3 August 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 28, 2026
in Esai
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari tempat. Dunia penerbitan tampak sibuk. Rak buku terus bertambah. Linimasa media sosial tidak pernah sepi dari kabar terbitnya buku. Kita seperti sedang berada di tengah musim panen.

Semua tampak menggembirakan. Tapi seperti banyak hal lain yang terlihat ramai, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa ganjil.

Setiap buku yang terbit sekarang hampir selalu diikuti oleh satu hal yang sama. Selebrasi; foto sampul yang rapi, video singkat yang estetik. Kutipan-kutipan yang dipilih dengan hati-hati. Caption yang terdengar dalam, puitis, kadang sok akrab dengan kegelisahan.

Semua terlihat baik-baik saja. Tapi pertanyaannya sederhana, siapa yang benar-benar membaca buku itu sampai selesai? Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak sopan. Tapi justru di situlah letak masalahnya. Kita mulai menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita lebih nyaman berada di wilayah yang aman. Memberi selamat, memberi pujian, atau juga membagikan ulang.

Selebihnya, selesai. Buku tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dibaca dengan serius. Ia cukup hadir,  terlihat, dan mendapatkan respons. Di titik ini, buku kehilangan sesuatu yang paling mendasar. Ia tidak lagi menjadi ruang untuk berpikir, melainkan sekadar objek untuk dipamerkan.

Media sosial punya cara kerja yang sederhana. Ia menyukai yang cepat, menarik, dan mudah dicerna. Buku, yang seharusnya mengajak orang untuk berhenti sejenak dan masuk lebih dalam, dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme itu.

Akhirnya, yang ditampilkan bukan isi, melainkan kemasan. Yang dibicarakan bukan gagasan, melainkan tampilan. Dan kita menerimanya tanpa banyak bertanya.

Ada kecenderungan yang makin jelas. Buku dipuji sebelum dibaca, direkomendasikan sebelum dipahami. Bahkan kadang dirayakan sebelum benar-benar disentuh secara utuh.

Ini bukan lagi soal malas membaca. Ini soal kebiasaan baru yang perlahan kita anggap wajar. Kita ingin terlihat membaca, tanpa benar-benar membaca. Atau, ingin terrlibat dalam percakapan, tanpa benar-benar masuk ke dalamnya. Dan media sosial memberi ruang yang sangat luas untuk itu.

Tidak berhenti di situ, ada satu hal lain yang juga layak dipertanyakan. Kecenderungan menghadirkan nama besar di halaman awal buku. Kata pengantar dari penulis yang sudah dikenal. Nama yang bisa langsung memberi kesan bahwa buku ini penting. Sekilas, ini terlihat sebagai bentuk penghormatan.

Tapi dalam banyak kasus, ia lebih menyerupai strategi. Nama besar bekerja sebagai jaminan. Ia menggantikan proses pembacaan. Ia membuat orang percaya tanpa perlu memeriksa lebih jauh. Dan yang lebih problematis, kita jarang mempertanyakannya.

Seolah-olah, dengan adanya satu nama yang kita hormati, buku itu otomatis selesai dinilai. Padahal, buku tidak pernah selesai hanya karena ada satu orang yang memujinya.

Buku hidup dari pembacaan yang berulang, dari tafsir yang berbeda-beda, dari kritik yang kadang tidak nyaman. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi benda yang rapi, tapi kosong.

Penulis, dalam banyak hal, juga tidak sepenuhnya bebas dari situasi ini. Ada dorongan untuk terus hadir, terus terlihat atau  aktif. Buku tidak cukup hanya ditulis, ia harus dipromosikan, dirawat, dan dijaga eksistensinya di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi yang sering terjadi, energi habis di sana. Alih-alih membuka percakapan tentang isi buku, penulis justru sibuk merawat citra. Mengatur unggahan, menyusun kata-kata yang terdengar menarik. Tapi jarang benar-benar menjelaskan apa yang mereka tulis.

Buku hadir tanpa konteks. Pembaca dibiarkan menebak-nebak. Atau lebih buruk, tidak merasa perlu tahu. Padahal, sebuah buku selalu lahir dari sesuatu. Dari kegelisahan, pengalaman, atau pertanyaan yang tidak selesai. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi produk.

Dan kita memperlakukannya seperti produk. Dibeli, dipamerkan, lalu dilupakan. Kritik, dalam situasi seperti ini, menjadi sesuatu yang semakin jarang. Bukan karena tidak ada yang mampu, tapi karena tidak ada yang benar-benar ingin mengambil risiko.

Mengkritik buku teman bisa dianggap tidak etis. Memberi catatan bisa dianggap tidak mendukung. Lebih aman untuk diam, atau sekadar memuji. Kita menjadi terlalu ramah. Dan di saat yang sama, kehilangan kejujuran.

