23 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kematian Menjadi Kelulusan nan Dirayakan dalam Kumpulan Cerpen “Kado Kematian untuk Pacarmu”

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 13, 2025
in Ulas Buku
Kematian Menjadi Kelulusan nan Dirayakan dalam Kumpulan Cerpen “Kado Kematian untuk Pacarmu”

Buku cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu karya Wayan Agus Wiratama

  • Judul : Kado Kematian untuk Pacarmu
  • Penulis : Wayan Agus Wiratama
  • Tahun Terbit : Singaraja, 2019
  • Penerbit : Mahima Institute Indonesia
  • Tebal buku : 108 halaman
  • ISBN : 978-623-7220-31-2

OBSESI sering kali berkaitan dengan terpenuhinya keinginan seseorang. Wayan Agus Wiratama, seorang pengarang asal Pengembungan, Pajeng Kangin, Kabupaten Gianyar, Bali, terlihat sering menyoroti tema kematian dalam salah satu karya sastranya.

Mahasiswa lulusan Undiksha ini pertama kali mengenal sastra dan teater di Komunitas Cemara Angin dan Komunitas Mahima di Singaraja. Ia menuangkan beragam tema, mulai dari kisah cinta, kebudayaan, moralitas, etika, hingga persahabatan. Namun, tema kematian lebih mendominasi dalam kumpulan cerpennya. Karya fiksi bagaimanapun, bukan sekadar khayalan belaka; fiksi muncul sebagai refleksi dari realitas kehidupan yang kita jalani. Para pembaca diajak untuk menilai, merasakan, dan memahami karakter yang terdapat dalam setiap cerita saat mereka menyelami kumpulan cerpen ini.

Buku kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu lahir karena kekacauan pikirannya. Namun, di tengah-tengah kekacauan pikirannya munculah beberapa kawan yang mulai mengajaknya berburu secara perlahan, mengajari berbagai hal. Satu kalimat dari kumpulan diksi sering kali dapat memikat hati para penikmatnya, meskipun terkadang kata-kata tersebut bisa sangat rumit.

Dalam buku kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu, terdapat sebelas cerita yang memiliki jalan cerita berbeda dan mampu menggugah siapapun yang membacanya, yaitu “Sebuah Kabar pada Larut Malam”, “Kuburan Ayah”, “Kado Kematian untuk Pacarmu”,  “Tulisan Terakhir untuk Ayah”, “Kupu-kupu Kuning yang Hinggap di Ujung Sabit”, “Suara Pesan yang Tak Terkirim”, “Masa Lalu Pembunuh Ibu”, “Karba dan Perahu Biru yang Meninggalkan Istri”, “Cinta Terikat di Suatu Tempat Entah di Mana”, “Kematian Saudara Perempuan”, Pada Bagian itu, Yo Terbunuh”.

Dalam buku kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu, cerpen yang berjudul “Sebuah Kabar pada Larut Malam”, kita disuguhkan kisah yang kerap terjadi di rumah tangga masyarakat, di mana perselingkuhan terungkap saat ayah dari tokoh “Aku” meninggal. Rasa sakit dan kehampaan menghantui kisah ini, terutama saat temannya berkata, “. . . Aku segan melarang mereka berdua di kamar hingga akhirnya kini Luh mengandung anak ketiganya. Maafkan aku, Bar.” (hal. 8) Kesedihan dan kemarahan pun menjadi sahabat tokoh “Aku” di malam yang kelam itu.

Tema persahabatan juga dapat terlihat dalam cerpen dengan judul “Kupu-kupu Kuning yang Hinggap di Ujung Sabit”, yang menyoroti hubungan antara dua sahabat, Wayan Regeg dan Made Seken. Wayan Regeg telah memberi sinyal peringatan sebelum Made Seken mengambil keputusan untuk terjun ke dunia politik. Dulunya mereka selalu bersama, namun, kini impian yang berbeda telah membuat persahabatan mereka merenggang.

