12 September 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 29, 2025
in Esai
“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Albert Camus | Foto: The New Yorker

KAWAN yang baik, beberapa waktu lalu, seseorang bertanya: “Bagaimana caranya menjadi Sisifus di ladang konsumerisme, Mas Adi?”

Jika bicara ihwal Sisifus, kita pasti ingat filsuf Prancis Albert Camus, seorang penulis esai cemerlang, salah satunya “Le mythe de sisyphe” (Mitos Sisifus) yang kemudian jadi salah satu judul bukunya.

Tentu Pak Camus ini juga penulis prosa, di antara karyanya adalah cerita pendek berjudul “Jonas, ou l’artiste au travail”.

Judul cerpen ini biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “The Artist at Work”. Secara harfiah, terjemahannya kira-kira adalah: “Jonas, atau seorang seniman dalam berkarya”.

Baiklah, kita singgung cerpennya terlebih dahulu. Tokoh utama cerpen itu adalah seorang pelukis bernama Gilbert Jonas. Ia memiliki karir yang cukup menjanjikan dan keluarga yang mendukung kerja seninya.

Pada satu waktu ia mengerjakan lukisan yang akan menjadi salah satu karya terbaiknya. Berminggu-minggu sang seniman bekerja tak kenal waktu hingga kemudian ditemukan terkapar di studionya.

Dokter yang datang memeriksa mengatakan bahwa Jonas ambruk karena terlalu banyak bekerja dan tak pernah istirahat. Sang dokter tak dapat memastikan apakah Jonas akan selamat atau tidak.

Lalu apa hasil karya yang digarap habis-habisan hingga sang seniman ambruk?

Ternyata hanya kanvas kosong dengan coretan atau tulisan kecil yang kabur, berbunyi: “Solitaire”. Tapi hurut T di situ juga samar-samar membentuk huruf D.

Susah memastikan apakah itu huruf T atau D, apakah yang ia tulis “Solitaire” atau “Solidaire”. Itulah kesimpulan perenungan sang seniman terhadap kehidupan.

Artinya, manusia akan terus terombang-ambing antara kehendak dan keharusan menjadi soliter atau solider, hingga akhir hayatnya.

Kawan yang baik, kita tahu bahwa sang penulis, Albert Camus, adalah filsuf eksistensialis yang terkenal dengan pemikirannya tentang absurditas.

Tapi, apa gerangan absurditas itu?

Bolehlah dibuat ilustrasi sederhana; sepanjang sejarah, mungkin sudah ribuan tahun, manusia terus berusaha memahami dan menjelaskan dunia dan dirinya sendiri.

Telah lahir banyak agama, kitab suci dan nabi-nabi. Juga telah muncul ribuan filsuf, pemikir besar dan ilmuwan. Telah ditulis jutaan buku pula. Tapi tetap saja hidup dan dunia tak terjelaskan secara tuntas.

Jika hidup ini bermakna, kenapa manusia menderita? Kenapa orang-orang baik justru sengsara (dan mati) sementara banyak orang jahat bahkan yang super jahat asu-asuan justru berjaya?

Apa makna kehidupan dan kematian? Dan kenapa manusia mati? Jika hidup ini layak dijalani, kenapa tetap ada pembunuhan, bahkan pembantaian terhadap anak-anak tak berdosa? Kenapa ada rudal dan bom bunuh diri?

Semua agama, Nabi, filsuf dan pemikir besar berusaha mengurai berbagai pertanyaan tersebut, tapi tetap tak dapat menjawab dengan tuntas. Maka, hidup dan dunia ini sebenarnya tak terjelaskan, dan memang tak diperlukan penjelasan yang tuntas.

Buat apa susah-payah mencari jawaban tuntas jika hal itu mustahil diperoleh?

Dan karena tak terjelaskan dengan tuntas, maka manusia tak perlu berilusi mendapatkan makna dari kehidupan dan dunia. Yang harus dilakukan adalah menjalani hidup tanpa menyia-nyiakan waktu dan energi untuk mencari jawaban tentang makna. Atau, jika perlu melupakan makna itu sendiri.

