27 April 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Isran Kamal by Isran Kamal
April 27, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran besar dalam program MBG yang dikelola BGN kembali memicu gelombang respons tersebut. Potongan angka beredar luas di media sosial, diikuti komentar tajam, kritik keras, hingga kesimpulan yang ditarik dengan sangat cepat bahkan sebelum banyak orang benar-benar memahami struktur dan konteks anggaran itu sendiri.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, melainkan cerminan dari pola yang lebih dalam tentang bagaimana publik memproses informasi. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang terasa besar dan kompleks, respons emosional sering kali muncul lebih cepat daripada upaya memahami secara utuh.

Namun demikian, penting untuk diakui bahwa reaksi publik dalam kasus ini tidak sepenuhnya tanpa dasar. Sejumlah pertanyaan terhadap besaran, struktur, dan prioritas anggaran memang layak diajukan. Dalam konteks ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah anggaran tersebut tepat atau tidak, tetapi juga mengapa angka besar hampir selalu memicu reaksi yang begitu cepat dan intens.

Program MBG yang dikelola oleh BGN menjadi salah satu contoh paling aktual. Besaran anggaran yang beredar di ruang publik dengan cepat menjadi titik fokus utama, sering kali terlepas dari detail implementasi, tujuan program, maupun struktur pembiayaannya. Diskursus yang muncul pun cenderung berpusat pada satu hal yakni, angka yang dianggap terlalu besar, tanpa selalu diiringi upaya memahami bagaimana angka tersebut dibentuk dan dialokasikan.

Dalam banyak kasus, angka tersebut kemudian berfungsi sebagai simbol bukan hanya tentang besaran anggaran, tetapi juga tentang bagaimana publik memandang pengelolaan kebijakan secara keseluruhan.

Di sisi lain, reaksi publik terhadap besaran anggaran ini tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas, yaitu adanya persepsi trade-off dalam penggunaan anggaran negara. Banyak masyarakat melihat bahwa peningkatan alokasi untuk program tertentu sering kali diiringi dengan penyesuaian atau bahkan pengurangan pada sektor lain yang juga dianggap mendesak, seperti pendidikan, kesehatan, atau layanan publik dasar.

Dalam kerangka ini, persoalan tidak lagi sekadar tentang angka yang besar, tetapi tentang prioritas. Ketika publik merasa bahwa alokasi tersebut tidak sejalan dengan urgensi kebutuhan yang mereka rasakan, respons emosional menjadi lebih kuat, dan ketidakpercayaan terhadap institusi pun semakin menguat.

Psikologi Reaksi Publik

Salah satu pemicu utama reaksi cepat terhadap isu anggaran adalah sifat angka itu sendiri. Ketika publik dihadapkan pada nominal yang sangat besar, respons yang muncul sering kali bukan pemahaman, melainkan emosi. Dalam psikologi kognitif, manusia cenderung kesulitan memproses angka dalam skala besar secara intuitif. Akibatnya, angka lebih sering “dirasakan” daripada benar-benar dipahami, terutama ketika dikaitkan dengan isu yang menyentuh kepentingan publik secara langsung.

Namun, emosi terhadap angka dan prioritas ini juga dipengaruhi oleh faktor yang lebih dalam, yaitu kepercayaan atau lebih tepatnya, ketidakpercayaan. Ketika tingkat trust terhadap institusi berada pada level rendah, setiap kebijakan baru cenderung dibaca dengan kacamata skeptis. Dalam kondisi seperti ini, anggaran besar tidak lagi dilihat semata sebagai kebutuhan program, tetapi sebagai sesuatu yang berpotensi bermasalah. Reaksi ini tidak sepenuhnya irasional, melainkan terbentuk dari akumulasi pengalaman kolektif yang membentuk ekspektasi publik terhadap bagaimana kebijakan dikelola.

Dalam situasi distrust, informasi yang belum lengkap cenderung langsung diarahkan pada asumsi terburuk, terutama ketika kebijakan tersebut menyentuh kebutuhan yang dianggap lebih mendesak oleh publik.

