17 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Isran Kamal by Isran Kamal
April 27, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran besar dalam program MBG yang dikelola BGN kembali memicu gelombang respons tersebut. Potongan angka beredar luas di media sosial, diikuti komentar tajam, kritik keras, hingga kesimpulan yang ditarik dengan sangat cepat bahkan sebelum banyak orang benar-benar memahami struktur dan konteks anggaran itu sendiri.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, melainkan cerminan dari pola yang lebih dalam tentang bagaimana publik memproses informasi. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang terasa besar dan kompleks, respons emosional sering kali muncul lebih cepat daripada upaya memahami secara utuh.

Namun demikian, penting untuk diakui bahwa reaksi publik dalam kasus ini tidak sepenuhnya tanpa dasar. Sejumlah pertanyaan terhadap besaran, struktur, dan prioritas anggaran memang layak diajukan. Dalam konteks ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah anggaran tersebut tepat atau tidak, tetapi juga mengapa angka besar hampir selalu memicu reaksi yang begitu cepat dan intens.

Program MBG yang dikelola oleh BGN menjadi salah satu contoh paling aktual. Besaran anggaran yang beredar di ruang publik dengan cepat menjadi titik fokus utama, sering kali terlepas dari detail implementasi, tujuan program, maupun struktur pembiayaannya. Diskursus yang muncul pun cenderung berpusat pada satu hal yakni, angka yang dianggap terlalu besar, tanpa selalu diiringi upaya memahami bagaimana angka tersebut dibentuk dan dialokasikan.

Dalam banyak kasus, angka tersebut kemudian berfungsi sebagai simbol bukan hanya tentang besaran anggaran, tetapi juga tentang bagaimana publik memandang pengelolaan kebijakan secara keseluruhan.

Di sisi lain, reaksi publik terhadap besaran anggaran ini tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas, yaitu adanya persepsi trade-off dalam penggunaan anggaran negara. Banyak masyarakat melihat bahwa peningkatan alokasi untuk program tertentu sering kali diiringi dengan penyesuaian atau bahkan pengurangan pada sektor lain yang juga dianggap mendesak, seperti pendidikan, kesehatan, atau layanan publik dasar.

Dalam kerangka ini, persoalan tidak lagi sekadar tentang angka yang besar, tetapi tentang prioritas. Ketika publik merasa bahwa alokasi tersebut tidak sejalan dengan urgensi kebutuhan yang mereka rasakan, respons emosional menjadi lebih kuat, dan ketidakpercayaan terhadap institusi pun semakin menguat.

Psikologi Reaksi Publik

Salah satu pemicu utama reaksi cepat terhadap isu anggaran adalah sifat angka itu sendiri. Ketika publik dihadapkan pada nominal yang sangat besar, respons yang muncul sering kali bukan pemahaman, melainkan emosi. Dalam psikologi kognitif, manusia cenderung kesulitan memproses angka dalam skala besar secara intuitif. Akibatnya, angka lebih sering “dirasakan” daripada benar-benar dipahami, terutama ketika dikaitkan dengan isu yang menyentuh kepentingan publik secara langsung.

Namun, emosi terhadap angka dan prioritas ini juga dipengaruhi oleh faktor yang lebih dalam, yaitu kepercayaan atau lebih tepatnya, ketidakpercayaan. Ketika tingkat trust terhadap institusi berada pada level rendah, setiap kebijakan baru cenderung dibaca dengan kacamata skeptis. Dalam kondisi seperti ini, anggaran besar tidak lagi dilihat semata sebagai kebutuhan program, tetapi sebagai sesuatu yang berpotensi bermasalah. Reaksi ini tidak sepenuhnya irasional, melainkan terbentuk dari akumulasi pengalaman kolektif yang membentuk ekspektasi publik terhadap bagaimana kebijakan dikelola.

Dalam situasi distrust, informasi yang belum lengkap cenderung langsung diarahkan pada asumsi terburuk, terutama ketika kebijakan tersebut menyentuh kebutuhan yang dianggap lebih mendesak oleh publik.

