DI tengah maraknya demonstrasi di kota-kota besar di Indonesia atas ketidakpuasan—untuk tidak mengatakan ketidakpecusan—pemerintah, buku Catatan Seorang Demonstran (2011) karya Soe Hok Gie sepertinya menarik untuk dibuka dan dibaca kembali. Pasalnya, selain mengandung banyak sekali gagasan si penulis, dalam buku ini juga memuat catatan pribadi seputar demonstrasi—pun kehidupan dan perjuangan—aktivis mahasiswa angkatan ‘66 atau pada akhir Orde Lama.
Dalam buku tersebut, khususnya pada Bagian V: Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie mencatat cara-cara demonstran menyampaikan aspirasinya dengan cukup detail, lengkap dengan nyanyian-nyanyian yang disuarakan para mahasiswa ketika itu, seperti yang terjadi di bilangan Salemba, Jakarta Pusat, misalnya. Pada aksi tahun 1966 itu, catat Gie, mahasiswa menyetop mobil-mobil yang melintas hingga menyebabkan kemacetan. Para mahasiswa itu menempel pamflet bertuliskan aneka slogan: “Dekat-jauh dua ratus”, “Turunkan harga bensin”, “Chaerul menteri goblok”.
Selain menempelkan pamflet yang isinya bermacam-macam, berkisar pada Tritura, Gie juga mencatat nyanyian-nyanyian perjuangan dari lagu yang diganti liriknya. Lagu-lagu itu menjadi unik dan kritis. Dikutip dari Historia.id, salah satu nyanyian yang digubah para demonstran adalah Anak Ayam karya AT. Mahmud. Lagu anak-anak itu diganti liriknya menjadi: “Tek, kotek-kotek-kotek. Ada menteri tukan ngobyek. Blok, goblok-goblok-goblok. Kita ganyang menteri goblok…” Aksi ini juga ditampilkan dalam film Gie (2005) garapan Riri Riza.
Tak hanya itu, Gie juga mencatat kisah-kisah ringan seputar Demonstrasi 1996. Cerita-cerita itu, bagi Gie, selain hiburan juga menjadi ikatan penguat perjuangan mereka. Salah satu kisahnya adalah saat para demonstran melakukan aksi di sekitaran Bundaran HI dan mereka kehabisan lem untuk menempel selebaran. Kemudian mereka meminta lem kepada manajemen Hotel Indonesia (HI). Karena terdesak, manajemen HI terpaksa menyuruh bawahannya memasak kanji dan dimasukkan ke dalam ember plastik lalu dikirim ke para demonstran.
Belajar dari Aktivis 66
Melalui Catatan Seorang Demonstran, kita bisa belajar betapa dinamisnya gerakan aktivis mahasiswa angkatan ‘66, Khususnya sosok Soe Hok Gie. Sebagai salah seorang mahasiswa yang disegani di UI, peran Gie tidak bisa diremehkan. Ia mahasiswa yang tidak hanya idealis, tapi juga berpengetahuan luas. Semua ia pelajari. Filsafat, sastra, politik nasional maupun internasional. Kalau sekarang, mungkin ia akan dijuluki sebagai Wikipedia berjalan.
Selain aktif berkegiatan dan mendorong hal-hal yang berkaitan dengan ranah kognitif, meningkatkan kompetensi melalui forum-forum diskusi—bersama dengan Ciil (panggilan Dr. Sjahrir) ia mendirikan GDUI (Grup Diskusi UI)—, Gie juga sangat aktif di dunia gerakan: aksi demonstrasi menuntut turunnya Soekarno (rezim Orde Lama), pembubaran PKI, dan turunnya harga BBM. Dan jangan lupakan tentang keaktifannya di dunia pecinta alam, di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Pradjna Paramita.
Melalui catatannya, kita tahu bahwa Gie sangat getol menghidupkan kegiatan kampus. Ia mendorong mahasiswa supaya bergairah mengikuti berbagai aktivitas kampus. Ia mengajak kawan-kawannya untuk menikmati pembacaan puisi, panggung teater, musik, dan diskusi film, juga buku. Bahkan, ia pernah mendatangkan W.S. Rendra ke kampus di Rawamangun untuk berdiskusi.