Selain itu, ada faktor kognitif lain yang tak kalah penting, yaitu ilusi memahami. Banyak orang merasa sudah cukup mengerti suatu isu hanya karena telah membaca beberapa potongan informasi, headline berita, cuplikan angka, atau opini di media sosial. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai illusion of explanatory depth, yaitu keyakinan bahwa kita memahami sesuatu lebih dalam daripada yang sebenarnya kita pahami.

Kondisi ini membuat diskusi publik terasa penuh kepastian, meskipun sering kali belum ditopang oleh pemahaman yang utuh terhadap kompleksitas kebijakan.

Substansi Kebijakan dan Kualitas Respons Publik

Jika ditarik lebih dalam, polemik ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal yang saling memiliki keterkaitan, yaitu, substansi kebijakan itu sendiri dan bagaimana publik meresponsnya. Dalam kasus seperti MBG, pertanyaan terhadap besaran anggaran, prioritas, serta dampaknya terhadap sektor lain merupakan hal yang wajar, bahkan diperlukan sebagai bagian dari fungsi kontrol publik. Reaksi keras yang muncul tidak lahir tanpa alasan, melainkan dari kekhawatiran yang cukup konkret tentang arah kebijakan.

Namun, di saat yang sama, kualitas respons publik turut menentukan apakah kritik tersebut mampu berkembang menjadi evaluasi yang konstruktif atau berhenti sebagai reaksi sesaat.

Dalam konteks ini, perdebatan sering kali bergeser dari evaluasi kebijakan menjadi persoalan kepercayaan. Ketika trust terhadap institusi rendah, setiap penjelasan cenderung dipandang dengan kecurigaan. Hal ini dapat dimengerti, terutama jika publik memiliki pengalaman sebelumnya yang membentuk ekspektasi negatif. Namun konsekuensinya, bahkan informasi yang valid sekalipun bisa sulit diterima jika tidak disertai dengan pemulihan kepercayaan yang memadai.

Di sinilah interaksi antara kualitas kebijakan dan kualitas respons publik menjadi penting. Kebijakan yang kurang transparan memperkuat kecurigaan, sementara respons yang terlalu reaktif dapat mengurangi ketajaman kritik itu sendiri.

Kritik atau Sinisme berbalut Sarkas?

Di tengah dinamika ini, penting untuk membedakan antara kritik yang sehat dan sinisme yang melelahkan. Dalam konteks kebijakan yang memang memunculkan pertanyaan dan kejanggalan, kritik publik bukan hanya wajar, tetapi juga diperlukan sebagai bagian dari fungsi kontrol terhadap kekuasaan. Kritik lahir dari kepedulian yang mendorong pertanyaan, menguji argumen, dan menuntut perbaikan dengan dasar yang jelas.

Namun, tidak semua bentuk kritik bergerak ke arah yang sama. Ketika kritik bergeser menjadi sinisme, ruang dialog mulai menyempit. Sinisme cenderung berangkat dari asumsi bahwa apa pun yang dilakukan pasti salah, sehingga fokusnya tidak lagi pada memahami, melainkan pada mengafirmasi kecurigaan.

Dalam jangka pendek, sikap ini mungkin terasa seperti kewaspadaan. Namun dalam jangka panjang, justru akan berisiko mengikis kemampuan untuk menilai secara jernih termasuk membedakan mana kritik yang kuat dan mana yang sekadar reaksi.

Kritik yang kuat tidak hanya ditentukan oleh keberanian untuk bersuara, tetapi juga oleh ketepatan dalam memahami apa yang dikritik.

Pada akhirnya, kualitas percakapan publik akan sangat menentukan arah kebijakan. Kritik yang tajam, proporsional, dan berbasis pemahaman tidak hanya menjaga akuntabilitas, tetapi juga memperkuat posisi publik itu sendiri. Tantangannya bukan pada apakah kita perlu bersuara, tetapi bagaimana memastikan suara tersebut benar-benar membawa kejelasan, bukan sekadar memperkuat kebisingan yang sudah ada. [T]

Tags: makanan bergiziPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Next Post

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

by Asep Kurnia
April 27, 2026
0
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

Read moreDetails

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
0
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

Read moreDetails

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

by Sugi Lanus
April 27, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

Read moreDetails

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
0
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

Read moreDetails

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
0
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

Read moreDetails

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
0
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

Read moreDetails

Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

by Putu Ayu Sunia Dewi
April 25, 2026
0
Mencegah Kekerasan Seksual di Indonesia dengan Perspektif Feminis Hindu

KEKERASAN seksual di Indonesia telah menjadi luka yang tak kunjung usai, bahkan kini merebak di kampus - kampus ternama selain...

