2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Son Lomri by Son Lomri
August 29, 2025
in Ulas Buku
Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

DI tengah maraknya demonstrasi di kota-kota besar di Indonesia atas ketidakpuasan—untuk tidak mengatakan ketidakpecusan—pemerintah, buku Catatan Seorang Demonstran (2011) karya Soe Hok Gie sepertinya menarik untuk dibuka dan dibaca kembali. Pasalnya, selain mengandung banyak sekali gagasan si penulis, dalam buku ini juga memuat catatan pribadi seputar demonstrasi—pun kehidupan dan perjuangan—aktivis mahasiswa angkatan ‘66 atau pada akhir Orde Lama.

Dalam buku tersebut, khususnya pada Bagian V: Catatan Seorang Demonstran, Soe Hok Gie mencatat cara-cara demonstran menyampaikan aspirasinya dengan cukup detail, lengkap dengan nyanyian-nyanyian yang disuarakan para mahasiswa ketika itu, seperti yang terjadi di bilangan Salemba, Jakarta Pusat, misalnya. Pada aksi tahun 1966 itu, catat Gie, mahasiswa menyetop mobil-mobil yang melintas hingga menyebabkan kemacetan. Para mahasiswa itu menempel pamflet bertuliskan aneka slogan: “Dekat-jauh dua ratus”, “Turunkan harga bensin”, “Chaerul menteri goblok”.

Selain menempelkan pamflet yang isinya bermacam-macam, berkisar pada Tritura, Gie juga mencatat nyanyian-nyanyian perjuangan dari lagu yang diganti liriknya. Lagu-lagu itu menjadi unik dan kritis. Dikutip dari Historia.id, salah satu nyanyian yang digubah para demonstran adalah Anak Ayam karya AT. Mahmud. Lagu anak-anak itu diganti liriknya menjadi: “Tek, kotek-kotek-kotek. Ada menteri tukan ngobyek. Blok, goblok-goblok-goblok. Kita ganyang menteri goblok…” Aksi ini juga ditampilkan dalam film Gie (2005) garapan Riri Riza.

Tak hanya itu, Gie juga mencatat kisah-kisah ringan seputar Demonstrasi 1996. Cerita-cerita itu, bagi Gie, selain hiburan juga menjadi ikatan penguat perjuangan mereka. Salah satu kisahnya adalah saat para demonstran melakukan aksi di sekitaran Bundaran HI dan mereka kehabisan lem untuk menempel selebaran. Kemudian mereka meminta lem kepada manajemen Hotel Indonesia (HI). Karena terdesak, manajemen HI terpaksa menyuruh bawahannya memasak kanji dan dimasukkan ke dalam ember plastik lalu dikirim ke para demonstran.

Belajar dari Aktivis 66

Melalui Catatan Seorang Demonstran, kita bisa belajar betapa dinamisnya gerakan aktivis mahasiswa angkatan ‘66, Khususnya sosok Soe Hok Gie. Sebagai salah seorang mahasiswa yang disegani di UI, peran Gie tidak bisa diremehkan. Ia mahasiswa yang tidak hanya idealis, tapi juga berpengetahuan luas. Semua ia pelajari. Filsafat, sastra, politik nasional maupun internasional. Kalau sekarang, mungkin ia akan dijuluki sebagai Wikipedia berjalan.

Selain aktif berkegiatan dan mendorong hal-hal yang berkaitan dengan ranah kognitif, meningkatkan kompetensi melalui forum-forum diskusi—bersama dengan Ciil (panggilan Dr. Sjahrir) ia mendirikan GDUI (Grup Diskusi UI)—, Gie juga sangat aktif di dunia gerakan: aksi demonstrasi menuntut turunnya Soekarno (rezim Orde Lama), pembubaran PKI, dan turunnya harga BBM. Dan jangan lupakan tentang keaktifannya di dunia pecinta alam, di Mapala (Mahasiswa Pecinta Alam) Pradjna Paramita.