Padahal, tanpa kritik, tidak ada pertumbuhan. Tidak ada percakapan yang sungguh-sungguh. Tidak ada alasan bagi sebuah buku untuk dibaca lebih dari sekali. Semua berhenti di permukaan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua buku seperti itu. Tidak juga bahwa semua pembaca seperti itu. Masih ada yang membaca dengan serius, yang menulis dengan sungguh-sungguh. Juga, diskusi yang benar-benar hidup.

Tapi suara mereka sering tenggelam. Tertutup oleh riuhnya selebrasi. Oleh unggahan yang rapi, pujian yang berulang. Oleh kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Di titik tertentu, mungkin kita perlu cukup jujur untuk menyebutnya apa adanya.

Bahwa sebagian dari apa yang kita lakukan hari ini tidak lebih dari “wawa-wewe” (baca: selebrasi). Ramai, tapi kosong. Atau, kalau mau lebih terus terang, masturbasi intelektual.

Kita merasa sedang berada dalam aktivitas yang serius, padahal yang kita lakukan hanyalah memuaskan diri sendiri. Tidak ada risiko, pertaruhan, dan  kedalaman. Hanya ilusi.

Tentu saja, istilah ini bisa dianggap berlebihan. Bahkan mungkin ofensif. Tapi kadang, kita memang membutuhkan kata yang cukup keras untuk mengguncang kebiasaan yang sudah terlalu nyaman.

Karena kalau tidak, kita akan terus mengulang hal yang sama. Buku terbit, dirayakan, dan dipamerkan. Lalu hilang begitu saja. Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak selebrasi, tapi lebih banyak percakapan yang jujur.

Diskusi yang benar-benar membuka ruang. Pertanyaan yang tidak selalu nyaman. Pembacaan yang tidak terburu-buru. Hal-hal seperti itu mungkin tidak menarik untuk diunggah. Tidak selalu menghasilkan respons. Tapi di situlah buku menemukan hidupnya. Bukan di foto, di caption, tapi di kepala pembacanya. Dan kalau itu tidak terjadi, mungkin kita memang perlu bertanya ulang; apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? [T]

Tags: Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Next Post

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

Read moreDetails

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
0
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

Read moreDetails

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

by Angga Wijaya
August 2, 2026
0
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

Read moreDetails

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
0
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

Read moreDetails

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
0
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

Read moreDetails

𝗣𝗘𝗥𝗜𝗡𝗚𝗔𝗧𝗔𝗡 𝗚𝗨𝗥𝗨𝗛 𝗦𝗨𝗞𝗔𝗥𝗡𝗢𝗣𝗨𝗧𝗥𝗔 𝗨𝗡𝗧𝗨𝗞 𝗕𝗔𝗟𝗜

by Sugi Lanus
July 31, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— 𝗖𝗮𝘁𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗛𝗮𝗿𝗶𝗮𝗻 𝗦𝘂𝗴𝗶 𝗟𝗮𝗻𝘂𝘀, 𝟯𝟬 𝗝𝘂𝗹𝗶 𝟮𝟬𝟮𝟲. 𝗧𝗮𝗵𝘂𝗻 𝟭𝟵𝟳𝟲 𝗚𝘂𝗿𝘂𝗵 𝗦𝘂𝗸𝗮𝗿𝗻𝗼𝗽𝘂𝘁𝗿𝗮 𝘁𝗲𝗹𝗮𝗵 𝗺𝗲𝗺𝗯𝗲𝗿𝗶𝗸𝗮𝗻 𝗽𝗲𝗿𝗶𝗻𝗴𝗮𝘁𝗮𝗻 𝗯𝗮𝗵𝘄𝗮: 𝗕𝗲𝗻𝗰𝗮𝗻𝗮 𝗸𝗼𝗺𝗲𝗿𝘀𝗶𝗮𝗹𝗶𝘀𝗮𝘀𝗶 𝗱𝗮𝗻 𝗲𝗸𝘀𝗽𝗹𝗼𝗶𝘁𝗮𝘀𝗶...

Read moreDetails

Latah Pendidikan yang Mencemaskan

by Petrus Imam Prawoto Jati
July 30, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SIDANG pembaca yang budiman, kita sama-sama paham jika bicara soal pendidikan, semua selalu dimulai dengan niat baik. Setidaknya, begitulah yang...

Read moreDetails

Sasih Karo Kehilangan Made Taro

by I Nyoman Tingkat
July 30, 2026
0
Sasih Karo Kehilangan Made Taro

“UNTUK belajar tentang anatomi gajah, ajaklah murid ke kebun binatang, jangan membawa gajah ke dalam kelas.” Kalimat analogi dari Rabindranath...

