LIBURAN musim panas belum berakhir, Sasha memutuskan untuk pergi ke perpustakaan bersama kucing kesayangannya, Goro. Sasha adalah seorang gadis berjiwa bebas. Tak ada labirin yang tak takluk dalam jejaknya. Petualangan dan kebebasan serupa kedua sayapnya – membawanya terbang ke mana yang ia tuju. Misteri baginya adalah ketidakterungkapan yang perlu diungkap. Ia adalah “penjelajah gila.” Begitu teman-temannya menjulukinya.
“Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.” Begitu kalimat yang tertulis di dalam sobekan kertas buram itu. Bagi “penjelajah gila”, itu adalah misteri yang mengusik penasarannya. Ketika rasa penasaran menjadi jalan kebenaran, maka sebuah misteri yang tersembunyi di antara rumpun tabir bisa saja terungkap.
Baginya, buku yang ia baca adalah peta untuk mengungkapkan hal yang tidak terungkap. Setiap kali ke perpustakaan, ia seperti masuk ke pintu dimensi penjelajahan baru yang penuh misteri. Ia berkarib dengan “kegilaannya” sendiri. Di rak usang perpustakaan itu, tumpukan buku adalah harta karun yang ia cari. Salah satu buku sastra klasik: terlihat kuno, berdebu dan sedikit berjamur – cukup menarik perhatiannya. Ia membaca dengan detail setiap lembar halamannya. Sesaat kemudian, ia terperanjat saat menemukan sobekan kertas buram kusam misterius terlipat di dalam buku.
“Hmmm, ini sebuah teka-teki misterius,” gumamnya lirih, sesekali matanya tertuju pada Goro yang sedang asyik mengibas-ngibaskan ekornya.
“Ayo Goro, misteri ini perlu dipecahkan!” Tiba-tiba suaranya memecah kesunyian ruangan perpustakaan.
Langkahnya terhenti, sesaat setelah ia mendengar sebuah bisikan lirih di telinganya. Misterius. Tak sepatah kata pun terucap, ia perlahan memejamkan kedua matanya – berharap hening menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di kepalanya.
“Temukanlah, jejakmu adalah petunjuk!” Begitu bisikan itu terdengar.
Dahinya berkerut – di setiap kerutnya, ia mulai menjelajahi bisikan yang bersembunyi di lorong pikirannya. Tak ada yang bisa terdengar, selain keringat dingin yang luruh dalam gigil.
“Brukkkkk.” Tubuh mungilnya terhuyung membentur rak buku, terjatuh, dan membujur di lantai.
Suara itu terdengar oleh pengunjung perpustakaan yang lain. Mata mereka mulai menyelisik sumber suara itu. Sasha pingsan di antara deretan rak buku. Beberapa pengunjung perpustakaan mulai riuh dan panik. Di antara mereka ada yang mencoba memberikan pertolongan sementara, seperti: mengoleskan balsam, melonggarkan ikat pinggang, dan memberikan terapi aroma di hidung. Tetap saja ia belum sadarkan diri. Akhirya petugas perpustakaan mendatangkan petugas medis dan ambulans.
Sasha berjuang untuk memulihkan kesadarannya. Tubuhnya seolah mati rasa. Kedua matanya berkedip-kedip – berusaha untuk melihat sekelilingnya. Gelap. Hanya suara sirene ambulans, Goro yang mengeong, dan lalu lalang kendaraan yang sayup terdengar. Tiba-tiba bisikan itu terdengar lagi.
“Temukanlah, jejakmu adalah petunjuk!”
Shasa tertegun beberapa saat. Mulutnya seolah terkunci rapat, padahal pertanyaan-pertanyaan berjejal di benaknya. Kesadarannya berangsur-angsur pulih. Perlahan, kedua matanya mulai terbuka. Ruangan serba putih, kasur busa lengkap dengan sandaran yang bisa diatur, dan besi tempat gantungan infus. Hidungnya terasa risih dengan selang yang terhubung dengan tabung oksigen di samping kepalanya.
“Kesadaranmu telah kembali, istirahatlah agar segera pulih!” Terdengar suara lelaki berjubah putih dan berkalung stetoskop yang menghampirinya.
