2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Sugi Lanus by Sugi Lanus
April 27, 2026
in Esai
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Sugi Lanus


— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027

Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua gara-gara investor.

Peristiwa ini adalah jerit suara alarm karena kompas moral di Bali telah menghadapi stagnasi.

Masih banyak orang Bali bergeleng tidak percaya, penuh penyangkalan, berpikir yang cekcok dan berhadap-hadapan demi perut itu mungkin bukan orang Bali. Penyangkalan ini berbahaya.

Pasukan Payuk Jakan: Siap Berkelahi dengan Nyama (Saudara Sendiri) Demi Isi Perut

“Payuk Jakan” secara harfiah adalah “periuk” (payuk) dan “jakan” (penanak nasi) atau alat masak nasi orang Bali. Pasukan Payuk Jakan adalah ungkapan untuk menggambarkan sekelompok orang yang bergerak, beraksi, atau mendukung satu pihak atau kepentingan tertentu semata-mata karena didorong oleh kebutuhan perut atau uang (materi).

Mungkin karena kepepet kebutuhan atau demi bertahan hidup, atau bisa jadi memang hatinya sudah bebal. Pasukan Payuk Jakan adalah kelompok yang memilih posisi jadi pembela kepentingan demi uang atau penghasilan tidak didasarkan pada logika, wiweka (kebijaksanaan/hati nurani), atau kecintaan pada tanah kelahiran. Bagi mereka, “Tri Hita Karana” atau “Sadkrtih” hanyalah slogan, sementara “isi payuk jakan” adalah kenyataan. Jika ada investor yang memberi suap atau bayaran, mereka akan membela, meski investor tersebut merusak tatanan adat dan lingkungan alam Bali.

Cicing Borosan: Anjing Penggonggong Tanpa Nurani

Senada dengan itu, ada ungkapan yang lebih kasar namun terasa lebih mewakili situasi kekinian Bali: “Cicing Borosan”. Ini artinya “anjing berburu” yang menyalak dan menggonggong demi jatah makan pemberian majikan.

Bayangkan seekor anjing peliharaan yang disuruh menyalak dan mengejar sasaran oleh majikannya. Anjing tersebut tidak peduli siapa yang dikejar, apakah itu benar atau salah. Anjing itu bergerak hanya karena terikat, tunduk, dan demi makanan harian yang diberikan pemajikannya.

Cicing borosan adalah simbol manuver kelompok yang menyerang pihak-pihak yang kritis terhadap perusakan lingkungan hidup. Mereka juga adalah para membela pejabat yang tidak berpihak pada rakyat kecil, asalkan mendapat imbalan harian dari pemodal. Mereka adalah “alat” yang hilang hati nuraninya.

“Cicing borosan” ini bekerja di alam nyata sebagai sosok yang pasang badan di tengah proyek besar, atau mereka yang menjadi buzzer siluman di alam sosmed yang kerjanya membela pejabat atau penguasa tanpa peduli benar atau salah sepak terjang penguasa yang dibelanya. Dalilnya sederhana: “Serang dan bela. Yang penting transfer masuk. Benar atau salah yang dibela tidak perlu dipikirkan”.

Pragmatisme di Tengah Krisis Lingkungan Bali

Kerumitan dan makin kompleksnya situasi sosial-politik dan investasi di Bali saat ini menunjukkan betapa dua ungkapan dalam masyarakat Bali tersebut mewujud nyata, muncul kelompok Pasukan Payuk Jakan dan Cicing Borosan.

Di saat alih fungsi lahan terjadi masif, bukit-bukit dikeruk untuk villa, air tanah dieksploitasi, dan pantai-pantai ditutup oleh pembangunan ilegal, banyak warga/krama Bali yang pikir pendek dan pragmatis justru “pasang badan” untuk investor asing yang merusak lingkungan maupun pejabat yang korup berjualan ijin dan melegalkan konversi sawah dan menyerobot sempadan sungai dan muara, serta otak-atik tanah pelaba dan hutan lindung demi investor luar.

1.⁠ ⁠Membela yang Salah Demi CSR/Uang:

Krama Bali yang seharusnya vokal menolak perusakan alam di desanya, justru menjadi pemandu sorak investor karena iming-iming dana CSR atau pekerjaan, padahal dampak kerusakan lingkungan jauh lebih besar.

2.⁠ ⁠Konflik Tenurial:

Seringkali terjadi konflik antara krama Bali yang sadar lingkungan dengan kelompok Cicing Borosan yang disewa untuk mengintimidasi warga yang menolak pembangunan.

3.⁠ ⁠Pelanggaran Investor WNA:

Fenomena WNA yang berbisnis ilegal di Bali (seperti sewa kendaraan atau vila) seringkali dilindungi oleh oknum lokal yang menjadi Pasukan Payuk Jakan, demi mendapatkan bagi hasil keuntungan ilegal tersebut.

Pakeling Leluhur Bali

Ungkapan tajam “Pasukan Payuk Jakan” dan “Cicing Borosan” adalah sebuah pengingat (pakeling) bagi masyarakat Bali yang sudah diturunkan bergenerasi dari leluhur Bali.

Ini peringatan serius: Ketika kepentingan pragmatisme mengalahkan wiweka dan hati nurani, sesungguhnya Bali sedang dijual oleh warganya sendiri.

Krama Bali sekarang tidak bisa lagi membela dan menyelamatkan Bali denga cara-cara lama yang sentimental, seperti mengajak damai atau mengutip ayat-ayat kearifan lokal seperti Tri Hita Karana atau Sadhkrtih. Perlu ketegasan sikap untuk berbaris sesama krama Bali yang sadar dan tindih, jengah bersama melawan arus “cicing borosan” dan kembali pada akar budaya yang menghormati alam, demi keberlangsungan kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, bukan sekadar pragmastis cari isi perut untuk hari ini.

Bali memang perlu menyelamatkan payuk-jakan tetapi secara bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu. Payuk jakan kita bersama harus diselamatkan dari tangan-tangan asing yang mau menguasai Bali demi diri mereka dan kelompok mereka. Mereka merebut dan menjauhkan masyarakat Bali dari alam Bali dan mengambil alih pulau Bali sehingga sampai semua krama Bali di masa depan hanya bekerja tidak lebih sebatas “cicing borosan” mereka, yang manut dan bergantung makanan harian yang mereka bagikan sebagai jatah ransum, yang membuat sesama krama Bali gontok-gontokan.

Banyak kasus sudah terjadi, gara-gara investor: Mesiat petuturu nyama Bali. Ini adalah tanda-tanda dan “ceciren” mulainya keruntuhan moralitas di tengah peradaban Bali. [T]

Tags: baliinvestororang balipariwisata bali
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

Next Post

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Sugi Lanus

Sugi Lanus

Pembaca manuskrip lontar Bali dan Kawi. IG @sugi.lanus

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Masalahnya Bukan Hanya Anggaran

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co