26 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Teatrikal Politik Lingkungan di Bali

Teddy Chrisprimanata Putra by Teddy Chrisprimanata Putra
April 26, 2026
in Esai
Menghitung Kekuatan Politik Giri Prasta

Teddy Chrisprimanata Putra

BALI sedang tidak baik-baik saja. Setidaknya pernyataan tersebut valid dalam perspektif lingkungan. Telah menjadi diskursus publik bahwa Bali saat ini sedang berhadapan dengan masalah lingkungan yang serius, tidak berhenti pada sistem tata kelola sampah yang semrawut, fenomena alih fungsi lahan yang semakin brutal juga benar-benar menjadi ancaman ekologis bagi pulau yang masih menyandang sebutan the last paradise in the world. Pertanyaannya, apakah sebutan tersebut masih layak disandang oleh Bali?

Mangrove dan Politik

Panitia Khusus Tata Ruang, Aset, dan Perizinan (Pansus TRAP) DPRD Bali yang dipimpin I Made Supartha kembali menjadi sorotan atas aksi inspeksi mendadak (sidak) di lahan yang dikelola oleh Bali Turtle Island Development (BTID). Aksi sidak tersebut oleh dugaan pembabatan ekosistem mangrove di Pulau Serangan yang secara hukum menjadi indikasi pelanggaran terhadap Peraturan Pemerintah (PP) No. 27 Tahun 2025 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Ekosistem Mangrove.

Aksi dari kamar kekuasaan legislatif tersebut adalah angin segar bagi publik Bali. Aksi tersebut memperlihatkan keberanian wakil rakyat terhadap korporasi yang tanpa rasa bersalah merusak lingkungan dengan pertimbangan keuntungan saja. Di sana Pansus TRAP juga telah berhasil merepresentasikan kekuasaan rakyat Bali atas tanah kelahirannya. Belakangan, DPRD Bali pun banjir pujian dan dukungan moral dari warganet dan hal tersebut juga diekspresikan lewat ratusan mawar putih dari warga Serangan dan Jimbaran.

Dalam kacamata politik lingkungan, langkah-langkah berani dari Pansus TRAP DPRD Bali dapat dibaca sebagai politik performatif. Sebagai “penguasa parlemen”, PDI-Perjuangan menyadari bahwa keberanian untuk menertibkan tata ruang yang kian serampangan penting dilakukan di tengah carut marutnya isu pengelolaan sampah. Upaya tersebut juga dapat dibaca sebagai langkah strategis mendukung narasi besar yang dibawa Koster sebagai Gubernur Bali sekaligus Ketua DPD PDI-Perjuangan, yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Tetapi pertanyaan kritis harus dilayangkan kepada Pansus TRAP, apakah langkah ini benar-benar upaya serius menegakkan tata ruang, atau hanya sekadar manuver demi menaikkan nilai tawar di meja negosiasi—baik ditujukan kepada korporasi atau kepada rakyat Bali?

Serangan Balik

Sayangnya, Pansus TRAP tidak boleh berpuas diri. Pihak BTID dalam keterangannya menyebut bahwa pihaknya tidak akan diam dengan aksi penyegelan tersebut. Pihaknya menyebut bahwa mereka telah mengantongi izin untuk mengelola kawasan tersebut—termasuk memadatkan ekosistem mangrove. Padahal, jika merujuk pada PP 27/2025, perlindungan dan pengelolaan ekosistem mangrove tidak hanya sekadar dilakukan di kawasan hutan, tetapi juga dilakukan di luar hutan. Artinya, ekosistem mangrove yang berada di kawasan BTID juga harus dilindungi dan dikelola demi kepentingan bersama.

Di samping soal klaim izin yang telah dikantongi, pertimbangan pihak BTID untuk mengambil langkah hukum, termasuk pelaporan ke direksi pusat (baca: potensi intervensi pusat) menjadi tantangan tersendiri upaya menjaga ekologis Bali yang sudah berada di titik nadir. Dan yang penting untuk digarisbawahi dari pernyataan pihak BTID adalah memandang aksi ini dapat mengganggu iklim investasi di Bali dan berpotensi menyurutkan niatan investor untuk menanamkan modalnya di Bali—dan ke depannya berpotensi berimplikasi pada peluang kerja.

Harus diakui, respon semacam ini adalah senjata klasik korporasi. Langkah ini diambil oleh korporasi memiliki tujuan untuk menciptakan efek gentar (chilling effect) bagi para pengambilan kebijakan. Memberikan label kritik lingkungan sebagai ancaman bagi suburnya pertumbuhan investasi, jelas dapat dibaca sebagai upaya korporasi untuk “mendisiplinkan” negara. Langkah BTID untuk melaporkan persoalan ini ke jajaran direksi juga dapat dibaca sebagai upaya menarik konflik dari ranah lokal ke ranah nasional yang biasanya lebih permisif terhadap investasi demi mengejar target pertumbuhan ekonomi di level makro.

