14 May 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 29, 2025
in Esai
“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Albert Camus | Foto: The New Yorker

KAWAN yang baik, beberapa waktu lalu, seseorang bertanya: “Bagaimana caranya menjadi Sisifus di ladang konsumerisme, Mas Adi?”

Jika bicara ihwal Sisifus, kita pasti ingat filsuf Prancis Albert Camus, seorang penulis esai cemerlang, salah satunya “Le mythe de sisyphe” (Mitos Sisifus) yang kemudian jadi salah satu judul bukunya.

Tentu Pak Camus ini juga penulis prosa, di antara karyanya adalah cerita pendek berjudul “Jonas, ou l’artiste au travail”.

Judul cerpen ini biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “The Artist at Work”. Secara harfiah, terjemahannya kira-kira adalah: “Jonas, atau seorang seniman dalam berkarya”.

Baiklah, kita singgung cerpennya terlebih dahulu. Tokoh utama cerpen itu adalah seorang pelukis bernama Gilbert Jonas. Ia memiliki karir yang cukup menjanjikan dan keluarga yang mendukung kerja seninya.

Pada satu waktu ia mengerjakan lukisan yang akan menjadi salah satu karya terbaiknya. Berminggu-minggu sang seniman bekerja tak kenal waktu hingga kemudian ditemukan terkapar di studionya.

Dokter yang datang memeriksa mengatakan bahwa Jonas ambruk karena terlalu banyak bekerja dan tak pernah istirahat. Sang dokter tak dapat memastikan apakah Jonas akan selamat atau tidak.

Lalu apa hasil karya yang digarap habis-habisan hingga sang seniman ambruk?

Ternyata hanya kanvas kosong dengan coretan atau tulisan kecil yang kabur, berbunyi: “Solitaire”. Tapi hurut T di situ juga samar-samar membentuk huruf D.

Susah memastikan apakah itu huruf T atau D, apakah yang ia tulis “Solitaire” atau “Solidaire”. Itulah kesimpulan perenungan sang seniman terhadap kehidupan.

Artinya, manusia akan terus terombang-ambing antara kehendak dan keharusan menjadi soliter atau solider, hingga akhir hayatnya.

Kawan yang baik, kita tahu bahwa sang penulis, Albert Camus, adalah filsuf eksistensialis yang terkenal dengan pemikirannya tentang absurditas.

Tapi, apa gerangan absurditas itu?

Bolehlah dibuat ilustrasi sederhana; sepanjang sejarah, mungkin sudah ribuan tahun, manusia terus berusaha memahami dan menjelaskan dunia dan dirinya sendiri.

Telah lahir banyak agama, kitab suci dan nabi-nabi. Juga telah muncul ribuan filsuf, pemikir besar dan ilmuwan. Telah ditulis jutaan buku pula. Tapi tetap saja hidup dan dunia tak terjelaskan secara tuntas.

Jika hidup ini bermakna, kenapa manusia menderita? Kenapa orang-orang baik justru sengsara (dan mati) sementara banyak orang jahat bahkan yang super jahat asu-asuan justru berjaya?

Apa makna kehidupan dan kematian? Dan kenapa manusia mati? Jika hidup ini layak dijalani, kenapa tetap ada pembunuhan, bahkan pembantaian terhadap anak-anak tak berdosa? Kenapa ada rudal dan bom bunuh diri?

Semua agama, Nabi, filsuf dan pemikir besar berusaha mengurai berbagai pertanyaan tersebut, tapi tetap tak dapat menjawab dengan tuntas. Maka, hidup dan dunia ini sebenarnya tak terjelaskan, dan memang tak diperlukan penjelasan yang tuntas.

Buat apa susah-payah mencari jawaban tuntas jika hal itu mustahil diperoleh?

