23 October 2026
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala
No Result
View All Result
tatkala.co
No Result
View All Result

Dari Pajak Rakyat ke Roda Rantis: Psikologi Publik dalam Bayang Kekerasan Negara

Isran Kamal by Isran Kamal
August 30, 2025
in Esai
“Self-Diagnosis” atau “Self-Awareness”?:  Navigasi Kesehatan Mental di Era TikTok dan Instagram

Isran Kamal

INSIDEN tragis yang menimpa seorang pengemudi ojek online saat ricuh di depan Gedung DPR  menyisakan luka mendalam di hati publik. Seorang rakyat kecil, yang sehari-hari berjuang mengais rezeki di jalan raya, justru menjadi korban dilindas mobil taktis aparat keamanan.

Kontras dengan nasib pejabat DPR yang menjadi sasaran demo, mereka justru bisa bekerja aman dari rumah dengan berbagai fasilitas negara bahkan terbebas dari beban pajak yang rutin dipikul rakyat. Jurang kesenjangan ini begitu telanjang: di satu sisi, rakyat membayar dengan keringat, pajak, bahkan nyawa; di sisi lain, para penguasa berlindung dalam kenyamanan privilege.

Peristiwa ini bukan hanya tragedi fisik, tetapi juga simbol keretakan psikologis antara rakyat dan institusi negara. Ketika pelindung berubah menjadi ancaman, dan suara protes berbuah represi, kepercayaan publik terhadap institusi politik dan aparat keamanan terancam runtuh. Dari titik ini, kita bisa melihat bagaimana sebuah insiden konkret di jalan raya menjalar menjadi persoalan psikologis kolektif: luka, trauma, rasa tidak berdaya, hingga potensi erosi legitimasi negara di mata warganya.

Psikologis Korban dan Trauma Kolektif

Peristiwa seorang pengemudi ojek online yang dilindas kendaraan taktis Brimob tidak hanya meninggalkan luka fisik, tetapi juga memunculkan dampak psikologis yang mendalam. Dalam kajian psikologi trauma, kejadian kekerasan yang datang tiba-tiba dan tidak terduga dapat memicu acute stress reaction. Suatu kondisi di mana korban mengalami syok, disorientasi, kecemasan berlebih, hingga gangguan tidur. Bila tidak tertangani, kondisi ini dapat berkembang menjadi post-traumatic stress disorder (PTSD), yang ditandai dengan kilas balik (flashback), mimpi buruk, serta perasaan terus-menerus tidak aman dalam ruang publik.

Namun, psikologis korban tidak bisa dipandang dalam ruang individual semata. Ketika masyarakat menyaksikan rekaman video atau membaca berita tentang warga sipil yang mencari nafkah secara jujur dilindas oleh aparat negara, maka terbentuklah apa yang disebut collective trauma. Trauma jenis ini tidak hanya dirasakan oleh korban langsung, tetapi juga oleh kelompok sosial yang merasa dirinya bisa saja menjadi korban berikutnya. Dalam kasus ini, para pengemudi ojol, pekerja kelas bawah, bahkan masyarakat luas dapat mengalami perasaan takut, marah, dan ketidakberdayaan yang sama.

Dampak trauma kolektif semacam ini berbahaya karena meruntuhkan rasa aman (sense of safety) yang menjadi kebutuhan psikologis mendasar dalam teori Maslow. Ketika negara, yang seharusnya menjadi pelindung, justru tampil sebagai ancaman, maka kepercayaan publik terhadap institusi keamanan mengalami erosi. Hal ini tidak hanya memperparah luka psikologis korban, tetapi juga memperlebar jurang ketidakpercayaan antara masyarakat dan aparat.

Degradasi Kepercayaan Publik terhadap Institusi

Jika trauma individu dan kolektif dari tragedi ini begitu mengakar, dampak berikutnya yang tak terelakkan adalah erosi kepercayaan publik terhadap institusi. Kepercayaan merupakan fondasi utama legitimasi sebuah negara: rakyat membayar pajak, mematuhi hukum, dan percaya bahwa aparat akan melindungi mereka. Namun, ketika aparat justru melukai mereka bahkan hingga merenggut nyawa, hubungan fundamental itu retak. Rakyat mulai mempertanyakan, untuk siapa sebenarnya negara ini bekerja?

