DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan Indonesia, melalui release beritanya, Kemendikdasmen Abdul Mu’ti pada 1 April 2026, menetapkan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan melalui Pendidikan. Dalam release-nya, Kemendikdasmen menyebutkan Bulan Pemberdayaan Perempuan adalah gerakan kolaboratif yang dicanangkan dengan mengambil semangat perjuangan Kartini berfokus pada penguatan kesetaraan gender, pendidikan, dan peningkatan literasi untuk membekali perempuan agar mampu berpartisipasi penuh dalam berbagai bidang pembangunan.
Dengan menjadikan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan, makin lengkaplah jejak Menteri sebelumnya yang menetapkan Mei sebagai Bulan Pendidikan oleh Anies Baswedan dan Bulan Merdeka Belajar oleh Nadiem Makarim. Sebelumnya, pada zaman Orde Baru, Mei juga ditetapkan sebagai Bulan Buku Nasional. Makin banyak pula ritual kebangsaan dari April menuju Mei. Kita membentangkan karpet merah untuk para pejabat melakukan serimonial. Kadang-kadang serimonial yang formalitas sering menutup substansi yang sesungguhnya. Serimonial menjadi panggung para pejabat, sedangkan substansi ada di ruang sunyi sepi tanpa tepi. Kadang-kadang tidak terlihat, lebih-lebih di dunia Pendidikan yang tidak menjanjikan rujak yang pedasnya langsung dirasakan begitu digigit. Pendidikan adalah investasi jangka panjang, bukan investasi lalah tabia.
Dalam konteks Pendidikan, menjadikan April sebagai Bulan Pemberdayaan Perempuan adalah strategi literasi yang perlu terus diasah dan digemakan. Karpet merah untuk mendorong penerbitan buku karya perempuan atau tema perempuan adalah sebuah kebutuhan. Target keterwakilan 30 % perempuan di lembaga pemerintah perlu terus didorong.
Dalam konteks Bali, peran strategis perempuan sudah mulai sejak dulu. Indikatornya, peran laki-laki sudah banyak diambil alih perempuan Bali, misalnya Sekaa Gong dan Sekaa Shanti. Kini, urusan ngelawar, mencari bahan, membuat banten, ngaturang banten, ngayah mangigel juga sudah biasa dilakukan perempuan Bali. Pidan mapayas ? Tidak pernah terlewatkan dalam setiap momen. Perempuan Bali kini tetap tampil modis merawat tubuh, di tengah kesibukannya. Tanda mereka cerdas berbudaya di tengah tekanan dan himpitan hidup.
Semua itu mengingatkan saya pada puisi, “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya. Bait terakhir dari tiga bait puisinya, ia menulis : “…Perempuan-perempuan perkasa yang membawa bakul di pagi buta/siapakah mereka…/Mereka ialah ibu-ibu berhati baja, perempuan-perempuan perkasa/akar-akar yang melata dari tanah perbukitan turun ke kota…/Mereka cinta kasih yang bergerak menghidupi desa demi desa…//
Jika melihat dari posisi Hartojo Andangdjaya sebagai tokoh Angkatan 66 dalam Sastra Indonesia, maka Bulan Pemberdayaan Perempuan yang dicanangkan Abdul Mu’ti pada 1 April 2026 terasa hambar. Tanpa diformalkan dengan nama Bulan Pemberdayaan Perempuan, perempuan-perempuan desa sudah memberdayakan diri untuk anak dan keluarga, demi sesuap nasi. Perempuan-perempuan desa tidak perlu karpet merah untuk bisa bergerak. Badan otomatisnya bergerak mengeja hidup yang berakar di tanah tandus. Namun, cinta kasihnya bergerak melampaui desanya sendiri. Cinta kasihnya tak terhingga merawat anak negeri di tengah segala keterbatasan.
Bulan Pemberdayaan Perempuan sesungguhnya terhubung dengan Bulan Pendidikan/Bulan Merdeka Belajar sepanjang bulan Mei. Jika diandaikan Raden Ajeng Kartini sebagai seorang ibu bagi anak negeri, ialah pendidik pertama dan utama dalam pemerolehan bahasa sebagai jembatan komunikasi. Dalam konteks ini, komunikasi tidak saja terhubung secara sosial (fungsi fatik Bahasa), tetapi juga dengan asupan spirit individu untuk mengisi diri secara memadai membangun kepekaan rasa. Tugas ibu negara dengan inspirasi Kartini sudah diperkuat oleh Chairil Anwar yang wafatnya pada 28 April 1949. Kita tak bisa melupakan Chairil Anwar ketika Bulan Pemberdayaan Perempuan digelar. Chairil Anwar menyiapkan sarana komunikasi dengan puisi-puisi berjiwa untuk penyemangat perjuangan perempuan tetapi tidak lupa mohon restu pada Tuhan, “Di pintu-Mu aku mengetuk”.
Chairil Anwar memuliakan kaum perempuan melalui puisi-puisinya, antara lain Sajak Putih : Buat Tunanganku Mirat, Dengan Mirat, Mirat Muda, Chairil Muda, Hampa (kepada Sri yang selalu sangsi), Senja di Pelabuhan Kecil (buat Sri Ayati), Ida, Kenangan (untuk Karinah Moordjono), Dari Dia (buat K), Cerita Buat Dian Tamaela, Tuti Artic, Ina Mia, Buat Gadis Rasyid, Buat Nyonya N.
Puisi sebagai alat perjuangan bagi Chairil Anwar telah memberikan asupan kosa kata yang memadai bagi kaum perempuan. Perempuan pembaca puisi Chairil Anwar dapat merenungkan bagai mana cinta berlabuh sebagai laut yang tidak mudah ditaklukkan. Ada permainan, keceriaan, tetapi juga ada ketakutan dan bahaya ombak yang menggulung. Kepada Chairil Anwar, perempuan berguru bagaimana kata-kata liar dijinakkan lalu diringkas menjadi puisi. Namun, kaum laki bisa berguru kepada Kartini menemukan titik terang di goa gelap (dark continent) sebagaimana dicetuskan Sigmund Freud terhadap perempuan.
Dengan menjadikan puisi-puisi Chairil Anwar sebagai penyemangat bagi perjuangan perempuan, sesungguhnya Bulan Pemberdayaan Perempuan sepanjang April dapat diperkuat kembali melalui Bulan Pendidikan/Bulan Merdeka Belajar/Bulan Buku Nasional sepanjang Mei. Beranalogi pada pendekatan pembelajaran mendalam, pemanggungan perempuan sepanjang April adalah hal yang menyenangkan dilakukan dengan penuh kesadaran dan bermakna. Pada Bulan Pendidikan dengan Merdeka Belajar diperdalam melalui kajian sesuai dengan semangat Bulan Buku Nasional, dengan puncaknya pada Hari Buku Nasional setiap 17 Mei. Penguatan literasi tiada henti walaupun pemimpin berubah. Program Literasi tidak boleh goyah karena dari situlah cikal bakal kecerdasan disemaikan.
Dengan hadirnya Bulan Pemberdayaan Perempuan dilanjutkan dengan Bulan Pendidikan, seyogyanya pemahaman arti Pendidikan dalam memanusiakan manusia makin bermutu, dengan pondasi kuat di keluarga berkat didikan cinta kasih ibu ditopang kekuatan sang ayah. Di sekolah, pendidikan bermutu untuk semua dilakukan secara berkelanjutan. Ki Hadjar Dewantara menyebut kontinuitas dalam ajaran Trikonnya. [T]





























