2 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Wicaksono Adi by Wicaksono Adi
August 29, 2025
in Esai
“Yang Absurd”, Gilbert Jonas dan Sisifus

Albert Camus | Foto: The New Yorker

KAWAN yang baik, beberapa waktu lalu, seseorang bertanya: “Bagaimana caranya menjadi Sisifus di ladang konsumerisme, Mas Adi?”

Jika bicara ihwal Sisifus, kita pasti ingat filsuf Prancis Albert Camus, seorang penulis esai cemerlang, salah satunya “Le mythe de sisyphe” (Mitos Sisifus) yang kemudian jadi salah satu judul bukunya.

Tentu Pak Camus ini juga penulis prosa, di antara karyanya adalah cerita pendek berjudul “Jonas, ou l’artiste au travail”.

Judul cerpen ini biasanya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris menjadi “The Artist at Work”. Secara harfiah, terjemahannya kira-kira adalah: “Jonas, atau seorang seniman dalam berkarya”.

Baiklah, kita singgung cerpennya terlebih dahulu. Tokoh utama cerpen itu adalah seorang pelukis bernama Gilbert Jonas. Ia memiliki karir yang cukup menjanjikan dan keluarga yang mendukung kerja seninya.

Pada satu waktu ia mengerjakan lukisan yang akan menjadi salah satu karya terbaiknya. Berminggu-minggu sang seniman bekerja tak kenal waktu hingga kemudian ditemukan terkapar di studionya.

Dokter yang datang memeriksa mengatakan bahwa Jonas ambruk karena terlalu banyak bekerja dan tak pernah istirahat. Sang dokter tak dapat memastikan apakah Jonas akan selamat atau tidak.

Lalu apa hasil karya yang digarap habis-habisan hingga sang seniman ambruk?

Ternyata hanya kanvas kosong dengan coretan atau tulisan kecil yang kabur, berbunyi: “Solitaire”. Tapi hurut T di situ juga samar-samar membentuk huruf D.

Susah memastikan apakah itu huruf T atau D, apakah yang ia tulis “Solitaire” atau “Solidaire”. Itulah kesimpulan perenungan sang seniman terhadap kehidupan.

Artinya, manusia akan terus terombang-ambing antara kehendak dan keharusan menjadi soliter atau solider, hingga akhir hayatnya.

Kawan yang baik, kita tahu bahwa sang penulis, Albert Camus, adalah filsuf eksistensialis yang terkenal dengan pemikirannya tentang absurditas.

Tapi, apa gerangan absurditas itu?

Bolehlah dibuat ilustrasi sederhana; sepanjang sejarah, mungkin sudah ribuan tahun, manusia terus berusaha memahami dan menjelaskan dunia dan dirinya sendiri.

Telah lahir banyak agama, kitab suci dan nabi-nabi. Juga telah muncul ribuan filsuf, pemikir besar dan ilmuwan. Telah ditulis jutaan buku pula. Tapi tetap saja hidup dan dunia tak terjelaskan secara tuntas.

Jika hidup ini bermakna, kenapa manusia menderita? Kenapa orang-orang baik justru sengsara (dan mati) sementara banyak orang jahat bahkan yang super jahat asu-asuan justru berjaya?

Apa makna kehidupan dan kematian? Dan kenapa manusia mati? Jika hidup ini layak dijalani, kenapa tetap ada pembunuhan, bahkan pembantaian terhadap anak-anak tak berdosa? Kenapa ada rudal dan bom bunuh diri?

Semua agama, Nabi, filsuf dan pemikir besar berusaha mengurai berbagai pertanyaan tersebut, tapi tetap tak dapat menjawab dengan tuntas. Maka, hidup dan dunia ini sebenarnya tak terjelaskan, dan memang tak diperlukan penjelasan yang tuntas.

Buat apa susah-payah mencari jawaban tuntas jika hal itu mustahil diperoleh?