Dan karena tak terjelaskan dengan tuntas, maka manusia tak perlu berilusi mendapatkan makna dari kehidupan dan dunia. Yang harus dilakukan adalah menjalani hidup tanpa menyia-nyiakan waktu dan energi untuk mencari jawaban tentang makna. Atau, jika perlu melupakan makna itu sendiri.

Ini maksudnya gimana, Pak Camus?

Dalam esai “Le mythe de sisyphe” ia mengisahkan kembali hidup yang dapat dijalani sebagaimana Sisifus yang mendorong batu di lereng bukit, dari bawah sampai puncak hingga batu itu menggelinding ke bawah lalu ia mendorongnya kembali.

Begitu seterusnya sepanjang hayat.

Tentu, umumnya orang beranggapan bahwa yang dilakukan Sisifus adalah kesia-siaan. Hidup Sisifus sungguh tragis.

Pandangan semacam itu muncul pada orang yang berilusi atau berhasrat atau berambisi mendapatkan makna (dan tujuan akhir). Apa makna yang dilakukan Sisifus? Apa tujuannya? Apa hasilnya?

Pak Camus menekankan bahwa jika manusia masih berpikir tentang makna dan tujuan, maka yang didapat adalah kesia-siaan dan kegagalan memahami Sisifus.

Padahal sebaliknya, kita harus membayangkan Sisifus justru bahagia karena ia berhasil mengenyahkan segala ilusi tentang makna dan tujuan.

Ia tak pernah memikirkan tujuan, hasil akhir atau imbalan atau apapun namanya. Ia hanya menjalani semuanya dengan sukacita, intens dan sungguh-sungguh.

Dengan begitu ia dapat menghayati setiap jengkal langkahnya, setiap sentuhan tangannya pada permukaan batu, setiap regangan otot, dengus napas dan helaan kaki ketika mendorong batu dari bawah hingga puncak bukit.

Hal itu berlangsung terus, berulang-ulang, seumur hidup.

Setiap kali mulai mendorong ia mendapatkan penghayatan yang berbeda terhadap apa yang ia lakukan, pun kepuasan yang baru ketika melihat batu telah sampai puncak lalu menggelinding kembali ke bawah.

Ya, dorongan pertama niscaya berbeda dengan dorongan-dorongan berikutnya. Ketika batu itu sampai di puncak ia pun menghela napas lega dan berseru gembira: “Ahai, sampai juga akhirnya. Mari kita mulai lagi, dari bawah, dari nol”.

Itulah “absurditas”.

Menurut Pak Camus, kehidupan dan dunia ini adalah “absurd”. Manusia itu seperti Sisifus. Sisifus adalah kita.

Jika manusia dapat berpikir dan bertindak seperti Sisifus, maka ia akan bahagia, dan sebaliknya jika masih berilusi tentang makna atau tujuan atau imbalan, maka ia akan sengsara sepanjang hayat.

Adapun soal hubungan individu dan dunia, pribadi dengan sesama, Pak Camus menggambarkannya melalui kehidupan seniman Jonas yang akhirnya mati dalam keterombang-ambingan untuk mendapatkan makna “soliter” atau “solider”, sementara Sisifus justru telah terbebas dari ilusi dan ambisi semacam itu.

Ya, seniman Jonas menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk “soliter” dan sekaligus “solider”. Tentu, bagi Sisifus itu sudah jelas dan gamblang, “cetho welo-welo” sehingga tak perlu diperdebatkan lagi.

Maka, soalnya adalah bagaimana manusia menjalaninya. Bagaimana menciptakan cara-cara yang kreatif dan “genuine” dalam menempuh absurditas. Bagaimana mengkreasikan aneka tindakan untuk memilih segala yang baik – tanpa argumen yang ruwet-mbulet segala rupa – guna menjinakkan dan menolak tanpa reserve, bahkan mengenyahkan segala yang buruk.

Tapi bukankah diperlukan alasan atau argumen atau perenungan atau pergulatan tertentu, sekecil apapun itu, sebagaimana yang dilakukan pelukis Jonas, agar sampai pada pilihan yang baik maupun yang buruk, antara solider dan soliter?

