16 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Asep Kurnia by Asep Kurnia
April 27, 2026
in Esai
Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Warga Baduy Dalam yang ikut Seba 2026 jalan kaki sejauh 90 KM bolak-balik/ Foto Dok. Penulis

TAK dapat dipungkiri lagi bahwa Seba Baduy bukan lagi dimaknai hanya sebagai acara ritual sakral semata, tapi sudah melebihi dari ekspektasi ideal publik. Seba sudah bermuatan sebagai alat pembangunan kepercayaan (mutual trust ) dan dijadikan sarana promosi citra positif (nation branding).

Bahkan Seba sudah digunakan untuk menciptakan jembatan jalinan komunikasi dalam meredakan ketegangan politik serta menghubungkan pihak-pihak yang berkonflik melalui dialog budaya. Dan tentunya, hari ini dan seterusnya Seba Baduy sudah mulai dipakai sebagai suasana dan momentum berharga bagi promosi kebijakan politik para pejabat politik.

Pada acara Seba Baduy 2026 yang digelar dari tanggal 24 – 26 April 2026 di empat tempat (Lebak, Pandeglang, Provinsi Banten, dan Serang) amat sangat nampak jelas.  Seba tidak lagi dipandang hanya sebagai identitas adat khas Baduy dengan ritualnya yang sakral dan unik, tidak juga dipandang hanya sekedar tontonan pariwisata semata dengan segala gebyarnya.

 Kini Seba sudah  menjadi sesuatu yang menggemparkan, membuat heboh, atau menarik perhatian publik (sensasi). Seba sudah dikemas begitu apik dengan berbagai kreatif, inovasi dan modifikasi acara untuk dijadikan komoditi politik atau pernyataan politk dan spiritual yang tentunya masih sangat relevan, bahwa tradisi  yang dijaga dengan rasa hormat akan selalu menemukan jalannya untuk tetap eksis melampaui  segala bentuk intimidasi zaman.

Sejak lima tahun terakhir (2020 – 2025), acara Seba sudah diaransemen sedemikian rupa agar terjadi jaring-jaring kehidupan mutualisme (saling menguntungkan) antara subjek/pelaku Seba itu sendiri dengan  penerima Seba (pejabat pemerintahan). Seba yang semula hanya merupakan  kewajiban adat untuk mendoakan para pemimpin negara dan sekaligus menitipkan penjagaan keseimbangan lingkungan alam oleh tokoh adat (membacakan rajah khusus) dan tentunya hanya dihadiri oleh sejumlah tokoh adat,  kini digebyarkan dengan jumlah peserta (pengikut) yang begitu banyak rerata di angka 1500 – 1600 orang.

Beberapa Warga Baduy Dalam, persiapan  berangkat Seba Baduy 2026 | Foto Dok. Penulis

Seba terus dipromosikan sebagai aset Budaya unggulan Lebak-Banten yang pada akhirnya berhasil diakui dan dicatat sebagai acara adat yang masuk kategori 125 Kharisma Event Nusantara (KEN). Upaya dan usaha itu adalah bukti bahwa pemerintah menaruh perhatian yang positif terhadap Seba Baduy, pun demikian bahwa Baduy merasa dihormati, dihargai dan dijaga aset budayanya bahkan bersyukur dan berterima kasih  pemerintah lebak dan Provinsi Banten  telah berhasil menduniakan Seba Baduy.

Pemerintah daerah beserta pihak terkait sudah sukses menduniakan Seba Baduy dan sudah berhasil mengkokohkan Seba Baduy sebagai aset dan omset budaya di event nasional. Fakta akuratnya adalah bahwa di puncak acara Seba 2026 dengan ditandai  berdatangannya tamu undangan spesifik dari mencanegara setaraf duta besar dan konsulat jenderal, ditambah undangan khusus tokoh terkait dari berbagai elemen termasuk para pakar budaya yang turut menyaksikan kekhidmatan Seba.

Mereka (peserta Seba) yang membersamai Seba adalah 38 warga  Baduy Dalam (25 Cibeo, 4 Cikartawana, 7 Cikeusik) dan 1514 warga Baduy Luar.  Tentunya sensasi acara seba 2026 itu pun sontak  ‘ mengagetkan sekaligus mengejutkan ‘ publik.

Sensasi dan Kejutan di Seba 2026

Penulis yang rutin memandu dan mengamati  Seba Baduy hampir  26 tahun berturut-turut ( 2000 -2026) tentunya sudah banyak mencatatkan  berbagai kejadian, pergeseran, dan bagaimana geliatnya acara Seba Baduy dari masa ke masa. Mulai dari pelaksanaan Seba yang orisinal penuh kesederhanaan tanpa intervensi dan polusi , kemudian terjadi modifikasi, lalu menjadi event gebyar dan sekarang menjadi acara sensasi penuh kejutan, di mana secara ekplisit diselipkan sebagai ajang atau arena promosi mendulang pamor kepemimpinan dan popularitas pejabat politik

Sampai saat ini ketika  bicara Seba sesungguhnya  sederhana sekali. Inti ritual Seba hanya dilaksanakan kurang lebih  15-20 menit di mana tokoh adat Jaro Warega atau yang mewakili membacakan rajah Seba, lalu ditutup dengan menyerahkan laksa ke pemerintah melalui  bupati atau gubernur (bapak gede), kemudian beliau menerimanya, dan selesailah acara Seba. Di luar itu hanyalah acara tambahan ( sisipan dan susupan) hasil kesepakatan dan negoisasi yang bersifat  untuk menghormati, memuliakan peserta Seba serta bagaimana mempublikasikan Seba sebagai aset budaya adiluhung agar lebih terkenal dan dikenal di berbagai negara.