Menariknya lagi pada dua cerpen khusus, yang seolah memanggil perhatian, yaitu “Kado Kematian untuk Pacarmu” (hal. 21) dan “Kematian Saudara Perempuan” (hal. 87). Buku kumpulan cerpen karya Wayan Agus Wiratama ini mampu untuk merenungkan kenyataan bahwa kita semua, pada akhirnya, akan menghadapi kematian. Menyadari bahwa cinta bisa membuat kita buta, bahkan hingga berperilaku seperti psikopat dalam drama kehidupan. Pada cerpen yang berjudul “Kado Kematian untuk Pacarmu”, tokoh “Aku” terjebak dalam api cemburu, sehingga kehilangan kewarasan. Sadis, memang; itulah akibat saat hati dan mata diselimuti bara api cinta yang membara.

Lebih sadis lagi, dalam salah satu kutipan, “. . . Hati yang telah kuletakkan di atas batu itu kemudian kupukul dengan batu kecil sehingga hancur dan nampak seperti kotoran yang membusuk.” (hal. 28). Di halaman yang lain, Wayan Agus Wiratama menuliskan, “Tubuhnya yang tak terlalu besar hanya kupisah-pisahkan saja. Kaki, tangan, kepala, dan tubuhnya tak lagi menyatu sehingga dengan mudah sungai yang deras itu menghanyutkan organ tubuh lelaki yang telah merebutmu itu.” (hal. 29). Melalui kata-kata ini, penulis seolah berusaha menghipnotis pembaca untuk merasakan pengalaman menjadi tokoh “Aku” dan mengalami aksi memutilasi seolah-olah sedang mengolah daging dengan alat tajam di dapur.

Lalu di cerpen berjudul “Kematian Saudara Perempuan, Wayan Agus Wiratama menulis: “…Buat apa juga menangis, toh ia tak akan pernah kembali. Wayan sudah tidur dengan nyaman di dalam kamar. Semestinya ini dirayakan, bukan ditangisi. Bagaimana tidak, orang lahir untuk menjalankan segala tugasnya di dunia. Ketika Wayan telah menyelesaikan tugasnya, itu berarti Tuhan telah mewisudanya sebagai manusia. Ya, seharusnya kelulusan ini dirayakan, bukan ditangisi.” (hal. 88). Namun, di tengah kenyataan ini, kita tetap merasakan kehilangan saat seseorang yang kita cintai pergi untuk selamanya, terutama ketika kita masih ingin seseorang itu tetap ada di pandangan kita. Perasaan kehilangan yang dialami ibu dalam cerpen “Kematian Saudara Perempuan” juga akan kita rasakan.

Sayangnya, bahasa yang digunakan penulis terasa abstrak dan memerlukan waktu untuk memahami maksud dari setiap kata yang dituliskannya dalam kumpulan cerpen ini. Beberapa ilustrasinya pun sedikit sulit dimaknai atau bahkan sekadar ingin mengetahui arti gambar yang ditambahkan untuk memberikan kesan menarik pada masing-masing cerita. Meski terdapat kelemahan tersebut, buku kumpulan cerpen ini tetap menjadi simbol dari proses kehilangan diri yang mengantarkan kita menuju penemuan jati diri. Kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu lebih banyak menceritakan tentang bagaimana menjalani kehidupan nyata dengan berbagai problematika yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini akan sangat menarik jika bisa dinikmati oleh semua kalangan usia. Namun, kumpulan cerpen ini hanya ditujukan untuk pembaca dewasa, karena memerlukan kemampuan dalam menalar secara logis, menilai, memahami, serta berpikir abstrak terkait penggunaan bahasa yang terdapat dalam setiap ceritanya. [T]

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Agus Wiratamabuku cerpenCerpensastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Caught In 4K”: Ketika Panggung Digital Menjadi Perangkap

Next Post

Konflik Kepentingan? Mengapa Presiden Tidak Seharusnya Memimpin Partai

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails

“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

by I Nyoman Darma Putra
July 9, 2026
0
“Mindfulness-Based Learning” alias Belajar Berbasis-Adnyana

KALAU puisi adalah sebuah negeri, maka Dr. Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd., M.Pd. adalah warga-negara yang paling mencintai negerinya. "I love...