Ini maksudnya gimana, Pak Camus?

Dalam esai “Le mythe de sisyphe” ia mengisahkan kembali hidup yang dapat dijalani sebagaimana Sisifus yang mendorong batu di lereng bukit, dari bawah sampai puncak hingga batu itu menggelinding ke bawah lalu ia mendorongnya kembali.

Begitu seterusnya sepanjang hayat.

Tentu, umumnya orang beranggapan bahwa yang dilakukan Sisifus adalah kesia-siaan. Hidup Sisifus sungguh tragis.

Pandangan semacam itu muncul pada orang yang berilusi atau berhasrat atau berambisi mendapatkan makna (dan tujuan akhir). Apa makna yang dilakukan Sisifus? Apa tujuannya? Apa hasilnya?

Pak Camus menekankan bahwa jika manusia masih berpikir tentang makna dan tujuan, maka yang didapat adalah kesia-siaan dan kegagalan memahami Sisifus.

Padahal sebaliknya, kita harus membayangkan Sisifus justru bahagia karena ia berhasil mengenyahkan segala ilusi tentang makna dan tujuan.

Ia tak pernah memikirkan tujuan, hasil akhir atau imbalan atau apapun namanya. Ia hanya menjalani semuanya dengan sukacita, intens dan sungguh-sungguh.

Dengan begitu ia dapat menghayati setiap jengkal langkahnya, setiap sentuhan tangannya pada permukaan batu, setiap regangan otot, dengus napas dan helaan kaki ketika mendorong batu dari bawah hingga puncak bukit.

Hal itu berlangsung terus, berulang-ulang, seumur hidup.

Setiap kali mulai mendorong ia mendapatkan penghayatan yang berbeda terhadap apa yang ia lakukan, pun kepuasan yang baru ketika melihat batu telah sampai puncak lalu menggelinding kembali ke bawah.

Ya, dorongan pertama niscaya berbeda dengan dorongan-dorongan berikutnya. Ketika batu itu sampai di puncak ia pun menghela napas lega dan berseru gembira: “Ahai, sampai juga akhirnya. Mari kita mulai lagi, dari bawah, dari nol”.

Itulah “absurditas”.

Menurut Pak Camus, kehidupan dan dunia ini adalah “absurd”. Manusia itu seperti Sisifus. Sisifus adalah kita.

Jika manusia dapat berpikir dan bertindak seperti Sisifus, maka ia akan bahagia, dan sebaliknya jika masih berilusi tentang makna atau tujuan atau imbalan, maka ia akan sengsara sepanjang hayat.

Adapun soal hubungan individu dan dunia, pribadi dengan sesama, Pak Camus menggambarkannya melalui kehidupan seniman Jonas yang akhirnya mati dalam keterombang-ambingan untuk mendapatkan makna “soliter” atau “solider”, sementara Sisifus justru telah terbebas dari ilusi dan ambisi semacam itu.

Ya, seniman Jonas menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk “soliter” dan sekaligus “solider”. Tentu, bagi Sisifus itu sudah jelas dan gamblang, “cetho welo-welo” sehingga tak perlu diperdebatkan lagi.

Maka, soalnya adalah bagaimana manusia menjalaninya. Bagaimana menciptakan cara-cara yang kreatif dan “genuine” dalam menempuh absurditas. Bagaimana mengkreasikan aneka tindakan untuk memilih segala yang baik – tanpa argumen yang ruwet-mbulet segala rupa – guna menjinakkan dan menolak tanpa reserve, bahkan mengenyahkan segala yang buruk.

Tapi bukankah diperlukan alasan atau argumen atau perenungan atau pergulatan tertentu, sekecil apapun itu, sebagaimana yang dilakukan pelukis Jonas, agar sampai pada pilihan yang baik maupun yang buruk, antara solider dan soliter?

Sama sekali tidak, ujar Sisifus. Hal-hal baik sama sekali tak memerlukan alasan apapun karena hal itu semudah menyendok nasi yang sudah di depan mata saat lapar.