Selain itu, ada faktor kognitif lain yang tak kalah penting, yaitu ilusi memahami. Banyak orang merasa sudah cukup mengerti suatu isu hanya karena telah membaca beberapa potongan informasi, headline berita, cuplikan angka, atau opini di media sosial. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai illusion of explanatory depth, yaitu keyakinan bahwa kita memahami sesuatu lebih dalam daripada yang sebenarnya kita pahami.

Kondisi ini membuat diskusi publik terasa penuh kepastian, meskipun sering kali belum ditopang oleh pemahaman yang utuh terhadap kompleksitas kebijakan.

Substansi Kebijakan dan Kualitas Respons Publik

Jika ditarik lebih dalam, polemik ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal yang saling memiliki keterkaitan, yaitu, substansi kebijakan itu sendiri dan bagaimana publik meresponsnya. Dalam kasus seperti MBG, pertanyaan terhadap besaran anggaran, prioritas, serta dampaknya terhadap sektor lain merupakan hal yang wajar, bahkan diperlukan sebagai bagian dari fungsi kontrol publik. Reaksi keras yang muncul tidak lahir tanpa alasan, melainkan dari kekhawatiran yang cukup konkret tentang arah kebijakan.

Namun, di saat yang sama, kualitas respons publik turut menentukan apakah kritik tersebut mampu berkembang menjadi evaluasi yang konstruktif atau berhenti sebagai reaksi sesaat.

Dalam konteks ini, perdebatan sering kali bergeser dari evaluasi kebijakan menjadi persoalan kepercayaan. Ketika trust terhadap institusi rendah, setiap penjelasan cenderung dipandang dengan kecurigaan. Hal ini dapat dimengerti, terutama jika publik memiliki pengalaman sebelumnya yang membentuk ekspektasi negatif. Namun konsekuensinya, bahkan informasi yang valid sekalipun bisa sulit diterima jika tidak disertai dengan pemulihan kepercayaan yang memadai.

Di sinilah interaksi antara kualitas kebijakan dan kualitas respons publik menjadi penting. Kebijakan yang kurang transparan memperkuat kecurigaan, sementara respons yang terlalu reaktif dapat mengurangi ketajaman kritik itu sendiri.

Kritik atau Sinisme berbalut Sarkas?

Di tengah dinamika ini, penting untuk membedakan antara kritik yang sehat dan sinisme yang melelahkan. Dalam konteks kebijakan yang memang memunculkan pertanyaan dan kejanggalan, kritik publik bukan hanya wajar, tetapi juga diperlukan sebagai bagian dari fungsi kontrol terhadap kekuasaan. Kritik lahir dari kepedulian yang mendorong pertanyaan, menguji argumen, dan menuntut perbaikan dengan dasar yang jelas.

Namun, tidak semua bentuk kritik bergerak ke arah yang sama. Ketika kritik bergeser menjadi sinisme, ruang dialog mulai menyempit. Sinisme cenderung berangkat dari asumsi bahwa apa pun yang dilakukan pasti salah, sehingga fokusnya tidak lagi pada memahami, melainkan pada mengafirmasi kecurigaan.

Dalam jangka pendek, sikap ini mungkin terasa seperti kewaspadaan. Namun dalam jangka panjang, justru akan berisiko mengikis kemampuan untuk menilai secara jernih termasuk membedakan mana kritik yang kuat dan mana yang sekadar reaksi.

Kritik yang kuat tidak hanya ditentukan oleh keberanian untuk bersuara, tetapi juga oleh ketepatan dalam memahami apa yang dikritik.