Fenomena ini berbahaya karena ia menciptakan lingkaran setan. Setiap kali ada kasus serupa yang tidak ditangani secara adil dan transparan, publik akan semakin sinis terhadap institusi negara, termasuk kepolisian dan pemerintah. Rasa sinis itu lalu berkembang menjadi apatisme, yang pada gilirannya melemahkan legitimasi hukum. Jika warga tidak lagi percaya bahwa aparat penegak hukum bekerja untuk melindungi, mereka akan mencari cara lain untuk bertahan, bahkan dengan mengabaikan hukum itu sendiri.

Degradasi kepercayaan publik ini tidak hanya merugikan institusi, tetapi juga memperlemah kohesi sosial. Sebab, ketika masyarakat merasa negara bukan sekutu mereka, maka ikatan psikologis yang menyatukan rakyat dengan negara semakin rapuh. Hal ini membuka ruang bagi munculnya polarisasi, konflik horizontal, hingga potensi mobilisasi massa yang tidak lagi mempercayai jalur institusional.

Konsekuensi Sosial dan Psikologis Jangka Panjang

Jika hilangnya kepercayaan publik pada institusi dibiarkan berlarut, dampaknya tidak berhenti pada ketidakpuasan sesaat. Secara sosial-psikologis, masyarakat bisa masuk pada fase apatisme politik yang kian meluas. Orang merasa suaranya tak lagi punya arti, sehingga partisipasi dalam pemilu dan mekanisme demokrasi formal makin menurun.

Fenomena golput, yang selama ini sering dipandang sebagai sikap individual, dalam konteks ini bisa menjelma menjadi pilihan kolektif yang lahir dari luka dan kekecewaan bersama. Apatisme semacam ini pada gilirannya membuat ruang demokrasi kering, karena warga kehilangan keyakinan bahwa jalur politik formal mampu menyelesaikan persoalan ketidakadilan.

Namun, ada sisi lain yang tak kalah penting: kekecewaan yang dalam terhadap negara justru bisa melahirkan arus perlawanan yang lebih keras. Gerakan sosial yang sebelumnya hanya terbatas pada demonstrasi damai, bisa terdorong ke arah yang lebih militan.

Logikanya sederhana, jika suara damai diabaikan dan aspirasi yang disampaikan dengan tertib malah dibalas dengan kekerasan, sebagian masyarakat akan merasa tak ada lagi gunanya menahan diri. Risiko radikalisasi gerakan sipil menjadi ancaman nyata, baik dalam bentuk eskalasi protes jalanan maupun fragmentasi kelompok yang lebih ekstrem.

Sejarah Indonesia sendiri memberi catatan yang layak direnungkan. Krisis 1998 menunjukkan bahwa represi dan kekerasan negara, alih-alih meredam gejolak, justru mempercepat lahirnya perlawanan rakyat yang lebih luas. Memang, konteks masa kini tidak sepenuhnya identik dengan 1998: kondisi ekonomi, konfigurasi politik, dan lanskap media sosial sangat berbeda.

Namun, pelajarannya tetap relevan bahwa ketika rasa takut kalah oleh rasa marah dan kecewa, masyarakat bisa bergerak melampaui batas kesabaran yang semula mereka pegang. Inilah potensi konsekuensi jangka panjang yang perlu diwaspadai, baik oleh pemerintah maupun oleh seluruh elemen bangsa.