Read moreDetails

Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

by I Wayan Yudana
July 29, 2026
0
Pendidikan Karakter: Sorotan Sekolah di Ruang Publik

TAHUN ajaran baru selalu membawa aroma yang baru. Ada bau cat ruang kelas yang baru dicat. Ada seragam yang masih...

Read moreDetails

Layar Redup, Pembelajaran Hidup

by Dede Putra Wiguna
July 29, 2026
0
Layar Redup, Pembelajaran Hidup

PERHATIAN adalah pintu masuk pembelajaran. Ketika perhatian terpecah, pengetahuan lebih sulit dipahami, percakapan di kelas kehilangan makna, dan proses belajar...

Read moreDetails
Next Post
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran
Tualang

Mengulik Keunikan Pura Ulun Swi Jimbaran

SEBAGAIMANA Pura Ulun Swi pada umumnya, Pura Ulun Swi Jimbaran adalah Pura Subak dengan status Pura Kahyangan Jagat. Terkesan unik...

by I Nyoman Tingkat
August 2, 2026
Mantra Visual Made Wiradana
Ulas Rupa

Mantra Visual Made Wiradana

PADA tulisan kali ini, saya ingin "menekuni" karya Made Wiradana yang baru saja dipamerkan di Griya Santrian, Sanur, beberapa waktu...

by Hartanto
August 2, 2026
Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village
Ulas Musik

Folk, Jalan Berlubang: Dari Margonda ke Greenwich Village

“Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali.” JIKA pembaca mendaki tangga lagu di platform musik, nihil kita temui musik folk di...

by Mahesa Putra
August 2, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Saat Lidah Kelu Bicara Cinta, Maka Lahirlah Lagu

"Mengapa sebagian perasaan memilih menjadi musik?" Ada seseorang yang berjam-jam memandangi layar kosong. Ia mampu berbicara kepada banyak orang, tetapi...

by Tri Nugroho Adi
August 2, 2026
Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang
Esai

Ketika Pikiran adalah Senjata ——Membaca Kembali Pertempuran Mpu Beradah dan Ni Calonarang

CALONARANG merupakan kisah terkenal yang berasal dari wilayah Jawa Timur. Produk yang lahir pada zaman Jawa Kuno ini tersedia dalam...

by IGP Weda Adi Wangsa
August 2, 2026
Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang
Esai

Canang yang Terlindas ——Membaca Kegelisahan Bali di Tengah Arus Pendatang

PAGI belum benar-benar terang ketika seorang perempuan keluar dari pekarangan rumahnya di Denpasar. Di tangannya tergenggam sebuah canang sari, yakni...

by Angga Wijaya
August 2, 2026
Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu
Panggung

Angker Pancer Joged Pingitan, Upaya Menghidupkan Kembali Warisan Sakral Singapadu

MALAM merayap pelan di Tempekan Selat, Banjar Apuan, Desa Singapadu, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Di catus pata yang biasanya menjadi...

by Nyoman Budarsana
August 2, 2026
Tuhan Yang Maha Puisi
Ulas Buku

Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal
Esai

Tumpek Krulut, Hari Kasih Sayang Dresta Bali yang Bernilai Universal

"Kalau dunia merayakan Hari Kasih Sayang dengan setangkai mawar, Bali telah merayakannya sejak berabad-abad lalu dengan doa, gamelan, dan ketulusan...

by I Wayan Yudana
August 1, 2026
Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya
Esai

Pengkhianatan Kaum Cendekiawan ——Ketika Bali Kehilangan Penjaga Nuraninya

"Sebuah peradaban tidak runtuh karena kekurangan orang pintar. Peradaban runtuh ketika orang-orang pintarnya memilih diam. Ketika ilmu kehilangan keberanian, kekuasaan...

by Agung Sudarsa
August 1, 2026
Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”
Hiburan

Scared of Bums Rilis “Berlari”, Soundtrack Enerjik untuk “Pelari Kalcer”

ADA masa ketika identitas musik punk begitu lekat dengan citra hidup yang berantakan. Rokok, begadang, alkohol, dan semangat melawan apa...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026
Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026
Panggung

Tiga Belas Penulis Muda Mempresentasikan Karya di Singaraja Literary Festival ——Dari Sesi Presentasi dan Diskusi Karya Emerging Writers MTN Lab x SLF 2026

PADA hari ketiga Singaraja Literary Festival (SLF) 2026, Minggu, 5 Juli 2026, di Kawasan Museum Buleleng, tiga belas penulis muda...

by Dede Putra Wiguna
August 1, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co