12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

MISCKA  | Cerpen Almeera Firdausy Kinasih

Almeera Firdausy Kinasih by Almeera Firdausy Kinasih
September 21, 2025
in Cerpen
MISCKA  | Cerpen Almeera Firdausy Kinasih

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

LIBURAN musim panas belum berakhir, Sasha memutuskan untuk pergi ke perpustakaan bersama kucing kesayangannya, Goro. Sasha adalah seorang gadis berjiwa bebas. Tak ada labirin yang tak takluk dalam jejaknya. Petualangan dan kebebasan serupa kedua sayapnya – membawanya terbang ke mana yang ia tuju. Misteri baginya adalah ketidakterungkapan yang perlu diungkap. Ia adalah “penjelajah gila.” Begitu teman-temannya menjulukinya.

“Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.” Begitu kalimat yang tertulis di dalam sobekan kertas buram itu. Bagi “penjelajah gila”, itu adalah misteri yang mengusik penasarannya. Ketika rasa penasaran menjadi jalan kebenaran, maka sebuah misteri yang tersembunyi di antara rumpun tabir bisa saja terungkap.

Baginya, buku yang ia baca adalah peta untuk mengungkapkan hal yang tidak terungkap. Setiap kali ke perpustakaan, ia seperti masuk ke pintu dimensi penjelajahan baru yang penuh misteri. Ia berkarib dengan “kegilaannya” sendiri. Di rak usang perpustakaan itu, tumpukan buku adalah harta karun yang ia cari. Salah satu buku sastra klasik: terlihat kuno, berdebu dan sedikit berjamur – cukup menarik perhatiannya. Ia membaca dengan detail setiap lembar halamannya. Sesaat kemudian, ia terperanjat saat menemukan sobekan kertas buram kusam misterius terlipat di dalam buku.

“Hmmm, ini sebuah teka-teki misterius,” gumamnya lirih, sesekali matanya tertuju pada Goro yang sedang asyik mengibas-ngibaskan ekornya.

“Ayo Goro, misteri ini perlu dipecahkan!” Tiba-tiba suaranya memecah kesunyian ruangan perpustakaan.

Langkahnya terhenti, sesaat setelah ia mendengar sebuah bisikan lirih di telinganya. Misterius. Tak sepatah kata pun terucap, ia perlahan memejamkan kedua matanya – berharap hening menjawab pertanyaan-pertanyaan yang hinggap di kepalanya.

“Temukanlah, jejakmu adalah petunjuk!” Begitu bisikan itu terdengar.

Dahinya berkerut – di setiap kerutnya, ia mulai menjelajahi bisikan yang bersembunyi di lorong pikirannya. Tak ada yang bisa terdengar, selain keringat dingin yang luruh dalam gigil.

“Brukkkkk.” Tubuh mungilnya terhuyung membentur rak buku, terjatuh, dan membujur di lantai.

Suara itu terdengar oleh pengunjung perpustakaan yang lain. Mata mereka mulai menyelisik sumber suara itu. Sasha pingsan di antara deretan rak buku. Beberapa pengunjung perpustakaan mulai riuh dan panik. Di antara mereka ada yang mencoba memberikan pertolongan sementara, seperti: mengoleskan balsam, melonggarkan ikat pinggang, dan memberikan terapi aroma di hidung. Tetap saja ia belum sadarkan diri. Akhirya petugas perpustakaan mendatangkan petugas medis dan ambulans.

Sasha berjuang untuk memulihkan kesadarannya. Tubuhnya seolah mati rasa. Kedua matanya berkedip-kedip – berusaha untuk melihat sekelilingnya. Gelap. Hanya suara sirene ambulans, Goro yang mengeong, dan lalu lalang kendaraan yang sayup terdengar. Tiba-tiba bisikan itu terdengar lagi.

“Temukanlah, jejakmu adalah petunjuk!”

Shasa tertegun beberapa saat. Mulutnya seolah terkunci rapat, padahal pertanyaan-pertanyaan berjejal di benaknya. Kesadarannya berangsur-angsur pulih. Perlahan, kedua matanya mulai terbuka. Ruangan serba putih, kasur busa lengkap dengan sandaran yang bisa diatur, dan besi tempat gantungan infus. Hidungnya terasa risih dengan selang yang terhubung dengan tabung oksigen di samping kepalanya.

“Kesadaranmu telah kembali, istirahatlah agar segera pulih!” Terdengar suara lelaki berjubah putih dan berkalung stetoskop yang menghampirinya.

“Saya hanya pingsan saja, Dok. Tidak perlu rawat inap.” Begitu Sasha menjawab dokter jaga itu.