Refleksi kritis yang perlu diajukan adalah bagaimana bangsa ini memilih untuk merespons luka sosial tersebut: apakah dengan membiarkannya membusuk dalam diam, atau dengan mengubahnya menjadi energi untuk pembaruan institusional dan sosial. Pengalaman sejarah menunjukkan bahwa trauma kolektif tidak pernah sepenuhnya hilang, melainkan hanya berubah bentuk: bisa menjadi dendam yang diwariskan lintas generasi, atau sebaliknya menjadi kesadaran moral yang menuntun ke arah perubahan. Di titik inilah masyarakat dan negara diuji, apakah kekerasan dibiarkan sebagai warisan kelam yang berulang, atau dijadikan peringatan agar struktur sosial dan politik lebih berpihak pada keadilan serta kemanusiaan.

Solusi Menuntut Tindakan Nyata, Bukan Sekadar Permintaan Maaf

Permintaan maaf dari pejabat negara, atau Kapolri betapa pun manisnya, tidak akan pernah cukup untuk menjawab luka yang ditimbulkan oleh kekerasan aparat terhadap rakyat. Yang dibutuhkan adalah akuntabilitas nyata, suatu investigasi yang transparan, sanksi yang tegas, dan komitmen untuk memastikan bahwa pelanggaran serupa tidak lagi berulang. Tanpa itu semua, permintaan maaf hanyalah formalitas kosong yang memperdalam sinisme publik.

DPR pun tidak boleh absen dari tanggung jawab moral dan politiknya. Lembaga legislatif ini lahir untuk menjadi suara rakyat, bukan sekadar ornamen prosedural. Keberanian DPR diuji justru ketika rakyat dipukul, ditindas, dan dilucuti haknya oleh negara. Jika DPR memilih bungkam atau melarikan diri, maka ia telah gagal menjalankan mandat konstitusionalnya.

Selain itu, pekerjaan besar menanti di ranah publik. Demokrasi hanya bisa pulih jika masyarakat kembali percaya bahwa perubahan masih mungkin dicapai melalui jalur damai. Edukasi politik, penguatan literasi demokrasi, dan ruang dialog yang terbuka harus digencarkan untuk mengikis rasa putus asa.

Tanpa keyakinan kolektif ini, demokrasi akan mati perlahan, digantikan oleh apatisme dan keengganan rakyat untuk berpartisipasi. “Ketika negara melindas rakyatnya sendiri, bukan hanya tubuh yang hancur, tapi juga kepercayaan. Dan tanpa kepercayaan, demokrasi hanya tinggal nama.” [T]

Penulis: Isran Kamal
Editor: Adnyana Ole

  • BACA JUGA:
Ketika Kursi Empuk Membuat Hati Beku
Tags: kekerasanPsikologirakyat
ShareTweetSendShareSend
Previous Post

Membaca “Catatan Seorang Demonstran” di Tengah Maraknya Aksi Demonstrasi

Next Post

Pesta Rakyat Dulu, Sebelum Perhelatan Internasional CHANDI 2025 Kementerian Kebudayaan Dimulai

Isran Kamal

Isran Kamal

Dosen Psikologi, Fakultas Kedokteran Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Jawa Tengah

Related Posts

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
0
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

Read moreDetails

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
0
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

Read moreDetails

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
0
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

Read moreDetails

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

by I Wayan Artika
October 21, 2026
0
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

Read moreDetails

Sisi Gelap Kampus: Masuk “Sampah”, Keluar “Sampah”

by Chusmeru
October 21, 2026
0
Efek “Frugal Living” dalam Pariwisata

DUNIA pendidikan tinggi diguncang berita Operasi Tangkap Tangan (OTT) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap seorang rektor perguruan tinggi negeri...

Read moreDetails

Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

by Angga Wijaya
October 20, 2026
0
Di Balik Diagnosis Skizofrenia, Ada Manusia yang Ingin Dipahami

SAYA menemukan sebuah tulisan tentang skizofrenia di Quora, platform tanya jawab tempat orang berbagi pengetahuan, pengalaman, dan pandangan mengenai berbagai...

Read moreDetails

Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

by Luh Putu Anggreny
October 20, 2026
0
Selaput Dara Bukan Altar Tempat Perempuan Membuktikan Kesuciannya

BETAPA malangnya menjadi perempuan di negeri yang gemar mengagungkan kehormatan, tetapi selalu mencari-cari letak kehormatan itu di antara kedua pahanya....