Dan karena tak terjelaskan dengan tuntas, maka manusia tak perlu berilusi mendapatkan makna dari kehidupan dan dunia. Yang harus dilakukan adalah menjalani hidup tanpa menyia-nyiakan waktu dan energi untuk mencari jawaban tentang makna. Atau, jika perlu melupakan makna itu sendiri.

Ini maksudnya gimana, Pak Camus?

Dalam esai “Le mythe de sisyphe” ia mengisahkan kembali hidup yang dapat dijalani sebagaimana Sisifus yang mendorong batu di lereng bukit, dari bawah sampai puncak hingga batu itu menggelinding ke bawah lalu ia mendorongnya kembali.

Begitu seterusnya sepanjang hayat.

Tentu, umumnya orang beranggapan bahwa yang dilakukan Sisifus adalah kesia-siaan. Hidup Sisifus sungguh tragis.

Pandangan semacam itu muncul pada orang yang berilusi atau berhasrat atau berambisi mendapatkan makna (dan tujuan akhir). Apa makna yang dilakukan Sisifus? Apa tujuannya? Apa hasilnya?

Pak Camus menekankan bahwa jika manusia masih berpikir tentang makna dan tujuan, maka yang didapat adalah kesia-siaan dan kegagalan memahami Sisifus.

Padahal sebaliknya, kita harus membayangkan Sisifus justru bahagia karena ia berhasil mengenyahkan segala ilusi tentang makna dan tujuan.

Ia tak pernah memikirkan tujuan, hasil akhir atau imbalan atau apapun namanya. Ia hanya menjalani semuanya dengan sukacita, intens dan sungguh-sungguh.

Dengan begitu ia dapat menghayati setiap jengkal langkahnya, setiap sentuhan tangannya pada permukaan batu, setiap regangan otot, dengus napas dan helaan kaki ketika mendorong batu dari bawah hingga puncak bukit.

Hal itu berlangsung terus, berulang-ulang, seumur hidup.

Setiap kali mulai mendorong ia mendapatkan penghayatan yang berbeda terhadap apa yang ia lakukan, pun kepuasan yang baru ketika melihat batu telah sampai puncak lalu menggelinding kembali ke bawah.

Ya, dorongan pertama niscaya berbeda dengan dorongan-dorongan berikutnya. Ketika batu itu sampai di puncak ia pun menghela napas lega dan berseru gembira: “Ahai, sampai juga akhirnya. Mari kita mulai lagi, dari bawah, dari nol”.

Itulah “absurditas”.

Menurut Pak Camus, kehidupan dan dunia ini adalah “absurd”. Manusia itu seperti Sisifus. Sisifus adalah kita.

Jika manusia dapat berpikir dan bertindak seperti Sisifus, maka ia akan bahagia, dan sebaliknya jika masih berilusi tentang makna atau tujuan atau imbalan, maka ia akan sengsara sepanjang hayat.

Adapun soal hubungan individu dan dunia, pribadi dengan sesama, Pak Camus menggambarkannya melalui kehidupan seniman Jonas yang akhirnya mati dalam keterombang-ambingan untuk mendapatkan makna “soliter” atau “solider”, sementara Sisifus justru telah terbebas dari ilusi dan ambisi semacam itu.

Ya, seniman Jonas menyimpulkan bahwa manusia adalah makhluk “soliter” dan sekaligus “solider”. Tentu, bagi Sisifus itu sudah jelas dan gamblang, “cetho welo-welo” sehingga tak perlu diperdebatkan lagi.

Maka, soalnya adalah bagaimana manusia menjalaninya. Bagaimana menciptakan cara-cara yang kreatif dan “genuine” dalam menempuh absurditas. Bagaimana mengkreasikan aneka tindakan untuk memilih segala yang baik – tanpa argumen yang ruwet-mbulet segala rupa – guna menjinakkan dan menolak tanpa reserve, bahkan mengenyahkan segala yang buruk.

Tapi bukankah diperlukan alasan atau argumen atau perenungan atau pergulatan tertentu, sekecil apapun itu, sebagaimana yang dilakukan pelukis Jonas, agar sampai pada pilihan yang baik maupun yang buruk, antara solider dan soliter?

