6 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Isran Kamal by Isran Kamal
April 27, 2026
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

SETIAP kali angka besar muncul di ruang publik, reaksi yang mengikuti hampir selalu serupa, yakni cepat, emosional, dan penuh kecurigaan. Belakangan, sorotan terhadap anggaran besar dalam program MBG yang dikelola BGN kembali memicu gelombang respons tersebut. Potongan angka beredar luas di media sosial, diikuti komentar tajam, kritik keras, hingga kesimpulan yang ditarik dengan sangat cepat bahkan sebelum banyak orang benar-benar memahami struktur dan konteks anggaran itu sendiri.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru, melainkan cerminan dari pola yang lebih dalam tentang bagaimana publik memproses informasi. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang terasa besar dan kompleks, respons emosional sering kali muncul lebih cepat daripada upaya memahami secara utuh.

Namun demikian, penting untuk diakui bahwa reaksi publik dalam kasus ini tidak sepenuhnya tanpa dasar. Sejumlah pertanyaan terhadap besaran, struktur, dan prioritas anggaran memang layak diajukan. Dalam konteks ini, pertanyaannya bukan lagi sekadar apakah anggaran tersebut tepat atau tidak, tetapi juga mengapa angka besar hampir selalu memicu reaksi yang begitu cepat dan intens.

Program MBG yang dikelola oleh BGN menjadi salah satu contoh paling aktual. Besaran anggaran yang beredar di ruang publik dengan cepat menjadi titik fokus utama, sering kali terlepas dari detail implementasi, tujuan program, maupun struktur pembiayaannya. Diskursus yang muncul pun cenderung berpusat pada satu hal yakni, angka yang dianggap terlalu besar, tanpa selalu diiringi upaya memahami bagaimana angka tersebut dibentuk dan dialokasikan.

Dalam banyak kasus, angka tersebut kemudian berfungsi sebagai simbol bukan hanya tentang besaran anggaran, tetapi juga tentang bagaimana publik memandang pengelolaan kebijakan secara keseluruhan.

Di sisi lain, reaksi publik terhadap besaran anggaran ini tidak bisa dilepaskan dari konteks yang lebih luas, yaitu adanya persepsi trade-off dalam penggunaan anggaran negara. Banyak masyarakat melihat bahwa peningkatan alokasi untuk program tertentu sering kali diiringi dengan penyesuaian atau bahkan pengurangan pada sektor lain yang juga dianggap mendesak, seperti pendidikan, kesehatan, atau layanan publik dasar.

Dalam kerangka ini, persoalan tidak lagi sekadar tentang angka yang besar, tetapi tentang prioritas. Ketika publik merasa bahwa alokasi tersebut tidak sejalan dengan urgensi kebutuhan yang mereka rasakan, respons emosional menjadi lebih kuat, dan ketidakpercayaan terhadap institusi pun semakin menguat.

Psikologi Reaksi Publik

Salah satu pemicu utama reaksi cepat terhadap isu anggaran adalah sifat angka itu sendiri. Ketika publik dihadapkan pada nominal yang sangat besar, respons yang muncul sering kali bukan pemahaman, melainkan emosi. Dalam psikologi kognitif, manusia cenderung kesulitan memproses angka dalam skala besar secara intuitif. Akibatnya, angka lebih sering “dirasakan” daripada benar-benar dipahami, terutama ketika dikaitkan dengan isu yang menyentuh kepentingan publik secara langsung.

Namun, emosi terhadap angka dan prioritas ini juga dipengaruhi oleh faktor yang lebih dalam, yaitu kepercayaan atau lebih tepatnya, ketidakpercayaan. Ketika tingkat trust terhadap institusi berada pada level rendah, setiap kebijakan baru cenderung dibaca dengan kacamata skeptis. Dalam kondisi seperti ini, anggaran besar tidak lagi dilihat semata sebagai kebutuhan program, tetapi sebagai sesuatu yang berpotensi bermasalah. Reaksi ini tidak sepenuhnya irasional, melainkan terbentuk dari akumulasi pengalaman kolektif yang membentuk ekspektasi publik terhadap bagaimana kebijakan dikelola.

Dalam situasi distrust, informasi yang belum lengkap cenderung langsung diarahkan pada asumsi terburuk, terutama ketika kebijakan tersebut menyentuh kebutuhan yang dianggap lebih mendesak oleh publik.

Selain itu, ada faktor kognitif lain yang tak kalah penting, yaitu ilusi memahami. Banyak orang merasa sudah cukup mengerti suatu isu hanya karena telah membaca beberapa potongan informasi, headline berita, cuplikan angka, atau opini di media sosial. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai illusion of explanatory depth, yaitu keyakinan bahwa kita memahami sesuatu lebih dalam daripada yang sebenarnya kita pahami.

Kondisi ini membuat diskusi publik terasa penuh kepastian, meskipun sering kali belum ditopang oleh pemahaman yang utuh terhadap kompleksitas kebijakan.