Selain tetap gebyar dan penuh dengan acara tambahan yang melibatkan berbagai pihak, Seba 2026 memiliki nilai tambah karena begitu sensasi dan penuh kejutan, dan itu menjadi hal yang sensitif untuk dicermati dan menjadi catatan sejarah penting bagi masa depan Seba. Berbagai sensasi dan kejutan yang penting penulis catatkan adalah :

1. Seba 2026 adalah Seba Leutik (Alit) tapi jumlah peserta lebih dari jumlah Seba Gede tahun sebelumnya.

2. Peserta Seba 2026 lebih banyak kawula muda Baduy yang siap dengan agenda jepretan ala digitalisasi dan promosi untuk membikin jaringan usaha dan secara tidak sadar mereka sedang memperagakan dan menampakkan pengadopsian pola modernisasi mereka.

3. Acara begitu meriah dengan berbagai tambahan yang melibatkan berbagai pihak, dan itu disengaja oleh panitia agar Seba 2026 lebih terasa menggigit, lebih wah, dan lebih booming demi menarik wisatawan.

4. Sambutan Bupati Lebak berdurasi hampir 30 menitan yang biasanya dan seharusnya singkat hanya menjawab atau mengucapkan kata-kata menerima Seba dari tokoh adat. Namun kali ini isinya lebih pada pemaparan atau penjelasan kebijakan politiknya yang begitu semangat dan menggebu sampai pada titik minta didoakan jadi pemimpin amanah karena masih muda dan kuat (bedas) untuk membangun Lebak.

Sambutan tersebut sangat sensasi dan penuh kejutan, karena sebelumnya belum pernah ada bupati yang memberi sambutan panjang lebar bernuasa tentang penjelasan kekuasaan bupati di acara Seba. Kefasihan membaca narasi dan diksi sambutan kelihatan dipersiapkan secara matang. Di lain pihak justru sambutan Gubernur Banten lebih teras hemat, ringkas, singkat dan padat sesuai SOP, dan isinya benar- benar fokus pada menerima Seba.

5. Yang lebih sensasi dan menjadi kejutan dahsyat adalah : Seba 2026 di Gedung Negara Provinsi Banten, acaranya diterjemahkan kedalam dua bahasa, para tamu duta besar memakai baju adat suku Baduy, dan etah karena permintaan panitia ataukah inisiatif pihak tertentu atau murni keinginan tokoh adat Baduy :  “Bahasa asli rajah/doa seba Baduy yang selama ini menjadi inti rahasia Seba Baduy atau ikon Seba mendadak diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan langsung diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris”. Sehingga wajah tokoh adat mendadak seperti kebingungan.

Apakah ini pertanda Seba bukan lagi ritual yang sakral yang penuh misteri dan menarik? Atau Seba mulai dipandang secara utuh sebagai diplomasi budaya yang berpengertian upaya “menjual” segala keunikan budaya untuk mencapai tujuan politik dan ekonomi yang lebih besar.

Penulis sangat terkejut menyaksikan situasi dibukanya isi bait-bait rajah Seba yang selama berabad-abad dilindungi dan dijaga keorisinalannya, termasuk maknanya di depan publik. Kesan mendadak dan terburu-buru masih kelihatan.Tapi apa pun itu, kalau pihak adat sudah menyetujui dan mengizinkan, kita mau bilang apa, karena itu adalah ranah hak prerogatif mereka. Mungkin seba 2026 adalah tonggak dibukanya rahasia rajah Seba Baduy yang kita pusti-pusti.

Pelaksanaan Seba Baduy 2026 telah selesai dilaksanakan secara meriah, tertib, khidmat. Tepat jam 09.00 WIB diakhiri di Pendopo Kabupaten Serang, dan kini mereka sudah kembali lagi ke tanah ulayat untuk melanjutkan kegiatan sehari-hari mereka.

Kini,   masa depan dan kemartabatan Seba Baduy ada ditangan panitia berikutnya. Tetap digebyarkan atau lebih dibijaksanai pelaksanaannya. Kita tinggal tunggu tanggal mainnya. Yang pasti, bahwa Seba Baduy akan terus dilaksanakan selama suku Baduy masih eksis keberadaannya. Ritual Seba menghilang  atau tidak ada berarti Baduy bubar.

