24 June 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Kematian Menjadi Kelulusan nan Dirayakan dalam Kumpulan Cerpen “Kado Kematian untuk Pacarmu”

Ni Komang Sariasih by Ni Komang Sariasih
September 13, 2025
in Ulas Buku
Kematian Menjadi Kelulusan nan Dirayakan dalam Kumpulan Cerpen “Kado Kematian untuk Pacarmu”

Buku cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu karya Wayan Agus Wiratama

  • Judul : Kado Kematian untuk Pacarmu
  • Penulis : Wayan Agus Wiratama
  • Tahun Terbit : Singaraja, 2019
  • Penerbit : Mahima Institute Indonesia
  • Tebal buku : 108 halaman
  • ISBN : 978-623-7220-31-2

OBSESI sering kali berkaitan dengan terpenuhinya keinginan seseorang. Wayan Agus Wiratama, seorang pengarang asal Pengembungan, Pajeng Kangin, Kabupaten Gianyar, Bali, terlihat sering menyoroti tema kematian dalam salah satu karya sastranya.

Mahasiswa lulusan Undiksha ini pertama kali mengenal sastra dan teater di Komunitas Cemara Angin dan Komunitas Mahima di Singaraja. Ia menuangkan beragam tema, mulai dari kisah cinta, kebudayaan, moralitas, etika, hingga persahabatan. Namun, tema kematian lebih mendominasi dalam kumpulan cerpennya. Karya fiksi bagaimanapun, bukan sekadar khayalan belaka; fiksi muncul sebagai refleksi dari realitas kehidupan yang kita jalani. Para pembaca diajak untuk menilai, merasakan, dan memahami karakter yang terdapat dalam setiap cerita saat mereka menyelami kumpulan cerpen ini.

Buku kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu lahir karena kekacauan pikirannya. Namun, di tengah-tengah kekacauan pikirannya munculah beberapa kawan yang mulai mengajaknya berburu secara perlahan, mengajari berbagai hal. Satu kalimat dari kumpulan diksi sering kali dapat memikat hati para penikmatnya, meskipun terkadang kata-kata tersebut bisa sangat rumit.

Dalam buku kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu, terdapat sebelas cerita yang memiliki jalan cerita berbeda dan mampu menggugah siapapun yang membacanya, yaitu “Sebuah Kabar pada Larut Malam”, “Kuburan Ayah”, “Kado Kematian untuk Pacarmu”,  “Tulisan Terakhir untuk Ayah”, “Kupu-kupu Kuning yang Hinggap di Ujung Sabit”, “Suara Pesan yang Tak Terkirim”, “Masa Lalu Pembunuh Ibu”, “Karba dan Perahu Biru yang Meninggalkan Istri”, “Cinta Terikat di Suatu Tempat Entah di Mana”, “Kematian Saudara Perempuan”, Pada Bagian itu, Yo Terbunuh”.

Dalam buku kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu, cerpen yang berjudul “Sebuah Kabar pada Larut Malam”, kita disuguhkan kisah yang kerap terjadi di rumah tangga masyarakat, di mana perselingkuhan terungkap saat ayah dari tokoh “Aku” meninggal. Rasa sakit dan kehampaan menghantui kisah ini, terutama saat temannya berkata, “. . . Aku segan melarang mereka berdua di kamar hingga akhirnya kini Luh mengandung anak ketiganya. Maafkan aku, Bar.” (hal. 8) Kesedihan dan kemarahan pun menjadi sahabat tokoh “Aku” di malam yang kelam itu.

Tema persahabatan juga dapat terlihat dalam cerpen dengan judul “Kupu-kupu Kuning yang Hinggap di Ujung Sabit”, yang menyoroti hubungan antara dua sahabat, Wayan Regeg dan Made Seken. Wayan Regeg telah memberi sinyal peringatan sebelum Made Seken mengambil keputusan untuk terjun ke dunia politik. Dulunya mereka selalu bersama, namun, kini impian yang berbeda telah membuat persahabatan mereka merenggang.