Read moreDetails

Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

by Wayan Gde Yudane
October 19, 2026
0
Juara Bertahan Monolog: Ketika Ruang Diskusi Berubah Jadi Panggung Pemujaan Diri

Mari kita akui bersama: ruang diskusi kita hari ini telah berevolusi menjadi arena sirkus yang sangat menghibur. Batasan antara bertukar...

Read moreDetails

Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

by AA Ayu Arun Suwi Arianty
October 19, 2026
0
Jaje Campur Bali: Beda Rasa, Tetap Satu Harmoni

PERNAH memperhatikan sepiring Jaje Campur Bali? Ada yang hijau, putih, merah, sampai hitam. Ada yang lembut, kenyal, manis, dan gurih....

Read moreDetails

Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

by I Wayan Yudana
October 19, 2026
0
Wajah Baru Pendidikan Pasca-“Mekemit” di SPBU

ADA pemandangan yang belakangan terasa tidak biasa di Bali. Orang-orang rela antre berjam-jam di SPBU, bahkan bertahan hingga malam, demi...

Read moreDetails
Next Post
Pesta Rakyat Dulu, Sebelum Perhelatan Internasional CHANDI 2025 Kementerian Kebudayaan Dimulai

Pesta Rakyat Dulu, Sebelum Perhelatan Internasional CHANDI 2025 Kementerian Kebudayaan Dimulai

Please login to join discussion

Ads

POPULER

  • Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    Kabut Membawa Kenikmatan | Cerpen Ni Made Royani

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Halu Masa Lalu; 3 Cerita Pantat Waktu SD, Rasanya Kayak Nano Nano

    22 shares
    Share 22 Tweet 0
  • Mau Dibawa ke Mana Kampus-Kampus Kita?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Anak-Anak Pulau Payung | Cerpen Dodik Suprayogi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gede Angga Prasaja dan “Fase Baru” Setelah “Singaraja Kota Kita”

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

ARTIKEL TERKINI

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat
Pendidikan

Dari Integritas hingga Pengabdian, 693 Lulusan IAHN Mpu Kuturan Didorong Berkontribusi kepada Masyarakat

SEBANYAK 693 lulusan Institut Agama Hindu Negeri (IAHN) Mpu Kuturan Singaraja resmi menyelesaikan pendidikan mereka dalam Wisuda II yang berlangsung...

by Wahyu Mahaputra
October 23, 2026
Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium
Panggung

Jnana: Menjelajah Batas Karawitan dan Orkestra Barat dalam Seni Intermedium

KETIKA gamelan Bali disandingkan dengan instrumen Barat seperti biola (strings), gitar, saxophone, keyboard, dan piano, hasilnya adalah sebuah komposisi simfoni...

by Nyoman Budarsana
October 23, 2026
Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa
Esai

Trinitas Mustahil: Antara Nalar, Nurani, dan Kursi Kuasa

Filsuf Yunani kuno menghabiskan waktu berabad-abad dasar untuk merumuskan konsep manusia ideal. Namun, laboratorium sosial Indonesia berhasil melampaui pencapaian kolosal...

by Wayan Gde Yudane
October 23, 2026
Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan
Khas

Ketika Duta Kesehatan Kesbam Berbagi Ilmu dan Buku di Sekolah Minggu Padangan, Pupuan

SUARA anak-anak bersahutan menjawab pertanyaan. Sebagian mengacungkan tangan, tak sabar mendapat giliran. Ada yang tertawa, ada pula yang serius memperhatikan...

by Dede Putra Wiguna
October 23, 2026
Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’
Panggung

Ubud Writers & Readers Festival 2026 Resmi Dibuka: Merajut Empati dan Menyatukan Dunia Lewat ‘Samarasā’

GEMULAI gerak para penari Puspanjali membuka malam di Puri Agung Ubud, Gianyar, Rabu, 21 Oktober 2026. Dalam suasana semarak, mereka...

by Dede Putra Wiguna
October 22, 2026
Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum
Esai