Sama sekali tidak, ujar Sisifus. Hal-hal baik sama sekali tak memerlukan alasan apapun karena hal itu semudah menyendok nasi yang sudah di depan mata saat lapar.

Juga sesederhana keniscayaan mendorong batu sampai puncak lalu menikmati keindahannya saat sang batu menggelinding kembali ke bawah sebagai hal baik karena mustahil baginya berbahagia jika tindakan itu dipandang sebagai hal buruk.

Jadi, tak ada kemungkinan lain untuk berbahagia di luar hal-hal baik. Dan sungguh celaka jika cara-cara berbahagia menjadi semakin sedikit, ujar Sisifus lagi.

Maka, sekali lagi, yang diperlukan adalah menempuh sekaligus menciptakan bentuk-bentuk dan cara-cara se-kreatif mungkin dalam mengamalkan hal-hal baik karena hanya dengan begitu akan timbul sebanyak-banyaknya cara untuk berbahagia.

Itulah yang terpenting. Kapan pun di mana pun. Termasuk di belantara dunia konsumer dan semesta material yang kian markojoss ini.

Baiklah, Sisifus. Baiklah, Tuan Camus.[T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert CamusfilsafatsastraSisifus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Next Post

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
0
“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

Read moreDetails

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

by Angga Wijaya
May 12, 2026
0
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

Read moreDetails

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
0
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

Read moreDetails

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

by Asep Kurnia
May 11, 2026
0
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

Read moreDetails

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
0
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

Read moreDetails

Gagal Itu Indah

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
0
Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

Read moreDetails

Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

by Angga Wijaya
May 10, 2026
0
Ayah Menularkan Kebiasaan Membaca

DI tanganku ada sebuah buku. Aku baru membacanya setelah membelinya dari toko buku daring sekitar seminggu lalu. Buku itu kubeli...

Read moreDetails

Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

by Putu Nata Kusuma
May 9, 2026
0
Pertama Kali Jadi Orang Tua  —Wajar Jika Tak Sempurna

SELALU ada hal-hal pertama dalam hidup kita. Hal-hal pertama yang memberi pengalaman berharga di masa depan nanti. Kali pertama bersepeda,...

Read moreDetails

BAKAR SAMPAH BERTENTANGAN DENGAN PRINSIP HINDU BALI

by Sugi Lanus
May 9, 2026
0
PANTANGAN MENGKONSUMSI ALKOHOL DALAM HINDU

— Catatan Harian Sugi Lanus, 8 Mei 2026 Pemimpin umat atau pemimpin masyarakat yang membiarkan masyarakat membakar sampah secara terbuka...

Read moreDetails

Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

by Jro Gde Sudibya
May 8, 2026
0
Paradoks Pendidikan, Anggaran Naik Tinggi, Kualitas Terus Merosot

Tanggapan terhadap esai "Sekolah Kejuruan: Penyumbang Tertinggi Pengangguran? —Sebuah Tamparan ke Muka Kita Bersama", tatkala.co, 8 Mei 2026 --- PENDIDIKAN...

Read moreDetails
Next Post
Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karena Tak Sabaran, Tika Pagraky Luncurkan Tiga Lagu Sekaligus dan Buka Cerita di Balik “Bli Made”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cinta dan Penyesalan | Cerpen Dede Putra Wiguna

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

“Parasocial Relationship”: Antara Hiburan, Pelarian Emosional, dan Strategi Komunikasi Bisnis di Era Digital
Esai

Etika dan Empati di Atas Panggung: Peran MC dalam Menjaga Marwah Acara

PERISTIWA viral pada lomba cerdas cermat MPR baru-baru ini menjadi refleksi penting mengenai urgensi profesionalisme seorang Master of Ceremony (MC)...

by Fitria Hani Aprina
May 13, 2026
Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI
Esai

