2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MISCKA  | Cerpen Almeera Firdausy Kinasih

Almeera Firdausy Kinasih by Almeera Firdausy Kinasih
September 21, 2025
in Cerpen
MISCKA  | Cerpen Almeera Firdausy Kinasih

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

LIBURAN musim panas belum berakhir, Sasha memutuskan untuk pergi ke perpustakaan bersama kucing kesayangannya, Goro. Sasha adalah seorang gadis berjiwa bebas. Tak ada labirin yang tak takluk dalam jejaknya. Petualangan dan kebebasan serupa kedua sayapnya – membawanya terbang ke mana yang ia tuju. Misteri baginya adalah ketidakterungkapan yang perlu diungkap. Ia adalah “penjelajah gila.” Begitu teman-temannya menjulukinya.

“Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.” Begitu kalimat yang tertulis di dalam sobekan kertas buram itu. Bagi “penjelajah gila”, itu adalah misteri yang mengusik penasarannya. Ketika rasa penasaran menjadi jalan kebenaran, maka sebuah misteri yang tersembunyi di antara rumpun tabir bisa saja terungkap.

Baginya, buku yang ia baca adalah peta untuk mengungkapkan hal yang tidak terungkap. Setiap kali ke perpustakaan, ia seperti masuk ke pintu dimensi penjelajahan baru yang penuh misteri. Ia berkarib dengan “kegilaannya” sendiri. Di rak usang perpustakaan itu, tumpukan buku adalah harta karun yang ia cari. Salah satu buku sastra klasik: terlihat kuno, berdebu dan sedikit berjamur – cukup menarik perhatiannya. Ia membaca dengan detail setiap lembar halamannya. Sesaat kemudian, ia terperanjat saat menemukan sobekan kertas buram kusam misterius terlipat di dalam buku.

“Hmmm, ini sebuah teka-teki misterius,” gumamnya lirih, sesekali matanya tertuju pada Goro yang sedang asyik mengibas-ngibaskan ekornya.

“Ayo Goro, misteri ini perlu dipecahkan!” Tiba-tiba suaranya memecah kesunyian ruangan perpustakaan.

Langkahnya terhenti, sesaat setelah ia mendengar sebuah bisikan lirih di telinganya. Misterius. Tak sepatah kata pun terucap, ia perlahan memejamkan kedua matanya – berharap hening menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di kepalanya.

“Temukanlah, jejakmu adalah petunjuk!” Begitu bisikan itu terdengar.

Dahinya berkerut – di setiap kerutnya, ia mulai menjelajahi bisikan yang bersembunyi di lorong pikirannya. Tak ada yang bisa terdengar, selain keringat dingin yang luruh dalam gigil.

“Brukkkkk.” Tubuh mungilnya terhuyung membentur rak buku, terjatuh, dan membujur di lantai.

Suara itu terdengar oleh pengunjung perpustakaan yang lain. Mata mereka mulai menyelisik sumber suara itu. Sasha pingsan di antara deretan rak buku. Beberapa pengunjung perpustakaan mulai riuh dan panik. Di antara mereka ada yang mencoba memberikan pertolongan sementara, seperti: mengoleskan balsam, melonggarkan ikat pinggang, dan memberikan terapi aroma di hidung. Tetap saja ia belum sadarkan diri. Akhirya petugas perpustakaan mendatangkan petugas medis dan ambulans.

Sasha berjuang untuk memulihkan kesadarannya. Tubuhnya seolah mati rasa. Kedua matanya berkedip-kedip – berusaha untuk melihat sekelilingnya. Gelap. Hanya suara sirene ambulans, Goro yang mengeong, dan lalu lalang kendaraan yang sayup terdengar. Tiba-tiba bisikan itu terdengar lagi.

“Temukanlah, jejakmu adalah petunjuk!”

Shasa tertegun beberapa saat. Mulutnya seolah terkunci rapat, padahal pertanyaan-pertanyaan berjejal di benaknya. Kesadarannya berangsur-angsur pulih. Perlahan, kedua matanya mulai terbuka. Ruangan serba putih, kasur busa lengkap dengan sandaran yang bisa diatur, dan besi tempat gantungan infus. Hidungnya terasa risih dengan selang yang terhubung dengan tabung oksigen di samping kepalanya.

“Kesadaranmu telah kembali, istirahatlah agar segera pulih!” Terdengar suara lelaki berjubah putih dan berkalung stetoskop yang menghampirinya.