Ijazah di Tengah Kontroversi: Menguji Transparansi dan Kepastian Hukum

IJAZAH bukan sekadar selembar kertas yang memuat nama, tanda tangan, dan keterangan kelulusan. Di balik dokumen tersebut terdapat proses pendidikan,...

by I Ketut Suar Adnyana
October 22, 2026
Membatik : Ketika Kesunyian Menjelma Menjadi Motif Kehidupan
Esai

Dari Euforia Menuju Realita:  Ketika Kita Mulai Mengenal Manusia, Bukan Bayangan

Barangkali cinta tidak menjadi lebih kecil ketika debarannya mereda. Barangkali kita saja yang mulai belajar melihatnya dengan lebih jernih. Bayangkan...

by Tri Nugroho Adi
October 22, 2026
Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang
Panggung

Cipta Pergelaran Seni Intermedium “Huni”: Ekologi Manusia dalam Relasi Ruang

DENTINGAN gitar akustik dan alunan melodi mengawali eksplorasi gerak sembilan penari yang tampil dalam komposisi artistik. Mengenakan kostum bernuansa putih,...

by Nyoman Budarsana
October 22, 2026
Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan
Esai

Bali: Buta Aksara dan Pengetahuan

ADA sebuah ironi yang hidup cukup lama dalam kebudayaan Bali. Pulau ini memiliki aksara sendiri, mewarisi ribuan teks pengetahuan dalam...

by I Wayan Artika
October 21, 2026
Kebijakan Politik Hukum Pertanahan Jelang Setahun Rezim Prabowo Subianto
Opini

Hak Retensi Bukan Penggelapan:  Menguji Batas Penahanan Sertifikat dalam Sengketa Fee

SERTIFIKAT tanah ditahan, fee belum dibayar, tetapi pemegang sertifikat justru dituding melakukan perbuatan melawan hukum. Bahkan, dalam situasi tertentu, penguasaan...

by I Made Pria Dharsana
October 21, 2026
Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali
Pendidikan

Saat “Proses” Menjadi Mahakarya: Dokumenter Seni Intermedium Dosen ISI Bali

ADAPTASI proses penciptaan karya seni pertunjukan ke layar lebar membuat cerita terasa lebih hidup dan menarik. Keleluasaan medium film (moving...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026
Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata
Pariwisata

Dari Summit ke Buku, IHGMA Bali Merawat Gagasan tentang Masa Depan Pariwisata

DUA hari diskusi di Bali Sunset Road Convention Center, Kuta, pada 25–26 September 2026, mempertemukan para pemimpin perhotelan dan pariwisata...

by Nyoman Budarsana
October 21, 2026

TATKALA.CO adalah media umum yang dengan segala upaya memberi perhatian lebih besar kepada seni, budaya, dan kreativitas manusia dalam mengelola kehidupan di tengah-tengah alam yang begitu raya

  • Penulis
  • Tentang & Redaksi
  • Kirim Naskah
  • Pedoman Media Siber
  • Kebijakan Privasi
  • Desclaimer

Copyright © 2016-2025, tatkala.co

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Feature
    • Khas
    • Tualang
    • Persona
    • Historia
    • Milenial
    • Kuliner
    • Pop
    • Gaya
    • Pameran
    • Panggung
  • Berita
    • Ekonomi
    • Pariwisata
    • Pemerintahan
    • Budaya
    • Hiburan
    • Politik
    • Hukum
    • Kesehatan
    • Olahraga
    • Pendidikan
    • Pertanian
    • Lingkungan
    • Liputan Khusus
  • Kritik & Opini
    • Esai
    • Opini
    • Ulas Buku
    • Ulas Film
    • Ulas Rupa
    • Ulas Pentas
    • Kritik Sastra
    • Kritik Seni
    • Bahasa
    • Ulas Musik
  • Fiksi
    • Cerpen
    • Puisi
    • Dongeng
  • English Column
    • Essay
    • Fiction
    • Poetry
    • Features
  • Penulis
  • Buku
    • Buku Mahima
    • Buku Tatkala

Copyright © 2016-2025, tatkala.co