25 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

Angga Wijaya by Angga Wijaya
April 28, 2026
in Esai
Buku Terbit, Lalu Terlalu Banyak Selebrasi

BUKU terus lahir, hampir setiap waktu. Dari penulis lama, penulis baru; dari yang sudah punya nama, sampai yang masih mencari tempat. Dunia penerbitan tampak sibuk. Rak buku terus bertambah. Linimasa media sosial tidak pernah sepi dari kabar terbitnya buku. Kita seperti sedang berada di tengah musim panen.

Semua tampak menggembirakan. Tapi seperti banyak hal lain yang terlihat ramai, ada sesuatu yang pelan-pelan terasa ganjil.

Setiap buku yang terbit sekarang hampir selalu diikuti oleh satu hal yang sama. Selebrasi; foto sampul yang rapi, video singkat yang estetik. Kutipan-kutipan yang dipilih dengan hati-hati. Caption yang terdengar dalam, puitis, kadang sok akrab dengan kegelisahan.

Semua terlihat baik-baik saja. Tapi pertanyaannya sederhana, siapa yang benar-benar membaca buku itu sampai selesai? Pertanyaan itu mungkin terdengar tidak sopan. Tapi justru di situlah letak masalahnya. Kita mulai menghindari pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Kita lebih nyaman berada di wilayah yang aman. Memberi selamat, memberi pujian, atau juga membagikan ulang.

Selebihnya, selesai. Buku tidak lagi menjadi sesuatu yang perlu dibaca dengan serius. Ia cukup hadir,  terlihat, dan mendapatkan respons. Di titik ini, buku kehilangan sesuatu yang paling mendasar. Ia tidak lagi menjadi ruang untuk berpikir, melainkan sekadar objek untuk dipamerkan.

Media sosial punya cara kerja yang sederhana. Ia menyukai yang cepat, menarik, dan mudah dicerna. Buku, yang seharusnya mengajak orang untuk berhenti sejenak dan masuk lebih dalam, dipaksa menyesuaikan diri dengan ritme itu.

Akhirnya, yang ditampilkan bukan isi, melainkan kemasan. Yang dibicarakan bukan gagasan, melainkan tampilan. Dan kita menerimanya tanpa banyak bertanya.

Ada kecenderungan yang makin jelas. Buku dipuji sebelum dibaca, direkomendasikan sebelum dipahami. Bahkan kadang dirayakan sebelum benar-benar disentuh secara utuh.

Ini bukan lagi soal malas membaca. Ini soal kebiasaan baru yang perlahan kita anggap wajar. Kita ingin terlihat membaca, tanpa benar-benar membaca. Atau, ingin terrlibat dalam percakapan, tanpa benar-benar masuk ke dalamnya. Dan media sosial memberi ruang yang sangat luas untuk itu.

Tidak berhenti di situ, ada satu hal lain yang juga layak dipertanyakan. Kecenderungan menghadirkan nama besar di halaman awal buku. Kata pengantar dari penulis yang sudah dikenal. Nama yang bisa langsung memberi kesan bahwa buku ini penting. Sekilas, ini terlihat sebagai bentuk penghormatan.

Tapi dalam banyak kasus, ia lebih menyerupai strategi. Nama besar bekerja sebagai jaminan. Ia menggantikan proses pembacaan. Ia membuat orang percaya tanpa perlu memeriksa lebih jauh. Dan yang lebih problematis, kita jarang mempertanyakannya.

Seolah-olah, dengan adanya satu nama yang kita hormati, buku itu otomatis selesai dinilai. Padahal, buku tidak pernah selesai hanya karena ada satu orang yang memujinya.

Buku hidup dari pembacaan yang berulang, dari tafsir yang berbeda-beda, dari kritik yang kadang tidak nyaman. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi benda yang rapi, tapi kosong.

Penulis, dalam banyak hal, juga tidak sepenuhnya bebas dari situasi ini. Ada dorongan untuk terus hadir, terus terlihat atau  aktif. Buku tidak cukup hanya ditulis, ia harus dipromosikan, dirawat, dan dijaga eksistensinya di media sosial.

Tidak ada yang salah dengan itu. Tapi yang sering terjadi, energi habis di sana. Alih-alih membuka percakapan tentang isi buku, penulis justru sibuk merawat citra. Mengatur unggahan, menyusun kata-kata yang terdengar menarik. Tapi jarang benar-benar menjelaskan apa yang mereka tulis.

Buku hadir tanpa konteks. Pembaca dibiarkan menebak-nebak. Atau lebih buruk, tidak merasa perlu tahu. Padahal, sebuah buku selalu lahir dari sesuatu. Dari kegelisahan, pengalaman, atau pertanyaan yang tidak selesai. Tanpa itu semua, buku hanya menjadi produk.