Melalui catatannya, kita tahu bahwa Gie sangat getol menghidupkan kegiatan kampus. Ia mendorong mahasiswa supaya bergairah mengikuti berbagai aktivitas kampus. Ia mengajak kawan-kawannya untuk menikmati pembacaan puisi, panggung teater, musik, dan diskusi film, juga buku. Bahkan, ia pernah mendatangkan W.S. Rendra ke kampus di Rawamangun untuk berdiskusi.

Gie adalah sosok yang ambisius—meski sangat dinamis. Jauh dari fundamentalis. Gerakan-gerakannya tidak membosankan. Ia bisa melakukan apa saja. Hobinya menonton film pun ditularkan kepada kawan-kawannya. Baik menonton di gedung bioskop umum, atau hanya sekadar menonton di sebuah ruangan, yang penting melakukannya beramai-ramai.

Dan Gie juga sering mengajak kawan-kawannya untuk menjelajahi kedutaan-kedutaan asing untuk menonton film, seperti Kedutaan Ceko, Kedutaan Rumania, Kedutaan Perancis, dll. Biasanya Gie akan mengajak mereka untuk menonton The Secret of Life, yang bercerita tentang proses bayi, atau The Graduate-nya Dustin Hoffman dan film-film yang lain.

Selain menonton film, kadang Gie hanya berkumpul di rumah seorang kawan untuk mendengarkan lagu-lagu The Beatles, misalnya, dan kemudian membahasnya bersama-sama. Gie sangat suka mendengarkan lagu-lagu protes, seperti lagu Dona Dona yang dinyanyikan Joan Baez, lagu-lagu Bob Dylan, dan juga lagu-lagu perjuangan antridiskriminasi kaum kulit hitam di Amerika Serikat.

Pergerakan mahasiswa angkatan ‘66 yang dimotori oleh Soe Hok Gie saya pikir sangat dinamis. Artinya tidak hanya bergelut di bidang akademis saja, tapi juga bergerak di ranah non-akademis. Gerakan-gerakannya tidak hanya formalitas saja, tapi tujuannya jelas, visioner. Selogan “buku, pesta, dan cinta” sangat populer waktu itu.

Selain aktif di internal kampus, Soe Hok Gie—dan kebanyakan mahasiswa kala itu—juga sangat aktif di eksternal kampus. Bahkan, Gie adalah salah satu otak terpilihnya Herman Lantang sebagai Ketua SM-FSUI yang mengalahkan calon-calon dari organisasi mahasiswa besar macam HMI dan GMNI. Pada masa Herman menjadi ketua Senat, Soe Hok Gie menduduki posisi pembantu staf SM-FSUI.

 “Pokoknya waktu gua ketua Senat itu, Hok-gie otaknya. Pidato gua waktu jadi ketua Senat aja Hok-gie yang bikin. Juga waktu nyusun organisasi SM-FSUI, Hok-gie yang ngatur semua,” ucap Herman Lantang.

Hampir semua kawan yang pernah dekat dengan Gie, atau beberapa orang yang kemudian ikut serta berkomentar dalam buku Soe Hok-gie Sekali Lagi, misalnya, mengatakan bahwa sosok Gie mampu mewakili pemuda pada zamannya. Ia sangat istimewa. Berani, jujur, dan sangat idealis.

Pada tahun 1967, ketika mendapat dukungan dari kelompok independen—mereka yang tidak tergabung di HMI, PMII, PMKRI, dan GMKI—Soe Hok Gie kembali memenangkan pemilihan ketua SM-FSUI. Sejak itu, suasana fakultas kembali meriah. Berbagai kegiatan berjalan dengan baik. Ada olah raga, penanaman pohon, pendkian gunung, ada klub buku, film, musik, dan tentu saja demonstrasi. Bahkan, teater Populer pimpinan Teguh Karya dan Teater Kecil Arifin C. Noor pernah didatangkan Gie untuk pentas di FS-UI. Tidak ketinggalan, W.S. Rendra juga pernah ia datangkan sebagai pembicara.

