17 July 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 27, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus


— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027

Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua gara-gara investor.

Peristiwa ini adalah jerit suara alarm karena kompas moral di Bali telah menghadapi stagnasi.

Masih banyak orang Bali bergeleng tidak percaya, penuh penyangkalan, berpikir yang cekcok dan berhadap-hadapan demi perut itu mungkin bukan orang Bali. Penyangkalan ini berbahaya.

Pasukan Payuk Jakan: Siap Berkelahi dengan Nyama (Saudara Sendiri) Demi Isi Perut

“Payuk Jakan” secara harfiah adalah “periuk” (payuk) dan “jakan” (penanak nasi) atau alat masak nasi orang Bali. Pasukan Payuk Jakan adalah ungkapan untuk menggambarkan sekelompok orang yang bergerak, beraksi, atau mendukung satu pihak atau kepentingan tertentu semata-mata karena didorong oleh kebutuhan perut atau uang (materi).

Mungkin karena kepepet kebutuhan atau demi bertahan hidup, atau bisa jadi memang hatinya sudah bebal. Pasukan Payuk Jakan adalah kelompok yang memilih posisi jadi pembela kepentingan demi uang atau penghasilan tidak didasarkan pada logika, wiweka (kebijaksanaan/hati nurani), atau kecintaan pada tanah kelahiran. Bagi mereka, “Tri Hita Karana” atau “Sadkrtih” hanyalah slogan, sementara “isi payuk jakan” adalah kenyataan. Jika ada investor yang memberi suap atau bayaran, mereka akan membela, meski investor tersebut merusak tatanan adat dan lingkungan alam Bali.

Cicing Borosan: Anjing Penggonggong Tanpa Nurani

Senada dengan itu, ada ungkapan yang lebih kasar namun terasa lebih mewakili situasi kekinian Bali: “Cicing Borosan”. Ini artinya “anjing berburu” yang menyalak dan menggonggong demi jatah makan pemberian majikan.

Bayangkan seekor anjing peliharaan yang disuruh menyalak dan mengejar sasaran oleh majikannya. Anjing tersebut tidak peduli siapa yang dikejar, apakah itu benar atau salah. Anjing itu bergerak hanya karena terikat, tunduk, dan demi makanan harian yang diberikan pemajikannya.

Cicing borosan adalah simbol manuver kelompok yang menyerang pihak-pihak yang kritis terhadap perusakan lingkungan hidup. Mereka juga adalah para membela pejabat yang tidak berpihak pada rakyat kecil, asalkan mendapat imbalan harian dari pemodal. Mereka adalah “alat” yang hilang hati nuraninya.

“Cicing borosan” ini bekerja di alam nyata sebagai sosok yang pasang badan di tengah proyek besar, atau mereka yang menjadi buzzer siluman di alam sosmed yang kerjanya membela pejabat atau penguasa tanpa peduli benar atau salah sepak terjang penguasa yang dibelanya. Dalilnya sederhana: “Serang dan bela. Yang penting transfer masuk. Benar atau salah yang dibela tidak perlu dipikirkan”.

Pragmatisme di Tengah Krisis Lingkungan Bali

Kerumitan dan makin kompleksnya situasi sosial-politik dan investasi di Bali saat ini menunjukkan betapa dua ungkapan dalam masyarakat Bali tersebut mewujud nyata, muncul kelompok Pasukan Payuk Jakan dan Cicing Borosan.

Di saat alih fungsi lahan terjadi masif, bukit-bukit dikeruk untuk villa, air tanah dieksploitasi, dan pantai-pantai ditutup oleh pembangunan ilegal, banyak warga/krama Bali yang pikir pendek dan pragmatis justru “pasang badan” untuk investor asing yang merusak lingkungan maupun pejabat yang korup berjualan ijin dan melegalkan konversi sawah dan menyerobot sempadan sungai dan muara, serta otak-atik tanah pelaba dan hutan lindung demi investor luar.

1.⁠ ⁠Membela yang Salah Demi CSR/Uang:

Krama Bali yang seharusnya vokal menolak perusakan alam di desanya, justru menjadi pemandu sorak investor karena iming-iming dana CSR atau pekerjaan, padahal dampak kerusakan lingkungan jauh lebih besar.

2.⁠ ⁠Konflik Tenurial:

Seringkali terjadi konflik antara krama Bali yang sadar lingkungan dengan kelompok Cicing Borosan yang disewa untuk mengintimidasi warga yang menolak pembangunan.