Gie adalah sosok yang ambisius—meski sangat dinamis. Jauh dari fundamentalis. Gerakan-gerakannya tidak membosankan. Ia bisa melakukan apa saja. Hobinya menonton film pun ditularkan kepada kawan-kawannya. Baik menonton di gedung bioskop umum, atau hanya sekadar menonton di sebuah ruangan, yang penting melakukannya beramai-ramai.
Dan Gie juga sering mengajak kawan-kawannya untuk menjelajahi kedutaan-kedutaan asing untuk menonton film, seperti Kedutaan Ceko, Kedutaan Rumania, Kedutaan Perancis, dll. Biasanya Gie akan mengajak mereka untuk menonton The Secret of Life, yang bercerita tentang proses bayi, atau The Graduate-nya Dustin Hoffman dan film-film yang lain.
Selain menonton film, kadang Gie hanya berkumpul di rumah seorang kawan untuk mendengarkan lagu-lagu The Beatles, misalnya, dan kemudian membahasnya bersama-sama. Gie sangat suka mendengarkan lagu-lagu protes, seperti lagu Dona Dona yang dinyanyikan Joan Baez, lagu-lagu Bob Dylan, dan juga lagu-lagu perjuangan antridiskriminasi kaum kulit hitam di Amerika Serikat.
Pergerakan mahasiswa angkatan ‘66 yang dimotori oleh Soe Hok Gie saya pikir sangat dinamis. Artinya tidak hanya bergelut di bidang akademis saja, tapi juga bergerak di ranah non-akademis. Gerakan-gerakannya tidak hanya formalitas saja, tapi tujuannya jelas, visioner. Selogan “buku, pesta, dan cinta” sangat populer waktu itu.
Selain aktif di internal kampus, Soe Hok Gie—dan kebanyakan mahasiswa kala itu—juga sangat aktif di eksternal kampus. Bahkan, Gie adalah salah satu otak terpilihnya Herman Lantang sebagai Ketua SM-FSUI yang mengalahkan calon-calon dari organisasi mahasiswa besar macam HMI dan GMNI. Pada masa Herman menjadi ketua Senat, Soe Hok Gie menduduki posisi pembantu staf SM-FSUI.
“Pokoknya waktu gua ketua Senat itu, Hok-gie otaknya. Pidato gua waktu jadi ketua Senat aja Hok-gie yang bikin. Juga waktu nyusun organisasi SM-FSUI, Hok-gie yang ngatur semua,” ucap Herman Lantang.
Hampir semua kawan yang pernah dekat dengan Gie, atau beberapa orang yang kemudian ikut serta berkomentar dalam buku Soe Hok-gie Sekali Lagi, misalnya, mengatakan bahwa sosok Gie mampu mewakili pemuda pada zamannya. Ia sangat istimewa. Berani, jujur, dan sangat idealis.
Pada tahun 1967, ketika mendapat dukungan dari kelompok independen—mereka yang tidak tergabung di HMI, PMII, PMKRI, dan GMKI—Soe Hok Gie kembali memenangkan pemilihan ketua SM-FSUI. Sejak itu, suasana fakultas kembali meriah. Berbagai kegiatan berjalan dengan baik. Ada olah raga, penanaman pohon, pendkian gunung, ada klub buku, film, musik, dan tentu saja demonstrasi. Bahkan, teater Populer pimpinan Teguh Karya dan Teater Kecil Arifin C. Noor pernah didatangkan Gie untuk pentas di FS-UI. Tidak ketinggalan, W.S. Rendra juga pernah ia datangkan sebagai pembicara.
Pada masa Gie menjabat sebagai ketua Senat, terbentuk Ikmasi (Ikatan Mahasiswa Sastra se-Indonesia) yang beranggotakan fakultas-fakultas sastra budaya dari berbagai universitas negeri se-Indonesia.[T]
Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto



