Juga sesederhana keniscayaan mendorong batu sampai puncak lalu menikmati keindahannya saat sang batu menggelinding kembali ke bawah sebagai hal baik karena mustahil baginya berbahagia jika tindakan itu dipandang sebagai hal buruk.

Jadi, tak ada kemungkinan lain untuk berbahagia di luar hal-hal baik. Dan sungguh celaka jika cara-cara berbahagia menjadi semakin sedikit, ujar Sisifus lagi.

Maka, sekali lagi, yang diperlukan adalah menempuh sekaligus menciptakan bentuk-bentuk dan cara-cara se-kreatif mungkin dalam mengamalkan hal-hal baik karena hanya dengan begitu akan timbul sebanyak-banyaknya cara untuk berbahagia.

Itulah yang terpenting. Kapan pun di mana pun. Termasuk di belantara dunia konsumer dan semesta material yang kian markojoss ini.

Baiklah, Sisifus. Baiklah, Tuan Camus.[T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert CamusfilsafatsastraSisifus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Next Post

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

Read moreDetails

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

Read moreDetails

Kita Salah Menghitung Kesunyian

by Angga Wijaya
September 10, 2026
0
Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

Read moreDetails

Tubuh yang Saya Suruh Begadang

by Angga Wijaya
September 9, 2026
0
Tubuh yang Saya Suruh Begadang

SELAMA kira-kira sepuluh tahun terakhir, saya punya kebiasaan yang barangkali tidak terlalu baik bagi tubuh, yakni, begadang. Saya menulis pada...

Read moreDetails

Hari Olahraga Nasional: Dari Lapangan ke FYP, dari Medali ke “Endorse”

by Chusmeru
September 9, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

SEPULUH hingga dua puluh tahun silam perayaan Hari Olahraga Nasional (Haornas) tanggal 9 September identik dengan kegiatan senam di lapangan....

Read moreDetails

Kepemimpinan Feminis sebagai Strategi Rekonsiliasi Sosial di Tengah Polarisasi Politik

by Jerry Indrawan
September 8, 2026
0
Mungkinkah Korut Serang AS?

POLARISASI politik yang menguat dalam konteks demokrasi kontemporer telah memicu fragmentasi sosial yang sangat mengkhawatirkan di berbagai belahan dunia, termasuk...

Read moreDetails

Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

by Wayan Gde Yudane
September 7, 2026
0
Pemakaman Massal Kata “Saya Tidak Tahu”

SELAMAT datang di era di mana kedalaman berpikir resmi digantikan oleh kecepatan reaksi. Sebuah masa yang sangat efisien, di mana...

Read moreDetails

Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

by Adwan SA
September 6, 2026
0
Menilik Bentuk Visioner Naskah Rawa Gambut Garapan Teater Potlot

JAUH sebelum Tuan Gubernur mendorong pengadaan puluhan unit motor trail sebab helikopter kebanggaannya kewalahan dalam menangani kebakaran hutan dan lahan,...

Read moreDetails

Jangan-Jangan Kita Semua Mbah Darmi, 25 Ribu Hari ini, 10 Juta Esok Hari

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 5, 2026
0
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik

BAGI Mbah Darmi, KTP mungkin hanyalah kartu identitas. Benda kecil yang disimpan di dompet atau tempat aman, diperlukan ketika mengurus...

Read moreDetails

Topi Para Penyintas Kanker

by Angga Wijaya
September 5, 2026
0
Topi Para Penyintas Kanker

Di Poliklinik Onkologi sebuah rumah sakit besar di Denpasar, Bali, saya kerap melihat para perempuan memakai tutup kepala atau topi....