“Saya hanya pingsan saja, Dok. Tidak perlu rawat inap.” Begitu Sasha menjawab dokter jaga itu.

Ingatan Sasha hanya tertuju pada bisikan saat dirinya terkulai di dalam ambulans yang membawanya dari perpustakaan. Pertanyaan-pertanyaan hinggap di kepalanya: siapa yang harus ditemukan? Kenapa dirinya yang diminta mencari? Dan untuk apa ia harus menemukan? Akhirnya ia memutuskan untuk sesegera mungkin meninggalkan rumah sakit.

Sasha bergegas ke luar dari rumah sakit. Ia tidak tahu persis ke mana harus pergi. Goro, tiba-tiba menggigit dan menarik-narik celananya – seolah-olah mau menunjukkan sesuatu. Dan benar adanya, tidak jauh dari rumah sakit itu ternyata ada sebuah galeri seni. Sebuah tempat yang memajang lukisan-lukisan klasik di kota itu. Suasananya asri. Rindang beringin menaungi joglo jati yang mungkin juga sudah berusia puluhan tahun.

Dari sekian banyak lukisan itu, salah satu lukisan klasik yang mengundang takjub Sasha adalah lukisan yang menggambarkan fragmen pertarungan Jatayu dengan Rahwana yang sedang menculik Dewi Shinta. Ia merasakan seperti ada getaran yang tidak biasa saat memperhatikan lukisan itu. Dan benar saja, matanya kembali terbelalak setelah melihat keterangan di lukisan itu. Selain tertulis nama pelukis dan tanggal pembuatan karya – juga tertulis “Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.”  Ia menoleh ke Goro, dahinya berkerut, kedua bahunya diangkat, dan kedua telapak tangan terbuka – mengisyaratkan keheranan.

Sasha melihat lebih detil lukisan itu, matanya seperti mesin pemindai wajah – merekam semua bagian obyek yang dilihatnya. Dari pengamatannya, ia mendapati sorot kedua mata Dewi Shinta dalam lukisan itu terlihat berkaca-kaca. Posisi lukisan itu berada di pilar ketiga joglo – yang menghadap ke arah bukit kecil di belakang galeri seni ini. Dalam teka-teki yang sedang ia coba hubungkan, Goro tiba-tiba melompat tinggi ke arah dadanya. Shasa dengan sigap menangkap dengan kedua tangannya. Dipeluknya kucing kesayangannya itu. Tapi tidak lama, Goro kembali melompat ke lantai dan berlari menuju selasar joglo yang mengarah ke bukit.

Shasa pun ikut berlari dibelakang Goro. Di sisi barat bukit  kecil itu, langkah Goro terhenti – tepat di bawah pohon trembesi besar. Kemudian kakinya menggali-gali tanah. Tersingkap sebuah formasi batuan. Shasa mengambil batang pohon yang jatuh di antara dedaunan kering. Ia menggali tanah yang ditunjukkan Goro. Betapa kagetnya ia, setelah didapati formasi batuan itu membentuk sayap burung.

Shasa  kembali mengingat kalimat terakhir di keterangan lukisan di galeri seni – “Sayap-sayap patah jatayu.” Lagi-lagi ia menemukan sebuah keganjilan yang berkelindan. Di lukisan sebelumya ia mendapati pertanda “Air mata mengalir menuju bukit” dan di formasi batuan ini sebagai pertanda berikutnya, yaitu: “Sayap-sayap patah jatayu.” Belum selesai ia merekonstruksi keterkaitan teka-teki ini, ia kembali mendapati sebuah peti perak berukuran  kecil di samping  formasi batuan itu.

Di dalam peti perak itu, ada sebuah lembaran kertas yang persis sama dengan yang ia temukan di perpustakaan – kertas buram kusam. Di kertas itu tertulis “13 9 19 3 11 1” – semacam sandi angka. Bagi seorang yang berpengalaman pramuka, sandi itu mampu dibaca dengan tepat oleh Sasha.

Sandi angka tersebut mengingatkan Sasha pada Pak Lucius. Lelaki yang terkenal “killer” saat mengajar itu  adalah guru matematikanya di SMA. Ia sudah menjadi duda selama tujuh tahun. Istrinya meninggal karena radang paru-paru akut. Dari hasil pernikahannya, mereka tidak mempunyai anak.