Read moreDetails

Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

by Agung Sudarsa
April 24, 2026
0
Dua Jalan, Satu Tujuan: Membaca Krishna dan Siddharta melalui Peta Hawkins

Ingatan yang Menjadi Wacana Batin Gagasan tentang Krishna dan Siddharta yang muncul dari ingatan terhadap wacana maupun tulisan Guruji Anand...

Read moreDetails

‘Janji-janji Jepang’

by Angga Wijaya
April 23, 2026
0
‘Janji-janji Jepang’

SIANG  hari sering membawa kita pada hal-hal yang tidak direncanakan. Bukan hanya soal pekerjaan atau agenda, tetapi juga ingatan. Tiba-tiba...

Read moreDetails

Menggugat Empati Elite kepada Rakyat

by Chusmeru
April 23, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

RAKYAT Indonesia pasti masih ingat betul siapa menteri yang memanggul sekarung beras saat meninjau banjir di Sumatra Barat pada tanggal...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AJARAN LELUHUR BALI TENTANG MEMILAH SAMPAH

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya
Esai

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari...

by Asep Kurnia
April 27, 2026
Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali
Persona

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

DI sela waktu istirahat Lomba Tari Bali di UPMI Bali, Sabtu (25/4), sosok Putu Dian Tristiana Dewi berdiri mendampingi anak...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi
Panggung

Peringatan Hari Tari Sedunia di UPMI: Lomba Tari Bali Jadi Ruang Menjaga Tradisi dan Menggerakkan Generasi

LOMBA Tari Bali yang digelar pada 25–26 April 2026 di Auditorium Redha Gunawan, Universitas PGRI Mahadewa Indonesia (UPMI Bali), menjadi...

by Dede Putra Wiguna
April 27, 2026
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan
Esai

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

DUNIA mengakui1 April adalah tanggal olok-olok. Orang boleh berbohong pada 1 April yang disebut dengan April Mop. Tidak demikian dengan...

by I Nyoman Tingkat
April 27, 2026
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram
Esai

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan....

by Isran Kamal
April 27, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027 Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi...

by Sugi Lanus
April 27, 2026
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta
Esai

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini...

by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali
Esai

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

KEDATANGAN wisatawan ke Bali pada dasarnya bukan semata-mata karena hotel mewah, pusat hiburan, atau tempat belanja. Mereka datang karena ingin...

by Nyoman Mariyana
April 26, 2026
Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?
Esai

Sekolah Siaga Kependudukan, Apa Pula Itu?

SEKOLAH selalu menjadi objek sosialisasi bagi kesuksesan program pemerintah, baik pemerintah Pusat maupun Pemerintah Daerah. Gaungnya makin kencang setelah reformasi...

by I Nyoman Tingkat
April 26, 2026
Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali
Berita

Aksi Kemanusiaan pada HUT ke-9 AMSI Bali

Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI) Bali merayakan hari ulang tahun (HUT) ke-9 dengan menggelar serangkaian kegiatan sosial yang menyentuh langsung...

by tatkala
April 25, 2026
Serangga dalam Piring Makan Kita
Kuliner

Serangga dalam Piring Makan Kita

JIKA di Gunung Kidul orang-orang desa terbiasa menggoreng belalang, atau masyarakat Jawa Timur—khususnya di kawasan hutan jati—gemar menyantap kepompong ulat...

by Jaswanto
April 25, 2026
Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan
Cerpen

Digigit Ular Kobra  |  Cerpen Depri Ajopan

CAKEH yang baru dilarikan ke rumah Pak Ik merintih kesakitan. Anak perempuan berumur 14 tahun itu baru digigit ular kobra...

by Depri Ajopan
April 25, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co