Ingatan Sasha hanya tertuju pada bisikan saat dirinya terkulai di dalam ambulans yang membawanya dari perpustakaan. Pertanyaan-pertanyaan hinggap di kepalanya: siapa yang harus ditemukan? Kenapa dirinya yang diminta mencari? Dan untuk apa ia harus menemukan? Akhirnya ia memutuskan untuk sesegera mungkin meninggalkan rumah sakit.

Sasha bergegas ke luar dari rumah sakit. Ia tidak tahu persis ke mana harus pergi. Goro, tiba-tiba menggigit dan menarik-narik celananya – seolah-olah mau menunjukkan sesuatu. Dan benar adanya, tidak jauh dari rumah sakit itu ternyata ada sebuah galeri seni. Sebuah tempat yang memajang lukisan-lukisan klasik di kota itu. Suasananya asri. Rindang beringin menaungi joglo jati yang mungkin juga sudah berusia puluhan tahun.

Dari sekian banyak lukisan itu, salah satu lukisan klasik yang mengundang takjub Sasha adalah lukisan yang menggambarkan fragmen pertarungan Jatayu dengan Rahwana yang sedang menculik Dewi Shinta. Ia merasakan seperti ada getaran yang tidak biasa saat memperhatikan lukisan itu. Dan benar saja, matanya kembali terbelalak setelah melihat keterangan di lukisan itu. Selain tertulis nama pelukis dan tanggal pembuatan karya – juga tertulis “Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.”  Ia menoleh ke Goro, dahinya berkerut, kedua bahunya diangkat, dan kedua telapak tangan terbuka – mengisyaratkan keheranan.

Sasha melihat lebih detil lukisan itu, matanya seperti mesin pemindai wajah – merekam semua bagian obyek yang dilihatnya. Dari pengamatannya, ia mendapati sorot kedua mata Dewi Shinta dalam lukisan itu terlihat berkaca-kaca. Posisi lukisan itu berada di pilar ketiga joglo – yang menghadap ke arah bukit kecil di belakang galeri seni ini. Dalam teka-teki yang sedang ia coba hubungkan, Goro tiba-tiba melompat tinggi ke arah dadanya. Shasa dengan sigap menangkap dengan kedua tangannya. Dipeluknya kucing kesayangannya itu. Tapi tidak lama, Goro kembali melompat ke lantai dan berlari menuju selasar joglo yang mengarah ke bukit.

Shasa pun ikut berlari dibelakang Goro. Di sisi barat bukit  kecil itu, langkah Goro terhenti – tepat di bawah pohon trembesi besar. Kemudian kakinya menggali-gali tanah. Tersingkap sebuah formasi batuan. Shasa mengambil batang pohon yang jatuh di antara dedaunan kering. Ia menggali tanah yang ditunjukkan Goro. Betapa kagetnya ia, setelah didapati formasi batuan itu membentuk sayap burung.

Shasa  kembali mengingat kalimat terakhir di keterangan lukisan di galeri seni – “Sayap-sayap patah jatayu.” Lagi-lagi ia menemukan sebuah keganjilan yang berkelindan. Di lukisan sebelumya ia mendapati pertanda “Air mata mengalir menuju bukit” dan di formasi batuan ini sebagai pertanda berikutnya, yaitu: “Sayap-sayap patah jatayu.” Belum selesai ia merekonstruksi keterkaitan teka-teki ini, ia kembali mendapati sebuah peti perak berukuran  kecil di samping  formasi batuan itu.

Di dalam peti perak itu, ada sebuah lembaran kertas yang persis sama dengan yang ia temukan di perpustakaan – kertas buram kusam. Di kertas itu tertulis “13 9 19 3 11 1” – semacam sandi angka. Bagi seorang yang berpengalaman pramuka, sandi itu mampu dibaca dengan tepat oleh Sasha.

Sandi angka tersebut mengingatkan Sasha pada Pak Lucius. Lelaki yang terkenal “killer” saat mengajar itu  adalah guru matematikanya di SMA. Ia sudah menjadi duda selama tujuh tahun. Istrinya meninggal karena radang paru-paru akut. Dari hasil pernikahannya, mereka tidak mempunyai anak.

**

Sasha memutuskan untuk berkunjung ke rumah Pak Lucius keesokan harinya. Di rumah sederhana itu, ia tinggal sendirian. Ruang tamunya terlihat beratakan tidak terurus. Hanya ada dua sofa lusuh dan satu meja kayu. Partisi ruangannya dimanfaatkan sebagai rak buku. Terlihat beberapa buku pegangan mata pelajaran matematika di rak atas – yang pasti tidak jauh dari aljabar, trigonometri, kalkulus dan lain-lain. Di rak bawah terlihat banyak buku-buku sastra, seni, dan beberapa komik petualangan.

“Koleksi bukunya banyak ya Pak?” Sasha membuka obrolan untuk mencairkan suasana. Ia tahu benar bahwa Pak Lucius tidak suka basa-basi dan irit bicara.