Menulis ‘Sunyi’ Jauh Sebelum Ada AI

JAUH sebelum ada teknologi kecerdasan buatan (AI), sejak dulu saya menulis dengan banyak perbendaharaan kata. Salah satunya “sunyi”. Terlebih dalam...

by Angga Wijaya
May 12, 2026
“Aura Farming” Pacu Jalur: Kilau Viral, Makna Tergerus, Sebuah Analisis Budaya Digital
Esai

Jebakan Kepercayaan Diri Digital: Mengapa Generasi Z Rentan di Hadapan AI

Marc Prensky, peneliti pendidikan Amerika yang memperkenalkan istilah digital natives pada 2001, menulis dengan penuh keyakinan. Ia berargumen bahwa anak-anak...

by Marina Rospitasari
May 12, 2026
Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali
Pameran

Pameran ‘Arka Umbara’ di TAT Art Space, Hasil Dari Perjalanan 14 Seniman Jongsarad Bali

Ini yang menarik dari Jongsarad Bali, kolektif seniman lintas bidang yang beranggotakan perupa, desainer, dan pembuat film. Setiap perjalanan mereka,...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya
Budaya

Pengunjung PKB 2026 Jangan Bawa Makanan dan Minuman dari Luar Taman Budaya

MENJAGA kebersihan dan mengelola sampah dengan disiplin menjadi kunci agar Pesta Kesenian Bali (PKB) tetap nyaman untuk dikunjungi. Kebersihan merupakan...

by Nyoman Budarsana
May 11, 2026
Tugas Etnis Baduy: “Ngasuh Ratu Ngayak Menak”
Esai

Eksistensi Suku Baduy di Era Digitalisasi dan ‘Artificial Intelligence’

SAAT penulis baca informasi tentang makhluk bernama Artificial Intelligence  (AI) terus terang sangat tercengang dan ngeri sekali, bagaimana mungkin manusia...

by Asep Kurnia
May 11, 2026
Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein
Esai

Bose, Sastra, Filsafat, Musik, dan Einstein

Satyendra Nath Bose: Saintis Sunyi dari India Satyendra Nath Bose lahir di Kolkata, India, pada 1 Januari 1894, di tengah...

by Agung Sudarsa
May 11, 2026
Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU
Khas

Menjaga Tubuh, Menjaga Sesama —Catatan dari Sebuah Hari Kemanusiaan bersama SCAU

Prolog: Datang dari Sebuah Informasi Sederhana Kadang sebuah perjalanan panjang dimulai dari kalimat yang sangat pendek. Saya mengetahui kegiatan ini...

by Emi Suy
May 11, 2026
Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya
Ulas Film

Crocodile Tears (2024): Penjara Air Mata Buaya

RAUNGAN reptil purba itu masih terdengar samar, terus hidup, bahkan ketika saya berjalan keluar bioskop. Semakin jauh, raungan itu masih...

by Bayu Wira Handyan
May 11, 2026
Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna
Cerpen

Pulang | Cerpen Dede Putra Wiguna

DI penghujung tahun, aku akhirnya memberanikan diri untuk merantau. Dari kampung, mencoba peruntungan di Ibu Kota. Berbekal ijazah sarjana manajemen,...

by Dede Putra Wiguna
May 10, 2026
Gagal Itu Indah
Esai

Gagal Itu Indah

Merekonstruksi Arti Sebuah Kegagalan DALAM kehidupan modern, kegagalan sering dipandang sebagai akhir dari perjalanan. Seseorang dianggap berhasil bila mencapai standar...

by Agung Sudarsa
May 10, 2026
Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud
Ulas Film

Refleksi Usai Menonton Film ‘Pesta Babi’ di Ubud

PADA tanggal 9 Mei 2026, di malam hari, sekitar pukul 18:15 , saya mengunjungi Sokasi Café and Living. Alamat café...

by Doni Sugiarto Wijaya
May 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co