Pada masa Gie menjabat sebagai ketua Senat, terbentuk Ikmasi (Ikatan Mahasiswa Sastra se-Indonesia) yang beranggotakan fakultas-fakultas sastra budaya dari berbagai universitas negeri se-Indonesia.[T]

Penulis: Sonhaji Abdullah
Editor: Jaswanto

Tags: aktivisaktivis 66BukudemonstrasimahasiswaSoe Hok Gie
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Next Post

Dari Pajak Rakyat ke Roda Rantis: Psikologi Publik dalam Bayang Kekerasan Negara

Son Lomri

Son Lomri

Mahasiswa Undikhsa, tinggal di Singaraja

Related Posts

Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

by Abdul Karim Abraham
September 29, 2026
0
Kisah Pinggiran 1965: Belajar Empati dari Lasmi

LASMI, perempuan muda yang cukup populer di kampungnya. Penampilannya sederhana, ia tidak mengenakan aksesoris apapun, kecuali jam tangan dengan tali...

Read moreDetails

Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

by Kadek Wisnu Oktaditya
September 12, 2026
0
Aku Mau Jadi Penguin! —Ulasan Novel “Di Tanah Lada” Karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie

AWALNYA saya mengira nama ‘Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie’ adalah nama pena. Ternyata saya salah. Kemudian dari nama unik dan ajaib inilah saya...

Read moreDetails

Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

by Chusmeru
September 3, 2026
0
Makna Komunikasi di Balik Lagu: Ulas Buku Hermeneusical Karya Ahmad Sihabudin

Judul Buku: HERMENEUSICAL Menafsir Musik dalam Komunikasi Manusia Penulis      : Prof.Dr. Ahmad Sihabudin, M.Si Penerbit    : Indigo Media, Kota Tangerang...

Read moreDetails

SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

by IRZI
August 3, 2026
0
SEBUT SAJA NAGA DALAM GELAP: Dunia Lain, Tan Lioe Ie, dan Cahaya Pink Floyd

Pengantar singkat: Buku puisi Soto Otak ODGJ, tidak pernah menjadi "isu besar" yang cukup menarik perhatian pembela hak asasi manusia,...

Read moreDetails

Tuhan Yang Maha Puisi

by Heski Dewabrata
August 1, 2026
0
Tuhan Yang Maha Puisi

The Ingredients of Easter: Three nails, Two pieces of wood, a crown of thorns, a fair share of lashing, and...

Read moreDetails

SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

by I Wayan Sujana Suklu
July 26, 2026
0
SNERAYUZA: Ketika Studio Menjadi Sajak, Ketika Lukisan Menjadi Puisi

SEBUAH buku yang selesai dibaca ketika halaman terakhir ditutup. Ada pula buku yang baru mulai dibaca justru setelah kita menutupnya....

Read moreDetails

Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

by Azwar
July 17, 2026
0
Kehilangan, Bahasa, dan Memori Kolektif dalam Karya Sastra —Membaca “Singkarak, Riang dan Sendunya” Karya Ragdi F Daye

Singkarak, Riang dan Sendunya merupakan kumpulan cerpen karya Ragdi F Daye yang diterbitkan Rumahkayu Pustaka pada Mei 2026. Buku ini...

Read moreDetails

“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

by I Made Sujaya
July 16, 2026
0
“Koloni”: Semut, Semesta, dan Seni Merawat Kehidupan

Novel Koloni pertama kali diluncurkan oleh Gramedia pada 22 Agustus 2025. Sejak diluncurkan hingga kini, novel ini terus mendapat perhatian...

Read moreDetails

Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

by IRZI
July 12, 2026
0
Yang Paling Dalam, Yang Tetap Online  —Prolog untuk Buku Puisi “Yang Paling Dalam, Yang Paling Diam” karya Chris Triwarseno

KITA tidak memulai dari halaman kosong. Kita masuk ketika semuanya sudah berlangsung. Layar sudah menyala, jempol bergerak hampir tanpa perintah,...

Read moreDetails

Mahindu, Si Perempuan Tembikar

by Mas Ruscitadewi
July 10, 2026
0
Mahindu, Si Perempuan Tembikar

Risalah Perempuan-Perempuan Tembikar yang dipakai sebagai judul kumpulan puisi ini mengisyaratkan pilihan, penilaian dan sudut pandang penyair dalam membahas masalah...

Read moreDetails
Next Post
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Dari Pajak Rakyat ke Roda Rantis: Psikologi Publik dalam Bayang Kekerasan Negara

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co