— Catatan Harian Sugi Lanus, 27 April 2027
Lihatlah berbagai kejadian orang Bali cekcok, adu mulut terbuka, saling berhadapan-hadapan, berkelahi sangat menyedikan, semua gara-gara investor.
Peristiwa ini adalah jerit suara alarm karena kompas moral di Bali telah menghadapi stagnasi.
Masih banyak orang Bali bergeleng tidak percaya, penuh penyangkalan, berpikir yang cekcok dan berhadap-hadapan demi perut itu mungkin bukan orang Bali. Penyangkalan ini berbahaya.
Pasukan Payuk Jakan: Siap Berkelahi dengan Nyama (Saudara Sendiri) Demi Isi Perut
“Payuk Jakan” secara harfiah adalah “periuk” (payuk) dan “jakan” (penanak nasi) atau alat masak nasi orang Bali. Pasukan Payuk Jakan adalah ungkapan untuk menggambarkan sekelompok orang yang bergerak, beraksi, atau mendukung satu pihak atau kepentingan tertentu semata-mata karena didorong oleh kebutuhan perut atau uang (materi).
Mungkin karena kepepet kebutuhan atau demi bertahan hidup, atau bisa jadi memang hatinya sudah bebal. Pasukan Payuk Jakan adalah kelompok yang memilih posisi jadi pembela kepentingan demi uang atau penghasilan tidak didasarkan pada logika, wiweka (kebijaksanaan/hati nurani), atau kecintaan pada tanah kelahiran. Bagi mereka, “Tri Hita Karana” atau “Sadkrtih” hanyalah slogan, sementara “isi payuk jakan” adalah kenyataan. Jika ada investor yang memberi suap atau bayaran, mereka akan membela, meski investor tersebut merusak tatanan adat dan lingkungan alam Bali.
Cicing Borosan: Anjing Penggonggong Tanpa Nurani
Senada dengan itu, ada ungkapan yang lebih kasar namun terasa lebih mewakili situasi kekinian Bali: “Cicing Borosan”. Ini artinya “anjing berburu” yang menyalak dan menggonggong demi jatah makan pemberian majikan.
Bayangkan seekor anjing peliharaan yang disuruh menyalak dan mengejar sasaran oleh majikannya. Anjing tersebut tidak peduli siapa yang dikejar, apakah itu benar atau salah. Anjing itu bergerak hanya karena terikat, tunduk, dan demi makanan harian yang diberikan pemajikannya.
Cicing borosan adalah simbol manuver kelompok yang menyerang pihak-pihak yang kritis terhadap perusakan lingkungan hidup. Mereka juga adalah para membela pejabat yang tidak berpihak pada rakyat kecil, asalkan mendapat imbalan harian dari pemodal. Mereka adalah “alat” yang hilang hati nuraninya.
“Cicing borosan” ini bekerja di alam nyata sebagai sosok yang pasang badan di tengah proyek besar, atau mereka yang menjadi buzzer siluman di alam sosmed yang kerjanya membela pejabat atau penguasa tanpa peduli benar atau salah sepak terjang penguasa yang dibelanya. Dalilnya sederhana: “Serang dan bela. Yang penting transfer masuk. Benar atau salah yang dibela tidak perlu dipikirkan”.
Pragmatisme di Tengah Krisis Lingkungan Bali
Kerumitan dan makin kompleksnya situasi sosial-politik dan investasi di Bali saat ini menunjukkan betapa dua ungkapan dalam masyarakat Bali tersebut mewujud nyata, muncul kelompok Pasukan Payuk Jakan dan Cicing Borosan.
Di saat alih fungsi lahan terjadi masif, bukit-bukit dikeruk untuk villa, air tanah dieksploitasi, dan pantai-pantai ditutup oleh pembangunan ilegal, banyak warga/krama Bali yang pikir pendek dan pragmatis justru “pasang badan” untuk investor asing yang merusak lingkungan maupun pejabat yang korup berjualan ijin dan melegalkan konversi sawah dan menyerobot sempadan sungai dan muara, serta otak-atik tanah pelaba dan hutan lindung demi investor luar.
1. Membela yang Salah Demi CSR/Uang:
Krama Bali yang seharusnya vokal menolak perusakan alam di desanya, justru menjadi pemandu sorak investor karena iming-iming dana CSR atau pekerjaan, padahal dampak kerusakan lingkungan jauh lebih besar.
2. Konflik Tenurial:
Seringkali terjadi konflik antara krama Bali yang sadar lingkungan dengan kelompok Cicing Borosan yang disewa untuk mengintimidasi warga yang menolak pembangunan.
3. Pelanggaran Investor WNA:
Fenomena WNA yang berbisnis ilegal di Bali (seperti sewa kendaraan atau vila) seringkali dilindungi oleh oknum lokal yang menjadi Pasukan Payuk Jakan, demi mendapatkan bagi hasil keuntungan ilegal tersebut.
Pakeling Leluhur Bali
Ungkapan tajam “Pasukan Payuk Jakan” dan “Cicing Borosan” adalah sebuah pengingat (pakeling) bagi masyarakat Bali yang sudah diturunkan bergenerasi dari leluhur Bali.
Ini peringatan serius: Ketika kepentingan pragmatisme mengalahkan wiweka dan hati nurani, sesungguhnya Bali sedang dijual oleh warganya sendiri.
Krama Bali sekarang tidak bisa lagi membela dan menyelamatkan Bali denga cara-cara lama yang sentimental, seperti mengajak damai atau mengutip ayat-ayat kearifan lokal seperti Tri Hita Karana atau Sadhkrtih. Perlu ketegasan sikap untuk berbaris sesama krama Bali yang sadar dan tindih, jengah bersama melawan arus “cicing borosan” dan kembali pada akar budaya yang menghormati alam, demi keberlangsungan kehidupan yang berkelanjutan bagi generasi mendatang, bukan sekadar pragmastis cari isi perut untuk hari ini.
Bali memang perlu menyelamatkan payuk-jakan tetapi secara bersama, bukan kepentingan kelompok tertentu. Payuk jakan kita bersama harus diselamatkan dari tangan-tangan asing yang mau menguasai Bali demi diri mereka dan kelompok mereka. Mereka merebut dan menjauhkan masyarakat Bali dari alam Bali dan mengambil alih pulau Bali sehingga sampai semua krama Bali di masa depan hanya bekerja tidak lebih sebatas “cicing borosan” mereka, yang manut dan bergantung makanan harian yang mereka bagikan sebagai jatah ransum, yang membuat sesama krama Bali gontok-gontokan.
Banyak kasus sudah terjadi, gara-gara investor: Mesiat petuturu nyama Bali. Ini adalah tanda-tanda dan “ceciren” mulainya keruntuhan moralitas di tengah peradaban Bali. [T]





