Senjakala Ekologis di Tanah Dewata

Pembabatan ekosistem mangrove atas nama keuntungan korporasi jelas-jelas upaya memunggungi nilai-nilai Tri Hita Karana (tiga penyebab kebahagiaan). Hilangnya ekosistem mangrove yang memiliki fungsi penahan abrasi dan penyerap karbon hilang, secara tidak langsung adalah pernyataan tegas bahwa risiko bencana tidak hanya ditanggung oleh korporasi, tetapi juga oleh publik. Dan di sinilah letak ketidakadilan lingkungan yang begitu nyata di depan mata.

Masyarakat Bali sebagian besarnya adalah masyarakat adat yang memiliki tanggung jawab atas berlangsungnya berbagai ritual dengan segala kelengkapannya (dharma agama). Di samping itu, secara administratif mereka juga harus patuh, salah satunya soal kewajiban membayar pajak (dharma negara). Secara sosiokultural, masyarakat Bali memiliki tanggung jawab komunal melalui berbagai ritual agama, adat, dan ngayah yang menguras energi serta materi demi menjaga keharmonisan alam sesuai dengan nilai-nilai filosofis Tri Hita Karana. Dan menjadi sebuah ironi bagi masyarakat Bali dengan berbagai upaya yang dilakukan, harus turut menerima risiko ekologis akibat pembangunan infrastruktur pariwisata yang abai terhadap daya dukung lingkungan.

Kembali lagi pada konteks di awal, apabila ketegangan antara DPRD Bali dan BTID berakhir dengan kompromi pragmatis di balik meja negosiasi, maka masyarakat Bali semakin dekat pada fase “Senjakala Ekologis”. Dan menjadi penting bagi seluruh pemimpin di Bali untuk kembali membuka manuskrip-manuskrip lokal—mengingat begitu banyak manuskrip yang bicara mengenai lingkungan. Atau mungkin, para pemimpin di Bali harus mendengarkan lagu “Kembali ke Akar” yang diciptakan sekaligus dipopulerkan oleh Navicula, kurang lebih begini liriknya, “Nasihat orang tua, leluhur, moyang kita // Coba pikir dan rasa maksud dari semuanya // siapa diri kita, oh, jangan sampai lupa // Apa yang kita punya, itulah yang kita jaga // kembali ke akar”.

Bali tidak bisa bertumbuh apabila tercerabut dari akarnya. Jika narasi seperti, investasi, pertumbuhan ekonomi, peluang kerja masih terus digunakan untuk memutihkan pelanggaran ekologis, maka dapat dipastikan masyarakat Bali akan terperangkap di dalam kepatuhan yang tragis—menjaga harmoni alam lewat berbagai ritus, membayar pajak yang kian hari kian mencekik, juga harus menanggung beban ekologis akibat kerakusan pemimpin yang tidak pernah ada ujungnya. [T]

Penulis: Teddy Chrisprimanata Putra
Editor: Adnyana Ole

Tags: baliekologilingkunganPolitik
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Payung Pantai Menjamur, Pohon Memudar: Menurunnya Keindahan Alam Bali

Next Post

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Teddy Chrisprimanata Putra

Teddy Chrisprimanata Putra

Penulis adalah Dosen Ilmu Politik di Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Related Posts

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

Read moreDetails

Ibu Memasak di Kota

by Angga Wijaya
August 25, 2026
0
Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

Read moreDetails

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

by Sugi Lanus
August 25, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

Read moreDetails

Karnaval dan Kemacetan Sosial

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
0
Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

Read moreDetails

Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

by Agung Sudarsa
August 24, 2026
0
Pendatang, Keamanan, dan Kebijaksanaan: Menjaga Bali Tanpa Kehilangan Dharma

Bali Sebagai Rumah yang Terbuka Bali sejak dahulu dikenal sebagai ruang perjumpaan. Laut yang mengelilinginya bukanlah tembok yang memisahkan, melainkan...

Read moreDetails

Mengantar Saut Situmorang ke Salon

by Angga Wijaya
August 24, 2026
0
Telenovela

MENJADI panitia Kongres Cerpen II di Negara, Jembrana, Bali, pada 2001, ada satu kejadian yang hingga kini masih saya ingat....

Read moreDetails

Wajah Indonesia Bopeng

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 23, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kemarin saya melihat di medsos, di daerah Banjarbaru, Kalimantan Selatan, seorang ibu bernama Riri Jayanti membagikan...

Read moreDetails

Renungan Meja Makan

by Angga Wijaya
August 22, 2026
0
Renungan Meja Makan

DI banyak keluarga Indonesia, dulu, meja makan adalah tempat bersama untuk mengobrol, bertukar pikiran, atau berdiskusi sambil atau usai makan....

Read moreDetails

Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

by I Ketut Suar Adnyana
August 22, 2026
0
Pemanfaatan AI dalam Pembelajaran untuk Kalangan Digital Native

DIGITAL NATIVE, yaitu generasi yang tumbuh dalam lingkungan yang akrab dengan teknologi digital. Mereka terbiasa memperoleh informasi melalui mesin pencari,...