3.⁠ ⁠Pelanggaran Investor WNA:

Fenomena WNA yang berbisnis ilegal di Bali (seperti sewa kendaraan atau vila) seringkali dilindungi oleh oknum lokal yang menjadi Pasukan Payuk Jakan, demi mendapatkan bagi hasil keuntungan ilegal tersebut.

Pakeling Leluhur Bali

Ungkapan tajam “Pasukan Payuk Jakan” dan “Cicing Borosan” adalah sebuah pengingat (pakeling) bagi masyarakat Bali yang sudah diturunkan bergenerasi dari leluhur Bali.

Ini peringatan serius: Ketika kepentingan pragmatisme mengalahkan wiweka dan hati nurani, sesungguhnya Bali sedang dijual oleh warganya sendiri.

Krama Bali sekarang tidak bisa lagi membela dan menyelamatkan Bali denga cara-cara lama yang sentimental, seperti mengajak damai atau mengutip ayat-ayat kearifan lokal seperti Tri Hita Karana atau Sadhkrtih. Perlu ketegasan sikap untuk berbaris sesama krama Bali yang sadar dan tindih, jengah bersama melawan arus “cicing borosan” dan kembali pada akar budaya yang menghormati alam, demi keberlangsungan kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, bukan sekadar pragmastis cari isi perut untuk hari ini.

Bali memang perlu menyelamatkan payuk-jakan tetapi secara bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu. Payuk jakan kita bersama harus diselamatkan dari tangan-tangan asing yang mau menguasai Bali demi diri mereka dan kelompok mereka. Mereka merebut dan menjauhkan masyarakat Bali dari alam Bali dan mengambil alih pulau Bali sehingga sampai semua krama Bali di masa depan hanya bekerja tidak lebih sebatas “cicing borosan” mereka, yang manut dan bergantung makanan harian yang mereka bagikan sebagai jatah ransum, yang membuat sesama krama Bali gontok-gontokan.

Banyak kasus sudah terjadi, gara-gara investor: Mesiat petuturu nyama Bali. Ini adalah tanda-tanda dan “ceciren” mulainya keruntuhan moralitas di tengah peradaban Bali. [T]

Tags: baliinvestororang balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

Next Post

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

Read moreDetails

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
0
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

Read moreDetails

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026
0
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

Read moreDetails

Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Korupsi, Kekuasaan dan Keserakahan —Ketika Alam Sedang Bersih-Bersih

"Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely." Kalimat legendaris dari Lord Acton itu kembali terasa relevan ketika bangsa...

Read moreDetails

Dari Sekolah Sepi Menuju Sekolah Rakyat: Pendidikan Bukan Sekadar Transfer Informasi, tetapi Transformasi Kesadaran

by Agung Sudarsa
July 15, 2026
0
Sekolah Rakyat Vs Sekolah Reguler   

Ironi Pendidikan di Tengah Semangat Membangun Masa Depan Berita tentang SDN 6 Bhuana Giri di Bali yang selama empat tahun...

Read moreDetails

Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

by Surfian Rahmat AP
July 15, 2026
0
Membaca Hiper-Femininitas Melalui Lensa Politik Tubuh di Era Digital

DALAM beberapa tahun terakhir, lanskap media sosial seperti Instagram dan TikTok didominasi oleh proliferasi estetika “baddie”. Secara visual, seorang baddie...

Read moreDetails

Membaca Made Budhiana dari Sebuah Puisi

by Angga Wijaya
July 15, 2026
0
Maestro Made Budhiana Berpulang, Seni Rupa Indonesia Berduka

SAYA tidak mengenal Made Budhiana pertama kali melalui sebuah pameran lukisan. Bukan pula dari buku sejarah seni rupa Bali. Saya...

Read moreDetails

Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

by Lailatus Sholihah
July 15, 2026
0
Hari Pertama Sekolah, Awal Membangun Budaya Sekolah yang Aman dan Inklusif

Pagi itu, gerbang-gerbang sekolah kembali dipenuhi wajah-wajah penuh harap. Ada anak yang dengan antusias mengenakan seragam baru, ada yang menggenggam...

Read moreDetails

Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

by Afgan Fadilla
July 13, 2026
0
Dosen itu Buruh atau ‘Professional-Managerial Class?’

PERDEBATAN mengenai apakah dosen itu buruh atau bukan semakin sering terdengar di media sosial dan berbagai ruang diskusi akademik di...