Dan kita memperlakukannya seperti produk. Dibeli, dipamerkan, lalu dilupakan. Kritik, dalam situasi seperti ini, menjadi sesuatu yang semakin jarang. Bukan karena tidak ada yang mampu, tapi karena tidak ada yang benar-benar ingin mengambil risiko.

Mengkritik buku teman bisa dianggap tidak etis. Memberi catatan bisa dianggap tidak mendukung. Lebih aman untuk diam, atau sekadar memuji. Kita menjadi terlalu ramah. Dan di saat yang sama, kehilangan kejujuran.

Padahal, tanpa kritik, tidak ada pertumbuhan. Tidak ada percakapan yang sungguh-sungguh. Tidak ada alasan bagi sebuah buku untuk dibaca lebih dari sekali. Semua berhenti di permukaan.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua buku seperti itu. Tidak juga bahwa semua pembaca seperti itu. Masih ada yang membaca dengan serius, yang menulis dengan sungguh-sungguh. Juga, diskusi yang benar-benar hidup.

Tapi suara mereka sering tenggelam. Tertutup oleh riuhnya selebrasi. Oleh unggahan yang rapi, pujian yang berulang. Oleh kesan bahwa semuanya baik-baik saja. Di titik tertentu, mungkin kita perlu cukup jujur untuk menyebutnya apa adanya.

Bahwa sebagian dari apa yang kita lakukan hari ini tidak lebih dari “wawa-wewe” (baca: selebrasi). Ramai, tapi kosong. Atau, kalau mau lebih terus terang, masturbasi intelektual.

Kita merasa sedang berada dalam aktivitas yang serius, padahal yang kita lakukan hanyalah memuaskan diri sendiri. Tidak ada risiko, pertaruhan, dan  kedalaman. Hanya ilusi.

Tentu saja, istilah ini bisa dianggap berlebihan. Bahkan mungkin ofensif. Tapi kadang, kita memang membutuhkan kata yang cukup keras untuk mengguncang kebiasaan yang sudah terlalu nyaman.

Karena kalau tidak, kita akan terus mengulang hal yang sama. Buku terbit, dirayakan, dan dipamerkan. Lalu hilang begitu saja. Mungkin yang kita butuhkan bukan lebih banyak selebrasi, tapi lebih banyak percakapan yang jujur.

Diskusi yang benar-benar membuka ruang. Pertanyaan yang tidak selalu nyaman. Pembacaan yang tidak terburu-buru. Hal-hal seperti itu mungkin tidak menarik untuk diunggah. Tidak selalu menghasilkan respons. Tapi di situlah buku menemukan hidupnya. Bukan di foto, di caption, tapi di kepala pembacanya. Dan kalau itu tidak terjadi, mungkin kita memang perlu bertanya ulang; apa sebenarnya yang sedang kita rayakan? [T]

Tags: Buku
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Sensasi dan Kejutan Seba Baduy 2026 sebagai Diplomasi Budaya

Next Post

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Angga Wijaya

Angga Wijaya

Penulis dan jurnalis asal Jembrana, Bali. Aktif menulis esai kebudayaan dan kehidupan urban Bali di berbagai media. Ia juga dikenal sebagai penyair dan telah menulis belasan buku puisi serta buku kumpulan esai.

Related Posts

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

Read moreDetails

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails
Next Post
Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Annam Brahman: Makanan adalah Tuhan

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau
Puisi

Puisi-Puisi Rusdy Ulu | Perempuan Rantau

Perempuan Rantau ---buat Satya Rakasiwi Purbowati Seperti gagak di langit hitamkelana menembus malamdihantam badai selatandan mendung langitmenghapus segala arahyang ingin...

by Rusdy Ulu
October 25, 2026
Menyulam Masa Depan Laut Lovina
Liputan Khusus

Menyulam Masa Depan Laut Lovina

PUKUL berapa pun laut memanggil, Edi Harianto tahu apa yang harus dilakukannya. Lelaki berusia 50 tahun itu sudah akrab dengan...

by Jaswanto
October 24, 2026
Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar
Pendidikan

Tim PPG Calon Guru Matematika Unmas Gelar GEMARI TKA, Dorong Inovasi Pembelajaran Berbasis AI di SMPN 14 Denpasar

NILAI rata-rata Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika di SMP Negeri 14 Denpasar baru mencapai 41,31. Dari 307 peserta didik, sekitar...

by Dede Putra Wiguna
October 24, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

Selamat Datang di Negara “Clickbait”

SEPERTINYA sudah bukan lagi zamannya bertanya program mana yang paling bagus. Di negeri yang pandai menjual harapan, pertanyaan pertama justru...

by Petrus Imam Prawoto Jati
October 24, 2026
Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co