13 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 28, 2026
in Esai
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari tempat. Dunia penerbitan tampak sibuk. Rak buku terus bertambah. Linimasa media sosial tidak pernah sepi dari kabar terbitnya buku. Kita seperti sedang berada di tengah musim panen.

Semua tampak menggembirakan. Tapi seperti banyak hal lain yang terlihat ramai, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa ganjil.

Setiap buku yang terbit sekarang hampir selalu diikuti oleh satu hal yang sama. Selebrasi; foto sampul yang rapi, video singkat yang estetik. Kutipan-kutipan yang dipilih dengan hati-hati. Caption yang terdengar dalam, puitis, kadang sok akrab dengan kegelisahan.

Semua terlihat baik-baik saja. Tapi pertanyaannya sederhana, siapa yang benar-benar membaca buku itu sampai selesai? Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak sopan. Tapi justru di situlah letak masalahnya. Kita mulai menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita lebih nyaman berada di wilayah yang aman. Memberi selamat, memberi pujian, atau juga membagikan ulang.

Selebihnya, selesai. Buku tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dibaca dengan serius. Ia cukup hadir,  terlihat, dan mendapatkan respons. Di titik ini, buku kehilangan sesuatu yang paling mendasar. Ia tidak lagi menjadi ruang untuk berpikir, melainkan sekadar objek untuk dipamerkan.

Media sosial punya cara kerja yang sederhana. Ia menyukai yang cepat, menarik, dan mudah dicerna. Buku, yang seharusnya mengajak orang untuk berhenti sejenak dan masuk lebih dalam, dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme itu.

Akhirnya, yang ditampilkan bukan isi, melainkan kemasan. Yang dibicarakan bukan gagasan, melainkan tampilan. Dan kita menerimanya tanpa banyak bertanya.

Ada kecenderungan yang makin jelas. Buku dipuji sebelum dibaca, direkomendasikan sebelum dipahami. Bahkan kadang dirayakan sebelum benar-benar disentuh secara utuh.

Ini bukan lagi soal malas membaca. Ini soal kebiasaan baru yang perlahan kita anggap wajar. Kita ingin terlihat membaca, tanpa benar-benar membaca. Atau, ingin terrlibat dalam percakapan, tanpa benar-benar masuk ke dalamnya. Dan media sosial memberi ruang yang sangat luas untuk itu.

Tidak berhenti di situ, ada satu hal lain yang juga layak dipertanyakan. Kecenderungan menghadirkan nama besar di halaman awal buku. Kata pengantar dari penulis yang sudah dikenal. Nama yang bisa langsung memberi kesan bahwa buku ini penting. Sekilas, ini terlihat sebagai bentuk penghormatan.

Tapi dalam banyak kasus, ia lebih menyerupai strategi. Nama besar bekerja sebagai jaminan. Ia menggantikan proses pembacaan. Ia membuat orang percaya tanpa perlu memeriksa lebih jauh. Dan yang lebih problematis, kita jarang mempertanyakannya.

Seolah-olah, dengan adanya satu nama yang kita hormati, buku itu otomatis selesai dinilai. Padahal, buku tidak pernah selesai hanya karena ada satu orang yang memujinya.

Buku hidup dari pembacaan yang berulang, dari tafsir yang berbeda-beda, dari kritik yang kadang tidak nyaman. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi benda yang rapi, tapi kosong.

Penulis, dalam banyak hal, juga tidak sepenuhnya bebas dari situasi ini. Ada dorongan untuk terus hadir, terus terlihat atau  aktif. Buku tidak cukup hanya ditulis, ia harus dipromosikan, dirawat, dan dijaga eksistensinya di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi yang sering terjadi, energi habis di sana. Alih-alih membuka percakapan tentang isi buku, penulis justru sibuk merawat citra. Mengatur unggahan, menyusun kata-kata yang terdengar menarik. Tapi jarang benar-benar menjelaskan apa yang mereka tulis.

Buku hadir tanpa konteks. Pembaca dibiarkan menebak-nebak. Atau lebih buruk, tidak merasa perlu tahu. Padahal, sebuah buku selalu lahir dari sesuatu. Dari kegelisahan, pengalaman, atau pertanyaan yang tidak selesai. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi produk.

Dan kita memperlakukannya seperti produk. Dibeli, dipamerkan, lalu dilupakan. Kritik, dalam situasi seperti ini, menjadi sesuatu yang semakin jarang. Bukan karena tidak ada yang mampu, tapi karena tidak ada yang benar-benar ingin mengambil risiko.