“Saya hanya pingsan saja, Dok. Tidak perlu rawat inap.” Begitu Sasha menjawab dokter jaga itu.
Ingatan Sasha hanya tertuju pada bisikan saat dirinya terkulai di dalam ambulans yang membawanya dari perpustakaan. Pertanyaan-pertanyaan hinggap di kepalanya: siapa yang harus ditemukan? Kenapa dirinya yang diminta mencari? Dan untuk apa ia harus menemukan? Akhirnya ia memutuskan untuk sesegera mungkin meninggalkan rumah sakit.
Sasha bergegas ke luar dari rumah sakit. Ia tidak tahu persis ke mana harus pergi. Goro, tiba-tiba menggigit dan menarik-narik celananya – seolah-olah mau menunjukkan sesuatu. Dan benar adanya, tidak jauh dari rumah sakit itu ternyata ada sebuah galeri seni. Sebuah tempat yang memajang lukisan-lukisan klasik di kota itu. Suasananya asri. Rindang beringin menaungi joglo jati yang mungkin juga sudah berusia puluhan tahun.
Dari sekian banyak lukisan itu, salah satu lukisan klasik yang mengundang takjub Sasha adalah lukisan yang menggambarkan fragmen pertarungan Jatayu dengan Rahwana yang sedang menculik Dewi Shinta. Ia merasakan seperti ada getaran yang tidak biasa saat memperhatikan lukisan itu. Dan benar saja, matanya kembali terbelalak setelah melihat keterangan di lukisan itu. Selain tertulis nama pelukis dan tanggal pembuatan karya – juga tertulis “Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.” Ia menoleh ke Goro, dahinya berkerut, kedua bahunya diangkat, dan kedua telapak tangan terbuka – mengisyaratkan keheranan.
Sasha melihat lebih detil lukisan itu, matanya seperti mesin pemindai wajah – merekam semua bagian obyek yang dilihatnya. Dari pengamatannya, ia mendapati sorot kedua mata Dewi Shinta dalam lukisan itu terlihat berkaca-kaca. Posisi lukisan itu berada di pilar ketiga joglo – yang menghadap ke arah bukit kecil di belakang galeri seni ini. Dalam teka-teki yang sedang ia coba hubungkan, Goro tiba-tiba melompat tinggi ke arah dadanya. Shasa dengan sigap menangkap dengan kedua tangannya. Dipeluknya kucing kesayangannya itu. Tapi tidak lama, Goro kembali melompat ke lantai dan berlari menuju selasar joglo yang mengarah ke bukit.
Shasa pun ikut berlari dibelakang Goro. Di sisi barat bukit kecil itu, langkah Goro terhenti – tepat di bawah pohon trembesi besar. Kemudian kakinya menggali-gali tanah. Tersingkap sebuah formasi batuan. Shasa mengambil batang pohon yang jatuh di antara dedaunan kering. Ia menggali tanah yang ditunjukkan Goro. Betapa kagetnya ia, setelah didapati formasi batuan itu membentuk sayap burung.
Shasa kembali mengingat kalimat terakhir di keterangan lukisan di galeri seni – “Sayap-sayap patah jatayu.” Lagi-lagi ia menemukan sebuah keganjilan yang berkelindan. Di lukisan sebelumya ia mendapati pertanda “Air mata mengalir menuju bukit” dan di formasi batuan ini sebagai pertanda berikutnya, yaitu: “Sayap-sayap patah jatayu.” Belum selesai ia merekonstruksi keterkaitan teka-teki ini, ia kembali mendapati sebuah peti perak berukuran kecil di samping formasi batuan itu.
Di dalam peti perak itu, ada sebuah lembaran kertas yang persis sama dengan yang ia temukan di perpustakaan – kertas buram kusam. Di kertas itu tertulis “13 9 19 3 11 1” – semacam sandi angka. Bagi seorang yang berpengalaman pramuka, sandi itu mampu dibaca dengan tepat oleh Sasha.
Sandi angka tersebut mengingatkan Sasha pada Pak Lucius. Lelaki yang terkenal “killer” saat mengajar itu adalah guru matematikanya di SMA. Ia sudah menjadi duda selama tujuh tahun. Istrinya meninggal karena radang paru-paru akut. Dari hasil pernikahannya, mereka tidak mempunyai anak.