Substansi Kebijakan dan Kualitas Respons Publik

Jika ditarik lebih dalam, polemik ini tidak bisa dilepaskan dari dua hal yang saling memiliki keterkaitan, yaitu, substansi kebijakan itu sendiri dan bagaimana publik meresponsnya. Dalam kasus seperti MBG, pertanyaan terhadap besaran anggaran, prioritas, serta dampaknya terhadap sektor lain merupakan hal yang wajar, bahkan diperlukan sebagai bagian dari fungsi kontrol publik. Reaksi keras yang muncul tidak lahir tanpa alasan, melainkan dari kekhawatiran yang cukup konkret tentang arah kebijakan.

Namun, di saat yang sama, kualitas respons publik turut menentukan apakah kritik tersebut mampu berkembang menjadi evaluasi yang konstruktif atau berhenti sebagai reaksi sesaat.

Dalam konteks ini, perdebatan sering kali bergeser dari evaluasi kebijakan menjadi persoalan kepercayaan. Ketika trust terhadap institusi rendah, setiap penjelasan cenderung dipandang dengan kecurigaan. Hal ini dapat dimengerti, terutama jika publik memiliki pengalaman sebelumnya yang membentuk ekspektasi negatif. Namun konsekuensinya, bahkan informasi yang valid sekalipun bisa sulit diterima jika tidak disertai dengan pemulihan kepercayaan yang memadai.

Di sinilah interaksi antara kualitas kebijakan dan kualitas respons publik menjadi penting. Kebijakan yang kurang transparan memperkuat kecurigaan, sementara respons yang terlalu reaktif dapat mengurangi ketajaman kritik itu sendiri.

Kritik atau Sinisme berbalut Sarkas?

Di tengah dinamika ini, penting untuk membedakan antara kritik yang sehat dan sinisme yang melelahkan. Dalam konteks kebijakan yang memang memunculkan pertanyaan dan kejanggalan, kritik publik bukan hanya wajar, tetapi juga diperlukan sebagai bagian dari fungsi kontrol terhadap kekuasaan. Kritik lahir dari kepedulian yang mendorong pertanyaan, menguji argumen, dan menuntut perbaikan dengan dasar yang jelas.

Namun, tidak semua bentuk kritik bergerak ke arah yang sama. Ketika kritik bergeser menjadi sinisme, ruang dialog mulai menyempit. Sinisme cenderung berangkat dari asumsi bahwa apa pun yang dilakukan pasti salah, sehingga fokusnya tidak lagi pada memahami, melainkan pada mengafirmasi kecurigaan.

Dalam jangka pendek, sikap ini mungkin terasa seperti kewaspadaan. Namun dalam jangka panjang, justru akan berisiko mengikis kemampuan untuk menilai secara jernih termasuk membedakan mana kritik yang kuat dan mana yang sekadar reaksi.

Kritik yang kuat tidak hanya ditentukan oleh keberanian untuk bersuara, tetapi juga oleh ketepatan dalam memahami apa yang dikritik.

Pada akhirnya, kualitas percakapan publik akan sangat menentukan arah kebijakan. Kritik yang tajam, proporsional, dan berbasis pemahaman tidak hanya menjaga akuntabilitas, tetapi juga memperkuat posisi publik itu sendiri. Tantangannya bukan pada apakah kita perlu bersuara, tetapi bagaimana memastikan suara tersebut benar-benar membawa kejelasan, bukan sekadar memperkuat kebisingan yang sudah ada. [T]

Tags: makanan bergiziPsikologi
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Next Post

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
0
Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

Read moreDetails

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
0
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

Read moreDetails

Penyair Kelas Teri

by Arief Rahzen
October 4, 2026
0
Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

Read moreDetails

Menara Gading di Pasar Kerja

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
0
Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

Read moreDetails

Small Is Beautiful untuk Orang Bali

by Angga Wijaya
October 3, 2026
0
Small Is Beautiful untuk Orang Bali

BALI sedang menghadapi sebuah paradoks. Pulau ini semakin ramai, bangunannya semakin besar, investasinya semakin banyak, tetapi bagi sebagian orang Bali...

Read moreDetails

Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

by Agung Sudarsa
October 3, 2026
0
Rocky Gerung dan Godaan Kekuasaan

ADA satu kalimat yang sejak lama saya pegang: sesuatu yang benar tidak cukup hanya diyakini; ia harus terbukti dan teruji...

Read moreDetails

Nasionalisme Rente Ideologi Para Koruptor

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 3, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, bisa jadi para koruptor itu justru lebih nasionalis daripada kita, rakyat biasa. Tapi jangan buru-buru tersinggung....

Read moreDetails

Meningkatkan Mutu Pendidikan di Wilayah 3T

by Vito Prasetyo
October 2, 2026
0
Mendengar Kisah Samsul Rizal dan Erwin Jaya, P3K dari Lombok yang Mengajar di Pelosok Sulawesi Tengah

KITA selalu menghadapi persoalan skeptis dalam sistem pendidikan nasional. Karena sistem pendidikan harus berintegrasi secara simultan, tanpa melihat aspek-aspek geografis...

