4 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi by Mas Ruscitadewi
September 21, 2025
in Cerpen
Ular-Ular Itu  |  Cerpen Mas Ruscitadewi

Ilustrasi tatkala.co | Diolah dengan Canva

SEJAK kecil saya takut pada ular.  Ular bagi saya adalah makhluk yang jahat, sangat berbisa, yang walaupun kecil, patukannya bisa membunuh seorang manusia yang tubuhnya besar.

Tinggal di kota, saya tak pernah melihat ular secara langsung, kecuali di malam ulang tahun saya yang ke 17, saya melihat seekor ular melintas di depan kamar, dan saya berteriak keras, “Ularrrrrr…”

Saya menjelaskan bahwa benar-benar melihat seekor ular sepanjang satu meter lebih, dan tak tahu ke mana hilangnya.

“Saya benar-benar melihat seekor ular, ” jelas saya pada Mboktut yang terbangun tergopoh-gopoh.

Mboktut hanya tersenyum melihat saya merusaha menenangkan diri.

“Ularnya sudah hilang,” kata Mboktut ringan, mungkin seringan kapas.

Di kampus, di Arkeologi, saya menyambil jurusan prasejarah, sehingga jarang meneliti arca dan pura, tetapi sangat suka tempat-tempat pemujaan dari batu yang alami seperti Candi Tebing Gunung Kawi, di Tampaksiring Gianyar.

Saat di Gunung Kawi saya tertarik dengan ceruk-ceruk  di pinggir sungai yang konon dimanfaatkan untuk bertapa para biksu di jaman Bali Kuna.

Saat memasuki salah satu ceruk, saya melihat sesuatu yang putih berkilat, “Kok seperti permata,” pikir saya berusaha mendekat.

Dan betapa kagetnya, saat benda besar berkilat itu ternyata seekor ular besar yang sedang menjulurkan lidahnya.

Tanpa babibu saya meninggalkan ceruk sambil memberi komando teman.

“Cepat menyebrang, ke arah yang berlawanan dengan arah angin,” perintah saya.

Yuni, teman saya, mengikuti. Saya lupa bagaimana saya bisa naik dengan cepat dari pinggir sungai yang curam dan tadinya sulit saya turuni. Tiba-tiba saja saya sudah ada di atas jembatan, disusul oleh Yuni.

Ketakutan pada ular telah membuat saya bisa melakukan hal yang di luar logika.

Saat mampir ke rumah seorang teman, kami bercerita tentang ular besar di ceruk Pura Gunung Kawi yang seperti ingin mematuk kami.

Lelaki yang usianya terbilang muda ini memberi jawaban yang bijaksana.

“Ular tak sembarangan mematuk orang. Hanya orang-orang tertentu yang mati karena dipatuk ular, “jelasnya.

Saya merasa lebih tenang. Ketakutan saya pada ular agak sedikit berkurang.

Saya semakin lupa rasa takut pada ular, saat bertemu seorang pawang ular. Bahkan orang ini saat demontrasi bersama memakai ular-ular sebagai rambut dan jenggotnya.

Lucu, tapi saya masih ngeri juga. Juga saat seorang teman bertamu dan menunjukkan seekor ular yang dia pakai sebagai ikat pinggang.

Tapi hari itu, saya benar-benar takut. Saya lihat dengan mata kepala sendiri dua ular besar  bertengger di dinding kamar.

Saya mengucek mata, memastikan penglihatan.

“Benar dua ular besar warna coklat keabuan, ” batin saya, menekan rasa takut yang mulai mendera.

“Ular cobra!”  

Ia mulai menjulurkan lidah, seperti bersiap mematuk.

Saya menarik napas panjang berkali-kali, berusaha meredam gejolak rasa takut. Berteriak rasanya tak mungkin, karena ibu yang tua tak mungkin membantuku. Saya pasrah berdoa dan terus berdoa sambil menyalurkan rasa kasih. Syukurlah dua ular itu tenang, tak lagi mengangkat kepala dan menjulurkan lidah.

Sungguh saya masih takut, tapi berusaha pasrah sambil memejamkan mata, sampai akhirnya tertidur.

Bangun pagi, saya bisa bernapas lega, karena tak melihat ular-ular itu lagi

Beberapa kali ular-ular itu datang, saya masih takut, tak mau melihatnya, dan memilih memejamkan mata sambil terus berdoa, sampai ular-ular itu tak terlihat lagi.

Di depan Pura Campuhan  Padang Galak, saat diajak Dyah mengantar kakaknya melukat, saya dan Dyah memilih menikmati pantai dengan suara ombak yang berkejar-kejaran. Kami tercekat, tak bisa bicara, saat seekor ular menjalar ke arah kami. Kami saling pandang sambil berdoa, dan mata kami terbelalak saat ular itu berubah menjadi permata warna-warni. Lama kami pandangi permata-permata itu, sampai dia kembali ke laut terseret ombak, kembali lagi ke darat menjadi ular mendekati kami dan menjadi permata kembali.

Kami memutuskan untuk beranjak dari pantai dan menunggu di mobil.

Ular-ular di kamar saya tak pernah muncul lagi. Filsafat Hindu memberikan saya pemahaman tentang ular yang disebut kundalini, sesuatu yang bergerak dalam kesehimbangan di sekeliling, mengelilingi cakra, pusat-pusat energi, atom dengan intinya neutron yang bergerak karena tarik menarik proton dan elektron. Gerakan saling tarik menarik antara proton dan elektron ini diandaikan sebagai ular, sulit dikendalikan, manipulatif, dan berbisa.