Sama sekali tidak, ujar Sisifus. Hal-hal baik sama sekali tak memerlukan alasan apapun karena hal itu semudah menyendok nasi yang sudah di depan mata saat lapar.

Juga sesederhana keniscayaan mendorong batu sampai puncak lalu menikmati keindahannya saat sang batu menggelinding kembali ke bawah sebagai hal baik karena mustahil baginya berbahagia jika tindakan itu dipandang sebagai hal buruk.

Jadi, tak ada kemungkinan lain untuk berbahagia di luar hal-hal baik. Dan sungguh celaka jika cara-cara berbahagia menjadi semakin sedikit, ujar Sisifus lagi.

Maka, sekali lagi, yang diperlukan adalah menempuh sekaligus menciptakan bentuk-bentuk dan cara-cara se-kreatif mungkin dalam mengamalkan hal-hal baik karena hanya dengan begitu akan timbul sebanyak-banyaknya cara untuk berbahagia.

Itulah yang terpenting. Kapan pun di mana pun. Termasuk di belantara dunia konsumer dan semesta material yang kian markojoss ini.

Baiklah, Sisifus. Baiklah, Tuan Camus.[T]

Penulis: Wicaksono Adi
Editor: Adnyana Ole

Tags: Albert CamusfilsafatsastraSisifus
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Ngurah Arya: DPRD Buleleng Terus Bersinergi dengan Elemen Masyarakat dalam Mendorong Program-program Bermanfaat

Next Post

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Wicaksono Adi

Wicaksono Adi

Penulis esai seni-budaya, kurator, dan juga salah satu pendiri Borobudur Writers & Cultural Festival.

Related Posts

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
0
Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

Read moreDetails

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
0
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

Read moreDetails

Manusia Purba di Kota Denpasar

by Angga Wijaya
October 1, 2026
0
Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

Read moreDetails

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
0
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

Read moreDetails

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

by Chusmeru
September 30, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

Read moreDetails

Cara Sederhana Menilai Kesehatan Bangsa

by Putu Arya Nugraha
September 29, 2026
0
Kecerdasan Buatan dan Masa Depan Profesi Dokter

PARA ahli sering berdebat mengenai kemajuan dan kesejahteraan negara kita, memakai berbagai indikator yang kadang sulit dipahami. Beberapa indikator yang...

Read moreDetails

Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

by Ahmad Hirzan Anwari
September 29, 2026
0
Latihan Kader Bela Negara di Bali, untuk Apa?

PADA 12 September 2026, saya menerima informasi dari grup WhatssApp. Isinya permohonan delegasi untuk mengikuti latihan kader bela negara yang...

Read moreDetails

Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

by Emi Suy
September 29, 2026
0
Kusala Sastra Katulistiwa yang Menyalakan Cahaya di Jalan Sunyi Sastra

ADA jalan yang tidak pernah benar-benar ramai. Sastra berjalan di sana, kadang ditemani lampu kecil dari sebuah kamar, meja kerja...

Read moreDetails

Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

by Jero Penyarikan Duuran Batur
September 28, 2026
0
Brigitta Hauser-Schäublin: Batur, “Pasihan”, dan Peluang Diskusi Setelahnya

Puspawacana penulis tujukan untuk mendiang Ibu Prof. Brigitta Hauser-Schäublin yang telah berpulang ke kedamaian pada medio 2025. Penulis mengucapkan terima...

Read moreDetails

Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

by Angga Wijaya
September 27, 2026
0
Melamar Kerja Saat Usia Tak Lagi Muda

DUA hari lalu, saat membuka media sosial, saya melihat informasi lowongan kerja sebagai kontributor penulis pada sebuah media online nasional....