Mengkritik buku teman bisa dianggap tidak etis. Memberi catatan bisa dianggap tidak mendukung. Lebih aman untuk diam, atau sekadar memuji. Kita menjadi terlalu ramah. Dan di saat yang sama, kehilangan kejujuran.

Padahal, tanpa kritik, tidak ada pertumbuhan. Tidak ada percakapan yang sungguh-sungguh. Tidak ada alasan bagi sebuah buku untuk dibaca lebih dari sekali. Semua berhenti di permukaan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua buku seperti itu. Tidak juga bahwa semua pembaca seperti itu. Masih ada yang membaca dengan serius, yang menulis dengan sungguh-sungguh. Juga, diskusi yang benar-benar hidup.

Tapi suara mereka sering tenggelam. Tertutup oleh riuhnya selebrasi. Oleh unggahan yang rapi, pujian yang berulang. Oleh kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Di titik tertentu, mungkin kita perlu cukup jujur untuk menyebutnya apa adanya.

Bahwa sebagian dari apa yang kita lakukan hari ini tidak lebih dari “wawa-wewe” (baca: selebrasi). Ramai, tapi kosong. Atau, kalau mau lebih terus terang, masturbasi intelektual.

Kita merasa sedang berada dalam aktivitas yang serius, padahal yang kita lakukan hanyalah memuaskan diri sendiri. Tidak ada risiko, pertaruhan, dan  kedalaman. Hanya ilusi.

Tentu saja, istilah ini bisa dianggap berlebihan. Bahkan mungkin ofensif. Tapi kadang, kita memang membutuhkan kata yang cukup keras untuk mengguncang kebiasaan yang sudah terlalu nyaman.

Karena kalau tidak, kita akan terus mengulang hal yang sama. Buku terbit, dirayakan, dan dipamerkan. Lalu hilang begitu saja. Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak selebrasi, tapi lebih banyak percakapan yang jujur.

Diskusi yang benar-benar membuka ruang. Pertanyaan yang tidak selalu nyaman. Pembacaan yang tidak terburu-buru. Hal-hal seperti itu mungkin tidak menarik untuk diunggah. Tidak selalu menghasilkan respons. Tapi di situlah buku menemukan hidupnya. Bukan di foto, di caption, tapi di kepala pembacanya. Dan kalau itu tidak terjadi, mungkin kita memang perlu bertanya ulang; apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? [T]

Tags: Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Next Post

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

by Sugi Lanus
September 12, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

Read moreDetails

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails
Next Post
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU
Esai

KUNJUNGAN BRAHMANA JAWA KE TANAH INDIA (BHUMI JAMBUDWIPA)

TIGA brahmana Jawa pernah berkunjung ke India. Kisah perjalanan spiritual ini tertuang di dalam pustaka lontar Tantu Pagelaran (atau Tantu...

by Sugi Lanus
September 12, 2026
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie
Ulas Buku

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali
Panggung

Utsawa Dharmagita XXXIII-2026: Ketika Sastra Suci Menggema di Taman Budaya Bali

Jeda hanya sesaat. Setelah kulkul dipukul oleh Gubernur Bali Wayan Koster sebagai tanda dibukanya Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali XXXIII,...

by Nyoman Budarsana
September 12, 2026
YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak
Panggung

YouNITE Fest Vol. 1: Ketika Forum GenRe Denpasar Hadirkan Ruang bagi Anak Muda untuk Bersuara dan Bergerak

ANAK muda acap menjadi sasaran kebijakan. Namun, seberapa sering mereka benar-benar diberi ruang untuk bersuara, menyampaikan gagasan, bahkan menentukan arah...

by Dede Putra Wiguna
September 12, 2026
Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin
Cerpen

Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

MALAM di rumah sakit selalu terasa lebih panjang daripada malam di tempat lain. Jarum jam di dinding ruang perawatan menunjukkan...

by Ahmad Sihabudin
September 12, 2026
Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya
Puisi

Puisi Ahmad Fatoni | Teruslah Bodoh, Negeri Sedang Membutuhkannya

Puisi-Resensi atas Novel Teruslah Bodoh Jangan Pintar karya Tere Liye Teruslah bodoh, jangan pintar,sebab negeri ini menyukai kepalayang mudah menganggukdan...

by Ahmad Fatoni
September 12, 2026
Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co