**
Sasha memutuskan untuk berkunjung ke rumah Pak Lucius keesokan harinya. Di rumah sederhana itu, ia tinggal sendirian. Ruang tamunya terlihat beratakan tidak terurus. Hanya ada dua sofa lusuh dan satu meja kayu. Partisi ruangannya dimanfaatkan sebagai rak buku. Terlihat beberapa buku pegangan mata pelajaran matematika di rak atas – yang pasti tidak jauh dari aljabar, trigonometri, kalkulus dan lain-lain. Di rak bawah terlihat banyak buku-buku sastra, seni, dan beberapa komik petualangan.
“Koleksi bukunya banyak ya Pak?” Sasha membuka obrolan untuk mencairkan suasana. Ia tahu benar bahwa Pak Lucius tidak suka basa-basi dan irit bicara.
“Ya, begitulah. Tidak ada yang mengurus lagi.”
“Ada perlu apa?” Pak Lucius menyahutnya, begitu gaya bicaranya – langsung ke pokok permasalahannya.
Shasa menyadari tidak mudah berkomunikasi dengannya yang menganggap hidup adalah rumus matematika – logis dan sistematis. Akhirnya Sasha pun menggunakan rumus yang sama untuk bisa diterima. Ia menyampaikan temuannya tentang sandi angka secara logis dan sistematis. Sasha menyampaikan jika terjemahan atau hasil bacaan sandi angka tersebut memiliki hubungan dengan Pak Lucius. Di luar dugaan, Pak Lucius tidak menanggapi serius apa yang disampaikan Sasha. Bahkan tanpa basa-basi, Pak Lucius meminta Sasha segera pulang dan meninggalkan kertas buram kusam itu di mejanya.
Ruang tamu itu kembali hening. Pak Lucius terlihat beberapa kali gagal menyalakan rokoknya, mungkin karena embusan angin atau ada perasaan lain yang menganggu konsentrasinya. Ia perhatikan berulang-ulang kertas buram kusam di samping asbak itu. Ia tergerak membaca tulisan di kertasnya. Seketika keningnya berkerut. Air matanya itu mengalir deras. Sesekali ia berusaha menarik napas panjang. Kedua tangannya berkali-kali memukul-mukul kepalanya, seolah tidak percaya atas apa yang ia lihat. “13 9 19 3 11 1” tertulis di akhir tulisan – sandi angka itu sangat mengoyak ingatannya.
Selain guru matematika, Pak Lucius adalah pembina pramuka di sekolah – ia paham betul apa arti sandi angka itu dari pengalamannya. Akhirnya ia memberanikan diri membaca semua yang tertulis di kertas buram itu. Tangannya gemetar dan matanya berkaca-kaca.
“Jika surat ini telah sampai padamu dan kau membacanya, mungkin aku sudah tidak ada di sampingmu lagi. Tak ada yang lebih menguatkan jiwaku – selain kasihmu, tak ada yang lebih menguatkan ragaku – selain pundakmu. Jika kau merindukanku, tataplah langit. Di birunya langit – senyumku hangat menyapamu. Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.”
-13 9 19 3 11 1-
**
Shasa termenung di kamarnya. Ia membayangkan bagaimana Pak Lucius mengingat kembali sebuah kenangan dan sekaligus kehilangan – yang tak lekang oleh ingatan. Luka yang harus ia sembuhkan sendiri. Ditariknya secarik kertas dari laci meja. Ia menuliskan kembali sandi angka itu dengan spidol berwarna hitam. Kemudian satu per satu ia tulis terjemahan sandi itu dengan spidol berwarna merah. “13 9 19 3 11 1” – 13=M, 9=I, 19=S, 3=C, 11=K, dan 1=A. Sandi angka tersebut mempunyai kesesuaian dengan huruf “MISCKA”. Itu adalah nama seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri Pak Lucius. [T]
Penulis: Almeera Firdausy Kinasih
Editor:Adnyana Ole



