**

Sasha memutuskan untuk berkunjung ke rumah Pak Lucius keesokan harinya. Di rumah sederhana itu, ia tinggal sendirian. Ruang tamunya terlihat beratakan tidak terurus. Hanya ada dua sofa lusuh dan satu meja kayu. Partisi ruangannya dimanfaatkan sebagai rak buku. Terlihat beberapa buku pegangan mata pelajaran matematika di rak atas – yang pasti tidak jauh dari aljabar, trigonometri, kalkulus dan lain-lain. Di rak bawah terlihat banyak buku-buku sastra, seni, dan beberapa komik petualangan.

“Koleksi bukunya banyak ya Pak?” Sasha membuka obrolan untuk mencairkan suasana. Ia tahu benar bahwa Pak Lucius tidak suka basa-basi dan irit bicara.

“Ya, begitulah. Tidak ada yang mengurus lagi.”

“Ada perlu apa?” Pak Lucius menyahutnya, begitu gaya bicaranya – langsung ke pokok permasalahannya.

Shasa menyadari tidak mudah berkomunikasi dengannya yang menganggap hidup adalah rumus matematika – logis dan sistematis. Akhirnya Sasha pun menggunakan rumus yang sama untuk bisa diterima. Ia menyampaikan temuannya tentang sandi angka secara logis dan sistematis. Sasha menyampaikan jika terjemahan atau hasil bacaan sandi angka tersebut memiliki hubungan dengan Pak Lucius. Di luar dugaan, Pak Lucius tidak menanggapi serius apa yang disampaikan Sasha. Bahkan tanpa basa-basi, Pak Lucius meminta Sasha segera pulang dan meninggalkan kertas buram kusam itu di mejanya.

Ruang tamu itu kembali hening. Pak Lucius terlihat beberapa kali gagal menyalakan rokoknya, mungkin karena embusan angin atau ada perasaan lain yang menganggu konsentrasinya. Ia perhatikan berulang-ulang kertas buram kusam di samping asbak itu. Ia tergerak membaca tulisan di kertasnya. Seketika keningnya berkerut. Air matanya itu mengalir deras. Sesekali ia berusaha menarik napas panjang. Kedua tangannya berkali-kali memukul-mukul kepalanya, seolah tidak percaya atas apa yang ia lihat. “13 9 19 3 11 1” tertulis di akhir tulisan – sandi angka itu sangat mengoyak ingatannya.

Selain guru matematika, Pak Lucius adalah pembina pramuka di sekolah – ia paham betul apa arti sandi angka itu dari pengalamannya. Akhirnya ia memberanikan diri membaca semua yang tertulis di kertas buram itu. Tangannya gemetar dan matanya berkaca-kaca.

“Jika surat ini telah sampai padamu dan kau membacanya, mungkin aku sudah tidak ada di sampingmu lagi. Tak ada yang lebih menguatkan jiwaku – selain kasihmu, tak ada yang lebih menguatkan ragaku – selain pundakmu. Jika kau merindukanku, tataplah langit. Di birunya langit – senyumku hangat menyapamu. Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.” 

-13 9 19 3 11 1-

**

Shasa termenung di kamarnya. Ia membayangkan bagaimana Pak Lucius mengingat kembali sebuah kenangan dan sekaligus kehilangan – yang tak lekang oleh ingatan. Luka yang harus ia sembuhkan sendiri. Ditariknya secarik kertas dari laci meja. Ia menuliskan kembali sandi angka itu dengan spidol berwarna hitam. Kemudian satu per satu ia tulis terjemahan sandi itu dengan spidol berwarna merah. “13 9 19 3 11 1” – 13=M, 9=I, 19=S, 3=C, 11=K, dan 1=A. Sandi angka tersebut mempunyai kesesuaian dengan huruf “MISCKA”. Itu adalah nama seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri Pak Lucius. [T]

Penulis: Almeera Firdausy Kinasih
Editor:Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Via Firdhayanti | Senja-Ta

Next Post

Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Almeera Firdausy Kinasih

Almeera Firdausy Kinasih

Lahir di Solo, 2010. Siswi kelas X SMA N 4 Semarang. Penikmat komik Detective Conan karya Gosho Aoyama disamping hobi lainnya, seperti: menggambar, membaca novel, memasak, membuat cerita komik, dan menulis. Pernah menjadi juara pertama menulis cerpen tingkat SMP N 1 Ungaran. Peraih juara kedua OPSI tingkat Kabupaten Semarang 2024 dan kompetisi online IPA (Juara 1 Tingkat Provinsi Jawa Tengah – 2023 ) dan Bahasa Inggris (Juara 2 Tingkat Provinsi Jawa Tengah - 2023).

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah
Esai

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara
Esai

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co