Read moreDetails

HINDU BALI OLENG KARENA TIGA PILAR SUCI TAK SEIMBANG?

by Sugi Lanus
July 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Sugi Lanus, Catatan Harian 8 Juli 2026 Agama Hindu di Bali berdiri di atas tiga pilar suci yang tak...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ketika Gerak Mengalahkan Bunyi: Baleganjur PKB dalam Bayang-bayang Sirkus

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kacak Kicak dan Pembacaan Akan Sesuatu yang Setengah-Setengah

    23 shares
    Share 23 Tweet 0
  • Ketamuan Lazzer yang Merayakan Bulan Bung Karno di Blitar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye
Ulas Buku

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

by Azwar
July 17, 2026
“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia
Panggung

“Dasa Muka, The Face of Humanity”, Saat Penonton Diajak Berkaca pada Wajah-Wajah dalam Diri Manusia

MALAM itu Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, dipenuhi penonton dari berbagai penjuru. Kamis, 16 Juli 2026, kursi-kursi tribun tak...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia
Panggung

“Kera Wuhan”, Ketika Sun Go Kong dan Hanoman Menertawakan Ego Manusia

GELAK tawa pecah bahkan sebelum adegan pertama benar-benar usai. Di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Bali, Rabu malam, 15 Juli 2026,...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif
Panggung

Panggung Teater Modern Festival Seni Bali Jani 2026 Dipenuhi Tafsir Kreatif

KEMAJUAN seni teater di Bali kembali menemukan panggungnya melalui Pawimba (Lomba) Teater Modern Festival Seni Bali Jani (FSBJ) VIII Tahun...

by Nyoman Budarsana
July 17, 2026
Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru
Khas

Tetap Harus Ada Pembaruan pada Pesta Kesenian Bali, Lewat Rekonstruksi dan Penciptaan Karya Baru

MEMASUKI penyelenggaraan ke-48, Pesta Kesenian Bali (PKB) telah menempuh perjalanan panjang sebagai festival seni budaya terbesar di Pulau Dewata. Selama...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi
Khas

Merawat Masa Depan Pesta Kesenian Bali Lewat Dialog Antargenerasi

MENJELANG usianya yang mengarah pada setengah abad, Pesta Kesenian Bali (PKB) dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan. Festival seni terbesar...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme
Khas

Menjernihkan Informasi dan Mendokumentasikan Pesta Kesenian Bali Lewat Jurnalisme

DI tengah riuh tepuk tangan yang mengiringi setiap pementasan Pesta Kesenian Bali (PKB), ada pekerjaan lain yang berlangsung tanpa sorot...

by Nyoman Budarsana
July 16, 2026
Mungkinkah Korut Serang AS?
Esai

Kepemimpinan Transformasional sebagai Jantung Kebijakan Publik dan Komunikasi Politik Modern

TANTANGAN birokrasi di era disrupsi global saat ini menuntut perubahan fundamental dalam paradigma pengelolaan pemerintahan dan cara pemimpin berinteraksi dengan...

by Jerry Indrawan
July 16, 2026
Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia
Esai

Dunia adalah Cermin Kesadaran Manusia

Kita Melihat Dunia Sebagaimana Diri Kita Mengamati perilaku sang istri selama belasan tahun sebagai guru TK, saya punya ungkapan: Seorang...

by Agung Sudarsa
July 16, 2026
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan
Ulas Buku

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

by I Made Sujaya
July 16, 2026
Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026
Panggung

Menyingkap Relasi Kuasa dalam Novel ‘Koloni’ Karya Ratih Kumala di Singaraja Literary Festival 2026

 “Bagi laki-laki yang masih menganut patriarki, saya sarankan jangan membaca buku ini.” Ucapan itu langsung disambut gelak tawa peserta bedah...

by Dede Putra Wiguna
July 16, 2026
Gelar Langit, Gaji Bumi: Gelar Mentereng tapi Dompet Kering, Rahasia Dapur Dosen yang Akhirnya Dibongkar di MK
Esai

Satu Bahasa Dua Realitas: Mengapa Roy Suryo dan Jokowi Mustahil Saling Memahami?

DALAM panggung politik kontemporer Indonesia, perseteruan antara mantan Menteri Pemuda dan Olahraga, Roy Suryo, dan mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi)...

by Nur Inayah Yushar
July 16, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co