Read moreDetails
Next Post
Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Ritual Sebelum Bercinta | Cerpen Jaswanto

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Singa dan Botol Ajaib Si Kancil

    5 shares
    Share 5 Tweet 0
  • Seorang Janda yang Tersekap Dalam Rumah Tua

    43 shares
    Share 43 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral
Budaya

Pembukaan Utsawa Dharmagita 2026: Orang Bali Harus Pintar Secara Kognitif dan Punya Nilai moral

Suasana pembukaan Utsawa Dharmagita Provinsi Bali XXIII Tahun 2026 berlangsung semarak di Taman Budaya Bali, Jumat 11 September 2026. Sebuah...

by Ayu Kahuatu Tamar
September 11, 2026
Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat
Pameran

Ubud Art Collect: Ketika Seni dan Ekosistem Kreatif Ubud Bertemu Publik dalam Ruang yang Lebih Dekat

SELAMA tiga hari, 4–6 September 2026, Wantilan Ubud berubah menjadi titik temu bagi wajah seni yang beragam. Lukisan tradisional berdampingan...

by Dede Putra Wiguna
September 11, 2026
Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu
Panggung

Art & Bali 2026: Merayakan Ingatan Tubuh dan Dialog Budaya di Nuanu

JUMAT, 11 September 2026, Nuanu Creative City di Tabanan, Bali, menjelma jadi panggung pertama Art & Bali platform seni tahunan...

by Ingga Adelia
September 11, 2026
Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis
Gaya

Mengenal PVC WPC Wall Panel untuk Dekorasi Dinding Estetis

  Untuk dekorasi dinding yang estetis, Decorindo Perkasa menyediakan wall panel PVC WPC yang hadir sebagai solusi modern memadukan fungsi...

by tatkala
September 11, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Pasar Tradisional : Membaca Tanda, Merawat Manusia

"Pinten niki, Bu?"  (Berapa ini, Bu?) "Tigang doso gangsal ewu." (Tiga puluh lima ribu ) "Waduh... mboten saged kirang? Kula...

by Tri Nugroho Adi
September 11, 2026
Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda
Panggung

Warna Baru Utsawa Dharma Gita 2026 Bali, Dharmacarita Dekatkan Budaya kepada Generasi Muda

Jangan menganggap Utsawa Dharmagita (UDG) Provinsi Bali sekadar rutinitas dengan sajian yang berulang. Tahun ini, panggung UDG XXXIII tahun 2026...

by Nyoman Budarsana
September 10, 2026
Belajar Diam di Dunia yang Terlalu Berisik
Esai

DNA Pancasila Masih Utuh, Cuma Epigenetik Bangsa Mungkin Eror

INI gegara ada informasi tentang penelitian David Sinclair dari Harvard, yang mengatakan bahwa proses penuaan bisa dibalikkan kembali melalui terapi...

by Petrus Imam Prawoto Jati
September 10, 2026
Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah
Khas

Puisi, Luka, dan Ruang Untuk Pulang —Catatan Reflektif dari Kelas Sastra Masuk Sekolah

JUMAT, 28 Agustus 2026. Kursi-kursi bergeser. Beberapa siswa masih berbicara dengan teman di sebelahnya, sebagian membuka buku, sebagian lain menunggu...

by Emi Suy
September 10, 2026
Wajah I Made Galung Wiratmaja
Ulas Rupa

Wajah I Made Galung Wiratmaja

PADA tanggal 19 Agustus hingga 15 September ini, digelar pameran bertajuk “Impulse”. Perhelatan ini digelar Kalpataru Art Space - Sanur...

by Hartanto
September 10, 2026
“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan
Pameran

“Memoar: Suara-Suara dari Ingatan”: Pameran Kolektif Tentang Memori dan Ketakutan Akan Kehilangan

BAGAIMANA jika suatu hari kita lupa segalanya? Nama orang yang kita cintai, tempat-tempat yang pernah didatangi, percakapan yang pernah tinggal...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026
Kita Salah Menghitung Kesunyian
Esai

Kita Salah Menghitung Kesunyian

SETIAP 10 September, kita menjadi masyarakat yang tiba-tiba pandai berbicara tentang bunuh diri. Poster bermunculan di media sosial. Kutipan dibagikan....

by Angga Wijaya
September 10, 2026
Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”
Pop

Majelis Lidah Berduri Kembali ke Bali, Bersua Pendengar Lewat “Hujan Tentang Cinta”

ADA kerinduan yang sebentar lagi dituntaskan Majelis Lidah Berduri di Bali. Band rock alternatif asal Yogyakarta yang akrab disapa Melbi...

by Dede Putra Wiguna
September 10, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co