Pada akhirnya, kualitas percakapan publik akan sangat menentukan arah kebijakan. Kritik yang tajam, proporsional, dan berbasis pemahaman tidak hanya menjaga akuntabilitas, tetapi juga memperkuat posisi publik itu sendiri. Tantangannya bukan pada apakah kita perlu bersuara, tetapi bagaimana memastikan suara tersebut benar-benar membawa kejelasan, bukan sekadar memperkuat kebisingan yang sudah ada. [T]

Tags: makanan bergiziPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Next Post

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
0
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

Read moreDetails

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
0
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

Read moreDetails

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan
Pendidikan

‘Perkuat Toleransi dan Semangat Persatuan’ —Begitu Kata Ketua MPR Ahmad Muzani saat Beri Kuliah Umum Kebangsaan di Institut Mpu Kuturan

KETUA MPR RI, Ahmad Muzani memberikan Kuliah Umum Kebangsaan kepada sivitas akademika Institut Mpu Kuturan (IMK) pada Jumat (15/5) sore....

by Son Lomri
May 15, 2026
Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo
Esai

Sepatu yang Kekecilan dan Pembelajaran dari Situbondo

“The man who wears the shoe knows best that it pinches and where it pinches, even if the expert shoemaker...

by Faris Widiyatmoko
May 15, 2026
Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali
Liputan Khusus

Hikayat Rempah dalam Prasasti dan Lontar Bali

LIMA tahun lalu, kawan saya, Dian Suryantini—jurnalis sekaligus akademisi yang tinggal di Singaraja, Bali—bercerita tentang neneknya, Nyoman Landri, warga Banjar...

by Jaswanto
May 15, 2026
Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali
Hiburan

Leak Tanah Bali: Kiprah Teranyar Amplitherapy Nan Garang & Swakendali

ALBUM penuh terbaru Amplitherapy bertajuk Leak Tanah Bali yang dijadwalkan terbit pada 16 Mei 2026 menandai babak baru perjalanan musikal...

by Nyoman Budarsana
May 15, 2026
Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan
Bahasa

Pesona Tulisan Tanpa Saltik di Tengah Budaya Instan

PERNAHKAH Anda memperhatikan penulisan atau ejaan konten seseorang saat sedang berselancar di media sosial? Kesalahan tik atau saltik yang populer...

by I Made Sudiana
May 15, 2026
Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital
Ulas Musik

Di Balik Dinding Kastil: Pertahanan Diri dan Krisis Koneksi di Era Digital

DALAM lanskap rock progresif 1970-an, “Castle Walls” tampil sebagai balada megah yang sarat ketegangan emosional. Ditulis dan dinyanyikan oleh vokalis...

by Ahmad Sihabudin
May 14, 2026
Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan
Ulas Buku

Nietzsche Tidak Membunuh Tuhan

“Tuhan telah mati,” begitulah bunyi frasa yang dituliskan Nietzsche dalam Thus Spoke Zarathustra yang mencoba menyingkap kondisi sosial masyarakat saat...

by Heski Dewabrata
May 14, 2026
Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington
Esai

Batas Sains, Kesombongan Epistemik, dan Jalan Holistik: Membaca Ulang Eddington

Ketika Sains Diposisikan sebagai Kebenaran Tunggal: Ilusi Kepastian Modern Dalam percakapan publik modern, sains sering ditempatkan sebagai otoritas tertinggi pengetahuan....

by Agung Sudarsa
May 14, 2026
Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara
Panggung

Ubud Food Festival 2026: Jembatan Kolaborasi Khusus Kuliner, Ajang Petani Keren Berbicara

Ubud Food Festival ke-11 tinggal dua minggu mendatang, tepatnya pada 28 hingga 31 Mei 2026. Selama empat hari, ajang kuliner...

by Nyoman Budarsana
May 14, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Regulasi Baru, Antrean Baru: Permenkumham 49/2025 dan Ancaman bagi Iklim Investasi

TRANSFORMASI digital administrasi Perseroan Terbatas melalui Permenkumham Nomor 49 Tahun 2025 pada dasarnya merupakan langkah progresif negara dalam mewujudkan pelayanan...

by I Made Pria Dharsana
May 14, 2026
Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau
Pop

Tips Memilih Travel Malang Kediri dengan Harga Terjangkau

DALAM memilih jasa travel Malang Kediri memang tidak boleh asal-asalan karena ini akan berdampak langsung terhadap kenyamanan selama di perjalanan...

by tatkala
May 14, 2026
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co