Sampai jumpa di Seba Baduy 2027. [T]

  • Ditulis di Padepokan Sisi Leuit Perbatasan Baduy, 26 April 2026

Penulis: Asep Kurnia
Editor: Adnyana Ole

Tags: masyarakat adatpariwisata indonesiapariwisata provinsi bantenProvinsi BantenSuku Baduy
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Bersua dengan Tristiana Dewi: Ibu Rumah Tangga, Pengelola Dua Sanggar, dan Pengajar Ekstrakurikuler Tari Bali

Next Post

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Asep Kurnia

Asep Kurnia

Pemerhati Baduy, tinggal di tapal batas Baduy

Related Posts

Suka-Duka di Rumah Sakit

by Angga Wijaya
September 15, 2026
0
Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

Read moreDetails

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
0
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

Read moreDetails

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
0
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

Read moreDetails

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
0
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

Read moreDetails

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

Read moreDetails

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails
Next Post
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026
Panggung

Ketika Nada dan Dharma Berpadu di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026

KETIKA gitar dipetik, lantunan suara mulai merayap ke seluruh ruang gedung pementasan berbentuk prosenium itu. Rasa syukur, pujian, dan doa-doa...

by Nyoman Budarsana
September 15, 2026
Suka-Duka di Rumah Sakit
Esai

Suka-Duka di Rumah Sakit

BEBERAPA minggu lalu, saya mengaitkan rumah sakit dengan konsep dukkha. Dalam Buddhisme, dukkha sering diterjemahkan sebagai penderitaan, tetapi maknanya jauh...

by Angga Wijaya
September 15, 2026
Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI
Esai

Bahasa Bali, Bahasa Ibu yang Asing bagi Anak Bali —Catatan Orang di Luar Pagar atas Penyelenggaraan Festival Berbahasa Bali, Bulan Bahasa Bali dan FTBI

SUDAH lama saya ingin membicarakan persoalan bahasa daerah, khususnya bahasa Bali, di tengah ingar-bingar berbagai lomba seni dan sastra berbahasa...

by Nanoq da Kansas
September 14, 2026
“Anjirlah!” Gue Dicibir Gara-Gara Bilang “Anjir!”
Esai

“In This Economy”: Ketika Ketakutan Finansial Mengalahkan Insting Biologis

SECARA biologis dan naluriah, dorongan untuk memelihara keberlanjutan spesies melalui reproduksi adalah fitrah paling mendasar bagi makhluk hidup. Namun, dalam...

by Faikar Ramadhan
September 14, 2026
Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik
Khas

Perdagangan Bebas dan Masa Depan Petani di Indo-Pasifik

“Perdagangan bebas di Indo-Pasifik tidak berlangsung dalam arena yang setara. Dalam sektor pertanian, integrasi pasar tanpa perlindungan yang memadai justru...

by Afgan Fadilla
September 14, 2026
SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12
Ulas Film

SPEEDY!, Film Anak-Anak yang Mengajak Orang Tua Berkaca —Catatan Minikino Film Week 12

PERKEMBANGAN teknologi yang pesat di era globalisasi menyita perhatian publik dari berbagai aspek, mulai dari ekonomi, transportasi, hiburan, hingga lembaga...

by Arya Dhamma Nanda
September 13, 2026
Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi
Cerpen

Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

MATAHARI kian meninggi di atas cakrawala, tetapi pelataran sekolah masih terasa lengang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul delapan pagi, sementara...

by Dodik Suprayogi
September 13, 2026
Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar
Puisi

Puisi-Puisi Selendang Sulaiman | 0,63 dolar

0,63 dolar pada siapa kami percayakan cintasaat kemiskinan menjelma komoditas digitaldiperdagangkan antar-platform dan benuadalam kardus air mata paling banal? negara...

by Selendang Sulaiman
September 13, 2026
STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang
Esai

STREET SOLACE —Sebuah Manifesto tentang Bali yang Perlahan Menghilang

Ada sesuatu yang ganjil pada jalan-jalan Bali hari ini. Mereka semakin ramai, semakin lebar, semakin terang, semakin mahal. Tetapi entah...

by Wayan Gde Yudane
September 13, 2026
Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali
Panggung

Dari Palawakya hingga Sloka di Utsawa Dharmagita XXXIII-2026, Semangat Generasi Muda Rawat Sastra Bali

Pagi itu, alunan nada dan pesan filosofis kembali menggema di Art Center, Taman Budaya Provinsi Bali. Suara-suara suci yang dilantunkan...

by Nyoman Budarsana
September 13, 2026
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter
Esai

Penyakit Autoimun, Ketika Salah Satu Musuh Paling Berbahaya Adalah Diri Sendiri

SAINS tak menjawab semua pertanyaan manusia. Di bidang medis misalnya, apa penyebab penyakit autoimun, seperti penyakit lupus? Sains belum memberikan...

by Putu Arya Nugraha
September 13, 2026
Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali
Khas

Bagaimana Menjaga Bahasa Bali Tetap Hidup? — Dari Kuliah Tamu Widyā Wacana UPMI Bali

BAHASA Bali telah melintasi perjalanan sejak abad IX hingga XXI. Selama rentang waktu itu, bahasa Bali berubah, menyerap pengaruh bahasa...

by Dede Putra Wiguna
September 13, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co