Read moreDetails

Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

by I Ketut Suar Adnyana
August 21, 2026
0
Bali Tidak Lagi Ramah? ——Sebuah Catatan Kritis tentang Perubahan Keramahan di Pulau Dewata

BALI selama ini dibayangkan sebagai ruang sosial yang hangat, terbuka, dan penuh keramahan. Gambaran tentang orang Bali yang murah senyum,...

Read moreDetails
Next Post
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

Ketika Orang Bali Terpapar Jadi Pasukan Payuk Jakan & Cicing Borosan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Kalau Rakyat Harus Naik Bus ke Jakarta Agar Didengar, Ada Apa dengan Telinga Kekuasaan?

ADA yang menarik dari perjalanan sejumlah warga Pati menuju Jakarta menjelang aksi 27 Agustus 2026.  Mereka tidak sedang piknik. Empat...

by Petrus Imam Prawoto Jati
August 26, 2026
Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya
Ulas Rupa

Kekuatan Warna; I Gusti Nengah Nurata dan I Made Sutarjaya

DI penghujung bulan Agustus, tepatnya pada tanggal 25 hingga 31 agustus mendatang – akan digelar Pameran senirupa yang bertajuk “The...

by Hartanto
August 26, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Penyelundupan Hukum dalam Transaksi Jual Beli Gantung : Antara Syarat dan Tipu Daya

DALAM hukum perdata Indonesia, jual beli merupakan bentuk perikatan yang sangat sering dilakukan dalam masyarakat. Pasal 1457 Kitab Undang-Undang Hukum...

by I Made Pria Dharsana
August 26, 2026
Ibu Memasak di Kota
Esai

Ibu Memasak di Kota

MEMASAK, aktivitas yang sering diidentikkan dengan para ibu, baik yang usianya muda ataupun juga tua. Di kota, saya tidak tahu...

by Angga Wijaya
August 25, 2026
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

PROFESOR BAHASA BALI TERBAIK DARI JEPANG  — Kiprah Profesor Mayuko Hara dalam Riset Bahasa Bali Aga Pedawa dan Bahasa Indonesia

— Catatan Harian Sugi Lanus, 25 Agustus 2027 Siapa pakar terbaik Bahasa Bali di Jepang? Jika pertanyaan itu ditujukan ke...

by Sugi Lanus
August 25, 2026
Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?
Opini

Dari Genre ke Nalar: Sudah Relevankah Materi Bahasa Indonesia SMA dengan TKA?

DI kelas Bahasa Indonesia SMA, siswa bergerak dari laporan hasil observasi, anekdot, hikayat, negosiasi, biografi, dan puisi; lalu berjumpa argumentasi,...

by Gede Sidi Artajaya
August 25, 2026
Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan
Panggung

Tanah Lot Art & Food Festival 2026, Merayakan Tradisi dari Gebogan hingga Kuliner Tabanan

TANAH LOT kembali menjadi ruang perjumpaan seni, tradisi, dan kuliner dalam Tanah Lot Art & Food Festival ke-7. Festival yang...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda
Budaya

Utsawa Dharmagita XXXIII, Merawat Tradisi Lisan dan Menanamkan Dharma kepada Generasi Muda

UTSAWA Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII Tahun 2026 kembali digelar. Itu artinya, lantunan sloka, palawakya, kakawin, kidung, hingga gaguritan kembali...

by Nyoman Budarsana
August 25, 2026
Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]
Tualang

Perjalanan Pulang, Menemukan Ketenangan di Jalan yang Panjang [Catatan dari Kota Bandung]

ADA kalanya kita tidak membutuhkan perjalanan yang jauh untuk menemukan kebahagiaan. Kita hanya membutuhkan kesempatan untuk berhenti sejenak dari rutinitas,...

by Ahmad Sihabudin
August 25, 2026
Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan
Panggung

Melalui “Samarasā”, UWRF 2026 Mengajak Kita Memahami Diri Sendiri, Mendengarkan Sudut Pandang Orang Lain, Membangun Empati, dan Bersama-Sama Menciptakan Perubahan

UBUD Writers & Readers Festival (UWRF) 2026 segera digelar. Memasuki tahun ke-23, salah satu festival sastra terbesar dan paling berpengaruh...

by Dede Putra Wiguna
August 25, 2026
Karnaval dan Kemacetan Sosial
Esai

Karnaval dan Kemacetan Sosial

ADA sesuatu yang terasa ganjil setiap kali bulan Agustus tiba. Bendera Merah Putih berkibar di depan rumah, umbul-umbul menghiasi gang,...

by Ahmad Fatoni
August 24, 2026
“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup
Ulas Rupa

“Telur Segara, Bibit Kehidupan”, Metafora Jika Laut Adalah Makhluk Hidup

PADA tahun 2023, terdapat sebuah pameran seni rupa yang mengangkat tentang laut dan ekosistemnya. Pameran tersebut berjudul “Surya Segara Rupa”...

by Savitri Sastrawan
August 24, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co