Read moreDetails
Next Post
Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • DUA BELAS PERSEN PRIA BALI BERLELUHUR INDIA: Hasil Penelitian DNA oleh Team Universitas Arizona dan Kajian Prof. I Wayan Ardika dan Prof. Peter Bellwood

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam-Malam di Lorong Harapan | Cerpen Ahmad Sihabudin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK
Esai

Ketika Pancasila Menjadi Kompas Karier Lulusan SMK

SETIAP 1 Oktober, kita memperingati Hari Kesaktian Pancasila. Di sekolah, peringatan itu biasanya hadir melalui upacara, pembacaan Pancasila, ikrar, dan...

by I Wayan Yudana
October 1, 2026
Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali
Khas

Cerita di Balik Setiap Gigitan Keju Lokal di Bali

Sepotong keju mungkin tampak biasa ketika tersaji di atas piring. Namun, sebelum sampai ke meja makan, ada perjalanan panjang yang...

by Rusdy Ulu
October 1, 2026
Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali
Esai

Peristiwa 65 dan Lahirnya Taluhisme: Trauma Kolektif dan Candu Pariwisata di Balik Apatisme Manusia Bali

”ORANG Bali tidak mau demo karena sangat cinta damai dan menjunjung Tri Hita Karana.” Demikian kutipan yang ditampilkan pada salah...

by Teguh Wahyu Pranata
October 1, 2026
Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali
Panggung

Shanty Paredes Akan Meriahkan Gala Dinner 10 Tahun Sthala Ubud Bali

PENYANYI dan aktris Indonesia, Shanty Paredes, akan memeriahkan perayaan ulang tahun ke-10 Sthala, a Tribute Portfolio Hotel, Ubud Bali, melalui...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma
Pop

Zat Kimia dan Racun Masa Lalu yang Menjelma Karsinoma

ADA hal-hal yang tidak terlihat, tetapi diam-diam terus tumbuh di dalam diri. Luka yang belum selesai, dendam yang tidak pernah...

by Nyoman Budarsana
October 1, 2026
Manusia Purba di Kota Denpasar
Esai

Manusia Purba di Kota Denpasar

SETIAP pagi, ketika keluar dari kos, saya melihat pemandangan yang hampir selalu sama. Jalan mulai dipenuhi sepeda motor. Dari gang-gang...

by Angga Wijaya
October 1, 2026
Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi
Khas

Pasar Seni Sukawati, Megah nan Sunyi

“CARI apa, Bu? Ayo lihat-lihat dulu di sini, ayo, lima puluh ribu dapat dua!” Seruan itu begitu melekat dalam ingatan...

by Dede Putra Wiguna
October 1, 2026
Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?
Olahraga

Siapa Saja yang Bangga dengan Prestasi Desak Rita?

KEMENANGAN Desak Made Rita Kusuma Dewi di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tentu saja bukan soal menambah satu medali emas bagi...

by Jaswanto
October 1, 2026
Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang
Esai

Sehidup Semati, Bersama dalam Kehidupan, Bersama dalam Perjalanan Pulang

vāsāṃsi jīrṇāni yathā vihāyanavāni gṛhṇāti naro ’parāṇi |tathā śarīrāṇi vihāya jīrṇānyanyāni saṃyāti navāni dehī || “Sebagaimana setelah menanggalkan baju lama,...

by Agung Sudarsa
September 30, 2026
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata
Esai

Komunikasi Tradisional di Mata Gen Z: Tak Dipakai, tapi Dikontenkan

DAHULU, jika ada pengumuman di desa menggunakan kentongan, bedug, atau petugas yang keliling, semua warga mendengar. Kini, bila ada pengumuman...

by Chusmeru
September 30, 2026
Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”
Budaya

Dua Pelajar Tabanan Diundang Kurator Tampil dalam Pameran Seni Rupa Remaja “Danau Toba: Manusia & Alam”

TABANAN | TATKALA -- Dua pelajar muda asal Tabanan, Bali, I Putu Bagus Sastra Vedanta Wiyasa dan Ni Kadek Ayu...

by Rusdy Ulu
September 30, 2026
Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?
Opini

Sekolah Gratis: Apakah Bebas Biaya Berarti Berkualitas?

PENDIDIKAN gratis kembali menjadi pembicaraan publik pasca Presiden Prabowo Subianto pada 18 September 2026 menyatakan komitmennya agar biaya pendidikan pada...

by Dini Nastiti Wardani
September 30, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co