral

by I Made Pria Dharsana
April 5, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Kepercayaan publik terhadap notaris tidak runtuh dalam satu peristiwa besar, ia retak perlahan, dari satu kompromi kecil ke kompromi berikutnya....

Read moreDetails

Cybernotary, UUJN, dan UU ITE 2025:  Payung Hukum Ada, Notaris Masih di Persimpangan Digital

by I Made Pria Dharsana
April 1, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

TRANSFORMASI digital telah mengguncang hampir seluruh praktik hukum di Indonesia, termasuk jabatan notaris. Konsep cybernotary kini bukan sekadar wacana akademik,...

Read moreDetails

Bunga, Denda, dan Moralitas Kreditur: Ketika Kontrak Menjadi Alat Tekanan

by I Made Pria Dharsana
March 30, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

Ada satu pertanyaan yang jarang disentuh secara jujur dalam praktik perbankan: apakah kreditur selalu berada dalam posisi beritikad baik, bahkan...

Read moreDetails

Bali: Destinasi Wisata Dunia atau Simpul Energi Nasional? —Sebuah Persimpangan Peradaban

by I Made Pria Dharsana
March 25, 2026
0
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto

PULAU Bali hari ini tidak sekadar berdiri sebagai ruang geografis, tetapi sebagai simbol. Ia adalah representasi wajah Indonesia di mata...

Read moreDetails
Next Post
Kampusku Sarang Hantu [1]: Ruang Kuliah 13 yang Mencekam

Kampusku Sarang Hantu [35]: Berita Lelayu dari Pesan “Gateway”

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    Berlari, Berbagi, Bereuni —Cerita dari Alumni Smansa Charity Fun Run 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • I Nyoman Martono, Kreator Ogoh Ogoh ‘Regek Tungek’ yang Karya-karyanya Kerap Viral Tapi Namanya Jarang Disebut

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Janji-janji Jepang’
Esai

‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

by Angga Wijaya
April 23, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

by Chusmeru
April 23, 2026
Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma
Esai

Bumi sebagai Ibu: Warisan Sanātana Dharma

DALAM tradisi Sanātana Dharma, bumi tidak pernah diposisikan sebagai objek mati. Ia adalah ibu—hidup, sadar, dan layak dihormati. Konsep Bhumi...

by Agung Sudarsa
April 22, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

PTSL di Persimpangan: Antara Legalisasi Aset dan Ledakan Sengketa

PROGRAM Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL) sejak awal dirancang sebagai jawaban negara atas persoalan klasik pertanahan: ketidakpastian hukum. Amanat tersebut...

by I Made Pria Dharsana
April 22, 2026
‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang
Ulas Musik

‘Panggil Namaku Kartini Saja’: Navicula, Kartini Kendeng, dan Nyanyian Perlawanan yang Tak Lekang

SAYA masih ingat pertama kali menonton video klip lagu “Kartini” dari Navicula. Klip yang sederhana, tidak ada dramatisasi berlebihan. Yang...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali
Khas

Menanam Waktu di Tubuh Bumi —Performance Art Project No-Audiens di Bukit Arkana Sawe dan Segara Ambengan, Negara–Bali

“Menanam Waktu di Tubuh Bumi” Saniscara Tumpek Landep 18 april 2026, hadir sebagai sebuah praktik performance art tanpa audiens (no-audiens),...

by I Wayan Sujana Suklu
April 22, 2026
Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini
Panggung

Stan Kreatif dan Gelar Karya Jadi Cara Siswa SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar Memaknai Hari Kartini

GERIMIS turun tipis di halaman SMK Kesehatan Bali Medika Denpasar (Kesbam) pada Senin pagi, 21 April 2026. Langit tampak mendung,...

by Dede Putra Wiguna
April 22, 2026
‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎
Pameran

‘Pelestarian Lingkungan’, Pameran Tunggal Made Subrata di Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎

MENUNGGU antrean check in, pasangan wisatawan mancanegara ini duduk manis di area lobi Hotel 1O1 Oasis Sanur‎‎. Mereka meletakkan tas,...

by Nyoman Budarsana
April 21, 2026
Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja
Pendidikan

Perempuan dan Buku, Peringatan Hari Kartini di SMP Negeri 1 Singaraja

Dalam rangka memperingati Hari Kartini, terbitlah kegiatan Talkshow dengan tema “ Perempuan Masa Kini dan Persamaan Gender”, di Ruang Guru...

by tatkala
April 21, 2026
Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi
Esai

Kartini Agraris: Wajah Baru Ketahanan Gizi

JIKA satu abad lalu Raden Ajeng Kartini menggunakan pena dan kertas untuk meruntuhkan tembok pingit, kini generasi penerusnya khususnya perempuan...

by Dodik Suprayogi
April 21, 2026
‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil
Lingkungan

‘Base Line Data’, Upaya untuk Mendeteks Perdagangan Liar Tukik di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil

KEBERADAAN tukik atau penyu di Kawasan Bentang Laut Sunda Kecil yang meliputi Bali, NTB dan NTT,  telah memberi dampak positif...

by Son Lomri
April 21, 2026
I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan
Persona

I Gusti Agung Ratih Krisnandari Putri dan Perpaduan Unik Sosok Perempuan: Dokter, Pengusaha dan Pendidikan

PEREMPUAN muda yang memilih jadi pengusaha di Buleleng barangkali tidak sebanyak laki-laki, namun kehadiran mereka pastilah memberi pengaruh besar pada...

by Made Adnyana Ole
April 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co