Read moreDetails

Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

by Ari Murdimanto
October 2, 2026
0
Dari Nirmalodaka ke Botol Kemasan: Re-Imajinasi Rahim Peradaban Nusantara

Pendahuluan JAUH sebelum kota-kota modern mendefinisikan batas wilayahnya melalui bentangan aspal dan beton, peradaban manusia lahir dan bertumbuh dari tepi...

Read moreDetails

Batik: Merawat Teknik, Menjaga Ingatan, dan Memaknai Identitas Budaya

by Tri Nugroho Adi
October 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

SETIAP tanggal 2 Oktober, kita kembali merayakan Hari Batik Nasional. Di kantor, kampus, sekolah, hingga berbagai ruang publik, kain bermotif...

Read moreDetails
Next Post
Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Bulan Pemberdayaan Perempuan Melalui Pendidikan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra
Esai

Pengungsian Terakhir Batur: Perspektif Pelaku Tantra

malih kawruhakna uṅgwanira saṅ hyaṅ sūrya śaśaṅka, mwaṅ haranya, yan riṅ bhuwana aguṅ saṅ hyaṅ wulan riṅ lwaṅiṅ bukit batūr,...

by Putu Eka Guna Yasa
October 5, 2026
“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop
Panggung

“Indonesia Comic Con” sebagai Media dan Representasi Budaya Pop

INDONESIA Comic Con merupakan salah satu event yang mempertemukan berbagai unsur budaya populer. Di dalamnya terdapat berbagai kegiatan yang berkaitan...

by Muhammad Dylan Ibadillah Arrasyidi
October 5, 2026
”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik
Ulas Musik

”Questions”: Negeri dalam Tanda Tanya dan Krisis Kepercayaan Publik

DALAM khazanah progresif rock 1970-an, “Questions” dari Manfred Mann's Earth Band menempati ruang reflektif yang khas: ia bukan sekadar komposisi...

by Ahmad Sihabudin
October 5, 2026
“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali
Opini

“Ajewera”: Dimensi Determinisme yang Dirusak Sebagai Awal Kehancuran Bali

AJEWERA pada dasarnya merupakan mekanisme kehati-hatian dalam memperlakukan pengetahuan, khususnya pengetahuan yang memiliki dimensi sakral, filosofis, dan esoteris. Dalam tradisi...

by IM Gede Nesa Saputra
October 4, 2026
Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?
Opini

Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

INDONESIA patut berbangga dengan jumlah perguruan tinggi kita yang terus bertambah di berbagai daerah, dan angka partisipasi kasar pendidikan tinggi...

by S. Bekti Istiyanto
October 4, 2026
Maguru Kuping & Maguru Sastra: Proses Inkubasi Gagasan Menuju Pondasi Literasi yang Kokoh
Esai

Sebelum Dunia Merayakan Wayang, Bali Sudah Memuliakannya

ADA sesuatu yang sedikit menggelitik ketika kita berbicara tentang “Hari Wayang”. Seolah-olah wayang membutuhkan satu tanggal tertentu agar kita kembali...

by I Gusti Made Darma Putra
October 4, 2026
Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian
Bahasa

Anatomi Kata ‘Dungu’ dalam Kamus Warganet Kekinian

DAHULU, kata dungu rasanya terlalu tabu dan kasar untuk diucapkan dalam percakapan sehari-hari. Namun, bahasa itu hidup, bergerak, dan selalu...

by I Made Sudiana
October 4, 2026
Penyair Kelas Teri
Esai

Penyair Kelas Teri

AKU menyebut diriku penyair kelas teri. Sebutan ini muncul karena sadar posisi di samudera literasi yang begitu luas. Aku menulis...

by Arief Rahzen
October 4, 2026
Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih
Panggung

Monolog “Berpayung Waktu”, Merawat Perjuangan Maria Katarina Sumarsih

IDEALTERNATIF akan menghadirkan pertunjukan monolog berjudul Berpayung Waktu pada Kamis, 8 Oktober 2026 pukul 20.00 WIB di Ngaos Art, Tasikmalaya,...

by tatkala
October 4, 2026
Menara Gading di Pasar Kerja
Esai

Menara Gading di Pasar Kerja

LULUSAN sarjana bertambah, pekerjaan yang sesuai tidak tumbuh dengan kecepatan sama. Lalu, apa sebenarnya yang kita harapkan dari universitas ketika...

by I Wayan Renaldi Bayu Permana
October 3, 2026
Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar
Pendidikan

Persami Gugus VI Banjar Tanamkan Karakter Pramuka Sejak Sekolah Dasar

SUASANA Lapangan Labuan Aji, Temukus, Banjar, tampak lebih ramai pada Sabtu (3/10/2026). Sejumlah siswa sekolah dasar datang membawa perlengkapan perkemahan....

by tatkala
October 3, 2026
Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied
Kuliner

Belajar Mengenal Teknik Prancis Lewat Chicken Ballotine Bersama Chef Simon Tailpied

MEMBUAT hidangan restoran tidak hanya soal mengikuti resep. Cara mempersiapkan bahan, mengolahnya dengan teknik yang tepat, hingga menyajikannya menjadi bagian...

by Rusdy Ulu
October 3, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co