Read moreDetails

Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

by Dede Putra Wiguna
July 3, 2026
0
Membaca Makna Pulang dalam Novel ‘Rumah’ karya JS Khairen

Judul             : Rumah Penulis          : JS Khairen Penerbit        : PT Elex Media Komputindo Editor             : Trian Lesmana dan Dion Rahman...

Read moreDetails

Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

by Dede Putra Wiguna
July 1, 2026
0
Rahim, Luka, dan Hak atas Tubuh  –Membaca “Korpus Uterus” karya Sasti Gotama

Judul             : Korpus Uterus Penulis          : Sasti Gotama Penerbit        : Gramedia Pustaka Utama Editor             : Ruth Priscilia Angelina Tebal buku  ...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Konflik Kepentingan? Mengapa Presiden Tidak Seharusnya Memimpin Partai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers
Pendidikan

PWI Bali Gelar OKK, Perkuat Profesionalisme dan Etika Pers

SEBANYAK 102 anggota dan calon anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) di Gedung PWI...

by Dede Putra Wiguna
August 23, 2026
Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   
Opini

Ironi Pemalakan dalam Dunia Pendidikan   

IRONI yang sulit diterima ketika seseorang yang berdiri di puncak lembaga pendidikan justru berhadapan dengan hukum karena dugaan praktik yang...

by I Ketut Suar Adnyana
August 23, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Wajah Indonesia Bopeng

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas
Kritik Sastra

Sastra Tuli: Kesusastraan dari Komunitas Tuli yang Selama Ini Dilihat Semata sebagai Disabilitas

ADA satu kesalahpahaman yang terlalu lama mengiringi cara kita memandang Tuli: seolah-olah Tuli hanya dapat dibicarakan dari apa yang tidak...

by Bagja Wiranandhika Prawira
August 23, 2026
Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud
Panggung

Dua Negeri, Satu Panggung: Taiwan Beats Mengalun di Ubud

KETIKA musik itu dimainkan, nadanya terasa enak, liriknya menyentuh hati, dan langsung terbayang cerita drama seri yang sangat populer. Melodinya...

by Nyoman Budarsana
August 23, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [4]: Kerumunan yang Tidak Bisa Dibaca

PADA 2010, sebuah platform bernama Nulisbuku.com mulai beroperasi dengan premis yang terdengar sangat sederhana sekaligus sangat radikal: siapa pun bisa...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Renungan Meja Makan
Esai

Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

by Angga Wijaya
August 22, 2026
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native
Esai

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar
Lingkungan

Jaga Ekosistem Alam dan Lingkungan di Buleleng, Wabup Supriatna Lepaskan Tukik dan Bersihkan Saluran di Pantai Banjar

PEMERINTAH Kabupaten (Pemkab) Buleleng terus menguatkan komitmen terhadap pelestarian lingkungan melalui kegiatan Bersih Pantai dan Pelepasan Tukik di Pantai Banjar,...

by tatkala
August 21, 2026
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata
Esai

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [1]: Pendahuluan
Kritik Sastra

Rezim Algoritma dan Lahirnya “Sastra Perhatian” [3]: Melayani Pembaca: Ketika Penulis Berhenti Memimpin

SESUATU bergeser setelah Ayat-Ayat Cinta menjadi fenomena nasional yang mengubah lanskap penerbitan Indonesia. Ayat-Ayat Cinta terbit pada 2004, segera menjadi...

by Andre Syahreza
August 22, 2026
Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan
Tualang

Dari Makam Ki Hadjar Dewantara sampai Candi Prambanan

SAYA tidak merencanakan bahwa ketika kembali ke Bali melalui Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulon Progo, dari Kota Yogyakarta, saya...

by I Nyoman Tingkat
August 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co