Menariknya lagi pada dua cerpen khusus, yang seolah memanggil perhatian, yaitu “Kado Kematian untuk Pacarmu” (hal. 21) dan “Kematian Saudara Perempuan” (hal. 87). Buku kumpulan cerpen karya Wayan Agus Wiratama ini mampu untuk merenungkan kenyataan bahwa kita semua, pada akhirnya, akan menghadapi kematian. Menyadari bahwa cinta bisa membuat kita buta, bahkan hingga berperilaku seperti psikopat dalam drama kehidupan. Pada cerpen yang berjudul “Kado Kematian untuk Pacarmu”, tokoh “Aku” terjebak dalam api cemburu, sehingga kehilangan kewarasan. Sadis, memang; itulah akibat saat hati dan mata diselimuti bara api cinta yang membara.

Lebih sadis lagi, dalam salah satu kutipan, “. . . Hati yang telah kuletakkan di atas batu itu kemudian kupukul dengan batu kecil sehingga hancur dan nampak seperti kotoran yang membusuk.” (hal. 28). Di halaman yang lain, Wayan Agus Wiratama menuliskan, “Tubuhnya yang tak terlalu besar hanya kupisah-pisahkan saja. Kaki, tangan, kepala, dan tubuhnya tak lagi menyatu sehingga dengan mudah sungai yang deras itu menghanyutkan organ tubuh lelaki yang telah merebutmu itu.” (hal. 29). Melalui kata-kata ini, penulis seolah berusaha menghipnotis pembaca untuk merasakan pengalaman menjadi tokoh “Aku” dan mengalami aksi memutilasi seolah-olah sedang mengolah daging dengan alat tajam di dapur.

Lalu di cerpen berjudul “Kematian Saudara Perempuan, Wayan Agus Wiratama menulis: “…Buat apa juga menangis, toh ia tak akan pernah kembali. Wayan sudah tidur dengan nyaman di dalam kamar. Semestinya ini dirayakan, bukan ditangisi. Bagaimana tidak, orang lahir untuk menjalankan segala tugasnya di dunia. Ketika Wayan telah menyelesaikan tugasnya, itu berarti Tuhan telah mewisudanya sebagai manusia. Ya, seharusnya kelulusan ini dirayakan, bukan ditangisi.” (hal. 88). Namun, di tengah kenyataan ini, kita tetap merasakan kehilangan saat seseorang yang kita cintai pergi untuk selamanya, terutama ketika kita masih ingin seseorang itu tetap ada di pandangan kita. Perasaan kehilangan yang dialami ibu dalam cerpen “Kematian Saudara Perempuan” juga akan kita rasakan.

Sayangnya, bahasa yang digunakan penulis terasa abstrak dan memerlukan waktu untuk memahami maksud dari setiap kata yang dituliskannya dalam kumpulan cerpen ini. Beberapa ilustrasinya pun sedikit sulit dimaknai atau bahkan sekadar ingin mengetahui arti gambar yang ditambahkan untuk memberikan kesan menarik pada masing-masing cerita. Meski terdapat kelemahan tersebut, buku kumpulan cerpen ini tetap menjadi simbol dari proses kehilangan diri yang mengantarkan kita menuju penemuan jati diri. Kumpulan cerpen Kado Kematian untuk Pacarmu lebih banyak menceritakan tentang bagaimana menjalani kehidupan nyata dengan berbagai problematika yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Buku ini akan sangat menarik jika bisa dinikmati oleh semua kalangan usia. Namun, kumpulan cerpen ini hanya ditujukan untuk pembaca dewasa, karena memerlukan kemampuan dalam menalar secara logis, menilai, memahami, serta berpikir abstrak terkait penggunaan bahasa yang terdapat dalam setiap ceritanya. [T]

Penulis: Ni Komang Sariasih
Editor: Adnyana Ole

Tags: Agus Wiratamabuku cerpenCerpensastrasastrawan bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Film “Caught In 4K”: Ketika Panggung Digital Menjadi Perangkap

Next Post

Konflik Kepentingan? Mengapa Presiden Tidak Seharusnya Memimpin Partai

Ni Komang Sariasih

Ni Komang Sariasih

Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI) Bali

Related Posts

Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

by dr. I Gusti Rai Putra Wiguna, Sp.KJ
May 31, 2026
0
Menata Luka, Merawat Jiwa  —Pengantar Buku ‘Laki-laki yang Menata Lukanya di Rak Buku’ karya Angga Wijaya

SAYA masih ingat pertemuan pertama dengan Angga Wijaya di sebuah rumah sakit besar di Denpasar, bertahun-tahun lalu, ketika saya masih...