“Dalam diri manusia juga ada ular-ular  yang harus berusaha kita kendalikan sendiri. Ular-ular ini bisa menjelma jadi indria-indria yang selalu ingin dipuaskan, meracuni diri dan sekitar,” simpul saya akhirnya.

Pemahaman saya tentang kundali tak membuat saya benar-benar berani pada ular. Ular pada diri mungkin bisa saya pelajari pelan-pelan, mungkin bisa saya hadapi, tapi ular-ular di luar sana? Ular sungguhan,  ular jadi-jadian, atau kelompok ular pemegang kuasa.

Sejak kenal dagang sate ikan di Pantai Padang Galak, saya jadi sering ke sana. Selain dekat, saya juga sangat senang memandang dan menghirup udara laut. Saya biasa berlama-lama duduk di atas baru besar, sambil bersila.Tapi hari itu, saya sungguh kaget karena ada yang menyundul-nyundul telapak kami saya, astaga ternyata seekor ular besar berwarna putih keperakan, menyundul kaki saya dengan kepalanya.

Ups, saya berusaha menenangkan diri, menarik napas berlahan, sampai kepala ular itu masuk kembali ke dalam celah batu-batu.

Ada sedikit rasa bangga, karena saya bisa bersikap tenang, saat ular itu menyundul, sehingga tak mengagetkannya. Walaupun kini saya lebih waspada untuk berlama-lama bersila di atas batu, akhirnya saya simpulkan bahwa sikap tenang, bisa dipakai untuk menghadapi ular sungguhan  mungkin juga ular jadi-jadian, dan kelompok ular pemegang kuasa yang mabuk dan tak sadar oleh bisanya sendiri. [T]

Penulis: Mas Ruscitadewi
Editor:Adnyana Ole

Tags: Cerpen
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

MISCKA  | Cerpen Almeera Firdausy Kinasih

Next Post

Hukum Universal: Dari Kosmos ke Kesadaran, dari “Theory of Everything” ke Teori Holistik

Mas Ruscitadewi

Mas Ruscitadewi

Sastrawan, dramawan, pecinta anak-anak. Penggagas berbagai acara seni-budaya di Denpasar termasuk Bali Mandara Nawanatya yang digelar pada setiap akhir pecan selama setahun.

Related Posts

Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

by Made Bryan Mahararta
September 27, 2026
0
Penawar Letih Ghazali | Cerpen Made Bryan Mahararta

GHAZALI menatap langit-langit rumah kecilnya bersama Bilqis sambil mendengarkan detik jam dinding yang seolah semakin keras tiap malam. Usianya kini...

Read moreDetails

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
0
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

Read moreDetails

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
0
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

Read moreDetails

Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

by Nur Kamilia
September 6, 2026
0
Lelaku Daun Jati Terakhir | Cerpen Nur Kamilia

MUSIM kemarau di kampung kami tidak datang dengan membawa angin kering atau debu jalanan yang mengepul. Ia datang lewat suara...

Read moreDetails

Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

by Nanda Gayatri
September 5, 2026
0
Si Gending | Cerpen Nanda Gayatri

GENDING. Namanya didendangkan berulang kali di sudut-sudut perkumpulan warga di kompleks perumahan tempat aku tinggal. Ada yang bilang ia adalah...

Read moreDetails

Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

by Ari Murdimanto
August 30, 2026
0
Surat dari Pulau Seberang | Cerpen Ari Murdimanto

Sahabatku, Di tempatku yang baru kini, jauh dari pelukan kabut tebal dan wangi dupa Hyang Dwipa, aku sering duduk terdiam...

Read moreDetails

Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
August 16, 2026
0
Sosok Misterius  |  Cerpen Asmaran Dani

WARGA di Jalan XXX dibuat gempar sosok lelaki yang seperti sedang melakukan meditasi selama berbulan-bulan. Lelaki itu menghabiskan waktu dengan...

Read moreDetails

Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

by Khairul A. El Maliky
June 28, 2026
0
Di Balik Kamar 28 | Cerpen Khairul A. El Maliky

HUJAN di Surabaya malam itu turun bukan sekadar membasahi aspal, melainkan seolah ingin menghapus jejak darah yang tumpah di lantai...

Read moreDetails

Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

by Sri Romdhoni Warta Kuncoro
June 26, 2026
0
Serabi Semar | Cerpen Sri Romdhoni Warta Kuncoro

SETELAH perang Baratayudha Jayabinangun rampung dan darah terakhir mengering di padang Kurusetra, Semar menanggalkan pakaian pamomong para ksatria. Ia tidak...

Read moreDetails

Lubang | Cerpen Asmaran Dani

by Asmaran Dani
June 21, 2026
0
Lubang | Cerpen Asmaran Dani

LUBANG menjadi neraka jahanam yang membakar kehidupanku. Di mana saja, lubang selalu ada. Lubang pipet, lubang kloset, lubang tutup odol,...

Read moreDetails
Next Post
Hukum Universal: Dari Kosmos ke Kesadaran, dari “Theory of Everything” ke Teori Holistik

Hukum Universal: Dari Kosmos ke Kesadaran, dari "Theory of Everything" ke Teori Holistik

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026
Small Is Beautiful untuk Orang Bali
Esai

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

by Angga Wijaya
October 3, 2026
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan
Esai

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
Mimpi Ibu Menjadi Manusia
Buku Tatkala

Mimpi Ibu Menjadi Manusia

Judul: Mimpi Ibu Menjadi Manusia Penerbit: PT Tatkala Sekala Media Penulis: Komang Astiari ISBN: Masih dalam proses Tebal: 90 halaman...

by Buku Tatkala
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co