“Ya, begitulah. Tidak ada yang mengurus lagi.”

“Ada perlu apa?” Pak Lucius menyahutnya, begitu gaya bicaranya – langsung ke pokok permasalahannya.

Shasa menyadari tidak mudah berkomunikasi dengannya yang menganggap hidup adalah rumus matematika – logis dan sistematis. Akhirnya Sasha pun menggunakan rumus yang sama untuk bisa diterima. Ia menyampaikan temuannya tentang sandi angka secara logis dan sistematis. Sasha menyampaikan jika terjemahan atau hasil bacaan sandi angka tersebut memiliki hubungan dengan Pak Lucius. Di luar dugaan, Pak Lucius tidak menanggapi serius apa yang disampaikan Sasha. Bahkan tanpa basa-basi, Pak Lucius meminta Sasha segera pulang dan meninggalkan kertas buram kusam itu di mejanya.

Ruang tamu itu kembali hening. Pak Lucius terlihat beberapa kali gagal menyalakan rokoknya, mungkin karena embusan angin atau ada perasaan lain yang menganggu konsentrasinya. Ia perhatikan berulang-ulang kertas buram kusam di samping asbak itu. Ia tergerak membaca tulisan di kertasnya. Seketika keningnya berkerut. Air matanya itu mengalir deras. Sesekali ia berusaha menarik napas panjang. Kedua tangannya berkali-kali memukul-mukul kepalanya, seolah tidak percaya atas apa yang ia lihat. “13 9 19 3 11 1” tertulis di akhir tulisan – sandi angka itu sangat mengoyak ingatannya.

Selain guru matematika, Pak Lucius adalah pembina pramuka di sekolah – ia paham betul apa arti sandi angka itu dari pengalamannya. Akhirnya ia memberanikan diri membaca semua yang tertulis di kertas buram itu. Tangannya gemetar dan matanya berkaca-kaca.

“Jika surat ini telah sampai padamu dan kau membacanya, mungkin aku sudah tidak ada di sampingmu lagi. Tak ada yang lebih menguatkan jiwaku – selain kasihmu, tak ada yang lebih menguatkan ragaku – selain pundakmu. Jika kau merindukanku, tataplah langit. Di birunya langit – senyumku hangat menyapamu. Dua belahan jiwa tak terpisahkan. Air mata mengalir menuju bukit. Sayap-sayap patah jatayu.” 

-13 9 19 3 11 1-

**

Shasa termenung di kamarnya. Ia membayangkan bagaimana Pak Lucius mengingat kembali sebuah kenangan dan sekaligus kehilangan – yang tak lekang oleh ingatan. Luka yang harus ia sembuhkan sendiri. Ditariknya secarik kertas dari laci meja. Ia menuliskan kembali sandi angka itu dengan spidol berwarna hitam. Kemudian satu per satu ia tulis terjemahan sandi itu dengan spidol berwarna merah. “13 9 19 3 11 1” – 13=M, 9=I, 19=S, 3=C, 11=K, dan 1=A. Sandi angka tersebut mempunyai kesesuaian dengan huruf “MISCKA”. Itu adalah nama seorang perempuan. Perempuan itu adalah istri Pak Lucius. [T]

Penulis: Almeera Firdausy Kinasih
Editor:Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Puisi-puisi Via Firdhayanti | Senja-Ta

Next Post

Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Almeera Firdausy Kinasih

Almeera Firdausy Kinasih

Lahir di Solo, 2010. Siswi kelas X SMA N 4 Semarang. Penikmat komik Detective Conan karya Gosho Aoyama disamping hobi lainnya, seperti: menggambar, membaca novel, memasak, membuat cerita komik, dan menulis. Pernah menjadi juara pertama menulis cerpen tingkat SMP N 1 Ungaran. Peraih juara kedua OPSI tingkat Kabupaten Semarang 2024 dan kompetisi online IPA (Juara 1 Tingkat Provinsi Jawa Tengah – 2023 ) dan Bahasa Inggris (Juara 2 Tingkat Provinsi Jawa Tengah - 2023).

Related Posts

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails

Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

by Aksara Caramellia
June 20, 2026
0
Barong yang Memakan Tuan | Cerpen Aksara Caramellia

DARAH itu bukan milik kurban, melainkan milik kesabaran yang sudah lama membusuk di bawah tapel kayu pulai. Sejak kecil aku...

Read moreDetails

Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
June 14, 2026
0
Kebun yang Tak Pernah Ditanami | Cerpen Dodik Suprayogi

TERDAPAT petak tanah di samping rumah yang selalu membuat tetangga gatal ingin berkomentar. "Sayang sekali, Bram, tanah sesubur ini dibiarkan...

Read moreDetails
Next Post
Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co