Read moreDetails

Membaca Racauan Arman Dhani

by Wayan Esa Bhaskara
May 30, 2026
0
Membaca Racauan Arman Dhani

Judul               : 30 Tahun dan Gagal Penulis            : Arman Dhani Tahun terbit    : Februari 2026 Penerbit          : EA Books...

Read moreDetails

Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

by Inno Koten
May 20, 2026
0
Reruntuhan di Sekitar Sosok Ayah dalam ‘Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong’

TERBIT pada tahun 2024, Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong (selanjutnya disingkat AMKM) menjadi semacam pemenuhan keinginan Eka Kurniawan untuk menulis novel...

Read moreDetails

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
0
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

Read moreDetails

Makassar yang Sempat Terabaikan

by Moch. Ferdi Al Qadri
April 16, 2026
0
Makassar yang Sempat Terabaikan

Judul: Makasssar Nol Kilometer Penulis: Anwar J. Rahman, dkk. Penerbit: Tanahindie Press Tahun: 2014 Halaman: xviii + 255 MAKASSAR-NYA satu,...

Read moreDetails

Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

by Farhan M. Adyatma
March 27, 2026
0
Menggugat Kanon, Mengarsip yang Obskur

Judul: Terdepan, Terluar, Tertinggal: Antologi Puisi Obskur Indonesia 1945-2045 Penulis: Martin Suryajaya Penerbit: Anagram Tahun terbit: Agustus 2020 Jumlah halaman:...

Read moreDetails

‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

by Radha Dwi Pradnyani
March 25, 2026
0
‘Coming Up For Air’, Menghirup Udara yang Tak Lagi Sama

Judul: Menghirup Udara Segar Judul Asli: Coming Up For Air Penulis: George Orwell Penerjemah: Berliani M. Nugraha Tahun Terbit: 2021...

Read moreDetails

Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

by Inno Koten
March 22, 2026
0
Tubuh, Ingatan, dan Sebuah Paradoks —Membaca Kembali ‘Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer’

YANG orang ingat dari Pramoedya Ananta Toer (Pram) adalah ikhtiarnya untuk menyelamatkan martabat manusia. Ia menulis tentang mereka yang kalah,...

Read moreDetails

Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

by Sigit Susanto
March 17, 2026
0
Di Hati Kami Orang Indonesia —Perempuan Swiss di Sumatra dan Jawa Selama 25 tahun: 1920-1945

Judul: Im Herzen waren wir Indonesier Penulis: Gret Surbeck Penerbit: Limmat Verag, 2007 Tebal: 508 Bahasa : Jerman Christa Miranda, menemukan...

Read moreDetails

Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

by Dian Suryantini
March 13, 2026
0
Membaca Luka Digital dan Kegelisahan Zaman  —Ulasan Buku Puisi ‘Anak-anak Luka di Dunia Maya’ Karya Yahya Umar

SASTRA sering kali menjadi cermin paling jujur bagi kehidupan sosial. Sastra tidak selalu menyampaikan fakta dalam bentuk angka, statistik, atau...

Read moreDetails
Next Post
Bubarkan DPR: Amarah Publik, Krisis Representasi, dan Ancaman Demokrasi

Konflik Kepentingan? Mengapa Presiden Tidak Seharusnya Memimpin Partai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menjemput Cahaya Ilmu —Prestasi Guru dan Murid SMPN 2 Banjar dalam Ajang Nyalanesia, FLS3N, dan Berbagi Praktik Baik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026
Panggung

Drama Gong “Nong Nong Kling” Mainkan “Mantri Bongol” yang memikat di Pesta Kesenian Bali 2026

DRAMA gong ternyata masih memiliki tempat di hati masyarakat Bali. Hal itu terlihat saat Sanggar Seni Nong Nong Kling dari...

by Nyoman Budarsana
June 23, 2026
Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara
Budaya

Bupati Sutjidra Dukung Singaraja Literary Festival dan Siap Menyambut Para Penulis yang Hadir di Bali Utara

SINGARAJA – TATKALA.CO | Bupati Buleleng I Nyoman Sutjidra mendukung terselenggaranya Singaraja Literary Festival (SLF) ke-4 tahun 2026 yang diadakan...

by tatkala
June 23, 2026
Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng
Khas

Musim Garam, Musim Menunggu —Cerita dari Desa Les, Buleleng

PETANI garam dan musim panas ibarat dua sejoli yang saling merindukan. Setelah berbulan-bulan berpisah oleh hujan, mendung, dan gelombang yang...

by Nyoman Nadiana
June 23, 2026
’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026
Ulas Musik

’Ngajum’ atau ’Ajum’?  —Antara Baleganjur Jembrana dan Asumsi Penikmatnya di Pesta Kesenian Bali 2026

“Jembrana mesuang Baleganjur jani?” kata seorang teman saya. Sore hari, pukul 15.00 WITA, tanggal 18 Juni 2026, saya yang baru...

by Ega Surya Mahendra
June 23, 2026
Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia
Bahasa

Sepak Bola, Bola Sepak, Football, dan Soccer: Riuh Bahasa di Tengah Piala Dunia

PERNAHKAH Anda merenung sejenak, bagaimana sebuah kata tentang olahraga yang dicintai seantero jagat ini bekerja di dalam kepala kita? Sungguh menarik mengamati...

by I Made Sudiana
June 23, 2026
Penyair Bali Bukan Penyair Lomba
Esai

Penyair Bali Bukan Penyair Lomba

TULISAN pendek Tan Lioe Ie tentang Kusala menarik bukan semata karena membicarakan penghargaan sastra, tetapi karena menyentuh persoalan yang lebih...

by Angga Wijaya
June 23, 2026
Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus
Kritik Seni

Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

LOMBA Baleganjur Kreasi antar Kabupaten se-Bali di Pesta Kesenian Bali (PKB) sejak tahun 2013 telah menjadi ruang penting bagi perkembangan...

by Wayan Sudirana, PhD
June 23, 2026
Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa
Gaya

Buleleng Bercerita Lewat Busana Adat —Dari Payas Ningrat hingga Pedawa

BULELENG bercerita tentang busana adat khas Bali Utara  di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Center Denpasar dalam acara Utsawa (Parade)...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026
Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   
Khas

Dari Perayaan Hari Yoga Sedunia di Anand Ashram Ubud: Dari Kedamaian Diri Menuju Harmoni Dunia   

Yoga di Tengah Kegelisahan Zaman TANGGAL 21 Juni setiap tahun diperingati sebagai Hari Yoga Sedunia. Ketika Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan...

by Agung Sudarsa
June 22, 2026
Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global
Esai

Perluasan Basis Pajak sebagai Strategi Ketahanan Fiskal di Tengah Dinamika Global

Di tengah ketidakpastian ekonomi global, mulai dari konflik geopolitik, perlambatan perdagangan internasional, hingga disrupsi teknologi yang mengubah pola bisnis, negara...

by Vito Prasetyo
June 22, 2026
Mengagumi Mobil Mini
Khas

Mengagumi Mobil Mini

SAYA berkenalan dan menjabat tangannya sesaat setelah ia selesai berbincang dengan sepasang pengunjung yang mampir ke lapak komunitasnya dalam gelaran...

by Jaswanto
June 22, 2026
Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya
Gaya

Kimono Jepang dan Wastra Indonesia di Panggung BWCC Pesta Kesenian Bali 2026: Simbol Persahabatan dan Dialog Budaya

Rekasadana (performance) Kimono Gallery Yawara dari Tokyo, Jepang membuat panggung Bali World Culture Celebration (BWCC) 2026 lebih harmoni. Dalam satu...

by Nyoman Budarsana
June 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co